» » Yang Penting Iman Tetap Terjaga

Yang Penting Iman Tetap Terjaga

Penulis By on Tuesday, September 16, 2014 | No comments

foto doc
Oleh Lilik S. Muis

Sebagai seorang ibu, saya menyadari betapa tidak mudah mendidik dan membesarkan anak-anak di era multi media seperti sekarang ini. Berbagai informasi dengan mudah dapat kita akses, entah itu informasi yang berdampak positif maupun yang negatif semua bisa langsung dicari tanpa harus dipelajari secara detail oleh anak usia balita sekalipun. Untuk itulah sejak menikah, saya dan suami sepakat menerapkan aturan-aturan yang terkait media termasuk internet dan juga televisi. Sebenarnya saya tidak ingin ada TV di rumah, itu demi membentengi iman anak-anak dari tontonan yang tidak menuntun yang semakin menjauhkan mereka dengan Allah.

Ini bermula ketika orangtua saya berkunjung ke rumah dinas kami, karena kami tinggal di lingkungan pesantren yang ada fasilitas tempat tinggal bagi para pembinanya. Entah sebagai wujud rasa sayang atau kasihan atas kondisi rumah kami yang sangat sederhana, tiba-tiba mereka datang ke rumah, jauh-jauh dari Surabaya ke Jogja membawakan satu set tempat tidur berbahan kayu jati dan satu kardus besar berisi televisi 21 inci. Ada rasa sedih namun enggan pula untuk menolak pemberian orangtuaku. Sungguh dalam hati saya bertekad harus bisa membuat aturan untuk menonton televisi agar tidak mengganggu program yang sudah direncanakan dan sudah disepakati dengan anak – anak. 

Hari berganti minggu, bulan berganti tahun tak terasa televisi pemberian itu sudah hampir memasuki tahun kelima berada di rumah. Suatu hari anak saya menghidupkan TV dan ternyata tidak ada gambarnya sama sekali, hanya suara yang jelas tapi layarnya gelap tak berbentuk. Biarlah sepi dengan tidak ada televisi di rumah, setidaknya itulah yang dirasakan anak-anak.

Saya bersyukur anak-anak bisa mengalihkan perhatiannya pada kegiatan yang lainnya. Walaupun repot dan melelahkan, demi mereka bermacam cara saya lakukan agar mereka senang membaca buku dan mempelajari Al Qur’an. Hampir setiap saat,  kapanpun mereka mau saya harus siap membacakan buku cerita yang diinginkan sekalipun saya sedang sibuk mengerjakan tugas sekolah atau pekerjaan rumah yang lain. Namun itu semua tak berlangsung lama, hanya sekitar enam bulan kami terbebas dari televisi. Tiba-tiba ada sahabat karib suami datang bertamu ke rumah bermaksud untuk memberi hadiah televisi. Lagi – lagi saya sedih dan enggan menolak kawatir menyinggung perasaan sahabat karib suami karena televisi itu langsung dibawa ke rumah. Alhamdulillah anak-anak sudah terkondisi walaupun ada televisi di rumah mereka tidak begitu ingin melihat televisi. Karena aturan sudah disepakati dan sudah berjalan dengan baik, ba’da maghrib adalah time for Qur’an, segala aktivitas yang terkait dengan Al Qur’an apapun itu kegiatannya dalam rangka untuk mendekatkan diri dengan Al Qur’an. Kegiatan yang dapat dilakukan bisa membaca iqro bagi yang belum bisa membaca Al Qur’an, mengulang dan menambah hafalan, Qur’an show (setor hafalan sambil direkam menggunakan video di handphone) maupun sekedar tasmi’  (mendengarkan lantunan ayat Al Qur’an dari sound box ) sambil mewarnai.

Saya berharap semoga para orangtua dan para pendidik khususnya menyadari dan mengantisipasi dampak media televisi dan internet bagi anak – anak. Apalagi kita semua tahu dengan pemberitaan beberapa bulan terakhir yang tak habis-habisnya di berbagai media tentang kekerasan pada anak. Dari kejahatan seksual sampai penganiayaan, seperti tak pernah kehabisan bahan untuk diberitakan. Melihat informai tersebut seolah tak ada lagi tempat yang steril dari kejahatan terhadap anak-anak. Untuk itu tak ada kata terlambat bagi kita umat yang beriman, dimomen yang baik ini kita siapkan segala bentuk kegiatan yang bermanfaat buat anak-anak kita. Sehingga kita para pendidik dan orangtua sudah merancang berbagai alternatif kegiatan buat mereka agar tidak beralih pada televisi apalagi internet yang pemanfaatannya belum tentu sesuai dan jauh dari manfaat  bagi mereka. Akan lebih baik jika anak-anak kita libatkan kegiatan di masjid seperti TPA, tarawih bersama, atau yang lainnya. Begitulah, ya memang tidak mudak menjadi orangtua terlebih di era digital seperti sekarang ini. Sesibuk apapun kita harus mau membimbingnya, mengarahkannya, terkadang juga menuruti apa maunya. Ya, capek sedikit insyaAllah berdampak besar di akhirnya, kelak di kemudian hari bagi masa depan mereka, anak-anak kita, anak-anak pengukir sejarah.


*) Lilik S. Muis Pendidik di Sekolah Juara Indonesia
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya