» » Tadabbur Keluarga Ibrāhim, Kita Tidak Akan Mengerti Sampai .....

Tadabbur Keluarga Ibrāhim, Kita Tidak Akan Mengerti Sampai .....

Penulis By on Monday, October 6, 2014 | No comments

Oleh Yurisa Nurhidayati

Merenungi keluarga Ibrahim 'alayhissalam. Keluarga yang Allāh jadikan teladan mulia bagi seluruh umat manusia. Ialah contoh manusia yang paripurna pengorbanannya untuk Allāh Ta'ala saja. Yang tauhid-nya tidak hanya menggema di pikirannya atau pada cara pandangnya, tapi tauhid sudah menguasai perasaannya. Tauhid juga sudah tak bisa lepas dari tiap perilakunya.

Dan… kesempurnaan tauhid ini tidak mungkin muncul dan nampak begitu berkilau tanpa ujian besar yang Allāh beri. Ujian dari sejak belia hingga akhir hayatnya! Tak henti! Tak akan mungkin kita bisa tahu  kehebatan tauhid keluarga Ibrahim jika kita tidak melihat bagaimana sikapnya ketika diuji. Sebagaimana kita tidak akan tahu suatu benda itu tahan banting atau tidak tanpa dihempaskan dulu kencang-kencang.

Bermula dari Ibrahim muda yang tak pernah goyah tauhidnya, walaupun ayahandanya sendiri menentang dan mengancam. Terabadikan dalam al-Qur'ān, betapa sikap lembut Ibrahim pada ayahandanya pun tetap tidak menggeserkan keyakinan syirik ayahnya. Ibrahim muda yang tak pernah goyah tauhidnya, walaupun pemerintah dan masyakaratnya hendak membakarnya. Terabadikan dalam al-Qur'ān, betapa Ibrahim tetap menggenggam iman walau nyawa taruhannya. Walau di dunia hanya sendirian ia beriman, tak peduli baginya. 

Merenungi diri ini, sejauh apa kualitas iman di hati?
Sedangkan lingkungan seringkali menjadi kambing hitam ketika terhempas futur.
Sedangkan ada dari kita yang menyalahkan orangtua/keluarga atas 'ketidaktahuan' kita akan al-Islām...

Terekam pula dalam sejarah, Ibrahim sebagai nabi dan juga sebagai suami dan juga ayah. Ketika Allāh karuniakan istri yang shalihah dan bayi mungil yang teramat ia rindui dan cintai, Ibrahim harus meninggalkan keduanya di tanah tandus demi misi dakwah yang ditentukan Rabb-nya. Tak terbayang bagaimana didikan suami atas istrinya, Ibrahim pada Bunda Hajar. Tak ada rasa cemas dan takut pada Bunda Hajar, tergambar dari kemantapan hatinya "Jika ini perintah Allāh, maka sungguh Allāh pasti tidak akan pernah menyia-nyiakan kami!" 

Meratapi diri ini, sejauh mana kepercayaan diri ini pada Allāh?
Tidak ada setitik pun keraguan bagi Bunda Hajar pada Allāh. Dia-lah Ar-Razāq. Pemberi Rizqi Sejatinya pada seluruh alam!  Sedangkan kita, seringkali akal terkuasai oleh logika dunia, perasaan terkuasai oleh cinta dunia, perilaku terkuasai oleh apa-kata-orang. Seandainya ketika Ibrahim masih hidup dan ada media seperti sekarang ini, mungkin akan tersebar berita bahwa ada seorang nabi tega meninggalkan anak dan istrinya. 

Keluarga Ibrahim, adalah keluarga yang paripurna Tauhid-nya. Anak setegar Isma'il, tak akan mungkin bisa menawarkan lehernya untuk disembelih ayahnya sendiri kecuali karena iman yang menghujam begitu dahsyat di dadanya. Dan siapakah yang mendidik Isma'il? Ibundanya seorang, Bunda Hajar. Ya, karena sang ayah tak melihat tumbuh kembang anaknya sendiri demi dakwah yang telah ditetapkan Allāh Rabb Semesta Alam. 

Keluarga Ibrahim, keluarga yang tak menyisakan setitikpun dunia di hati mereka. Keluarga yang hanya menggantungkan diri hanya pada Allāh saja. 
Dan sungguh, kita tidak akan mengerti keimanan mereka, sampai kita berada pada frekuensi iman yang sama dengan mereka. 

Saat ini mungkin kita hanya meraba-raba, membayang-bayangkan betapa besar hasrat akhirat mereka. Begitu menggelora iman mereka. Dan betapa Allāh memberikan ketenangan di hati mereka ketika ujian demi ujian terlampaui. Saat ini kita hanya menduga-duga, mengetahui lewat akal pikiran kita, begitulah iman Ibrahim. Begitulah keluarga Tauhid. 

Dan kita pun juga diuji seperti mereka. Dengan cara yang berbeda, dengan level yang berbeda..

Tiada hari tanpa ujian Tauhid, sadar atau tidak. 
Di setiap pilihan hidup kita, selalu ada ujian tauhid. Apakah yang kita pilih itu sesuai dengan yang Allāh suka? Atau just for my own sake? 

Merenungi keluarga tauhid, keluarga Ibrahim…. 

Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Allāhu Akbar..
Lā ilāha illallāhu 
Allāhu Akbar,
Allāhu Akbar, 
wa lillāhil-hamd!


*) Yurisa Nurhidayati, Lulusan Psikologi Universitas Gajah Mada, Tinggal di Padang.
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya