» » Tepuk Tangan Kok Dikomando

Tepuk Tangan Kok Dikomando

Penulis By on Saturday, June 14, 2014 | No comments

www.google.com


Sesuatu yang alamiah itu lebih memiliki kekuatan dibandingkan dengan sesuatu yang dilakukan karena perintah. Tadi malam saya menonton debat antar calon presiden dan wakil presiden. Saat melihat penampilan moderator saya langsung membuat tweet usulan kepada Komisi Pemilihan umum (KPU) agar moderator diganti pada debat selanjutnya.
Ternyata tweet saya itu diaminkan oleh ratusan follower saya. Nama-nama yang diusulkan sebagai pengganti adalah Andi F Noya dan Najwa Shihab. Sebagian ada yang latah mencalonkan saya karena keberhasilan saya membawa gerbong Akademi Trainer. Namun, tentunya untuk urusan moderator saya kalah kelas dibandingkan dua nama yang saya sebut tadi.
Sebuah acara debat tentu lebih seru membiarkan audience memberikan apresiasi berupa tepuk tangan saat peserta debat (kandidat presiden dan wakil presiden) mengeluarkan pernyataan yang berkelas. Selain suasana ruangan menjadi hangat dan alami, saya yakin energi sang kandidat juga semakin menggelora untuk mengeluarkan gagasan-gagasannya. Sayang, pada acara debat tadi malam, tepuk tangan hanya diperbolehkan setelah mendapat komando dari moderator.
Apakah audience tak boleh diberi komando tepuk tangan? Tentu boleh, terutama setelah jeda iklan dan hendak memasuki segmen berikutnya. Tetapi saat acara sudah berlangsung dimana acara sudah disaksikan oleh jutaan pasang mata, tentu lebih afdhol bila tepuk tangannya alami dan tak perlu dikomando. Sesuatu yang alami jauh lebih berenergi.
Sang moderator juga boleh meminta audience bertepuk tangan apabila suasana ruangan hening, kaku dan kurang berenergi. Tetapi suasana debat tadi malam itu menurut saya seru dan antar pendukung bisa saling menjaga ketertiban. Jadi biarkanlah mereka tepuk tangan secara alami, tanpa perlu dilarang dan juga tanpa perlu dikomando. Bila tepuk tangan sudah melewati batas, moderator tentu boleh mengeluarkan larangan.
Walau debat capres dan cawapres tadi malam adalah acara resmi kenegaraan, saya yakin suasananya akan lebih menarik dan seru apabila ada sentuhan entertain dari moderator. Dan boleh jadi ide, gagasan dan jawaban yang segar serta brilian akan lebih banyak keluar dari pikiran dan hati kandidat bila suasananya lebih berenergi dan alami.
Acara debat, seminar atau training selain ditentukan oleh desain acara, keberhasilannya juga ditentukan oleh content (isi materi) penyaji, delivery berkelas dari penyaji dan juga entertain bermutu yang dikemas menjadi satu kesatuan utuh. Sayang, di acara debat capres dan cawapres tadi malam, saya tidak melihat perpaduan itu karena peran moderator yang kaku. Setuju?
Salam SuksesMulia!
Ingin ngobrol dengan saya? Follow saya di twitter: @jamilazzaini
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya