» » Cerdas di Rumah : Merenungkan Komunikasi Kita Dengan Anak

Cerdas di Rumah : Merenungkan Komunikasi Kita Dengan Anak

Penulis By on Tuesday, September 30, 2014 | No comments

google.com
Oleh M. Edy Susilo

Bila diamati secara mendalam, maka dapat diketahui bahwa kita tidak pernah berhenti berkomunikasi. Komunikasi terus dilakukan bahkan ketika kita diam. Dalam diam, orang masih bisa membaca ekspresi wajah, sorotan mata atau gesture kita.
Dalam kajian komunikasi, bagaimana menyampaikan pesan, tidak kalah penting dengan apa yang disampaikan. Dua buah kalimat yang sama, bisa memiliki makna yang berbeda jika diucapkan dengan cara yang berbeda.

Namun, justru karena  setiap saat dilakukan, kadang kita menjadi abai dengan komunikasi, termasuk ketika berkomunikasi dengan anak. Nah, berkomunikasi dengan anak lebih unik lagi karena mereka belum memiliki kompetensi komunikasi seperti halnya orang dewasa. Orang tua perlu memberi perhatian ekstra ketika berkomunikasi dengan anak.

Alih-alih lebih peduli, banyak orangtua yang menganggap sepele komunikasi dengan anak. Berikut ini adalah beberapa buktinya:

Pertama, penggunaan “nada dasar” yang terlalu tinggi. Nada suara yang tinggi, dalam banyak budaya, sering menimbulkan persepsi bahwa komunikator sedang marah, meskipun sebenarnya belum tentu. Apabila sedang mengobrol biasa saja nadanya sudah tinggi, bagaimana kalau sedang marah? Berbicara  dengan nada tinggi juga bisa “menular” pada orang lain, termasuk kepada anak. Mereka  akan belajar bahwa untuk menyampaikan sesuatu harus dilakukan dengan nada tinggi. Akibatnya, suasana rumah akan menjadi tidak nyaman, karena sebentar-sebentar terdengar lengkingan dan teriakan.

Kedua, penggunaan pesan verbal yang bertentangan dengan pesan nonverbal. Pada kondisi umum, pesan nonverbal biasanya melengkapi atau menegaskan pesan verbal. Tetapi ada kalanya orang menggunakan pesan verbal yang berlawanan dengan pesan nonverbal. Sebagai contoh, seorang ibu meminta anaknya untuk pergi ke masjid, namun cara menyampaikan, mimik muka, bahasa tubuh, terkesan tidak serius atau asal-asalan. Dalam kondisi itu, manakah yang akan diikuti oleh anak? Jangan kaget jika anak lebih percaya pada pesan nonverbal. Apalagi, ketika anak benar-benar tidak pergi ke masjid, tidak ada tindakan apa pun dari sang ibu.

Ketiga,  memberi respon negatif secara berlebihan dan jarang  atau tidak pernah memberi penguatan positif. Sebagai contoh, ketika anak-anak sedang bermain, orangtua sering khawatir dan berteriak, “Awas, awas, awas...”. “Jatuh, jatuh, jatuh.....”. Minimal ada tiga kata dalam satu ucapan.

Tetapi apakah orangtua juga akan memberikan penguatan positif ketika anak berperilaku yang baik atau berprestasi? Kenyataannya banyak orangtua yang pelit memberikan respon positif pada anak.  Bila timbangan respon negatif lebih berat dari dari pada respon positif, dan dalam jangka waktu yang lama, apa yang akan terjadi pada anak? Saya kira, pembaca lebih bijaksana untuk menjawab pertanyaan ini.

Keempat, melebih-lebihkan keadaan. Misalnya seorang ibu marah kepada anak-anaknya yang bermain di dapur. “Waduh, tumpah semua bumbu ibu. Lihat tuh, tuh, tuh....” teriaknya dengan muka tegang. Benarkah bumbunya tumpah semua? Jangan-jangan yang jatuh ke lantai cuma beberapa butir bawang  atau sejumput merica. Hal yang amat mudah dan cepat dirapikan kembali.

Ketika anak memecahkan gelas, orangtua menghardik, “Pecah lagi, pecah lagi. Habis sudah semua gelas kita...”. Sekali lagi, pertanyaannya, benarkah semua gelas sudah habis? Kemungkinan besar, tidak. Si orangtua hanya sedang memuaskan nafsu untuk memarahi anak. Di sini anak mendapat paling tidak dua hukuman, pertama perasaan takut karena telah memecahkan gelas; kedua, ia mendapat beban berat karena menjadi penyebab habisnya gelas-gelas di rumah itu.

Dalam agama Islam, ada banyak tuntunan bagaimana komunikasi yang baik. Salah satunya ada pada QS Thaha: 44, “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. Ayat ini turun ketika nabi Musa dan Harun hendak pergi untuk menemui Fir’aun yang kejam.

Kalau kepada sosok yang bengis saja, mereka diminta untuk berbicara dengan kata-kata yang lemah lembut, apalagi kalau kita berbicara kepada anak-anak yang masih polos? Wallahua’lam


*) M. Edy Susilo, Dosen Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional Yogyakarta | Redaktur Majalah Fahma
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya