Cerdas di Rumah : Merenungkan Komunikasi Kita Dengan Anak

google.com
Oleh M. Edy Susilo

Bila diamati secara mendalam, maka dapat diketahui bahwa kita tidak pernah berhenti berkomunikasi. Komunikasi terus dilakukan bahkan ketika kita diam. Dalam diam, orang masih bisa membaca ekspresi wajah, sorotan mata atau gesture kita.
Dalam kajian komunikasi, bagaimana menyampaikan pesan, tidak kalah penting dengan apa yang disampaikan. Dua buah kalimat yang sama, bisa memiliki makna yang berbeda jika diucapkan dengan cara yang berbeda.

Namun, justru karena  setiap saat dilakukan, kadang kita menjadi abai dengan komunikasi, termasuk ketika berkomunikasi dengan anak. Nah, berkomunikasi dengan anak lebih unik lagi karena mereka belum memiliki kompetensi komunikasi seperti halnya orang dewasa. Orang tua perlu memberi perhatian ekstra ketika berkomunikasi dengan anak.

Alih-alih lebih peduli, banyak orangtua yang menganggap sepele komunikasi dengan anak. Berikut ini adalah beberapa buktinya:

Pertama, penggunaan “nada dasar” yang terlalu tinggi. Nada suara yang tinggi, dalam banyak budaya, sering menimbulkan persepsi bahwa komunikator sedang marah, meskipun sebenarnya belum tentu. Apabila sedang mengobrol biasa saja nadanya sudah tinggi, bagaimana kalau sedang marah? Berbicara  dengan nada tinggi juga bisa “menular” pada orang lain, termasuk kepada anak. Mereka  akan belajar bahwa untuk menyampaikan sesuatu harus dilakukan dengan nada tinggi. Akibatnya, suasana rumah akan menjadi tidak nyaman, karena sebentar-sebentar terdengar lengkingan dan teriakan.

Kedua, penggunaan pesan verbal yang bertentangan dengan pesan nonverbal. Pada kondisi umum, pesan nonverbal biasanya melengkapi atau menegaskan pesan verbal. Tetapi ada kalanya orang menggunakan pesan verbal yang berlawanan dengan pesan nonverbal. Sebagai contoh, seorang ibu meminta anaknya untuk pergi ke masjid, namun cara menyampaikan, mimik muka, bahasa tubuh, terkesan tidak serius atau asal-asalan. Dalam kondisi itu, manakah yang akan diikuti oleh anak? Jangan kaget jika anak lebih percaya pada pesan nonverbal. Apalagi, ketika anak benar-benar tidak pergi ke masjid, tidak ada tindakan apa pun dari sang ibu.

Ketiga,  memberi respon negatif secara berlebihan dan jarang  atau tidak pernah memberi penguatan positif. Sebagai contoh, ketika anak-anak sedang bermain, orangtua sering khawatir dan berteriak, “Awas, awas, awas...”. “Jatuh, jatuh, jatuh.....”. Minimal ada tiga kata dalam satu ucapan.

Tetapi apakah orangtua juga akan memberikan penguatan positif ketika anak berperilaku yang baik atau berprestasi? Kenyataannya banyak orangtua yang pelit memberikan respon positif pada anak.  Bila timbangan respon negatif lebih berat dari dari pada respon positif, dan dalam jangka waktu yang lama, apa yang akan terjadi pada anak? Saya kira, pembaca lebih bijaksana untuk menjawab pertanyaan ini.

Keempat, melebih-lebihkan keadaan. Misalnya seorang ibu marah kepada anak-anaknya yang bermain di dapur. “Waduh, tumpah semua bumbu ibu. Lihat tuh, tuh, tuh....” teriaknya dengan muka tegang. Benarkah bumbunya tumpah semua? Jangan-jangan yang jatuh ke lantai cuma beberapa butir bawang  atau sejumput merica. Hal yang amat mudah dan cepat dirapikan kembali.

Ketika anak memecahkan gelas, orangtua menghardik, “Pecah lagi, pecah lagi. Habis sudah semua gelas kita...”. Sekali lagi, pertanyaannya, benarkah semua gelas sudah habis? Kemungkinan besar, tidak. Si orangtua hanya sedang memuaskan nafsu untuk memarahi anak. Di sini anak mendapat paling tidak dua hukuman, pertama perasaan takut karena telah memecahkan gelas; kedua, ia mendapat beban berat karena menjadi penyebab habisnya gelas-gelas di rumah itu.

Dalam agama Islam, ada banyak tuntunan bagaimana komunikasi yang baik. Salah satunya ada pada QS Thaha: 44, “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. Ayat ini turun ketika nabi Musa dan Harun hendak pergi untuk menemui Fir’aun yang kejam.

Kalau kepada sosok yang bengis saja, mereka diminta untuk berbicara dengan kata-kata yang lemah lembut, apalagi kalau kita berbicara kepada anak-anak yang masih polos? Wallahua’lam


*) M. Edy Susilo, Dosen Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta | Redaktur Majalah Fahma

Renungan : Amanat Mengelola Alam

Oleh R. Bagus Priyosembodo

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. 30:41).

Dalam berinteraksi dan mengelola alam serta lingkungan hidup itu, manusia secara umum mengemban tiga amanat dari Allah:
Pertama, al-intifa’ yaitu mengambil manfaat dan mendayagunakan hasil alam dengan sebaik-baiknya demi kemakmuran dan kemaslahatan.

Kedua, al-i’tibar yaitu manusia dituntut untuk senantiasa memikirkan dan menggali rahasia di balik ciptaan Allah seraya dapat mengambil pelajaran dari berbagai kejadian dan peristiwa alam.
Ketiga, al-islah yaitu manusia diwajibkan untuk terus menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan itu.


Allah Ta’ala telah memberikan fasilitas daya dukung lingkungan bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, dalam perspektif hukum Islam dapat dinyatakan bahwa status hukum pelestarian lingkungan adalah wajib. Dengan demikian, manusia dituntut untuk selalu membiasakan diri bersikap ramah terhadap lingkungannya.

