» » Eksplorasi : Biarkan Anak Memilih

Eksplorasi : Biarkan Anak Memilih

Penulis By on Monday, October 6, 2014 | No comments



Oleh Muhammad Abdurrahman


“Bangun, Nak. Saatnya mandi. Ibu sudah siapkan baju gantinya”, ujar sang ibu. Sang anak pun lantas mandi dan berganti pakaian sesuai dengan yang sudah disiapkan sang bunda. “Nak…, ayo makan, Ibu sudah siapkan nasi dan ayam goreng,” seru sang ibu lagi seraya mengambilkan piring untuk anak. Hal ini terus berlangsung sejak anak masih kecil hingga dewasa. Tak ada kesempatan bagi anak untuk memilih apa yang diinginkannya.

Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, semua kegiatan anak sudah diurus ibu dengan sedemikian rupa. Memang sejak kecil anak ibu ini adalah anak yang baik. Penurut sekali kepada orangtua. Semua yang ibu dan bapak katakan selalu dia turuti. Namun di kala dewasa, sikap dan perilaku si anak justru membuat khawatir orangtuanya. Mengapa?

Setelah dewasa, ternyata anak ibu ini tetap penurut.Terhadap istrinya pun penurut. Di kantornya juga penurut, baik kepada atasan maupun teman. Dia tidak bisa mengungkapkan apa yang dipikirkan dan dirasakannya. Alhasil, orangtuanya pun hanya bisa menyesal karena telah salah menerapkan pola asuh anak sejak kecil.

Begitulah. Orangtua dengan dalih begitu menyayangi anaknya, hingga segala sesuatunya orangtua yang pilihkan tanpa memberikan kesempatan kepada anak untuk bisa belajar menentukan pilihannya sendiri. Salah satu contoh yang sederhana, memilih bajunya sendiri. Karena tidak mau repot, orangtua kadang memilihkan satu baju yang harus dipakai anak, “Pakai baju yang itu saja ya,” Padahal alangkah lebih baik jika orangtua bisa menyiapkan beberapa baju, kemudian keputusan baju mana yang akan dipakai diberikan kepada anak. Demikian pula dalam memilih makanan. Orangtua mesti menyiapkan beberapa jenis makanan. Biarkan anak memilih makanan apa yang akan dimakan.Memang repot sepertinya, namun insya Allah efeknya akan baik bagi perkembangan anak di masa mendatang.

Rachel Waddilove, ahli parenting dan pengarang buku The Toddler Book, menyebutkan, “Sangat penting membebaskan anak untuk menentukan pilihannya sendiri. Ia jadi belajar untuk menentukan apa yang ia lakukan, dan tidak hanya sekadar mengikuti apa yang diperintahkan Anda.”
Memperlakukan anak sebagai human being itu penting. Jika sejak dini kita ajarkan pada anak mealui kegiatan hari-hari bahwa hidup adalah pilihan. Maka ketika dewasa ia akan belajar membuat keputusan mana pilihan yang akan diambilnya. Anak juga manusia. Bukan benda yang tidak tahu apa-apa. Sehingga semua keputusan ada di tangan orangtua. Anak bukan juga orang dewasa mini yang bisa bersikap sama sesuai keinginan orangtua.

Ketika orangtua memahami bahwa anak adalah manusia, maka orangtua akan memberikan informasi bahwa hidup kita ada aturannya. Anak boleh memilih segala sesuatu dalam hidupnya yang sesuai dengan aturan yang sudah disiapkan Allah Sang Maha Pencipta.

Anak akan memahami bahwa dengan aturan maka hidupnya akan aman dan nyaman. Aturan hidup bagi seorang muslim adalah Al-Qur’an. Dari Abi Hurairah ra, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Sesungguhnya kewajiban orangtua dalam memenuhi hak anak itu ada tiga, yakni : pertama, memberi nama ketika lahir. Kedua, mendidiknya dengan Al-Qur’an dan ketiga mengawinkan ketika menginjak dewasa.”

Membiarkan anak untuk memilih sejak kecil adalah sebuah keharusan. Kita sebagai orangtua berada di garis belakang untuk terus melihat dan memberikan perspektif akan pilihan-pilihannya hingga ia sendiri yang akan menentukan sendiri; apakah pilihannya pas atau tidak untuk dirinya.


*) Muhammad Abdurrahman, Pemerhati dunia anak
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya