Menjaga Anak dalam Jejaring Hubungan

Oleh R. Bagus Priambodo

Menjaga anak merupakan salah satu kewajiban pokok orang tua. Hal ini adalah perintah Allah kepada orang tua untuk menjaga keluarga dari kesengsaraan, terutama penderitaan abadi yakni neraka. Orang tua perlu mengajarkan ilmu agar anak pandai menunaikan kewajiban ataupun menjaga diri dari keburukan.

Dewasa ini orang tua dihadapkan ujian pada hal yang belum hadir di jaman terdahulu. Internet yang makin sering digunakan dan makin dekat dengan kehidupan anak-anak. Bukan perkara mudah untuk mencegah sama sekali anak dari menggunakan internet. Di dalam rumah ataupun di luar rumah. Tatkala bersanding maupun ketika anak-anak bersama teman-temannya.
            
Orang tua di jaman ini dituntut kepahaman dan kebenaran langkah dalam menjagai anak di jaman penggunaan internet. Salah satu fasilitas yang digunakan secara luas oleh pemakai kemudahan internet, termasuk anak-anak, adalah jejaring social. Sudah banyak orang tua yang terkejut ketika mendapati anaknya yang dilihat baiknya ia dapati terlibat perbuatan jelek yang amat dibencinya karena menggunakan internet. Sebagian orang tua keliru karena tidak memperhatikan dan mendampingi anaknya dalam berjejaring. Sebagian lagi karena tidak paham.

Anak- anak hendaklah dibekali seperangkat sikap yang menjaganya.

Menundukkan pandangan dari hal yang tidak berhak dilihat merupakan kewajiban anak-anak kita pula. Di dunia nyata atau di dunia maya. Bahkan ada kalanya tanpa mencari pun, seseorang akan didatangi pemandangan yang buruk. Baik perempuan yang tersibak auratnya ataupun gambar jelek lainnya. Maka kemampuan menahan diri dari memasuki pintu-pintu yang menuju gudang gambar jelek ataupun menghindarkan diri dari gambar yang datang adalah penjagaan yang perlu bagi anak-anak. Terutama lagi adalah cegahan dari memasang gambar diri yang tidak berhak dilihat oleh orang lain.

Kebebasan berpendapat mengiringi derasnya penggunaan jejaring social kini. Berbagai pernyataan tidak benar bagitu banyak dilontarkan oleh orang-orang yang dangkal pengetahuan. Juga perdebatan yang tidak bermanfaat sering dilakukan. Seseorang yang kurang tabayyun atau mencari kejelasan informasi yang benar akan sering tertuntun oleh sampah sampah info di internet ini.  Maka mengambil dari sumber yang terpercaya dan mengkonfirmasikan info kepada ahlinya merupakan ketrampilan yang menjaga.

Berhati-hati merupakan sikap dasar dalam berjejaring social. Tidak hanya orang-orang baik saja yang terlibat, tetapi begitu banyak yang buruk. Begitu banyak yang tertipu dan menjadi korban kejahatan karena tidak teliti. Sering hal yang tampak begitu menarik dan baik ternyata amat berbeda dengan keadaan sebenarnya. 

Begitu banyak anak yang kurang memperhatikan kepantasan, kebenaran, dan dampak tulisan yang ia kirimkan di jejaring. Maka ia kurang menjaga dirinya dan kurang menjaga orang lain. Bahkan tidak sadar menyakiti orang lain. Juga membuka kesempatan bagi orang jahat untuk berbuat jelek terhadap dirinya.

Begitu banyak group maupun akun yang berisi berbagai keburukan. Adu domba, hasutan, informasi yang tidak benar, atau tipuan. Baik secara terang maupun samar. Maka perlu tegaskan untuk meninggalkan, remove, ataupun hapus hal yang demikian.

Hubungan yang luas merupakan kesempatan untuk menyerukan kebaikan dan menuntun orang-orang yang salah untuk kembali baik. Berbagai hal bisa dilakukan. Baik menuliskan susunan kalimat sendiri maupun menyebarluaskan ilmu para shalihi yang alim. Dengan menggunakan potensi hubungan yang luas melalui media social untuk menyeru kebaikan ini sekaligus akan menutup dari sekedar berkirim candaan belaka ataupun bangga diri kepada khalayak.

Mengatur waktu merupakan hal penting. Diperlukan kemampuan utnuk mendisiplinkan diri dan mengendalikan diri supaya tidak larut dalam menuruti keinginan terus menerus berasyik di penggunaan social media. Bisa memutuskan untuk berhenti dan shutdown gadget.


Orang tua memang mesti berupaya dengan ketegasannya dan ketauladanannya. Termasuk dalam berjejaring ini. Anak-anak yang ditelantarkan sendiri untuk mengarungi deraan ujian internet di jaman ini mudah mengalami pengalaman dan pengaruh buruk. Hanya kepada Allah lah kita bertawakal dalam penjagaan anak-anak hingga tershalihkan terus.

Kolom Prof In : Menerima dengan Tangan Kiri

Oleh Indarto

Pada saat saya menunggu pesanan makanan di sebuah warung, di depan saya ada sepasang suami istri bersama anak laki-laki kecil yang sudah selesai makan. Ketika mereka keluar dari warung, sudah ada seorang juru parkir yang berdiri di samping kendaraannya. Sang ibu memberikan uang ke anaknya, lalu diteruskannya ke petugas parkir dengan tangan kiri dan dengan cara yang tidak sopan.

Aneh.... di wajah kedua orangtua itu tidak ada kesan bahwa telah terjadi perilaku yang kurang wajar pada anaknya. Apakah orangtua seperti ini telah melaksanakan kewajiban mendidik terhadap amanah yang dititipkan Allah Ta’ala dengan baik?. Kalau memang kedua orangtua itu betul-betul memperhatikan pendidikan anaknya, pasti sudah timbul reaksi, minimal akan terjadi perubahan pada wajah keduanya, ketika melihat perilaku anak itu.Tapi saya tidak melihat sedikitpun kecemasan di wajah keduanya.

Ini sebuah contoh ketidak pekaan orangtua terhadap penyimpangan perilaku anaknya. 
Pada saat usia anak sudah mulai bisa diberitahu, maka begitu melihat adanya penyimpangan, orangtua harus segera bereaksi. Jangan dibiarkan si anak menganggap sesuatu yang mestinya tidak boleh, tetapi karena orang lain tidak bereaksi maka dianggapnya sesuatu yang wajar. Dalam peristiwa ini, ada dua hal yang perlu diluruskan, sikap tidak sopan terhadap orang yang dituakan dan cara memberikan sesuatu dengan tangan kiri.

Melihat pemandangan ini, lalu saya teringat pada peristiwa yang sama, baru saja terjadi pada beberapa hari sebelumnya. Kalau peristiwa di warung itu, pelakunya adalah anak kecil yang berumur kira-kira 9 tahun. Sedangkan yang saya alami, dilakukan oleh seorang mahasiswa semester lima dan itu dilakukan lebih dari sekali, dan yang memprihatinkan lagi, pada saat itu, saya di kelas sedang mendiskusikan dengan mereka tentang pentingnya kita memiliki soft-skill, ketrampilan interpersonal. Sebuah ketrampilan bagaimana kita bisa membuat orang lain merasa dihargai, diperhatikan, didengarkan, teman-teman merasa senang ketika bekerja dengan kita. Hal-hal ini sering kami sampaikan ke mahasiswa karena ketrampilan ini akan sangat berperan pada perkembangan karier seseorang.

Seperti biasanya, saat memberikan kuliah saya berusaha menggunakan pengeras suara, agar semua mahasiswa bisa mendengar dengan jelas, termasuk mereka yang duduk di belakang, dan juga agar menghemat energi yang keluar lewat gelombang suara. Selain itu, di dalam kelas saya juga lebih banyak berdiskusi dan memberikan pertanyaan, agar mahasiswa terbiasa berfikir lebih kritis. Saat mahasiswa memberikan jawaban, saya minta dia menggunakan mic juga, agar terdengar oleh teman-temannya, sehingga mahasiswa akan lebih berhati-hati dalam menyusun kalimat jawaban.

Suatu ketika, saya memberikan pertanyaan kepada salah satu mahasiswa. Saat dia sudah siap akan menjawab, saya berikan mic-nya. Sebagai orang timur, norma yang masih diakui sampai saat ini, dalam menerima sesuatu dari orang yang dituakan biasanya menggunakan tangan kanan. Namun secara spontan, dalam menerima mic tersebut, yang digerakkan bukan tangan kanan tetapi tangan kiri. Saat tangan kirinya akan menyentuh mic yang masih saya pegang, dengan pelan mic saya tarik kembali sehingga mahasiswa tersebut kaget dan segera menyadarai kekeliruannya. Hal ini terlihat dari wajahnya yang berubah menahan malu. Gerrrr.... teman-temannya tertawa semua. Ketika tertawaan sudah mereda, mic saya berikan lagi. Namun apa yang terjadi, tanpa sadar dia mengulurkan tangan kirinya lagi... dan mic saya tarik lagi. Gerrrr.....tertawaan teman-temannya bertambah keras....  


Contoh nyata yang saya alami sendiri di dalam kelas ini dan yang sering terlihat di tempat lain tentang perilaku anak-anak sekarang, telah membuat saya semakin termotivasi membantu mereka untuk melakukan kebiasaan baik.  Termasuk cara duduk mahasiswa saat mengikuti kuliahpun tidak luput dari pengamatan. Karena saya pernah mendengar langsung dari users, calon pengguna lulusan, yang sekaligus seorang pimpinan perusahaan yang harus menolak seorang pelamar, yang sudah lolos beberapa tahap seleksi sebelumnya, hanya gara-gara cara duduk yang seenaknya.

*) Prof. Dr. Ir. INDARTO, D.E.A Pimpinan Umum Majalah Fahma

Belajar Mendengar

Oleh Subhan Afifi

Sederhana saja. Kita diberi 2 telinga dan 1 mulut. Seharusnya kita lebih banyak mendengar daripada minta didengarkan. Sayangnya, fakta lebih sering tak seindah teorinya.

“Andi…! Sini kamu! pokoknya ayah nggak mau dengar lagi ada laporan tetangga kalau Andi nakal lagi. Mau jadi apa sih kamu ? Dengar ya.. Dulu, waktu ayah masih kecil, nggak pernah tuh Ayah bikin nangis anak orang, nggak suka berkelahi, nggak bikin kisruh..pokoknya..nggak macem-macem bla..bla..bla,” ini biasanya rententan kalimat yang biasanya meluncur deras dan sulit dihentikan. Intinya, sang ayah minta didengarkan terlebih dahulu tanpa memberi kesempatan anak untuk menjelaskan duduk perkaranya.

Atau : “Aduuh Silmi.., gimana sih, coba dengar ya Nak.. Sudah berapa puluh kali Bunda  ingatkan. Begitu pulang sekolah, taruh peralatan sekolahmu di rak belakang, jangan diberantakkan begini. Itu lagi, sepatunya koq gak dicopot, kan lantainya jadi kotor.. Bunda capek kan..” kata seorang ibu kepada anaknya yang pulang sekolah dalam kondisi kesal, mungkin karena ada masalah di sekolahnya. Tapi sang Bunda tak berusaha mendengar terlebih dahulu, tetapi mengedepankan perspektif “ingin didengar” untuk menyampaikan pesan.

Dalam keseharian, sebagai orang tua, kita cenderung ingin langsung masuk dalam kehidupan anak-anak kita dengan beragam nasihat, ingin memperbaiki, dan sebagainya. Tanpa terlebih dahulu berusaha untuk mengenali konteks dan permasalahannya. Ujung-ujungnya kita ingin dimengerti tanpa lebih dahulu mengerti mereka.

Mendengar adalah pekerjaan mudah. Selama telinga kita berfungsi dengan baik, InsyaAllah tak ada masalah. Tetapi mendengar dengan penuh perhatian, antusias, tanpa kepura-puraan, belum tentu mudah untuk dilakukan. Inilah yang disebut sebagai mendengar aktif (active listening). Bukan sekedar mendengar selintas, mendengar sebagian, atau pura-pura mendengar. Ketika orang tua mendengar secara aktif, maka anak akan merasa dihargai.

Mendengar aktif dilakukan dengan memusatkan perhatian pada anak-anak dan isi pembicaraannya, serta memberikan respon yang sesuai. Anak dibiarkan tuntas mengutarakan isi hatinya dan sedapat mungkin menunda kecenderungan kita untuk memotong atau menginterupsi. Komunikasi non verbal berupa kontak mata yang berbinar-binar, wajah dan seluruh badan dihadapkan pada si kecil, dan gerakan tubuh yang menunjukkan orang tua antusias memberi perhatian, sangat mendukung aktivitas mendengar aktif. Jika anak dalam posisi yang kita anggap bersalah, biarkan ia terlebih dahulu menceritakan duduk perkaranya, berilah jeda sesaat untuk memberi respon. Hal ini dapat menghindari kita untuk memberi jawaban cepat, melompat dan cenderung reaktif. Ketegangan emosipun dapat diredam.

Sebenarnya, anak-anak adalah pencerita kisah (story teller) yang hebat. Apapun akan diceritakannya dengan antusias. Dan hal ini merupakan bentuk kecerdasan yang tidak bisa dianggap remeh. Kecerdasan berbahasa dan berkomunikasi, suatu saat akan memberi kontribusi besar bagi kesuksesan hidup mulianya. Lihat saja, sepulang sekolah, ada saja yang diceritakannya. Seringkali tampak sepele dan tidak penting. Saat itu, anak ingin didengarkan. Demikian juga ketika mereka memberondong kita dengan beragam pertanyaan yang kelihatannya sepele dan tidak perlu pun, sesungguhnya permata hati kita itu ingin didengarkan dengan sepenuh jiwa. Bila kita mendengar dengan ogah-ogahan, atau enggan menjawab, sejatinya kita sedang memadamkan potensi kecerdasan anak yang hendak melejit.

Belum lama ini di stasiun-stasiun televisi Malaysia beredar sebuah iklan layanan masyarakat yang menyentuh hati. Seorang anak perempuan tampak hendak bertanya kepada ayahnya yang sedang sibuk. Sang ayah menepis, ”Sana tanya pada ibumu !’. Ketika beranjak pada sang Bunda, jawabannya hampir sama, karena super mom-nya seolah tak ingin kehilangan waktunya, beberapa menit sekalipun. ”Tanya sama kakek...!”, hardiknya. Rupanya kakek Melayu itu pun sama sibuk nya. Si anak pun merasa tak berguna, sedih bukan kepalang. Padahal dengar apa sebenarnya yang ingin ditanyakannya : ”Kenapa sih ibu kota Sarawak itu Kucing...?”.  Kuching memang nama ibu kota Sarawak, negeri bagian Malaysia yang berbatasan dengan Kalimantan.

Mendengar aktif, jika menjadi keterampilan yang dipraktekkan para orang tua dalam keseharian, akan memberi dampak yang luar biasa. Hanya dengan mendengar saja, sebenarnya kita telah membantu anak untuk memecahkan masalah secara mandiri dan merangsang hubungan yang lebih hangat. Anak akan terdorong untuk menemukan apa sesungguhnya yang ia rasakan. Anak akan lega, terbebas dari perasaan atau masalah yang membebani. Pengalaman di dengar dan dimengerti ayah-bundanya adalah sesuatu kegembiraan dan kepuasan tak ternilai bagi anak. Jika anak merasa dihargai dan dihormati, tak perlu ribuan kata untuk mengajari mereka untuk menghargai dan menghormati orang tua.

Jika didengarkan secara tulus, anak akan semakin mudah bicara dan mengutarakan isi hati, pada gilirannya nanti ia akan lebih mudah mendengar pendapat orang lain. Jika orang tua hanya ingin didengar, justeru anak akan lebih malas untuk mendengar. Anak yang terpuaskan ”kebutuhan untuk didengar”nya di rumah, juga akan lebih percaya diri. Mereka akan terbiasa untuk berfikir, menganalisis hingga menemukan solusi atas masalah secara mandiri. Semuanya bermula dari sebuah aktivitas sederhana : didengarkan secara tulus oleh ayah bunda-nya. Mari kita belajar mendengar ! 

*) Subhan Afifi, Pimpinan Redaksi Majalah Fahma, Sekjen MIUMI DIY, Dosen Komunikasi Universitas Pembagunan Nasional ‘Veteran’ Yogyakarta

Tips Cerdas : Jangan Egois

Oleh Zakya Nur Azizah,

“Uh…., Bunda…., ini lho…,” rengek Naura ketika melihat Faiza, yang baru berusia 2 tahun memegang bonekanya. “Ada apa to sayang? Kan dek Faiza cuma memegang mainannya. Nanti pasti dikembalikan lagi, insya Allah nggak rusak kok,” ujar sang bunda pada Naura. “Iya, mbak Naura, tuh bonekanya malah ditimang-timang sama dek Faiza. Sebentar lagi dikembalikan kok,” celetuk ibunda Faiza yang juga menemani Faiza bermain di rumah Naura.

“Uh…., Bunda sekarang mobil-mobilanku yang dipegang.Kembali Naura merengek. Melihat sifat egois putrinya, sang bunda pun menghela nafas sejenak. Didekatinya sang putri, sambil mengelus kepala Naura, sang bunda pun berkata, ”Naura, kalau sedikit-sedikit kamu melarang teman kamu memegang mainanmu, nanti bagaimana teman-teman mau akrab sama kamu?” Sambil menatap bundanya, Naura pun menjawab, “Aku takut mainanku rusak, Bunda.” Mendengar jawaban Naura, bunda kembali tersenyum. “Naura, kalau takut rusak, mending mainannya disimpan saja. Tidak usah dipakai main. Kalau kamu sama sekali tidak membiarkan teman kamu memegang mainanmu, lalu suatu ketika ada teman yang punya mainan, lalu kamu ingin meminjamnya, tapi dibalas dengan hal yang sama yang kamu lakukan bagaimana rasanya?”

“Ya, sedih dan kecewa, Bunda. Kan aku ingin ikut bermain juga,” jawab Naura. “Nah, kalau begitu, Naura jangan egois. Insya Allah, dengan mau berbagi, baik mainan, makanan atau yang sejenisnya, kita akan lebih mudah berteman. Mereka pun akan merasa nyaman berteman dengan kita,” tutur sang bunda dengan lembut.

Sifat egois memang selalu ada pada diri anak. Akan tetapi bukan berarti sifat tersebut harus dibiarkan tumbuh dan menggerogoti kehidupan anak. Sebagai orangtua, kita harus memberantasnya. Harapannya anak dapat tumbuh dalam kepedulian terhadap sesama. Ingat manusia adalah mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Kita selalu membutuhkan peran serta orang lain dalam kehidupan ini.

Cara termudah untuk mengajari anak agar tidak egois ialah dengan memberikan contoh atau teladan yang baik. Anak belajar dari melihat, terutama apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Bila ia selalu melihat orangtuanya tidak sungkan untuk memberi atau berbagi dengan yang lain maka anak pun akan ikut melakukannya. Sebaliknya bila ia sering melihat ayahnya suka memarahi orang lain maka anak pun akan ikut suka memarahi teman-temannya.

Tutur kata memang penting tetapi yang lebih penting lagi ialah perbuatan. Jika anak sering melihat orangtuanya tidak sungkan ketika memberi, suka berbagi makanan dengan temannya, berbagai cerita dengan anak, dan hal-hal baik lainnya maka anakpun akan menirukannnya. Anak memang cenderung ingin menang sendiri, ingin apa-apa untuk dirinya sendiri. Namun, anak juga dapat diarahkan karena mereka adalah peniru yang baik.

Tips:
ü  Jangan selalu menuruti kemauan anak. Tangis adalah ekspresi ketidaknyamanan di samping protes dan marah. Biarkan sesuatu berjalan alami. Kadang kita perlu membiarkan anak menangis untuk sementara waktu, sebelum kita menghentikan dengan memenuhi kebutuhannya, bukan kemauannya, sehingga anak terbiasa untuk menunggu dan terlatih untuk lebih sabar.
ü  Ajak anak untuk bergaul dan bersosialisasi dengan sesamanya. Konflik yang terjadi misalnya seperti merebutkan mainan dapat dijadikan sebagai sarana untuk mendidik. Tentunya dengan syarat tidak terlalu membela anak kita. Bila anak kita salah, maka ajarkan yang benar dengan penuh kelembutan. Jelaskan semampu kita, meski mereka belum tentu dapat menangkap penjelasan dengan baik karena berusia sangat muda.
ü  Latihlah anak kita untuk memberi seperti makanan kecil lewat tangan mereka sendiri kepada teman-teman sebayanya dan untuk berinfak di masjid.

ü  Hargai anak kita meski masih sangat kecil dan orang-orang di sekitar kita seperti saudara, orangtua dan teman-temannya karena itu akan mengajarkan dia untuk menghargai orang lain.||

*Penulis adalah Pemerhati dunia pendidikan, tinggal di Bantul

Makanan Cerdas : Melinjo

google
Oleh Ana Noorina,
Pemerhati gizi

Melinjo (Gnetum gnemon Linn) merupakan spesies tanaman biji terbuka (gymnospermae) yang  berbentuk pohon yang berumah dua (dioecious, ada individu jantan dan betina).  Peneliti dari Universitas Jember, Tri Agus Siswoyo, menilai bahwa aktivitas antioksidan biji melinjo setara dengan vitamin C. Aktivitas antioksidan ini diperoleh dari konsentrasi protein tinggi, 9-10 persen dalam tiap biji melinjo. Protein utamanya berukuran 30 kilo Dalton, protein tersebut sangat efektif untuk menghabisi radikal bebas penyebab berbagai macam penyakit, seperti hipertensi, kolesterol tinggi, penyempitan pembuluh darah, penuaan dini, dll.

Melinjo memiliki banyak manfaat baik itu bijinya, daun, kulit bahkan batang kulitnya. Batang pohon melinjo sering digunakan untuk membuat papan alat rumah tangga. Kulitnya juga sering dibuat untuk sayur. Ada pula yang membuatnya menjadi abon. Sementara daun melinjo yang muda untuk membuat sebuah masakan seperti sayur asem. Sedangkan bjinya digunakan untuk bahan baku membuat emping, biji melinjo juga dapat digunakan untuk membuat sayur asem, bisa juga dibuat kue kering

Semua melinjo pada dasarnya dapat dimakan, hanya yang perlu diingat bagi mereka yang berpotensi penyakit asam urat tentu harus tidak mengkonsumsi dalam jumlah yang banyak, karena melinjo dapat memicu hiperurisemia (asam urat berlebih) karena mengandung purin cukup tinggi jika dikonsumsi secara berlebihan. Batasan normal konsumsi yang disarankan, cukup segenggam biji melinjo rebus dalam sehari. Perlu diingat bahwa, sebelum melinjo dikonsumsi, sebaiknya biji melinjo dicuci hingga benar-benar bersih, lalu direbus.||


Adab Menuntut Ilmu : Tidak Hanya Sekedar Etika

doc/fahma
Oleh Slamet Waltoyo

Bagian terpenting dari keterampilan sosial adalah adab dan etika. Di sekolah, materi ajar adab dan/atau etika lebih efektif disampaikan melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching). Pada Kurikulum 2013, proses pembelajaran dikembangkan atas dasar karakteristik konten kompetensi yaitu pengetahuan yang merupakan  konten yang bersifat mastery dan diajarkan secara langsung (direct teaching), keterampilan kognitif dan psikomotorik adalah konten yang bersifat developmental yang dapat dilatih (trainable) dan diajarkan secara langsung (direct teaching). Sedangkan sikap adalah konten developmental dan dikembangkan melalui proses pendidikan yang tidak langsung (indirect teaching).

Proses pembelajaran tidak langsung (indirect) terjadi pada setiap kegiatan belajar yang terjadi di kelas, sekolah, rumah dan masyarakat. Proses pembelajaran tidak langsung bukan dari kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) karena sikap yang dikembangkan dalam proses pembelajaran tidak langsung harus tercantum dalam silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat guru.

Sikap seperti apa saja yang harus dikembangkan? Apa dasarnya atau dari mana sumbernya? Menjawabnya menjadi tugas guru. Semua ada adabnya dan ada etiketnya. Apa bedanya adab dan etiket. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia;  Adab diartikan kehalusan dan kebaikan budi pekerti; kesopanan; akhlak. sedangkan etika diartikan tata cara (adat, sopan santun dan sebagainya) di masyarakat beradab dalam memelihara hubungan baik antara sesama manusianya. Dalam hal ini penulis membedakan; Adab bersumber dari contoh yang dilakukan oleh Rasulullah Shalalluhu’alaihi wasallam, sedangkan etiket bersumber dari norma.

Misalnya sikap ketika makan.  ada adabnya dan ada juga etikanya. Pilih mana?  Bagaimana jika ada yang tidak sinkron antara adab dan etika?  Etika meliputi sikap yang harus dilakukan ketika di hadapan orang lain, dilakukan karena penilaian orang lain. Tetapi adab dilakukan karena keyakinan. Keyakinan akan Allah Ta’ala Yang Maha Melihat, keyakinan akan pengawasan malaikat. Sehingga adab tetap dilakukan dan tidak tergantung adanya orang lain.

Etika bisa berbeda di tempat yang berbeda. Etika yang sudah dibentuk melalui pembiasaan di sekolah atau di rumah bisa hilang atau pudar ketika menghadapi situasi yang berbeda. Tetapi adab akan selalu diperjuangkan untuk selalu dilakukan di mana pun dan kapan pun selama keyakinan masih melekat dalam kalbunya. Maka ajarkan adab, jangan sekadar etika. Karena adab berakar pada contoh yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam, maka adab pun bisa berkembang selama tidak terlepas dari akarnya. Maka materi ajar etika yang sesuai dengan adab, ajarkanlah sebagai adab. Misalnya cuci tangan sebelum makan, makan dengan tenang tidak banyak bicara, dan sebagainya.

Untuk memasukkan adab dalam kurikulum di SD/MI , identifikasikan semua adab yang bisa dilakukan anak di sekolah. Kemudian disisipkan dalam semua materi pelajaran mulai dari kelas satu hingga kelas tiga. Sesuai dengan perkembangan usia. Semua guru mendapat peran untuk menghidupkan adab-adab tersebut baik ketika di kelas maupun di luar kelas. Sehingga ketika anak memasuki kelas empat mereka sudah menguasai semua adab yang diajarkan. Tinggal mengulang dan bisa memberi contoh bagi adik-adiknya. Anak-anak kelas empat tidak hanya bangga bisa memberi contoh bagi adik-adiknya tetapi juga menjadi kebanggaan menjalankan ibadah muamalah.||

*) Drs. Slamet Waltoyo, Kepala Sekolah MI Al-Kautsar, Cebongan Sleman

Puisi untuk Sang Ibu

doc/fahma
Oleh Sastriviana Wahyu Swariningtyas

Entah mengapa pada akhirnya aku ingin…
Suatu saat ketika aku menjadi Ibu, aku ingin menjadi seperti engkau Bu.
Kau tahu mengapa?

Karena kau selalu tampak tegar meski di baliknya ada air mata kegetiran
Aku ingin kuat seperti ibu, kuat menghadapi apapun
Kau keras, tapi aku tahu itu caramu menunjukkan kasihmu
Di balik sikap yang keras ada hati yang begitu lembut.
Entah mengapa pada akhirnya aku ingin…
Aku ingin meneladani bagaimana Ibu sebagai anak berbakti pada seorang Ibu
Meski sulit…kau lebih pedulikan Ibumu dibandingkan dirimu
Ibu…
Pagi ini telah merubah segalanya…
Aku berjanji Bu.. berjanji… selalu ada untuk Ibu
Ibu yang kusayangi…Ibu yang tak ingin kulihat lagi air matanya seperti pagi ini
Setidaknya saat ini aku telah berada dekat denganmu
Kita tak bicara dengan banyak kata, tapi hati…
*) Sastriviana Wahyu Swariningtyas, Alumni Biologi UGM, tinggal di Banten

Adab Utama dalam Menuntut Ilmu

doc/fahma
Oleh Irwan Nuryana Kurniawan

Syaik Muhammad bin Shalih al Utsaimain dalam Syarh Hilyah Thaalibil ‘Ilmi (2005) menegaskan adab yang paling pokok dan harus tertanam secara kokoh dalam diri setiap pelajar ketika menuntut ilmu adalah mereka harus meyakini bahwa ilmu adalah ibadah, ibadah yang paling agung dan paling utama. Allah Ta’ala menjadikan kegiatan memperdalam pengetahuan agama sebagai bagian dari berjihad di jalan Allah Ta’ala (QS At Taubah (9):122).

Kepahaman seseorang atau sekelompok orang dalam perkara agama—Syaikh Utsaimin menjelaskannya sebagai meliputi segenap ilmu syar’i, baik ilmu tauhid, aqidah, atau lainnya—ditegaskan oleh Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam dalam hadits shahih riwayat al Bukhari (71) dan riwayat Muslim (1037) merupakan pertanda bahwa Allah menghendaki kebaikan bagi diri mereka.

Kegiatan memperdalam ilmu pengetahuan menjadi bernilai ibadah ketika dilandaskan pada niat yang ikhlas hanya karena Allah Ta’ala (QS Al Bayyinah (98):5 dan hadits shahih al Bukhari (1). Sebaliknya, kegiatan memperdalam ilmu bisa berubah dari ibadah yang paling mulia menjadi kemaksiatan yang paling hina, menurut Syaikh Abu Bakar Abu Zaid apabila tidak dilandasi dengan keikhlasan niat. Keinginan mendapatkan pujian, atau dikenal sebagai riya’, baik riya’ yang menjerumuskan pada kesyirikan atau riya’ yang menghilangkan keikhlasan, dan membanggakan-banggakan diri, atau dikenal sebagai sum’ah seperti “Aku tahu…Aku hafal…,” merupakan contoh yang paling bisa menghancurkan nilai ibadah dari kegiatanan memperdalam ilmu.

Syaikh Utsaimin menjelaskan bahwa untuk membangun keikhlasan dalam pribadi setiap siswa dalam menuntut ilmu, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan. Pertama, menanamkan keyakinan dalam diri setiap siswa bahwa menuntut ilmu itu berarti menjalankan perintah Allah Ta’ala (QS Muhammad (47):19). Meyakini bahwa menuntut ilmu itu perbuatan yang dianjurkan, dicintai, dan diridhai-Nya. Kedua, menanamkan keyakinan dalam diri setiap siswa bahwa menuntut ilmu itu berarti menjaga syariat Allah. Dengan belajar, baik melalui menghafal, menulis, maupun mempraktekkan, setiap siswa secara bertahap insyaallah dapat diharapkan memiliki kefahaman perkara agama yang mendalam dan benar, termasuk untuk tujuan menjaga tegaknya syariat Allah Ta’ala. Ketiga, menanamkan keyakinan dalam diri setiap siswa bahwa menuntut ilmu itu berarti membela syari’at Allah Ta’ala. Ketika mereka menjadi orang atau sekelompok orang yang memiliki kefahaman mendalam dalam perkara agama, maka insya Allah mereka akan membela kebenaran syariat, termasuk membantah sekaligus menjelaskan jika mendapati kesesatan dari syariat Allah Ta’ala. Keempat, menanamkan keyakinan dalam diri setiap siswa bahwa menuntut ilmu itu berarti mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam. Tidak mungkin mereka bisa mengikuti ajaran Rasulullah Muhammad Shallallahu’alaihi wa sallam kecuali jika mereka sudah mengetahuinya terlebih dahulu.

Maka, senantiasa membiasakan setiap siswa untuk menjaga niat menuntut ilmu ikhlas karena Allah Ta’ala menjadi sanngat penting untuk dilakukan oleh dan menjadi bagian dari kurikulum pendidikan. Begitu juga dengan mengingatkan mereka akan segala hal yang dapat merusak keikhlasan mereka dalam menuntut ilmu seperti senang popularitas, ingin unggul disbanding teman sebayanya atau menjadikannya sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu seperti pangkat, jabatan, kekayaan, kehormatan, popularitas, pujian, dan kekaguman orang lain kepadanya. Semua hal tersebut, menurut Syaikh Abu Bakar Abu Zaid, dapat merusak dan melenyapkan keberkahan ilmu. ||

*) Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia

Pendampingan dan Kemunduran Karakter

foto anak SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta
Oleh H.R. Sugiwaras MSB,

Hari pertama berkenalan dengan anak-anak (yang menurut kesimpulan sekolah) adalah anak-anak inklusi, saya langsung ingat dengan keadaan saya yang serba kekurangan waktu sekolah di SD. Namun alhamdulillah, Allah memberikan kecerdasan di atas rata-rata teman-teman di sekolah saya waktu itu. Karenanya saya selalu mendapat rangking pertama. Namun ketika saya berusaha mengajari anak-anak di sekolah yang sekarang saya dampingi. ternyata ada banyak yang belum diketahui oleh orang dan khususnya orang tua terkait dengan anak inklusi.

Sebenarnya istilah inklusi belum banyak diketahui, terutama oleh anak-anak. Istilah inklusi diberikan ketika ada anak-anak yang memiliki perilaku khusus dan berbeda dengan anak-anak normal umumnya. Ada juga yang menyebutnya anak-anak berkebutuhan khusus (ABK), ada juga yang menyebutnya anak-anak autis.

Dalam pendahuluan bukunya yang cukup fenomenal yaitu Seven Habbits, Steven Covey menceritakan pengalamannya tentang cara dan keputusan yang dia ambil bersama istrinya dalam mendidik anaknya agar ia kelak menjadi anak yang berkarakter dan sukses. Anaknya memiliki cacat fisik, kakinya agak pincang. Karena keadaan seperti itu, maka anaknya menjadi minder jika bergabung dengan temannya yang lain. Kemudian setelah diskusi dengan sang istri, Covey kemudian mengambil langkah, yaitu mendampingi anaknya ke sekolah. Salah satu yang mereka dampingi dengan intens adalah pada mata pelajaran olah raga.

Pada saat ada yang mengejek anaknya, Covey langsung memarahi anak tersebut. Hal ini dilakukan beberapa tahun dengan maksud agar kepercayaan diri anaknya tumbuh membaik. Namun setelah begitu lama, ternyata anaknya tidak kunjung membaik dan akhirnya malah semakin minder dan tidak percaya diri. Covey bersama istrinya diskusi lagi. Kemudian mereka berkesimpulan bahwa mungkin mereka terlalu dekat dengan anak sehingga dia menjadi tidak mandiri. Setelah itu, mereka mulai menjaga jarak dan meninggalkan anaknya agar mandiri dan berusaha menyelesaikan masalahnya yang dia alami di lingkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Ternyata hasilnya sangat luar biasa. Dia menjadi anak terbaik dengan nilai terbaik. Bahkan kabar terakhirnya adalah dia mendapatkan nilai A di tempat kuliahnya dan menjadi pemimpin di beberapa organisasi kemahasiswaan di kampusnya.

Saya ternyata merasakan hal yang sama ketika saya mendampingi anak-anak inklusi. Semakin  kita dampingi mereka, ternyata mereka semakin tidak survive dalam menjalani kehidupan. Hal ini perlu diperhatikan untuk para pendamping anak dan khususnya anak-anak inklusi. Karena bukan tidak mungkin ketika kita mendampingi, sebenarnya sedang memasukannya ke lubang kegagalan hidupnya. Akhirnya saya mulai mendampingi mereka dengan sedikit tegas dan mendapat penolakan dari beberapa guru dan orang tua. Saya merasakan bahwa mereka bukan makin mandiri ketika didampingi tetapi makin tidak kreatif dan tidak tahu cara penyelesaian masalah yang mereka hadapi.

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil. Pertama, ternyata ketika kita ada harapan tertentu kepada anak, maka kita akan memperlakukannya tidak baik dan cenderung berlebihan.

Kedua, harapan yang tidak didasari pengetahuan yang benar hanya akan menghancurkan masa depan anak. Ketiga, penerimaan yang salah tentang anak akan membuat kita juga salah memperlakukan anak.


Dari beberapa orang tua yang anaknya saya dampingi mereka terlalu banyak menuntut dan tidak melihat kemampuan terbaik dari anaknya. Walaupun dalam ucapan mereka bilang menerima keadaan anaknya dengan baik. Namun dalam kenyataan memberikan respons yang sangat berbeda. Semoga ini bisa menjadi pertimbangan baik bagi sekolah yang memberikan pendampingan kepada anak-anak inklusinya atau pun bagi orang tua yang diberikan anugerah anak yang unik dibanding dengan anak yang lainnya.[]

*) Guru Pendamping Anak Inklusi di SD IT Annida Putwokerto