Menumbuhkan Keberanian Anak


Oleh Zakya Azizah


Keberanian adalah salah satu syarat menjadi seorang pemimpin. Seorang anak yang pendiam belum tentu tidak mau melakukan hal-hal yang membutuhkan keberanian. Anak yang banyak bicara tidak selalu bersedia melakukan kegiatan-kegiatan yang menuntut keberanian. Keberanian seorang anak dapat ditumbuhkan sejak dini.

Pertama-tama yang perlu dilakukan seorang pendidik / orangtua untuk menumbuhkan keberanian pada diri seorang anak, adalah mencari tahu penyebab ketidakberaniannya. Apakah karena hal itu merupakan sesuatu yang sama sekali baru, sehingga ia sebenarnya hanya ragu dan butuh sekedar motivasi. Atau ketidakberanian yang timbul karena rasa percaya diri yang rendah. Mungkin juga ada kejadian tertentu yang membuat trauma pada dirinya, atau hal lain. Pengetahuan pendidik / orangtua mengenai latar belakang ketidakberanian siswa akan membantu guru memberi treatmen yang lebih tepat.

Secara umum, ada kegiatan-kegiatan yang dapat menumbuhkan sifat berani pada diri seorang anak. Memberi kesempatan setiap anak untuk mau menjadi pemimpin pada kegiatan-kegiatan kelas, seperti; memimpin doa dan memimpin barisan . Anak-anak yang belum berani akan termotivasi dengan melihat temannya yang berani memimpin. Lambat laun mereka akan terbiasa memimpin tanpa malu atau takut lagi.

Semua anak memiliki potensi untuk menjadi pemberani dan potensi ini bisa dikeluarkan dimunculkan dari pola pengasuhan. Pertanyaannya, pengasuhan seperti apa yang mendukung? Dari kajian dan praktek, model pengasuhan yang mendukung itu antara lain:

Pengasuhan yang banyak memberikan dorongan/ stimulasi, misalnya mendorong anak untuk mencoba hal baru dan memberi ruang untuk bereksplorasi di rumah atau di lingkungannya, seperti bermain dan berinteraksi dengan alam. Artinya, pengasuhan yang lebih banyak menggunakan kata "jangan", "awas", atau larangan lainnya, akan kurang mendukung keberanian si anak. Anak akan terhantui oleh rasa takut.

Model pengasuhan yang mendukung juga adalah yang banyak memberikan pengarahan (direction) ketika anak melanggar, menyimpang, atau melakukan kesalahan.

Pengasuhan yang banyak memberikan serangan atau hanya menyalahkan saja, sangat kurang mendukung. Ketika anak sedang bereksplorasi melalui aktivitas bermain, tentunya banyak kesalahan dan kekurangan. Mungkin bikin gaduh atau bikin berantakan rumah. Jika kita bertindak sebagai pengarah untuk menunjukkan mana yang baik dan mana yang tidak, maka si anak akan pede dan berani dengan inisiatifnya.

Tapi kalau sudah main menyerang si anak dengan kata-kata, sikap, maupun tindakan, atau melarangnya tanpa pengarahan, bisa-bisa anak menjadi kurang berani atau justru beraninya tanpa arah.

Model pengasuhan yang mendukung lagi adalah pengasuhan yang suportif dan respek terhadap pilihan si anak. Pengasuhan yang sedikit-sedikit memberikan kritikan dan koreksi tajam agar dia harus begini dan begitu sesuai standar subjektif kita sangatlah kurang mendukung. Misalnya memilih baju. Mau kita designer kondang atau apa, anak kita mungkin punya inisiatif sendiri yang tidak sama dengan kita soal selera. Begitu kita terus kritik dan koreksi, dia akan mengembangkan rasa takut atau minder.

Jadi? Yang perlu kita lakukan bukan mengoreksi habis-habisan pilihannya, tetapi membekali pengetahuan dan pengalaman mengenai hal-hal yang kita anggap dia perlu tahu. Tapi, hindari terlalu sering mengkritik atau menggagalkan. Apakah mudah menjadi pendorong, pengarah dan pendukung? Pastinya tidak mudah. Terkadang kita perlu mengabaikan praktek seperti di atas untuk memperoleh hasil yang cepat dan tepat, misalnya saat bertamu.

Di samping itu, supaya keberanian dia tidak kebablasan, kita perlu menanyakan alasan pilihannya, melatih dia untuk memperhitungkan risiko, membiarkan dia untuk merasakan konsekuensi yang terukur, dan membekali dia dengan nilai. Idealnya, kita perlu membekali "courage" (keberanian) si anak dengan "consideration" (pertimbangan). Semoga bermanfaat.

*) Zakya Azizah, Pemerhati dunia anak


Di Rumah Lebih Banyak Sumber Belajar Alamiah


Oleh Slamet Waltoyo

Ada beberapa sekolah yang telah mengadakan pelatihan atau sosialisasi tentang Kurikulum 2013 bagi orangtua murid. Kita hargai dan ini penting. Penting bagi kelancaran pembelajaran dan terutama bagi keberhasilan anak dalam belajar agar orangtua tidak sekedar tahu apa kurikulumnya tetapi harus pula memahami bagaimana proses belajarnya sehingga bisa mengambil peran dalam mendukungnya.

Pada Kurikulum 2013 tingkat Sekolah Dasar, proses pembelajarannya adalah terpadu (integrated instruction) dengan model tematik. Sistem pembelajaran yang memungkinkan anak (secara individu atau kelompok) aktif untuk menemukan konsep-konsep keilmuan secara holistik, bermakna dan otentik sehingga pembelajarannya berorientasi pada praktik sebagai bentuk pengalaman belajar.

Pembelajaran tematik terpadu menekankan pada pembentukan kreativitas, pemberian sejumlah kegiatan dalam suasana yang alamiah (natural). Keaktifan murid yang merupakan wujud dari rasa ingin tahunya sangat berperan dalam menunjang keberhasilannya sebagai pembelajar.

Berangkat dari tema yang telah ditentukan, murid bereksplorasi dengan cara mengamati, membaca, menanyakan, mencoba melakukan, dan sebagainya dari berbagai sumber belajar yang telah disiapkan dan disekenario oleh guru di sekolah. Di sini kelengkapan sarana sekolah dan kreatifitas guru sangat berpengaruh. Karena keterbatasan waktu dan mungkin juga fasilitas sekolah, kegiatan eksplorasi menjadi terbatas. Ini disadari oleh guru. Maka guru sering memberi tugas kepada murid untuk melengkapi kegiatan eksplorasi di rumah. Ini tantangan bagi orangtua.

Dengan memahami model pembelajaran pada Kurikulum 2013, paling tidak orangtua akan memaklumi jika anak akan melakukan banyak tugas bereksplorasi di luar sekolah. Selanjutnya orangtua tentu akan memberi dukungan terhadap tugas-tugas yang dilakukan anak. Maka penting bagi orangtua mengetahui informasi tentang tema, sub tema, dan bentuk aktivitas yang harus dilakukan pada setiap pekannya.

Kegiatan eksplorasi di rumah sangat penting karena dapat mengatasi keterbatasan di sekolah. Apalagi di lingkungan rumah banyak sumber belajar yang alamiah (natural), sumber belajar yang tidak disekenario oleh guru sehingga bisa memberi pengalaman belajar yang autentik dan bermakna.

Misalnya di SD/MI kelas satu tema 2 sub tema 3 ada kegiatan mengenal profesi. Sumber informasi di sekolah sangat terbatas. Mungkin guru akan menyajikan dalam bentuk gambar atau poster. Berbagai gambar orang sedang bekerja dengan menggunakan alat tertentu, menghasilkan karya tertentu dan keterangan nama profesinya. Atau dalam bentuk video. Dari sumber belajar ini anak mendapatkan banyak informasi ragam profesi.  Meskipun itu gambar asli tetapi anak tidak bisa terlibat langsung. Sehingga mengurangi nilai uotentik, kebermaknaan serta orientasi praktiknya.

Jika orangtua mengetahui konsentrasi aktifitas belajar anak di sekolah, maka orangtua dapat membantu dengan lebih leluasa dibandingkan keterbatasan waktu anak di sekolah. Misalnya sambil mengantar atau menjemput anak, orangtua dapat menunjukkan langsung berbagai profesi, seperti diajak mampir ke beberapa tempat misalnya ke bengkel, ke tukang jahit, ke toko buah dan sebagainya. Anak dapat berkomunikasi langsung dan mencoba alat yang digunakan. Maka akan memberi pengalaman belajar yang outentik, bermakna.

Orangtua juga perlu mengetahui bahwa proses pembelajaran di sekolah dengan pendekatan sain. Sehingga ketika mendampingi anak belajar di rumah akan melakukan dengan pendekatan sain juga. Praktisnya orangtua tidak akan langsung memberi ikan tetapi akan memberitahukan jalan agar anak bisa menangkap ikan sendiri.


*) Slamet Waltoyo, Kepala Sekolah SD Islam Al-Kautsar Cebongan Sleman Yogyakarta

Proporsional Menyikapi Keriuhan Kurikulum


Oleh Imam Nawawi

Wacana yang amat riuh dalam dunia pendidikan di negeri ini adalah kurikulum. Terlebih ketika kurikulum yang disahkan oleh pemerintah menuai protes dari sana-sini. Akibatnya, para orangtua harus ikut memahami tentang apa itu kurikulum secara lebih rinci dan menyeluruh. Karena sedikit banyak, keriuhan itu seringkali mendatangkan kegelisahan.

Terlebih dalam satu dekade belakangan, di mana kurikulum berubah begitu cepat. Mulai dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di 2004, kemudian Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) di 2006, hingga kini kurikulum 2013. Kurikulum 2013 pun masih dalam pro-kontra yang tak sederhana.

Dalam perspektif tertentu bisa saja perubahan kurikulum yang sangat cepat dinilai sebagai dinamika dunia pendidikan. Namun dalam perspektif lain juga tidak menutup kemungkinan hal tersebut dianggap sebagai ketidaksiapan dunia pendidikan kita dalam merespon perkembangan dengan kurikulum yang relevan.

Akibatnya, dunia pendidikan kita masih terus berkutat pada masalah yang sebenarnya cukup teknis dan secara mandiri setiap sekolah sejatinya memiliki kemampuan merancang pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman, tanpa mengabaikan kurikulum pendidikan yang ditetapkan pemerintah.

Dengan kata lain, ketika kurikulum dipandang sebagai upaya membantu anak-anak bangsa memiliki kompentensi, skill dan daya saing yang dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara di kancah internasional, pemerintah sebenarnya tidak perlu begitu riuh membahas kurikulum ini. Karena, realitanya, sekolah-sekolah non-pemerintah ternyata cukup memberikan bukti akan hal tersebut.

Pemerintah perlu fokus pada bagaimana penerapan kurikulum di wilayah-wilayah yang memang perlu pembenahan, pendampingan dan pengembangan secara serius. Selain akan sangat berguna bagi pemerataan mutu pendidikan di NKRI juga akan mendongkrak spirit berprestasi sekolah-sekolah di wilayah yang butuh penanganan serius seperti itu.

Kurikulum Bagi Orangtua
Namun demikian, bagaimana dengan para orangtua yang merupakan pihak paling bertanggjungjawab terhadap putra-putrinya yang belajar di sekolah?

Tentu para orangtua perlu memahami kurikulum yang ditetapkan pemerintah, termasuk menemukan titik jernih dari keriuhan yang timbul di masyarakat, terutama yang paling sering diekspos media. Akan tetapi, langkah paling strategis yang mesti dilakukan oleh para orangtua untuk mendapatkan klarifikasi berbobot mengenai hal ini tentu melalui sekolah di mana putra-putrinya belajar.

Langkah ini dinilai strategis karena bagaimanapun dunia meributkan soal kurikulum, kurikulum yang mesti dilalui putra-putri kita hanya ada di sekolah tempat mereka belajar. Dengan demikian, para orangtua perlu menjalin komunikasi untuk mendapat penjelasan tentang kurikulum yang ditetapkan di sekolah.

Selain akan bermanfaat dalam memperkuat hubungan orangtua dengan sekolah, juga akan berdampak positif pada pola pendampingan orangtua terhadap anak di rumah, sehingga pendidikan dapat berjalan sepanjang hari. Bukan sebatas di sekolah seperti umum terjadi di negeri ini.

Langkah terakhir, selain soal kurikulum, di mana setiap sekolah formal pasti menerapkan kurikulum pemerintah, orangtua perlu memahami visi-misi sekolah dan keteladanan para guru. Karena, sebagus apapun kurikulum, kalau visi misi sekolah dan keteladanan guru tidak memadai, semua unsur pendidikan lainnya akan menjadi kurang begitu berguna.

Sebab inti atau ujung tombak pendidikan letaknya pada para guru. Sebagus apapun kurikulum jika gurunya kurang bermutu, terutama secara adab, maka proses pendidikan yang berjalan akan pincang. Jadi pantas jika dikatakan, “Metode lebih penting dari materi. Guru lebih penting dari metode. Dan ruh guru lebih penting dari guru itu sendiri.”

Oleh karena itu, terlepas dari perdebatan kurikulum yang sangat riuh, hal penting yang tidak boleh diabaikan para orangtua adalah menjalin komunikasi baik dengan sekolah, mulai aspek kurikulum yang teoritik, sampai pada keteladanan guru yang sesungguhnya akan sangat mewarnai perjalanan putra-putri kita ke depannya.

*) Imam Nawawi, Penulis di hidayatullah.com. Pimpinan Redaksi Majalah Mulia. Twitter @abuilmia

Menjaga Arah Perubahan Kurikulum


Oleh R. Bagus Priyosembodo

Orangtua yang baik akan bersungguh sungguh mengusahakan pendidikan terbaik bagi anaknya. Begitulah amal orangtua yang baik semenjak dulu hingga kini. Kisah orangtua teladan senantiasa perlu diingat. Agar jejak kebaikannya selalu bisa terikuti. 

Ya Tuhan kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur.

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.

Wahai Tuhanku karuniakanlah aku keturunan yang shalih
 “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.’

Doa itu selalu dipanjatkan.Nabi Ibrahim tak pernah putus asa dan berburuk sangka kepada Allah meski umur di atas 80 tahun dan belum diberi putra. Ibrahim betul betul menginginkan anak keturunannya menjadi muwahid sejati dan terhindarkan dari kesyirikan.

Ibrahim adalah orangtua yang tak pernah kendor dan lengah. Sepanjang hidup sudah berusaha keras untuk menjadikan pendidikan anak selalu dalam arah yang benar. Ketika akan mengakhiri hidup, beliau masih memastikan dan menenangkan jiwa dengan berwasiat. Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. Ibrahim berkata,  “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam“.
Demikianlah Ya`qub melakukan tatkala kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”

Begitulah jalan pendidikan orang shalih terhadap anaknya. Dan begitulah semestinya langkah orangtua yang lain. Apapun jalan dan perubahan yang terjadi, arah dan kepastian tentang keshalihan yang dituju. Jika tidak begitu maka perubahan kurikulum bentuk apapun akan kita sesali. Karena nanti kita di akherat tidak bisa berkumpul untuk mengabadikan kebahagian jika kita tidak beriman dan beramal shalih dengan baik.  

Setiap perubahan kurikulum mestinya mempunyai tujuan dan arah yang jelas. Perubahan kurikulum tidak terjadi karena hanya hadirnya pengambil kebijakan baru. Kurikulum dirubah untuk tujuan jangka panjang, agar generasi kita semakin baik, selamat, dan tidak rusak.

Terlaporkan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order thinking skils) anak-anak Indonesia cukup rendah. Ada yang mengatakan sangat rendah jika dibandingkan negara-negara tetangga kita. Pembelajaran mereka sangat kontruktif, menggunakan pendekatan scientific, dan sangat kaya dengan proyek-proyek untuk membangun kemampuan pemecahan masalah. Tentu saja kita semua menghendaki perbaikan. Dan untuk itu mestinya kita bekerjasama, bahu membahu, dan tolong menolong untuk menghasilkannya.

Bisa jadi filosofi perubahan kurikulum terletak pada pendekatan yang digunakan. Kemudian perubahan pendekatan tersebut berdampak  pada perubahan buku siswa, kegiatan pembelajaran dan sistem penilaian. Misalnya, pendekatan scientific yang menekankan pembelajaran berbasis aktivitas dengan kegiatan 5M menuntut kesiapan sekolah,  guru, dan orangtua.

Kerjasama sekolah, guru dan orangtua akan menentukan berhasil atau tidaknya kurikulum. Sesungguhnya kurikulum hanyalah alat, jika tidak ada kerjasama maka kurikulum akan menjadi usang dan hanya menjadi hiasan meja.||


*) R. Bagus Priyosembodo, Guru dan Redaktur Ahli Majalah Fahma

Etika Berkarir itu Perlu


Oleh Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

Sebaiknya kita mengenalkan pada anak-anak, selain hal-hal yang benar dan salah, juga mengenalkan dengan hal-hal yang pantas dan yang kurang pantas untuk dilakukan. Karena saat ini, generasi muda kita, sudah mulai sulit membedakan mana pantas dan tidak pantas untuk dilakukan.

Hal ini sering saya alami ketika mengajar sebuah matakuliah yang di dalamnya ada materi tentang peran etika dan sopan santun dalam berkarir. Biasanya mahasiswa dengan mudah memahami tentang sopan santun, karena hal ini hanya berkaitan dengan ucapan atau tindak-tanduk untuk menghormati orang lain. Namun untuk etika tidak demikian, karena berhubungan dengan hal-hal terpuji yang dipakai untuk menilai baik atau tidaknya, pantas atau tidaknya sesuatu untuk dilakukan, dan kepekaan beretika ini tergantung dari kebiasaannya.  

Agar mahasiswa dapat memahami etika dengan baik, kami selalu memberikan contoh kasus nyata yang di dalam penyelesaiannya perlu mempertimbangkan etika. Sering terjadi, pada awalnya sebagian besar mahasiswa dalam memutuskan sesuatu yang penting, tidak terlintas di benak mereka perlunya melibatkan etika. Saya katakan pada mereka bahwa sebuah keputusan bisa berakibat fatal ketika kita mengabaikan etika, seperti yang sering kita lihat kejadian di masyarakat saat ini.

Suatu saat saya memberikan contoh sebuah kasus yang pernah terjadi di fakultas kami. Kasusnya dimulai dengan adanya sebuah perusahaan besar yang mengadakan recruitment, membuka lowongan pekerjaan bagi lulusan baru. Karena perusahaan ini cukup terkenal, maka ribuan pelamar datang dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Setelah melewati beberapa tahapan seleksi, akhirnya hanya sedikit sekali yang diterima, salah satunya lulusan kami. Namun saat akan mulai bekerja, lulusan tersebut ditawari oleh perusahaan lain dengan gaji yang jauh lebih besar. 

Untuk menjajagi sikap para mahasiswa terhadap kasus tersebut, saya tanyakan kepada mereka, “Seandainya saudara menjadi lulusan tersebut, apakah saudara akan menerima tawaran itu, artinya saudara pindah perusahaan”. Saya minta kepada mahasiswa untuk menuliskan jawabannya, disertai dengan alasan-alasannya. Saya pesan pada mereka agar menjawab dengan jujur, sesuai dengan hati nuraninya.

Setelah beberapa saat, ada empat mahasiswa yang sudah selesai mengerjakan. Sambil menunggu yang lain, saya membacanya. Jawaban pertama seperti ini “Saya akan pindah ke perusahaan dengan gaji yang lebih tinggi, karena saya juga ingin berwira usaha setelah terkumpul uang banyak. Dengan gaji yang lebih besar tersebut, mungkin dengan cepat saya dapat merealisasikan keinginan saya menjadi pengusaha sukses.” Jawaban mahasiswa kedua, ketiga dan keempat, semuanya senada, mereka akan pindah. Setelah semua mahasiswa selesai, ternyata hampir semua memilih pindah.

Ketika pertamakali menjumpai kenyataan ini saya sangat kaget, di luar dugaan saya, mereka banyak yang memilih pindah ke perusahaan karena gajinya jauh lebih besar dan ini persis seperti keputusan yang telah diambil oleh lulusan waktu itu. Akibatnya? Fakultas kami di-blacklist selama beberapa tahun, perusahaan tersebut tidak sudi menerima lulusan kami. Mendengar hal ini, saya melihat wajah-wajah mahasiswa berubah, seakan timbul perasaan bersalah, saya berharap mereka menyadari kekeliruannya.

Kemudian kami jelaskan, mengapa perusahaan tersebut marah dan wajar kalau dia marah, karena lulusan itu telah melakukan suatu hal yang tidak pantas. Memang dilihat dari sisi hukum, lulusan itu punya hak untuk pindah, tetapi dilihat dari etika berkarir, maka dia telah melanggar. Dia tidak pernah berpikir bahwa perusahaan tersebut akan kehilangan karyawan, yang dengan susah payah telah diseleksi dengan waktu dan biaya mahal, karena perusahaan harus mengirimkan para stafnya ke berbagai kota di Indonesia (saat itu belum online). Termasuk membiayai berbagai proses seleksi, dari ribuan pelamar menjadi tinggal beberapa. Dia juga tidak berpikir, bahwa akibat dari ulahnya, adik-adik angkatannya telah kehilangan kesempatan untuk bekerja di perusahaan tersebut. Bagaimana tanggungjawab kita, bila yang melakukan itu ternyata salah satu dari anak kita, karena kepada mereka tidak pernah dikenalkan tentang etika. Wallahu’alam bishawab.  



*) Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A. Dosen Universitas Gajah Mada | Pimpinan Umum Majalah Fahma

Bahagia karena Mensyukuri Nikmat-Nya

Mohammad Fauzil Adhim, foto by google
Oleh Mohammad Fauzil Adhim


Tanggalnya sama, harinya pun sama... Ada masa yang hari dan tanggalnya berulang di kalender, tapi tak akan pernah berulang masa yang sama. Belasan tahun yang lalu saya menikah dan di bulan Desember kami kembali ke Jogja. Tak ada tempat tinggal yang jelas, kecuali kos masing-masing. Ketika itu saya dan istri masih sama-sama kuliah. Saya masih harus menyelesaikan beberapa teori karena sempat terkena sindrom aktivis: ogah menyelesaikan kuliah karena menganggap gelar nggak ada nilainya. Kalau kemudian saya menyelesaikan kuliah, itu karena dorongan istri saya dengan alasan: menyelesaikan kuliah bermanfaat untuk dakwah dan tidak menjadikan orang takut menikah semasa kuliah.

Perlu waktu untuk mampu mengontrak rumah. Ketika itu, kami menikah memang lebih berbekal kesiapan mental. Juga keyakinan bahwa pertolongan itu sangat dekat dan janji Allah Ta'ala itu pasti. Tinggal bagaimana berusaha untuk masuk ke dalam kelompok yang dijanjikan pertolongan-Nya tatkala menikah. Ada saat-saat ketika keyakinan itu dihadapkan pada keadaan yang sulit, tetapi bagaimana disebut yakin jika tidak ada tantangan? Alhamdulillah, Allah Ta'ala berikan pertolongan yang tak terduga-duga.

Teringat masa ketika istri saya, di saat hamil yang pertama, nyidam sesuatu yang sebenarnya sangat sederhana. Tapi saat itu masih terasa mewah. Maka, kemanakah akan berlari kalau bukan mengadu kepada-Nya? Sebab saat itu saya melazimkan do'a:

 اللهم اكفني بحلالك عن حرامك وأغنني بفضلك عمن سواك

"Ya Allah, berilah aku kecukupan dengan rezeki-Mu yang halal, (dan) jauhkanlah aku dari yang haram, dan berilah aku kekayaan dengan keutamaan rezeki-Mu, sehingga aku tidak memerlukan bantuan dari selain Engkau." (HR. Tirmidzi).

Bukankah pada do'a ini terkandung permohonan untuk tidak bergantung kepada siapa pun selain hanya kepada Allah Ta'ala? Di satu sisi, ia adalah do'a. Di sisi lain menuntut sikap kita untuk meneguhkan tekad hanya bergantung kepada-Nya semata.

Alhamdulillah, ketika wisuda anak saya baru 3. Sekarang pernikahan telah melintasi waktu belasan tahun. Lebih dari 15 tahun. Satu pelajaran berharga, keyakinan itu memang memerlukan keteguhan. Bukan hanya sekedar pengetahuan. Derita itu bukanlah sekedar apa yang menimpa kita, tetapi soal apakah kita mensyukuri setiap tetes nikmat-Nya ataukah senantiasa mengeluh tak habis-habis.

Kadang saya bingung ketika ada yang protes saat saya membahas nikah dini, mengapa saya hanya bercerita indahnya saja. Tetapi persoalannya, apakah saya harus memasang wajah memelas untuk menceritakan keadaan awal menikah jika saat itu senyum istri saya tetap saja mengembang? Ketika engkau qana'ah atas rezeki yang Allah Ta'ala berikan, maka apa yang tampaknya derita buat lain, justru dapat menjadi masa yang membahagiakan dan menyentuh jiwa. Tak terlupakan bukan karena derita, tapi karena bersyukur atas nikmat-Nya sehingga terasa membahagiakan.

Maha Suci Allah atas segala karunia-Nya. Maha Tinggi lagi Maha Mulia Allah Ta'ala atas segala nikmat yang dikucurkan dengan takaran yang sempurna; tidak tiba-tiba, tidak menjadi sebab musibah agama.

Semoga catatan sangat sederhana ini bermanfaat bagi keluarga muda yang menapaki pernikahan dari nol. Juga buat para bujangan yang sedang ditimpa kebimbangan dan kegelisahan saat ingin melangkah menuju pernikahan. Semoga pula bermanfaat bagi diri sendiri agar lebih mengingat betapa nikmat Allah Ta'ala sangat luas.
*) Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku | Twitter @kupinang

Membeli Masa Depan dengan Harga Sekarang


oleh Herwin Nur

Tidak ada yang istimewa atau menarik perhatian pada jamaah yang duduk di shaf pertama, di masjid Al-Falah di kompleks perumahan Taman Manggu Indah, kota Tangerang Selatan, provinsi Banten. Mungkin karena sudah ada beberapa jamaah yang langganan menempati shaf pertama, termasuk muazin yang siap mengumandangkan azan maghrib. Begitu azan dikumandangkan pukul 18:06 wib, jamaah yang duduk paling kiri mengeluarkan bungkusan. Tangan tengadah, berdoa, minum dari bekalnya. Dilanjutkan mengunyah sesuatu, mengambil yang tersisa di multnya, dibuang ke bungkusan. Tetap duduk tenang, tanpa gerakan yang mengundang perhatian. Ternyata, bapak yang usianya di atas usia Rasulullah, sedang buka puasa sunah Kamis.

Kalau dihitung, hari itu cuaca panas, tidak berawan. Jelang maghrib pun tanah masih terang. Kejadian tadi semakin berarti. Setengah jam sebelum saya berangkat ke masjid, seorang tetangga liwat depan rumah. Pria kelahiran setahun sebelum Proklamasi itu ahli bertutur kata. Jika ketemu orang, tanpa diminta memoriya diputar ulang, dari Side A ke Side B. Menceriterakan masa lampaunya ketika jadi Abdi Masyarakat alias PNS di suatu kementerian. Yang bikin miris, jika yang bersangkutan diingatkan akan namanya yang islami, agar mikir masa depannya. Jangan membanggakan masa lalu yang tak akan kembali. Dijawab dengan gelengan kepala. Mulutnya tersenyum kecut. Diajak untuk reuni para hamba Allah di rumah Allah, khususnya tausyiah subuh di hari sabtu/ahad, ybs selalu punya alasan untuk mengelak. Atau punya alasan pribadi, niat pribadi setelah pensiun ingin ‘duduk yang manis’. Hobi jalan kaki keliling kompleks hanya untuk menyalurkan hobi buka memori.

Kedua kejadian di atas, akan semakin bermakna bagi kita, karena sesuai firman Allah yang diabadikan dalam Al-Qur’an [QS Al Hasyr (59) : 18] :  Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Kedua insan di atas, dengan KTP seumur hidup, bisa sebagai peringatan bagi kita. Jika ada perbedaan yang dilakukan, semua adalah atas kehendak Allah. Cara mereka ‘memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)’ bukan hal yang tiba-tiba. Ada latar belakang yang menjadikan mereka atau kita sebagai ahli masjid atau ahli lainnya yang sifatnya duniawi.

Usia di atas 64 tahun masuk kategori usia tak produktif. Sejak tahun 2012 Indonesia mengalami Bonus Demografi. Bonus demografi terjadi ketika jumlah penduduk berusia produktif 15-64 tahun lebih banyak ketimbang usia tak produktif (di bawah 15 dan lebih dari 64). 

Andai jika kita menyandang predikat ‘askar tak berguna’ atau pensiunan bukan berarti sudah final segalanya. ‘Duduk yang manis’ sah-sah saja dan manusiawi. Jangan lupa, kita memasuki tahapan kehidupan berikutnya, memasuki babakan kehidupan selanjutnya. Berbekal waktu luang, bebas untuk melakukan apa saja. Melakukan kegiatan yang tidak bisa dilakukan saat masih aktif atau dinas. Semboyan pensiunan adalah “walau tak punya pekerjaan tetap, namun tetap bekerja”. Atau “walau sudah punya penghasilan tetap (uang pensiun), tetap produktif atau uber rezeki”.

Merencanakan untuk kehidupan duniawi bisa terukur. Kapan dikhitankan. Mulai usia berapa anak disekolahkan. Kuliah atau kerja. Usia berapa nikah. Kondisi yang diinginkan, sasaran yang akan dicapai, target yang akan didapat, hasil yang akan diperoleh, semua terukur. Sebagai orang tua, jarang kita menargetkan mulai usia berapa atau kapan anak melakukan sholat. Dengan cara apa anak dipersiapkan untuk puasa Ramadhan.  Atau diri kita sendiri tidak punya rencana kapan naik haji.