» » Kajian Utama : Ramadhan di Sekolah: Meriah Saja Tidak Cukup!

Kajian Utama : Ramadhan di Sekolah: Meriah Saja Tidak Cukup!

Penulis By on Sunday, June 1, 2014 | No comments

doc/thorif
Oleh Irwan Nuryana Kurniawan

Sepertinya ada yang perlu dievaluasi dan diperbaiki secara berkelanjutan terkait segala kegiatan yang selama ini sudah diusahakan dan dilakukan pihak sekolah menyambut puasa di bulan Ramadhan. Alhamdulillah, kemeriahan dan antusiasme guru, siswa, dan komite sekolah dalam menyambut dan menjalani hari-hari puasa selama bulan Ramadhan sangat terasa di sekolah. Berbagai kegiatan dirancang dan diselenggarakan pihak sekolah agar para siswa mendapatkan pengalaman keberagamaan yang positif dan maksimal selama bulan Ramadhan.

Hanya saja, jika dikaitkan dengan tujuan akhir disyariatkannya puasa kepada orang-orang yang beriman, yaitu ketakwaan—tentu saja dengan kesadaran penuh bahwa mereka masih anak-anak dan meraih ketakwaan merupakan proses perbaikan diri secara berkelanjutan menjadi Ibâd al-Rahmân—maka kemeriahan dan antusiasme siswa dalam menyambut dan menjalani hari-hari puasa selama bulan Ramadhan di sekolah belumlah cukup. Belum cukup membantu anak-anak kita, misalnya, bersikap dan berperilaku sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam,”Puasa adalah perisai (dari siksa api neraka). Bilamana salah seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah ia bertutur kata yang tidak baik atau berkata tidak senonoh. Jika ada seseorang memeranginya dan memancing amarahnya, hendaklah ia berkata,’Aku sedang berpuasa.” (HR Bukhari dan Muslim).

Artinya perlu ada semacam perbaikan mendasar sehingga muncul kesadaran dan keyakinan yang sangat kuat dari diri setiap siswa, dalam diri anak-anak kita bahwa puasa mereka menjadi tidak bernilai sama sekali di sisi Allah Ta’ala (baca: tidak berpahala) jika tidak disertai dengan akhlak mulia. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam,“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan masih saja mengerjakannya (sewaktu berpuasa), maka Allah sama sekali tidak menginginkan (menerima) sikap menahan makan dan minum (puasa) dari hamba tersebut.”(HR Bukhari).

Perbaikan mendasar yang bisa dilakukan pihak sekolah—tentu saja akan lebih baik jika pihak orangtua juga melakukannya—dimulai dari penguatan pemahaman dan keyakinan dalam pribadi setiap siswa, setiap anak tentang pentingnya konsep niat. Secara sistemik, setiap guru membiasakan menanyakan dan mengingatkan semua siswa setiap kali akan memulai sebuah kegiatan, misalnya,”Anak-anak, ayo, siapa yang tahu, supaya yang akan kita lakukan sekarang disukai oleh Allah Ta’ala, supaya berpahala, apa yang sebaiknya kita lakukan?” Ketika proses seperti ini diulang terus menerus setiap akan melakukan sebuah kegiatan, oleh setiap guru, pada semua mata pelajaran dan pada semua jam pelajaran, maka insya Allah akan muncul kesadaran dan keyakinan yang kuat dalam diri setiap pribadi siswa bahwa niat itu penting. Bahwa berharga tidaknya, penting tidaknya setiap pilihan kegiatan yang mereka lakukan sangat ditentukan oleh apakah mereka melakukannya semata-mata hanya untuk mendapatkan cinta dan ridha Allah Ta’ala atau bukan, lillahi ta’ala atau bukan.

Perbaikan mendasar selanjutnya adalah secara sistemik sekolah dan guru senantiasa menghubungkan setiap pengalaman belajar yang dialami oleh setiap siswa, termasuk di dalamnya pengalaman keberagamaan shalat dan berpuasa di bulan Ramadhan, dengan akhlak mulia. Sebagaimana sabda Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam, “Aku hanya merima shalat dari orang yang dengannya ia tawaduk pada keagungan-ku, tidak menyakiti mahluk-Ku, berhenti bermaksiat pada-Ku, melewati siangnya dengan dzikir pada-Ku, serta mengasihi orang fakir, orang yang sedang berjuang di jalan-Ku, para janda, dan orang yang ditimpa musibah.”(HR Al-Zubaidi). Jika hal semacam ini setiap hari  dipaparkan dan dialami oleh setiap siswa, maka akan muncul dalam pikiran dan keyakinan mereka adanya hubungan yang sangat erat antara setiap ibadah yang disyariatkan dan akhlak mulia yang menyertainya. Tidak ada shalat jika shalatnya tidak mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar! Tidak bernilai puasanya di sisi Allah jika masih suka berdusta.

*) Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi., Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya