Matikan TV Anda, dan Berbahagialah


Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Sabar. Ah…, rasanya kata ini yang kerap kali hilang ketika kita memerintahkan anak-anak kita untuk mendirikan shalat. Karena keinginan yang kuat agar mereka menjadi anak-anak shalih yang mendoakan, kita haruskan mereka melakukan shalat bahkan ketika usianya belum genap empat tahun. Karena besarnya tekad agar mereka tidak mengabaikan shalat, kita memarahi anak-anak dengan ucapan dan cubitan atas sebab kurang seriusnya mereka shalat, padahal usianya baru saja memasuki lima tahun. Atau…, kita mudah marah kepada mereka disebabkan kita tidak mau bersusah-payah berusaha? Kita ingin memperoleh hasil yang cepat dengan usaha yang sedikit.

Apa yang membuat para orangtua semakin menipis kesabarannya? Selain karena lemahnya tujuan dan tidak adanya visi ke depan dalam mendidik anak, banyaknya waktu menonton TV juga sangat berpengaruh. Selama menonton TV, otak kita cenderung pasif. Ron Kauffman, pendiri situs TurnOffYourTV.com, menunjukkan bahwa selama menonton TV pikiran dan badan kita bersifat pasif (berada pada kondisi alfa). Tidak siap untuk berpikir. Jika keadaan ini terus berlanjut, orangtua akan cenderung bersikap dan bertindak secara reaktif. Bukan responsif. Mereka mudah marah ketika mendapati anak melakukan apa yang dirasa mengganggu. Mereka juga mudah bertindak kasar jika anak tidak segera melakukan apa yang diinginkan orangtua. Apalagi jika sebelumnya mereka sudah memiliki kecenderungantemperamental, semakin cepatlah mereka naik darah.

Di luar itu, secara alamiah kita –anak-anak maupun dewasa—cenderung tidak siap melakukan pekerjaan lain secara tiba-tiba jika sedang asyik melakukan yang lain. Kalau Anda sedang asyik nonton pertandingan sepak bola, telepon dari bos Anda pun bisa terasa sangat mengganggu. Apalagi kalau gangguan itu berupa permintaan istri untuk membersihkan kamar mandi, keasyikan menonton atraksi kiper menepis bola bisa membuat emosi Anda mendidih. Apatah lagi jika gangguan itu datang dari rengekan anak Anda yang minta diantar pipis…!

Jika menonton TV sudah menjadi bagian hidup orangtua yang menyita waktu berjam-jam setiap harinya, pola perilaku yang reaktif, impulsif dan emosional itu lama-lama menjadi karakter pengasuhan. Semakin tinggi tingkat keasyikan orangtua menonton TV, semakin tajam ”kepekaan” mereka terhadap perilaku anak yang ”mengganggu” dan ”membangkang”. Akibatnya, semakin banyak keluh-kesah, kejengkelan dan kemarahan yang meluap kepada anak-anak tak berdosa itu. Lebih menyedihkan lagi kalau lingkaran negatif menumbuhkan keyakinan bahwa anak-anak (sekarang) memang susah diatur.

Matikan TV Anda dan Berbahagialah
Satu lagi masalah yang sering dihadapi orangtua: merasa tidak ada waktu untuk mendampingi anak. Kesibukan selalu merupakan alasan klasik yang membenarkan hampir semua kesalahan kita. Kita tidak punya waktu untuk anak. Tetapi kita memiliki kesempatan untuk menonton TV begitu tiba di rumah, karena orang sibuk memerlukan hiburan. Sebuah alasan yang sangat masuk akal ketika istri tak lagi cukup untuk menghibur hati.

Nah.
Apakah tidak ada jalan untuk membalik keadaan? Matikan TV dan hidupkan hati Anda. Kalau Anda merasa benar-benar memerlukan TV, susun jadwalnya. Pastikan Anda menonton, misalnya maksimal satu jam sehari semalam atau setengah dari itu, dan tentukan Anda hanya melihat tayangan yang benar-benar bergizi. Bukan cerita-cerita kosong yang tidak berarti.

Begitu Anda mematikan TV dan mengalihkan hiburan dalam bentuk bercanda dengan anak-istri, insyaAllah Anda akan mendapatkan beberapa keuntungan ganda sekaligus. Anda mendapatkan waktu dan kesempatan untuk bercanda maupun bercakap-cakap –bukan sekedar berbicara dengan orang-orang yang Anda cintai; Anda juga menabung kesabaran; sekaligus Anda membangun kedekatan hati dengan keluarga.

Ada perbedaan antara berbicara dengan bercakap-cakap (ngobrol). Berbicara bersifat satu arah, sedangkan ngobrol bersifat mengalir dimana kita saling mengajukan pertanyaan, tapi bukan berupa tanya-jawab. Ngobrol membuat hati semakin dekat satu sama lain. Ngobrol juga menjadikan perasaan kita lebih hidup. Tentu saja, apa yang kita obrolkan juga berpengaruh.

Ya, bercakap-cakap dengan obrolan yang baik. Inilah kenikmatan surga yang bisa kita hadirkan di rumah kita tanpa harus mati terlebih dahulu. Pada saat ngobrol, kita bisa memberi dukungan sekaligus dorongan positif bagi anak-anak kita. Ini merupakan salah satu yang sangat mereka perlukan untuk mengembangkan sense of competence (perasaan bahwa dirinya memiliki kompetensi). Dukungan dan dorongan positif yang kita berikan di saat yang tepat, sangat berperan untuk membangun diri dan percaya diri mereka. Tetapi ini sulit sekali kita berikan kepada mereka jika kesabaran tidak ada, waktu tidak punya dan keakraban tidak terjalin. Kita berbicara kepada mereka, tetapi tidak berkomunikasi. Kita mendengar suara mereka, tetapi tidak mendengarkan perkataan dan isi hatinya. Sebabnya, otak kita sudah penat karena beban kerja dan tayangan TV yang menyita energi otak kita. [baca juga: Hidup Bahagia Tanpa TV (bagian 1)]

Nah.
Omong-omong, kapan terakhir kali Anda ngobrol dengan anak Anda? Sudah lama..?

*) Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku. Twitter @kupinang


Makanan Cerdas : Sawi Putih


Oleh Ana Noorina

Pada umumnya khasiat dan manfaat sawi putih adalah sebagai makanan pemulih tenaga. Hal ini dikarenakan sawi putih mengandung kaya zat besi dan magnesium, tidak seperti halnya makanan daging yang menyimpan potensi merugikan jika dimakan berlebihan.

Sawi putih kaya akan vitamin K yang berfungsi mengatur protein tulang dan kalsium di dalam tulang. Kandungan vitamin E, betakaroten dan vitamin C yang berfungsi mencegah kolesterol dan penyakit jantung.  Ketiga zat itu mampu mencegah terjadinya oksidasi kolesterol LDL. Kandungan niasin pada sawi putih berguna dalam memperkecil proses ateroskerosis, yang pada akhirnya menurunkan kemungkinan terkena serangan jantung.

Selain itu, sawi putih juga mengandung vitamin A yang berfungsi membuat sel epitel akan mengeluarkan keratin yaitu protein yang tidak larut dalam ari dan bukan mucus. Asam folat yang ada di dalam sawi putih berguna dalam proses sintesis nukleoprotein yaitu kunci pembentukan dan produksi butir-butir darah merah normal dalam sumsum tulang.

Sawi putih juga mengandung kalsium sebagai mineral penting bagi tubuh yang berguna dalam menurunkan kadar kolesterol dan gula merah. Kandungan Indole dan Isotiosianat berguna dalam mengurangi potensi kanker, karena fungsi kedua komponen tersebut mengendalikan enzim terhadap proses detoksifikasi hati. Hasil studi epidemologi, Park dan Pezzuto (2002) menunjukkan bahwa konsumsi sayuran dari genus Brassica (termasuk sawi) mampu menurunkan resiko berbagai jenis kanker, yaitu kanker payudara, prostat, ginjal, kolon, kandung kemih dan paru-paru. Zat sulforan seperti dipublikasi kan oleh Journal of Nutrition (2004) melaporkan bahwa kandungan sulforan yang banyak terkandung pada golongan Brassica sangat efektif untuk mencegah pertumbuhan sel kanker payudara. Kandungan Goitrogen dalam Sawi berfungsi menghambat fungsi kelenjar tiroid, yang akan menimbulkan terjadinya goiter gondok.

*) Ana Noorina, Pemerhati gizi


Majalah Fahma Desember 2014 : Penilaian Otentik Kurikulum 2013

Cover Majalah Fahma Desember 2014

Terjadinya perubahan kurikulum 2006 menjadi kurikulum 2013 mengubah penggunaan istilah penilaian. Istilah penilaian berbasis kelas (PBK) seperti yang dinyatakan dalam oleh BNSP (2006) tidak lagi digunakan dalam kurikulum 2013. Dalam kurikulum 2013, ada tiga fokus pengembangan kurikulum, yaitu  standar kompetensi lulusan, standar proses dan standar penilaian.

Permendikbud No.66 tahun 2013 mendeskripsikan adanya empat elemen perubahan dalam standar penilaian pendidikan, yaitu:  1) Penilaian berbasis kompetensi; 2) Pergeseran dari penilaian melalui tes (mengukur kompetensi pengetahuan berdasarkan hasil saja) menuju penilaian otentik (mengukur kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan berdasarkan proses dan hasil); 3) Penilaian tidak hanya pada level KD (kompetensi dasar), tetapi juga kompetensi inti dan SKL (standar kompetensi lulusan); 4) Mendorong pemanfaatan portofolio yang dibuat siswa sebagai instrumen utama penilaian dan penilaian mandiri oleh siswa.

Menurut Jon Mueller (2006), penilaian otentik merupakan suatu bentuk penilaian yang para siswanya diminta untuk menampilkan tugas pada situasi yang sesungguhnya yang mendemonstrasikan penerapan keterampilan dan pengetahuan esensial yang bermakna.  Oleh karena itu penilaian otentik lebih sering dinyatakan sebagai penilaian berbasis kinerja (performance based assessment) atau penilaian kinerja (performance assessment). Hal itu diperkuat oleh Stiggins (1994) (2006) bahwa penilaian otentik sinonim dengan penilaian kinerja (performance assessment).

Namun Meyer (1992) dan Marzano (1993) membedakan penggunaan kedua istilah tersebut, karena penilaian otentik harus dilakukan pada situasi yang nyata (pada proses belajar), sedangkan penilaian kinerja bisa saja dilakukan pada konteks yang diciptakan sengaja untuk mengukur keterampilan tersebut (misalnya : setelah proses belajar).

Insya Allah, pembahasan lebih lanjut mengenai penilaian otentik ini akan menghiasi Kajian Utama edisi Desember 2014 ini. Selamat menyimak.

Wassalaamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh
Redaksi

Penilaian Keadaan Sebenarnya


Oleh R. Bagus Priyosembodo


Suatu standar dibutuhkan.  Standar berperan sebagai patokan. Standar adalah pemicu perbaikan amal dalam kehidupan.

Standar dalam pendidikan dibutuhkan sebagai acuan kemampuan minimal  yang musti dipenuhi oleh seorang lulusan. Setiap calon lulusan akan dinilai apakah ia telah dapat memenuhi standar minimal yang ditetapkan. Diharapkan seluruh bagian yang terlibat dalam pengelolaan pendidikan akan berusaha  mengarahkan upayanya pada pencapaian standar yang telah ditetapkan.

Guru diharapkan memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang harus dikuasai muridnya.
Guru diberi kebebasan yang luas dalam merancang dan melakukan proses pembelajaran yang dipandangnya terefektif dan terefisien dalam mencapai standar tersebut. Guru akan terus dipicu agar dapat menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran tuntas dan tidak sekedar berupaya dengan berpusat perhatian pada pencapaian target kurikulum semata.

Dalam melakukan Penilaian otentik guru menapaki proses pengumpulan data tentang perkembangan dan pencapaian pembelajaran yang dilakukan murid melalui berbagai cara yang mampu mengungkapkan, membuktikan, atau menunjukkan secara tepat bahwa tujuan pembelajaran dan kemampuan  telah benar-benar dikuasai dan dicapai.

 

Prinsip-Prinsip Penilaian Otentik

1.    Proses penilaian harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran, bukan bagian terpisah dari proses pembelajaran. Penilaian harus mencerminkan masalah dunia nyata, bukan sekedar masalah dunia sekolah
2.    Penilaian harus menggunakan berbagai ukuran, metoda dan kriteria yang sesuai dengan karakteristik dan sari pengalaman belajar,
3.    Penilaian harus bersifat menyeluruh yang mencakup semua aspek dari tujuan pembelajaran (sikap, keterampilan, dan pengetahuan).

Guru perlu melakukan proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar murid. Gambaran perkembangan belajar murid perlu diketahui oleh guru. Karena guru berkebutuhan memastikan bahwa murid mengalami proses pembelajaran dengan benar. Apabila data menunjukkan bahwa murid mengalami kelambatan atau kesukaran dalam belajar, guru segera bisa mengambil tindakan yang tepat. Penilaian tidaklah cukup hanya dilakukan di akhir saja. Kegiatan penilaian dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembelajaran.

penilaian otentik mengukur, memonitor dan menilai semua aspek hasil belajar, baik yang tampak sebagai hasil akhir maupun berupa perubahan dan perkembangan kegiatan, serta perolehan belajar selama proses pembelajaran didalam kelas maupun diluar kelas.

Guru hendaklah menggunakan format penilaian yang memungkinkan murid untuk menyelesaikan suatu tugas atau menunjukkan suatu bentuk dalam memecahkan  masalah. Format penilaian ini dapat berupa :
      tes yang menghadirkan benda atau kejadian ke hadapan murid,
      tugas (tugas ketrampilan, tugas investigasi ),
      rekaman kegiatan belajar  (misalnya : portfolio, interview, daftar cek, presentasi dan diskusi).


Tujuan dari penilaian adalah untuk pemeringkatan, seleksi, mengetahui tingkat penguasaan kompetensi, bimbingan, diagnosis, dan prediksi.
1.    Sebagai grading, penilaian ditujukan untuk menentukan atau membedakan kedudukan hasil kerja seorang murid dibandingkan dengan murid yang lain.
2.    Sebagai alat seleksi, penilaian ditujukan untuk memisahkan antara murid yang masuk dalam kategori kualitas tertentu dan yang tidak termasuk.
3.    Untuk menggambarkan sejauh mana seorang peserta didik telah menguasai kompetensi.
4.    Sebagai bimbingan, penilaian bertujuan untuk mengevaluasi hasil belajar murid dalam rangka membantu murid memahami dirinya, membuat keputusan tentang langkah berikutnya, baik untuk pemilihan program, pengembangan kepribadian maupun untuk penjurusan.
5.    Sebagai alat diagnosis, penilaian bertujuan menunjukkan kesulitan belajar yang dialami murid  dan kemungkinan prestasi yang bisa dikembangkan. Ini akan membantu guru menentukan apakah seseorang perlu pengulangan atau pengayaan.
6.    Sebagai alat prediksi, penilaian bertujuan untuk mendapatkan informasi yang dapat memperkirakan  kinerja murid pada jenjang pendidikan berikutnya atau dalam pekerjaan yang sesuai.


*) R. Bagus Priyosembodo, Redaktur Ahli Majalah Fahma

Berlibur Bersama Anak

Oleh Mahmud Thorif

Berlibur memang asik, apalagi jika dilakukan bersama anggota keluarga tercinta. Ada banyak cerita dan tentu makna di sana. Ada banyak hal yang bisa didapatkan, bisa saling memahami sesame anggota keluarga, bisa saling bertukar pikiran, dan tentu saja bisa menghibur diri dan keluarga dalam kebersamaan.

Menentukan libur bersama memang diperlukan, misalnya sepekan sekali, sepekan dua kali, atau sebulan sekali. Karena jika lama berkutat dengan pekerjaan, saat bisa menikmati liburan alangkah nikmatnya.

Naah setelah bisa menentukan waktu libur bersama, tentukan juga tujuan liburan. Tentulah banyak pilihan, mulai dari liburan yang edukatif, liburan yang rekreatif, atau yang memadukan keduanya liburan yang edukatif dan rekreatif. Liburan edukatif misalnya mengajak anak-anak berlibur ke perpustakaan, ke pasar, atau tempat outbond, dan banyak lainnya. Atau tempat-tempat yang sederhana, misalnya memancing di sungai atau di pemancingan lalu selepas itu makan bersama. Sedangkan liburan yang rekreatif tentu banyak pilihannya.

Kalau anak-anak diajak berlibur, tentu mereka akan gembira. Naah disaat gembira itulah orangtua bisa memberikan nilai-nilai tentang norma-norma agama kepada mereka, tentulah anak-anak itu akan dengan mudah menerimanya disbanding saat mereka sedih, atau saat mereka marah, atau malah kita sebagai orangtua memberinya saat marah. Berikan secukupnya, jangan berlebihan, karena jika berlebihan anak juga akan bosan.

Selamat menyiapkan liburan Anda bersama keluarga tercinta.

Pendidikan Seks dalam Islam


Oleh Dr Akhmad Alim,Lc., M.A

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى
لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”. (An-Nuur [24]: 30-31).

Muqaddimah
Salah satu masalah besar yang sedang mengancam moralitas anak bangsa adalah virus pornografi. Pengaruh teknologi informasi yang begitu kuat, yang diiringi lemahnya iman, serta kurangnya filter, merupakan penyebab pelajar mengakses konten pornografi.

Selain itu, juga faktor pergaulan bebas dan lemahnya pengawasan dari keluarga, lembaga pendidikan maupun pemerintah. Fenomena ini, jika tidak segera ditanggulangi dan dicarikan solusinya bisa jadi negeri ini senasib dengan negara-negara sekuler yang tidak mempedulikan batas halal haram dalam pergaulan.

Untuk itu, memberikan pendidikan seks dengan cara yang benar dan tepat adalah sebuah keharusan bagi setiap orangtua, dan para pendidik agar generasi mendatang tumbuh kembang sesuai dengan fitrahnya.

Ketidaktahuan tentang pendidikan seks akan menjerumuskan pada hal-hal negatif. Pendidikan ini penting dalam rangka pembentukan keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah, sehingga tercapai tatanan masyarakat yang harmonis dalam bingkai syariat Islam.

Ghaddul Bashar
Pada ayat itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) memerintahkan dua hal yang amat mendasar kepada kaum Muslimin: ghaddul bashar (menjaga pandangan mata), dan hifdzul furuj (menjaga kemaluan).

Menurut Ibn Katsir, yang dimaksud ghaddul bashar adalah kewajiban bagi setiap Muslim menjaga pandangan matanya dari segala hal yang diharamkan oleh Allah SWT, dan segera memalingkan pandangannya jika tidak sengaja melihat sesuatu yang haram.


Penafsiran yang sama juga diungkapkan oleh Al-Gharnathi, ghaddul bashar merupakan sebuah upaya untuk membatasi pandangan pada sesuatu yang halal saja, dan menjauhi sesuatu yang haram, seperti melihat aurat wanita lain yang bukan istrinya. (At-Tashil Li Ulum At-Tanzil, jilid 3, h. 64).

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) bersabda: “Pandangan itu adalah panah beracun di antara panah iblis, siapa yang meninggalkannya karena takut kepada-Ku, maka akan Aku gantikan dengan keimanan, yang ia dapatkan manisnya di dalam hatinya.” (Riwayat Thabrani).

Jadi, menjaga pandangan adalah tindakan preventif yang sangat efektif untuk mengendalikan diri dari syahwat birahi yang ada pada diri setiap manusia. Perintah ini didahulukan dari perintah menjaga kemaluan, karena menjaga pandangan itu pintu gerbang pertama yang membentengi pintu berikutnya. Juga, sebagai awal dari semua kebaikan, karena menjaga pandangan mata sama dengan menjaga diri kita dari berbagai fitnah.

Hifdhul Furuj
Perintah kedua adalah kewajiban untuk hifdzul furuj (menjaga kemaluan). As-Sam’ani menafsirkan, setiap Muslim wajib memiliki sifat Al-Iffah, yaitu menjaga kehormatannya, tidak menyalurkan syahwatnya kecuali pada apa yang telah dihalalkan Allah SWT.

As-Sinqithi mengatakan, menjaga kemaluan adalah tindakan preventif dan pilar bagi kemuliaan setiap mukmin. Sebab, menurut Allah SWT dalam surat al-Mukminun ayat 5, mukmin yang sukses adalah mereka yang menjaga kemaluannya. (Adhwa Al-Bayan, jilid 5, h. 506).

Perintah menjaga pandangan dan kemaluan saling bersinergi, karena pintu pertama adalah jalan menuju pintu yang kedua. Artinya, jika pandangan mata dapat dikendalikan, kemaluan pun mudah dikendalikan. Sebaliknya, jika pandangan dibiarkan begitu saja tanpa kendali syariat, kemaluan pun tidak terkendali, sehingga jatuh dalam perbuatan keji dan mungkar.

Jika kedua perintah ini terlaksana akan membawa efek positif pada pensucian jiwa. Ali Ash-Shabuni mengatakan bahwa itu adalah metode yang paling tepat untuk menjaga harga diri setiap Muslim dan kesempurnaan agamanya.

Kajian Implementatif
Prinsip-prinsip dasar pendidikan seks pada ayat tersebut, jika diimplementasikan kepada anak mencakup dua program yang mendasar. Pertama, menahan pandangan (ghaddul bashar). Hal itu dapat dilakukan dalam bentuk menghindarkan anak dari segala bentuk tontonan yang mengandung pornografi, pornoaksi, dan segala hal yang mengundang syahwat. Baik yang terdapat di media cetak, maupun elektronik, dan lingkungan yang tidak kondusif. Juga mengawasi dan membatasi penggunaan handphone, internet, dan sejenisnya, agar tidak disalahgunakan pada hal-hal yang negatif.

Selain itu, perlu memisahkan antara siswa laki-laki dan perempuan di ruang kelas, dan ruang lainnya sejak duduk di bangku PAUD sampai perguruan tinggi agar tidak terjadi ikhtilath di antara mereka. Demikian juga memisahkan tempat tidur dimulai dari usia 7-10 tahun, karena pada usia ini, anak mulai melakukan eksplorasi ke dunia luar. Anak tidak hanya berpikir tentang dirinya, tapi juga sesuatu yang ada di luar dirinya.

Pemisahan tempat tidur merupakan upaya menanamkan kesadaran pada anak tentang eksistensi dirinya. Jika pemisahan tempat tidur dilakukan terhadap anak dengan saudaranya yang berbeda jenis kelamin, secara langsung ia telah ditumbuhkan kesadarannya tentang eksistensi perbedaan jenis kelamin.

Meminta Izin dan Mengenalkan Waktu Berkunjung
Ada tiga ketentuan waktu yang tidak diperbolehkan bagi anak-anak untuk memasuki kamar orang dewasa, kecuali meminta izin terlebih dulu: waktu sebelum shalat Subuh, waktu zuhur, dan setelah shalat Isya’. Syariat ini ditetapkan mengingat di antara ketiga waktu itu merupakan waktu aurat, dimana ketika badan atau aurat orang dewasa banyak terbuka. Jika pendidikan semacam ini ditanamkan pada anak-anak, maka ia akan menjadi anak yang memiliki sopan-santun dan etika yang luhur.

Kedua, menjaga kemaluan (hifdzul furuj). Ini bisa dilakukan dengan menanamkan rasa malu pada anak sejak dini. Jangan biasakan anak-anak, walau masih kecil, bertelanjang di depan orang lain; misalnya ketika keluar kamar mandi, dan berganti pakaian. Membiasakan anak perempuan sejak kecil berbusana Muslimah menutup aurat untuk menanamkan rasa malu sekaligus mengajari anak tentang auratnya.

Selain itu, perlu juga menanamkan jiwa maskulinitas pada anak laki-laki, dan jiwa feminitas pada anak perempuan agar tidak terjadi penyimpangan fitrah. Sebab, Islam tidak menghendaki wanita menyerupai laki-laki, begitu juga sebaliknya. Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang berlagak wanita dan wanita yang berlagak meniru laki-laki. (Riwayat Bukhari).

Penutup
Pendidikan seks dalam al-Qur’an tidak hanya sekadar informasi yang berorientasi fisik semata, tapi lebih kepada bimbingan aqidah, ibadah, dan kehidupan bermuamalah dalam rangka membentuk tatanan masyarakat yang harmonis di bawah naungan syariat Allah SWT.

*Dosen Pascasarjana di Universitas Ibn Khaldun, Bogor

Anak Perlu Belajar Mandiri


Oleh Mohammad Fauzil Adhim
SECARA alamiah, anak sebenarnya cenderung untuk belajar memiliki kemandirian. Ia berusaha menyuapi diri sendiri, meniru kita memasak, pakai sepatu atau pakai baju sendiri, meskipun masih terbalik. Ini semua merupakan kecenderungan awal yang apabila memperoleh kesempatan dari orangtua menjadikan anak memiliki kemandirian, secara luas maupun terbatas. Lebih-lebih jika orangtua memberi dukungan kepada anak untuk melakukan berbagai hal, termasuk yang masih relatif sulit, secara mandiri.

Tetapi kerap terjadi, orangtua tidak tega melihat anak mengalami kesulitan, sehingga alih-alih sayang anak justru merebut kesempatan anak untuk belajar. Tak jarang orangtua melakukan itu bukan karena sayang, tapi karena tidak sabar atau bahkan gengsi. Menyuapi anak makan misalnya, kadang karena sayang. Tapi tak dapat dipungkiri kerap orangtua menyuapi anak di saat anak sedang ingin belajar menyuapi diri sendiri karena orangtua tidak sabar, menganggap anak kelamaan, atau hanya karena tidak ingin lantainya kotor.

Sikap orangtua yang semacam ini akan memperburuk keadaan jika di saat yang sama anak sedang mengembangkan perilaku merajuk demi memperoleh perhatian yang lebih. Adakalanya anak tidak mau melakukan sesuatu sendiri juga bersebab keasyikan terhadap sesuatu, misalnya nonton TV atau main game. Jika ini dibiarkan, maka bukan saja kemandirian sulit diraih, meskipun untuk perkara yang sederhana. Lebih dari itu juga dapat mendorong anak menjadi pemalas atau mengembangkan rasa tak berdaya karena menganggap diri ‘ajiz(lemah karena sial).

Lalu apa saja yang perlu mendapat perhatian kita? Beberapa hal berikut ini semoga bermanfaat:

Kemandirian dalam Keterampilan Hidup
Prinsip pokok menumbuhkan kemandirian dalam soal ini adalah memberi kesempatan. Bukan melatih. Anak secara alamiah memang cenderung berusaha belajar melakukan berbagai keterampilan hidup sehari-hari secara mandiri, semisal makan. Jika kita mengizinkan anak melakukan berbagai aktivitas hidup sehari-hari tersebut secara mandiri, lambat laun akan terampil. Yang kita perlukan hanyalah kesediaan mendampingi sehingga anak tidak melakukan terlalu banyak kesalahan, meskipun kita tetap harus menyadari bahwa untuk mencapai keterampilan perlu latihan yang banyak dengan berbagai kesalahannya.

Makan misalnya, kita melihatnya sebagai keterampilan yang sangat biasa dan tidak istimewa. Tetapi Anda akan terkejut manakala mendapati orang dewasa tidak terampil menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri karena orangtua terlalu memanjakan sehingga senantiasa menyuapi anak hingga dewasa. Ini memang jarang terjadi, tapi kasus anak benar-benar tidak memiliki keterampilan makan hingga ia dewasa itu sungguh-sungguh terjadi.

Kemandirian itu akan lebih meningkat kualitasnya jika orangtua secara sengaja member rangsangan kepada anak berupa tantangan untuk mengerjakan yang lebih rumit dan sulit. Ini bukan saja melatih kemandirian dalam urusan keterampilan hidup sehari-hari, melainkan juga menumbuhkan kemandirian secara emosional.

Kemandirian Psikososial
Bertengkar itu tidak baik. Tetapi menghentikan pertengkaran begitu saja, menjadikan anak kehilangan kesempatan untuk belajar menyelesaikan konflik. Kita memang harus menengahi dan adakalanya menghentikan. Tetapi kita juga harus membantu anak menggali masalanya, merunut sebabnya dan menawarkan jalan keluar kepada anak, baik dengan menunjukkan berbagai alternatif tindakan yang dapat diambil maupun menanyakan kepada anak tentang apa saja yang lebih baik untuk dilakukan.

Apa yang terjadi jika kita bertindak keras terhadap berbagai konflik yang terjadi antar anak? Banyak hal. Salah satunya anak tidak berani mengambil sikap yang berbeda dengan teman-temannya, meskipun dia tahu bahwa sikap itulah yang seharusnya dia ambil. Anak tidak berani menolak ketika temannya mengajak merokok atau mencoba minuman keras. Mengapa? Karena ia dididik untuk tidak berani menghadapi konflik. Padahal kita seharusnya menanamkan pada diri anak sikap untuk mendahulukan prinsip daripada harmoni. Rukun itu penting, tapi hidup dengan berpegang pada prinsip yang benar itu jauh lebih penting. Kita tanamkan kepada mereka: principles over harmony.

Lalu apakah yang harus kita lakukan jika anak sedang bertengkar? Apakah kita biarkan mereka? Tidak. Kita tidak boleh membiarkan. Kita harus menangani. Membiarkan anak bertengkar dengan keyakinan mereka akan mampu menyelesaikan sendiri dapat memicu terjadi situasi submisif, yakni siapa kuat dia yang menang. Dan inilah yang sedang terjadi di negeri kita. Bahkan urusan antre pun, siapa yang kuat dia yang duluan. Dampaknya akan sangat luas dan bisa menakutkan.

Di antara yang dapat kita lakukan dalam kaitan konflik anak dengan temannya adalah menunjukkan kepada mereka tindakan-tindakan yang patut dilakukan oleh anak. Dalam hal ini, aturan dan prosedur sangat membantu anak dalam bertindak. Kita kenalkan anak pada etika agama.

Kita juga dapat melatih kemandirian psikososial anak secara lebih luas. Melatih mereka ke toilet sendiri berikut adab-adabnya, mengajari mereka untuk mencari informasi pada saat sedang berada di luar rumah (semisal di bandara), termasuk komplain yang santun keCustomer Service. Bahkan berbelanja sendiri pun adakalanya perlu kita latihkan agar anak dapat melakukan transaksi dengan baik dan benar.

Apa yang terjadi jika kita layani anak dalam banyak hal? Salah kemungkinannya adalahaffluenza. Ini banyak terjadi pada anaknya orang-orang yang sangat kaya sehingga mereka pada akhirnya justru sangat lemah. Mereka hanya terbiasa dituruti. Dalam soal belanja tak terbiasa mengendalikan diri sesuai kebutuhan, bahkan sulit membedakan kebutuhan dan keinginan, sehingga cenderung impulsif. Dan ini mulai banyak terjadi.

Tampaknya bukan masalah. Tapi ketidakmampuan mengendalikan keinginan justru menyebabkan manusia sulit bahagia.

Kemandirian Belajar
Inilah proses serius kita hari ini. Banyak sekolah yang bersibuk mengajari anak agar terampil membaca semenjak usia dini, tapi lupa bahwa yang paling mendasar adalah sikap positif, kemauan yang kuat, dorongan untuk membaca dan bangga dengan kegiatan tersebut. Anak belum mampu membaca saat kelas 1 SD bukan masalah jika mereka telah memiliki antusiasme belajar. Ini jauh lebih penting.

Jika anak memiliki kemauan yang kuat untuk belajar disertai keyakinan (bukan hanya paham) bahwa belajar itu penting, maka kita dapat berharap anak akan cenderung menjadi pembelajar mandiri saat mereka memasuki usia 10 tahun. Mereka memiliki semangat yang semakin menggebu. Sebaliknya jika kita hanya mengajari mereka berbagai kecakapan belajar semisal membaca dan berhitung, maka usia 10 tahun justru menjadi titik balik. Awalnya menggebu-gebu selama kelas 1, berangsur luntur, lalu benar-benar enggan belajar saat memasuki kelas 4 atau 5 SD. Maksudnya, ada yang mencapai titik balik berupa kejenuhan serta keengganan belajar di awal kelas 4, ada yang pertengahan atau akhir kelas 4, ada pula yang kelas 5 baru mengalami.

Kemandirian Emosional
Bekal pokoknya adalah pengenalan diri yang diikuti dengan penerimaan diri. Ini memerlukan peran orangtua dalam mengajak anak untuk mengenali kelebihan-kelebihan, kekurangan, kemampuan dan kelemahannya sendiri. Pada saat yang sama orangtua menunjukkan penerimaan terhadap kekurangan maupun kelemahan anak, tetapi bukan berarti membiarkan anak melemahkan dirinya sendiri. Malas dan enggan mengatasi masalah merupakan bentuk sikap melemahkan diri sendiri. Orangtua juga menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Maka tak patut merendahkan orang lain, tak pantas pula meninggikan diri. Lebih-lebih untuk sesuatu yang diperoleh tanpa melakukan usaha apa pun alias sepenuhnya merupakan pemberian semenjak lahir.

Yang juga penting untuk dilakukan adalah mendampingi anak mengenali kebutuhannya. Konon anak kecil pasti akan rewel jika sedang mengantuk sampai-sampai banyak orangtua yang meyakini bahwa rewel merupakan pertanda anak perlu tidur. Tetapi ternyata anak tidak perlu mengalami situasi tersebut jika ia mengenali kebutuhannya. Balita pun tak perlu rewel jika ia telah dapat mengenali kebutuhannya untuk istirahat. Setidaknya ini yang saya catat dari anak saya mulai dari anak ketiga, khususnya lagi sejak anak keempat hingga ketujuh.

Perlu juga mendampingi mereka untuk belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan perlu dipenuhi, meski tak serta-merta. Sedangkan keinginan, adakalanya dapat dituruti, tetapi tetap perlu belajar menahan diri. Semua ini ditumbuhkan bersamaan dengan menguatkan dorongan sekaligus kemampuan bertanggung-jawab, termasuk berkait dengan konsekuensi atas berbagai tindakan mereka.
Wallahu a’lam bish-shawab

*) Mohammad Fauzil Adhim, Penulis
Twitter @kupinang
Fanspage FB Mohammad Fauzil Adhim
Sumber Tulisan www.hidayatullah.com

Hari Ini BBM Naik? Mari Kita Renungi Sejenak


Oleh Mohammad Fauzil Adhim


Yang paling perlu kita risaukan bukanlah naiknya BBM, tapi turunnya integritas dan hilangnya kejernihan nurani kita dan khususnya para politisi (yang benar enurut bahasa Indonesia, politisi atau poliTIKUS?). Bersebab hilangnya integritas itulah, apa yang dulu ditentang, sekarang dilakukan. Kenaikan BBM hanya salah satu akibat. Ada akibat-akibat lainnya yang sangat mungkin terjadi, yang tampak maupun yang diam-diam (dan ini lebih mengkhawatirkan).

Integritas adalah kualifikasi mutlak seorang perawi hadits. Jika lemah atau rusak integritasnya, maka riwayatnya tidak dipakai. Akan tetapi, alangkah sering kita abaikan hal semacam ini untuk menakar orang-orang yang akan mengurusi kita. Padahal rusaknya integritas akan menjadi awal yang buruk, betapa pun cerdasnya dia. Integritas ini tidak hanya terhadap satu dua orang yang memegang tampuk tertinggi, tapi keseluruhan yang memegang amanah mengurusi negeri.

Malu adalah perisai kehormatan. Jika sudah putus urat malunya, maka khawatirilah sikap dan tindakannya, betapa pun banyak langkah baiknya. Jika integritas sudah tiada, urat malu pun putus sudah, maka BBM naik itu hanyalah dampak terkecil. Boleh jadi akan ada yang lebih besar.

Senantiasa kita perlu bertanya, adakah kita turut berperan di masa lalu maupun masa kini terhadap tiadanya integritas para pemegang amanah? DI saat yang sama, kita perlu menata langkah untuk saling menguati agar tak kehilangan integritas saat memegang amanah serupa. Alangkah banyak orang yang dulu kita kenal sangat vokal, lalu sekarang seolah tak pernah kita kenal. Sebagian memang benar-benar idealis, lalu terkikis saat melihat lembar-lembar kesempatan yang sangat manis. Sebagian memang sangat vokal sebagai modal untuk memperoleh jalur cepat meraih kesempatan.

Yang memilih vokal sehingga tampak idealis untuk memperoleh kesempatan meraih kepercayaan, bukan bagian kita membincangkannya. Ini memang rusak semenjak awal, sehingga saat memperoleh kesempatan, bersemangatlah mereka melampiaskan ambisi. Tetapi yang awalnya benar-benar sangat idealis, lalu tiba-tiba runtuh karena tergoda syahwat dunia, inilah yang perlu kita khawatiri menimpa kita. Di antara yang hari ini sangat keras berteriak, dulu justru sebaliknya. Demikian pula yang hari ini gigih membela, tahun lalu paling nyinyir mencerca hal serupa.

Saat kecewa amat membuncah, ambillah jarak sejenak agar tak gegabah mengiyakan setiap yang senada dengan gelegak emosi. Ini dapat menjerumuskan kita kepada keadaan yang lebih buruk. Lari dari satu keburukan, lari pada keburukan lain yang lebih mengejutkan.

Apakah ini berarti kita meninggalkan do'a kebaikan bagi pemimpin? Tidak. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah mengatakan, “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, aku akan tujukan doa tersebut pada pemimpinku.”

Kita menyukainya atau tidak, mendo'akan pemimpin tetap merupakan keutamaan. Jika ia buruk, semoga Allah Ta'ala membaguskannya. Jadi, mendo'akan kebaikan bagi pemimpin serta mengatakan yang haq dan adil merupakan satu rangkaian yang saling menguatkan. Bukan bertentangan. Mengingatkan dengan kalimat yang haq dan adil merupakan peneguhan dari do'a kebaikan yang seharusnya kita mohonkan untuk para pemimpin. Mengatakan kalimat yang haq dan adil kepada pemimpin adalah dalam rangka amru bil ma'ruf. Bukan mencari-cari kesalahan dan memperolokkannya.

Ada sebuah ungkapan dari Al-Jazairi bahwa pemimpin itu cerminan rakyat yang dipimpinnya. Ini mengingatkan kita tentang pentingnya berbenah. Fakhruddin Ar-Razi menasehati, “Jika rakyat ingin terbebas dari penguasa yang zalim maka hendaklah mereka (rakyat) meninggalkan kezaliman yang mereka lakukan.”

*) Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku

Menyapih Dot Anak



Oleh Mahmud Thorif


Tulisan kali ini berbagi tentang menyapih dot anak saya yang ketiga, Syamil. Anak ngedot, biasanya (ini biasanya lho yaa, kalau ada yang di luar itu berarti luar biasa deh), karena si ibunda dari anak tersebut bekerja di luar rumah, misalnya sebagai guru, karyawan swasta, PNS, dan lain sebagainya. Sehingga saat bayi, sang ibunda harus meninggalkan anaknya yang, seharusnya, masih membutuhkan ASI.

Naah.... tentang profesi ini, masih sedikit beruntung bagi pegawai dan karyawan di mana saya bekerja, (hem... sebutin ndak yaaa? Ah ndak usah deh.... ntar dikira promosi), karena di sini anak pegawai dan karyawan disediakan tempat untuk menitipkan anak-anaknya yang masih membutuhkan ASI, sehingga saat waktu istirahat bisa ijin untuk memberikan ASI kepada anak-anak mereka. (waah keren kaan.... coba instansi mana yang menyediakan fasilitas beginian?) hehehe .... catatan tetep mbayar lho yaaa.

Ops, kok malah ngomongin instansi.
Berawal dari sang ibunda memilih bekerja inilah akhirnya dot menjadi pilihan orangtua agar anak bisa memperoleh susu, eh ada juga lho yaa, karena belabelain agar tetap dapat ASI si ibu rela mengeluarkan ASI nya lalu disimpan dan diberikan saat ia bekerja dan ada juga, yang ini saya rasa kebanyakkan para ibu deh, memberikan susu tambahan, misalnya susu bubuk, susu  sapi, dan sebagainya untuk anak-anaknya.

Ehhem... kalau ada ibunda yang menjadi rumah tangga, eh anaknya kok pake dot, kata Bang Haji ‘sungguh terlaaalu’, karena seharusnya kan bisa full memberikan ASI nya. Iya kaaaan? Iya.

Oke, kembali ke menyapih dot yaa ....
Kalau menyapih ASI kan kata AL-Qur’an saat si anak berumur 2 tahun. Naaah.... kalau menyapih dot ini mau berapa tahun? Ah kayaknya ndak ada batasan tahun deh, coba lihat di tempat penitipan anak, banyak anak-anak usia 3, 4, atau bahkan 5 tahun masih asik dengan dot mereka. Tapi diusahakan 2 tahun deh bisa menyapihnya, baik ASI atau dot mereka.

Saya dan istri sepakat menyapih si kecil dikarenakan si kecil sering sakit gigi, gusi, dan terakhir kemarin yang lumayan lama adalah radang di rongga mulutnya, sehingga dia susah makan, minum, bahkan susah tidur. Kalau sudah begini, yang banyak pahalanya juga kan orangtuanya tooo, dengan catatan ikhlas merawat si kecil saat ia menangis di tengah malam, dan sebagainya. Kasihan banget kaaan, baru umur tiga tahun harus merasakan tersiksanya sakit gigi.

Tapi ndak papa, karena kata mas meggy z, lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati, eh ngomong-ngomong meggy z ini ada tebak-tebakkan, meggy z punya saudara berapa hayooo? (jawab lho yaaa) dia saudaranya banyak, ada 25, mulai dari meggy a, b, c, d, e, dst sampai meggy y. Halah... kok malah tebak-tebakkan.

Tahap persiapan menyapih dot ini dengan dialog, misalnya “Eh adik mulai besok tidak ngedot lagi lho yaa, minumnya pakai gelas,” dan hal ini sering-sering diingatkan kepada si anak.

Naah giliran hampir waktunya, coba ajak anak untuk membuang jauh-jauh dotnya, misalnya dibuang ke sungai, ke laut, atau tempat yang kira-kira tidak bakal deh dot itu bisa diambil lagi. Penting juga diusahakan yang membuang adalah si anak itu sendiri sehingga kita sebagai orangtua mempunyai alasan jika tiba-tiba anak teringat pegangan hidupnya, eh dotnya ding. Waktu itu, si Syamil saya suruh membuang dotnya di sungai depan rumah, tapi akhirnya dia ndak tega membuangnya sehingga menyuruh ayahnya yang melempar ke sungai. Jangan berpikir harga dot berapa, masih baru atau lama, kalau sudah niat menyapih, laksanakan!

Eh eh eh .... Jangan dikira menyapih dot mudah lho yaa... butuh perjuangan lho ... ya kira-kira mirip deh dengan menyapih ASI. Sehingga siap-siap rela untuk begadang beberapa hari melayani, menggendong, dan banyak lainnya si kecil.

So, catatan saya terkadang sebagai orangtua kita tidak tega melihat si kecil menangis sedu sedan. Kalau sudah begini, ini awal dari kegagalan menyapih.

Naaah.... tentu banyak dari pemirsah punya pengalaman dalam mendidik anak-anaknya kaaan? Jangan segan-segan menulisnya, berbagilah dengan banyak manusia, insyaAllah besar manfaatnya. Ehhem... yang mau diterbitkan kisah pengalamannya dalam mendidik anak-anak, silahkan kirim ke email majalahfahma@gmail.com yaaa.... like juga fanspagenya @majalahfahma dan follow juga twitternya @majalahfahma dan kunjungi juga blognya www.majalahfahma.com

Demikian, terima kasih.


*) Redaktur Majalah Fahma 

Menjadi Guru


Oleh Sastriviana Wahyu Swariningtyas

Ketika kita menjadi guru, guru apapun
Guru bagi murid di sekolah, atau guru bagi anak sendiri
Pada akhirnya kita harus mampu merelakan pikiran kita
Bukan hanya sebagian, terlampau sering hampir seluruh pikiran
Merelakan untuk memikirkan bagaimana agar ia murid yang kita cintai
Menjadi paham, menjadi jauh lebih baik
Terkadang atau bahkan seringnya...
di saat mata seharusnya terlelap, terlampau penting bagi kita
untuk menyelipkan nama murid kita dalam bait-bait doa

Menjadi guru
Pada akhirnya kita harus mampu merelakan hati kita
untuk mampu memiliki hati yang lapang...hati yang luas dan dalam
agar ia mampu bersabar
akan balasan yang menyakitkan dari murid kita
agar ia mampu memaafkan
agar ia mampu terus mendoakan

Menjadi guru...digugu dan ditiru
Bukan hanya mentransfer ilmu tapi jauh lebih dari itu
Mentransfer semangat dan keyakinan yang bersumber dari iman

Untuk yang menjadi guru...
Jika engkau merasa lelah atau kecewa atau perasaan yang tak lagi bisa terdifinisikan
tetap bersabarlah dan berdoalah
tetap mencintai murid-muridmu
Doakanlah....doakanlah...doa yang terbaik dari seorang guru

*) Penulis adalah alumni Biologi UGM, Guru sekolah swasta di Banten

Semoga Kelak Bukan "Jika"


Oleh Yurisa Nurhidayati

Jika suatu saat kau jadi ibu, ….
Jadilah kalian seperti Asma’ binti Abu Bakar yang berhasil mengobarkan semangat Abdullah bin Zubair (anaknya) yang dengan menakjubkan sanggup bertahan dari gempuran Hajjaj bin Yusuf as-Saqafi, kokoh mempertahankan keimanan dan kemuliaan tanpa mau tunduk kepada kezaliman. Hingga syahid menjemputnya. Namanya abadi dalam sejarah dan kata-kata Asma’ “Isy kariman au mut syahiidan! (Hiduplah mulia, atau mati syahid!),”…. abadi hingga kini.

Jika suatu saat kau jadi ibu, .…
Jadilah seperti Nuwair binti Malik yang berhasil menumbuhkan kepercayaan diri dan mengembangkan potensi sang anaknya yang kala itu masih remaja. Usianya baru 13 tahun ketika ia datang membawa pedang yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya, untuk ikut perang badar. Rasulullah yang tak mengabulkan keinginannya, membuat sang ibu mampu meyakinkannya untuk bisa berbakti kepada Islam dan melayani Rasulullah dengan potensinya yang lain ketika ia kembali kepada ibunya dengan hati sedih.
Dan tak lama kemudian ia diterima Rasulullah karena kecerdasannya, kepandaiannya menulis dan menghafal Qur’an. Beberapa tahun berikutnya, ia terkenal sebagai sekretaris wahyu. Karena ibu, namanya akrab di telinga kita hingga kini… Zaid bin Tsabit.

Jika suatu saat kau jadi ibu, ....
Jadilah seperti Shafiyyah binti Maimunah yang rela menggendong anaknya yang masih balita ke masjid untuk shalat Subuh berjamaah. Keteladanan dan kesungguhan Shafiyyah mampu membentuk karakter anaknya untuk taat beribadah, gemar ke masjid dan mencintai ilmu. Kelak, ia tumbuh menjadi ulama hadits dan imam Madzhab. Ia tidak lain adalah ... Imam Ahmad.

Jika suatu saat kau jadi ibu ....
Jadilah ibu yang terus mendoakan anaknya. Seperti Ummu Habibah. Sejak anaknya kecil, ibu ini terus mendoakan anaknya. Ketika sang anak berusia 14 tahun dan berpamitan untuk merantau mencari ilmu, ia berdoa di depan anaknya:

“Ya Allah Tuhan yang menguasai seluruh alam! Anakku ini akan meninggalkan aku untuk berjalan jauh, menuju keridhaanMu. Aku rela melepaskannya untuk menuntut ilmu peninggalan Rasul-Mu. Oleh karena itu aku bermohon kepada-Mu ya Allah, permudahlah urusannya. Peliharalah keselamatannya, panjangkanlah umurnya agar aku dapat melihat sepulangnya nanti dengan dada yang penuh dengan ilmu yang berguna, amin!”.

Doa-doa itu tidak sia-sia. Muhammad bin Idris, nama anak itu, tumbuh menjadi ulama besar. Kita mungkin tak akrab dengan nama aslinya, tapi kita pasti mengenal nama besarnya… Imam Syafi’i.

Jika suatu saat kau jadi ibu .…
Jadilah ibu yang menyemangati anaknya untuk menggapai cita-cita. Seperti ibunya Abdurrahman. Sejak kecil ia menanamkan cita-cita ke dalam dada anaknya untuk menjadi imam masjidil haram, dan ia pula yang menyemangati anaknya untuk mencapai cita-cita itu.

“Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah menghafal Kitabullah, besok kamu adalah Imam Masjidil Haram…”, katanya memotivasi sang anak. “Wahai Abdurrahman, sungguh-sungguhlah, besok kamu adalah imam masjidil haram…”

Sang ibu tak bosan-bosannya mengingatkan. Hingga akhirnya Abdurrahman benar-benar menjadi imam masjidil Haram dan ulama dunia yang disegani. Kita pasti sering mendengar murattalnya diputar di Indonesia, karena setelah menjadi ulama, anak itu terkenal dengan nama .... Abdurrahman As-Sudais.


*) Penulis adalah Alumni Psikologi UGM, tinggal di Padang
Sumber tulisan dan gambar : www.secangkirmakna.blogspot.com

Doa yang Sia-sia


Oleh O. Solihin

Dalam hadits ke sepuluh dari kumpulan Hadits Arba’in karya Imam An Nawawi dijelaskan bahwa:“Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Berkatalah Rasulullah saw.,: “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu thoyyib (baik) tidak menerima kecuali yang baik (thayyib). Sesungguhnya Allah menyuruh orang-orang yang mu’min sebagaimana yang telah Dia perintahkan kepada para Rasul.” Allah Ta’ala berfirman: “Wahai para Rasul, makanlah (kalian) dari makanan yang baik-baik, dan berbuatlah amal shalih”, dan firman Allah SWT.,:”Wahai orang-orang yang beriman makanlah dari makanan yang baik-baik apa yang Kami anugerahkan rizki kepada kalian”. Lalu Rasulullah menyebut seorang lelaki yang berlayar jauh, hingga kusutlah rambutnya dan kotor, ia mengangkat kedua tangannya ke langit (seraya berkata): “Ya Tuhan, Ya Tuhan” (ia bermohon) sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan (badannya) dengan barang haram, maka bagaimana yang demikian itu akan dikabulkan (diijabahi)?”. (HR Bukhori dan Muslim)

Doa adalah permohonan kita kepada Allah agar segala harapan dan cita-cita kita terkabul. Dan doa merupakan salah satu komponen dari sebuah keberhasilan, selain cita-cita dan usaha sungguh-sungguh. Untuk mencapai keberhasilan yang optimal, seluruh komponen harus memiliki nilai, karena ibarat sistem perkalian, salah satu bernilai nol, maka hasilnya adalah nol pula. Dan doa sebagai salah satu kekuatan  yang merupakan permohonan langsung kepada Allah harus betul-betul kuat, baik permintaan maupun caranya. Dan segala hal yang berhubungan langsung dengan dikabulkannya doa, agar doa kita tak sia-sia.

Karena doa merupakan ibadah, maka harus dilakukan dengan tata cara yang khas, yang sudah diatur oleh Allah dan Rasul-Nya. Juga harus disertai dengan segala hal yang bisa mendukung ibadah itu. Jangan sampai, kita menuntut sesuatu sementara kita mengabaikan sesuatu yang lain. Artinya, bila kita memohon kepada Allah sesuatu kebaikan agar segala cita-cita dan harapan kita berhasil, sementara kita mengabaikan larangan dan perintah dari Allah SWT. Tentu ini adalah sesuatu yang kontradiktif dan tidak fair. Kita memohon kebaikan diturunkan oleh Allah pada kita, tapi dalam waktu yang bersamaan kita malah melakukan perbuatan yang telah dilarang-Nya. Kita meminta dengan beruarai air mata kepada Allah agar kita diberikan keselamatan dunia dan akhirat, tapi dalam aktivitas kehidupan kita sehari-hari, terbiasa memakan riba, memakan harta anak yatim, mencari nafkah dari jalan yang terlarang; hasil mencopet, tipu-tipu, korupsi, komisi yang haram (suap). Jadi, bagaimana mungkin Allah akan mengabulkan (mengijabah) doa kita. Mungkin saja dalam kenyataan seolah-olah kita mendapat sesuatu yang diinginkan meskipun lewat korupsi dan kita damai-damai saja tak ada yang menganggu, namun apakah kita yakin bila harta itu berkah?

Doa sebagaimana aktivitas ibadah yang lain, harus disertai usaha sungguh-sungguh. Karena berdoa saja tanpa berusaha, meskipun cita-cita kita setinggi langit adalah suatu hal yang sulit untuk bisa berhasil. Harus memiliki nilai dari komponen cita-cita, usaha dan doa itu sendiri, tidak boleh ada yang nilainya nol. Sehingga bila menginginkan keberhasilan maka ketiganya harus mempunyai nilai yang bukan nol.

Suatu ketika, Amirul Mukminiin, Umar bin Khaththab r.a. memasuki masjid di luar waktu sholat lima waktu. Didapatinya dua orang yang sedang berdoa kepada Allah SWT., Umar r.a. lalu bertanya: “Apa yang sedang kalian kerjakan, sedangkan orang-orang  di sana kini sedang sibuk bekerja?” Mereka menjawab: “Ya Amirul Mukminiin, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bertawakkal kepada Allah SWT.” (Mendengar jawaban tersebut), maka marahlah Umar r.a., seraya berkata:“Kalian adalah orang-orang yang malas bekerja, padahal kalian tahu bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak.” Kemudian Umar r.a. mengusir mereka dari masjid, tetapi memberi mereka setakar biji-bijian.  Beliau katakan pada mereka: “Tanamlah dan bertawakkallah kepada Allah.”

Kita berdoa tanpa berusaha memang seperti pungguk merindukan bulan, doa kita menjadi sia-sia. Begitu pula ketika kita berdoa sementara kita masih doyan melakukan perbuatan maksiat, memakan makanan yang haram, melakukan perbuatan yang haram, menafkahi anak istri dengan barang-barang dan makanan haram. Meskipun kita dengan khusuk sampai berurai air mata memohon kepada Allah, sulit sekali bila do’a itu dikabulkan.

Tentu kita tidak menginginkan harapan dan cita-cita kita melalui permohonan doa kepada Allah sia-sia. Untuk itu, harus disertai dengan aktivitas kita berbuat yang terbaik dalam hidup ini. Yakni, beriman dan bertaqwa kepada Allah, mengerjakan dan memakan harta yang halal, agar doa kita diijabah dan penuh berkah. Wallahu’alam bishowab
Salam,

O. Solihin
Twitter  @osolihin

Siswi SDIT Hidayatullah Juara 4 Lomba Menulis Nasional


www.majalahfahma.com | Sabtu/15/11/2014. Setelah mengikuti seleksi final Lomba Menulis Cerita Anak Nasional (LMC), 10 s.d. 14 November 2014 di The Rizen Premier Hotel, JL. Raya Puncak KM 77 Cisarua Bogor Jawa Barat, akhirnya Nida’un Taqwiyani Ash-Shafiyah, salah satu murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta berhasil meraih juara 4 dalam Lomba Menulis Cerita Nasional (LMC) yang diselenggarakan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar.

Pada tahapan seleksi ia merasa tegang ketika diwawancarai oleh sastrawan Taufik Ismail. Ketegangan tersebut ia tuliskan di status facebooknya serta mohon do’a dari temen-temenya. “MENEGANGKANNN!!!  Do'akan aku ya semuanya... Diwawancarai sama Prof. Dr. Taufik Ismail.

Sementara di detik-detik menjelang penganugrahan LMC Nida’un juga menyempatkan diri untuk mengaupdate status di akun facebooknya, ia mohon do’a dari rekan-rekannya semoga Allah memberikan yang terbaik untuk para finalis LMC 2014. “Bismillah, mohon do'a dari sahabatku semua, semoga Allah memberikan yang terbaik untuk para finalis LMC 2014.

“Mantapkan langkahmu, always positive thingking, keberhasilan di depan matamu, jangan pernah ada keraguan, pulanglah dengan membawa keberhasilan, buatlah orang-orang yang kau sayangi menangis karena keberhasilanmu bukan karna kegagalanmu.

Itulah ungkapan-ungkapan motivasi yang disampaikan Nida’un yang akhirnya dengan semangat itulah serta do’a yang senantiasa dipanjatkan oleh Nida’un, akhirnya Nida’un Taqwiyani Ash-Shafiyah berhasil meraih juara 4 dalam Lomba Menulis Cerita Nasional (LMC).

Keberhasilan tersebut membawa kebahagiaan tersendiri pada Nida’un dan keluarganya, serta pihak sekolah tempat Nidaun belajar. Pihak sekolah berharap agar potensi tersebut dikembangkan dan di asah sehingga prestasinya terus melejit. Sehingga menambah mujahid-mujahidah yang berjuang dengan pena.

Selain itu pihak sekolah juga berharap agar keberhasilan Nidaun menjadi contoh bagi adik-adik kelasnya di SDIT Hidayatullah Yogyakarta.

Sementara itu, Ibnu Qayyim selaku Bapak dari Nida’un merasa senang dan bangga atas prestasi yang diraih anaknya. Qayyim berharap agar prestasi tersebut menjadi motivasi bagi Nida’un untuk tetap semangat dalam belajar.

“Kami berharap agar prestasi tersebut menjadi motivasi bagi Nida’un untuk tetap semangat dalam belajar”. Pungkasnya

Dari Yogyakarta, MIN Tempel juga menjadi finalis di kegiatan ini, dan alhamdulillah wakil dari sekolah negeri ini berhasil menyabet juara 9 nasional.


Rep. Yayan, Thorif,  Yogyakarta.