*) R. Bagus Priyosembodo, Redaktur Ahli Majalah Fahma

Renungan : Kekuatan Lingkungan

Orang yang tidak biasa berbuat baik bisa berubah sangat rajin berbuat baik ketika dia berada di lingkungan orang-orang yang suka berbuat baik. Sebaliknya orang yang pada mulanya rajin berbuat baik bisa berubah total ketika berada di lingkungan orang-orang yang malas berbuat baik. Karen eitu, sangat penting kiranya bagi kita untuk memberikan lingkungan pergaulan yang baik bagi anak dan keluarga.


Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang itu akan mengikuti agama teman dekatnya (baca:lingkungan pergaulannya). Oleh karena itu hendaknya kalian perhatikan siapakah yang kalian jadikan sebagai teman dekatnya” (HR Abu Daud no 4833, dinilai hasan oleh al Albani).

Anak Sehat : Cara Pencegahan Stress pada Anak

google.com
Oleh Beta Haninditya

Pencegahan dan penanggulangan stess pada anak harus dilakukan sedini mungkin dengan cara-cara yang tepat. Jangan sampai tindakan yang diambil oleh orang tua, hanya menambah beban stress yang di derita oleh anak. Strategi pengendalian ini haruslah didasarkan pada tingkat perkembangan anak karena hal ini sangat berkaitan dengan kemampuan anak untuk mengerti dan memahami keadaan yang sedang mereka alami.

Sediakan lingkungan yang mendukung bagi anak dimana mereka dapat bermain atau mengekpresikan bakat seni mereka. Istirahat yang cukup dan nutrisi yang baik dapat menolong anak-anak dalam mengatasi stress.

Orangta juga harus bisa menyediakan waktu yang berkualitas dengan anak setiap hari. Biarkan anak mengutarakan masalah yang sedang dihadapi dan menuliskannya. Pada kesempatan ini anak diajak bermain bersama-sama atau berbicara dari hati ke hati tentang bebagai masalah yang dihadapi oleh mereka serta mencari jalan keluar bersama. Ajarkan anak untuk mentransfer strategi pengendalian stress kepada situasi yang lain. Dengan demikian mereka akan merasa bahwa mereka sangat berarti bagi orangtua mereka.

Bantu anak untuk mampu mengidentifikasi berbagai strategi penanggulangan stres (misalnya meminta pertolongan jika ada seseorang yang menggoda/mengganggu, mengatakan kepada mereka kalau kamu tidak menyukainya atau meninggalkan orang yang mengganggu). Menolong anak-anak untuk mengenal, menamai, menerima dan mengekspresikan perasaan mereka secara tepat.

Jangan membebani anak dengan masalah yang sedang dihadapi orang tua. Tetapi katakanlah kepada mereka tujuan hidup keluarga dan diskusikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dengan sikap yang menyenangkan. Berilah pujian pada anak ketika mereka melakukan hal-hal yang baik dan jangan lupa untuk memberikan pelukan dan ciuman.

Bagaimanapun juga, stress pada anak sangatlah beragam, sehingga cara pencegahan dan penanggulangannya harus disesuaikan dengan penyebabnya. Orangtua yang baik dan bijak hendaknya selalu belajar dan mencari referensi untuk mencegah stress yang berlarut-larut pada anak. Stress yang berlarut-larut akan merusak keprbadian anak. Sungguh suatu tindakan yang bijak dari orangtua, jika mengambil tindakan yang tepat sedini mungkin, untuk mencegah dan menanggulangi stress pada anak.

*) Beta Haninditya, Apoteker RSKIA Sadewa Sleman

Ikhlas Tak Berarti Ringan di Hati

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

 Ikhlas itu melakukan amal dan ibadah semata-mata untuk mencari wajah Allah Ta'ala; mengharap ridha-Nya sepenuh kerinduan. Amal yang kecil bernilai sangat besar bersebab niat ikhlas. Sebaliknya amal yang amat besar, tak bernilai sama sekali karena salah niat.

Ikhlas tidak berhubungan dengan berat-ringannya melakukan amal & ibadah. Meski sangat berat, jika mengerjakannya karena taat, itulah ikhlas. Ringannya hati bershadaqah bukan menandakan ikhlas. Sebaliknya meski amat berat terasa, jika ridha Allah Ta'ala tujuannya, itulah ikhlas. Inilah yang sering rancu atau bahkan dirancukan sehingga mendatangkan syubhat betapa mendidik niat seolah penghalang amal.

Amat banyak kita jumpai perkataan syubhat, "Lebih ikhlas mana sedekah 1000 dengan sedekah 10 juta?" Padahal ini bukan berkait dengan ikhlas. Ringan hati tidak menandakan ikhlasnya hati seseorang, sebagaimana beratnya perasaan bukan berarti niatnya tak bersih. Seseorang yang sedang sangat mengingini benda untuk dibeli, tapi membatalkan meski berat hati karena tahu ada amal yang lebih utama untuk kemuliaan agama ini, maka itulah ikhlas.

Sesungguhnya ta'at itu tak menuntut ringannya hati melaksanakan, tetapi bersihnya niat meskipun terasa sangat berat. Kita mungkin sangat tidak menyukai kewajiban itu, tetapi jika bersungguh-sungguh mengerjakan karena memuliakan perintah-Nya, itulah ikhlas.

Mari sejenak kita mengingat firman Allah Ta'ala:

ﻛُﺘِﺐَ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢُ ٱﻟْﻘِﺘَﺎﻝُ ﻭَﻫُﻮَ ﻛُﺮْﻩٌ ﻟَّﻜُﻢْ ۖ ﻭَﻋَﺴَﻰٰٓ ﺃَﻥ ﺗَﻜْﺮَﻫُﻮا۟ ﺷَﻴْـًٔﺎ ﻭَﻫُﻮَ ﺧَﻴْﺮٌ ﻟَّﻜُﻢْ ۖ ﻭَﻋَﺴَﻰٰٓ ﺃَﻥ ﺗُﺤِﺒُّﻮا۟ ﺷَﻴْـًٔﺎ ﻭَﻫُﻮَ ﺷَﺮٌّ ﻟَّﻜُﻢْ ۗ ﻭَٱﻟﻠَّﻪُ ﻳَﻌْﻠَﻢُ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﻻَ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ

"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah, 2: 216).

Maka, belajar mendidik niat sangat penting bagi kita. Inilah yang perlu terus menerus kita perbaiki agar tak rusak. Berkait mendidik niat, silakan baca kembali catatan saya di FB bertajuk Mendidik Niat. https://www.facebook.com/notes/mohammad-fauzil-adhim/mendidik-niat/486487501400383

Mengharap ridha-Nya berarti mengharap apa yang diperintahkan-Nya untuk kita harap; berusaha menyukai apa yang Allah Ta'ala sukai. Bagaimana mungkin kita mengharapkan ridha Allah Ta'ala sementara apa yang diperintahkan-Nya kita anggap rendah dan tak bernilai? Mengharap surga misalnya, itu justru bagian dari ikhlas.

Bersegera melakukan amal & ibadah untuk meraih ampunan Allah Ta'ala juga merupakan bagian dari ta'at dan taqwa. Dengan demikian, mengharap surga sama sekali bukan perusak keikhlasan. Ia justru mengokohkan. Ingatlah firman Allah subhanahu wa ta'ala:
  
ﻭَﺳَﺎﺭِﻋُﻮٓا۟ ﺇِﻟَﻰٰ ﻣَﻐْﻔِﺮَﺓٍ ﻣِّﻦ ﺭَّﺑِّﻜُﻢْ ﻭَﺟَﻨَّﺔٍ ﻋَﺮْﺿُﻬَﺎ ٱﻟﺴَّﻤَٰﻮَٰﺕُ ﻭَٱﻷَْﺭْﺽُ ﺃُﻋِﺪَّﺕْ ﻟِﻠْﻤُﺘَّﻘِﻴﻦَ

 "Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa." (QS. Ali Imran, 3: 133).

Bukankah firman Allah Ta'ala ini sudah sangat jelas?


Wallahu a'lam bish-shawab.

Sumber : Fanspage Mohammad Fauzil Adhim

Kisah Cerdas : Awan Menaungi Lelaki Pemfitnah

google.com
Oleh Laylatul Fajriyah

Seorang lelaki pemfitnah jatuh cinta pada gadis tetangganya sendiri. Suatu ketika keluarga si gadis memerintahkannya pergi ke suatu desa untuk suatu keperluan. Melihat si gadis itu hendak pergi, lelaki pemfitnah ini mengikutinya dari belakang. Ketika sampai di suatu tempat, lelaki itu merayunya. Akan tetapi si gadis menolak dengan alasan, “Janganlah kamu lakukan itu. Sebenarnya aku sangat mencintaimu melebihi cintamu padaku, tapi aku takut pada Allah,”

“Kau…, kau takut pada Allah? Kenapa aku tidak???” seru lelaki tersebut terperanjat.
Setelah berkata demikian, lelaki ini beringsut pulang hendak bertobat. Namun dalam perjalanan pulang, tenggorokannya tercekat oleh dahaga yang amat sangat. HIngga akhirnya, datang seorang nabi dari bani Isroil dan bertanya, “Ada apa denganmu?”

“Aku sangat kehausan,” jawabnya.

“Mari kita berdoa pada Allahagar diberi peneduh berupa awan yang memayungi hingga sampai ke sebuah desa,” kata sang nabi.

“Tapi aku tidak memiliki amal sholih apapun. Aku bahkan merasa tidak pantas untuk berdoa,” ujarnya.

“Jika demikian, biarkan aku yang berdoa, engkau yang mengaminkan,” seru sang nabi.
Kemudian, sang nabi pun berdoa dan diamini oleh si lelaki. Tak lama kemudian, Allah pun mendatangkan awan yang memayungi mereka hingga sampailah mereka ke sebuah tempat. Nabi dari bani Isroil ini merasa awan tersebut memayungi mereka karena hasil doa dan kesholihannya. Pun demikian dengan si lelaki yang berpikir awan tersebut datang karena dia dan barikah orang sholih yang membersamainya. Akan tetapi kala mereka berpisah, ternyata awan tersebut condong pada si lelaki tersebut.

Sang nabi pun berkata,”Tadi kamu yakin bahwa dirimu tidak memiliki amal apapun sehingga aku yang berdoa dan kamu yang mengaminkan hingga kita dipayungi awan. Tapi ternyata awan itu mengikutimu dan tidak mengikutiku. Aku ingin mengetahui sebenarnya apa yang terjadi terhadapmu?”

Sang lelaki tersebut pun menceritakan tentang keadaan dirinya. Usai mendengar ceritanya, sang nabi pun berujar, “Orang yang telah bertobat itu berada dalam satu tempat yang tidak dapat dimiliki orang lain,”

Sumber: Ibnu Qudamah al-Maqdisy, Mereka yang Kembali

*) Laylatul Fajriyah, Ibu rumah tangga


Makanan Cerdas : Daun Pandan

google.com
Oleh Ana Noorina

Daun pandan merupakan salah satu rempah-rempah yang sering digunakan sebagai penyedap rasa pada berbagai macam makanan. Daun pandan yang memiliki nama ilmiah pandanus amaryllifolius roxb merupakan tumbuhan yang memiliki aroma yang kuat bahkan menjadi bahan pokok pembuatan vanilli. Daun pandan memiliki bau yang enak sehingga dapat menghadirkan nuansa tenang.

Daun pandan memilki kandungan zat tannin bahkan memiliki beragam kandungan yang dapat dugunakan sebagai pengobatan herbal. Daun pandan identik dengan sesuatu daun yang wangi, penjang dan berwarna hijau. Dapat diguankan sebagai hiasan makanan ataupun campuran makanan.

Beragam manfaat daun pandan adalah membantu megatasi membasmi ketombee yang ada dikpala dengan cara menumbuk daun ini hingga lembut lalu dicampur dengan air dan disaring dan pada akhirnya dioleskan pada kepala. Daun pandan dapat menghitamkan ketombe, dapat menurunkan hipertensi ataun tekanan darah tinggi. Daun pandan juga dapat dihunakan sebagai penennag bagi orang yang mengalami banyak masalah atau stress.

Daun pandan sering digunakan untuk membuat hongkue, agar-agar, dan kolak sehingga menciptakan cita rasa yang tinggi dan aroma yang tajam. Selain itu daun padan dapat mengatasi rematik serta pegal linu. Manfaat daun pandan dapat meningkatkan nafsu makan bagi orang yang mengalami susah makan atau juga bisa digunakan untuk menambah rasa manis. Daun pandan juga merupakan apotek hidup karena memiliki berbagai kandungan yang dapat mengobati beragam penyakit seperti mengatasi lemah syaraf, rematik, pegel lini, dan penuaan dini.

Daun pandan dapat meningkatkan stamina dalam tubuh sehingga tubuh akan nampak lebih segar dan bugar. Daun pandan ini sangat baik bagi kesehatan kearena dapart merangsang nafsu makan sehingga proses metabolisme dalam tubuh dapat berjaalan dengan lancar dan mengalir dengan baik. Bagi yang memiliki penyakit hipertensi atau darah tinggi sangat disarankan untuk mengkonsumsi daun pandan ini dengan cara menambahkan pada masakan mereka araupun sebaggai campuran air pada saat akan mandi sehingga akan menimbulkan ketenangan dalam hati karena mencium aroma daun pandan yang lembut dan menenangkan jiwa.

*) Ana Noorina, Pemerhati gizi


Tips Cerdas : Membantu Anak Terampil Bersosialisasi

google.com
Oleh Nur Muthmainnah

Mendidik anak bersosialisasi sangatlah penting, Sebaiknya pembelajaran dilakukan sejak usia dini. Dengan bersosialisasi, banyak hal yang bisa mereka pelajari, seperti sikap toleransi, empati, saling berbagi dan sebagainya. Anak anak yang mampu bersosialisasi diharapkan akan tumbuh menjadi anak anak yang merasa aman dan tenteram bila berada di tengah tengah lingkungannya. Hal ini sangat diperlukan untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Namun demikian, mengingat usia anak yang masih dini, dimana fokus anak sebagian besar masih pada diri sendiri, maka sangat diperlukan peran orangtua dalam mendorong dan mengajak anak untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya.

Cara anak berinteraksi dengan lingkungan sekitar sangat bergantung pada pengaruh pola asuh dan hubungannya dengan ibu dan dan ayahnya. Hubungan hangat dapat diperkuat antara lain lewat berbagai aktivitas bersama dan tentu saja bermain. Berdasarkan penelitian, anak-anak yang sering bermain dengan orang tuanya terampil bergaul dengan teman-teman seusianya.
Orangtua yang hangat dan terampil bersosialisasi juga memiliki anak-anak yang suka tertawa dan mudah tersenyum. Sebagai orangtua, sebaiknya menghindari sikap suka mengritik selama anak bermain, dan bersikaplah responsif terhadap gagasan yang diajukannya.
Sebagai pemula, anak-anak butuh  arahan tentang cara memulai pertemanan. Beri petunjuk praktis tentang cara menyapa orang lain, memberi respon positif terhadap sapaan teman dan cara berinteraksi dalam kegiatan bermain bersama. Cara termudah, tentu saja, dengan memberi contoh.

Di usia berapa pun, ada baiknya kita paparkan contoh tata krama dan perilaku yang mendukung kegiatan bersosialiasi dengan orang-orang di sekitarnya. Salah satu keterampilan sosial yang juga penting diajarkan adalah cara memecahkan masalah, misalnya dengan bernegosiasi, dan berkompromi.

Maksimalkan interaksi positif anak dan teman-temannya saat bermain bersama di rumah, antara lain dengan menyediakan beragam material dan kegiatan. Apabila anak memiliki gagasan baru dan materialnya belum tersedia, Anda dapat membelinya terlebih dulu.

Ajak anak menyusun kegiatan yang dapat dilakukan bersama teman yang akan diundang. Buatlah daftar mainan dan material yang tersedia lalu susunlah kegiatan yang mungkin lakukan anak bersama temannya


Tips melatih anak bersosialisasi
ü Orangtua perlu mengasuh anak untuk mempelajari lingkungan sekitar yang bukan hanya rumah, melainkan juga lingkungan di luar rumah dan sekolah. Hal ini perlu supaya anak bersosialisasi dengan lingkungan sekitar yang dapat membantunya dalam beradaptasi.
ü Bekali anak dengan pengetahuan mengenai aturan-aturan sosial. Misalnya tidak boleh merebut mainan teman, minta maaf apabila berbuat kesalahan, minta ijin apabila ingin memakai barang teman, dan sebagainya. Aturan-aturan akan membuat anak bersosialisasi dengan baik serta benar.
ü Berikan contoh orangtua yang pandai bergaul, supel dan peka terhadap aturan sosial. Hal ini merupakan cara mengasuh anak yang baik untuk belajar bersosialisasi.
ü Sesekali ajak anak berbelanja ke pasar, kemudian ajarkan ia untuk belajar bertanya dengan sopan pada penjual atau melakukan transaksi jual beli. Hal ini selain bisa memberi pengalaman bagi anak, juga bisa melatih kepercayaan diri agar anak bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.
ü Maksimalkan interaksi positif anak dan teman-temannya saat bermain bersama di rumah. Ajak anak menyusun kegiatan yang dapat dilakukan bersama teman-teman sebayanya. Selain anak bersosialisasi, ia dapat memperkaya wawasannya.

*) Nur Muthmainnah, Pemerhati dunia anak


Memperbaiki Bacaan Sejak Kecil


Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Ada yang menarik dari kegiatan khatmil Qur'an di SDIT Salman Al-Farisi Yogyakarta. Ini bukanlah kegiatan membaca Al-Qur'an dari juz 1 hingga 30 dalam satu hari yang kadangkala diwarnai kebut-kebutan baca di sore hari sebagaimana dulu kerap saya dapati di kampung. Ini merupakan kegiatan ujian sekaligus syahadah bahwa seseorang telah dinyatakan mampu membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar sesuai kaidah membaca Al-Qur'an. Anak-anak dinyatakan lulus hanya jika mampu membaca dengan benar, tahu nama hukum bacaan dan mengerti hukum bacaan sebagaimana terdapat dalam ilmu tajwid.

Melalui mekanisme yang jelas, proses yang terjaga dan menerapkan standar tanpa toleransi (zero tolerance), anak menguasai bacaan dengan baik. Tak perlu terjadi anak gelagapan baca اللهِ sehingga terdengar awoh atau awloh di kelas atas SD jika sejak awal telah dijaga ketat bacaannya. Sebagian anak telah mampu membaca dengan tepat sebelum mereka bersekolah, meski belum sempurna, tapi bermasalah ketika sekolah tidak mengajarkan membaca dengan benar. 

Banyaknya jumlah murid di tiap angkatan bukanlah kendala untuk mengajari anak membaca dengan benar dan sempurna jika mekanisme ditegakkan. Mengajari membaca Al-Qur'an dengan benar semenjak awal memang tampak lambat, tapi sesudah menguasai, anak akan lebih asyik membaca. Di awal anak sangat mungkin ketinggalan jauh dibanding rekan-rekannya yang belajar membaca dengan prinsip asal lancar, tetapi sesudah itu anak akan lebih mudah membaca karena memahami prinsipnya dengan matang.

Mengoreksi bacaan ketika "lidah terlanjur kaku" jauh lebih sulit dibanding mengajari membaca dengan benar dan faham kaidah semenjak dini. Ketika pola yang salah sudah terbentuk, perlu kerja ekstra untuk meruntuhkan pola tersebut, lalu menata kembali agar mampu mengucapkan dengan benar. Dan perlu upaya lebih keras lagi untuk mampu merangkai serta mengucapkannya secara sempurna. Ini berbeda dengan mengajari membaca dengan benar dan sempurna sesuai kaidah. Ada kesulitan memang, tapi begitu anak mampu membacanya secara sempurna, ia akan mudah mempelajari serta membaca yang lebih kompleks. Lebih mudah pula baginya membaca beberapa bacaan yang gharib (keluar dari kaidah umum).

Ketika anak telah benar-benar mampu membaca sesuai kaidah, proses menghafal secara mandiri jauh mudah. Ini yang kadang dilupakan. Di luar itu, lebih banyaknya hafalan tidak sama dengan matangnya pemahaman dan kokohnya komitmen terhadap Al-Qur'anul Karim. Maka hal awal yang perlu dibekalkan kepada anak di saat kecil adalah kecintaan, keyakinan dan kemauan berpegang kokoh pada Al-Qur'an.

Al-Qur'an itu petunjuk bagi seluruh ummat manusia, penjelas dari petunjuk dan pembeda. Tapi tak semua dapat memperoleh petunjuk. Lalu siapa yang mendapatkan petunjuk itu? Allah Ta'ala kabarkan kepada kita di awal surat Al-Baqarah bahwa, orang-orang bertaqwalah yang memperoleh petunjuk Al-Qur'an. Salah satu cirinya iman kepada yang ghaib; meyakini sepenuhnya segala yang ada dalam Al-Qur'an, termasuk apa yang belum terjadi maupun yang sudah berlalu berabad-abad sebelum turunnya Al-Qur'an.
Inilah yang perlu diperhatikan dalam menanamkan Al-Qur'an dalam diri anak. Jika sekedar banyak hafalannya, khawatirilah mereka jadi munafik. Na'udzubillahi min dzaalik

Mari kita renungi sabda Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam tentang orang munafik:  “Kebanyakan orang munafik di tengah-tengah umatku adalah qurra’uha (penghafal Al-Qur'an).” (HR. Ahmad).

Lho? Apa sebabnya qurra' (penghafal Al-Qur'an) tersebut sampai tergelincir dalam kemunafikan? Mereka adalah orang-orang yang menghafalkan Al-Qur'an, tapi lalai mendidik niat dan menguati iman. Atau, mereka menghafalkan Al-Qur'an memang untuk tujuan dunia. Amat besar kemuliaan orang yang membaca Al-Qur'an, terlebih yang menghafalkannya. Tetapi jika salah niat atau tak mengimaninya, maka banyaknya hafalan tak membawanya kepada keselamatan. Itu sebabnya mendidik niat dan memperbaiki iman perlu kita perhatikan, terlebih saat anak kita masih belia.

*) Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku ‘Segenggam Iman Anak Kita’

Seorang Ayah, di Lapis Berkah

google.com
Oleh Salim Afillah

Di lapis-lapis keberkahan, mari sejenak belajar dari seorang ayah, budak penggembala kambing yang bertubuh kurus, berkulit hitam, berhidung pesek, dan berkaki kecil. Tetapi manusia menggelar hamparan mereka baginya, membuka pintu mereka selebar-lebarnya, dan berdesak-desak demi menyimak kata-kata hikmahnya. Dia, Luqman ibn ‘Anqa’ ibn Sadun, yang digelari Al Hakim.

Seseorang pernah bertanya kepadanya, “Apa yang telah membuatmu mencapai kedudukan serupa ini?”

“Aku tahan pandanganku”, jawab Luqman, “Aku jaga lisanku, aku perhatikan makananku, aku pelihara kemaluanku, aku berkata jujur, aku menunaikan janji, aku hormati tamu, aku pedulikan tetanggaku, dan aku tinggalkan segala yang tak bermanfaat bagiku.”

“Dia tak diberikan anugrah berupa nasab, kehormatan, harta, atau jabatan”, ujar Abud Darda’ Radhiyallahu ‘Anhu ketika menceritakan Luqman Al Hakim. “Akan tetapi dia adalah seorang yang tangguh, pendiam, pemikir, dan berpandangan mendalam. Dia tidak pernah terlihat oleh orang lain dalam keadaan tidur siang, meludah, berdahak, kencing, berak, menganggur, maupun tertawa seenaknya. Dia tak pernah mengulang kata-katanya, kecuali ucapan hikmah yang diminta penyebutannya kembali oleh orang lain.”

“Dan Kami telah mengaruniakan hikmah kepada Luqman, bahwasanya hendaklah engkau bersyukur kepada Allah. Dan barangsiapa bersyukur, maka hanyasanya dia bersyukur bagi dirinya. Dan barangsiapa mengkufuri nikmat, sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuja.” (QS Luqman [31]: 12)

“Hikmah”, tulis Imam Ibn Katsir dalam Tafsirnya, “Yakni pengetahuan, pemahaman, dan daya untuk mengambil pelajaran.” Inilah yang menjadikan Luqman berlimpah kebijaksanaan dalam kata maupun laku. Tetapi setinggi-tinggi hikmah itu adalah kemampuan Luqman untuk bersyukur dan kepandaiannya untuk mengungkapkan terimakasih.

“Kemampuan untuk mensyukuri suatu nikmat”, ujar ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, “Adalah nikmat yang jauh lebih besar daripada nikmat yang disyukuri itu.” Dan pada Luqman, Allah mengaruniakannya hingga dia memahami hakikat kesyukuran secara mendalam. Bersyukur kepada Allah berarti mengambil maslahat, manfaat, dan tambahan nikmat yang berlipat-lipat bagi diri kita sendiri. Bersyukur kepada Allah seperti menuangkan air pada bejana yang penuh, lalu dari wadah itu tumpah ruah bagi kita minuman yang lebih lembut dari susu, lebih manis dari madu, lebih sejuk dari salju.

Adapun bagi yang mengkufuri Allah, adalah Dia Maha Kaya, tidak berhajat sama sekali pada para hambaNya, tidak memerlukan sama sekali ungkapan syukur mereka, dan tidak membutuhkan sama sekali balasan dari mereka. Lagi pula Dia Maha Terpuji, yang pujian padaNya dari makhluq tidaklah menambah pada kemahasempurnaanNya, yang kedurhakaan dari segenap ciptaanNya tidaklah mengurangi keagunganNya.

Maka Luqman adalah ahli syukur yang sempurna syukurnya kepada Allah. Dia mengakui segala nikmat Allah yang dianugrahkan padanya dan memujiNya atas karunia-karunia itu. Dia juga mempergunakan segala nikmat itu di jalan yang diridhai Allah. Dan dia pula berbagi atas nikmat itu kepada sesama sehingga menjadikannya kemanfaatan yang luas.

“Seseorang yang tidak pandai mensyukuri manusia”, demikian Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits riwayat Imam At Tirmidzi, “Sungguh dia belum bersyukur kepada Allah.” Maka asas di dalam mendidik dan mewariskan nilai kebaikan kepada anak-anak sebakda bersyukur kepada Allah sebagai pemberi karunia adalah bersyukur kepada sang karunia, yakni diri para bocah yang manis itu.

Di lapis-lapis keberkahan, rasa syukur yang diungkapkan kepada anak-anak kita adalah bagian dari bersusun-susun rasa surga dalam serumah keluarga.
“Nak, sungguh kami benar-benar beruntung ketika Allah mengaruniakan engkau sebagai buah hati, penyejuk mata, dan pewaris bagi kami. Nak, betapa kami sangat berbahagia, sebab engkaulah karunia Allah yang akan menyempurnakan pengabdian kami sebagai hambaNya dengan mendidikmu. Nak, bukan buatan kami amat bersyukur, sebab doa-doamulah yang nanti akan menyelamatkan kami dan memuliakan di dalam surga.”

Inilah Rasulullah yang mencontohkan pada kita ungkapan syukur itu bukan hanya dalam kata-kata, melainkan juga perbuatan mesra. “Ya Rasulallah, apakah kau mencium anak-anak kecil itu dan bercanda bersama mereka?”, tanya Al Aqra’ ibn Habis, pemuka Bani Tamim ketika menghadap beliau yang sedang direriung oleh cucu-cucu Baginda.

“Mereka adalah wewangian surga, yang Allah karuniakan pada kita di dunia”, jawab beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sembari tersenyum.

“Adalah aku”, sahut Al Aqra’ ibn Habis, “Memiliki sepuluh anak. Dan tak satupun di antara mereka pernah kucium.”

“Apa dayaku jika Allah telah mencabut rahmatNya dari hatimu? Barangsiapa yang tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi.”

“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya dan dia sedang memberi pengajaran kepadanya, ‘Duhai anakku tersayang, janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya kesyirikan adalah kezhaliman yang besar.” (QS Luqman [31]: 13)

Dengarlah Luqman memanggil putranya, Tsaran ibn Luqman dengan sapaan penuh cinta, “Ya Bunayya.. Anakku tersayang.” Alangkah besar hal yang akan dia ajarkan. Betapa agung nilai yang akan dia wariskan. Yakni tauhid. Bahwa Allah adalah Rabb, Dzat  yang telah mencipta, mengaruniakan rizqi, memelihara, memiliki, dan mengatur segala urusannya. Maka mempersekutukan Dia; dalam ibadah, pengabdian, dan ketaatan adalah sebuah kezhaliman yang besar.

Kenalkanlah Allah pada anak-anak kita sejak seawal-awalnya, dengan cara yang paling pantas bagi keagungan dan kemuliaanNya. Kenalkanlah Allah pada anak-anak kita dari semula-mulanya, dengan kalimat yang paling layak bagi kesucian dan keluhuranNya. Kenalkanlah Allah pada anak-anak kita mulai sepangkal-pangkalnya, dengan ungkapan dan permisalan yang paling sesuai bagi kesempurnaan dan kebesaranNya.

Sebab janji kehambaan seorang makhluq telah diikrarkan sejak di alam ruh, maka membisikkan tauhid ke dalam kandungan, melirihkannya pada telinga sang bayi dalam buaian, atau menyenandungkannya sebagai pengajaran adalah baik adanya.

“Dan Kami wasiatkan kepada manusia kebaikan terhadap kedua orangtuanya; ibunya yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, ‘Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orangtuamu. KepadaKulah tempat kembalimu.”(QS Luqman [31]: 14)

Maha Mulia-lah Dzat yang dalam pembicaraan tentang keesaanNya dari pengajaran seorang ayah kepada putra, Dia meminta perhatian sejenak tentang hak kedua orangtua. Maha Agung-lah Dzat yang dalam penuturan tentang ketauhidanNya dari wasiat seorang bapak kepada anak, Dia mengingatkan kita tentang kebaikan yang wajib kita tanggung terhadap sosok yang telah mengandung, melahirkan, mendidik, dan menumbuhkan kita.

Sesungguhnya lisan perbuatan jauh lebih fasih daripada lisan perucapan. Maka apa yang dilihat oleh anak-anak kita akan terrekam lebih kokoh di dalam benak dan jiwa mereka dibanding semua kata-kata yang coba kita ajarkan padanya. Maka siapapun yang merindukan anak berbakti bakda ketaatannya kepada Allah, bagaimana dia memperlakukan kedua orangtua adalah cermin bagaimana kelak putra-putrinya berkhidmat kala usia telah menua.

Allah menyatukan antara kesyukuran padaNya dengan kesyukuran pada orangtua, sebab melalui ayah dan ibulah Dia mencipta kita, memelihara, mengaruniakan rizqi, serta mengatur urusan. Ayah dan ibu adalah sarana terjadinya kita, terjaganya, tercukupi keperluannya, serta tertata keadaannya. Maka Allah menganugerahkan kehormatan kepada mereka dengan doa yang indah, “Rabbighfirli wa li walidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tiada pengetahuan bagimu terhadapnya, maka janganlah kau taati keduanya. Dan persahabatilah mereka berdua di dunia dengan baik. Dan ikutilah jalan orang yang kembali bertaubat kepadaKu, kemudian hanya kepadaKulah tempat pulang kalian, maka akan Kuberitakan pada kalian apa-apa yang telah kalian kerjakan.” (QS Luqman [31]: 15)

Allah memberikan batas yang jelas tentang bakti kepada orangtua, yakni lagi-lagi tauhid itu sendiri. Tidak ada ketaatan kepada makhluq, siapapun dia, semulia apapun dia, dalam rangka bermaksiat kepada Al Khaliq. Tapi berbedanya keyakinan orangtua yang masih musyrik dengan kita yang mengesakan Allah sama sekali tak menggugurkan perlakuan yang patut dan sikap bakti yang terpuji terhadap mereka.

Jalan untuk menjadi orangtua yang mampu mendidik anaknya juga hendaknya mengikuti jalan orang-orang yang bertaubat nashuha. Sebab tak ada yang suci dari dosa selain Sang Nabi, maka sebaik-baik insan adalah yang menyesali salah, memohon ampun atasnya, memohon maaf kepada sesama, serta berbenah memperbaiki diri. Pun demikian terhadap anak-anak kita.

Banyakkan istighfar atas ucapan dan perlakuan kepada putra-putri kita. Jangan malu mengakui kekhilafan dan meminta maaf kepada mereka. Teruslah memperbaiki diri dengan ilmu dan pemahaman utuh bagaimana seharusnya menjadi seorang Ayah dan Ibu yang amanah. Sebab kelak, ketika seluruh ‘amal kita kembali tertampak, Allah pasti menanyakan segenap nikmat yang telah kita kecap, dan meminta pertanggungjawaban atas segala perbuatan. Pada hari itu, seorang anak yang tak dipenuhi hak-haknya oleh orangtua untuk mendapatkan ibunda yang baik, lingkungan yang baik, nama yang baik, serta pengajaran adab yang baik; berwenang untuk menggugat mereka.

“Duhai anakku tersayang, sungguh seandainya ada sesuatu yang seberat timbangan biji sawi tersembunyi di dalam sebuah batu, atau di lapis-lapis langit, atau di petala bumi; niscaya Allah akan mendatangkan balasannya. Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Tahu.” (QS Luqman [31]: 16)

Luqman melanjutkan pengajarannya dengan menjelaskan hakikat ‘amal baik dan buruk serta dasar dorongan beramal yang sejati. Ini dilakukannya sebelum memberi perintah tentang ‘amal shalih di kalimat berikutnya. Sungguh, menanamkan pada anak-anak kita bahwa Allah senantiasa ada, bersama, melihat, mendengar, mengawasi, dan mencatat perbuatan dan keadaan mereka, jauh lebih penting dibanding perintah ‘amal itu sendiri.

Sungguh memahamkan pada anak bahwa Allah-lah yang senantiasa hadir di setiap ‘amal maupun hal, bahwa Dia Maha Mengetahui segala yang tampak maupun tersembunyi, yang mereka lakukan kala ramai bersama maupun sunyi sendiri, adalah dasar terpenting sebelum memerintahkan kebajikan dan melarang dari kemunkaran. Dan bahwa Allah akan membalas semua itu dengan balasan yang setimpal dan sempurna.

Penting bagi kita untuk mengatakan pada mereka, “Nak, Ayah dan Ibu tak selalu bias bersamamu dan mengawasimu, tapi Allah senantiasa dekat dan mencatat perbuatanmu. Dia Maha Melihat dan Maha Mendengar. Jangan takut kalau kamu berlaku benar dan berbuat baik, sebab Dia akan selalu menolongmu. Jangan khawatir ketika kamu berlaku benar dan berbuat baik, sebab sekecil apapun ‘amal shalihmu, meski Ayah dan Ibu serta Gurumu tak tahu, tak dapat memuji maupun memberikan hadiah padamu; tetapi Allah selalu hadir dan balasan ganjaran dari Allah jauh lebih baik dari segala hal yang dapat diberikan oleh Ayah dan Ibu.”

“Demikian pula Nak, jika kamu berbuat keburukan atau berbohong, sekecil apapun itu, meski Ayah, Ibu, maupun Ustadzmu tak menyadarinya, sungguh Allah pasti tahu. Dialah Dzat yang tiada satu halpun lepas dari pengetahuan dan kuasaNya, hatta daun yang jatuh dan langkah seekor semut di malam gulita. Dan Allah juga pasti memberi balasan yang adil pada setiap kedurhakaan padaNya, juga atas keburukan yang kamu lakukan pada Ayah, Ibu, dan sesama manusia lainnya.”
Inilah dia pokok-pokok pengajaran; dari sejak rasa syukur, tauhid, bakti kepada orangtua, taubat, hingga pemahaman akan hakikat ‘amal di hadapan Allah. Ianya harus menjadi perhatian setiap orangtua bahkan sebelum memerintahkan ‘amal terpenting di hidup anak-anak mereka yang akan dihisab pertama kalinya, yakni shalat. Kini kita tepekur menganggukkan kepala, mengapa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberi arahan agar kita memerintahkan shalat kepada anak barulah ketika dia berumur tujuh, dan barulah orangtua diizinkan memberi pukulan yang tidak menyakitkan dan tidak menghinakan pada umur sepuluh tahun ketika anaknya menolak shalat.
Sebab sebelum tujuh tahun, ada hal-hal jauh lebih besar yang harus lebih didahulukan untuk ditanamkan padanya.

“Duhai anakku tersayang, tegakkanlah shalat, perintahkanlah yang ma’ruf, cegahlah dari yang munkar, dan bersabarlah atas apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara-perkara yang ditekankan.” (QS Luqman [31]: 17)

“Dirikanlah shalat dengan menegakkan batas-batasnya”, tulis Imam Ibn Katsir dalam Tafsirnya, “Menunaikan fardhu-fardhunya, serta menjaga waktu-waktunya.” Shalat yang mencegah perbuatan keji dan munkar pada diri selayaknya diikuti tindakan untuk mengajak dan menjaga manusia supaya tetap berada di dalam kebaikan dan terjauhkan dari keburukan. Shalat yang kita ajarkan pada anak-anak kita sudah selayaknya membentuk jiwa dakwah yang tangguh pada dirinya, hingga dia mampu bersabar atas segala yang menimpanya di dalam beriman, berislam, berihsan, berilmu, dan berdakwah.

“Dan janganlah engkau memalingkan muka dari manusia serta jangan berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah engkau dalam berjalan, serta tahanlah sebagian suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (QS Luqman [31]: 18-19)

Kata “Ash Sha’r”, menurut Imam Ath Thabari asalnya bermakna penyakit yang menimpa tengkuk seekor unta sehingga kepala dan punuknya melekat dengan wajah yang terangkat ke atas lagi bergerak ke kiri dan ke kanan di kala berjalan. Luqman melarang putranya dari mengangkat wajah dan memalingkan muka semacam itu dengan rasa sombong yang berjangkit di hati.

Inilah buah dari iman, ilmu, ‘amal, dan dakwah dari seorang putra yang dididik oleh ayahnya. Ialah akhlaq yang indah kepada sesama, berpangkal dari lenyapnya rasa angkuh dalam dada sebab mengenal dirinya dan merundukkan diri karena tahu bahwa dia hanya salah satu makhluq Allah yang memiliki banyak kelemahan serta kesalahan. Inilah akhlaq itu, yakni saripati yang manis, harum, dan lembut dari buah pohon yang akarnya kokoh menghunjam, batangnya tegak menjulang, dan cecabangnya rimbun menggapai langit.

Dan akhirnya, akhlaq itu disuguhkan dalam tampilan yang paling menawan berupa terjaganya Adab dengan cara berjalan yang sopan dan patut serta cara bicara yang lembut dan santun. Inilah pengajaran sempurna dari Luqman kepada putranya, digenapi dengan panduan mengejawantahkan akhlaq menjadi adab. Akhlaq adalah nilai kokoh yang menetap dalam jiwa. Adab mengenal zaman dan tempat yang bertepatan baginya.

Inilah bersusun-susun rasa surga di serumah keluarga, teladan dari Luqman dalam mewariskan nilai-nilai kebajikan pada anaknya, di lapis-lapis keberkahan yang penuh cinta

*)Salim Afillah, Penulis Buku. Twitter @salimafillah

Sumber Tulisan : www.salimafillah.com

Anak Cerdas karena Keshalihan Ayah

google.com
Oleh Sholih Hasyim

AL HAFIDZ AHMAD BIN SHIDDIQ AL GHUMARI waktu awal menuntut ilmu di Al Azhar, ia amat cepat memahami kitab-kitab yang ia baca di hadapan para gurunya. Sehingga dalam waktu singkat ia sudah mengkaji kitab-kitab tingkat tinggi.
Sampai pada suatu saat, sang guru Syeikh Muhammad Imam Saqqa yang saat itu menjabat sebagai imam masjid Al Azhar mengatakan kepada Syeikh Ahmad bin Shiddq Al Ghumari,”Ayahmu pasti laki-laki yang shalih. Yang terjadi padamu ini adalah keberkahannya tanpa diragukan. Sesungguhnya kami tidak mengetahui ada yang mampu berpindah kepada buku tingkatan tinggi dengan secepat ini. Sesungguhnya penuntut ilmu yang ada pada kami tidak akan menghadiri kajian Al Asymuni atau Ash Shaban, kecuali setelah mempelajari nahwu selama 6 tahun serta telah membaca Al Ajrumiyah dan Al Qathr lantas mengulang-ulanginya. Sedangkan engkau sudah naik kepadanya dalam waktu hanya tiga bulan”. (Bahr Al Amiq, 1/ 60-61).

*) Ust. Sholih Hasyim, Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Kudus, Anggota Majelis Syura Hidayatullah

Sumber  Tulisan : www.hidayatullah.com