» » Kolom Prof In : Kita Masih Belum Beruntung

Kolom Prof In : Kita Masih Belum Beruntung

Penulis By on Sunday, October 5, 2014 | No comments

goole.com
Oleh Prof. Indarto
           
Ketika mendengar keluhan masyarakat miskin yang sering mendapatkan pelayanan kurang ramah dari petugas rumah sakit, saya jadi teringat pengalaman yang sempat menyentuh hati, dulu ketika kami berstatus sebagai masyarakat yang tidak mampu, tergolong masyarakat miskin, di salah satu negeri orang di benua Eropa.

Kebanyakan masyarakat Indonesia yang ada di tanah air membayangkan, bahwa mereka yang punya kesempatan tugas belajar di luar negeri itu hidupnya selalu enak, banyak uangnya, bisa rekreasi ke mana-mana, dan fasilitas lengkap. Mungkin iya, bagi mereka yang dikirim oleh instansi BUMN atau oleh departemen selain Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sedangkan mereka yang berasal dari Depdikbud, beasiswanya cukup-cukupan saja, apalagi seperti kami dan beberapa teman dari Indonesia yang berbeasiswa dari Pemerintah Perancis (Boursier du Gouvernement Francais), beasiswanya lebih kecil lagi. Kami di sana termasuk golongan masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan karena beasiswa yang kami terima masih di bawah penghasilan minimal buruh atau pegawai setempat. Sehingga kami mendapatkan bantuan sewa apartemen dan tambahan dana untuk keperluan hidup sehari-hari dari pemerintah daerah tempat kami tinggal.

Meskipun kami termasuk golongan masyarakat yang miskin, namun saat itu kami bisa hidup tenang karena kami juga mendapatkan beberapa kemudahan, termasuk tidak pernah merasakan kekhawatiran seandainya suatu saat kami harus berurusan dengan dokter atau rumah sakit. Pengalaman yang sangat berkesan pernah kami dapatkan, ketika suatu hari istri harus dibawa ke rumah sakit. Dengan diantar oleh seorang teman yang kebetulan mempunyai mobil, sesampainya di rumah sakit, istri langsung ditangani oleh petugas, tanpa menanyakan terlebih dahulu apakah kami mempunyai biaya atau tidak, berasuransi atau tidak. Yang mereka tanyakan hanya keluhan sakit yang diderita oleh istri, selain itu tidak ada.

Setelah istri tertangani dengan baik, sudah berada di salah satu kamar dengan tenang, barulah saya sebagai suami diminta untuk datang ke kantor administrasi. Saya ditanya, apakah kami sudah mempunyai kartu asuransi. Karena selama berada di Perancis, kami telah diasuransikan oleh pemerintah setempat, maka saya berikan kartu asuransi tersebut dan hanya dengan kartu tersebut, semuanya berjalan lancar tanpa ada persoalan. Kami tidak mengeluarkan uang sepeserpun. Kami merasakan keramahan pelayanan mereka.

Kalau saat itu kami merupakan anggota masyarakat yang berada, mungkin tidak heran, seperti lazimnya di Indonesia, mereka yang kaya pasti akan mendapatkan pelayanan yang berlebih. Walaupun status kami hanya sebagai mahasiswa, namun kami mendapatkan pelayanan yang sama dengan mereka yang berada, tidak ada pembedaan sama sekali.
Kemudahan dan perhatian yang kami dapatkan tidak hanya berhenti di rumah sakit. Selang satu hari, ketika istri masih belum pulang, kami menerima sebuah surat panggilan dari kantor pemerintah setempat. Kalau di Indonesia kantor tersebut kira-kira setingkat dengan kantor kelurahan. Timbul tanda tanya besar dalam diri saya, karena yang dipanggil biasanya mereka yang mempunyai persoalan. Padahal kami sudah berusaha sangat hati-hati hidup di negara lain, jangan sampai kami mempunyai persoalan sehingga akan mengganggu tujuan utama kami ke Perancis, yaitu tugas belajar.

Akhirnya, dengan membawa surat panggilan dan juga dengan perasaan was-was, saya datang menghadap ke salah satu bagian yang memang sudah tercantum dalam surat tersebut. Pertanyaan pertama yang saya terima dari petugas membuat saya kaget sekali “Bagaimana kondisi istri saudara?”. Mengapa dia bisa tahu kalau istri saya sedang sakit, padahal saya tidak cerita ke teman-teman yang lain, apalagi melaporkannya ke Kelurahan. Belum sempat saya menjawab pertanyaan itu, sudah disusul pertanyaan berikutnya “Apakah saat ini saudara mempunyai kesulitan masalah keuangan?”. Hah...saya semakin kaget dan terharu.

Mengapa mereka bisa seperti itu, karena negaranya kaya. Saya yakin, mestinya kita bisa lebih dari itu, selain karena mayoritas kita ini muslim, juga tanah-air kita jauh lebih kaya. “Kita masih belum beruntung” karena masih banyaknya korupsi dan terbiarkannya kekayaan negara yang diambil oleh negara lain dengan mudahnya. Wallahu a’lam bish-shawab.


*) Prof. Indarto, Pimpinan Umum Majalah Fahma
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya