Perilaku Ramah Lingkungan


foto google.com
Oleh Irwan Nuryana Kurniawan

Pemanasan global, semakin banyaknya binatang yang punah, pengrusakan hutan besar-besaran dan berkurangnya sumberdaya alam merupakan sebagian tanda-tanda yang menunjukkan kepada kita bahwa lingkungan alam di planet bumi kita berada dalam kondisi membahayakan. Akibat-akibat yang ditimbulkan oleh permasalahan-permasalahan lingkungan sangat besar dan luas, mulai dari masalah-masalah kesehatan sampai pada keberlangsungan keberadaan planet bumi.

Permasalahan-permasalahan lingkungan menjadi topik yang ramai dibicarakan oleh kalangan politisi, para ilmuwan, para pemimpin agama, para pesohor media, para ahli pemasaran, sampai orang-orang awam. Dorongan untuk semakin melakukan banyak hal untuk melindungi alam dan lingkungan bermunculan setiap hari dalam kehidupan kita sehari-hari—mulai dari makanan yang kita konsumsi, dan barang-barang yang kita gunakan di rumah sampai pada sumber-sumber energi dan transportasi yang kita pakai. Ruang lingkup keprihatinan terhadap kondisi lingkungan di planet bumi melampaui batas-batas Negara (Environmental Protection Agency, 2010).

Jika permasalahan-permasalahan lingkungan tersebut tidak segera ditangani dengan tepat, maka keberlanjutan lingkungan “environmental sustainability” menjadi terancam. Perlu dimunculkan kesadaran besar-besaran dari semua penghuni planet bumi akan kebutuhan mendesak untuk menggunakan sumber daya-sumber daya bumi dalam cara-cara yang bisa diterima dan memungkinkan manusia dan mahluk lainnya (binatang dan tumbuhan) melanjutkan kehidupannya di bumi di masa yang akan datang (Oskamp, 2000).

Ini artinya cara-cara manusia menjalani dan menjalankan kehidupannya sangat berpengaruh terhadap masa depan planet bumi. Para peneliti menemukan bahwa permasalahan-permasalahan lingkungan yang paling serius—ledakan penduduk, pemanasan global, limbah beracun, dan pengunaan lingkungan pertanian dan lautan secara berlebihan—bukan semata masalah ilmu pengetahuan dan teknologi tapi juga perilaku setiap individu. Oleh karena itu, penyelesaian masalah lingkungan harus mempertimbangkan peran setiap individu dan bagaimana mengubah setiap individu mengembangkan perilaku yang lebih ramah terhadap lingkungan.

Bagaimana kita memandang lingkungan berpotensi mempengaruhi usaha-usaha keberlanjutan lingkungan—mulai dari seberapa yakin kita mampu memperhitungkan pengaruh-pengaruh positif maupun negatif lingkungan sampai dengan kesalahan berpikir yang mengarah penilaian yang tidak akurat tentang penggunaan sumber daya alam. Cara kita memandang bahaya-bahaya lingkungan kemungkinan besar mempengaruhi akan kita akan berperilaku dalam cara-cara yang ramah atau tidak terhadap lingkungan. Ini berarti kita perlu mempertimbangkan faktor-faktor psikologis yang mendorong setiap individu terlibat dalam perilaku-perilaku yang mendukung usaha-usaha keberlanjutan lingkungan atau paling tidak memperkecil perilaku-perilaku yang berdampak merusak terhadap lingkungan.

Islam sebagai sebuah “way of life” melarang pemeluknya berbuat kerusakan di muka bumi (QS. Al Baqarah (2):11; QS. Al-‘Araf (7): 56,74; QS As-Syu’ara (26): 130,183), merusak tanam-tanaman dan ternak (QS. Al Baqarah (2):205), dan menyebut mereka yang melakukan kerusakan di muka bumi sebagai orang-orang yang merugi (QS. Al Baqarah (2):27) dan melakukan kejahatan di bumi (QS. Al Baqarah (2): 60; QS. Hud (11):25). Islam menekankan bahwa Allah Ta’ala sangat tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan (QS. Al Qashash (28):83), mengingatkan bahwa Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan (QS. Ali ‘Imran (3):63), dan meminta kita memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan (QS. Al ‘Araf (7):86, 103; QS. An Naml (27): 14), kehinaan di dunia dan adzab yang besar di akhirat (QS. Al Maidah (5):33), memperoleh kutukan dan tempat kediaman yang buruk (Jahanam) (QS. Ar Ra’d (13):25).

*) Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi. Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia

Generasi Meninggalkan Shalat & Mengikuti Syahwat



foto by google.com
Oleh H. R. Bagus Priyo Sembodo

Ada keluarga baik dan pilihan. Mereka  adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Allah beri petunjuk dan telah Allah pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah

Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.
Kemudian datanglah sesudah mereka, generasi pengganti yang jelek. Mereka  yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu. Generasi buruk semacam ini kelak akan menemui kesesatan dan kerugian di akherat.

Kecuali orang yang bertaubat, kembali kepada jalan ketaatan. Mereka beriman dan beramal saleh. Maka mereka itu akan masuk surga dalam keadaan tidak dianiaya dan dirugikan sedikitpun.

Generasi yang sudah menyia-nyiakan sholat, maka mereka lebih menyia-nyiakan kewajiban-kewajiban lainnya. Karena shalat itu adalah pilar agama serta sebaik-baik perbuatan hamba.

Allah menyebutkan ciri-ciri keluarga pilihan ini. Mereka mempunyai keyakinan, pengagungan dan kepatuhan yang tinggi terhadap ayat-ayat Allah. Mempunyai penghayatan yang mendalam terhadap pemahaman petunjuk Allah ini. Namun sesudah itu, generasi pengganti yang sama sekali tidak sama. Jangankan seksama memahami pelajaran ayat, bahkan shalatpun mereka tinggalkan. Jangankan memperjuangan hukum ketentuan Allah, bahkan mereka mentaati tuntunan hawa nafsunya.

Betapa menghujamnya peringatan Allah dalam Al-Quran ini. Penuturan tentang keluarga paling shalih yang dikemudian hari terlanjutkan oleh generasi yang meninggalkan amalan paling mendasar dalam keshalihan. Hal ini merupakan kemerosotan yang keterlaluan.

Betapa tragis hal ini. Jika hal ini terjadi pada keluarga pilihan maka sangat cukup alasan kita berkuatir terhadap generasi penerus kita.

Mesti ada tekad dan semangat menyala untuk mengupayakan penanggulangan munculnya generasi bersampah ini.

Pendidikan yang kita miliki seharusnya menjaminkan usaha serius mewujudkan sifat generasi pilihan. Juga menjauhkan dari sifat generasi memalukan dan mengecewakan.

Kewaspadaan terhadap berbagai hal yang merusak. Antara lain kecanduan game pada anak.
Ada banyak hal buruk yang telah diterangkan oleh para cerdik pandai tentang dampak buruk kecanduan game.

Kurang tidur. Banyak anak  mengorbankan waktu berharga mereka untuk tidur dan menggunakannya untuk bermain video game. Kurang tidur maka dapat  membahayakan kesehatannya.
Hidup kotor. Seseorang yang mencandu mulai mengabaikan segala hal terkait kebersihan pribadi. malas mandi hingga penyakit gigi.

Isolasi diri. Ia cenderung mengasingkan diri dari teman dan keluarga. Lebih asyik dengan permainannya.
Ketidakpedualian seseorang terhadap kebersihan pribadi hanyalah awal perpindahan orang itu dari dunia nyata dan menjauh dari kehidupan sosial. Baginya, interaksi dengan tokoh-tokoh hero video game lebih berarti dibandingkan interaksi dengan siapapun.

Orang yang sudah kecanduan video game mudah mengabaikan pekerjaan, sekolah, teman-teman, dan keluarganya. Ia menolak melakukan aktivitas bermanfaat.

Stres. Kegagalan mereka memenangkan level-level pada video game menyebabkannya stres berlebihan.
Makan kurang sehat. Kcanduan membawa jarang mandi, jarang tidur, dan pola makan mereka menjadi tak sehat. beralih ke makanan cepat saji dan memilih memakan makanan beku dan instan. memperbanyak minuman soda dan minuman energy. Sehingga mudah terserang obesitas, diabetes, dan penyakit lain.
Berbohong dan khianat terhadap amanah.  Upaya untuk memenuhi tuntutan syahwat menjadikan mudah berdusta. Kesibukan berlezat dalam syahwat membimbing untuk khianat terhadap amanah yang semestinya ditunaikan.

Itulah sebagian yang tersebutkan. Masih ada banyak lagi yang belum dibeberkan.
Orang tua dan guru perlu memahami hal game ini. Banyak orang tua membiarkan karena menganggap hal ini menyenangkan anak dan meringankan pekerjaan mengasuh. Padahal perlahan mendekati bahaya.

*) H. R. Bagus Priyo Sembodo, Guru Ngaji dan Redaktur Ahli Majalah Fahma

Ketika Anak Berbohong

doc/fahma
Oleh Arif Wicaksono

“Bunda, aku boleh main tidak? Aku sudah selesai mengerjakan PR,” seru Hilma pada sang Bunda.

“Wah…, cepat sekali, memang sudah selesai beneran? Coba Bunda lihat,” jawab sang Bunda dengan lembut.

“Mmmm …, mmm …, belum selesai Bunda. Tapi aku pengen main dulu,” sahut Hilma.

Berbohong bisa terjadi pada usia berapa pun, termasuk anak-anak, terutama sejak anak-anak mengenal konsep kalimat. Namun berbohong mempunyai motivasi berbeda bila dilihat dari usia anak. Untuk anak usia pra-sekolah, berbohong lebih banyak disebabkan kesulitan mereka membedakan mana fantasi dan mana yang bukan fantasi. Sedang anak usia sekolah berbohong dilakukan lebih banyak untuk menghindari tanggungjawab dan konsekuensi.

Orangtua pasti menginginkan anaknya selalu berkata jujur. Karena kejujuran merupakan salah satu karakter baik yang harus dimiliki oleh semua orang termasuk anak-anak. Dengan membiasakan diri untuk selalu berbuat jujur sejak dini, maka nantinya karakter baik ini akan terus terbawa hingga si anak beranjak dewasa.

Anak-anak memang memiliki kecenderungan meniru kita dan orang dewasa yang ada di sekelilingnya. Maka tidak heran jika seorang anak yang sering melihat orangtua dan orang di sekitarnya berbohong, dia akan meniru hal yang sama dan menganggapnya sebagai hal yang wajar. Kalimat seperti, “Dek, nanti kalau Bu Winda datang ngajak pengajian, bilang ibu baru sakit, tidak bisa ikut,” secara tidak langsung memberikan contoh tidak baik bagi anak. Mereka bisa beranggapan bahwa berbohong adalah salah satu cara untuk menghindar dari sesuatu yang tidak diinginkan. Anak butuh role model yang memberikan contoh yang baik dengan disertai tindakan dan perkataan yang baik.

Anak berbohong juga dapat disebabkan karena la mempunyai pengalaman buruk tentang menghadapi kesalahan. Jika anak pemah dipojokkan dan merasa "terhukum" ketika bersalah, anak akan memilih opsi berbohong untuk menghindari hukuman, tanggungjawab atau takut disalahkan. Prinsip orangtua yang hanya memperdulikan hasil tanpa mempertimbangkan proses, pun bisa menyebabkan anak berbohong. Maka sebagai orangtua, kitalah yang harus bisa memahami mereka. Demikian juga dalam menghadapi masalah anak berbohong. Untuk mengatasinya tidak cukup dengan hanya melarang. Perlu pemahaman dan kasih sayang agar upaya orangtua tidak memicu anak semakin gemar berbohong.

Agar berbohong tidak berlarut-larut, apalagi membuat anak dijauhi teman-teman bermainnya, segera temukan cara jitu untuk menghentikan kebiasaan buruk itu.

Tips kala anak berbohong:
ü Jangan memojokkan dirinya. Buat suasana tenang dan santai agar bisa nyaman bercerita.
ü Jangan emosi, kalau kita marah, karena anak akan semakin takut dan menutupi dengan kebohongan.
ü Jangan berikan contoh berbohong ke anak. Misalnya ketika, menerima telepon dan meminta anak mengatakan bahwa kita tak ada di rumah.
ü Jangan bohongi anak. Misalkan, kita berjanji tidak akan marah bila anak kita ngompol asal mengaku. Tapi ternyata kita marah lagi begitu lihat si anak ngompol.
ü Biasakan mencari solusi. Ajak anak untuk membiasakan diri mencari pemecahan masalah melalui diskusi. Tanamkan bahwa kesalahan adalah sesuatu yang wajar. Orangtua juga jangan selalu menindaklanjuti dengan hukuman tetapi terbuka untuk mencari solusi.
ü Konsekuensi bukan hukuman. Orangtua bisa memberikan konsekuensi pada anak. Namun tak selalu berupa hukuman. Bisa dengan membalikkan situasi, bila anak tidak berbohong, beri pujian meski ia telah mengakui kesalahan.

*) Arif Wicaksono, Pendidik, tinggal di Yogya

Kisah Cerdas : Pohon Kurma dan Qishash

www.google.com
Oleh Asnurul Hidayati

Rasulullah memberi Rabi’ah bin Ka’ab sebidang tanah yang bertetangga dengan Abu Bakar. Sekian lama waktu berjalan, Rabi’ah bin Ka’ab pun mengalami perselisihan dengan Abu Bakar atas sebatang pohon kurma.

Aku (Rabi’ah) berkata, “Pohon ini di tanahku.”  Abu Bakar berkata, “Tidak, ia di tanahku.” Namun aku bersikeras, sehingga Abu Bakar mengucapkan kata-kata yang aku tidak menyukainya. Namun begitu kata-kata tersebut terlontar darinya, dia langsung menyesal. Dia berkata, “Wahai Rabi’ah, ucapkan kata-kata yang sama kepadaku sebagai qishash.”

Aku menjawab, “Tidak, demi Allah, aku tidak mengucapkannya.” Abu Bakar berkata, “Kalau kamu tidak mau mengucapkan maka aku akan mengadukanmu kepada Rasulullah karena kamu telah menolak melakukan qishash terhadapku.”

Maka Abu Bakar berangkat kepada Rasulullah dan aku berjalan membuntutinya. Kaumku,  Bani Aslam menyertaiku. Mereka berkata, “Dia yang memulai perkara, namun justru dia yang mengadukanmu kepada Rasulullah.” Aku memandang mereka dan berkata, “Celaka kalian, tahukah kalian siapa dia? Dia adalah Ash-Shiddiq, syaikh kaum muslimin. Pulanglah kalian sebelum dia menengok dan melihat kalian, lalu dia mengira kalian di sini hendak membelaku atasnya, maka dia akan marah! Dia akan datang kepada Rasulullah. Dan nabi pun bisa marah karena kemarahan Abu Bakar. Kalau Nabi marah maka Allah bisa marah, akibatnya Rabi’ah bisa celaka.” Kaumku pun pulang.

Kemudian Abu Bakar datang kepada Nabi, dia menyampaikan apa yang terjadi sebagaimana ia terjadi. Rasulullah memandangku dan berkata, “Ada apa dirimu dengan Ash-Shiddiq, wahai Rabi’ah?”

Aku menjawab, “Ya Rasulullah, dia ingin agar aku mengucapkan apa yang telah dia ucapkan kepadaku, namun aku menolak.”

Nabi bersabda, “Benar, jangan mengucapkan apa yang telah dia ucapkan. Akan tetapi ucapkan, ‘Semoga Allah mengampunimu, wahai Abu Bakar.”

Maka aku pun mengucapkan, ‘Semoga Allah mengampunimu wahai Abu Bakar.’

Maka Abu Bakar pulang dengan bercucuran air mata dan berucap, “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan wahai Rabi’ah bin Ka’ab. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan wahai Rabi’ah bin Ka’ab.”

Referansi : Mereka adalah para sahabat. Sumber  dari kitab asli Shuwaru min Hayatish Shahabah. Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya.

Ajarkan Tanggungjawab pada Anak

doc/fahma
Oleh Zakya Nur Azizah

Rasa tanggungjawab bukanlah sebuah sikap yang timbul begitu saja di dalam diri seseorang. Ada proses yang tidak sebentar untuk menumbuhkan sikap tanggungjawab di dalam diri seseorang. Menanamkan rasa tanggungjawab pada anak bukan suatu hal yang mustahil. Anak-anak yang sejak dini tidak dilatih bertanggungjawab, ketika dewasa nanti besar kemungkinan akan menjadi pribadi yang tidak bertanggungjawab pula. Sebaliknya, anak-anak yang diajarkan dan dilatih untuk memiliki tanggung jawab sejak kecil, di masa mendatang mereka pun akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang bertanggungjawab. Karena itu, sangat penting kiranya kita mulai membiasakan dan melatih anak untuk memiliki sikap tanggungjawab dalam kehidupan sehari-hari, meski masih dalam ruang lingkup yang sempit. Bagaimana caranya?

Memberi kepercayaan pada anak untuk melaksanakan tugas rumah bisa menjadi salah satu cara yang efektif.  Anak-anak bisa diserahkan tugas-tugas yang ringan, sesuai dengan umur dan kemampuannya.  Anak usia balita misalnya, sudah bisa kita ajari untuk bertanggungjawab pada kerapihan mainan-mainannya. Anak yang usianya sudah di atas lima tahun bisa kita serahi tugas membuang sampah, membantu menyapu rumah, atau mencuci piring. Memberinya tugas rumah tangga adalah cara terbaik untuk menumbuhkan tanggungjawab. Hal ini akan sangat bermanfaat baginya di masa mendatang, yakni melatih keterampilan mendasar dalam tugas rumah tangga, jika kelak mereka memiliki rumah tangga sendiri.

Selain itu, berikan pula penguatan positif pada mereka. Anak-anak biasanya mencari penguatan dan pembenaran dari orangtuanya atas apa yang mereka lakukan. Saat mereka berbuat sebuah kebaikan, mereka ingin orangtuanya melihat dan menghargai kerja keras mereka. Untuk itu, tidak ada salahnya orangtua memberikan pujian kepada anak atas prestasi dan usaha keras mereka.
Berikan ia kepercayaan dan dukungan untuk melakukan segala hal. Karena pada dasarnya semuanya mengandung unsur pertanggungjawaban. Dengan demikian, anak akan merasa termotivasi karena ia diberi kesempatan untuk melakukan hal besar walaupun hanya hal yang sepele.  Dengan demikian, anak-anak merasa dihargai, dan berikutnya mereka akan berusaha melakukan yang terbaik lagi.

Salah satu tanggungjawab yang paling penting bagi anak-anak adalah sekolah mereka. Pada dasarnya, sekolah adalah pekerjaan mereka. Nah, manakala mereka berhasil mencapai prestasi-prestasi, tidak ada salahnya kita memberikan penghargaan atau perayaan bagi mereka. Tidak harus selalu berwujud uang atau benda-benda. Anda bisa menuliskan sebuah surat mini berisi kebanggaan Anda terhadapnya. Anak-anak biasanya tersentuh dengan penghargaan-penghargaan sekecil apapun dari orangtua mereka.

Berikan pula penghargaan yang sifatnya cukup dan mengesankan bagi anak. Contohnya pujian yang seperti, “Bagus Nak, kamu melakukannya dengan baik. Ibu bangga padamu,” Perkataan ini meskipun ringan akan tertanam selamanya pada diri anak dan akan memaksanya melakukan kebaikan yang lain. Hal ini lebih baik daripada hadiah mahal yang selanjutnya mungkin akan menjadi target anak, bukan karena rasa tanggungjawab itu sendiri. 


Tentu yang tidak boleh kita lupakan adalah tanggung jawab kita sebagai orangtua, yakni memberikan contoh baik di mata si kecil. “Apakah kita mendorong atau tidak, anak-anak selalu belajar dari contoh,” kata Thomas S. Greenspon, Ph.D. psikolog dan terapis pernikahan dan keluarga. Semua cara tersebut tidak akan berjalan efektif jika tidak ada inisiatif kita sebagai orangtua untuk memberi contoh untuk bertanggungjawab, misalnya tidak membuang sampah sembarangan, tidak mau ikut merapikan rumah dan sebagainya.

*) Zakya Nur Azizah, Pemerhati dunia anak, tinggal di Yogya

Anak Cengeng? Jangan Panik

www.google.com
Oleh Nur Muthmainnah

Menangis merupakan hal yang sangat lumrah terjadi pada anak-anak.  Namun bukan berarti kita lantas menganggap remeh tangisan anak. Jika seorang anak menangis hanya karena hal-hal kecil, seperti tersenggol sedikit atau kaget, mungkin anak tersebut termasuk kategori cengeng. Karena itu, hal yang perlu dilakukan oleh orangtua adalah mencari penyebabnya dan memperbaikinya.

Biasanya anak menjadi cengeng karena tidak memiliki cara lain saat ingin mengungkapkan perasaannya. Untuk itu, penting untuk mengajari anak berbicara sejak dini. Mengajak anak mengobrol adalah salah satu cara untuk memancing agar anak bisa bicara banyak.

Anak menjadi cengeng bisa juga karena ingin menarik perhatian orangtua atau lingkungan sekitarnya. Jika orangtua terlalu memanjakan anak, biasanya anak akan menjadi cengeng. Jika keinginannya tidak terturuti, maka anak akan menangis. Bila sudah begini, orangtua yang memanjakan anaknya akan segera menuruti keinginan anak agar anak berhenti merengek dan menangis. Imbasnya, anak akan menjadikan rengekan dan tangisan sebagai senjata. Hanya dengan merengek atau menangis kecil, ia tahu kalau keinginannya akan segera dituruti.

Mungkin orangtua akan kesal jika anaknya termasuk kategori cengeng. Sebagai orangtua yang bijak, tentu kita tidak akan memukul atau mencubit si kecil. Sebab hal itu justru akan membuat tangisannya semakin kencang. Selain itu, jika orangtua sudah “main tangan”, dikhawatirkan anak akan menirunya, entah kepada teman, guru atau bahkan pada orangtuanya sendiri.
Saat anak mulai menangis, lebih baik orangtua berbicara pada anak. Bicara secara perlahan dan tanyakan apa yang menjadi keinginannya. Orangtua bisa menasehatinya, jika menginginkan sesuatu ia harus mengatakannya, bukan menangis.

Dengan begitu, anak akan mulai berbicara tentang keinginannya. Jika orangtua memang tidak bisa memenuhinya, beri penjelasan dan alasan kuat mengapa keinginannya tidak terpenuhi. Jika orangtua akan memenuhi keinginannya di lain waktu, tentu harus berjanji pada anak. Tapi janji itu harus ditepati. Jika tidak, anak tidak akan percaya lagi pada orangtua.

Saat anak mulai dengan tangisannya, cobalah sesekali untuk pura-pura tidak mendengarnya. Saat tangisannya mulai mereda, dekati si kecil dan tanyakan apa maunya. Dengan begitu, ia akan mengerti bahwa menangis tidak akan membuat keinginannya terpenuhi.

Orangtua juga bisa mencoba untuk mengalihkan perhatian anak. Misalnya saja dengan menunjukkan buku cerita yang bagus dan mengajaknya membaca bersama. Atau mengeluarkan permainan yang seru seperti bermain ular tangga dan lainnya.

Sifat anak cengeng memang tidak bisa hilang sendiri. Meski demikian, anak harus dilatih untuk tidak cengeng. Jika orangtua membiarkannya, ia bisa tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri, tidak mandiri dan selalu merasakan kecemasan.  

Perlu diingat pula, jangan pernah orangtia memberi julukan atau label anak cengeng padanya. Jika orang lain mendengar, otomatis dia pun akan memberi julukan sama pada anak kita. Jika sudah begitu, karena merasa telah diberi cap sebagai anak cengeng, anak akan menjadi lebih sulit untuk diubah perilakunya. Dia akan merasa bahwa dirinya memang anak yang cengeng.

Meski anak cengeng, jangan pernah bosan untuk memberikan ia pujian saat ia melakukan hal yang baik. Termasuk saat ia berusaha menyampaikan keinginannya tanpa menangis. Dengan begitu ia akan belajar dan paham, bahwa untuk menyampaikan keinginannya cukup dengan berbicara, bukan dengan menangis.


Berikan selalu perhatian kita terhadap apapun yang dilakukan si kecil. Jangan hanya memberikan perhatian saat ia menangis. Karena dengan begitu, anak cengeng akan menjadikan tangisan sebagai alat untuk mencari perhatian. Mengatasi anak cengeng memang tidak mudah, kesabaran orangtua adalah kuncinya.

*) Nur Muthmainnah, Ibu rumah tangga, tinggal di Yogya

Menebar Semangat “Hijrah”

doc/fahma
Oleh Umi Faizah

Dari Abdullah bin Amru bin Ash ra, bahwa Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Seorang muslim adalah orang yang menjadikan muslim lainnya merasa selamat dari lisan dan tangan (perbuatannya). Sedangkan muhajir (orang yang hijrah) adalah orang yang meninggalkan segala yang dilarang Allah Ta’ala. (Muttafaqun Alaih).

Semangat perubahan menjadi lebih baik, semestinya menjadi agenda harian bagi setiap muslim, demikian juga pada moment pergantian tahun baru hijriyah. Dalam konteks sekarang ini, pemaknaan hijrah tentu bukan selalu harus identik dengan meninggalkan kampung halaman seperti yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muhajirin. Pemaknaan hijrah lebih kepada nilai-nilai dan semangat berhijrah itu sendiri, karena hijrah dalam arti seperti ini tidak akan pernah berhenti. Dalam  menyongsong tahun baru hijriyah 1434 ini, ada banyak celah yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi anak.

Berbagai  aktivitas yang diselenggarakan dalam  menyongsong tahun baru hijriyah berkembang dengan luas di berbagai belahan dunia, satu hal yang semestinya menjadi semangat hijrah adalah semangat berubah menjadi lebih baik. Seperti halnya dengan teori Kaizen yang diadopsi dari bahasa Jepang. Kai artinya perubahan dan zen artinya baik. Di Cina kaizen bernama gaishan. Gai berarti perubahan/perbaikan dan shan berarti baik/benefit.

Dengan filosofi Kaizen, Jepang menjadi salah satu negara yang diperhitungkan, baik karakter maupun berbagai skill masyarakatnya. Demikian halnya China dengan filosofi gaishan. Bagaimana dengan posisi kita, umat Islam yang sudah memiliki warisan filosofi yang luar biasa, jauh sebelum teori Kaizen dan Gaishan lahir? Mari kita coba merefleksikan gagasan penelusuran menuju semangat hijrah yang sesungguhnya.

Islam sangat memperhatikan pergantian waktu, bahkan Allah Ta’ala bersumpah dalam Alquran dengan menggunakan waktu/masa, sebagaimana tercantum dalam surat 103, al Ashr ayat 1: “wal ‘asri” (Demi masa). Dalam lanjutan ayat tersebut juga difirmankan bahwa sesungguhnya manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan kesabaran. Hal ini menggambarkan bahwa betapa pentingnya arti sebuah waktu/masa dan betapa pentingnya perhatian seseorang akan keberadaan dirinya, adakah ia masih berada dalam kerugian, sudahkah ia menuju perubahan yang lebih baik, yakni menjadi orang yang beriman dan beramal kebajikan serta saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran.

Kita mulai semangat “hijrah” dari diri sendiri, dalam lingkungan keluarga dan diperluas pada masyarakat dan lembaga pendidikan kita. Sebuah gagasan yang mungkin bisa dilakukan di setiap lembaga pendidikan, antara lain: Pertama, seremonial 1 Muharam. Hal ini tetap penting untuk dilakukan dengan harapan ghirah/semangat hijrah menjadi bagian yang dipahami oleh setiap peserta didik. Kedua, mengadakan berbagai lomba persahabatan, dengan semangat ”fastabiqul khairat”  atau berlomba-lomba dalam kebaikan. Lomba yang diselenggarakan dapat dipilih yang memiliki nilai-nilai keagamaan, misalnya: lomba CCA (Cerdas Cermat Agama), lomba pidato, lomba adzan, shalat berjamaah, qira’ah dan nasyid, serta berbagai lomba lainnya. Ketiga, penyelenggaraan bakti sosial kepada anak yatim, baik dengan cara mengunjungi serta memberi santunan pada anak yatim di panti asuhan, maupun dengan cara pemberian santunan anak yatim pada masyarakat terdekat dengan lembaga atau yang ada di lembaganya masing-masing. Keempat, terus lakukan perubahan menjadi lebih baik. Semoga dengan spirit hijrah selalu menuju kualitas yang lebih baik. 

*) Umi Faizah, M.Pd,, Ketua STPI Bina Insan Mulia Yogyakarta

Mengajarkan Anak Berjiwa Besar

doc/fahma
Oleh Muhammad Aburrahman

Bermain merupakan salah satu kebutuhan krusial bagi anak. Banyak keuntungan yang didapat seorang anak dengan bermain. Dengan bermain misalnya, akan membantu perkembangan motorik dan kemampuan kinestetik anak.merupakan sarana anak untuk melepas energi berlebih yang ada di dalam dirinya. Tidak hanya itu, bermain juga bisa digunakan sebagai sarana eksplorasi dan kompetisi dengan teman-temannya. Banyak permainan anak yang bersifat kompetisi, artinya anak berjuang untuk menjadi pemenang dengan mengalahkan teman sepermainannya, misalnya permainan sepakbola, kasti, kelereng, dan lain-lain.

Ketika anak menang, tentu rasa senang dan bahagia akan menyelimuti hatinya. Meski tidak ada hadiah yang diberikan atas hasil perjuangannya tersebut. Sebaliknya, anak yang kalah mungkin akan merasa kecewa dan sedih. Anak yang terlatih berjiwa besar, tentu akan menerima kekalahannya dan mengakui kemenangan temannya. Akan tetapi, jika sang anak tidak terlatih untuk mau menerima kekalahan, boleh jadi dia akan menuduh temannya curang. Ujungnya bisa terjadi pertengkaran, bahkan perkelahian. Bahkan acapkali terjadi pula orangtua turun tangan dalam pertengkaran tersebut. Na’udzubillah.

Tentu tidak ada orangtua yang menginginkan anaknya menjadi orang yang kalah. Akan tetapi, tidak mungkin seorang anak akan menjadi seseorang yang tidak pernah kalah. Juara olimpiade sekalipun pasti pernah kalah dalam kompetisi yang diikutinya. Jika orientasi kita adalah selalu menang, maka jangan salahkan  anak jika dia akan menghalalkan segala cara untuk memperoleh apa yang diinginkannya kelak. Oleh sebab itu, belajar untuk kalah, secara harfiah, menerima kekalahan, dan kemudian bangkit kembali adalah kunci penting kebahagiaan. 

Mengajarkan anak menerima kekalahan bisa dilakukan sejak anak usia dini. Untuk anak usia prasekolah,  orangtua dapat memberikan contoh berulang kali untuk menerima kekalahan dengan baik. Misalnya saat kita sedang bermain bersama anak, ada baiknya kita mengatakan, “Aduh, Ayah kalah lagi, deh. Tapi senang, ya. Main lagi, yuk!” Perkataan ini akan menunjukkan bahwa kalah adalah hal yang biasa. Meski demikian, tidak ada salahnya sementara membiarkan anak usia prasekolah untuk sering menang, akan tetapi perlahan ia harus belajar untuk kalah.

Ketika orangtua menang, katakan padanya, “Kali ini Ibu yang menang, tapi tadi kamu hebat, kok Nak,” Jika si kecil merajuk, jelaskan padanya bahwa tidak ada orang yang ingin kalah, tetapi kekalahan adalah bagian dari permainan. Orang yang benar-benar kalah adalah orang yang tidak berusaha bermain dengan baik. Sejak usia lima tahun, anak tidak boleh selalu memenangkan setiap permainan, dan harus mulai belajar mengalami kekalahan. Walaupun akibatnya ia akan mengamuk karena tidak mau menerima kekalahan.

Sedangkan pada anak yang sudah menginjak usia 8 tahun, kebanyakan dari mereka sudah cenderung bisa menerima kekalahan dengan tenang. Pada periode ini, orangtua harus menekankan penilaian pada seberapa keras usaha anak, bukan pada hasil akhir. Merajuk dan kecewa ketika kalah karena terlalu fokus pada hasil akhir sebuah proses, yaitu menang, membuat hal-hal menyenangkan yang terjadi dalam prosesnya luput dari perhatian mereka.

Misalnya jika anak kalah saat bermain sepakbola, katakan,”Nggak apa-apa kok, kamu tidak menang”, “Gimana tadi mainnya?”, “Kamu senang nggak bermain dengan teman-teman?” dan sebagainya. Perkataan ini akan lebih diterima di hati anak karena dia akan merasa orangtua memahami kekecewaannya, daripada perkataan, “Sudahlah, begitu aja menangis, kayak anak kecil!” Semoga kita mampu mendidik anak-anak kita menjadi sosok yang berjiwa besar dan mau menerima kekalahan. Amin.

*) Muhammad Aburrahman, Pemerhati dunia anak, tinggal di Yogya