» » » » Kajian Utama : Best Practices dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Kajian Utama : Best Practices dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Penulis By on Sunday, October 5, 2014 | No comments

google.com
Oleh Irwan Nuryana Kurniawan

Sahal bin Sa’ad menyampaikan hadits tentang shalat Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. “Aku melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam melakukan shalat di atas mimbar. Setelah mendirikan shalat, beliau menghadap  orang-orang dan berkata,”Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku melakukan shalat seperti ini  agar kalian mengikuti cara shalatku ini dan agar kalian mengetahui cara shalatku.”

Suatu ketika Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu berwudhu. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda,”Siapa saja yang berwudhu seperti cara wudhuku, lalu ia melaksanakan shalat dua rakaat tanpa ada sesuatu hal yang mengganggu kekhusyukannya pada kedua rakaat itu, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda,”Ikutilah cara-caraku melakukan manasik haji.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam masjid. Lalu masuk seorang pria dan ia melakukan shalat. Kemudian ia mendatangi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dan mengucapkan salam kepada beliau. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam lalu menjawab salamnya dan berkata,”Kembalilah, ulangi shalatmu! Sesungguhnya engkau belum melakukan shalat.” Pria itu pun lalu kembali mengulangi shalatnya seperti sebelumnya. Lalu ia menghampiri Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam dan mengucapkan salam kepada beliau. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata,”Semoga Allah melimpahkan kesejahteraan bagimu.” Beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan,”Kembalilah dan ulangi shalatmu! Sesungguhnya engkau belum melakukan shalat.” Hal tersebut terus berulang hingga pria itu melakukan shalat sebanyak tiga kali. Pria itu lalu berkata,”Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran. Apakah yang lebih baik selain hal ini? Ajarkanlah kepadaku!”

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa memberikan contoh, menerapkan dan mempraktekkan sesuatu merupakan sarana terbaik agar ilmu yang disampaikan dapat dihafal dan terjaga dari kelupaan. Dibandingkan jika murid-murid harus menghafal sifat-sifat wudhu, maka seorang guru cukup mengambil air dan mempraktikkannya di hadapan mereka. Kemudian memerintahkan mereka untuk mencobanya sesuai dengan apa yang mereka lihat dari guru mereka. Demikian pula halnya dalam mengajarkan shalat dan yang lainnya.

Metode mengajar tersebut memudahkan guru, memberikan keluangan waktu dan tenaga bagi guru, dan membuat murid-murid berperan aktif agar manfaat yang ingin dicapai dapat terwujud. Guru hendaknya berusaha agar para murid mau mengkaji ulang sendiri dan dapat mengetahui sendiri kesalahan yang dibuatnya.  

Apapun pendekatan pembelajaran yang dipilih dan digunakan para guru dalam pendidikan agama Islam, sudah semestinya semakin memperkokoh akidah dan keimanan murid-murid mereka kepada Allah Ta’ala, menghiasi murid-murid mereka dengan akhlak mulia. Insya Allah.


*) Irwan Nuryana Kurniawan, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia 
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya