» » Mahasiswa Kreatif

Mahasiswa Kreatif

Penulis By on Sunday, December 21, 2014 | No comments


Oleh Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

Suatu hari, saat saya berada di luar kota menerima sms seperti ini.
Assalamualaikum pak, saya ingin ketemu bapak hari ini untuk tanda tangan kartu ujian, jam berapa dan di mana saya bisa bertemu bapak? Terimakasih”.

Karena tanpa identitas pengirim saya balas begini “Ini siapa?” Dia membalas “Saya (Z) Teknik Mesin angkatan tahun (Y) pak, salah satu mahasiswa bimbingan akademik bapak.” Saya balas lagi “Saat ini saya di luar kota. Bisa besok jam 9 di kantor SA” Dia pun membalas,“Oh iya pak terimakasih banyak, Pak”. “Sama-sama mas (Z)” jawab saya.

Keesokan harinya, karena banyak pekerjaan, sehingga saya tidak ingat kalau sebetulnya ada janji dengan mahasiswa pada jam 9.00. Kira-kira jam 9.20, salah satu staf sekretariat masuk ke ruang saya, memberitahu kalau ada mahasiswa yang akan menghadap. Barulah saya ingat, lalu saya minta untuk dipersilahkan masuk. Setelah masuk, dia langsung berkata “Maaf pak, saya terlambat, bangunnya kesiangan.

Berhubung saya memang tidak merasa menunggu dia, maka saya senyum saja, tidak marah. “Wah jujur juga mahasiswa ini” batin saya. Setelah saya tanda tangani kartu ujiannya, lalu saya tanya kenapa bangunnya kesiangan. Ternyata dia kuliah sambil bekerja, kadang sampai larut malam.

Wah...,ini menarik untuk ditanyai lebih lanjut, kata saya dalam hati. Akhirnya saya tahu bahwa ayahnya sudah wafat dan ibunya tidak mempunyai keahlian khusus. Agar tetap mempunyai masa depan, maka dia bertekad untuk kuliah sambil bekerja, tapi apa yang bisa dilakukan. Setelah berdiskusi dengan salah satu temannya yang lebih dulu mempunyai usaha, dia putuskan akan membuka warung tenda yang menjual makanan khas kota asalnya.

Dengan modal tabungannya selama ini, ditambah uang hasil penjualan komputernya, lalu dia mencari tempat yang strategis dan menemukannya di dekat kampus. Karena untuk mendapatkan ijin sewa lokasi baru dari pemerintah daerah itu mahal, maka atas saran dari para penjual di sekitar lokasi itu, tidak perlu mencari lokasi baru, tetapi cukup menggunakan lokasi yang dulu pernah dipakai orang tetapi karena sesuatu hal, lalu ditinggal.

Dengan keuletan dan kejeliannya, akhirnya dia mendapatkan lokasi yang diinginkan meskipun dengan harga seperti lokasi baru, namun sudah termasuk semua peralatan yang dulu pernah digunakan oleh pemakai sebelumnya. Bahkan pembayarannya bisa diangsur 6 bulan. Tiang tenda dari besi yang warnanya sudah kusam dicat kembali, yang keropos dibawa ke tukang las. Akhirnya dia berhasil membuka warung tenda dan diberi nama hampir seperti namanya. Karena jenis makanannya sangat khas, maka meskipun pada minggu pertama masih rugi, kedua impas, namun masuk minggu ketiga sudah untung. Bahkan sekarang sudah bisa mengirim uang untuk adik dan ibunya.       

Dia juga cerita ke saya keberhasilan teman yang telah memberinya motivasi. Teman yang kuliah di fakultas lain itu juga sambil bekerja, karena perusahaan tempat ayahnya bekerja mengalami kebangkrutan. Dia berusaha keras mencari ide bagaimana bisa mendapatkan uang. Karena kesungguhannya dalam berusaha, akhirnya dia menemukan dan dilaksanakanlah ide itu. Dia membeli beberapa pakaian di toko pakaian bekas. Dengan sangat telitinya dia memilih yang masih bagus, yang modelnya masih up to date dan juga bahannya pilihan. Lalu  pakaian tersebut dicuci bersih, bagian-bagian yang perlu dimodifikasi atau disempurnakan. Kemudian pakaian tersebut difoto, dijual melewati media jejaring sosial elektronik dan dia juga berterus terang bahwa pakaian tersebut memang tidak baru. Karena belinya sangat murah maka dia juga bisa menjual dengan harga murah. Ternyata laku. Dia mengulangi dengan jumlah yang lebih banyak, dan tetap laku bahkan semakin cepat terjual. Ketika cara tersebut sudah berjalan beberapa waktu, dia berpikir, apakah dia hanya akan mengandalkan terus menerus toko-toko pakaian bekas. Dia mencoba inovasi yang lain, dia membuat pakaian-pakaian sendiri, ternyata laku juga, diperbanyak dan tetap laku. Bahkan sekarang sudah mulai diekspor ke negara tetangga.

Setelah mahasiswa tersebut keluar, saya teringat dengan apa yang telah Allah Ta’ala firmankan dalam surat Ar-Ra’d ayat 11 : “Sesungguhnya Allah tidak mengubah apa-apa yang terjadi pada suatu kaum sebelum mereka mengubah diri mereka sendiri”. Wallalahu ‘alam bishawab.

*) Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A Guru Besar Universitas Gajah Mada. Pimpinan Umum Majalah Fahma

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya