» » Kajian Utama : Pengajaran Agama dalam Kurikulum 2013

Kajian Utama : Pengajaran Agama dalam Kurikulum 2013

Penulis By on Sunday, October 5, 2014 | No comments

google.com
Oleh R. Bagus Priyosembodo

Proses pembelajaran pada Kurikulum 2013 untuk semua jenjang dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan ilmiah (saintifik). Langkah-langkah pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam proses pembelajaran meliputi menggali informasi melalui pengamatan, bertanya, percobaan, kemudian mengolah data atau informasi, menyajikan data atau informasi, dilanjutkan dengan menganalisis, menalar, kemudian menyimpulkan, dan mencipta.

Pendekatan saintifik selain dapat menjadikan murid lebih aktif juga dapat mendorong murid untuk melakukan penyelidikan guna menemukan fakta. Dalam proses pembelajaran, murid dibelajarkan dan dibiasakan untuk menemukan kebenaran ilmiah, bukan beropini dan duga tak berdasar dalam melihat suatu fenomena. Mereka dilatih untuk mampu berfikir logis, runut dan sistematis, dengan menggunakan kapasistas berfikir tingkat tinggi

Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi tertentu, pendekatan ilmiah tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Misalkan materi tentang hal yang ghoib. Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat non ilmiah. Misalkan pemberitaan tentang padang mahsyar haruslah melalui dalil yang shahih.

Pendekatan saintifik  dalam pembelajaran disajikan  sebagai berikut: 1) Mengamati (observasi). Metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu peserta didik. Sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi. Hendaklah  guru membuka secara luas dan bervariasi kesempatan peserta didik untuk melakukan pengamatan melalui kegiatan: melihat, menyimak, mendengar, dan membaca. Murid diharapkan terlatih dalam  kesungguhan, ketelitian, dan mencari informasi. Misalnya, murid memperhatikan tayangan, gambar fenomena nyata, dalil  atau penjelasan tentang sejarah perjuangan Nabi Muhammad  periode Makkah

2) Menanya. Guru membuka kesempatan secara luas kepada murid untuk bertanya mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, dibaca atau dilihat. Guru perlu membimbing murid untuk dapat mengajukan pertanyaan sampai ke tingkat di mana murid mampu mengajukan pertanyaan secara mandiri. Melalui kegiatan bertanya dikembangkan rasa ingin tahu murid. Semakin terlatih dalam bertanya maka rasa ingin tahu semakin dapat dikembangkan. Pertanyaan terebut menjadi dasar untuk mencari informasi yang lebih lanjut dan beragam. Kemampuan merumuskan pertanyaan untuk membentuk pikiran kritis yang perlu untuk hidup cerdas dan belajar sepanjang hayat.

Misalnya dialog mendalam secara klasikal atau kelompok untuk mengungkap sejarah perjuangan Nabi Muhammad  periode Makkah berdasarkan pengamatan terhadap tayangan video. Melakukan tanya jawab yang berkaitan dengan keadaan Makkah sebelum kedatangan Nabi serta strategi Nabi Muhammad dalam menyiarkan Islam.

3) Mengumpulkan Informasi. Kegiatan ini dilakukan  dengan menggali dan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber melalui berbagai cara. Untuk itu murid dapat membaca buku yang lebih banyak, memperhatikan fenomena atau objek yang lebih teliti, atau bahkan melakukan eksperimen. Dari kegiatan tersebut terkumpul sejumlah informasi.

4) Mengasosiasikan/ Mengolah Informasi/Menalar, yakni memproses  informasi yang sudah dikumpulkan dari yang bersifat menambah keluasan dan kedalaman sampai kepada pengolahan informasi yang bersifat mencari solusi dari berbagai sumber yang memiliki pendapat yang berbeda sampai kepada yang bertentangan.

Kegiatan ini dilakukan untuk menemukan keterkaitan satu informasi dengan informasi lainya, menemukan pola dari keterkaitan  informasi tersebut. Misalnya murid menganalisis dakwah Nabi Muhammad  di Makkah dalam bentuk membuat diagram alur (mind map).

5) Menarik kesimpulan. Setelah menemukan keterkaitan antar informasi dan menemukan berbagai pola dari keterkaitan tersebut, selanjutnya secara bersama-sama dalam satu kesatuan kelompok, atau  secara individual membuat kesimpulan. 6) Mengkomunikasikan. Guru memberi kesempatan kepada murid untuk mengkomunikasikan apa yang telah mereka pelajari. Murid menuliskan atau menceritakan apa yang ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan menemukan pola.

Misalnya murid  menyajikan paparan analisis dakwah yang dilakukan rasul di Makkah dalam bentuk membuat diagram alur (mind map) lantas menanggapi pertanyaan dan menyusun kesimpulan. ||


*) R. Bagus Priyosembodo, Redaktur Ahli Majalah Fahma
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya