Bersiap Menghadapi Baligh

doc/thorif
Oleh Iin Sulastri

Sore itu, menjelang maghrib terjadi percakapan seorang ibu dengan anaknya yang kala itu sedang asyik dengan permainannya. “Nak, ayo bermainnya berhenti dulu sudah masuk waktu maghrib, ke masjid ya!” kata ibu itu. Anak yang sudah duduk di kelas enam itu menjawab dengan nada yang lembut , “Sebentar, lagian kan aku juga belum baligh. Kata guruku di sekolah kalau belum baligh belum wajib untuk shalat.”

Kisah di atas tersebut mungkin pernah terjadi di kehidupan di rumah kita. Nah, bagaimana kita sebagai orangtua menyikapi hal tersebut? Dalam Islam, anak adalah fase pemula dalam rentang kehidupan manusia.

Ada dua fase yang harus diperhatikan para orangtua, pertama : fase pra-baligh (belum dewasa ). Kedua adalah fase baligh (dewasa). Setiap orangtua mempunyai tugas untuk mempersiapkan dan mendampingi anak-anaknya dalam menghadapi masa akil baligh. Orangtua juga harus membimbing anak-anaknya mengenal Allah dan belajar disiplin pada fase pra-baligh untuk persiapan di usia baligh. Banyak orangtua yang tidak menyadari datangnya masa baligh anaknya. Tiba-tiba para orangtua sudah mendapati putranya berubah suaranya, berubah penampilannya.

Pada fase baligh, seseorang sudah bertanggungjawab secara langsung terhadap seluruh ucapannya, sikap, tindakan yang dia lakukan, baik kepada Allah Ta’ala maupun kepada manusia.Orangtua harus tahu kapan masa itu terjadi pada anaknya, sehingga bisa menjelaskan tentang apa saja yang akan mereka alami dan apa-apa pula yang mereka harus lakukan pada masa itu. Melihat kondisi pada zaman sekarang ini, dengan berbagai macam tantangan ,terutama dari segi teknologi modern, yang anak-anak sering terpapar hal- hal pornografi yang tidak layak konsumsi, di mana usia baligh pada anak sekarang bisa datang lebih awal dari umumnya terjadi pada masa yang lalu. Jadi orangtua harus jeli dan memahami tanda-tanda baligh yang terjadi pada anaknya sehingga bisa terjadi komunikasi lanjutan.

Saya kagum dengan cerita teman, pada saat itu anaknya yang laki-laki memasuki usia baligh dengan membuka sebuah percakapan “ Nak, kini sudah tiba saatnya bagimu untuk bertanggungjawab atas dirimu sendiri. Kau sudah baligh dan dewasa. Dan Ibu tidak bisa membantumu dalam mempertanggungjawabkan semua ucapan dan perbuatanmu. Allah Ta’ala selalu mencatat apapun amalan yang kamu perbuat, maka berhati-hatilah dalam melakukan sesuatu.” Subhanallah. Seperti kisah Usamah bin Zaid, pemuda hebat yang pada usia sudah dipercayakan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memimpin pasukan Islam menaklukkan bangsa Quraisy, Persia, dan Romawi.


Umar bin Khatab menjelaskan pendidikan anak dalam tiga bagian. Usia  0-7 tahun pertama, orangtua harus memberikan kasih sayang yang tulus serta disiplin, dengan mengajarkan adab makan, minum, istinja’,tidur, dan lain-lain. Pada 7 tahun yang kedua, kenalkan Allah dalam segala kehidupannya. Penjelasan surga dan neraka, halal dan haram, baik dan buruk, jelaskan perbuatan yang pertama kali akan dihisab di alam kubur, ajarkan dan biasakanlah anak dengan Al Quran, jelaskan hak-hak dan kewajibannya, dan tumbuhkan sikap percaya diri dan tanggung jawab atas apa yang diperbuatnya. Pada 7 tahun yang ketiga, perlakukanlah anak sebagai seorang yang dewasa,menjaga agar selalu berteman dengan orang-orang yang shalih dan shalihah. Wallahua’lam bis shawab.

*) Iin Sulastri, Guru SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta

Beratnya Orang Tua Menjaga Anak Perempuannya

doc/thorif
Oleh Shiva Ulya Azizah

"Nanti ketemu langsung aja ditempat ,nggak usah nunggu di jalan... bahaya buat anak perempuan," begitu pesan ibu kemarin siang.

Kemarin siang, saudaraku ada yang nikahan. Kebetulan saudaraku ini orang Jogja, bapak-ibu berangkat dari rumah dan aku berangkat dari Jogja. Ibu berpesan seperti diatas, ketemu langsung saja di rumah saudara, jangan ketemu di jalan. Pesan ini bukan sekali saja aku dapatkan dari bapak dan ibu. Bapak juga termasuk yang mempermasalahkan ketika anak perempuannya harus janjian di jalan dengan yang lain. Kalaupun memang terpaksa,bapak akan datang lebih awal untuk menunggu, misalnya ketika menjemputku di halte kalau aku pulang naik angkutan umum.

Begitu beratnya orang tua menjaga anak perempuannya. Anak perempuan merupakan penentu masuk syurga bapaknya. Ketika anak perempuan tidak bisa menjaga dirinya maka ia juga bisa memcelakakan orang tuanya terutama bapak.

Begitu beratnya orang tua menjaga anak perempuannya, namun coba hitung berapa anak perempuan yang mau menjaga dirinya. Coba hitung berapa anak perempuan yang mau berhijab sesuai tuntunan syar'i.

Tadi malam juga aku mendatangi sebuah warung susu terkenal di Jogja, kalau lagi jam-jam rame bisa kehabisan kursi dan masuk waiting list. Karea malam Ahad, jadilah tetep harus masuk waiting list bareng serombongan cewek-cewek bercelana pendek. Paha-paha mereka jajakan, kalau kata ungkapan anak sekarang, bahkan paha-paha restoran cepat saji lebih mahal dari paha-paha cewek sekarang. Astaghfirullahal adzim.

Adakah dari perempuan-perempuan itu (begitu juga dengan saya) yang masih ingat orang tua ketika melakukan pelanggaran-pelanggaran itu. Padahal orang tua sudah begitu berat menjaga anak-anak perempuannya. Lalu apa yang akan kita berikan untuk orang tua? Materi duniawi?

Sungguh itu tak cukup kawan... syurgalah yang cocok dan cukup untuk mereka...
Rabbanaa hablana min azwajina wa dzurriyatina qurrata a'yunn waj alna lil muttaqi na imama...


*) Shiva Ulya Azizah, Alumni Psikologi UGM 2018. Twitter @ShivaUlya

Berdo'a dalam Amplop

google.com
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
  
Terhenyak saya.

Suatu pagi saya menghadiri sebuah acara. Ada hal yang mengejutkan saya dari penyelenggara. Salah seorang di antara mereka berbicara penuh semangat kepada peserta, perkataan yang tidak pernah saya dengar sebelumnya dari orang-orang shalih. Tidak pula saya dengar dari kakek nenek saya yang saya kenal bertekun-tekun mendalami agama. Saya justru mendapati apa yang mereka katakan itu pada agama lain. Tak terkecuali dari mereka yang berakrab-akrab dengan New Age Movement dengan segala cabang maupun rinciannya.

Sejenak saya terdiam sembari merenung, adakah ini yang dimaksud dalam hadis Nabi shallaLlahu 'alahi wa sallam? Sesungguhnya beliau telah bersabda:

سَيَكُوْنُ فِـيْ آخِرِ أُمَّتِيْ أُنَاسٌ يُحَدِّثُوْنَكُمْ مَـا لَـمْ تَسْمَعُوْا أَنْتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ

“Pada akhir zaman akan ada kaum yang berbicara kepada kalian dengan sesuatu yang tidak pernah kalian dengar dan tidak pula pernah didengar nenek moyang kalian. Maka hati-hatilah terhadap mereka.” (HR. Muslim, Ibnu Hibban & Al-Hakim). 

Tetapi..., perkataan apakah yang merisaukan saya itu? Do'a. Mereka mengobarkan semangat untuk berdo'a, tetapi dengan cara yang sangat asing dan tidak pernah saya dapati tuntunannya di dalam agama ini. Salah seorang berkata:

"Yang mau segera dapat jodoh, yang mau kaya raya, yang mau segera punya mobil.... Apa saja. Mudah. Semua ada caranya. Biar do'a lebih cepat terkabul, juga ada caranya. Pokoknya yakin dah Allah Maha Kuasa, Maha Kaya, Maha Mengabulkan Do'a. Minta saja sama Allah. Bagaimana caranya biar semua keinginan kita dikabulkan sama Allah? Bagaimana agar Allah kabulkan persis seperti yang kita minta? Mudah..... Tuliskan do'a Anda dengan rinci. Tulislah dengan lengkap, selengkap-lengkapnya. Apa saja. Mau mobil, kalau perlu warnanya apa, mereknya apa. Tuliskan di amplop. Makin lengkap makin baek."

Ia kemudian melanjutkan perkataannya:

"Kalau mau mobil, bayangkan dengan jelas, mobil apa yang Anda inginkan. Gambarkan dengan detail biar jelas. Kalau perlu lihat fotonya. Cari brosurnya. Masukin sekalian di amplop.
Nah, kalau sudah dimasukin amplop, terus ngapain? Bawa ke Ka'bah. Umrah ke sana dan bawa amplop itu. Pegangi amplopnya. Do'a yang sungguh-sungguh sama Allah. Bilang sama Allah, 'Ya Allah, penuhi semua keinginanku, kabulkan semua permintaanku yang di dalam amplop ini. Kalau sempet bacain akan lebih baik.' Habis itu taruh di sana. Yakinlah, segala yang kita inginkan akan segera dikabulin sama Allah."

Bagaimana jika seseorang tidak sempat atau tidak mampu umrah? Ada solusinya, yakni menitipkan kepada orang yang mau umrah. Bisa kepada "ustadz" yang mau ke sana. Ia juga mengajarkan triknya agar do'a dikabulkan lebih cepat dengan berbagai teknik amalan. Dan sekali lagi, saya tidak pernah menjumpai tuntunannya dari salafush-shalih. Tidak juga saya menjumpai nash shahih tentang itu. Yang saya dapati justru sebaliknya, praktek dari agama lain.

Ada beberapa syubhat dalam berbagai ucapan tersebut. Dua di antaranya adalah, pertama,pernyataan yang menunjukkan seakan ada mekanisme yang menjadikan sebuah do'a secara pasti akan lebih mudah dikabulkan, lebih cepat dan dapat dipercepat lagi dengan berbagai hal justru bertentangan keras dengan tuntunan agar ada khauf dan raja' (cemas dan harap) dalam berdo'a. Ini meniadakan sikap tadharru' di hadapan Allah Ta'ala. Dan sesungguhnya, sebaik-baik perkataan adalah kalamuLlah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Muhammad shallaLlahu 'alaihi wa sallam.

Kedua, cara-cara yang diajarkan sama sekali tidak terdapat dalam Islam. Padahal jika mereka meminta kepada Allah Ta'ala, maka tak ada yang lebih patut untuk diikuti melebihi tata-cara yang langsung dituntunkan oleh Allah Ta'ala dalam Al-Qur'anul Kariim serta dijelaskan oleh Rasulullah Muhammad shallaLlahu 'alaihi wa sallam di dalam As-Sunnah Ash-Shahihah. Bagaimana mungkin engkau meminta kepada Allah Ta'ala, tetapi mencampakkan cara yang telah ditetapkan-Nya? Bagaimana mungkin engkau berdo'a dengan mengambil keumuman makna "berdo'alah kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan bagimu", tetapi rincian caranya engkau ambil dari agama lain?

Sesungguhnya merinci-rinci do'a merupakan perbuatan melampaui batas sebagaimana kita dapat dalam hadis dari Abu Nu'amah. Begitu pula visualisasi do'a, sangat tercela menurut Islam. Sementara menuliskan keinginan dengan rinci dan menyerahkan (meletakkan) di Baitullah, baik dengan membacakannya maupun tidak, merupakan tindakan menyerupai (tasyabbuh) sebagian Nasrani serta Yahudi. Cara berdo'a seperti inilah yang kita jumpai pada peribadatan orang Yahudi dan Nasrani di Tembok Ratapan yang mereka yakini sebagai tempat suci. Maka apakah engkau akan berdo'a dengan cara mereka? Padahal Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam telah tegas larangan tasyabbuh. Lebih-lebih dalam soal yang berkait dengan 'ibadah.

Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:
  
لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

“Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami.” (HR. Tirmidzi).

 Apakah setiap yang menyerupai orang kafir mutlak haramnya? Tidak! Yang dilarang keras dan karena itu terjatuh ke dalam maksud hadis ini adalah menyerupai dalam perkara-perkara yang merupakan kekhasan orang kafir, meskipun itu hanya soal cara berpakaian atau kegiatan yang tidak terkait dengan 'ibadah. Adapun dalam masalah 'ibadah, jangankan menyerupai orang kafir dan menirunya sehingga nyaris tak berbeda dengan mereka, melakukan ritual yang tidak jelas tuntunannya pun harus kita jauhi. Apalagi jika ritual itu nyata-nyata bertentangan dengan nash yang shahih dan berasal dari agama lain, maka tidak ada tempat sama sekali dalam agama ini. Melakukan praktek 'ibadah yang bertentangan dengan islam dan nyata diajarkan agama lain jelas merupakan perbuatan tasyabbuh (menyerupai) yang sangat dilarang.

Berdo'a dengan menuliskan secara rinci dan memasukkannya ke dalam amplop merupakan salah satu bentuk tasyabbuh dalam masalah yang justru sangat mendasar, yakni 'ibadah. Jika mengada-adakan yang baru tanpa ada dasar dalil yang jelas pun dapat tertolak, maka apalagi menyerupai praktek agama lain. Padahal, andaikan bukan meniru agama lain, berdo'a dalam amplop menyalahi nash shahih tentang do'a sehingga tak diragukan lagi keburukannya dalam agama. Kita perlu khawatir --seandainya ini bukan tasyabbuh dari agama lain-- do'a dalam amplop termasuk bid'ah (sebagian lainnya menyebut dengan istilah bid'ah madzmumah sebagai lawan dari bid'ah mahmudah atau bid'ah sayyi'ah yang merupakan lawan dari bid'ah hasanah).

Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:
 أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim).


Lalu, apa buruknya berdo'a dengan rinci dan menuliskan selengkap-lengkapnya? Mari kita simak hadis berikut ini sekali lagi:
 عَنْأَبِي نَعَامَةَ، عَنْ ابْنٍ لِسَعْدٍ، أَنَّهُ قَالَ: سَمِعَنِي أَبِي وَأَنَا أَقُولُ:اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَنَعِيمَهَا وَبَهْجَتَهَا، وَكَذَا، وَكَذَا،وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَسَلَاسِلِهَا وَأَغْلَالِهَا، وَكَذَا، وَكَذَا، فَقَالَ:يَا بُنَيَّ، إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:" سَيَكُونُ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِي الدُّعَاءِ " فَإِيَّاكَ أَنْ تَكُونَمِنْهُمْ، إِنَّكَ إِنْ أُعْطِيتَ الْجَنَّةَ أُعْطِيتَهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الْخَيْرِ،وَإِنْ أُعِذْتَ مِنَ النَّارِ أُعِذْتَ مِنْهَا وَمَا فِيهَا مِنَ الشَّرِّ


Dari Abi Nu’aamah dari anaknya Sa’d (bin Abi Waqqaash), ia berkata: Ayahku mendengarku ketika aku berdoa, “Ya Allah,sesungguhnya aku memohon kepada-Mu surga, kenikmatannya, lalu ini, dan itu. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka, rantai-rantainya, belenggu-belenggunya, lalu ini, dan itu”. 

Lalu ayahku berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

Kelak akan ada satu kaum yang melampaui batas dalam berdo'a’. Waspadalah agar engkau jangan sampai termasuk kaum tersebut. Seandainya engkau diberikan surga,maka akan diberikan pula segala yang ada di dalamnya dari kebaikan. Dan jika engkau dijauhkan dari neraka, maka akan dijauhkan pula segala apa yang ada di dalamnya dari kejelekan.” (HR. Abu Dawud).

Perhatikan! Baru menyebutkan permohon untuk mendapatkan surga dan kenikmatannya saja sudah termasuk merinci-rinci do'a. Apatah lagi menuliskan secara detail selengkap-lengkapnya, sungguh jauh lebih melampaui batas dibanding apa yang dilarang dalam hadis tersebut. Jika sedikit merinci saja sudah terhitung melampaui batas dengan merinci-rinci, apalagi jika lebih rinci dari itu. Seakan mereka menganggap Allah Ta'ala telah kehilangan sifat Maha Tahu.

Astaghfirullahal 'adziim.

Begitu pun melakukan visualisasi do'a, jelas sekali larangannya dalam agama kita. Sekali lagi, mari kita baca hadis berikut dengan seksama:
 عَنْأَبِي نَعَامَةَ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مُغَفَّلٍ، سَمِعَ ابْنَهُ يَقُولُ: اللَّهُمَّإِنِّي أَسْأَلُكَ الْقَصْرَ الْأَبْيَضَ عَنْ يَمِينِ الْجَنَّةِ إِذَا دَخَلْتُهَا،فَقَالَ: أَيْ بُنَيَّ، سَلِ اللَّهَ الْجَنَّةَ وَتَعَوَّذْ بِهِ مِنَ النَّارِ، فَإِنِّيسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " إِنَّهُسَيَكُونُ فِي هَذِهِ الْأُمَّةِ قَوْمٌ يَعْتَدُونَ فِي الطَّهُورِ وَالدُّعَاءِ"


Dari Abi Nu’amah ia berkata bahwa Abdullah bin Mughaffal mendengar anaknya berdoa, "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu sebuah istana putih yang terletak di sisi kanan surga, jika kelak aku masuk surga." 

Maka ia (Abdullah bin Mughaffal) berkata, “Wahai anakku, mohonlah kepada Allah surga dan mohonlah kepada-Nya perlindungan dari api neraka. Karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

"Sesungguhnya kelak akan ada satu kaum dari umat ini yang melampaui batas dalam bersuci dan berdo'a.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan yang lainnya).

Nah. Maka tidakkah ini dasar yang jelas betapa tercelanya menuliskan do'a secara rinci segamblang-gamblangnya dan menggambarkan sejelas-jelasnya sampai-sampai melengkapinya dengan foto? Tidakkah itu merupakan tindakan melampaui batas? Dan jika kita telah mengetahui larangannya yang sangat tegas dalam agama, tetapi tetap melakukannya, tidakkah ini termasuk menghinakan larangan agama?

Lalu bagaimana dengan seseorang yang menuliskan permintaannya agar dido'akan oleh sahabat atau keluarganya yang sedang di Tanah Suci? Jika sekedar untuk mengingatkan, sangat berbeda keadaan dan kedudukannya dengan menuliskan do'a serinci-rincinya dalam amplop sebagaimana yang diajarkan dalam acara yang sempat saya ikuti ketika itu. Sangat berbeda.

Tak ada lagi alasan bagi kita untuk melakukan amalan yang jelas-jelas bertentangan dengan agama ini. Apalagi praktek do'a semacam itu justru tasyabbuh dari agama lain.


Berkenaan dengan surga, apakah tidak boleh kita meminta surga terbaik? Justru Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam perintahkan kita berdo'a meminta surga yang tertinggi, yaitu surga Firdaus, sebagaimana sabdanya:
 إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِهِ كُلُّ دَرَجَتَيْنِ مَا بَيْنَهُمَا كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَسَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ وَأَعْلَى الْجَنَّةِ وَفَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الْجَنَّةِ

“Dalam surga terdapat seratus derajat yang Allah persiapkan bagi para mujahidin di jalan-Nya, yang jarak antara setiap dua tingkatan bagaikan antara langit dan bumi. Maka, jika kalian meminta kepada Allah, mintalah surga Firdaus, sebab Firdaus adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi, di atasnya ada singgasana Ar-Rahman, dan dari sanalah sungai-sungai surga memancar.” (HR. Bukhari).

Inilah yang dituntunkan oleh Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam, yakni meminta surga tertinggi, surga terbaik. Tetapi tak perlu engkau merinci-rinci dan mendeskripsikannya secara visual. Andaikan engkau memiliki imajinasi yang sangat kuat, maka sungguh Allah Ta'ala Maha Kuasa untuk mencipta surga yang tak sanggup engkau bayangkan keindahannya. Andaikata engkau memiliki kesanggupan memikirkan detail-detailnya, maka sungguh Allah Ta'ala memiliki ketelitian yang tak tertandingi oleh siapa pun untuk menjadikan manusia terkesimah dengan pemandangan di surga yang pintunya saja lebarnya antara Makkah dan Bushra atau antara Makkah dan Hajar (1.272 kilometer), sementara jarak antar pintu sejauh 40 tahun perjalanan.

Dari Utbah bin Ghazawan radhiyallaahu anhu, ia berkata mengenai lebar tiap pintu surga:

"Rasulullah (shallaLlahu 'alaihi wa sallam) bersabda kepada kami bahwasanya jarak antara daun pintu ke daun pintu surga lainnya sepanjang perjalanan empat puluh tahun, dan akan datang suatu hari ketika orang yang memasukinya harus berdesakan.” (HR. Muslim).

Semoga Allah Ta'ala menolong kita, melimpahi kita hidayah dan mematikan kita dengan husnul khatimah.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku. Twitter @kupinang

Cerdas di Sekolah : Tetap Semangat Belajar Saat Puasa

doc/thorif
Oleh Suhartono

Boleh dibilang, belajar selama bulan puasa di sekolah bukanlah hal yang ringan bagi sebagian siswa,terutama bagi mereka yang jarang puasa di luar bulan Ramadhan. Dalam keadaan puasa, mereka masih harus tetap mengikuti pelajaran. Meski selama bulan Ramadhan biasanya durasi jam pelajaran dikurangi, namun tetap saja tetap memberi imbas dalam kegiatan belajar mengajar. Apalagi jika sudah memasuki siang hari. Stamina siswa dan guru pun sudah mulai kendor.

Meski demikian, sebetulnya ada satu hal positif yang bisa kita ambil dalam kegiatan belajar mengajar selama Ramadhan ini. Selama Ramadhan, pembelajaran bisa lebih diarahkan pada peningkatan nilai keimanan dan ketaqwaan siswa. Sebaliknya, pembelajaran dengan pemberian materi pelajaran pokok di sekolah dikurangi. Itu sebabnya mengapa belajar bulan puasa dianggap sebagai saat yang tepat untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter  pada siswa. Kegiatan penunjang seperti Pesantren Ramadhan maupun kajian buka puasa merupakan salah satu sarana yang tepat untuk memfasilitasi hal tersebut.

Selain itu, dengan kondisi fisik yang tidak sekuat saat tidak puasa, otomatis perlu beberapa kiat agar siswa tetap dapat beraktivitas belajar dengan baik. Berikut beberapa tips yang bisa diperhatikan untuk menjaga semangat siswa dalam mengikuti pelajaran saat bulan puasa.

Pertama, niat. Berpuasa merupakan ajang latihan fisik dan mental bagi siswa sekolah. Oleh sebab itu siswa perlu berniat untuk melaksanakan latihan tersebut dengan tulus dan ikhlas. Berpuasa merupakan latihan untuk beribadah sedangkan belajar adalah sarana memperbaiki kualitas diri siswa. Kelak, jika sudah besar akan menjadi orang yang terlatih untuk bekerja dan meningkatkan nilai ibadah selama bulan ramadhan.

Kedua, arahkan siswa untuk mengatur skedul harian
Siswa perlu membuat agenda kegiatan harian. Mulai dari sahur sampai pelaksanaan shalat tarawih. Jika dibiasakan mengikuti alur tersebut siswa akan terbiasa disiplin dan membuat waktu sehari sudah terisi oleh berbagai jenis  kegiatan belajar dan beribadah. Ingatkan juga agar siswa tidak tidur terlampau larut karena terlalu asyik dengan kegiatan Ramadhan di malam hari.

Ketiga, perhatikan waktu sahur dan berbuka puasa. Ingatkan siswa makan sahur di akhir waktu. Sebaiknya mendekati waktu imsak. Sementara berbuka puasa usahakan di awal waktunya. Sahur dan berbuka supaya tidak berlebihan. Jika berlebihan justru menimbulkan sakit perut. Lagi pula, perut yang terlalu kenyang akan membuat mata ngantuk ketika mengikuti pembelajaran di sekolah. Ingatkan pula agar tidak tidur setelah shalat Subuh sebab justru akan membuat tubuh semakin terasa lemas dan malas beraktivitas.

Keempat, menjaga aktivitas fisik. Puasa menahan segala macam yang membatalkan puasa. Tidak makan dan minum dari saat imsak sampai berbuka. Oleh sebab itu siswa tidak melakukan aktivitas fisik yang menguras tenaga di sekolah.

Kelima, perbanyak beribadah. Belajar selama bulan puasa di sekolah juga termasuk ibadah. Ibadah juga dapat dilakukan degan membaca Al Qur’an di sekolah. Bisa juga dengan berdiskusi mengenai hal-hal yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas diri siswa.

Keenam,  konsumsi makanan dan minuman yang sehat. Makan dan minum sewaktu sahur dan berbuka dianjurkan tidak berlebihan. Namun yang lebih penting adalah kualitas makanan dan minuman. Makan dan minuman yang sehat dan memenuhi kalori yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan puasa.


*) Suhartono, Pendidik, tinggal di Yogya

Anak Sehat : Olahraga, Yuk….

doc/thorif
Oleh Beta Haninditya


Olahraga dikenal sebagai kegiatan yang dapat memberi pengaruh positif pada tumbuh kembang anak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa olahraga membantu anak mengembangkan kemampuan bekerjasama, rasa percaya diri, tidak mudah menyerah, karakter moral yang positif, kemampuan berteman, bersenang-senang, sportif dan sebagainya.

Kegiatan berolahraga tidak harus selalu membosankan. Kadang anak-anak malas berolahraga karena mereka membayangkan lelah dan beratnya olahraga yang akan dijalani. Sebagai orang tua, Anda bisa menyiasatinya dengan hal-hal berikut ini

Setiap Ahad, kita bisa mengajak anak lari pagi atau jalan-jalan pagi. Lakukan bersama-sama. Tidak perlu dipaksakan. Cukup nikmati setiap langkah dan kegiatan olahraga yang dijalani. Ada baiknya pula membuat jadwal olahraga bersama. Dengan membuat jadwal, kita bisa lebih mudah fokus untuk mencapai target olahraga setiap minggunya. Berlakukan jadwal tersebut untuk semua keluarga.

Agar mendapat hasil yang maksimal, olahraga yang rutin juga harus diimbangi dengan makanan yang sehat. Sebelum berolahraga, kita bisa siapkan dulu makanan yang akan dimakan setelah berolahraga. Buat tampilan makanan tersebut semenarik mungkin. Dengan kesepakatan baru boleh makan makanan tersebut setelah berolahraga, Anda bisa menyemangati anak Anda untuk berolahraga sampai selesai karena sudah ada iming-iming makanan sehat, enak, dan siap disantap usai berolahraga.

Dunia anak-anak adalah dunia bermain. Jadi, buat kegiatan olahraga sambil bermain. Mudah saja, misalnya bermain bola di halaman rumah. Aktivitas fisik ketika bermain adalah bagian dari olahraga juga, bukan?||


*) Beta HanindityaApoteker RSKIA Sadewa Yogyakarta

Ditjen Dikdas Kembali Gelar Lomba Menulis Cerita

www.dikdas.kemdikbud.go.id
Jakarta (Dikdas): Untuk merangsang minat dan kreativitas siswa dalam membaca dan menulis karya sastra, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2014 ini kembali menyelenggarakan Lomba Menulis Cerita (LMC). Lomba terbagi dalam dua kategori peserta yaitu siswa Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah dan siswa Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah.
Ada 13 tema yang bisa dipilih peserta, yakni kejujuran, ketulusan, disiplin, kerja keras, cinta tanah air, cinta lingkungan, kasih sayang, kesabaran, sopan santun, toleransi, kepedulian sosial, semangat gotong-royong, dan bencana alam.
Untuk LMC kategori SD/MI, cerita ditulis dengan panjang 3 s.d. 5 halaman kertas ukuran A4 dengan jarak 1,5 spasi, jenis huruf Times New Roman, dan besar huruf 12 pt. Sementara untuk LMC kategori SMP/MTS, cerita ditulis dengan panjang 4 s.d. 8 halaman kertas ukuran A4 dengan jarak 1,5 spasi, jenis huruf Times New Roman, dan besar huruf 12 pt.
Hadiah yang disediakan bagi para pemenang cukup menggiurkan. Selain piala, sertifikat, dan souvenir, para juara tiap kategori akan menerima hadiah berupa uang pembinaan yang nilainya bervariasi: pemenang ke-1 Rp 7,5 juta, pemenang ke-2 Rp 6,5 juta, pemenang ke-3 Rp 6 juta, pemenang ke-4 s.d. 5 Rp 5,5 juta, pemenang ke-6 s.d. 10 Rp 5 juta, dan pemenang ke-11 s.d. 15 Rp 4,5 juta. Total hadiah Rp 90 juta.
Selain itu, 15 pemenang terbaik tiap kategori juga akan diundang untuk mengikuti workshop selama sepekan pada pertengahan November 2014. Workshop dipandu oleh para sastrawan beken tanah air.
Peserta boleh mengirim lebih dari satu karya terbaiknya. Naskah dikirim ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Sub Output Pembinaan Pendidikan Estetika pada Subbag Rumah Tangga Bagian Umum, Sekretariat Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, Kompleks Kemdikbud, Gedung E Lantai 5, Jalan Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta 10270. Pengiriman naskah disertai biodata peserta (klik di sini). Naskah diterima panitia paling lambat 1 September 2014 (stempel pos).
Untuk keterangan lebih lanjut, silakan klik poster LMC-SD/MI dan LMC-SMP/MTs.* (Billy Antoro)

Sumber Berita www.dikdas.kemdikbud.go.id

Perubahan Sejarah Keluarga Ditentukan Peran Seorang Ibu


doc/thorif
Oleh Herwin Nur

Perempuan sebagai calon ibu, dalam meniti masa depannya, khususnya dalam menemukan jodohnya tidak perlu takut, kuatir, resah, cemas, was-was maupun bingung. Memilah dan memilih jodoh tidak bisa dilakukan sambil jalan. Terkandung misi mulia menyiapkan keturunan yang  tidak sekedar sebagai penerus silsilah, tetapi sebagai generasi masa depan dalam prespektif Islam, bahkan sebagai investasi akhirat. Perjalanan hidup dan masa depan anak diwarnai oleh akumulasi, gabungan maupun resultan dari emosi dan karakter ibu dan bapaknya.

Perubahan bersifat individual dan berdampak pada anak keturunan. Betapa tidak, perjuangan cinta lelaki yang mencari calon ibu untuk anak-anaknya, sebagai modal dan langkah awal bagi si calon ibu.

Dari sisi atau pihak calon ibu, perlu dipahami lagi bahwa aktivitas utama seorang wanita adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Setinggi-tinggi bangau terbang akan kembali ke kubangan juga, tidak berlaku pada wanita karier. Wanita terbang tinggi dengan kariernya, keluarga menjadi urusan berikutnya, diurus di waktu sisa, di saat sempat.

Kesimpulan pakar dan ahli pendidikan anak, bahwa anak yang kedua orangtuanya bekerja, akan menjadi anak yang mandiri, antar saudara terjalin keakraban memang ada benarnya. Namun harus diikuti dengan bagaimana orangtua berinteraksi dengan anaknya saat di rumah, bagaimana mengelola waktu bersama, bagaimana pembagian tugas di keluarga.

Terkadang alasan asangan suami istri bekerja adalah agar ekonomi keluarga tak pincang atau agar asap dapur  tetap mengebul. Faktor emansipasi wanita, seolah wanita karier menjadi suatu kewajiban. Kondisi ini menyebabkan orangtua secara tak sadar menyiapkan anaknya secara apa adanya. Tepatnya, asal anaknya nantinya seperti dirinya tidak masalah, sudah bagus. Contoh umum, bapak dengan ijazah SMA bekerja, berharap anaknya lulus SMA sudah cukup.

Diriwayatkan dalam sebuah sebuah hadits, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ali bin Abi Thalib r.a : "Wahai Ali, hak-hak anak yang diwajibkan atas orang tua adalah sebanyak hak orang tua yang diwajibkan kepada anak-anaknya".

Hubungan timbal balik hak anak dengan hak orangtua tidak bisa dirumuskan secara matematis serta bukan dalam tataran balas jasa. Keluarga seperti apa yang kita harapkan, agar hubungan timbal balik hak bisa terjalin. Kita mengacu sabda Rasulullah: "Apabila Allah menghendaki, maka rumah tangga yang bahagia itu akan diberikan kecenderungan senang mempelajari ilmu-ilmu agama, yang muda-muda menghormati yang tua-tua, harmonis dalam kehidupan, hemat dan hidup sederhana, menyadari cacat-cacat mereka dan melakukan taubat." (HR Dailami dari Abas r.a)

Berderet kata kunci, intinya dalam keluarga memang harus didasari kehidupan religi. Kewajiban pertama orangtua adalah memberi nama anak dengan nama dan panggilan yang bermakna, berkah dan Islami.

Orang lupa, hubungan emosi anak dengan ibunya terjalin sejak dalam kandungan, diperkuat karena mendapat ASI ekslusif selama 2 tahun. Jangan heran jika anak, lelaki maupun perempuan, dominan berorientasi ke ibunya. Orang juga lupa, anak menyandang watak turunan atau watak gabungan plus watak pribadi yang terbetuk sesuai perjalanan waktu. Orang tua berwawasan ke masa depan adalah yang tidak menginginkan anaknya mengalami nasib yang sama dengan dirinya.

Mengacu HR Dailami dari Abas r.a di atas, semua anggota keluarga inti sebagai pelaku utama terwujudnya rumah tangga bahagia. Suami sebagai kepala rumah tangga diikuti dengan hak dan kewajibannya. Isteri sebagai ibu dan pengatur rumah tangga dilengkapi oleh Allah dengan perangkat jasmani rohani, lahir batin, jiwa raga.

Ibu tidak sekedar mengandung, melahirkan, menyusui dan menyuapi anak, bahkan urusan ke belakang bayi/anak ditangani dengan tulus, merambah ke dalam konteks memperbaiki keturunan. Komponen rumah tangga bahagia bisa diwujudkan jika campur tangan ibu terasa bahkan dominan. Bukan karena kepala keluarga hanya berkewajiban sebagai pencari nafkah.

*) Herwin Nur, Penulis lepas, Tinggal di Tangerang