» » Anak Kecanduan Gadget

Anak Kecanduan Gadget

Penulis By on Tuesday, December 16, 2014 | No comments


Oleh Arif Wicaksono

Tak jarang kita temui pemandangan di berbagai tempat, ada orangtua yang asyik bermain gadget meski saat itu mereka tengah bersama buah hatinya. Tanpa disadari, kebiasaan seperti itu turut mempengaruhi penggunaan gadget oleh anak, bahkan ketika sampai pada taraf anak kecanduan gadget.
Terutama bagi ibu, kecanduan menggunakan gadget secara tidak langsung akan membuat si anak pun turut kecanduan menggunakan gadget. Sebab, biasanya anak belajar dari perilaku ibunya.

Anak mempelajari kemampuan mengontrol emosi dan berempati dari ibu. Namun, karena sang ibu merupakan pecandu perangkat digital sehingga tidak bisa menjalankan peran itu, kemampuan berempati anak pun akan berkurang.

Di dalam sebuah kasus, ada seorang ibu yang sedang merencanakan untuk pergi berlibur dengan anak-anaknya. Sang ibu yang kebingungan harus mengajak anaknya ke mana ini pun asyik sendiri browsing tempat-tempat liburan di gadgetnya.

Padahal akan lebih baik jika sang ibu meninggalkan gadgetnya dan mengajak si anak berdiskusi tentang tempat liburan mereka. Dengan begitu, anak akan merasa dihargai dan waktu yang digunakan untuk berdikusi bisa lebih bermakna.

Perangkat digital atau gadget akan melemahkan otak anak dan mengacaukan proses tumbuh-kembangnya. Perangkat tersebut juga menjadi perusak hubungan antara ibu dan anak. Hal ini merupakan tragedi yang cukup mengerikan saat seharusnya anak belajar mengenal dunia sebagai tempat yang bisa diandalkan melalui hubungan kasih sayang yang hangat antara ibu dan anak.
Sebelum melarang anak agar tidak terlalu sering menggunakan gadget, orangtua ada baiknya introspeksi diri terlebih dahulu apakah mereka sendiri termasuk pecandu gadget atau tidak. Orangtua harus berperan sebagai teladan yang baik atau role mode bagi anak. Jangan sampai anak merasa sedih atau merasa terbuang akibat ibunya lebih sering terpaku pada layar gadget daripada bercengkerama dengan dirinya.

Anak yang tumbuh besar dengan melihat keadaan seperti itu akan meniru perilaku ibunya. Anak akan memperhatikan dan mempelajari apa yang orang dewasa lakukan. Di balik orangtua yang kecanduan gadget, akan ada anak-anak yang jauh lebih berisiko kecanduan perangkat itu juga.

Anak-anak dan remaja yang sudah kecanduan gadget cenderung anti-sosial dan apatis terhadap lingkungan sekitarnya. Hati-hati, sebab hal ini bisa membuat tumbuh kembang anak menjadi tidak sempurna.

Di dalam buku "Mendidik Anak di Era Digital" yang ditulis psikiater dan praktisi pendidikan anak terkemuka di Korea, Yee-Jin Shin, dijelaskan bahwa hidup di era gadget membuat anak-anak masa kini rentan menjadi 'matang semu'. Secara fisik atau penampilan luar, mungkin anak-anak sekarang terlihat lebih rapi dan cerdas. Namun, secara kejiwaan mentalnya belum berkembang.

Yee-Jin Shin juga menjelaskan bahwa anak-anak yang sehari-hari akrab dengan gadget cenderung kurang bisa memahami perasaan orang lain dan bahkan perasaannya sendiri. Hal ini terjadi karena anak merasa lebih nyaman saat bermain gadget terutama dalam aplikasi media sosial. Saat di dunia nyata, ia akan mudah melawan nasihat dari orangtua dan gurunya karena ia lebih memikirkan kepentingannya sendiri.

Sayangnya, banyak orangtua terlanjur percaya bahwa saat tubuh anak berkembang menjadi besar maka mentalnya pun juga otomatis ikut besar. Padahal tidak demikian. Selain diberikan asupan gizi, anak juga harus dilatih EQ atau kecerdasan emosinya.

EQ merupakan faktor yang paling mendasar dari perkembangan kemampuan bersosialisasi dan daya pikir anak. Dibandingkan anak-anak zaman dulu, perkembangan fisik anak zaman sekarang jauh lebih baik. Dia tidak mengalami masalah fisik karena dibesarkan dalam lingkungan yang baik dan tidak kekurangan asupan makanan. Yang menjadi masalah yaitu jiwanya tidak berkembang sehat sebaik badannya.

Yee-Jin shin juga mengungkapkan bahwa baik tidaknya tumbuh kembang anak secara fisik maupun mental bisa dilihat sejak usia empat tahun. Periode tersebut bisa menentukan apakah anak akan tumbuh sempurna atau justru 'matang semu'. Periode ini sebaiknya dimanfaatkan orangtua untuk memberikan pola pengasuhan yang baik bagi anak sekaligus menghindari pemakaian gadget yang berlebihan.


*) Arif Wicaksono, Pemerhati dunia anak
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya