“Siapa Bilang Menulis Itu Gampang?”


Oleh O. Solihin

Saya sering mendapat pertanyaan dari peserta workshop menulis atau siapapun yang kebetulan bertemu saya dan berbicara seputar menulis: “Bagaimana caranya bisa menulis? Apa saja yang harus dipersiapkan agar tulisan bagus dan enak dibaca? Bagaimana supaya pilihan kata yang kita rangkai dalam kalimat tidak monoton? Apakah benar menulis itu gampang, karena faktanya saya tak bisa juga menulis meski berkali-kali berlatih?” (catatan: dengan pertanyaan-pertanyaan jenis ini, sepertinya menulis jadi menyulitkan)

Oya, selain pertanyaan-pertanyaan tadi, masih banyak pertanyaan serupa meski tak sama, tetapi intinya banyak mengeluhkan ketidak-mampuan membuat sebuah tulisan. Mendapati kenyataan seperti ini, haruskah saya meralat anggapan bahwa menulis itu gampang sehingga harus berpikir ulang untuk mengatakan, “siapa bilang menulis itu gampang?”

Tidak. Saya sebenarnya tidak ingin melemahkan semangat mereka yang ingin sekali bisa menulis. Saya hanya sedang merasa berada pada level gagal paham terhadap orang yang kurang berusaha tetapi terlalu mudah untuk cepat menyerah. Benar bahwa menulis butuh persiapan dan ketersediaan bahan tulisan untuk ‘digoreng’ dengan bumbu paling lezat yang akan dihidangkan kepada para penikmat informasi dan opini tertulis dengan selera tinggi. Namun demikian, bukan berarti pada level paling gampang untuk berlatih menulis lalu kita abaikan. Tidak sama sekali.

Jika ingin menuliskan hal-hal kecil yang kita sukai dan kuasai—tentu saja yang memang bermanfaat dan memberi maslahat—tulislah karena sangat boleh jadi, dari situlah kita bisa mencintai huruf, kata, dan merangkainya dalam kalimat. Biarlah puisi-puisi sederhana yang kita buat kita nikmati sendiri. Tetapi jika ingin mendapatkan tantangan, cobalah di-share di twitter atau facebook atau blog. Siapa tahu, banyak orang yang menentang, melecehkan, menjelek-jelekkan, mengkritik dengan pedas, termasuk yang memberi saran. Nikmati saja semua itu, sebab semuanya akan memberikan tambahan energi bagi kita untuk berubah dan terus memperbaiki kualitas tulisan kita. Cobalah!

Oya, jika Anda termasuk orang yang sering dibuat pusing dengan banyaknya pilihan ide, dengan bejibunnya pilihan tema/topik, dengan melimpahnya fakta sehingga tak bisa dipilih dan dipilah mana yang harus ditulis, maka saya sarankan agar Anda menepi terlebih dahulu dari hingar-bingar berseliwerannya ide dan tema/topik (termasuk padatnya lalu-lintas fakta). Bila perlu ‘bertapa’ atau mengasingkan diri. Namun, jangan terus seperti itu, tetapi harus dibarengi dengan mencari cara terbaik untuk menuliskan pesan. Jika tidak, Anda harus siap berhadapan dengan kenyataan: “Orang lain sudah jauh meninggalkan Anda yang memilih membeku dengan kebingungan memilah ide dan topik tulisan”.

Bagaimana, apakah masih setuju jika dikatakan, “Siapa bilang menulis itu gampang?” Atau justru akan lantang menuliskan: “Menulis itu memang gampang, tetapi jika ingin menulis dengan benar dan baik, tidaklah gampang”. Saya sendiri setuju dengan pilihan yang kedua. Jika sekadar menulis saja, pastinya gampang. Coba saja asal tulis—terutama mengekspos kegalauan dan kelakuan alay di wall facebook dan berkicau di linimasa twitter, sepertinya enteng-enteng saja. Tetapi, cobalah menulis dengan benar dan baik, pastilah jadi beban jika belum terbiasa menulis dan tak mau dilatih untuk menulis. Jadi, tetap menulis, karena dengan terus berlatih menulis, maka kita akan bisa dan terbiasa menulis. Semakin lama akan semakin lihai menyusun informasi dan memberi opin melalui tulisan. Tak percaya? Silakan dijajal langsung dengan menulis. Terus dan tetaplah menulis, karena jika sekadar menulis sebenarnya gampang. Namun jika ingin bisa dan terbiasa menulis dengan benar dan baik, tidaklah gampang. Itu sebabnya, perlu menimba ilmu dan berlatih terus menulis, serta—tentu saja banyak membaca.

Semangat!
Salam,


*) O. Solihin, Penulis Buku dan Trainer Remaja Tingkat Nasional | Twitter di @osolihin

Belajar Romantis

Oleh Jamil Azzaini

Hal sederhana bisa meningkatkan makna cinta. Maka, jangan sepelekan yang sederhana untuk menambah keharmonisan rumah tangga. Biasakanlah ucapan yang mesra kepada pasangan hidup Anda, walau itu sederhana dan singkat. Ucapan “I love you” atau I miss you” adalah contoh kata ajaib untuk menambah keharmonisan rumah tangga.

Saya sering menyarankan kepada para peserta pelatihan untuk melakukan hal ini. Bagi yang tidak terbiasa perlu membiasakan. Namun, agar pasangan Anda tidak terkejut perlu ada penjelasan tentang kebiasaan baru yang hendak dilakukan. Sebab, bila langsung berubah tanpa “kata pengantar” pasangan hidup Anda bisa salah tafsir.

Pernah salah satu peserta training saya mempraktekkan saran saya tanpa ada pengantar terlebih dahulu. Ia berkirim SMS ke istrinya, “Hai cintaku, lagi ngapain? I miss you.” Tidak berapa lama kemudian ia mendapat balasan, “Gak salah kirim, mas. Hayo, siapa itu cintaku?”

Tapi lebih baik salah karena melakukan daripada tidak pernah salah karena memang tidak pernah melakukan. Begitu juga urusan romantisme. Perlu dilatih, kemudian dilatih, dilatih lagi dan dilatih terus sampai menjadi kebiasaan.

Dikisahkan, seorang suami sedang berlatih meningkatkan kemesraan kepada istrinya. Ia pun berkirim whatsApp kepada sang istri. “Kekasihku, sedang apakah dirimu? Apabila kau sedang makan, kirimlah sebagian makananmu dengan tiupan cintamu kepadaku. Apabila kau sedang rindu, kirimkan sebait kata rindu kepadaku.”

“Bila kau sedang menangis, kirimkan airmatamu kepadaku. Apabila kau sedang bahagia, kirimkan sebagian tawamu kepadaku. Apapun yang kau lakukan, kirimkan sebagiannya untukku. Aku menunggu kirimanmu, duhai kekasihku,” lanjutnya.

Tidak lama berselang, sang istri membalas, “Mas, aku lagi nongkrong di toilet. Jadi, apa yang harus aku kirimkan?”

Hehehehe… Jangan kapok, teruslah belajar romantis…

Ingin ngobrol dengan saya? FOLLOW saya di twitter: @jamilazzaini.

Mengajari Membaca Tak Harus Mahal

Oleh Mohammad Fauzil Adhim


Alhamdulillah, Allah Ta’ala karuniakan kepada kami tujuh orang anak (semoga Allah Ta’ala jadikan mereka barakah sejak lahirnya, hidupnya, matinya dan hari ketika dibangkitkan). Ini menjadikan pengalaman mengasuh anak lebih beragam, termasuk dalam soal mengajari mereka membaca semenjak dini. Ada pelajaran yang dapat diambil dari cara mengajarkan membaca pada anak pertama, lalu berusaha memperbaiki pada saat mengajari anak-anak berikutnya. Berbagai teori sekaligus alat bantu pendukung untuk mengajarkan membaca, berusaha kami penuhi. Dan itu semua membawa pada kesimpulan bahwa bekal terbaik mengajarkan anak membaca adalah kesungguhan, antusiasme dan kesabaran. WPB alias buku penuh gambar sedikit kata memang sangat bermanfaat. Buku jenis ini mudah menarik perhatian anak. Tetapi untuk menjadikan anak suka membaca, tidak harus melimpahi mereka dengan buku yang umumnya berharga mahal atau bahkan sangat mahal itu. Apa saja yang dapat dibaca, juga apa saja yang dapat digunakan sebagai media untuk menulis, merupakan sarana yang baik untuk mengajarkan membaca kepada anak. Tak peduli apakah itu buku bacaan sedikit gambar yang lebih pas untuk orang dewasa, majalah, sobekan koran atau apa pun.

Bukan berarti buku-buku yang khusus dirancang untuk anak tidak ada manfaatnya. Tetapi yang perlu kita ingat adalah, hal terpenting dalam menanamkan kegemaran membaca adalah tersedianya bahan-bahan bacaan dan kerelaan orangtua untuk membacakan buku serta mendampingi mereka bermain dengan buku. Bagi saya, jauh lebih penting memilihkan buku bergizi yang isinya benar-benar bermanfaat, meski kemasannya belum sesuai umurnya daripada buku sangat menarik, tapi isinya tak bermutu atau bahkan merusak.

10 Sahabat Nabi Dijamin Masuk Surga karya Muhammad Ahmad ‘Isa adalah contoh buku yang sangat bagus isinya. Kemasan buku ini jelas bukan untuk anak SD. Apalagi TK dan playgroup. Tetapi isinya shahih, dasarnya kuat, keteladanannya dapat diambil oleh anak maupun orang dewasa. Maka membacakan buku yang sebenarnya dikemas untuk orang dewasa ini, sangat bermanfaat bagi anak. Alhamdulillah, buku ini termasuk salah satu yang paling diminati oleh anak saya nomor lima, Muhammad Navies Ramadhan. Ia membaca buku tebal ini dalam waktu hanya kurang dari dua hari tatkala ia kelas 2 SD.

Saya memperhatikan, jika anak akrab dengan beragam buku semenjak dini, tak hanya yang kemasannya dikhususkan bagi balita, ia lebih mudah menyukai bacaan lebih serius di usia-usia berikutnya. Akan tetapi memaksakan anak membaca buku-buku serius tanpa mendampingi, dapat menjadikan anak kehilangan gairah membaca. Ini berarti, kesediaan menemani anak membaca itulah yang sangat penting.

Di sisi lain, jika anak-anak terbiasa bersentuhan dengan pemikiran atau cara berpikir yang lebih dewasa, ia juga akan memiliki kemampuan berpikir yang lebih baik. Inilah salah satu hikmah melibatkan anak dalam berbagai majelis orang dewasa sebagaimana yang kita jumpai pada sirah Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Jika dikaitkan dengan membaca, tidak masalah anak bersentuhan dengan bacaan bergizi untuk orang dewasa, terlebih yang menanamkan iman, mengokohkan aqidah dan menata cara berpikir. Anak boleh jadi tidak memahami isi bacaan secara sempurna atau bahkan sedikit sekali yang dipahami, tetapi jika anak menikmati kegiatan tersebut, itu sudah cukup sebagai bekal untuk memudahkannya menerima kelak ketika usianya telah lebih matang. Apa yang didengar dan diserapnya ibarat cetak biru(blue print) dalam dunia arsitektur. Inilah salah satu pelajaran berharga yang dapat kita renungi dari generasi emas Islam yang tidak sedikit di antara mereka telah menunjukkan kematangan berpikir di usia sangat belia.


*) Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku dan Pakar Parenting | twitter @kupinang | fb Mohammad Fauzil Adhim

Memahamkan Anak Tentang Perbedaan Agama


Oleh Imam Nawawi


Putri baru tiga bulan tinggal di kompleks baru. Anak yang usianya hampir 4 tahun itu pun mulai berkenalan dengan anak-anak tetangganya. Suatu hari, karena ibu Putri mulai akrab dengan tetangga kanan kiri, Putri pun mulai akrab dengan anak-anak dari tetangganya.

Suatu hari, Putri didatangi teman-teman barunya itu. Di antara teman-temannya itu ada kakak adik yang non-Muslim. Kala datang pertama kali Putri tidak tahu bahwa ada agama selain agamanya, yaitu Islam.

Putri baru mengerti akan adanya agama non-Islam setelah keesokan harinya, ia ditanya oleh kakak adik yang non-Muslim itu. “Putri kenapa kamu pakai kerudung, kan masih kecil,” tanya si teman yang non-Muslim.

“Loh ya, aku kan Islam. Ibuku bilang harus sejak kecil menutup hijab. Kamu kenapa tidak pakai kerudung, kamu kan Islam,” balas Putri. “Oooh….bukan Putri, aku Kristen,” jawab temannya.

Mendengar kata ‘Kristen’ Putri agak heran, karena kata itu memang asing dan belum pernah didengar sebelumnya. Akan tetapi, karena waktu itu mereka bersepakat untuk olahraga keliling kompleks, Putri pun tak begitu merisaukannya.

Akan tetapi, sesampainya di rumah, Putri tiba-tiba ingat dan langsung bertanya kepada sang ibu. “Ibu, tadi Putri kan main, teman Putri yang kakak adik itu bilang kalau dia Kristen. Kristen itu apa sih bu?”

Ibunya pun dengan hati-hati menjawab, “Kristen itu agama. Tetapi Kristen adalah agama yang tidak sama dengan Islam. Jadi, orang Kristen tidak beribadah seperti orang Islam. Misalnya, Putri harus berjilbab, mereka tidak. Putri harus sholat, mereka tidak,” urai ibunya.

“Oooh, pantas tadi Putri ditanya kenapa pakai kerudung katanya,” timpal Putri.

Kisah pun berlanjut. Karena pekan itu baik Putri maupun teman-temannya sama-sama libur sekolah, setiap pagi mereka bersepakat untuk olahraga. Dalam satu perbincangan kakak adik itu memberi tahu teman-temannya.

“Besok aku tidak bisa ikut teman-teman. Aku dan adikku dan ayah ibu mau ke kampung halaman untuk merayakan Natal di sana,” ucapnya.

Putri pun heran, apalagi itu Natal. Tetapi, sontak teman-temannya menjawab, “Iya gak papa. Cepat kembali ya, supaya kita bisa bermain sama-sama lagi.”

Putri pun kembali pulang dengan mengajukan pertanyaan kepada ibunya. “Ibu Natal itu apa?” Ibunya pun menjawab, “Natal itu perayaan agama Kristen. Biasanya mereka ke gereja. Nanti kalau tahun baru, mereka akan ada perayaan lagi. Biasanya tiup terompet.”

“Boleh tidak Putri ikut tiup terompet, kan asyik rame,” tanya Putri. “Oh…tidak boleh. Kita kan, Muslim, kita biarkan saja mereka merayakan perayaan keyakinan mereka. Tetapi kita gak boleh ikut-ikutan. Kita Muslim dan Allah dan Rasulullah melarang kita mengikuti perayaan apapun di luar agma Islam,” papar sang ibu.

“Jadi, Putri mesti gimana kalau Natal dan tahun baru ibu?” tanya Putri lagi. “Ya, kita biasa saja, sholat, membaca Al-Qur’an, belajar dan bermain,” jawab ibunya.

“Terus, apakah Putri boleh main sama mereka yang Kristen?” tanya Putri lagi mendesak. “Putri tetap boleh main. Putri harus menghargai mereka. Tetapi ingat, Putri gak boleh ikut apapun yang dilakukan oleh mereka di luar permainan yang biasa dimainkan bersama teman-teman, ya,” urai ibunya lagi.

“Makanya kalau main, jangan lama-lama, waktunya makan pulang. Apalagi kalau menjelang sholat, harus pulang segera untuk mendirikan sholat. Dan, jangan lupa selalu berjilbab ya,” kata ibunya sambil mencubit hidung Putri.

“Jadi, agama itu banyak ya bu?” “Iya,” jawab sang ibu. “Tetapi kalau Putri ingin masuk surga, hanya Islam agama yang benar dan kita harus menjadi Muslim sampai mati. Jadi, Putri harus menjaga betul agama Islam dalam hati Putri, harus bangga menjadi seorang Muslimah,” pungkas sang ibu.


*) Imam Nawawi, Pemimpin Redaksi Majalah Mulia | Penulis Hikmah Koran Republika | Penulis di www.hidayatullah.com | Twitter @abuilmia

Menjadi Idola bagi Anak


Oleh Suhartono

 “Wah…, Mbak Shifa cantik lho, kaya artis Korea,” kata Bunda kepada salah satu anak perempuannya.

“Gak donk, Bunda! Shifa itu cantik kaya Bunda,” jawab sang anak.
Sebegitu cintanya sang anak pada ibunya hingga ia tak mau disamakan dengan orang lain, bahkan dengan orang yang banyak mengidolakan. Ia hanya ingin disamakan dengan ibunya, walau tak banyak orang yang mengidolakannya.

Shifa dapat bersikap seperti itu pasti karena hasil didikan didikan orangtuanya sejak masih kecil. Sejak kecil, orangtuanya sering memberi pengarahan kepada anak-anaknya agar tidak selalu menonton televisi. Ia memposisikan dirinya sebagai figur yang baik di hadapan anak-anaknya. Baik itu dalam bertingkah laku, berpakaian, berkata dan lain sebagainya. Hingga akhirnya, anak yang masih dalam proses meniru itu, dapat menirukan keseharian dari dirinya. Lambat laun anak pun menjadi terbiasa melakukan hal sama seperti apa yang dilakukan oleh ibunya itu.

Pola mendidik anak dengan tindakan seperti itu, ternyata memberikan efek yang cukup kuat. Dan dengan didikan sejak kecil itulah, karakter anak akan terbentuk. Hingga, ketika anak telah menginjak usia remaja, ia akan tetap menerapkan pola seperti itu. Ia pun akan melakukan hal-hal yang menurut ibunya itu baik.

Di masa sekarang ini, banyak anak-anak yang lebih suka mengidolakan artis. Maka, tak jarang bila kita sering melihat mereka bertingkah laku atau pun bergaya seperti layaknya artis yang diidolakan. Bahkan, bahasa-bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi dengan teman-temannya seringkali terselip sebuah kata yang sedang nge-trend di televisi.

Kini televisi menjadi sumber yang paling berpengaruh terhadap anak. Anak akan mudah meniru segala apa yang disajikan dalam salah satu media elektronik itu. Bahkan kala sang idola berperilaku tidak baik pun, banyak anak muda yang tetap saja membela dan mengidolakannya secara membabi buta.

Fenomena ini sepertinya menunjukkan pada kita betapa saat ini generasi muda mengalami krisis idola. Bahkan untuk mencari sosok idola saja mereka harus mencari sejauh itu. padahal sosok idola bisa ditemui di rumah mereka sendiri. Ya, kita sebagai orangtua pun bisa menjadi idola bagi anak.

Karena itu, perlu rasanya kita merubah metode pendidikan bagi anak dengan menjadikan diri kita sebagai idola bagi sang buah hati. Buat mereka terpikat kepada kita, orangtua yang menjadi figur yang menarik perhatiannya. Memang tidak begitu mudah. Semua itu butuh proses. Namun, bila kita melakukannya sedikit demi sedikit dan istiqomah, insya Allah kita bisa menjadi idola bagi sang buah hati.

Oleh sebab itu, marilah kita rubah perilaku kita menjadi orang yang lebih baik. Setelah perilaku kita diubah menjadi cukup baik, maka jadikan diri kita contoh bagi anak-anak kita. Dengan begitu, kita dapat menjadi figur yang baik bagi sang buah hati yang kelak akan menjadi penerus kita

Menjadi teladan adalah salah satu cara bagi orangtua untuk mendidik anaknya. Teladan di masa anak anak tidak hanya berguna saat itu saja tetapi juga bermanfaat kelak saat si anak mencapai umur dewasa.

Tips Menjadi Orangtua Idola Anak
Ø Beri contoh kepada anak bagaimana berperilaku yang baik seperti tidak suka berbohong, bersifat adil, mencintai sesama, tekun belajar, berdisiplin dan lain lain.  Contoh-contoh perilaku ini akan lebih baik bila tidak hanya keluar dari mulut saja. Orang tua harus mampu bertingkah laku seperti yang mereka katakan kepada anak-anak sehingga si anak langsung mendapatkan gambaran bagaimana tingkah laku yang baik tersebut. Bagaimanapun, perbuatan dan tingkah laku jauh lebih mudah diingat bila dibandingkan hanya sebatas kata-kata.
Ø Tanamkan perilaku yang baik saat masa anak anak maka hal tersebut jauh lebih mudah bila dibandingkan hal yang sama dilakukan saat mereka sudah remaja atau dewasa.
Ø Contoh berperilaku yang baik ini akan sangat bagus lagi jika didukung oleh lingkungan di luar orangtua baik yang tinggal serumah maupun di luar rumah.

*) Suhartono, Pendidik, tinggal di Yogya

Ibu untuk Anak Kita


Oleh Mohammad Fauzil Adhim


Kunci untuk melahirkan anak-anak yang tajam pikirannya, jernih hatinya dan kuat jiwanya adalah mencintai ibunya sepenuh hati. Kita berikan hati kita dan waktu kita untuk menyemai cinta di hatinya, sehingga menguatkan semangatnya mendidik anak-anak yang dilahirkannya dengan pendidikan yang terbaik. Keinginan besar saja kadang tak cukup untuk membuat seorang ibu senantiasa memberikan senyumnya kepada anak. Perlu penopang berupa cinta yang tulus dari suaminya agar keinginan besar yang mulia itu tetap kokoh.

Uang yang berlimpah saja tidak cukup. Saat kita serba kekurangan, uang memang bisa memberi kebahagiaan yang sangat besar. Lebih-lebih ketika perut dililit rasa lapar, sementara tangis anak-anak yang menginginkan mainan tak bisa kita redakan karena tak ada uang. Tetapi ketika Allah Ta'ala telah memberi kita kecukupan rezeki, permata yang terbaik pun tidak cukup untuk menunjukkan cinta kita kepada istri. Ada yang lebih berharga daripada ruby atau berlian yang paling jernih. Ada yang lebih membahagiakan daripada sutera yang paling halus atau jam tangan paling elegan.

Apa itu? Waktu kita dan perhatian kita.

Kita punya waktu setiap hari. Tidak ada perbedaan sedikit pun antara waktu kita dan waktu yang dimiliki orang-orang sibuk di seluruh dunia. Kita juga mempunyai waktu luang yang tidak sedikit. Hanya saja, kerapkali kita tidak menyadari waktu luang itu. Di pesawat misalnya, kita punya waktu luang yang sangat banyak untuk membaca. Tetapi karena tidak kita sadari –dan akhirnya tidak kita manfaatkan dengan baik—beberapa tugas yang seharusnya bisa kita selesaikan di perjalanan, akhirnya mengambil hak istri dan anak-anak kita. Waktu yang seharusnya menjadi saat-saat yang membahagiakan mereka, kita ambil untuk urusan yang sebenarnya bisa kita selesaikan di luar rumah.

Bagaimana kita menghabiskan waktu bersama istri di rumah juga sangat berpengaruh terhadap perasaannya. Satu jam bersama istri karena kita tidak punya kesibukan di luar, berbeda sekali dengan satu jam yang memang secara khusus kita sisihkan. Bukan kita sisakan. Menyisihkan waktu satu jam khusus untuknya akan membuat ia merasa lebih kita cintai. Ia merasa istimewa. Tetapi dua jam waktu sisa, akan lain artinya.

Sayangnya, istri kita seringkali hanya mendapatkan waktu-waktu sisa dan perhatian yang juga hanya sisa-sisa. Atau, kadang justru bukan perhatian baginya, melainkan kitalah yang meminta perhatian darinya untuk menghapus penat dan lelah kita. Kita mendekat kepadanya hanya karena kita berhasrat untuk menuntaskan gejolak syahwat yang sudah begitu kuat. Setelah itu ia harus menahan dongkol mendengar suara kita mendengkur.

Astaghfirullahal ‘adziim....

Lalu atas dasar apa kita merasa telah menjadi suami yang baik baginya? Atas dasar apa kita merasa menjadi bapak yang baik, sedangkan kunci pembuka yang pertama, yakni cinta yang tulus bagi ibu anak-anak kita tidak ada dalam diri kita.
Sesungguhnya, kita punya waktu yang banyak setiap hari. Yang tidak kita punya adalah kesediaan untuk meluangkan waktu secara sengaja bagi istri kita.

Waktu untuk apa? Waktu untuk bersamanya. Bukankah kita menikah karena ingin hidup bersama mewujudkan cita-cita besar yang sama? Bukankah kita menikah karena menginginkan kebersamaan, sehingga dengan itu kita bekerja sama membangun rumah-tangga yang di dalamnya penuh cinta dan barakah? Bukan kita menikah karena ada kebaikan yang hendak kita wujudkan melalui kerja-sama yang indah?

Tetapi...

Begitu menikah, kita sering lupa. Alih-alih kerja-sama, kita justru sama-sama kerja dan sama-sama menomor satukan urusan pekerjaan di atas segala-galanya. Kita lupa menempat¬kan urusan pada tempatnya yang pas, sehingga untuk bertemu dan berbincang santai dengan istri pun harus menunggu saat sakit datang. Itu pun terkadang tak tersedia banyak waktu, sebab bertumpuk urusan sudah menunggu di benak kita.

Banyak suami-istri yang tidak punya waktu untuk ngobrol ringan berdua, tetapi sanggup menghabiskan waktu berjam-jam di depan TV. Seakan-akan mereka sedang menikmati kebersamaan, padahal yang kerapkali terjadi sesungguhnya mereka sedang menciptakan ke-sendirian bersama-sama. Secara fisik mereka berdekatan, tetapi pikiran mereka sibuk sendiri-sendiri.

Tentu saja bukan berarti tak ada tempat bagi suami istri untuk melihat tayangan bergizi, dari TV atau komputer (meski saya dan istri memilih tidak ada TV di rumah karena sangat sulit menemukan acara bergizi. Sampah jauh lebih banyak). Tetapi ketika suami-istri telah terbiasa menenggelamkan diri dengan tayangan TV untuk menghapus penat, pada akhirnya bisa terjadi ada satu titik ketika hati tak lagi saling merindu saat tak bertemu berminggu-minggu. Ada pertemuan, tapi tak ada kehangatan. Ada perjumpaan, tapi tak ada kemesraan. Bahkan percintaan pun barangkali tanpa cinta, sebab untuk tetap bersemi, cinta memerlukan kesediaan untuk berbagi waktu dan perhatian.

Ada beberapa hal yang bisa kita kita lakukan untuk menyemai cinta agar bersemi indah. Kita tidak memperbincangkannya saat ini. Secara sederhana, jalan untuk menyemai cinta itu terutama terletak pada bagaimana kita menggunakan telinga dan lisan kita dengan bijak terhadap istri atau suami kita. Inilah kekuatan besar yang kerap kali diabaikan. Tampaknya sepele, tetapi akibatnya bisa mengejutkan.

Tentang bagaimana menyemai cinta di rumah kita, silakan baca kembali Agar Cinta Bersemi Indah (Gema Insani Press, 2002, edisi revisi insya Allah akan diterbitkan Pro-U Media). Selebihnya, di atas cara-cara menyemai cinta, yang paling pokok adalah kesediaan kita untuk meluangkan waktu dan memberi perhatian. Tidak ada pendekatan yang efektif jika kita tak bersedia meluangkan waktu untuk melakukannya.

Nah.

Jika istri merasa dicintai dan diperhatikan, ia cenderung akan memiliki kesediaan untuk mendengar dan mengasuh anak-anak dengan lebih baik. Ia bisa memberi perhatian yang sempurna karena kebutuhannya untuk memperoleh perhatian dari suami telah tercukupi. Ia bisa memberikan waktunya secara total bagi anak-anak karena setiap saat ia mempunyai kesempatan untuk mereguk cinta bersama suami. Bukankah tulusnya cinta justru tampak dari kesediaan kita untuk berbagi waktu berbagi cerita pada saat tidak sedang bercinta?

Kerapkali yang membuat seorang ibu kehilangan rasa sabarnya adalah tidak adanya kesediaan suami untuk mendengar cerita-ceritanya tentang betapa hebohnya ia menghadapi anak-anak hari ini. Tak banyak yang diharapkan istri. Ia hanya berharap suaminya mau mendengar dengan sungguh-sungguh cerita tentang anaknya –tidak terkecuali tentang bagaimana seriusnya ia mengasuh anak—dan itu “sudah cukup” menjadi tanda cinta. Kadang hanya dengan kesediaan kita meluangkan waktu untuk berbincang berdua, rasa capek menghadapi anak seharian serasa hilang begitu saja. Seakan-akan tumpukan pekerjaan dan hingar-bingar tingkah anak sedari pagi hingga malam, tak berbekas sedikit pun di wajahnya.

Alhasil, kesediaan untuk secara sengaja menyisihkan waktu bagi istri tidak saja mem¬buat pernikahan lebih terasa maknanya, lebih dari itu merupakan hadiah terbaik buat anak. Perhatian yang tulus membuat kemesraan bertambah-tambah. Pada saat yang sama, menjadikan ia memiliki semangat yang lebih besar untuk sabar dalam mengasuh, mendidik dan menemani anak.

Ya... ya... ya..., cintailah istri Anda sepenuh hati agar ia bisa menjadi ibu yang paling ikhlas mendidik anak-anaknya dengan cinta dan perhatian. Semoga!

*) Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku dan Pakar Parenting | Twitter : @kupinang

Mahasiswa Kreatif


Oleh Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

Suatu hari, saat saya berada di luar kota menerima sms seperti ini.
Assalamualaikum pak, saya ingin ketemu bapak hari ini untuk tanda tangan kartu ujian, jam berapa dan di mana saya bisa bertemu bapak? Terimakasih”.

Karena tanpa identitas pengirim saya balas begini “Ini siapa?” Dia membalas “Saya (Z) Teknik Mesin angkatan tahun (Y) pak, salah satu mahasiswa bimbingan akademik bapak.” Saya balas lagi “Saat ini saya di luar kota. Bisa besok jam 9 di kantor SA” Dia pun membalas,“Oh iya pak terimakasih banyak, Pak”. “Sama-sama mas (Z)” jawab saya.

Keesokan harinya, karena banyak pekerjaan, sehingga saya tidak ingat kalau sebetulnya ada janji dengan mahasiswa pada jam 9.00. Kira-kira jam 9.20, salah satu staf sekretariat masuk ke ruang saya, memberitahu kalau ada mahasiswa yang akan menghadap. Barulah saya ingat, lalu saya minta untuk dipersilahkan masuk. Setelah masuk, dia langsung berkata “Maaf pak, saya terlambat, bangunnya kesiangan.

Berhubung saya memang tidak merasa menunggu dia, maka saya senyum saja, tidak marah. “Wah jujur juga mahasiswa ini” batin saya. Setelah saya tanda tangani kartu ujiannya, lalu saya tanya kenapa bangunnya kesiangan. Ternyata dia kuliah sambil bekerja, kadang sampai larut malam.

Wah...,ini menarik untuk ditanyai lebih lanjut, kata saya dalam hati. Akhirnya saya tahu bahwa ayahnya sudah wafat dan ibunya tidak mempunyai keahlian khusus. Agar tetap mempunyai masa depan, maka dia bertekad untuk kuliah sambil bekerja, tapi apa yang bisa dilakukan. Setelah berdiskusi dengan salah satu temannya yang lebih dulu mempunyai usaha, dia putuskan akan membuka warung tenda yang menjual makanan khas kota asalnya.

Dengan modal tabungannya selama ini, ditambah uang hasil penjualan komputernya, lalu dia mencari tempat yang strategis dan menemukannya di dekat kampus. Karena untuk mendapatkan ijin sewa lokasi baru dari pemerintah daerah itu mahal, maka atas saran dari para penjual di sekitar lokasi itu, tidak perlu mencari lokasi baru, tetapi cukup menggunakan lokasi yang dulu pernah dipakai orang tetapi karena sesuatu hal, lalu ditinggal.

Dengan keuletan dan kejeliannya, akhirnya dia mendapatkan lokasi yang diinginkan meskipun dengan harga seperti lokasi baru, namun sudah termasuk semua peralatan yang dulu pernah digunakan oleh pemakai sebelumnya. Bahkan pembayarannya bisa diangsur 6 bulan. Tiang tenda dari besi yang warnanya sudah kusam dicat kembali, yang keropos dibawa ke tukang las. Akhirnya dia berhasil membuka warung tenda dan diberi nama hampir seperti namanya. Karena jenis makanannya sangat khas, maka meskipun pada minggu pertama masih rugi, kedua impas, namun masuk minggu ketiga sudah untung. Bahkan sekarang sudah bisa mengirim uang untuk adik dan ibunya.       

Dia juga cerita ke saya keberhasilan teman yang telah memberinya motivasi. Teman yang kuliah di fakultas lain itu juga sambil bekerja, karena perusahaan tempat ayahnya bekerja mengalami kebangkrutan. Dia berusaha keras mencari ide bagaimana bisa mendapatkan uang. Karena kesungguhannya dalam berusaha, akhirnya dia menemukan dan dilaksanakanlah ide itu. Dia membeli beberapa pakaian di toko pakaian bekas. Dengan sangat telitinya dia memilih yang masih bagus, yang modelnya masih up to date dan juga bahannya pilihan. Lalu  pakaian tersebut dicuci bersih, bagian-bagian yang perlu dimodifikasi atau disempurnakan. Kemudian pakaian tersebut difoto, dijual melewati media jejaring sosial elektronik dan dia juga berterus terang bahwa pakaian tersebut memang tidak baru. Karena belinya sangat murah maka dia juga bisa menjual dengan harga murah. Ternyata laku. Dia mengulangi dengan jumlah yang lebih banyak, dan tetap laku bahkan semakin cepat terjual. Ketika cara tersebut sudah berjalan beberapa waktu, dia berpikir, apakah dia hanya akan mengandalkan terus menerus toko-toko pakaian bekas. Dia mencoba inovasi yang lain, dia membuat pakaian-pakaian sendiri, ternyata laku juga, diperbanyak dan tetap laku. Bahkan sekarang sudah mulai diekspor ke negara tetangga.

Setelah mahasiswa tersebut keluar, saya teringat dengan apa yang telah Allah Ta’ala firmankan dalam surat Ar-Ra’d ayat 11 : “Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa-apa yang terjadi pada suatu kaum sebelum mereka mengubah diri mereka sendiri”. Wallalahu ‘alam bishawab.

*) Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A Guru Besar Universitas Gajah Mada. Pimpinan Umum Majalah Fahma

Makanan Cerdas : Telur Asin


Oleh Ana Noorina


Telur asin memang memiliki kelebihan dari telur rebus biasa. Jika pada telur rebus biasa yang disimpan di dalam kulkas hanya mampu bertahan kurang lebih dua hari, maka pada telur asin dapat bertahan kurnag lebih selama sepuluh hari. Selain itu telur asin juga memiliki rasa yang lebih gurih dari pada telur rebus biasa yang biasanya rasanya sedikit hambar.

Salah satu jenis telur yang sangat bagus dibuat telur asin adalah telur bebek atau telur itik. Karena telur asin juga terbuat dari telur, maka keduanya memiliki kandungan yang sama yaitu sumber protein, vitamin dan mineral yang cukup tinggi. Namun karena terdapat perbedaan proses pembuatan yaitu dengan cara pengasinan, maka ada beberapa komposisi yang sedikit berkurang dan bertambah.

Selain lebih awet dan tahan lama, telur asin ternyata juga terdapat peningkatan jumlah kalsium hingga 25 kali. Oleh sebab itu tidak heran jika orang yang sedang mengalami patah tulang disarankan untuk mengkonsumsi telur asin yang mengandung protein tinggi asalkan tidak berlebihan. Makanan yang mengandung protein tinggi juga bagus untuk anak yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Telur asin mengandung kalsium, protein, asam lemak omega 3 yang terdapat dalam kuningnya. Protein yang terdapat di dalam telur lebih tinggi dari pada protein yang terdapat pada daging dan susu. Protein berfungsi sebagai zat pembangun untuk pertumbuhan sel dan perbaikan sel tubuh yang rusak. Protein telur mengandung semua asam amino esensial yang dibutuhkan oleh tubuh termasuk asam lemak omega 3 baik untuk kecerdasan otak.

Telur memang mengandung lemak jenuh namun tetap aman untuk dikonsumsi asal dalam batas yang wajar dan Anda tidak memiliki riwayat kolesterol yang tinggi. Oleh sebab itu telur asin tidak boleh dikonsumsi oleh penderita darah tinggi karena kandungan garam telur asin yang tinggi bisa menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh akibatnya tekanan darah dapat semakin meninggi.


*) Ana Noorina, Pemerhati Gizi

Kisah Cerdas : Hati Yang Tidak Pernah Iri


Oleh Asnurul Hidayati


Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu berkata, “Saat itu kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihiwasallam, lalu beliau bersabda, “Akan datang seorang penghuni surga dari arah ini kepada kalian.” Maka datanglah seorang sahabat Anshar dengan jenggot yang basah karena berwudhu,sambil membawa sandalnya dengan tangan kiri,ia mengucapkan salam.

Keesokan harinya Rasulullah menyampaikan hal yang sama dan ternyata orang yang datang sama pula. Pada hari ketiga beliau menyampaikan berita yang sama dan muncullah oarng yang sama.

Ketika Nabi Muhammad beranjakpergi, Abdullah bin Amr bin Ash mendekati orang Anshar tersebutsambil berkata, “Aku bertengkar dengan ayahku, dan bersumpah tidak akan memasuki rumahnya selama tiga hari. Jika engkau tidak keberatan bolehkah aku tinggal di rumahmu selama tiga hari?” orang itu menjawab, “Silahkan saja, tidak apa-apa.”

Anas berkata, “Kemudian Abdullah bin Amr bin Ash tinggal di rumah orang tersebut selama tiga hari, akan tetapi ia tidak pernah menemuinya bangun malam untuk menunaikan shalat malam, kecuali bahwa jika ia terbangun atau membalik badannya di tempat tidur ia menyebut Asma Allah dan bertakbir, begitulah seterusnya hingga datang waktu shalat subuh. Akan tetapi orang itu tidak pernah berucap kecuali perkataan yang baik.

Abdullah bin Amr berkata, “Setelah berlalu tiga hari, aku merasa bahwa amal ibadahnya biasa-biasa saja. Lalu aku berbicara kepadanya, “Wahai Abdullah, sesungguhnya aku tidak pernah bertengkar dengan ayahku, akan tetapi aku telah mendengar Rasulullah bersabda, “Akan datang seorang penghuni surga kepada kalian.” Sebanyak tiga kali, dan ternyata tiga kali pula engkau muncul setelah beliau menyampaikan sabdanya tersebut. Maka aku ingin tinggal bersamamu untuk mengetahui apayang telah engkau lakukan, dan ternyata aku tidak menemukan apa-apa. Sebenarnya amal perbuatan apakah yang telah mengantarkanmu ke derajat yang agung itu?” Orang itu menjawab, “Tidak ada yang aku rahasiakan, sebagaiman yang engkau lihat, itulah yang aku lakukan.”

Abdullah bin Amr segera beranjak untuk pergi, tiba-tiba orang tersebut memanggilnya, seraya berkata, “Yang aku lakukan adalah apa yang telah engkau lihat. Hanya saja aku tidak pernah iri terhadap nikmat yang telah diterima oleh seorang muslimpun.” Abdullah berkata, “Itulah yang telah mengangkat derajatmu. Dan itulah yang berat untuk dilakukan.”

Wahai  Ayah Bunda dan pengasuh anak yang berbahagia. Sungguh menakjubkan dalam menjalani agama ini. Ada banyak hikmah dan pelajaran dari saudara muslim lain yang demikian luar biasa perjuangannya. Mari kita becermin pada berbagai hikmah itu. Semoga kita menjadi orangtua yang teguh imannya dan bersih hatinya dari iri. Semoga anak-anak kita pun memiliki iman yang kokoh dan menjadi anak yang terjaga dari perasaan mudah iri kepada nikmat yang dimiliki orang lain. Selamat mengasuh anak. Semoga anak-anak kita menjadi generasi yang siap berjuang menghadapi tantangan hidup. Semoga kita semua berakhir dalam keridhoan Allah Ta’ala.

Sumber : Hadits Riwayat Ahmad (3/166)

*) Dra. Asnurul Hidayati, Guru MITQ di Bantul

Menjaga Kebersihan Pakaian

 

Oleh
Nur Siti Fatmah, S.Ag

Seorang ibu setiap Senin sore mendapati baju putih anaknya kelihatan kotor. Seragam lengan panjang yang mestinya dipakai pula esok hari Selasa sudah tidak memungkinkan lagi, karena amat kotor oleh tanah terutama pada bagian pergelangan tangan dan bagian belakang bawah. “Mas, kenapa sih, kok bajunya kotor sekali? Main apa di sekolah,” tanya ibunya sambil menenteng baju kotor anaknya. “Ya…, main apa saja di sekolah bersama teman-teman, tadi main tanah ketika halaman sekolah disiram”, jawab si anak.

“Bu…baju kalau dipakai ya kotor, kenapa sih bu?” lanjut si anak menimpali komentar ibu tentang bajunya yang amat kotor sepulang sekolah. “Mas kalau baju putih kena kotoran menjadikan tidak pantas untuk dipakai, kalau terlalu sering dikasih pemutih, akan cepat rusak, dan logo di sekolah yang ada di saku dada itu akan rusak sehingga tidak nampak jelas logonya”, lanjut ibu menasehati anaknya.

Ketika pertemuan orangtua murid, terungkaplah berbagai persoalan tentang anak-anak berkait dengan belajar, penataan buku dan kebersihan pakaian. Penulis ingin berbagi dengan para guru dan orangtua murid berkait dengan kebersihan baju, terutama baju putih, menjaga kebersihan baju membutuhkan upaya pemahaman bagi anak-anak, sekaligus pembiasaan hidup bersih.

Hendaklah para murid diberi pemahaman tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kesucian pakaian berkait dengan ibadah shalat. Mengenakan pakaian ketika menjalankan sholat adalah keharusan, bahkan membuat sholat seseorang tidak sah karena mengenakan pakaian yang terkena najis.

Guru mesti memberikan landasan syar’i ketika menghunjamkan pemahaman tentang menjaga diri dan pakaian agar tetap bersih dan suci, setidaknya ketika murid-murid badan atau pakaiannya terkena kotoran atau najis tahu untuk segera membersihkan dan mensucikannya. Guru harus menerangkan secara utuh mengapa harus menjaga kebersihan dan kesucian pakaian. Guru bisa menambah pemahaman para murid tentang pentingnya menjaga kebersihan pakaian dari sisi etika pergaulan.

Hendaklah orangtua melibatkan anak dalam memelihara dan membersihkan pakaian. Anak diajak turut mencuci pakaian yang telah dikenakan, terutama pakaian yang amat kotor. Anak tidak hanya ditugas mengantar pakaian kotor ke jasa laundry, sebaiknya anak dilibatkan mencuci secara langsung pakaian miliknya, suatu ketika penulis praktekkan mengajak anak kami mencuci baju putih yang amat kotor. “Ini kok lama ya bersihnya, kotoran sulit dibersihkan. Padahal sudah aku sikat berkali-kali tapi masih juga kotor” “He…he…iya apa Mas? Ya harus diupayakan sampai bersih, apalagi itu baju putih, sedikit ada noda kelihatan kotornya” jawab umminya menanggapi keluhan anak ketika mencuci baju.

“Dibawa ke laundry saja ya, Mi? Biar bisa bersih, malu kalau pake baju kotor” tukas si anak. “Kita harus menjaga pakaian ketika mengenakannya, lintinglah baju ketika akan bermain tanah, perhatikan pula ketika mau bersandar atau duduk, pastikan tempatnya bersih terlebih dahulu. Kita harus menjaga kebersihan dan kesucian pakaian karena menyangkut kesahan ibadah sholat. Ketika sholat kita harus mengenakan pakaian yang suci.

Jika kita bisa menjaga kebersihan pakaian saat dikenakan kita bisa lebih hemat uang, tidak perlu dicuci di laundry, kita bisa membersihkan sendiri kotoran di pakaian dengan mudah. Itulah nasehat seorang Ibu kepada anaknya ketika proses mencuci baju.


*) Nur Siti Fatmah, S.Ag , Guru MI Darussalam Selokerto Sleman Yogyakarta

Nutrisi Seimbang Bagi Anak


Oleh Beta Haninditya


Nutrisi yang cukup dan seimbang adalah bagian penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak Anda. Tapi tentu saja kebutuhan nutrisi harian yang dibutuhkan anak-anak tidak sama dengan kebutuhan nutrisi orang dewasa. Jadi, seberapa banyak-kah nutrisi yang dibutuhkan anak Anda? 

Pada dasarnya, anak-anak memang lebih sering makan dibandingkan orang dewasa. Maklum saja, ukuran lambung anak memang jauh lebih kecil dibandingkan orang dewasa. Karena itu, anak-anak lebih cepat lapar dan lebih cepat kenyang dibandingkan orang dewasa. Balita biasanya makan 5 kali sehari, yaitu pada 3 kali waktu makan (sarapan, makan siang, dan makan malam) serta 2 kali waktu mengemil, yaitu 1 kali di antara sarapan dan makan siang, serta 1 kali di antara waktu makan siang dan makan malam. Sedangkan anak yang sudah memasuki usia sekolah biasanya makan 4 kali sehari, yaitu pada 3 kali waktu makan dan 1 kali waktu mengemil.

Karena porsi makan anak-anak yang jauh lebih kecil, maka konsumsi sayuran dan buah pada anak-anak sebaiknya disebar sesuai waktu makan tersebut di atas. Sajian yang dinikmati anak-anak pada waktu makan ataupun waktu ngemil sebaiknya termasuk sajian buah dan/atau sayuran segar. Dengan cara ini, maka kebutuhan nutrisi harian anak-anak yang didapat dari buah dan sayuran lebih mudah tercapai.

Tapi sebenarnya berapa banyak asupan sayuran dan buah yang dibutuhkan anak? Kebutuhan tiap anak berbeda sesuai dengan umurnya. Panduan berikut bisa membantu Anda: Anak usia 2-3 tahun membutuhkan 150 gram buah per hari dan 185 gram sayuran per hari. Sedangkan anak usia 4-8 tahun membutuhkan 225 gram buah per hari dan 330 gram sayuran per hari. Sementara anak usia 9-18 tahun membutuhkan 300 gram buah per hari dan 375 gram sayuran per hari.

Kalau anak Anda termasuk anak yang aktif berolahraga, kebutuhan nutrisi hariannya bisa jadi lebih besar dari panduan di atas. Selain berusaha memenuhi kebutuhan nutrisi harian tersebut, usahakan juga untuk memberikan buah dan sayuran yang bervariasi pada anak, karena tiap jenis buah dan sayuran memiliki kandungan nutrisi yang berbeda. Mengkonsumsi berbagai jenis buah dan sayuran akan memaksimalkan manfaat buah dan sayuran pada anak Anda.


*) Beta Haninditya, Apoteker RSKIA Sadewa, Sleman

Proporsional Menyikasi Keriuhan Kurikulum 2013


Assalaamu ‘alaikum wa rohamtullahi wa barokaatuh

Bangsa besar tak akan membiarkan generasi penerusnya dibesarkan dalam lingkungan kacau. Karena itulah, keluarga adalah alat pendidikan yang penting. Gelisahlah para orangtua yang tak mengerti cara membuat kurikulum bagi anak-anaknya, apalagi bila tak punya waktu. Orangtua bisa mendesain kurikulum anak dengan memerhatikan aspek-aspek perkembangan anaknya yang berbeda dengan anak lain. Jadi, kalau mau berubah, Kurikulum 2013 tidak boleh tanggung-tanggung. Harus ada program yang jelas pada orangtua, termasuk mendesain dan eksekusi kurikulum untuk anak di rumah, beserta pembaruan laporan kemajuan belajar (rapor).

Adalah tak tepat memberi laporan kemajuan belajar semata-mata menulis angka. Orangtua butuh laporan verbal tentang kemajuan anaknya, menyangkut upaya, kemajuan, disiplin, partisipasi terhadap diskusi, pergaulan, minat, kepatuhan, kreativitas, metodologi, hubungan vertikal-horizontal, sikap-sikap sosial, dan sebagainya.

Lagi pula apa guna mengetahui anak kita berada di nomor berapa di kelas bila kita tak tahu apa yang harus diperbaiki. Kita tentunya berharap banyak pada Kementerian Pendidikan untuk terus memperbaiki kelemahan-kelemahan kurikulum yang dirancangnya. Namun, kita juga berharap banyak agar orangtua turut mengisi kekurangan pada anak-anaknya.

Pembaca yang dirahmati Allah,
Perubahan memang selalu mewarnai kehidupan kita. Tak terkecuali di Majalah Fahma. Mulai bulan januari 2015 ini, posisi tongkat estafet Pemimpin Redaksi Majalah Fahma yang semula dipegang oleh Subhan Afifi diserahkan kepada Irwan Nuryana Kurniawan. Posisi Subhan Afifi berpindah ke Dewan Redaksi.


Sementara itu di akhir tahun 2014 yang lalu, alhamdulillah, Pemimpin Umum Majalah Fahma, Prof Indarto, DEA, baru saja menggelar hajatan pernikahan putra keduanya, Bayu Praditya. Baarokallah. Semoga menjadi keluarga yang sakinah. Amin…||

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kecerdasan Anak


Oleh Nur Muthmainnah

Setiap orangtua pasti menginginkan anaknya cerdas. Tapi, anak itu memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda-beda. Ada banyak faktor yang mempengaruhinya. Faktor apa sajakah itu? Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi kecerdasan anak.

Pertama, keturunan. Banyak anak yang cerdas, pintar dan berprestasi di sekolah. Dan sudah menjadi rahasia umum akan selalu dihubung-hubungkan dengan kedua orangtuanya, bagaimana orangtuanya, pendidikan orangtuanya. Tidak heran jika anak yang cerdas dan pintar karena orangtuanya cerdas dan pintar juga. Faktor genetik menurut penelitian menyumbang terhadap intelgensi anak berkisar 40 – 80 persen.

Kedua, nutrisi yang tepat. Anggapan bahwa kecerdasan anak hanya dapat diturunkan oleh orangtua yang cerdas, tampaknya perlu diubah. Sebab nutrisi yang tepat dan seimbang sangat mempengaruhi kecerdasan anak. Asam lemak omega 3 yang terdapat dalam ikan salmon, sarden, tuna menurut penelitian bisa menghasilkan sel-sel otak dan meremajakan fungsi otak. Selain itu kacang-kacangan, telur, makanan laut, ayam, brokoli, alpukat merupakan yang dapat meningkatkan kecerdasan otak.

Ketiga, stimulan. Selain nutrisi yang berguna untuk meningkatkan kecerdasan, stimulan-stimulan sejak dini diperlukan untuk perkembangan otak anak. Orangtua sangat berperan dalam memberi stimulasi buah hatinya sejak mereka bayi. Dari mengajak bermain edukatif, kreatif, mengajarkan bersosialisasi dengan lingkungannya dan mengajak buah hati berolahraga untuk meningkatkan kesehatan fisiknya. Para ahli berpendapat stimulan mampu merangsang kecerdasan otak. Otak manusia terdiri dari jutaan saraf. Stimulan diberikan sejak dini agar terjadi hubungan antara satu saraf dengan saraf yang lainnya. Sehingga ketika memasuki usia sekolah anak akan lebih mudah menerima dan menyimpan ilmu yang diperolah. Memberi stimulan pada anak, disesuaikan dengan umurnya. Lebih baik sejak dini, sejak 0 tahun. Terlebih lagi pada masa the golden age yaitu 0 – 3 tahun.

Keempat, tidur. Anak membutuhkan istirahat dan tidur malam yang baik agar otaknya dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal. Sejak bayi lahir hingga tumbuh menjadi anak usia sekolah, harus memiliki rutinitas tidur yang konsisten setiap harinya.

Kelima, trauma. Trauma dapat menimbulkan efek negatif terhadap perkembangan otak bayi dan anak-anak. Contoh trauma yang biasanya terjadi pada anak usia dini termasuk selamat dari bencana alam, kehilangan anggota keluarga, dan mengalami penyakit kronis. Trauma juga dapat terjadi jika anak mengalami pelecehan seksual, kemiskinan, atau memiliki orangtua pecandu alkohol atau narkoba. Anak yang mengalami trauma akan menghadapi masalah seperti perubahan pola makan, tidur, perubahan perilaku, serta kesulitan bergaul dengan teman-temannya. Dukung dan dampingi anak agar dirinya terbebas dari trauma. Jika trauma tetap bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama, Anda perlu membawa anak menemui ahli psikologi agar anak terhindar dari gangguan otak akibat trauma yang kronis.

Keenam, kegiatan fisik. Anak yang fisiknya kuat akan memiliki otak yang sehat dan cerdas. Oleh karena itu, jangan batasi aktivitas anak demi kesehatan fisik dan perkembangan otaknya. Anak masih terlalu dini untuk melakukan olahraga khusus yang berat, dirinya hanya perlu lebih aktif ketika bermain bersama teman-temannya di luar ruangan.

Ketujuh, ikatan orangtua. Sebuah hubungan yang positif dan harmonis antara kedua orangtua memungkinkan seorang anak merasa aman dan disayangi. Hal ini membuat anak lebih percaya diri dan suasana keluarga yang nyaman mendukung perkembangan otak yang sehat. Di sisi lain anak-anak yang tinggal dalam lingkungan keluarga yang kurang harmonis, akan merasa tidak aman, takut-takut, dan bingung ketika bertemu dengan orang baru.

Kedepalan, kesempatan belajar. Jika orangtua mendambakan anak yang cerdas, ajarkan anak untuk belajar sejak dini untuk menstimulasi perkembangan otaknya. Ajarkan anak Anda untuk mengenal huruf dan angka serta sediakan berbagai macam buku, alat musik, mainan dan perlengkapan seni.


*) Nur Muthmainnah, Ibu rumah tangga, tinggal di Yogya

Renungan : Pasti Akan Datang Ujian Itu

Relawan SAR Hidayatullah di Banjarnegara

Oleh R. Bagus Priyosembodo

Apakah manusia memperhitungkan bahwa mereka akan dibiarkan berkata : kami sudah beriman, sedangkan mereka tidak diuji. Dan sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka Allah mengetahui benar-benar orang-orang yang mereka benar dan mengetahui benar-benar para pendusta  (lihat QS al Ankabut (29) : 2-3)

Pasti akan datang ujian. Untuk membedakan dan membuktikan pengakuan yang benar dan pengakuan yang dusta.


*) R. Bagus Priyosembodo, Redaktur Ahli Majalah Fahma. Twitter @orangawam1

Anak Kecanduan Gadget


Oleh Arif Wicaksono

Tak jarang kita temui pemandangan di berbagai tempat, ada orangtua yang asyik bermain gadget meski saat itu mereka tengah bersama buah hatinya. Tanpa disadari, kebiasaan seperti itu turut mempengaruhi penggunaan gadget oleh anak, bahkan ketika sampai pada taraf anak kecanduan gadget.
Terutama bagi ibu, kecanduan menggunakan gadget secara tidak langsung akan membuat si anak pun turut kecanduan menggunakan gadget. Sebab, biasanya anak belajar dari perilaku ibunya.

Anak mempelajari kemampuan mengontrol emosi dan berempati dari ibu. Namun, karena sang ibu merupakan pecandu perangkat digital sehingga tidak bisa menjalankan peran itu, kemampuan berempati anak pun akan berkurang.

Di dalam sebuah kasus, ada seorang ibu yang sedang merencanakan untuk pergi berlibur dengan anak-anaknya. Sang ibu yang kebingungan harus mengajak anaknya ke mana ini pun asyik sendiri browsing tempat-tempat liburan di gadgetnya.

Padahal akan lebih baik jika sang ibu meninggalkan gadgetnya dan mengajak si anak berdiskusi tentang tempat liburan mereka. Dengan begitu, anak akan merasa dihargai dan waktu yang digunakan untuk berdikusi bisa lebih bermakna.

Perangkat digital atau gadget akan melemahkan otak anak dan mengacaukan proses tumbuh-kembangnya. Perangkat tersebut juga menjadi perusak hubungan antara ibu dan anak. Hal ini merupakan tragedi yang cukup mengerikan saat seharusnya anak belajar mengenal dunia sebagai tempat yang bisa diandalkan melalui hubungan kasih sayang yang hangat antara ibu dan anak.
Sebelum melarang anak agar tidak terlalu sering menggunakan gadget, orangtua ada baiknya introspeksi diri terlebih dahulu apakah mereka sendiri termasuk pecandu gadget atau tidak. Orangtua harus berperan sebagai teladan yang baik atau role mode bagi anak. Jangan sampai anak merasa sedih atau merasa terbuang akibat ibunya lebih sering terpaku pada layar gadget daripada bercengkerama dengan dirinya.

Anak yang tumbuh besar dengan melihat keadaan seperti itu akan meniru perilaku ibunya. Anak akan memperhatikan dan mempelajari apa yang orang dewasa lakukan. Di balik orangtua yang kecanduan gadget, akan ada anak-anak yang jauh lebih berisiko kecanduan perangkat itu juga.

Anak-anak dan remaja yang sudah kecanduan gadget cenderung anti-sosial dan apatis terhadap lingkungan sekitarnya. Hati-hati, sebab hal ini bisa membuat tumbuh kembang anak menjadi tidak sempurna.

Di dalam buku "Mendidik Anak di Era Digital" yang ditulis psikiater dan praktisi pendidikan anak terkemuka di Korea, Yee-Jin Shin, dijelaskan bahwa hidup di era gadget membuat anak-anak masa kini rentan menjadi 'matang semu'. Secara fisik atau penampilan luar, mungkin anak-anak sekarang terlihat lebih rapi dan cerdas. Namun, secara kejiwaan mentalnya belum berkembang.

Yee-Jin Shin juga menjelaskan bahwa anak-anak yang sehari-hari akrab dengan gadget cenderung kurang bisa memahami perasaan orang lain dan bahkan perasaannya sendiri. Hal ini terjadi karena anak merasa lebih nyaman saat bermain gadget terutama dalam aplikasi media sosial. Saat di dunia nyata, ia akan mudah melawan nasihat dari orangtua dan gurunya karena ia lebih memikirkan kepentingannya sendiri.

Sayangnya, banyak orangtua terlanjur percaya bahwa saat tubuh anak berkembang menjadi besar maka mentalnya pun juga otomatis ikut besar. Padahal tidak demikian. Selain diberikan asupan gizi, anak juga harus dilatih EQ atau kecerdasan emosinya.

EQ merupakan faktor yang paling mendasar dari perkembangan kemampuan bersosialisasi dan daya pikir anak. Dibandingkan anak-anak zaman dulu, perkembangan fisik anak zaman sekarang jauh lebih baik. Dia tidak mengalami masalah fisik karena dibesarkan dalam lingkungan yang baik dan tidak kekurangan asupan makanan. Yang menjadi masalah yaitu jiwanya tidak berkembang sehat sebaik badannya.

Yee-Jin shin juga mengungkapkan bahwa baik tidaknya tumbuh kembang anak secara fisik maupun mental bisa dilihat sejak usia empat tahun. Periode tersebut bisa menentukan apakah anak akan tumbuh sempurna atau justru 'matang semu'. Periode ini sebaiknya dimanfaatkan orangtua untuk memberikan pola pengasuhan yang baik bagi anak sekaligus menghindari pemakaian gadget yang berlebihan.


*) Arif Wicaksono, Pemerhati dunia anak