Memperbaiki Bacaan Sejak Kecil

doc/thorif
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim


Ada yang menarik dari kegiatan khatmil Qur'an di SDIT Salman Al-Farisi Yogyakarta pagi tadi. Ini bukanlah kegiatan membaca Al-Qur'an dari juz 1 hingga 30 dalam satu hari yang kadangkala diwarnai kebut-kebutan baca di sore hari sebagaimana dulu kerap saya dapati di kampung. Ini merupakan kegiatan ujian sekaligus syahadah bahwa seseorang telah dinyatakan mampu membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar sesuai kaidah membaca Al-Qur'an. Anak-anak dinyatakan lulus hanya jika mampu membaca dengan benar, tahu nama hukum bacaan dan mengerti hukum bacaan sebagaimana terdapat dalam ilmu tajwid.

Melalui mekanisme yang jelas, proses yang terjaga dan menerapkan standar tanpa toleransi (zero tolerance), anak menguasai bacaan dengan baik. Tak perlu terjadi anak gelagapan baca اللهِ sehingga terdengar awoh atau awloh di kelas atas SD jika sejak awal telah dijaga ketat bacaannya. Sebagian anak telah mampu membaca dengan tepat sebelum mereka bersekolah, meski belum sempurna, tapi bermasalah ketika sekolah tidak mengajarkan membaca dengan benar. 

Banyaknya jumlah murid di tiap angkatan bukanlah kendala untuk mengajari anak membaca dengan benar dan sempurna jika mekanisme ditegakkan. Mengajari membaca Al-Qur'an dengan benar semenjak awal memang tampak lambat, tapi sesudah menguasai, anak akan lebih asyik membaca. Di awal anak sangat mungkin ketinggalan jauh dibanding rekan-rekannya yang belajar membaca dengan prinsip asal lancar, tetapi sesudah itu anak akan lebih mudah membaca karena memahami prinsipnya dengan matang.

Mengoreksi bacaan ketika "lidah terlanjur kaku" jauh lebih sulit dibanding mengajari membaca dengan benar dan faham kaidah semenjak dini. Ketika pola yang salah sudah terbentuk, perlu kerja ekstra untuk meruntuhkan pola tersebut, lalu menata kembali agar mampu mengucapkan dengan benar. Dan perlu upaya lebih keras lagi untuk mampu merangkai serta mengucapkannya secara sempurna. Ini berbeda dengan mengajari membaca dengan benar dan sempurna sesuai kaidah. Ada kesulitan memang, tapi begitu anak mampu membacanya secara sempurna, ia akan mudah mempelajari serta membaca yang lebih kompleks. Lebih mudah pula baginya membaca beberapa bacaan yang gharib(keluar dari kaidah umum).

Ketika anak telah benar-benar mampu membaca sesuai kaidah, proses menghafal secara mandiri jauh mudah. Ini yang kadang dilupakan. Di luar itu, lebih banyaknya hafalan tidak sama dengan matangnya pemahaman dan kokohnya komitmen terhadap Al-Qur'anul Karim. Maka hal awal yang perlu dibekalkan kepada anak di saat kecil adalah kecintaan, keyakinan dan kemauan berpegang kokoh pada Al-Qur'an.

Al-Qur'an itu petunjuk bagi seluruh ummat manusia, penjelas dari petunjuk dan pembeda. Tapi tak semua dapat memperoleh petunjuk. Lalu siapa yang mendapatkan petunjuk itu? Allah Ta'ala kabarkan kepada kita di awal surat Al-Baqarah bahwa, orang-orang bertaqwalah yang memperoleh petunjuk Al-Qur'an. Salah satu cirinya iman kepada yangghaib; meyakini sepenuhnya segala yang ada dalam Al-Qur'an, termasuk apa yang belum terjadi maupun yang sudah berlalu berabad-abad sebelum turunnya Al-Qur'an.

Inilah yang perlu diperhatikan dalam menanamkan Al-Qur'an dalam diri anak. Jika sekedar banyak hafalannya, khawatirilah mereka jadi munafik. Na'udzubillahi min dzaalik

Mari kita renungi sabda Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam tentang orang munafik:


أَكْثَرَ مُنَافِقِي أُمَّتِي قُرَّاؤُهَا 

 “Kebanyakan orang munafik di tengah-tengah umatku adalah qurra’uha (penghafal Al-Qur'an).” (HR. Ahmad).


Lho? Apa sebabnya qurra' (penghafal Al-Qur'an) tersebut sampai tergelincir dalam kemunafikan? Mereka adalah orang-orang yang menghafalkan Al-Qur'an, tapi lalai mendidik niat dan menguati iman. Atau, mereka menghafalkan Al-Qur'an memang untuk tujuan dunia. Amat besar kemuliaan orang yang membaca Al-Qur'an, terlebih yang menghafalkannya. Tetapi jika salah niat atau tak mengimaninya, maka banyaknya hafalan tak membawanya kepada keselamatan. Itu sebabnya mendidik niat dan memperbaiki iman perlu kita perhatikan, terlebih saat anak kita masih belia.


*) Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku-buku Parenting. Twitter @kupinang

Ramadhan Momen Terbaik Tanamkan Iman dan Takwa pada Anak

doc/thorif
Oleh Imam Nawawi

Kalau kita renungkan dengan baik apa yang Allah firmankan pada Surah Al-Baqarah yang mewajibkan umat Islam berpuasa, khususnya pada kalimat agar kalian bertakwa, maka sudah semestinya dalam kontek keluarga, anak-anak juga harus kebagian kesempatan untuk bisa jadi insan bertakwa.

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah [2]: 183).

Dalam tafsir Ibn Katsir dijelaskan bahwa takwa itu sangat mungkin dicapai di dalam bulan Ramadhan karena puasa itu sendiri memiliki makna penyucian, pembersihan, dan penjernihan diri dari kebiasaan-kebiasaan dan akhlak yang tidak baik.

Dari sini jelas, bagaimana seharusnya para orang tua bersikap selama Ramadhan. Akan tetapi bagaimana dengan anak-anak kita, utamanya yang masih kecil dan menginjak usia remaja? Tentu perlu strategi yang tepat agar Ramadhan tidak saja nikmat bagi orang tua, tetapi juga berdampak langsung bagi pertumbuhan iman dan takwa anak-anak kita.

Keteladanan
Metode apa pun dalam mendidik anak tidak akan banyak bermanfaat jika dalam keluarga, anak-anak tidak menemukan keteladanan dari kedua orang tuanya. Di dalam Bulan Ramadhan kesempatan orang tua untuk memberikan keteladanan sangatlah terbuka luas. Mulai dari disiplin waktu, ibadah, termasuk aktivitas keseharian.

Dengan kata lain, memasuki Ramadhan orang tua hendaknya sudah memiliki rencana yang jelas serta target yang pasti. Dengan demikian, anak-anak di rumah akan melihat bahwa orang tuanya memiliki ‘aktivitas’ yang berbeda yang dilakukan dengan antusiasme tinggi.
Dari situlah anak secara alamiah akan berpikir bahwa orang tuanya benar-benar serius mengisi Bulan Ramadhan dengan berbagai macam aktivitas ibadah dan ketaatan. Jika dalam hal keteladanan ini anak-anak tidak menemukannya, mungkin saja anak akan mendengar ‘ceramah’ orang tua, tetapi boleh jadi itu tidak membekas dalam lubuk hatinya.

Mencintai Al-Qur’an
Langkah berikutnya, sembari membangun keteladanan, orang tua juga mesti mengajak anak-anaknya untuk mencintai Al-Qur’an. Mencintai dalam hal ini tidak sebatas mengajarkan mereka pandai membaca dan cepat menghafalnya, tetapi menginternalisasikan nilai-nilai Qur’an terhadap jiwa dan cara berpikir anak.

Misalnya, orang tua mengajak anak membahas tentang kisah Nabi Yusuf, satu-satunya Nabi yang Allah kisahkan secara utuh di dalam satu surah. Jelaskan kepada mereka bahwa Nabi Yusuf adalah anak yang sangat teguh dalam memegang prinsip, tidak mudah mengeluh, sangat sayang kepada orang tua dan tidak takut menghadapi masalah.

Bahkan Nabi Yusuf tidak meminta tolong kepada siapapun kecuali hanya kepada Allah semata. Keyakinannya terhadap kuasa Allah teguh bagaikan baja. Akhirnya, Allah berikan berita gembira berupa pengangkatan dirinya sebagai manusia yang penuh manfaat dan hidup dalam kebahagiaan di atas landasan iman.

Dengan cara seperti itu orang tua bisa mengantarkan anak-anaknya memahami bahwa Al-Qur’an itu kitab suci yang tidak saja layak dibaca dan dihafal semata tetapi juga diserap, disadap dan disedot kekuatan mukjizatnya, terutama dalam membangun sikap mental, prinsip dan keteguhan hati dalam memegang kebenaran.

Apalagi di dalam Al-Qur’an Allah tegaskan bahwa Al-Qur’an itu diturunkan di Bulan Ramadhan (QS. Al-Baqarah: 185). Jadi, sangat relevan jika orang tua mengajak anak-anaknya untuk mencintai Al-Qur’an dalam pengertian mengkaji, mendalami dan menggali kandungan-kandungan Al-Qur’an secara lebih modern dengan tetap mengacu pada kitab-kitab tafsir ulama yang mu’tabarah.

Meningkatkan Aktivitas Keilmuan
Satu tantangan terberat para orang tua dalam mendidik anak-anaknya selama Ramadhan, apalagi bertepatan dengan libur sekolah adalah mengendalikan kegiatan anak.
Umumnya, orang tua mengeluh, meskipun sebagian besar mendiamkannya, perilaku anak yang menghabiskan siang harinya dengan menonton televisi atau bermain game, bahkan sebagian lagi menghabiskan siang harinya dengan tidur.

Dalam konteks ini orang tua mesti memiliki perencanaan yang kuat. Misalnya soal menonton televisi, anak-anak harus diajak membuat kesepakatan untuk tidak melihat televisi kecuali pada program taushiyah atau pun kajian ke-Islam-an. Bahkan orang tua harus berhasil membuat kesepakatan dengan anak untuk tidak melihat televisi saat menjelang sahur.
Kemudian, main game. Orang tua harus mengendalikan aktivitas bermain ini secara elegan. Misalnya dengan mengalihkan bermain game dengan memberikan tugas pada anak untuk membaca sejarah Nabi dan sahabat, yang nantinya jika anak-anak berhasil membaca dan menuliskannya dalam catatan harian orang tua memberikan hadiah berupa paket lebaran.

Hal ini perlu dilakukan, karena pemaksaan pada akhirnya tidak memberikan kesan positif pada anak. Orang tua harus berani bersabar dengan mengalihkan tradisi kurang positif anak secara persuasif dan gradual. Kecuali jika anak-anak kita memang sudah tidak berperilaku sebagaimana umumnya anak-anak masa kini.

Selanjutnya, aktivitas keilmuan. Orang tua tidak seharusnya merasa cukup hanya dengan puasa semata. Tetapi harus juga ikut meningkatkan aktivitas keilmuannya. Nah, di sini orang tua bisa sekaligus mengajak anak-anak. Misalnya dengan mengajak anak tekun mengikuti taushiyah di masjid, entah itu usai tarawih maupun usai sholat Shubuh.
Apalagi, saat ini umumnya sekolah-sekolah memberikan buku laporan untuk anak selama libur dalam mengisi kegiatan Ramadhan yang mesti diisi oleh setiap anak. Jadi, orang tua bisa membantu anak-anak untuk mengisi buku tersebut secara jujur.

Doa
Terakhir, langkah penting yang tidak boleh terlupakan adalah doa. Sebab bagaimanapun hidayah adalah hak Allah, sebagai orang tua kita berkewajiban mendoakan anak-anak kita. Semoga dengan ikhtiar yang dilakukan selama Ramadhan ini benar-benar memberikan dampak yang serius bagi perkembangan iman dan takwa anak-anak kita.

Orang tua tidak boleh merasa cukup dengan upaya dan metode yang dilakukan dalam mendidik anak, meskipun mungkin sudah diberikan keteladanan. Harus terus dipertajam dengan doa. Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim tidak berhenti berdoa agar anak-anaknya menjadi orang yang takwa dengan tidak pernah meninggalkan sholat.

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku” (QS. Ibrahim [14]: 40).

Dalam tafsir Ibn Katsir dijelaskan bahwa maksud dari doa tersebut adalah agar Allah memberikan kekuatan kepada anak keturunan Nabi Ibrahim selalu menjaga sholat dengan segenap ketentuan syariat-Nya.

Jika sekelas Nabi Ibrahim yang sudah sedemikian rupa mendidik anak-anaknya dengan kekuatan keteladanan luar biasa, lantas bagaimana mungkin kita yang sekarang ini tidak juga memaksimalkan doa untuk keimanan dan ketakwaan anak kita?

Dengan beberapa langkah praktis di atas, jika dilakukan secara sungguh-sungguh, insya Allah akan ada jalan yang Allah bukakan kepada kita untuk anak-anak kita menjadi anak-anak yang beriman dan bertakwa. Jadi, mumpung Ramadhan, mari kita upayakan dengan penuh kesungguhan.


*) Imam Nawawi, Penulis di www.hidayatullah.com dan rubrik Hikmah Harian Umum Republika. Pimred Majalah Mulia. Twitter : @abuilmia

Tawassul dengan Amal Shalih : Kisah 3 Orang Terkurung dalam Goa

google.com


Diantara tawassul yang disyariatkan adalah tawassul dengan amal shaleh sebagaimana kisah tentang tiga orang yang terkurung didalam goa lalu mereka meminta kepada Allah swt dengan menyebutkan amal-amal shaleh yang pernah dilakukannya agar dikeluarkan darinya dan doa-doa itu pun dikabulkan oleh-Nya.

Diriwayatkan dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar berkata,”Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda,’Pernah terjadi pada masa dahulu sebelum kamu. Tiga orang berjalan-jalan hingga terpaksa bermalam didalam sebuah goa. Tiba-tiba ketika mereka sedang berada didalam goa itu jatuhlah sebuah batu besar dari atas bukit dan menutupi pintu goa itu hingga mereka tidak dapat keluar.

Berkatalah mereka,’Sungguh tiada sesuatu yang dapat menyelamatkan kalian dari bahaya ini kecuali jika kalian berdoa kepada Allah dengan (perantara) amal-amal shaleh yang pernah kalian lakukan dahulu. Maka berkata seorang dari mereka,’Wahai Allah dahulu saya mempunyai ayah dan ibu dan saya biasa tidak memberi minuman susu pada seorang pun sebelum keduanya (ayah-ibu), baik pada keluarga atau hamba sahaya. Pada suatu hari saya menggembalakan ternak ditempat yang agak jauh sehingga tidaklah saya pulang pada keduanya kecuali sesudah larut malam sementara ayah ibuku telah tidur. Maka saya terus memerah susu untuk keduanya dan saya pun segan untuk membangunkan keduanya dan saya pun tidak akan memberikan minuman itu kepada siapa pun sebelum ayah ibu. Lalu saya menunggu keduanya hingga terbit fajar, maka bangunlah keduanya dan minum dari susu yang saya perah itu. Padahal semalam anak-anakku menangis didekat kakiku meminta susu itu. Wahai Allah jika saya melakukan itu semua benar-benar karena mengharapkan keridhoan-Mu maka lapangkanlah keadaan kami ini. Lalu batu itu pun bergeser sedikit namun mereka belum dapat keluar darinya.

Orang yang kedua berdoa,’Wahai Allah saya pernah terikat cinta kasih pada anak gadis pamanku, karena sangat cintanya saya selalu merayu dan ingin berzina dengannya akan tetapi ia selalu menolak hingga terjadi pada suatu saat ia menderita kelaparan dan datang minta bantuan kepadaku maka saya memberikan kepadanya seratus duapuluh dinar akan tetapi dengan perjanjian bahwa ia akan menyerahkan dirinya kepadaku pada malam harinya. Kemudian ketika saya telah berada diantara dua kakinya, tiba-tiba ia berkata,’Takutlah kepada Allah dan jangan kau pecahkan ‘tutup’ kecuali dengan cara yang halal. Saya pun segera bangun daripadanya padahal saya masih tetap menginginkannya dan saya tinggalkan dinar mas yang telah saya berikan kepadanya itu. Wahai Allah jika saya melakukan itu semata-mata karena mengharapkan keredhoan-Mu maka hindarkanlah kami dari kemalangan ini. Lalu batu itu pun bergeser sedikit namun mereka belum dapat keluar.

Orang yang ketiga berdoa,’Wahai Allah dahulu saya seorang majikan yang mempunyai banyak buruh pegawai dan pada suatu hari ketika saya membayar upah buruh-buruh itu tiba-tiba ada seorang dari mereka yang tidak sabar menunggu dan ia segera pergi meninggalkan upah, terus pulang ke rumahnya dan tidak kembali. Maka saya pergunakan upah itu sehingga bertambah dan berbuah menjadi kekayaan. Setelah beberapa waktu lamanya buruh itu pun datang dan berkata,’Wahai Abdullah berilah kepadaku upahku dahulu itu?’ Saya menjawab,’Semua kekayaan yang didepanmu itu adalah dari upahmu yang berupa onta, lembu dan kambing serta budak penggembalanya itu.’ Orang itu berkata,’Wahai Abdullah kau jangan mengejekku.’ Saya menjawab,’Saya tidak mengejekmu.’ Lalu diambilnya semua yang disebut itu dan tidak meninggalkan satu pun daripadanya. Wahai Allah jika saya melakukan itu semua karena mengharapkan keredhoan-Mu maka hindarilah kami dari kesempitan ini. Tiba-tiba batu itu pun bergeser hingga mereka dapat keluar darinya dengan selamat.” (HR. Bukhori Muslim)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa kisah diatas merupakan contoh berdoa dengan perantara amal-amal shaleh. Setiap mereka menyebutkan suatu amal besar yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah karena amal tersebut diantara perbuatan-perbuatan yang dicintai dan disenangi oleh Allah swt dengan harapan mendapat pengabulan-Nya. Ada yang berdoa dengan menyebutkan perbuatan baiknya kepada kedua orang tuanya, ada yang berdoa dengan menyebutkan sifat iffahnya dan ada yang berdoa dengan menyebutkan sifat amanah dan ihsannya.

Karena itulah Ibnu Mas’ud mengatakan di waktu sahur,”Wahai Allah Engkau telah memerintahkanku maka aku menaati-Mu dan Engkau telah menyeruku maka aku pun menyambut-Mu. Dan (dengan) sahur ini maka ampunkanlah (dosa) ku.”

Hadits Ibnu Umar yang mengatakan di bukit Shafa,”Wahai Allah sesungguhnya Engkau pernah mengatakan dan perkataan-Mu adalah benar,”Berdoalah kepada-Ku (maka) Aku kabulkan (doa) mu.’ Dan sesungguhnya Engkau tidaklah menyalahi janji.” Kemudian dia menyebutkan doa yang ma’ruf dari Ibnu Umar… (Majmu al Fatawa

Dan tidak ada pelarangan terhadap seseorang untuk meminta kepada Allah swt berbagai permintaan yang dikehendakinya baik terkait dengan urusan-urusan dunia maupun akherat melalui berdoa dengan perantara suatu amal shaleh yang paling afdhal yang pernah dilakukannya. Firman Allah swt :


رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنزَلَتْ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ

Artinya : “Ya Tuhan kami, kami Telah beriman kepada apa yang Telah Engkau turunkan dan Telah kami ikuti rasul, Karena itu masukanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah)". (QS. Al Imron : 53)

رَّبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي$! لِلإِيمَانِ أَنْ آمِنُواْ بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأبْرَارِ ﴿١٩٣﴾
رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلاَ تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ الْمِيعَادَ ﴿١٩٤﴾

Artinya : “Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami mendengar (seruan) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "Berimanlah kamu kepada Tuhanmu", Maka kamipun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dosa-dosa kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang banyak berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang Telah Engkau janjikan kepada kami dengan perantaraan rasul-rasul Engkau. dan janganlah Engkau hinakan kami di hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji." (QS. Al Imron : 193 – 194)
Wallahu A’lam

Sekali Kata Terucap...

google.com
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Sekali kata terucap, maka kita harus bertanggung-jawab. Ia bisa menjadi asbab rahmat, bisa pula dekatkan kita pada azab. Ingat sejenak:


"وَ إِنَّ العَبْدَ لَيَتكلَّمُ بالكَلِمَةِ مِنْ سُخْطِ اللهِ لا يُلْقي لَهَا بالاً يَهوى بها فى جَهَنَّمَ" 

“Sungguh seseorang mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemurkaan Allah, namun dia menganggapnya ringan, karenanya dia dilemparkan ke dalam api neraka." (HR. Bukhari).


Maka, berhati-hatilah atas kata yang terucap. Sesungguhnya agama ini telah mengangkat derajat manusia dari kehinaan ilusi diri sendiri atau sugesti yang merendahkan harkat manusia.

Cari olehmu pertolongan Allah Ta'ala dengan melakukan ketaatan kepada-Nya. Mintalah pertolongan kepada Allah Ta'ala sesuai petunjuk-Nya. Berhati-hatilah engkau dari menciptakan syari'at baru. Engkau ada-adakan cara atas nama sugesti, padahal ia berada di wilayah syari'at. Takutlah kepada Allah Ta'ala kalau-kalau kerusakan yang engkau perbuat dalam agama ini (fitnatud dien) ini dipersangkakan sebagai sunnah. Khawatirilah olehmu jika manusia merasa rancu antara kebaikan dan keburukan bersebab ucapanmu yang mengabaikan tuntunan dien.

Berbuat kebajikan kepada kedua orangtua (birrul walidain) merupakan perintah agama. Lakukanlah dengan perhatikan tuntunan agama ini. Jangan pula tertipu oleh ilusimu. Mengira birrul walidain, padahal engkau berbuat sesuatu kepada orangtuamu karena kejar sesuatu. Dan jangan tertipu oleh angan-anganmu. Mengira sedang melakukan kebajikan di hadapan Allah Ta'ala, padahal justru merupakan keburukan. Berhati-hati pulalah engkau dari melakukan perkara yang mungkin menyenangkan hatinya di dunia, tapi ia jadi permusuhan nyata di akhirat.

Jika ibumu sakit keras, lalu engkau cucikan kakinya karena kotor, maka ia kebaikan bagimu. Tapi jika engkau cuci kakinya untuk engkau minum airnya disebabkan menginginkan datangnya jodoh dengan segera, maka engkau telah jatuhkan dirimu pada beberapa keburukan besar. Tidak melakukan keburukan ini kecuali mereka yang telah rusak akal sehatnya; rusak pula tauhid uluhiyah dalam dirinya.

Perhatikan itu!


Ada dua keburukan (fitnah) yang kita harus berusaha menghindari. Sungguh, ini jalan kebinasaan bagi iman kita. Ia merusak iman kita. Renungilah:


"إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ" 

"Sesungguhnya di antara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti nafsu pada perut kamu dan pada kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan." (HR. Ahmad).


Inilah dua kerusakan yang Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam khawatirkan menimpa kita: fitnah syahwat dan fitnah syubhat. Fitnah syahwat terjadi karena orang memperturutkan hasrat kepada dunia. Ia gunakan cara apa saja demi meraih dunia yang jadi syahwatnya. Dan fitnah syahwat ini akan lebih merusak manakala manusia tidak merasa takut terjatuh pada kemungkaran dan kefasikan dengan dengan apa yang diucapkannya, sehingga ia ringan hati menyampaikan ajaran yang tak pernah terdengar pada generasi sebelumnya. Bersebab syahwat untuk populer atau merebut dunia, seseorang dapat terjatuh pada keburukan berikutnya, yakni penyebab fitnah syubhat.

Renungi sejenak sabda Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam tentang ucapan yang asing. Semoga kita tak terpukau olehnya, lalu mengikutinya.


سَيَكُوْنُ فِـيْ آخِرِ أُمَّتِيْ أُنَاسٌ يُحَدِّثُوْنَكُمْ مَـا لَـمْ تَسْمَعُوْا أَنْتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ ، فَإِيَّاكُمْ وَإِيَّاهُمْ

“Pada akhir zaman akan ada kaum yang berbicara kepada kalian dengan sesuatu yang tidak pernah kalian dengar dan tidak pula pernah didengar nenek moyang kalian. Maka hati-hatilah terhadap mereka.” (HR. Muslim, Ibnu Hibban & Al-Hakim). 

Nah.

*)  Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku0buku Parentiing. Twitter @kupinang

Renungan Kecil untuk Pembicara

Mohammad Fauzil Adhim
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim


Di antara godaan seorang pembicara adalah, mengabaikan acara yang kecil karena mengharap atau mendahulukan acara yang lebih besar. Mengesampingkan acara di kampung karena berharap acara yang dapat ditulis di curriculum vitae. Padahal Allah Ta'ala yang berikan pahala. Bukan panitia.

Maka, ketika ada yang ingin belajar public speaking (dan saya pernah memberikan trainingnya, menyusun modulnya, meski sekarang banyak meninggalkan teknik-teknik public speaking), yang ingin saya ketahui adalah kesungguhannya mendahulukan yang lebih berhak daripada yang lebih "memihak". Ini merupakan tantangan yang tak berkesudahan hingga ajal menjemput. Begitu pun dengan saya.

Do'akan saudaramu yang lemah iman ini agar mampu berjalan dengan menetapi petunjuk. Do'akan semoga kelak husnul khatimah.

*)  Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku0buku Parentiing. Twitter @kupinang

Syirik Tanpa Terasa

www.google.com

Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Sesungguhnya apa yang menggerakkan hatimu dan menjadi keyakinanmu, itulah yang menjadi penilai amalmu. Sebagian manusia merasa aman dari meyakini apa yang datangnya dari aqidah berbeda (aqidah selain Islam) dengan berkata “Bukankah jika Allah Ta’ala tidak menghendaki, maka tidak akan terjadi?” Maka mereka mengamalkan ajaran law of attraction, mempersekutukan Allah Ta’ala dengan alam semesta ini sehingga tatkala terjadi apa yang mereka jadikan sebagai keinginan kuat, atau mendekati dengan apa yang mereka ingini dengan kuat, mereka pun berkata “semesta mendukung”. Tanpa sadar mereka mengimani bahwa semesta ini –yang kemudian ditulis Semesta dengan S besar—memiliki kehendak. Penulisan semesta dengan S besar yang dilakukan secara sengaja, sebenarnya telah menjatuhkan seseorang pada rusaknya aqidah. Jika seorang mukmin harus mengimani laa haula wa quwwata illa biLlah, maka mereka yang menuhankan semesta dengan meyakini bahwa semesta berkehendak atau semesta memantulkan getaran keinginan kuat kita, sungguh telah beriman –mereka sadari atau tidak—bahwa sesungguhnya daya dan upaya itu ada pada kuasa alam. Keyakinan ini menjatuhkan seseorang pada kekufuran. Adapun yang meyakini bahwa semesta dapat mendukung; semesta memiliki daya upaya dan pada saat yang sama mereka mengatakan “dengan kehendak Allah” atau berkata “atas kehendak alam yang telah memantulkan getaran tekad kita dan dengan izin Allah” atau berkata “dengan kekuatan alam yang berlaku atas izin Allah Ta’ala”, maka ini mengantarkan seseorang pada kesyirikan.

Khawatirilah olehmu syirik yang pelakunya tetap memiliki kecintaan kepada Allah Ta’ala sebesar kecintaannya kepada yang selainnya. Bentuknya bisa berubah ketundukan pada sebagian ayat-ayat Allah dan pada saat yang sama meyakini sekaligus mengamalkan aqidah yang sesungguhnya bertentangan dengan aqidah lurus seorang mukmin.

Ingatlah ketika Allah Ta’ala berfirman:
ومن الناس من يتخذ من دون الله أندادا يحبونهم كحب الله والذين آمنوا أشد حبا لله ولو يرى الذين ظلموا إذ يرون العذاب أن القوة لله جميعا وأن الله شديد العذاب

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al-Baqarah, 2: 165).

Sebagian di antara orang-orang ini menghubungkan dengan hadis, tetapi terlepas dari konteksnya. Ada yang berbuat demikian karena tidak tahu, tetapi ada juga yang sengaja melakukannya dan menutup diri dari kemungkinan salah. Mereka berhujjah bahwa apa yang ditulis & dikatakannya telah berpijak pada kepustakaan yang berbobot sehingga kecil sekali kemungkinan salah.
Sungguh, sangat berbeda antara ‘alim dengan yang mengesankan diri sebagai ‘alim besar. Para ‘ulama sering merasa khawatir keliru dalam berpendapat. Rasa khawatir itu bukan karena minder, tetapi terutama karena menyadari amat terbatasnya ilmu di hadapan Yang Maha Kuasa serta amat besarnya pertanggung-jawab jika mengeluarkan pendapat yang bathil.

Rasanya, kita perlu mengingat kembali firman Allah ‘Azza wa Jalla seraya memohon kekuatan petunjuk-Nya:
ومن الناس من يعجبك قوله في الحياة الدنيا ويشهد الله على ما في قلبه وهو ألد الخصام

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.” (QS. Al-Baqarah, 2: 204).

Semoga Allah Ta’ala menolong kita dan menjaga iman kita. Dan semoga tidaklah kita mati kecuali dalam keadaan bertakwa kepada-Nya. Allahumma amin.

*) Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku-buku Parenting. Twitter @kupinang

Tepuk Tangan Kok Dikomando

www.google.com


Sesuatu yang alamiah itu lebih memiliki kekuatan dibandingkan dengan sesuatu yang dilakukan karena perintah. Tadi malam saya menonton debat antar calon presiden dan wakil presiden. Saat melihat penampilan moderator saya langsung membuat tweet usulan kepada Komisi Pemilihan umum (KPU) agar moderator diganti pada debat selanjutnya.
Ternyata tweet saya itu diaminkan oleh ratusan follower saya. Nama-nama yang diusulkan sebagai pengganti adalah Andi F Noya dan Najwa Shihab. Sebagian ada yang latah mencalonkan saya karena keberhasilan saya membawa gerbong Akademi Trainer. Namun, tentunya untuk urusan moderator saya kalah kelas dibandingkan dua nama yang saya sebut tadi.
Sebuah acara debat tentu lebih seru membiarkan audience memberikan apresiasi berupa tepuk tangan saat peserta debat (kandidat presiden dan wakil presiden) mengeluarkan pernyataan yang berkelas. Selain suasana ruangan menjadi hangat dan alami, saya yakin energi sang kandidat juga semakin menggelora untuk mengeluarkan gagasan-gagasannya. Sayang, pada acara debat tadi malam, tepuk tangan hanya diperbolehkan setelah mendapat komando dari moderator.
Apakah audience tak boleh diberi komando tepuk tangan? Tentu boleh, terutama setelah jeda iklan dan hendak memasuki segmen berikutnya. Tetapi saat acara sudah berlangsung dimana acara sudah disaksikan oleh jutaan pasang mata, tentu lebih afdhol bila tepuk tangannya alami dan tak perlu dikomando. Sesuatu yang alami jauh lebih berenergi.
Sang moderator juga boleh meminta audience bertepuk tangan apabila suasana ruangan hening, kaku dan kurang berenergi. Tetapi suasana debat tadi malam itu menurut saya seru dan antar pendukung bisa saling menjaga ketertiban. Jadi biarkanlah mereka tepuk tangan secara alami, tanpa perlu dilarang dan juga tanpa perlu dikomando. Bila tepuk tangan sudah melewati batas, moderator tentu boleh mengeluarkan larangan.
Walau debat capres dan cawapres tadi malam adalah acara resmi kenegaraan, saya yakin suasananya akan lebih menarik dan seru apabila ada sentuhan entertain dari moderator. Dan boleh jadi ide, gagasan dan jawaban yang segar serta brilian akan lebih banyak keluar dari pikiran dan hati kandidat bila suasananya lebih berenergi dan alami.
Acara debat, seminar atau training selain ditentukan oleh desain acara, keberhasilannya juga ditentukan oleh content (isi materi) penyaji, delivery berkelas dari penyaji dan juga entertain bermutu yang dikemas menjadi satu kesatuan utuh. Sayang, di acara debat capres dan cawapres tadi malam, saya tidak melihat perpaduan itu karena peran moderator yang kaku. Setuju?
Salam SuksesMulia!
Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini

Orang yang Bangkrut

www.osolihin.net

Oleh O. Solihin

Dalam sebuah riwayat, bahwa Nabi saw., bertanya kepada para sahabatnya: “Tahukah kalian tentang orang yang bangkrut?” Mereka menjawab: Wahai Rasulullah, mereka dalam pandangan kami adalah orang yang tak punya satu dirham pun dan tak punya barang atau harta. Rasulullah saw., bersabda: “al-Muflis atau orang yang bangkrut itu bukan demikian, melainkan orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa (pahala amal) kebaikannya sebesar gunung. Namun, ia datang, sedangkan pernah menganiaya, menempeleng orang, dan melanggar kehormatan (memperkosa dsb.). Lalu pihak-pihak yang dizalimi ini mengambil seluruh kebaikannya (untuk menutupi dosa-dosa keburukan mereka), maka ia akan mengambil (dosa-dosa) keburukan mereka (yang telah didzaliminya) untuk ditanggungnya. Lalu ia benar-benar dihantam dengan keras ke neraka.” (dalam kitab Syakhshiyyah Islamiyyah juz II/294, karya an-Nabhani)

Kedzaliman yang tengah berlangsung sangat beragam jenisnya, tapi intinya sama; merebut atau menganiaya hak-hak orang lain. Penganiayaan itu bisa berupa caci maki, cubitan, tipuan, ghibah, membunuh, dan segala gangguan terhadap badan atau kekayaan atau kehormatan dan sebagainya. Dan kejadian akhir-akhir ini telah cukup memberikan gambaran, betapa rusaknya kondisi masyarakat kita yang saling mendzlimi satu sama lain. Bagi sebagian orang, melenyapkan nyawa orang lain merupakan perkara mudah demi kepentingan eksistensi hidupnya. Mengambil harta yang bukan haknya juga bukan soal sulit, merebut kebahagian orang lain, adalah sesuatu yang gampang. Maka secara nyata bisa kita saksikan sendiri bahwa para pejabat yang tak bertanggung jawab dengan leluasa bisa mendikte rakyat. Kasus-kasus terdahulu di jaman orba adalah sebagai bukti suburnya kedzaliman dan semua orang sepakat bahwa kedzaliman merupakan produk orba. Meski sebenarnya, sekarang ini juga tetap kita saksikan berbagai kedzaliman yang tentu saja efeknya merugikan sebagian masyarakat. Perampasan tanah, penggusuran tempat tinggal, saling jegal dalam urusan politik, mengekang seseorang untuk menyuarakan kebenaran, membiarkan rakyat sengsara dan lain sebagainya kerap menghiasi kehidupan di jaman tersebut.

Tentu saja, kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan terhadap manusia harus segera dimintakan maafnya. Mumpung masih hidup dan untuk memperingan siksa di akhirat nanti. Abu Hurairah r.a. berkata: “Bersabda Nabi saw.,: “Siapa yang merasa pernah berbuat aniaya kepada saudaranya, baik berupa kehormatan badan atau harta atau lain-lainnya, hendaknya segera meminta halal (maaf)nya sekarang juga sebelum datang suatu hari yang tiada harta dan dinar atau dirham, jika ia punya amal shalih, maka akan diambil menurut penganiayaannya, dan jika tidak mempunyai hasanat (kebaikan), maka diambilkan dari kejahatan orang yang dianiaya untuk ditanggungkan kepadanya.” (HR Bukhori, Muslim dalam Tarjamah Riadhus Shalihin jilid I, hal. 225, bab Haram berlaku dhalim)

Kita bisa membayangkan para penguasa yang telah mendzalimi rakyatnya, bila mereka tidak segera meminta maaf kepada orang yang telah mereka dzalimi, akan benar-benar menjadi bangkrut di akhirat nanti, meski sekarang hidup serba kecukupan, aman dan tentram. Dalang dan pelaku berbagai kerusuhan yang akhir-akhir ini terjadi, akan menjadi pesakitan dan benar-benar bangkrut di hari kiamat nanti. Para pembunuh dan perampas hak orang akan menjadi tekor setekor-tekornya di akhirat, karena seluruh amal kebaikan yang dimilikinya bakal dirampas dan diganti dengan kejahatan yang dimiliki orang-orang yang telah didzaliminya. Hingga ia tak mempunyai amalan baik untuk bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Allah nanti, bila tak segera meminta maaf kepada orang yang telah didzaliminya.
Jadi sebenarnya orang yang bangkrut secara hakiki itu bukanlah orang yang tak memiliki harta sepeser pun, tetapi orang yang telah menganiaya orang lain dan tak segera meminta maaf. Di masa Rasulullah dan Khulafa Ar Rasyiddiin (Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Usman bin Afan, dan Ali bin Abi Thalib) selalu menindak tegas dalam memberikan sanksi terhadap para pelaku kejahatan. Perampok jalanan, misalnya, sebagai balasannya oleh negara akan dihukum dengan dipotong tangan dan kaki mereka secara bersebrangan (dipotong tangan kanan dengan kaki kiri atau kaki kanan dengan tangan kiri), bila itu disertai dengan pembunuhan, balasan yang bakal diterima adalah disalib (Abdurahman al-Maliki dalam Nizhaam al-’Uquubat). Dan itu merupakan sanksi yang sekaligus memberikan taubat kepada pelaku tersebut.

Sayang, saat ini ketika syariat Islam tidak diterapkan untuk mengatur kehidupan manusia tindak kedzaliman sulit dibendung dan tentu saja hanya akan menghasilkan orang-orang yang bangkrut secara hakiki, meski saat ini mereka yang telah berbuat dzalim tengah menikmati kehidupan dunia dengan penuh kesenangan dan suka cita. Namun ingat, itu hanya sesaat, karena selanjutnya, di akhirat kelak ia bakal menderita kebangkrutan yang sebangkrut-bangkrutnya. Naudzu billah min dzalik!
Salam,

*) O. Solihin, Penulis Buku, Trainer. Tinggal di Bogor Jawa Barat
Twitter @osolihin

Bahkan Shalat Pun Layak Diistighfari

www.republika.co.id

Oleh Yurisa Nurhidayati

Usai mengucapkan salam sebagai penutup shalat, kita beristighfar. Ya, bahkan shalat kita pun sangat perlu di-istighfar-i! Maka apalagi perilaku kita di luar shalat?

Shalat kita pantas diistighfari. Karena entah berapa persen kesadaran kita benar-benar berbicara pada Allah. Kita benci dengan orang yang senang memberi pujian palsu, padahal diri kita pun memuji Allah hanya basah di lisan. Hati entah kemana. Takbir kita palsu, alfatihah kita palsu, rukuk, sujud, tasbih, dan shalawat kita pun palsu. Doa kita pun mungkin palsu. Sudah berapa tahun kita shalat, dan sejauh mana prestasi khusyu' kita di hadapan Allah? :'(

Saya jadi teringat, suatu ketika seorang jamaah kajian bertanya pada ustadz Syatori Abdurrouf, "Ustadz, ketika kita merasa shalat (wajib) kita tidak khusyu', apakah dengan memperbanyak shalat sunnah membuat kekurangan shalat wajib kita tertutupi?"

Dan jawaban ustadz yang tak kusangka-sangka, hanya singkat saja (btw saya karang redaksinya, tapi intinya seperti ini):
"Mari renungkan, jika dalam shalat saja kita tidak khusyu' mengingat Allah, maka apalagi saat kita berada di luar shalat? Perbanyak mengingat Allah di luar shalat, maka dalam shalat kita akan lebih nikmat mengingat Allah"

Ah, tamparan keras untukku....
Bismillah, ayo perbaiki lagi kualitas shalat kita...

*) Yurisa Nurhidayati, Alumni Psikologi UGM dan Pesantren Daarus Shalihat Yogyakarta. Tinggal di Padang. Twitter @unirisa