» » Generasi Meninggalkan Shalat & Mengikuti Syahwat

Generasi Meninggalkan Shalat & Mengikuti Syahwat

Penulis By on Tuesday, July 22, 2014 | No comments



foto by google.com
Oleh H. R. Bagus Priyo Sembodo

Ada keluarga baik dan pilihan. Mereka  adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi dari keturunan Adam, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Allah beri petunjuk dan telah Allah pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah

Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.
Kemudian datanglah sesudah mereka, generasi pengganti yang jelek. Mereka  yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu. Generasi buruk semacam ini kelak akan menemui kesesatan dan kerugian di akherat.

Kecuali orang yang bertaubat, kembali kepada jalan ketaatan. Mereka beriman dan beramal saleh. Maka mereka itu akan masuk surga dalam keadaan tidak dianiaya dan dirugikan sedikitpun.

Generasi yang sudah menyia-nyiakan sholat, maka mereka lebih menyia-nyiakan kewajiban-kewajiban lainnya. Karena shalat itu adalah pilar agama serta sebaik-baik perbuatan hamba.

Allah menyebutkan ciri-ciri keluarga pilihan ini. Mereka mempunyai keyakinan, pengagungan dan kepatuhan yang tinggi terhadap ayat-ayat Allah. Mempunyai penghayatan yang mendalam terhadap pemahaman petunjuk Allah ini. Namun sesudah itu, generasi pengganti yang sama sekali tidak sama. Jangankan seksama memahami pelajaran ayat, bahkan shalatpun mereka tinggalkan. Jangankan memperjuangan hukum ketentuan Allah, bahkan mereka mentaati tuntunan hawa nafsunya.

Betapa menghujamnya peringatan Allah dalam Al-Quran ini. Penuturan tentang keluarga paling shalih yang dikemudian hari terlanjutkan oleh generasi yang meninggalkan amalan paling mendasar dalam keshalihan. Hal ini merupakan kemerosotan yang keterlaluan.

Betapa tragis hal ini. Jika hal ini terjadi pada keluarga pilihan maka sangat cukup alasan kita berkuatir terhadap generasi penerus kita.

Mesti ada tekad dan semangat menyala untuk mengupayakan penanggulangan munculnya generasi bersampah ini.

Pendidikan yang kita miliki seharusnya menjaminkan usaha serius mewujudkan sifat generasi pilihan. Juga menjauhkan dari sifat generasi memalukan dan mengecewakan.

Kewaspadaan terhadap berbagai hal yang merusak. Antara lain kecanduan game pada anak.
Ada banyak hal buruk yang telah diterangkan oleh para cerdik pandai tentang dampak buruk kecanduan game.

Kurang tidur. Banyak anak  mengorbankan waktu berharga mereka untuk tidur dan menggunakannya untuk bermain video game. Kurang tidur maka dapat  membahayakan kesehatannya.
Hidup kotor. Seseorang yang mencandu mulai mengabaikan segala hal terkait kebersihan pribadi. malas mandi hingga penyakit gigi.

Isolasi diri. Ia cenderung mengasingkan diri dari teman dan keluarga. Lebih asyik dengan permainannya.
Ketidakpedualian seseorang terhadap kebersihan pribadi hanyalah awal perpindahan orang itu dari dunia nyata dan menjauh dari kehidupan sosial. Baginya, interaksi dengan tokoh-tokoh hero video game lebih berarti dibandingkan interaksi dengan siapapun.

Orang yang sudah kecanduan video game mudah mengabaikan pekerjaan, sekolah, teman-teman, dan keluarganya. Ia menolak melakukan aktivitas bermanfaat.

Stres. Kegagalan mereka memenangkan level-level pada video game menyebabkannya stres berlebihan.
Makan kurang sehat. Kcanduan membawa jarang mandi, jarang tidur, dan pola makan mereka menjadi tak sehat. beralih ke makanan cepat saji dan memilih memakan makanan beku dan instan. memperbanyak minuman soda dan minuman energy. Sehingga mudah terserang obesitas, diabetes, dan penyakit lain.
Berbohong dan khianat terhadap amanah.  Upaya untuk memenuhi tuntutan syahwat menjadikan mudah berdusta. Kesibukan berlezat dalam syahwat membimbing untuk khianat terhadap amanah yang semestinya ditunaikan.

Itulah sebagian yang tersebutkan. Masih ada banyak lagi yang belum dibeberkan.
Orang tua dan guru perlu memahami hal game ini. Banyak orang tua membiarkan karena menganggap hal ini menyenangkan anak dan meringankan pekerjaan mengasuh. Padahal perlahan mendekati bahaya.

*) H. R. Bagus Priyo Sembodo, Guru Ngaji dan Redaktur Ahli Majalah Fahma
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya