» » » Adab Menuntut Ilmu : Tidak Hanya Sekedar Etika

Adab Menuntut Ilmu : Tidak Hanya Sekedar Etika

Penulis By on Wednesday, August 13, 2014 | No comments

doc/fahma
Oleh Slamet Waltoyo

Bagian terpenting dari keterampilan sosial adalah adab dan etika. Di sekolah, materi ajar adab dan/atau etika lebih efektif disampaikan melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching). Pada Kurikulum 2013, proses pembelajaran dikembangkan atas dasar karakteristik konten kompetensi yaitu pengetahuan yang merupakan  konten yang bersifat mastery dan diajarkan secara langsung (direct teaching), keterampilan kognitif dan psikomotorik adalah konten yang bersifat developmental yang dapat dilatih (trainable) dan diajarkan secara langsung (direct teaching). Sedangkan sikap adalah konten developmental dan dikembangkan melalui proses pendidikan yang tidak langsung (indirect teaching).

Proses pembelajaran tidak langsung (indirect) terjadi pada setiap kegiatan belajar yang terjadi di kelas, sekolah, rumah dan masyarakat. Proses pembelajaran tidak langsung bukan dari kurikulum tersembunyi (hidden curriculum) karena sikap yang dikembangkan dalam proses pembelajaran tidak langsung harus tercantum dalam silabus, dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat guru.

Sikap seperti apa saja yang harus dikembangkan? Apa dasarnya atau dari mana sumbernya? Menjawabnya menjadi tugas guru. Semua ada adabnya dan ada etiketnya. Apa bedanya adab dan etiket. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia;  Adab diartikan kehalusan dan kebaikan budi pekerti; kesopanan; akhlak. sedangkan etika diartikan tata cara (adat, sopan santun dan sebagainya) di masyarakat beradab dalam memelihara hubungan baik antara sesama manusianya. Dalam hal ini penulis membedakan; Adab bersumber dari contoh yang dilakukan oleh Rasulullah Shalalluhu’alaihi wasallam, sedangkan etiket bersumber dari norma.

Misalnya sikap ketika makan.  ada adabnya dan ada juga etikanya. Pilih mana?  Bagaimana jika ada yang tidak sinkron antara adab dan etika?  Etika meliputi sikap yang harus dilakukan ketika di hadapan orang lain, dilakukan karena penilaian orang lain. Tetapi adab dilakukan karena keyakinan. Keyakinan akan Allah Ta’ala Yang Maha Melihat, keyakinan akan pengawasan malaikat. Sehingga adab tetap dilakukan dan tidak tergantung adanya orang lain.

Etika bisa berbeda di tempat yang berbeda. Etika yang sudah dibentuk melalui pembiasaan di sekolah atau di rumah bisa hilang atau pudar ketika menghadapi situasi yang berbeda. Tetapi adab akan selalu diperjuangkan untuk selalu dilakukan di mana pun dan kapan pun selama keyakinan masih melekat dalam kalbunya. Maka ajarkan adab, jangan sekadar etika. Karena adab berakar pada contoh yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam, maka adab pun bisa berkembang selama tidak terlepas dari akarnya. Maka materi ajar etika yang sesuai dengan adab, ajarkanlah sebagai adab. Misalnya cuci tangan sebelum makan, makan dengan tenang tidak banyak bicara, dan sebagainya.

Untuk memasukkan adab dalam kurikulum di SD/MI , identifikasikan semua adab yang bisa dilakukan anak di sekolah. Kemudian disisipkan dalam semua materi pelajaran mulai dari kelas satu hingga kelas tiga. Sesuai dengan perkembangan usia. Semua guru mendapat peran untuk menghidupkan adab-adab tersebut baik ketika di kelas maupun di luar kelas. Sehingga ketika anak memasuki kelas empat mereka sudah menguasai semua adab yang diajarkan. Tinggal mengulang dan bisa memberi contoh bagi adik-adiknya. Anak-anak kelas empat tidak hanya bangga bisa memberi contoh bagi adik-adiknya tetapi juga menjadi kebanggaan menjalankan ibadah muamalah.||

*) Drs. Slamet Waltoyo, Kepala Sekolah MI Al-Kautsar, Cebongan Sleman
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya