» » Mahalnya Sebuah Kejujuran

Mahalnya Sebuah Kejujuran

Penulis By on Tuesday, December 16, 2014 | No comments


Oleh Prof. Dr. Indarto

Pada akhir Ramadhan tahun ini, kami mengikuti workshop singkat penulisan opini di media massa, bertempat di kantor Fahma, dengan pemateri Ustadz Anwar Zaelani, sang penulis buku “Mewarnai Dunia dengan Menulis”. Beliau memberikan beberapa contoh tulisan opini yang telah dimuat di koran Jawa Pos, salah satunya adalah Kantin Kejujuran, Pendidikan Antikorupsi. Ternyata, saat ini banyak kantin tersebut yang sudah tutup, kehabisan modal.

Mendengar kata kejujuran tersebut, saya jadi teringat pada sebuah peristiwa yang menyedihkan yang pernah terjadi di kampus, di tempat proses pendidikan berlangsung. Ketidak jujuran yang harus ditebus, selain dengan harga yang sangat mahal, juga hilangnya waktu yang tidak mungkin bisa diputar-ulang lagi.

Saat ini kita hidup di era Teknologi Informasi. Baik proses maupun komunikasi dapat dikendalikan atau dilaksanakan secara jarak jauh, termasuk pengisian kartu rencana studi (KRS) oleh mahasiswa di setiap awal semester. Namun kami percaya bahwa dalam proses pendidikan, komunikasi antara mahasiswa dengan dosen secara berhadapan, masih merupakan cara komunikasi yang terbaik.

Untuk itu, meskipun KRS sudah dilakukan secara online, namun jurusan kami masih tetap memberlakukan peraturan, bahwa KRS yang sudah diproses secara online harus tetap dimintakan tanda tangan kepada dosen pembimbing akademiknya. Karena pada saat bertemu, diharapkan ada interaksi di antara keduanya. Dosen bisa memberikan nasehat dan mahasiswa juga bisa berkonsultasi tentang masalah yang sedang dihadapi, baik akademik maupun non akademik. Meskipun ada juga dosen yang memberikan tanda tangan hanya sambil lalu saja, tanpa bertanya-jawab antara keduanya.

Untuk memperbanyak jumlah pertemuan, maka selain KRS, kartu peserta ujian baik tengah semester maupun akhir semester, harus dimintakan tanda tangan juga. Namun kelihatannya, tidak semua mahasiswa memahami dan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkonsultasi. Justru mereka menganggap hal ini sebagai kewajiban yang cukup membebani, karena memang tidak semua dosen mudah ditemui. Ada yang janjiannya cukup sengan SMS sehingga mahasiswa tidak perlu kehilangan waktu untuk menunggu, karena hari, jam dan tempat bertemunya sudah disepakati dalam SMS. Ada yang tidak bersedia janjian, langsung bertemu saja, sehingga kadang-kadang mahasiswa harus lama menunggu tanpa kepastian.

Suatu saat, pernah ada beberapa mahasiswa yang kurang cerdas dalam mensikapi masalah ini. Saya katakan kurang cerdas, karena kalau cerdas, sebelum melakukan sesuatu pasti sudah memperhitungkan segala akibatnya. Meskipun di antara mereka ada yang “pandai”, karena mempunyai indeks prestasi komulatif 3,4 yang berarti mendekati cumlaude. Mungkin, mereka melakukan hal ini juga karena memang sudah beberapa kali tidak berhasil menemui dosen pembimbingnya, lalu mereka mengambil jalan pintas. Dengan keberaniannya, mereka membubuhkan tanda tangan dosen pembimbing dalam kartu peserta ujiannya.

Padahal, seandainya ada mahasiswa yang belum berhasil mendapatkan tanda tangan dan sudah tiba saatnya untuk ujian, maka Pengurus Jurusan akan mencarikan jalan keluar. Secara logika sederhana, tidak mungkin seorang mahasiswa tidak bisa menempuh ujian, hanya gara-gara belum mendapatkan tanda tangan dosen pembimbingnya.

Sepandai-pandai tupai melompat, suatu saat terjatuh juga. Akhirnya perbuatan mereka ketahuan, dan jurusan memberikan sanksi yang cukup berat, dengan tujuan agar mereka tidak mengulang lagi, atau mahasiswa lain tidak melakukan hal yang sama. Hasil jerih payah mereka selama satu semester, baik nilai ujian semua mata kuliah di semester tersebut, nilai praktikum maupun nilai yang lain digugurkan semua.  

Sangat menyedihkan memang, upaya yang telah dilakukan selama enam bulan musnah semua. Bangun pagi, kuliah, mengerjakan tugas, melaksanakan praktikum dan membuat laporan, tidak menghasilkan apapun. Dana untuk makan, transportasi, membayar sewa kamar kos, uang SPP, uang sks, sewa internet, dan lain-lainnya, musnah begitu saja. Namun kita tidak boleh lupa, malapetaka korupsi yang diderita oleh bangsa kita ini juga dimulai dengan adanya ketidakjujuran.


*) Prof. Dr. Ir. Indarto, Dosen Teknik Mesin Universitas Gajah Mada | Pimpinan Umum Majalah Fahma
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya