» » Berhati-hati dengan Kecanduan Media

Berhati-hati dengan Kecanduan Media

Penulis By on Wednesday, September 10, 2014 | No comments

foto google
Oleh Irwan Nuryana Kurniawan

Apakah menonton TV atau main komputer adalah hal pertama yang ingin dilakukan anak Anda setelah bangun dari tidurnya? Apakah anak Anda lebih suka sendirian di depan layar kaca daripada harus bersama keluarga atau teman? Apakah anak Anda terlihat sangat tidak senang kalau jauh dari layar kaca? Apakah anak Anda terlihat selalu memikirkan layar kaca? Apakah anak Anda mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian pada hal lain selain kegiatan main game computer dan menonton TV? Apakah anak Anda mengalami kesulitan dalam menyelesaikan kegiatan yang bukan menonton TV atau main computer? Apakah anak Anda harus menonton TV dan main computer terlebih dahulu sebelum tidur?

Jika semua jawaban atas pertanyaan tersebut adalah ya, bahkan kalau dibuat lebih rinci jawabannya menjadi “selalu” atau “sering” demikian, tampaknya kita perlu lebih berhati-hati terhadap konsumsi media anak-anak kita.  Anak-anak zaman sekarang yang hidup di abad digital besar kemungkinannya untuk mengalami apa yang disebut para ahli sebagai Kecanduan TV/Telepon Seluler/Internet/Game Komputer (Online)/Play Station dan kawan-kawannya.

Orange & O’Flynn (2005) menemukan bahwa sebagian media memberikan ancaman kecanduan yang lebih besar dari media lain. Mereka menemukan game komputer sebagai media yang paling kuat memberi dampak kecanduan dan para orang tua mengaku lebih sulit mengendalikan hubungan anak mereka dengan computer—terutama game computer—daripada dengan TV. Kalau melihat sifat game computer, hal tersebut memang tidaklah mengherankan. Sebagian besar game dirancang sedemikian rupa sehingga pelakunya selalu memiliki alasan untuk kembali ke game—untuk meraih nilai yang lebih tinggi, untuk naik ke tingkat berikutnya, menyelesaikan lomba dengan lebih cepat, atau sekedar melakukan sesuatu dengan lebih baik. Game itu interaktif dan kompetitif. Game membuat pelakunya merasa harus menang dan mereka lebih agresif.
Orange & O’Flynn (2005) menyarankan langkah pertama yang bisa dilakukan oleh orangtua untuk mencegah kecanduan media adalah membatasi waktu yang dihabiskan anak-anak untuk menghibur diri di depan TV atau computer. Mereka merekomendasikan waktu hiburan layar kaca selama “dua jam” sebagai batasan tertinggi untuk porsi harian sepanjang tahun. Langkah selanjutnya adalah menjadi orangtua yang paham media sehingga waktu media anak Anda menjadi waktu yang berkualitas.

Menjadi orangtua paham media tidaklah sekedar melihat pada program dan memutuskan apakah Anda suka melihat program tersebut atau tidak. Orangtua paham media perlu juga mengamati bagaimana tanggapan anak terhadap program yang mereka lihat. Sebuah tanggapan positif dari anak menunjukkan waktu media yang berkualitas. Hal yang bagus untuk satu anak mungkin buruk untuk anak yang lain. Sejumlah anak mungkin menirukan aksi Power Rangers, sementara yang lain mungkin tidak. Sejumlah anak mungkin meniru cara bicara kasar dari The Simpsons, sementara yang lain hanya duduk dan menikmati kelucuan tersebut. Orangtua perlu mengembangkan “antenna media” sendiri.


*) Irwan Nuryana Kurniawan, Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya