» » Sandal Jepit Plastik dan Layang-layang

Sandal Jepit Plastik dan Layang-layang

Penulis By on Thursday, September 18, 2014 | No comments

google.com
Oleh Indarto

Karena satu-satunya sepatu hitam yang setiap hari saya pakai warnanya mulai kusam, bawahnya sudah menipis dan lapisan dalamnya sudah mulai robek, maka suatu hari saya mengajak istri jalan-jalan ke pertokoan sambil mencari sepatu. Siapa tahu ada yang cocok sebagai penggantinya.

Namun, seperti biasanya, mencari sepatu yang cocok model dan nyaman dipakai, serta harganya masih dalam batas wajar itu tidak mudah. Setelah melihat-lihat berbagai merek dan model, akhirnya hanya ada dua pasang yang cocok, namun harganya diluar batas kewajaran bagi seorang pegawai negeri sipil. Sebetulnya istri sudah menyetujuinya, dengan pertimbangan bahwa sepatu tersebut memang akan dipakai untuk kerja setiap hari, dari pagi sampai sore bahkan malam. Jadi harus betul-betul nyaman. Saya bilang pada istri, kalau harga segitu, sebaiknya jangan beli sekarang, saya pikir-pikir dulu. Meskipun istri sudah membujuk-bujuk agar saya setuju, namun akhirnya kami pulang tanpa membawa sepatu. Sebagai penggantinya istri mentraktir saya makan malam di luar.

Dalam perjalanan pulang, saya cerita pada istri, bahwa dulu pernah ada seorang anak kecil, usia sekolah dasar yang berkeinginan untuk memiliki sepasang sandal plastik baru, yang memang saat itu sedang nge-trend. Meskipun teman-temannya sudah banyak yang memiliki, namun keinginannya itu tidak mungkin disampaikan kepada kedua orangtuanya, karena dia menyadari betul akan kemampuan keluarganya. Penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan yang betul-betul pokok.  

Seperti kebiasaan anak kecil, kalau sudah mempunyai keinginan kadang sulit untuk diredam, apalagi setiap bermain, temannya mengenakan sandal idamannya itu. Dengan keinginan yang semakin besar itulah si anak tadi terus mencari akal. Sampai akhirnya suatu sore, ketika dia sedang main layang-layang di halaman rumahnya, terlintaslah di pikirannya. Mengapa, layang-layang putus yang sering dia peroleh di sekitar rumah, hanya digunakan untuk bermain, tidak untuk kepentingan yang lain, dikumpulkan misalnya. Kalau setiap jam dua atau tiga sore sekali dia bisa menangkap sebuah layang-layang yang putus, maka minimal sebulan akan mendapatkan sepuluh. Sehingga dalam waktu dua hingga tiga bulan, kalau layang-layang itu dijual, mungkin dia akan bisa memenuhi keinginannya.

Namun bagaimana caranya, agar dia bisa menangkap layang-layang yang selalu diperebutkan secara bebas oleh banyak anak. Dia tidak mempunyai kelebihan, karena ukuran badannya yang kecil, jelas sangat tidak mendukung. Melihat kenyataan ini dia tidak berkecil hati.  Upaya mencari akal ternyata segera membuahkan hasil ketika dia melihat atap-atap rumah di sekeliling tempat tinggalnya, yang kebetulan kepunyaan saudara ibunya. Selama ini dia mengabaikan fungsi atap tersebut. Sering layang-layang yang jatuh di atasnya tidak diambil, dibiarkan begitu saja rusak kena hujan dan panas.

Dengan bermodalkan badan yang kecil, maka setiap ada layang-layang yang jatuh di atas atap rumah itu akhirnya menjadi milik si anak tadi. Karena badannya kecil, maka dia tidak mengkhawatirkan gentengnya akan pecah. Lagi pula rumah-rumah di sekitar tempat tinggalnya itu bukan kepunyaan orang lain. Setiap sore, si anak selalu berharap agar ada layang-layang yang putus, jatuh di salah satu atap tersebut.

“Keberhasilan” itu tidak hanya monopoli bagi yang sudah dewasa, anak kecilpun juga punya kesempatan yang sama untuk berhasil. Dengan harapan, usaha, dan ketekunan yang selalu dipeliharanya, akhirnya terkumpul sejumlah layang-layang setiap minggunya. Setelah dua bulan, si anak tadi merencanakan menjual layang-layang hasil perolehan ke teman-temannya. Dia ragu-ragu, apakah layang-layangnya akan laku, karena sudah bukan barang baru lagi, meskipun masih bagus. Namun dengan kemauannya, dia menemukan strategi dengan cara menjual layang-layang dengan harga setengahnya dari yang dijual di warung. Akhirnya, dengan kegembiraan yang luar biasa, uang hasil penjualan dipakai untuk membeli sandal yang sudah lama diidamkannya.

Ketika saya mengakhiri cerita, istri berkomentar “ Iya... memang, pengalaman di masa silam itu kadang sulit untuk dilupakan, sehingga gara-gara ingat masa lalu, akhirnya tidak jadi membeli sepatu”. Allah Maha Pengasih dan Penyayang.

*) Oleh Prof. Dr. Ir. Indarto, DEA, Pimpinan Umum Majalah Fahma


Baca Juga Artikel Terkait Lainnya