» » Anak Hebat Asbab Ibunda Hebat

Anak Hebat Asbab Ibunda Hebat

Penulis By on Wednesday, October 15, 2014 | No comments

google.com
Oleh Miftahul Jannah

Sabtu, 19 Desember 2009. 
Atas izin ALLAH saya bertemu sebuah keluarga yang berasal dari Singapura. Ibu dan tiga orang anaknya. Siti Rodiah (17 tahun), Siti Shafiyyah (9 tahun) dan Siti Djuwairiyah (25 bulan). Semuanya menutup aurat dengan sempurna, termasuk si kecil Djuwairiyah.Siti Rodiah adalah seorang calon hafidzoh dengan hafalan 11 juz Al-Quran (mulai menghafal umur 13 tahun), Siti Rodiah dengan hafalan 7 juz (mulai menghafal umur 5 tahun). Kesan awal pertemuan tersebut biasa saja. sang bunda menceritakan bahwa mereka bermaksud belajar bahasa Arab di Indonesia selama lebih kurang 2-3 tahun untuk kemudian hijrah dan menetap di Madinah Al-Munawwaroh.

Kesan biasa saya mulai berubah menjadi rasa takjub ketika Djuwairiyah mengatakan "ngantuk" pada Uminya. Sang Umi mengangguk lalu meletakkan Djuwairiyah dalam posisi tidur terlentang di pangkuannya. Lantas tanpa stimulus apapun (baik tepukan pelan, atau belaian, atau ASI) si kecil mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu tidur sendiri hanya dalam satu atau dua menit.  Subhanallah... saya teringat Zakhra yang jika ingin tidur akan berkata, 'Umi... bobok... nenen..."


Lantas saya bertanya, "Bisa tidur sendiri? Gak perlu dielus-elus?Sudah lepas ASI?"
dijawab, "Ya.. dia selalu tidur begini, tak payah-payah. Lepas ASI sudah sewaktu genap 2 tahun."
"Menyapihnya bagaimana? Rewel gak waktu disapih?' tanya saya lagi
"Tak lah. Bila dia berumur 1 tahun sepuluh (22 bulan) saya cakap djuwairiyah nanti kalau dah 2 tahun tak boleh mimik nenen lagi, sebab sudah besar. Anak besar minum dari cawan (gelas). Lalu bila dia sudah 2 tahun saya ingatkan dia lagi yang saya pernah cakap waktu dia umur satu tahun sepuluh, dia pun paham."

I just can said, "Subhanallaah"
Awalnya Djuwairiyah tidak berkenan saya dekati, tapi seiring waktu berjalan dia mulai mau saya pangku dan mulai merespon jika ditanya sesuatu. Saya memberi Djuwairiyah sebuah coklat. Ketika coklat itu habis tangannya belepotan dengan coklat. Saya pun mengajaknya cuci tangan ke wastafel. Saat cuci tangan, tiba-tiba Djuwairiyah berseru, "Nak sikat gigi!"
Ternyata di wastafel itu ada gelas yang berisi sikat gigi keluarga mereka. Tangan mungilnya langsung saja menyambar sikat gigi, dan ia pun menyikat giginya sendiri dengan cara yang tepat (belum pernah saya melihat anak 2 tahun bisa menyikat gigi dengan cara yang tepat seperti itu). Bertambah-tambah rasa takjub saya.

Ketika selesai shalat Maghrib, saya masih duduk di atas sajadah. Di luar kamar saya melihat Djuwairiyah dan Uminya berjalan menuju kamar mandi, "Wudhu Umi..." katanya pada Uminya.

"Ya, ini nak wudhu..." jawab Uminya. Masya ALLAH...
Lantas ketika makan malam, jilbab Djuwairiyah yang panjang mengenai sayur di piring. Siti Shafiyyah berinisiatif membuka jilbab adiknya agar tak kotor. "Buka dulu" katanya tanpa meminta persetujuan sang adik dan langsung mengangkat jilbab Djuwairiyah, tetapi sama cepatnya Djuwairiyah refleks menahan jilbab di kepalanya dengan tangan dan berteriak, "tak nak...tak nak... saya nak pakai..!!!". ALLAAHUAKBAR... 

THIS IS VERY SPECIAL CHILD, begitulah saya menyimpulkan... dan tak akan ada anak yang spesial tanpa ibunda yang spesial pula.Maka rasa penasaran mengantarkan saya untuk bertanya pada sang Bunda bagaimana cara dia mendidik anak-anaknya.
"Tak ada yang istimewa" jawabnya atas pertanyaan saya
"Hanya saja saya banyak buat do'a, amalkan puasa sunnah senin-kamis, 3 hari pada pertengahan bulan, puasa sunnah Rajab, Sya'ban... lalu sejak kecil pula anak-anak sudah saya biasakan untuk faham dan amalkan sunnah Rasulullah, amalkan adab-adab dalam kehidupan sehari-hari. Adab makan, adab tidur, adab di kamar mandi, fahamkan mereka 12 adab usul"

Saya ingin menguraikan lebih banyak lagi... tapi saya rasa cukuplah saya tambahkan bahwa anak-anak beliau biasa mengulang hafalannya sebanyak setiap 1 juz dalam 2 rakaat shalat tahajjud, masing-masing rakaat membaca 1/2 juz Al-Qur'an. Selepas shalat subuh mereka membaca Manzil (dzikir pagi), lalu shalat Isyraq dilanjutkan shalat dhuha. lalu mereka sarapan dan membereskan rumah. Lalu menghafal Alqur'an hingga Dhuhur. Lepas Dhuhur makan siang dan istirahat. Lepas Asar mereka melakukan aktifitas individu,dzikir lalu bermain (they are still child actually). Lepas Maghrib hingga menjelang tidur mereka membuat target hafalan baru dan ta'lim. Demikian setiap hari.
Ketika saya tanya pada Shafiyyah, " Tidak ada nonton Tv?"
"tidak"
"tidak ada baca koran atau majalah?"
"Tidak?"
"Tidak ada keinginan untuk nonton TV?"
"Tidak. Buat apa? Tak ada manfaat"

Lalu saya tanya pada Ibunya, "Apakah anak-anak pernah bosan atau protes dengan apa yang mereka jalani?"
"Taklah... sebab kita buat dengan musyawarah keluarga. Sebab sejak kecil pula mereka dah faham. Mereka dah pun faham bahwa tiada kekuasaan atas makhluq. Jika mereka punya keinginan mereka tak pernah kata pada saya, kata dalam hati, shalat dan berdoa saja, minta pada ALLAH."

Ketika saya dan beberapa orang ummahat lain yang juga ada di tempat itu menyampaikan bahwa kami sangat terkesan dengan caranya mendidik anak- anaknya dia hanya berkata
"Sebelum kenal dakwah sayapun jahil sangat. Tapi saya amat takut jika saya mendengar tentang adzab akhirat saat ta'lim. Lalu bila hidayah itu datang saya buat seolah berbalik 180 derajat, saya nak berubah seratus peratus (100%). Banyak orang khawatirkan saya yang terkesan ekstrim. Tapi apa saya boleh buat, jika hidayah ALLAH sudah datang mana saya boleh tolak?"

Dear All, mudah2an keluarga diatas dapat menjadi tauladan kita dalam mendidik putra-putri masa kini. Mendidik agar benar keyakinan kita pada ALLAH, tanpa terkotori sedikitpun syirik. Benar keyakinan kita bahwa dalam sunnah Rasul ada kejayaan... 

Jazakillaah ya Ummu Djuwairiyah...
Siti Djuwairiyah (mirip Zakhra yah..:-))
*) Miftahul Jannah, Istri dari Salman ‘Sakti’ Al-Jogjawy  (eks Sheila on Seven)
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya