» » » Mensikapi Media Sosial

Mensikapi Media Sosial

Penulis By on Thursday, September 18, 2014 | No comments

google.com
Oleh Irwan Nuryana Kurniawan

Media sosial, semacam Facebook, Twitter, WhatsApp, Shelfari, Moshi Monsters, Club Penguin, The SIMS—situs game online dan jaringan sosial—terus menerus bermunculan. Kehadiran media sosial dalam kehidupan anak-anak zaman sekarang bahkan muncul lebih awal, sebelum mereka menapaki masa remaja.

Sebuah laporan penelitian yang dipublikasikan American Academy of Pediatrics (AAP) pada tahun 2011 menunjukkan bahwa anak-anak berusia antara 8-12 tahun semakin banyak bersosialisasi secara online daripada di rumah teman atau di mall. Meskipun Facebook dan sejumlah situs lainnya menetapkan batasan usia—secara teknis misalnya seseorang tidak bisa memiliki akun pribadi sebelum dia berusia 13 tahun—sebanyak 30% orangtua mengakui bahwa  mereka mengizinkan anak-anak mereka yang berusia antara 8-12 tahun untuk memiliki akun pribadi. Kecenderungan ini, menurut AAP, terus berlanjut: lebih dari 50% remaja mengunjungi media sosial lebih dari sekali dalam sehari dan 75% mereka memiliki handphone, yang seringkali untuk menuliskan dan mengirimkan pesan singkat.

O’Keeffe & Clarke-Pearson (2011) dalam studinya menemukan bahwa meskipun ada sejumlah manfaat positif media sosial bagi anak-anak dan remaja,  misalnya meningkatnya komunikasi, akses informasi, dan bantuan dalam pengembangan diri, juga terdapat dampak buruk perlu disikapi dengan serius dan tepat. Mereka menemukan anak-anak berusia 13 sampai 19 tahun mengunjungi media sosial favorit mereka lebih dari 10 kali dalam sehari dan hal tersebut mempertinggi resiko mereka mengalami/menjadi korban cyberbullying (dengan sengaja menggunakan media digital untuk mengkomunikasikan informasi yang salah, memalukan, atau bernada menyerang atau permusuhan tentang seseorang), “Facebook depression” (sebuah fenomena baru di mana anak-anak dan remaja yang menghabiskan sebagian besar waktu mereka di media sosial mengalami gejala-gejala klasik depresi, sebagian karena “de-friending”—dikeluarkan dari daftar teman yang ada dalam media sosial), terpapar informasi yang tidak pantas mereka terima, termasuk informasi seksual.

Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua mensikapi media sosial, sehingga anak-anak mendapatkan kemanfaatan yang maksimal dari penggunaan media sosial. Pertama, orangtua perlu membekali diri dengan penguasaan teknologi terkait sehingga mereka tahu bagaimana membuat akun dan profil di media sosial, mengundang anak mereka menjadi teman di media sosial, dan menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan online anak-anak mereka. Mereka mungkin akan “memaksa” orangtua, melakukan kompromi, untuk tidak memposting sesuatu yang membuat mereka malu di mata teman-temannya. Yang terpenting dalam langkah ini adalah orangtua memiliki ‘jendela’ untuk masuk dan mengenali lebih jauh kehidupan dan dunia anak-anak mereka. Kedua, orangtua perlu menjadi teladan. Jika orangtua terus menerus menggunakan media sosial di handphone atau komputer, maka anak-anak juga akan menginginkan hal yang sama. Orangtua perlu membatasi dirinya dalam hal penggunaan media sosial, sehingga mereka bisa membantu anak-anak mereka menemukan keseimbangan dalam hal penggunaan media sosil.

Ketiga, orangtua perlu membuat dan menegakan aturan. Sebagai contoh, pastikan jam makan dan jam tidur adalah saat-saat yang steril dari pemakaian media sosial. Anak-anak dan remaja seringkali tidak mendapatkan waktu tidur yang mencukupi karena mereka masih terjaga, menggunakan media sosial secara online. Pastikan komputer yang digunakan anak-anak untuk mengakses media sosial terletak di tengah-tengah ruang keluarga, sehingga orangtua setiap saat bisa mengecek situs-situs media sosial yang diakses mereka dan mengetahui berapa lama waktu yang mereka habiskan. 

Keempat, orangtua perlu berkomunikasi langsung dengan anak-anak mereka. Jangan terlalu mengandalkan pada komunikasi virtual untuk mengetahui informasi terkini apa yang dilakukan anak-anak. Hindari bergosip dan memposting sesuatu yang tidak benar atau berpotensi menyakiti dan mempermalukan orang lain. Yakinkan dan ingatkan anak-anak bahwa tidak adanya kebijakan online yang benar-benar mampu melindungi privasi mereka—setiap email, tulisan, pesan singkat meninggalkan rekam jejak digital, yang di masa mendatang mungkin bisa diketahui oleh pihak-pihak yang membutuhkan. Pastikan anak-anak untuk tidak memberikan informasi-informasi  yang bersifat pribadi dan sudah banyak bukti disalahgunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab dan anak-anak dan remaja menjadi korban kekerasan fisik, seksual, dan psikologis.


*) Irwan Nuryana Kurniawan, Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya