» » Menjaga Arah Perubahan Kurikulum

Menjaga Arah Perubahan Kurikulum

Penulis By on Tuesday, January 27, 2015 | No comments


Oleh R. Bagus Priyosembodo

Orangtua yang baik akan bersungguh sungguh mengusahakan pendidikan terbaik bagi anaknya. Begitulah amal orangtua yang baik semenjak dulu hingga kini. Kisah orangtua teladan senantiasa perlu diingat. Agar jejak kebaikannya selalu bisa terikuti. 

Ya Tuhan kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur.

Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.

Wahai Tuhanku karuniakanlah aku keturunan yang shalih
 “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.’

Doa itu selalu dipanjatkan.Nabi Ibrahim tak pernah putus asa dan berburuk sangka kepada Allah meski umur di atas 80 tahun dan belum diberi putra. Ibrahim betul betul menginginkan anak keturunannya menjadi muwahid sejati dan terhindarkan dari kesyirikan.

Ibrahim adalah orangtua yang tak pernah kendor dan lengah. Sepanjang hidup sudah berusaha keras untuk menjadikan pendidikan anak selalu dalam arah yang benar. Ketika akan mengakhiri hidup, beliau masih memastikan dan menenangkan jiwa dengan berwasiat. Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya`qub. Ibrahim berkata,  “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam“.
Demikianlah Ya`qub melakukan tatkala kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.”

Begitulah jalan pendidikan orang shalih terhadap anaknya. Dan begitulah semestinya langkah orangtua yang lain. Apapun jalan dan perubahan yang terjadi, arah dan kepastian tentang keshalihan yang dituju. Jika tidak begitu maka perubahan kurikulum bentuk apapun akan kita sesali. Karena nanti kita di akherat tidak bisa berkumpul untuk mengabadikan kebahagian jika kita tidak beriman dan beramal shalih dengan baik.  

Setiap perubahan kurikulum mestinya mempunyai tujuan dan arah yang jelas. Perubahan kurikulum tidak terjadi karena hanya hadirnya pengambil kebijakan baru. Kurikulum dirubah untuk tujuan jangka panjang, agar generasi kita semakin baik, selamat, dan tidak rusak.

Terlaporkan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi (high order thinking skils) anak-anak Indonesia cukup rendah. Ada yang mengatakan sangat rendah jika dibandingkan negara-negara tetangga kita. Pembelajaran mereka sangat kontruktif, menggunakan pendekatan scientific, dan sangat kaya dengan proyek-proyek untuk membangun kemampuan pemecahan masalah. Tentu saja kita semua menghendaki perbaikan. Dan untuk itu mestinya kita bekerjasama, bahu membahu, dan tolong menolong untuk menghasilkannya.

Bisa jadi filosofi perubahan kurikulum terletak pada pendekatan yang digunakan. Kemudian perubahan pendekatan tersebut berdampak  pada perubahan buku siswa, kegiatan pembelajaran dan sistem penilaian. Misalnya, pendekatan scientific yang menekankan pembelajaran berbasis aktivitas dengan kegiatan 5M menuntut kesiapan sekolah,  guru, dan orangtua.

Kerjasama sekolah, guru dan orangtua akan menentukan berhasil atau tidaknya kurikulum. Sesungguhnya kurikulum hanyalah alat, jika tidak ada kerjasama maka kurikulum akan menjadi usang dan hanya menjadi hiasan meja.||


*) R. Bagus Priyosembodo, Guru dan Redaktur Ahli Majalah Fahma
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya