» » Ketika Marah pada Anak

Ketika Marah pada Anak

Penulis By on Monday, October 20, 2014 | No comments

Oleh Suhartono

Seorang ibu nampak terlihat begitu lelah usai mengepel lantai. Tak lama kemudian, datang anak pertamanya yang baru berusia lima tahun. Sang anak menginjak lantai yang masih basah. Kontan saja sang ibu langsung mama marah besar, “Aduh…kamu ini bagaimana sih…? Gak tahu apa kalau ngepel itu capek? Sekarang kotor lagi gara-gara kamu injak. Mama kan sudah bilang tunggu di luar sampai lantainya kering,” berondong sang ibu dengan volume suara yang sangat keras.

Pada suatu saat, ada seorang psikolog, memberikan tes pada seorang anak. Anak ini diberi sebuah kartu olehnya dan ditanya, “Kira-kira ini gambar apa ya?“. Jawabannya, “Gambar monster, Bu”. Setelah kegiatan selesai, ia memberi penjelasan. Ternyata kartu itu mewakili sosok ayah. Artinya ayah bagi anak ini adalah sosok monster yang sangat menakutkan. Karena setiap ayahnya pulang bekerja, bukan kehangatan yang diterimanya, melainkan perlakuan tidak baik. Ayahnya berkata, “ Sana main di luar, jangan berisik di sini! Ayah capek baru pulang kerja,” dengan nada ketus dan suara keras.

Dari beberapa peristiwa di atas, sepertinya hari-hari yang dilalui oleh anak-anak ini dipenuhi dengan nuansa kemarahan. Tahukah kita bahwa penelitian mutakhir mengatakan bahwa setiap bayi baru dilahirkan, memiliki milyaran sel otak. Anak yang cerdas adalah anak yang memiliki banyak sambungan antara sel otak yang satu dengan sel otak lainnya.

Seorang ibu yang juga seorang peneliti, melakukan penelitian perkembangan otak bayinya sendiri. Sebuah alat khusus dipasang di kepala bayinya. Kemudian alat itu dihubungkan dengan kabel-kabel komputer. Sehingga dia bisa melihat pertumbuhan sel otak anaknya melalui layar monitor. Ketika bayinya bangun, dia memberikan ASI. Ketika bayinya minum ASI , dia melihat gambar-gambar sel otak itu membentuk rangkaian yang indah. Ketika sedang asyik menyusui, bayi yang berusia 9 minggu itu, tiba-tiba menendang kabel komputer. Si ibu kaget dan berteriak, “No”!

Teriakan si ibu membuat bayinya kaget. Saat itu juga, si ibu melihat gambar sel otak anaknya menggelembung seperti balon, membesar dan pecah. Kemudian terjadi perubahan warna yang menandai kerusakan sel. “Mungkin kesedihan ini hanya saya yang menanggungnya. Sebagai ibu dan sekaligus sebagai scientist, saya menyaksikan otak anak saya hancur oleh teriakan saya sendiri, ibunya,” tukas Lise Eliot, PhD, seorang Neuroscientist di Chicago Medical School dalam bukunya What’s Going On in There? How the Brain and Mind Develop in The First Five Years of Life (Bantam, 2000).

Nah, apa yang terjadi jika seorang anak setiap detik, menit, jam dan hari-hari yang dilaluinya selalu dipenuhi dengan pelototan, teriakan, apalagi ditambah amarah? Tak terbayangkan berapa jumlah sel otaknya yang akan mati akibat perlakukan buruk orang dewasa di lingkungannya.

Kita acapkali tidak bisa meredakan emosi pada saat menghadapi perilaku anak yang menjengkelkan. Kita menegur anak bukan karena ingin meluruskan kesalahan, tetapi karena ingin meluapkan amarah dan kejengkelan. Tidak mudah memang, tetapi kita harus terus belajar meredakan emosi saat menghadapi anak, utamanya saat menghadapi perilaku mereka yang membuat kita ingin berteriak dan membelalak. Jika tidak, teguran kita tidak akan efektif. Bahkan, bukan tidak mungkin mereka justru semakin menunjukkan “kenakalannya”.

Sekali lagi, betapa pun sulit dan masih sering gagal, kita perlu berusaha untuk menenangkan emosi saat menghadapi anak sebelum kita menegur mereka, sebelum kita memarahi mereka. Ya, kita harus sungguh-sungguh berupaya agar teguran kita tetap terkendali dan tetap terkontrol.

Semoga catatan ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.


*) Suhartono, Pendidik, tinggal di Yogya
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya