Renungan : Amanat Mengelola Alam


Oleh R. Bagus Priyosembodo

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. 30:41).

Dalam berinteraksi dan mengelola alam serta lingkungan hidup itu, manusia secara umum mengemban tiga amanat dari Allah:
Pertama, al-intifa’ yaitu mengambil manfaat dan mendayagunakan hasil alam dengan sebaik-baiknya demi kemakmuran dan kemaslahatan.

Kedua, al-i’tibar yaitu manusia dituntut untuk senantiasa memikirkan dan menggali rahasia di balik ciptaan Allah seraya dapat mengambil pelajaran dari berbagai kejadian dan peristiwa alam.

Ketiga, al-islah yaitu manusia diwajibkan untuk terus menjaga dan memelihara kelestarian lingkungan itu.


Allah Ta’ala telah memberikan fasilitas daya dukung lingkungan bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, dalam perspektif hukum Islam dapat dinyatakan bahwa status hukum pelestarian lingkungan adalah wajib. Dengan demikian, manusia dituntut untuk selalu membiasakan diri bersikap ramah terhadap lingkungannya.

R. Bagus Priyosembodo, Redaktur Ahli Majalah Fahma

Rep : Administrator
Editor : Mahmud Thorif

Diskusi, Bukan Debat


Oleh Mohammad Fauzil Adhim


Tak ada diskusi ketika semangatnya menjatuhkan. Bukan mencari kebenaran. Tak ada musyawarah ketika ambisinya kemenangan. Bukan.kebaikan. Ada saat ketika menghindari debat dan berhenti darinya itu diganjar pahala sangat besar, yakni ketika debat mengarah pada perpecahan (mira’). Menghindari perdebatan yang semacam ini, meskipun kita berada di pihak yang benar, besar pahalanya surga ganjarannya.

Mendiskusikan ilmu itu baik dan penuh manfaat. Tapi memperdebatkannya amatlah buruk. Diskusi membukakan pikiran dan mendekatkan hati sesama penuntut ilmu. Adapun memperdebatkan ilmu, Imam Malik rahimahullah berkata, “Perdebatan tentang ilmu itu membuat hati keras dan menimbulkan kedengkian.”

Imam Syafi'i rahimahullah juga mengingatkan kita, “Percekcokan dalam agama itu mengeraskan hati dan menanamkan kedengkian yang sangat.”

Renungilah sejenak hadis riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah; Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوْا الْجَدَلَ، ثُمَّ قَرَأَ : مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً

“Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah kecuali yang suka berdebat." Lalu beliau membaca (ayat): “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Nah. Maka salah satu bekal menuntut ilmu adalah menahan diri dari berdebat untuk maksud berbantah-bantahan dan menjatuhkan lawan bicara. Jika diskusi telah mengarah kepada mira', sedapat mungkin kita mengingatkan. Tetapi jika tetap dalam perdebatan yang mengarah kepada sikap saling menjatuhkan saling mengolok, maka memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan (mira') itu jauh lebih utama meskipun beresiko disangka tak berani. Sangat berbeda penakut dengan menahan diri dari hal-hal yang membawa kerusakan (mafsadat).

Al-Auza'i: “Jika Allah menghendaki keburukan pada suatu kaum maka Allah menetapkan jidal pada diri mereka dan menghalangi mereka dari amal.”

Marilah kita ingat sejenak sebuah hadis riwayat Imam Baihaqi berkenaan dengan Nabi Sulaiman ‘alaihis salam kepada anaknya:
يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ

“Wahai Anakku, tinggalkanlah mira’ (mendebat karena ragu dan menentang, debat untuk menjatuhkan) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.” ( HR. Baihaqi).

Maka, apakah yang dapat kita renungi darinya?

Mari sejenak kita renungi perkataan Imam Ahmad rahimahullah sebagaimana dinukil Ibnu Abdil Barr, “Tak akan pernah bahagia orang yang suka berdebat. Dan tidaklah engkau menjumpai seseorang yang suka berdebat kecuali di hatinya tersimpan sebuah penyakit.”


Nah. Bagaimanakah dengan kita?

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku
Twitter @kupinang
FansPage FaceBook Mohammad Fauzil Adhim

Berbeda Tapi Tetap Bersatu

osolihin.net
Oleh O. Solihin

Yup, berbeda boleh. Sesama muslim kita boleh aja kok berbeda pendapat, asal pendapatnya memang berdasarkan dalil yang benar dan baik yang dilandaskan ajaran Islam. Tapi, jangan sampe membedakan diri dengan menjaga jarak dan menganggap mereka yang berbeda dengan kita harus dibabat habis dan dikucilkan, padahal mereka juga punya dalil untuk berbeda pendapat. Jadi, nggak usah menyemai rasa benci ya. Tapi upayakan persatuan yang dilandasi dengan iman dan cinta.

Menghargai pendapat teman kita boleh-boleh aja selama memang alasannya bersumber pada ajaran Islam. Hmm.. jadi inget kisah ulama jaman dulu. Suatu saat Imam Syafi’i mengatakan, “Pendapatku benar, tapi ada kemungkinan pendapat orang lain tidak salah.” Beliau juga menegaskan, “Apa yang aku tuangkan dalam kitabku tidak semuanya harus kalian ikuti. Yang benar ambil, yang salah tinggalkan.”

Sementara itu, Imam Hanafi berkata, “Jika saya sampaikan itu benar, berarti itu datangnya dari Allah. Bila salah itu datangnya dari setan.” Sedangkan Imam Ahmad mengatakan, “Ambillah yang benar-benar saja dari pendapatku. Yang kalian ragukan, tinggalkan.”
Meskipun berpegang teguh pada hasil ijtihadnya sendiri, para Imam saling bertoleransi. Kata Imam Syafi’i, “Seluruh manusia di dalam bidang fikih adalah keluarga Abu Hanifah.” Imam Syafi’i menyunahkan doa qunut dalam shalat subuh. Namun tatkala shalat subuh di dekat kubur Abu Hanifah, ia meninggalkan bacaan qunut (al-Syarani: 213 dalam Islamia No 5/II April-Juni 2005)

Itu sebabnya, jika kebetulan ada yang berbeda cara wirid dan berdoa setelah shalat berjamaah, ya jangan serta merta menyalahkannya. Nggak boleh tuh. Lebih baik, ditanyakan kepada yang bersangkutan untuk mencari tahu alasannya. Jadi, kalo ada teman kita yang saat wirid diam-diam aja, doanya juga nggak ikutan bareng dengan jamaah lainnya yang mengeraskan suaranya, maka lebih baik kita tanya mengapa dia melakukan hal itu dan dalilnya ada nggak. Kalo ada dan hal itu berasal dari pendapat Islam, ya nggak usah memaksakan pendapat kita tentang tatacara wirid dan doa yang kita dapetin dari sumber yang berbeda.

Supaya klop dan bisa menghargai pendapat orang lain, kita harus punya persepsi utuh tentang pendapatnya. Sebab, “Perception is the basis of wisdom” (Persepsi adalah landasan kearifan), kata pakar psikologi Dr Edward de Bono. Sebelum menilai atau memutuskan, de Bono menganjurkan kita mengeksplorasi situasi dari berbagai sudut pandang. Baru setelah persepsi kita lengkap, kita menanggapi atau bereaksi terhadap masalah tersebut (Koran Tempo, 27 Agustus 2005)

Oya, kudu dibedakan antara memaksakan pendapat dengan mempertahankan pendapat. Kalo memaksakan, berarti ada objek yang ditekan, yakni orang lain supaya sama dengan kita. Tapi kalo mempertahankan pendapat boleh kok. Artinya, ketika kita udah ambil suatu pendapat dan merasa yakin itu benar, ya harus dipertahankan selama belum ada dalil yang lebih kuat dari yang kita yakini kebenarannya. So, nggak usah berantem, nggak baik menabur benci. Kita bisa bekerjasama dan bersatu dalam memajukan Islam.

Saya jadi ingat sebuah peristiwa, ada kasus beberapa remaja yang jsutru ditegur pembina pengajiannya karena menyebarkan buletin gaulislam yang saya kelola dengan kawan-kawan. Padahal kan seharusnya dibiarkan saja, bahkan bila perlu didukung karena isinya insya Allah mengajarkan kebaikan. Bahkan bile perlu kita bekerjasama dengan berbagai media Islam untuk menangkal media yang akan merusak Islam. Oya, itu perlu dicatat jumlahnya lebih bejibun dari media Islam. Oke? Jadi, tak perlu ada benci di antara kita kan?

Sobat muda muslim, semoga kita tetap bersatu. Bukan hanya selalu bersama. Karena apa? Karena kalo bersatu artinya kita nggak akan membuat jarak, meski di antara kita ada yang berbeda pendapat. Tapi perbedaan itu (baca: tentunya dalam hal yang cabang—seperti dalam masalah fikih, tapi kalo dalam masalah pokok, yakni akidah, wajib sama, nggak boleh beda) kita jadikan rahmat dan harusnya bisa bersinergi untuk membangun kekuatan dahsyat.

Nggak baik deh kita berantem dengan sesama kita sendiri, sementara kita lupa terhadap musuh-musuh agama ini yang selalu siap menerkam kita kapan saja. Kalo kita ribut mulu, mereka yang membenci Islam bakalan seneng. Karena nggak perlu capek-capek bertempur, toh kita bakalan ancur-ancuran karena menyulutkan api ‘perang saudara’.

Ada baiknya kita mencoba merenungkan firman Allah Swt.:“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS al-Hujuraat [49]: 10)
Oke? Mulai sekarang, jangan ada (lagi) benci di antara kita. Sebaliknya, semaikan rasa cinta.

Karena sesama muslim adalah bersaudara.


Salam,
O. Solihin
Ingin berkomunikasi dengan saya? Silakan via Twitter di @osolihin

Rizqi Kita, Soal Rasa

www.salimafillah.com
Oleh Salim Afillah

Aku tahu, rizqiku takkan diambil orang, karenanya hatiku tenang..
Aku tahu, ‘amalku takkan dikerjakan orang, karenanya kusibuk berjuang..
-Hasan Al Bashri-

Pemberian uang yang sama-sama sepuluh juta, bisa jadi sangat berbeda rasa penerimaannya. Kadang ia ditentukan oleh bagaimana cara menghulurkannya.
Jika terada dalam amplop coklat yang rapi lagi wangi, dihulurkan dengan senyum yang harum dan sikap yang santun, betapa berbunga-bunga kita menyambutnya. Apatah lagi ditambah ucapan yang sopan dan lembut, “Maafkan sangat, hanya ini yang dapat kami sampaikan. Mohon diterima, dan semoga penuh manfaat di jalan kebaikan.”

Ah, pada yang begini, jangankan menerima, tak mengambilnya pun tetap nikmat rasanya. Semisal kita katakan, “Maafkan Tuan, moga berkenan memberikannya pada saudara saya yang lebih memerlukan.” Lalu kita tahu, ia sering berjawab, “Wah, jika demikian, kami akan siapkan yang lebih baik dan lebih berlimpah untuk Anda. Tapi mohon tunggu sejenak.”

Betapa berbeda rasa itu, dengan jumlah sepuluh juta yang berbentuk uang logam ratusan rupiah semuanya. Pula, ia dibungkus dengan karung sampah yang busuk baunya. Diberikan dengan cara dilempar ke muka, diiringi caci maki yang tak henti-henti. Betapa sakitnya. Betapa sedihnya. Sepuluh juta itu telah hilang rasa nikmatnya, sejak mula ia diterima.

Inilah di antara hakikat rizqi, bahwa ia bukan soal berapa. Sungguh ia adalah nikmat yang kita rasa. Sebab sesungguhnya, ia telah tertulis di langit, dan diterakan kembali oleh malaikat ketika ruh kita ditiupkan ke dalam janin di kandungan Ibunda. Telah tertulis, dan hendak diambil dari jalan manapun, hanya itulah yang menjadi jatah kita. Tetapi berbeda dalam soal rasa, karena berbeda cara menghulurkannya. Dan tak samanya cara memberikan, sering ditentukan bagaimana adab kita dalam menjemput dan menengadahkan tangan padaNya.

Rizqi memiliki tempat dan waktu bagi turunnya. Ia tak pernah terlambat, hanyasanya hadir di saat yang tepat.

“Janganlah kalian merasa bahwa rizqi kalian datangnya terlambat”, demikian sabda Rasulullah yang dibawakan oleh Imam ‘Abdur Razzaq, Ibnu Hibban, dan Al Hakim, “Karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba meninggal, hingga telah datang kepadanya rizqi terakhir yang ditetapkan untuknya. Maka tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi, yaitu dengan  yang halal dan meninggalkan yang haram.”

Jika jodoh adalah bagian dari rizqi, boleh jadi berlaku pula kaidah yang sama. Sosok itu telah tertulis namanya. Tiada tertukar, dan tiada salah tanggal. Tetapi rasa kebersamaan, akan ditentukan oleh bagaimana adab dalam mengambilnya. Bagi mereka yang menjaga kesucian, terkaruniakanlah lapis-lapis keberkahan. Bagi mereka yang mencemarinya dengan hal-hal mendekati zina, ada kenikmatan yang kan hilang meski pintu taubat masih dibuka lapang-lapang. Sebab amat berbeda, yang dihulurkan penuh keridhaan, dibanding yang dilemparkan penuh kemurkaan.

Rizqi adalah ketetapan. Cara menjemputnya adalah ujian. Ujian yang menentukan rasa kehidupan. Di lapis-lapis keberkahan dalam setetes rizqi, ada perbincangan soal rasa. Sebab ialah yang paling terindra dalam hayat kita di dunia.
***

Di antara makna rizqi adalah segala yang keluar masuk bagi diri dengan anugrah manfaat sejati. Nikmat adalah rasa yang terindra dari sifat maslahatnya. Kasur yang empuk dapat dibeli, tapi tidur yang nyenyak adalah rizqi. Ia dapat saja terkarunia di alas koran yang lusuh, dan bukan di ranjang kencana yang teduh. Hidangan yang mahal dapat dipesan, tetapi lezatnya makan adalah rizqi. Ia dapat saja terkarunia di wadah daun pisang bersahaja, bukan di piring emas dan gelas berhias permata.

Atau bahkan, ada yang memandang seseorang tampak kaya raya, tapi sebenarnya Allah telah mulai membatasi rizqinya.

Ada yang bergaji 100 juta rupiah setiap bulannya, tapi tentu rizqinya tak sebanyak itu. Sebab ketika hendak meminum yang segar manis dan mengudap yang kue yang legit, segera dikatakan padanya, “Awas Pak, kadar gulanya!” Ketika hendak menikmati hidangan gurih dengan santan mlekoh dan dedagingan yang lembut, cepat-cepat diingatkan akannya, “Awas Pak, kolesterolnya!” Hatta ketika sup terasa hambar dan garam terlihat begitu menggoda, bergegaslah ada yang menegurnya, “Awas Pak, tekanan darahnya!”
Rasa nikmat itu telah dikurangi.

Lagi-lagi, ini soal rasa. Dan uang yang dia himpunkan dari kerja kerasnya, amat banyak angka nol di belakang bilangan utama, disimpan rapi di Bank yang sangat menjaga rahasia, jika dia mati esok pagi, jadi rizqi siapakah kiranya? Apa yang kita dapat dari kerja tangan kita sendiri dan kita genggam erat hari ini, amat mungkin bukan hak kita. Seperti hartawan yang mati meninggalkan simpanan bertimbun. Mungkin itu mengalir ke ahli warisnya, atau bahkan musuhnya. Allah tak kekurangan cara untuk mengantar apa yang telah ditetapkanNya pada siapa yang dikehendakiNya.

Rizqi sama sekali bukan yang tertulis sebagai angka gaji.
Seorang pemilik jejaring rumah makan dari sebuah kota besar Pulau Jawa, demikian cerita shahibul hikayat yang kami percaya, dengan penghasilan yang besarnya mencengangkan, punya kebiasaan yang sungguh lebih membuat terkesima. Sepanjang hidupnya, tak pernah dia bisa berbaring di kasur, apalagi ranjang berpegas. Dia hanya bisa beristirahat jika menggelar tikar di atas lantai dingin, tepat di depan pintu.

Rizqi sama sekali bukan soal apa yang sanggup dibeli.

Ada lagi kisah tentang seorang pemilik saham terbesar sebuah maskapai penerbangan yang terhitung raksasa di dunia. Armada pesawat yang dijalankan perusahaannya lebih dari 100 jumlahnya. Tetapi dia menderita hyperphobia, yakni rasa takut terhadap ketinggian. Seumur hidupnya, yang bersangkutan tak pernah berani naik pesawat.

Rizqi sama sekali bukan soal apa yang dikuasai.

Sebaliknya pula, ada seorang lelaki bersahaja yang tidak mampu membeli mobil sepanjang hidupnya. Tapi sungguh Allah telah menetapkan bahwa rizqinya adalah naik mobil ke mana-mana. Maka para tetangga selalu berkata bergiliran padanya, “Mas, tolong hari ini pakai mobil saya untuk kegiatannya ya. Saya senang kalau Mas yang pakai. Sungguh karenanya terasa ada berkah buat kami sekeluarga.” Dan pemilik mobil pergi bekerja ke kantornya dengan mengayuh sepeda. Sebab itulah yang disarankan dokter padanya.
Rizqi sama sekali bukan soal apa yang dimiliki.
***

Dzat Yang Mencipta kita, sekaligus menjamin rizqi bagi penghidupan kita, adalah Pemilik, Pemelihara, dan Pengatur segala urusan kita. Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala, tiada sekutu bagiNya. Maka bagaimana kiranya, jika anugrah dariNya justru kita gunakan untuk mendurhakaiNya? Maka apa jadinya, jika dengan karuniaNya kita malah tenggelam dalam maksiat dan dosa?

“Sesungguhnya seseorang dihalangi dari rizqinya”, demikian Rasulullah bersabda sebagaimana dicatat oleh Imam Ahmad, “Disebabkan dosa yang dilakukannya.”
Ada beberapa keterangan ‘ulama tentang dosa menghalangi rizqi ini, yang selaiknya kita simak. Pertama, bahwa memang yang bersangkutan terhalang dari rizqinya, hingga ke bentuk zhahir rizqi itu. Ini sebagaimana firman Allah tentang dakwah Nuh pada kaumnya.

“Maka aku katakan kepada mereka, “Mohonlah ampunan kepada Rabb kalian. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anak kalian, dan mengadakan untuk kalian kebun-kebun dan mengadakan di dalamnya sungai-sungai.” (QS Nuh [71]: 10-12)

“Maknanya”, demikian ditulis Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirul Quranil ‘Azhim, “Jika kalian bertaubat kepada Allah, meminta ampun kepada-Nya dan kalian senantiasa mentaatiNya, niscaya Dia akan membanyakkan rizqi kalian dan menurunkan air hujan serta keberkahan dari langit.”

“Selain itu”, lanjut beliau, “Dia juga akan mengeluarkan untuk kalian berkah dari bumi, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untuk kalian, melimpahkan air susu perahan untuk kalian, membanyakkan harta dan anak-anak kalian, menjadikan kebun-kebun yang di dalamnya terdapat bermacam-macam buah untuk kalian, serta mengalirkan sungai-sungai di antara kebun-kebun itu untuk kalian.”

Jika bertaubat menjadikan berlimpahnya bentuk rizqi, maka berdosa berarti membatalkan semua itu. Ini pemahaman pembalikannya.

Keterangan yang kedua, bahwasanya yang dihalangi dari si pendosa adalah rasa nikmat yang dikaruniakan Allah dari berbagai bentuk rizqi tersebut. Rizqi tetap hadir, tapi rasa nikmatnya dicabut. Rizqi tetap turun, tapi rasa lezatnya dihilangkan. “Maka”, demikian menurut Imam An Nawawi, “Karena dosa yang menodai hatinya, hamba tersebut kehilangan kepekaan untuk menikmati rizqinya dan mensyukuri nikmatnya. Dan ini adalah musibah yang sangat besar.”
Hujjah bahwa semua bentuk rizqi itu tetap turun, ada dalam berbagai hadits Rasulillah. Ada yang sudah kita sebut, demikian pula yang berikut ini:

“Sesungguhnya Jibril mengilhamkan ke dalam hatiku”, demikian sabda Rasulullah dalam riwayat Imam Ath Thabrani dan Al Baihaqi, “Bahwa tidak ada satu pun jiwa yang meninggal kecuali telah sempurna rezekinya. maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari rezeki. Jangan sampai lambatnya rezeki menyeret kalian untuk mencarinya dengan bermaksiat kepada Allah, karena apa yang ada pada sisi Allah tidak akan bisa diperoleh dengan bermaksiat kepada-Nya.”

“Apa yang ada di sisi Allah”, demikian lanjut Imam An Nawawi, “Adalah ridhaNya yang menjadikan rizqi itu ternikmati di dunia, berkah senantiasa, dan menjadi pahala di akhirat. Maka memang ia tak dapat diraih dengan kemaksiatan dan dosa.”

“Adapun ayat dalam Surah Nuh”, terusnya, “Khithab da’wahnya ditujukan kepada orang kafir, yang meskipun mereka mengingkari Allah dan menyekutukanNya, tapi Allah tidak memutus rizqi mereka secara mutlak. Akan tetapi, jika mereka beristighfar dan bertaubat, sesungguhnya karunia yang lebih besar pastilah Allah limpahkan.”

Menghimpun kedua catatan ini, amat jadi renungan sebuah kisah tentang Imam Hasan Al Bashri. Pada suatu hari, seorang lelaki datang kepada beliau. “Sesungguhnya aku”, ujarnya pada Tabi’in agung dari Bashrah itu, “Melakukan banyak dosa. Tapi ternyata rizqiku tetap lancar-lancar saja. Bahkan lebih banyak dari sebelumnya.”

Sang Imam tersenyum prihatin. Beliau lalu bertanya, “Apakah semalam engkauqiyamullail wahai Saudara?”

“Tidak”, jawabnya heran.

“Sesungguhnya jika Allah langsung menghukum semua makhluq yang berdosa dengan memutus rizqinya”, jelas Hasan Al Bashri, “Niscaya semua manusia di bumi ini sudah habis binasa. Sungguh dunia ini tak berharga di sisi Allah walau sehelai sayap nyamukpun, maka Allah tetap memberikan rizqi bahkan pada orang-orang yang kufur kepadaNya.”

“Adapun kita orang mukmin”, demikian sambung beliau, “Hukuman atas dosa adalah terputusnya kemesraan dengan Allah, Subhanahu wa Ta’ala.”
***

Lagi-lagi terrenungi, bahwa di lapis-lapis keberkahan, ini soal rasa. Semoga Allah melimpahkan rizqiNya kepada kita, dan menjaga kita dari bermaksiat padaNya. Dengan begitu, sempurnalah datangnya nikmat itu dengan kemampuan kita menikmati rasa lezatnya, lembutnya, dan harumnya. Di lapis-lapis keberkahan, soal rasa adalah terjaganya kita dari dosa-dosa.

sepenuh cinta, dinukil dari:
Lapis-Lapis Keberkahan, Setitis Rizqi

Salim Afillah, Penulis Buku
twitter @salimafillah

Qana'ah, Cara Sederhana untuk Bahagia

gambar muslim.or.id
Oleh Mohammad Fauzil Adhim

 Betapa dekat kebahagiaan bagi mereka yang menetapi do'a ini:
 "اَللَّهُمَّ قَنِّعْــنِيْ بِـمَا رَزَقْــــتَــنِيْ، وَبَارِكْ لِيْ فِيْهِ، وَاخْلُفْ عَلَى كُـلِّ غَائِـبَةٍ لِيْ بِـخَيْرٍ"
 “Ya Allah, jadikanlah aku merasa qana’ah (merasa cukup, puas, rela) terhadap apa yang telah engkau rezeqikan kepadaku, dan berikanlah barakah kepadaku di dalamnya, dan jadikanlah bagiku semua yang hilang dariku dengan yang lebih baik.”

Mengingat sejenak sabda Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam, "قَدْ أفْلَحَ مَنْ أسْلَمَ وَرُزِقُ كَفَا فًا، وَ قَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ Beruntunglah orang yang memasrahkan diri, dilimpahi rezeqi yang sekedar mencukupi dan diberi kepuasan oleh Allah terhadap apa yang diberikan kepadanya." HR. Muslim, At-Tirmidzi, Ahmad dan Al-Baghawi.

Betapa sederhanya kebahagiaan. Ingatlah sejenak bagaimana Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam bergurat pipinya karena alas tidur kasar. Hari ini betapa banyak yang memiliki tempat tidur mewah, tapi hampir-hampir tak pernah ia rasai tidur yang nikmat. Betapa berbeda.

Tengoklah Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam. Betapa sederhana makannya. Tak menuntut syarat yang berat, justru jadikan makan lebih nikmat. Sungguh, ketika engkau tak meninggikan syarat terhadap apa yang engkau reguk dari dunia ini, semakin mudah engkau rasai kebahagiaan. Dan apakah yang lebih berharga daripada ganti yang lebih baik; ganti yang lebih membawa kebaikan atas apa-apa yang terlepas dari kita?

Maka do'a riwayat Al-Hakim (beliau menshahihkannya) yang dicontohkan oleh RasulullahshallaLlahu 'alaihi wa sallam ini merupakan kunci agar kita mampu bersikap secara tepat terhadap dunia: qana'ah terhadap rezeqi dari-Nya, barakah atas rezeqi yang kita terima dan ganti yang lebih baik (bukan lebih banyak) atas apa-apa yang terlepas dari kita. Sungguh, rezeki yang tak barakah, amat jauh dari kebaikan.

Jika tiga hal ini ada pada kita, maka semoga lisan kita mampu memanjatkan do'a yang menyempurnakan pembersihan jiwa kita. Semoga.

Do'a itu  (semoga kita dapat menghayati sepenuh kesungguhan.) adalah:
 اَللَّهُمَّ إنِّي أعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَ الْحَزَنِ،وَ الْعَجْزِ وَ الْكَسَلِ،وَالْبُخْلِ وَ الْجُبْنِ،وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَ غَلبَةِالرِّجَالِ
 “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari (bahaya) rasa gundah gulana dan kesedihan, (rasa) lemah dan malas, (rasa) bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penguasaan orang lain.”

Inilah do'a yang memohon pertolongan Allah Ta'ala agar kita mampu mengalahkan hasrat untuk mengistirahatkan badan di saat ada kebaikan yang seharusnya kita kerjakan; memohon kekuatan untuk TIDAK berpelit dalam mengulurkan rezeki kepada orang lain; serta kelapangan hati untuk memberi kan jasa kita yang membawa kebaikan.

Maka, jika engkau berkeinginan untuk berkelimpahan rezeki agar waktu istirahatmu lebih banyak dan engkau dapat bersantai-santai kapan pun engkau mau, sesungguhnya engkau telah mengingkari do'a yang dituntunkan oleh Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam ini. Dan jika engkau pergi ke sana kemari untuk menyeru manusia agar bersegera perkaya diri sehingga dapat bermalas-malasan, sadarilah bahwa mereka sedang mengajak manusia untuk menjauh dari sunnah dan menghindar dari kebaikan. Padahal bersama sunnah ada barakah.

Semoga kita terhindar dari ghurur (terkelabui) disebabkan angan-angan kita sendiri. Marilah kita memanjatkan do'a kepada Allah Ta'ala:
 "اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ"
 “Ya Allah, tunjukilah kami bahwa yang benar itu benar dan berilah kami rezeki kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukilah kami bahwa yang batil itu batil, serta limpahilah kami rezeki untuk mampu menjauhinya.”

Semoga kita tak terpedaya oleh persepsi kita sendiri. Sungguh, kebenaran itu bukan bergantung pada persepsi kita. Baik dan buruk juga bukan bergantung kepada persepsi kita. Bukan bergantung pada cara pandang kita. Hari ini, ketika banyak manusia menyerukan bahwa yang paling penting adalah persepsi kita tentang sesuatu, marilah kita ingat kembali do'a ini. Di masa yang semakin jauh dari kehidupan Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam ini, semoga Allah Ta'ala limpahi kita hidayah agar tidak mudah takjub pada kebanyakan perkataan manusia yang terlepas dari Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah.

Lisan kita berdo'a. Hati kita berharap. Tapi, apakah kita pun merenungkan maknanya?

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku Parenting.
Twitter @kupinang

Sumber tulisan Fans Page FB : Mohammad Fauzil Adhim

Hal yang Dilupakan Istri

gambar google.com
Oleh Jamil Azzaini
Insya Allah tanggal 1 November ini saya mantu. Persiapan mental, spiritual, leadership dan kerumahtangaan sudah saya berikan kepada anak lelaki saya. Karena khawatir ada yang terlewat, saya kembali membuka kitab-kitab atau buku yang membahas tentang pernikahan. Saya ingin anak saya yang baru berusia 20 tahun piawai menjadi nakhoda rumah tangga yang hendak dijalaninya.
Saat saya membaca buku atau kitab tentang pernikahan, banyak hal yang isinya senada. Misalnya, “Dunia adalah perhiasan, dan perhiasan dunia yang terbaik adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim). Juga tentang pentingnya ketaatan terhadap suami yang dituangkan dalam hadis, “Sekiranya aku boleh menyuruh seseorang sujud kepada orang lain, tentu aku akan menyuruh seorang istri sujud kepada suaminya.” (HR. Tirmidzi).
Selain itu, tentu tentang tidak dibolehkannya menolak “ajakan” suami kecuali sedang haid, nifas, puasa wajib dan saat menjalankan ibadah haji atau umrah. Di sisi lain, suami juga harus tahu diri dan mempertimbangkan kondisi istri saat mengajak melakukan hubungan suami-istri.
Saya yakin Anda juga sering mendengar hal-hal tersebut di atas. Namun, ada beberapa hal yang jarang saya dengar dan baca. Apa itu? Pertama, menemani suami mandi. Simak hadis berikut, “Semoga Allah merahmati suami yang dimandikan istrinya dan ditutup (kekurangan) akhlaknya. (HR Baihaqi).
Kedua, istri perlu rajin berdandan untuk suami. Rasulullah bersabda, “Sebaik-baik istri kamu ialah yang menjaga diri lagi pandai membangkitkan gairah suami. (HR. Dailami). Maka sangat dianjurkan istri rajin berolah raga untuk mengencangkan otot-otot pinggul, otot-otot dada sehingga penampilan dan kesehatannya terpelihara dengan baik di hadapan suami.
Ketiga, membangunkan suami untuk shalat malam. Rasulullah bersabda, “Semoga Allah rahmat kepada seorang wanita yang bangun shalat malam dan ia bangunkan suaminya untuk shalat malam. Jika suaminya enggan lalu ia percikan air ke mukanya (suaminya).” (HR Ahmad Nasa’i dan Ibnu Hibban).
Dan masih ada beberapa hal yang sangat dianjurkan untuk dilakukan seorang istri. Misalnya, mengurangi pergaulan dengan laki-laki lain, memegang rahasia suami, dan menemani suami saat makan.
Selamat mencoba…
Salam SuksesMulia!
Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini. Atau, LIKE saya di FB

Relawan SA : Palestina itu Urusan Akidah

Relawan Sahabat Al-Aqsha saat Sarasehan Silatwil Hidayatullah DIY-Jatengbagsel

Nasyid penggugah semangat keluar dari lisan tim nasyid Santri Hidayatullah Yogyakarta. Mereka membakar peserta Silaturahim Wilayah (Silatwil) Hidayatullah DIY – Jawa Tengah Bagian Selatan yang selama dua hari ini akan berlangsung. Mereka membakar semangat dengan melatunkan nasyid-nasyid tentang Palestina

Malam ini adakah sesi bersama Mas Dzikrullah Wisnu Pramudia, beliau adalah salah satu relawan dari sahabat Al-aqsha (SA) yang selama ini intens dengan isu-isu bumi Palestina dan Suriah, memberikan informasi tentang Palestina terkini.

“Bertahannya rakyat Gaza bukan karena perlengkapan senjatanya, karena kalau mengandalkan senjata, mereka akan akan kalah, namun karena kembalinya orang Palestina kepada Islam,” begitu terang Mas Dzikrullah kepada ratusan kader, anggota, dan simpatisan Hidayatullah di Solo.

Menurut Dzikrullah, berbicara tentang Palestina ini meliputi enam kondisi, apa saja itu? Pertama adalah Quds. Al-Quds ini lepas secara resmi kepada penjajah zionis Israel pada tanggal 5 Juni 1967. Kedua adalah Tepi Barat, di mana Tepi Barat ini dijuluki juga otorita Palestina, padahal kita memahami bahwa di tangan penjajah, Palestina tidak punya otoritas sama sekali.

Ketiga adalah Israel itu sendiri, yang notabene adalah penjajah. Keempat para tawanan yang ada di penjara-penjara Israel, karena mereka merupakan bagian dari Palestina. Kelima adalah tempat-tempat pengungsi, para pengungsi juga bagian dari Palestina. Dan kelima adalah Gaza. Gaza ini sebenarnya ‘penjara’ terbesar di dunia, karena Gaza dikepung dari segala penjuru, dari darat, laut, dan udara.

Karena rakyat Palestina untuk keluar atau masuk dari Gaza harus diijinkan oleh para penjajah ini.

Bermacam informasi disampaikan oleh Mas Dzikrullah ini, mulai dari apa yang paling ditakuti oleh tentara-tentara zionis misalnya sniper, terowongan, hingga rudal milik pejuang Hamas yang hingga saat ini bisa mencapai 60 km.

Ada juga vonis-vonis gila zionis Israel yang menjatuhi hukuman kepada rakyat Palestina yang mereka tangkap di jalan atau di rumah-rumah mereka. Misalnya ada vonis yang mencapai 450 tahun, 500 tahun, dan yang paling lama adalah 6.633 tahun.

Acara ini diakhiri dengan penggalangan dana untuk Bangsa Palestina. Semoga Allah menolong mujahid-mujahid di Palestina.

Rep. Thorif

Anak-anak Langit

doc pribadi dari FB
Oleh Miftahul Jannah

Beberapa hari yang lalu, seorang teman  menelepon saya, bercerita tentang hadiah istimewa yang ia dapat dari seorang gadis tujuh tahun bernama Esa. Esa (7 tahun), Kaab (5 tahun), dan Embun (2 tahun) adalah tiga kakak beradik yang sedang ditinggal Ayah dan Bundanya dakwah ke Maluku selama 15 hari.

Teman saya ini menjenguk mereka ke tempat mereka dititipkan sambil membawa lauk. Waktu teman saya memberikan lauk itu pada Esa, Esa bilang begini,
"Jazakillaah Amah sudah bawakan kita lauk, lain kali Amah ga usah repot-repot ya, kita sudah biasa kok hidup mujahadah"

Duh, saya yang mendengarnya saja amat sangat terharu.
“Esa, dewasa sekali kamu, Nak... " kata hati saya. Bahkan, ibu tempat mereka dititipkan pun berkata,  "MasyaAllaah, sungguh saya banyak belajar dari anak-anak ini, betapa mandirinya"

Teman saya yang membawakan lauk kebetulan diberi Allah nikmat kelapangan rizqi, mestinya Esa dan adik-adiknya dititipkan padanya, entah kenapa tidak jadi. Kesempatan menjenguk itu ia gunakan juga untuk bertanya pada Esa,
"Kenapa Neng Esa ga jadi di tempat Amah?"

Esa menjawab sambil tersenyum malu
"Nanti kalau di tempat Amah kami dikasih makanan yang mewah-mewah"

MasyaAllaah... Teman saya lalu bertanya,
"Memangnya Neng Esa biasanya makan apa?"

Saya hampir tidak percaya ketika teman saya berkata bahwa Esa cerita,
"Di rumah kalau kami ada rizqi kami biasa makan pake kecap, kalau ga ada rizqi kami makan pake garam, uangnya dikumpulin buat Ayah sama Bunda dakwah..."

Subhanallah... Ayah, Bunda, teman-teman semua... kalau saya lihat tumbuh kembang Esa, Ka'ab, dan Embun secara fisik, kognitif, verbal, afeksi maupun sosio-emosional... Kalau saya ingat bahwa kemanapun mereka pergi yang mereka serbu pertama kali adalah buku... betapa banyaknya hafalan Qur'an mereka... rasa-rasanya saya tak percaya kalau menu makanan mereka itu kecap dan garam. Tapi apatah kekuasaan kita sebagai makhluq? Karena mereka telah mampu hidup dengan  “ALLAH KUASA, MAKHLUK TAK KUASA" dan untuk perkara itu, tidak ada kata "Tapi" teman...

Wallahua'lam...

Saya pribadi sangat malu dengan masih sedikitnya rasa syukur saya pada Sang Khaliq atas segala nikmat yang telah diberikan-NYA...

Semoga ada pelajaran yang dapat kita petik ya Ayah,  Bunda, teman-teman semua...

Miftahul Jannah, istri dari Salman ‘Sakti” AL-Jogjawy, eks Sheila on Seven yang sekarang aktif berdakwah. Berteman dengan beliau di Facebook? Klik saja MiftahulJannah

Renungan : IBU

budi cc line
Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Pernahkah seorang ibu berhitung berapa harga ASI untuk anaknya? Tidak. Tetapi alangkah sering kita menimbang untuk harga bingkisan buatnya.

Pernahkah seorang ibu menagih biayanya terjaga di tengah malam untuk meneteki dan mengurus kita? Tidak. Tapi alangkah sering kita lalai memuliakannya.

Pernahkah seorang ibu menyesal memberikan yang terbaik untuk kita? Tidak. Tapi alangkah sering kita lalai mengingati dan berbuat baik kepadanya.

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku. 
Twitter @kupinang
Fanspage Mohammad Fauzil Adhim

Guru yang Memotivasi

Oleh Rini Widyastuti

Pembelajaran efektif, bukanlah pembelajaran yang membuat pusing, akan tetapi bagaimana tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan mudah dan menyenangkan. Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan).

Adapun pengertian motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya "feeling" dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian ini mengandung tiga elemen atau ciri pokok dalam motivasi, yakni motivasi itu diawali terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya "feeling", dan dirangsang karena adanya tujuan.

Motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.

Motivasi ada dua, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ektrinsik. Motivasi intrinsik timbul dari dalam diri individu tanpa ada paksaan atau dorongan orang lain. Sedangkan motivasi ekstrinsik timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, seperti adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga siswa termotivasi untuk belajar dan melakukan suatu aktivitas.

Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada di sekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.

Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru untuk membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau melakukan aktivitas belajar.

Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa. (1) Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik. Pada permulaan proses belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siswa. (2) Hadiah, berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi. (3) Kompetisi, guru berusaha mengadakan kompetisi di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya. (4) Pujian, sudah sepantasnya siswa yang berprestasi diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.

(5) Hukuman, hukuman diberikan kepada siswa yang melakukan kesalahan. Hukuman ini dilakukan dengan cara-cara yang wajar sehingga tidak menimbulkan trauma bagi siswa, baik mental maupun fisik, dan diharapkan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya. (6)  Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk semangat dalam belajar. (7) Membentuk kebiasaan belajar yang baik. (8) Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok. (9) Menggunakan metode pembelajaran yang bervariasi. (10)  Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Meski demikian, perlu disadari bahwa peran guru dalam memotivasi siswanya dari luar juga setidaknya harus bisa menjamin bahwa siswa juga akan dapat menumbuhkan motivasi dari dalam dirinya. Efek dari motivasi luar hanya bersifat sementara. Inilah yang menjadi pertanyaan saya, dan mungkin juga menjadi tanggungjawab kita bersama sebagai pendidik untuk bagaimana mendorong dan melatihkan siswa untuk memiliki motivasi dari dalam diri, selain juga mereka menikmati proses pembelajaran itu sendiri.


*) Rini Widyastuti, Staf Pengajar SDIT Salsabila 2 Klaseman, Ngaglik, Sleman.

Ketika Marah pada Anak

Oleh Suhartono

Seorang ibu nampak terlihat begitu lelah usai mengepel lantai. Tak lama kemudian, datang anak pertamanya yang baru berusia lima tahun. Sang anak menginjak lantai yang masih basah. Kontan saja sang ibu langsung mama marah besar, “Aduh…kamu ini bagaimana sih…? Gak tahu apa kalau ngepel itu capek? Sekarang kotor lagi gara-gara kamu injak. Mama kan sudah bilang tunggu di luar sampai lantainya kering,” berondong sang ibu dengan volume suara yang sangat keras.

Pada suatu saat, ada seorang psikolog, memberikan tes pada seorang anak. Anak ini diberi sebuah kartu olehnya dan ditanya, “Kira-kira ini gambar apa ya?“. Jawabannya, “Gambar monster, Bu”. Setelah kegiatan selesai, ia memberi penjelasan. Ternyata kartu itu mewakili sosok ayah. Artinya ayah bagi anak ini adalah sosok monster yang sangat menakutkan. Karena setiap ayahnya pulang bekerja, bukan kehangatan yang diterimanya, melainkan perlakuan tidak baik. Ayahnya berkata, “ Sana main di luar, jangan berisik di sini! Ayah capek baru pulang kerja,” dengan nada ketus dan suara keras.

Dari beberapa peristiwa di atas, sepertinya hari-hari yang dilalui oleh anak-anak ini dipenuhi dengan nuansa kemarahan. Tahukah kita bahwa penelitian mutakhir mengatakan bahwa setiap bayi baru dilahirkan, memiliki milyaran sel otak. Anak yang cerdas adalah anak yang memiliki banyak sambungan antara sel otak yang satu dengan sel otak lainnya.

Seorang ibu yang juga seorang peneliti, melakukan penelitian perkembangan otak bayinya sendiri. Sebuah alat khusus dipasang di kepala bayinya. Kemudian alat itu dihubungkan dengan kabel-kabel komputer. Sehingga dia bisa melihat pertumbuhan sel otak anaknya melalui layar monitor. Ketika bayinya bangun, dia memberikan ASI. Ketika bayinya minum ASI , dia melihat gambar-gambar sel otak itu membentuk rangkaian yang indah. Ketika sedang asyik menyusui, bayi yang berusia 9 minggu itu, tiba-tiba menendang kabel komputer. Si ibu kaget dan berteriak, “No”!

Teriakan si ibu membuat bayinya kaget. Saat itu juga, si ibu melihat gambar sel otak anaknya menggelembung seperti balon, membesar dan pecah. Kemudian terjadi perubahan warna yang menandai kerusakan sel. “Mungkin kesedihan ini hanya saya yang menanggungnya. Sebagai ibu dan sekaligus sebagai scientist, saya menyaksikan otak anak saya hancur oleh teriakan saya sendiri, ibunya,” tukas Lise Eliot, PhD, seorang Neuroscientist di Chicago Medical School dalam bukunya What’s Going On in There? How the Brain and Mind Develop in The First Five Years of Life (Bantam, 2000).

Nah, apa yang terjadi jika seorang anak setiap detik, menit, jam dan hari-hari yang dilaluinya selalu dipenuhi dengan pelototan, teriakan, apalagi ditambah amarah? Tak terbayangkan berapa jumlah sel otaknya yang akan mati akibat perlakukan buruk orang dewasa di lingkungannya.

Kita acapkali tidak bisa meredakan emosi pada saat menghadapi perilaku anak yang menjengkelkan. Kita menegur anak bukan karena ingin meluruskan kesalahan, tetapi karena ingin meluapkan amarah dan kejengkelan. Tidak mudah memang, tetapi kita harus terus belajar meredakan emosi saat menghadapi anak, utamanya saat menghadapi perilaku mereka yang membuat kita ingin berteriak dan membelalak. Jika tidak, teguran kita tidak akan efektif. Bahkan, bukan tidak mungkin mereka justru semakin menunjukkan “kenakalannya”.

Sekali lagi, betapa pun sulit dan masih sering gagal, kita perlu berusaha untuk menenangkan emosi saat menghadapi anak sebelum kita menegur mereka, sebelum kita memarahi mereka. Ya, kita harus sungguh-sungguh berupaya agar teguran kita tetap terkendali dan tetap terkontrol.

Semoga catatan ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.


*) Suhartono, Pendidik, tinggal di Yogya