» » Penilaian Otentik, Sebuah Relasi Baru Memaknai Pembelajaran dan Penilaian

Penilaian Otentik, Sebuah Relasi Baru Memaknai Pembelajaran dan Penilaian

Penulis By on Wednesday, December 3, 2014 | No comments

foto @emthorif
Oleh Pandi Kuswoyo

Penilaian otentik adalah salah satu terminologi yang diciptakan untuk menjelaskan berbagai metode penilaian alternatif yang memungkinkan siswa dapat mendemonstrasikan kemampuannya dalam menyelesaikan tugas-tugas dan menyelesaikan masalah. Sehingga siswa  memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan, bisa melaksanakan tugas/pekerjaan sesuai dengan ilmu dan ketermapilan yang dimiliki, bisa menemukan jati dirinya sebagai apa atau siapa dirinya, dan bisa bekerja sama dengan orang lain dan berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain sebagai perwujudan pribadi yang beriman dan taat beragama.

Penilaian otentik adakalanya disebut penilaian responsif, suatu metode yang sangat populer untuk menilai proses dan hasil belajar peserta didik dengan latar belakang potensi masing-masing. Mulai dari mereka yang mengalami kelainan tertentu, memiliki bakat dan minat khusus, hingga yang jenius.

Penilaian otentik mencoba menggabungkan kegiatan guru mengajar, kegiatan siswa belajar, motivasi dan keterlibatan peserta didik, serta keterampilan belajar. Karena penilaian merupakan bagian dari proses pembelajaran, guru dan siswa dalam berbagi pemahaman tentang pencapaian kompetensi. Dalam beberapa kasus, siswa bahkan berkontribusi untuk mendefinisikan harapan atas tugas-tugas yang harus mereka lakukan dalam rangka pencapaian kompetensi yang ditentukan.

Penilaian otentik memiliki model yang beragam, apapun bentuk tes dan non tes yang diberikan, serta bagaimana cara memberikan penilaian sekaligus pelaporan memiliki beberapa konsep dasar. Pertama, tes berkualitas yaitu tes yang memiliki konten menantang dan mampu menstimulasi. Serta mengubah konten soal yang sulit dikerjakan dan pandangan soal yang sulit adalah soal yang baik.

Kedua, tes kemampuan (ability test) bukan tes ketidakmampuan (disability test). Tes kemampuan adalah tes yang mengandung konten dan instruksi yang mencerminkan kemampuan siswa dalam ranah yang lebih luas. Sementara tes ketidakmampuan menitikberatkan pada soal-soal yang tidak biasa didapat dari proses belajar sehari-hari, baik konten maupun jenis soal serta tidak memiliki batasan/range yang jelas.

Ketiga, aktivitas guru untuk menjelajahi kemampuan siswa pada saat hasil tes siswa di bawah standar ketuntasan. Konsep ini disebut dengan discovering ability yaitu meminta siswa menjawab soal yang sama dengan cara lain, tidak secara langsung melakukan remidial (tes pengulangan) ketika capaian siswa di bawah standar ketuntasan. Pada tahapan ini, guru harus menjelajahi, menelusuri dan memastikan tingkat pencapaian kompetensi siswa sebelum melanjutkan ke pencapaian kompetensi berikutnya.

Keempat, penilaian berbasis proses. Dalam penilaian otentik, guru punya kesempatan untuk menilai aktivitas siswa setiap kali tatap muka dan guru dapat langsung mengambil nilai hingga tatap muka yang direncanakan berakhir. Tentunya sesuai dengan ranah penilaian masing-masing yaitu ranah afektif, psikomotorik dan kognitif pada setiap proses pembelajaran.

Penilaian otentik juga akan lebih bermakna dengan menerapkan teori Taksonomi Bloom, yaitu soal yang dibuat dengan mengacu pada tingkatan anak tangga Taksonomi Bloom mulai dari bentuk tes pengetahuan, pengertian, aplikasi, analisis, sintesis dan tes evaluasi, sehingga soal menjadi lebih menantang dan menstimulasi siswa untuk menentukan nilai suatu materi, pernyataan, laporan, cerita atau lainnya untuk tujuan pencapaian kompetensi tertentu.

Alhasil, penilaian otentik menganut konsep Ipsative, yaitu perkembangan hasil belajar siswa diukur dari perkembangan siswa itu sendiri sebelum dan sesudah mendapat materi pelajaran. Perkembangan siswa yang satu tidak boleh dibandingkan dengan siswa yang lain. Oleh karena itu, penilaian otentik tidak mengenal ranking. Dengan ranking, hanya eksistensi siswa tertentu saja yang dihargai, sedangkan yang lainnya kurang mendapat perhatian. Karena penilaian yang tidak menghargai dan bersifat alamiah serta objektif terhadap kondisi siswa justru akan merusak mental siswa untuk terus belajar.

*) Pandi Kuswoyo, Kepala Sekolah SDIT Salsabila Banguntapan, Yogyakarta


Baca Juga Artikel Terkait Lainnya