Parenting : Saat Memberi Saat Tidak #2

Oleh Mohammad Fauzil Adhim

> Baca Parenting : Saat Memberi Saat Tidak #1  

Pengekangan maupun pengaturan uang jajan anak juga perlu dilakukan secara terencana dalam rangka mendidik anak menuju taklif. Kita ingat, salah satu kecakapan pada masa taklif adalah kemampuan membelanjakan harta secara bertanggung-jawab. Pengekangan, pengaturan atau bahkan pembebasan pada waktu tertentu dalam memberi uang jajan kepada anak, dapat sekaligus menjadi pendidikan bagi anak.

Terlalu mengekang dapat membuat anak bukannya belajar berhemat, tapi justru liar tak terkendali begitu ia memperoleh kesempatan. Sebaliknya membebaskan anak tanpa kendali dan pengaturan dapat menjadikan anak tidak mampu menakar prioritas dan mengendalikan keinginan. Ini dapat menjadi bom waktu bagi anak. Pemicu afluenza yang diderita anaknya orang-orang super kaya, bukanlah karena orangtua mereka yang kaya-raya, tetapi karena lemahnya pendidikan untuk mengendalikan hasrat, keinginan dan daya juang mereka. Anak-anak itu menjadi lemah justru karena tidak memperoleh pengalaman mengendalikan keinginan.


Memberi Tanpa Diminta

Ada saat-saat orangtua perlu memberi tanpa menunggu anak meminta. Ada pula saat-saat orangtua perlu menahan diri untuk tidak member, meskipun anak meminta. Memberi tanpa diminta menunjukkan tulusnya kasih-sayang orangtua kepada anak. Ia memberi bukan sebagai “imbalan” bersebab anak telah melakukan sesuatu. Ia melakukan itu untuk anaknya semata-mata karena rasa sayangnya kepada anak. Adakalanya, ini perlu kita lakukan untuk menunjukkan kepada anak bahwa kita mencintai mereka tanpa pamrih.

Berilah anak saat ia sedang bermain, misalnya. Atau ketika ia sedang santai membaca. Kita memberi tanpa diminta pada saat yang tak terduga. Tetapi, batasi kapan memberi uang tanpa diminta. Apalagi jika saat anak meminta, kita sering menolaknya. Tetapi saat tak meminta, kita kerap memberinya tanpa diduga-duga. Rangkaian kejadian semacam ini dapat merancukan persepsi anak tentang orangtua.

Kita juga dapat memberikan uang dalam jumlah lebih banyak, semisal setelah berdialog dengan anak tentang apa yang akan ia lakukan dengan uang, apa hal penting yang ingin diperoleh anak jika mempunyai cukup uang. Salah satu anak saya yang masih SD kelas bawah misalnya, memiliki keinginan besar untuk berkurban kambing saat Idul Adha. Ia mulai menabung. Ini merupakan tekad yang baik. Kita dapat memberikan uang lebih banyak untuk ia tabung. Ini jauh lebih mendidik daripada kita tahan tekadnya dengan menjanjikan untuk membelikan kambing kurban saat Idul Adha nanti.

Jadi, kapan saja sebaiknya kita memberi tanpa diminta? Kapan pula kita perlu menolak permintaan anak? Tanyakanlah pada hati Anda. Kenalilah anak Anda dalam urusan ini.


Memberi dengan Amanah

Memberi uang kepada anak dapat menjadi sarana mendidik anak menuju taklif (dewasa dan bertanggung-jawab secara syar’i), baik berkait bebanan syari’at maupun kepatutan akhlak. Kita menyiapkan mereka untuk mampu mentasharrufkan harta, yakni mengelola keuangan sesuai tuntutan syari’at. Pada saat kita memberi uang kepada anak-anak kita, mereka perlu belajar menakar kebutuhan serta membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Boleh memenuhi keinginan, tetapi harus tetap terkendali. Ada tanggung-jawab yang harus mereka tunaikan, ada pula kepedulian yang harus mereka miliki. Kesadaran dan keinginan membantu kerabat dekat serta saudara seiman di berbagai belahan bumi ini, perlu kita tanamkan pada diri mereka.
Pada awalnya, kita dapat melatih mereka untuk mengatur uang dengan member mereka uang bekal saat sekolah. Kita memang dapat membawakan mereka bekal berupa makanan, termasuk snack yang mereka sukai. Tetapi ini tidak memberinya pengalaman untuk mengatur keuangan. Selain itu, meski tampaknya anak tidak mengeluarkan uang sama sekali untuk belanja makanan, tetapi sebenarnya bisa lebih boros karena total pengeluaran orangtua untuk keperluan itu sangat mungkin jauh lebih tinggi daripada jika anak ke sekolah dengan membawa uang saku.

Alangkah cantik apabila sekolah juga turut berperan untuk mendidik dan melatih murid-muridnya agar mengendalikan keinginan, belajar mengatur keuangan dan mampu berhemat. Ini akan sangat mungkin dilakukan apabila sekolah dan kantin merupakan satu kesatuan. Kantin merupakan bagian non akademik yang secara aktif terlibat dalam mendidik anak belajar mengatur keuangan, berhemat dan mampu mengendalikan keinginan. Boleh jajan, tapi tidak menuruti semua keinginan.

Sekolah dapat menerapkan kebijakan “Hari Berhemat” dengan mengendalikan jumlah saku dan belanja anak. Bukan dengan membawa bekal dari rumah. Tidak membawa uang saku tetapi membawa bekal, boleh jadi jauh lebih menyenangkan buat anak karena nilai belanjanya lebih besar dibanding hari biasa. Ini berarti, pada “Hari Berhemat” anak justru melakukan pemborosan tersembunyi, yakni tampaknya tak berbelanja, tetapi sebenarnya mendapatkan jauh lebih banyak daripada hari biasa. Karena itu, selain menentukan batasan jumlah uang saku, sekolah melalui guru juga perlu mengenali kebiasaan berbelanja murid-muridnya. Guru dapat melakukan dialog dengan anak-anak untuk memperoleh gambaran sekaligus melakukan internalisasi nilai. Kerap terjadi, anak hanya menjalani program sekolah, tetapi tidak dapat menghayati dan mengambil pelajaran darinya.
Kembali pada perbincangan kita selaku orangtua. Kita dapat memahamkan anak apa yang akan ia peroleh jika banyak jajan begitu waktu istirahat datang, sementara masih ada waktu istirahat berikutnya. Apa yang terjadi jika ia menghabiskan seluruh uang jajannya. Apa pula yang ia dapatkan jika ia menghemat uang sakunya atau menahan diri dari membelanjakan uangnya.

Kita dapat mengajak anak melakukan simulasi sederhana berapa uang yang dapat ia tabung selama sebulan jika ia hanya menggunakan setengah dari uang sakunya. Berapa yang terkumpul dalam setahun, dan kebaikan apa yang dapat ia perbuat dengan uang yang ia kumpulkan. Jika anak belum memiliki itsar (altruisme) yang kuat, ia lebih mudah diajak merencanakan benda bermanfaat yang dapat ia beli dari tabungan uang saku. Tetapi apabila anak telah memiliki kepedulian, menabung untuk berbagi atau melakukan kebaikan lain pun akan mudah. Anak kelas satu SD pun dapat kita ajak mengurangi jajan untuk berbagi dengan yang memerlukan jika sejak kecil telah tumbuh kecintaannya pada berbagi.

Pada tahap awal, kita menjelaskan secara bertahap kepada anak tentang pentingnya mentasharrufkan harta dengan benar. Kita dapat mengajak anak berbincang dan berbagi cerita. Pengalaman anak saat di sekolah, misalnya kehabisan uang saku ketika pelajaran olahraga, merupakan hal berharga yang dapat menjadi bahan diskusi.

Selanjutnya, kita dapat melatih anak untuk mengelola uang dalam jumlah lebih besar untuk rentang waktu lebih lama. Misal, memberikan uang saku sekaligus untuk dua hari. Ini merupakan tantangan tersendiri bagi anak. Jika anak sudah mampu, kita dapat memberikan uang saku tiga hari sekali atau seminggu sekali dan pada akhirnya bisa sebulan sekali. Yang jelas, kita perlu memperhatikan kemampuan anak. Jika tampak belum mampu, kita dapat menunda sampai anak siap. Selain itu, kita perlu mengimbangi dengan sikap tegas, bahkan sesekali mengetati uang saku. Untuk sementara waktu, orangtua menahan diri tidak memberi uang saku ataupun tambahan uang saku.

Bagaimana dengan pilihan tidak memberikan uang saku kepada anak, tidak pula membekali mereka berbagai makanan atau hanya sesekali membekali? Tidak masalah sejauh anak telah memiliki ‘iffah (penjagaan diri, kemampuan menahan diri untuk menjaga kehormatan/’izzah) sehingga mereka tidak meminta-minta kepada temannya, tidak pula memandang penuh harap saat temannya menikmati makanan.

Parenting : Saat Memberi Saat Tidak #1

Oleh Mohammad Fauzil Adhim



Anak itu menangis keras-keras. Ia meminta uang kepada ibunya untuk membeli es krim di toko seberang. Tapi sang ibu tak kunjung mem ber. Kata ibu, sekarang sedang tidak ada uang.

“Mama tidak punya uang. Coba lihat ini kalau tidak percaya,” kata ibu sambil membuka dompet seraya membelalakkan mata lebar-lebar. Menyeramkan. Tetapi itu semua tak membuat anak menghentikan tangisnya. Justru semakin bersemangat ia menangis, semakin keras ia meneriakkan permintaannya.

“Mama bohong. Mama pelit,” teriak anak itu keras-keras sembari berlari menuju kamar ibunya. Melihat itu, ibu segera sigap, berusaha mencegah anaknya. Ah, barangkali ada rahasia keuangan di kamar ibu. Setengah panik, ibu berkata, “Hei, mau kemana??!! Nggak boleh nakal begitu.”

Sebuah drama yang sempurna. Di saat sedang berkutat dengan anaknya, seorang kawan lama datang. Kawan yang sangat baik dan akrab. Bersemangat sekali ia menyambut kedatangan kawannya ini. Penuh kehangatan. Bersemangat pula ia menceritakan betapa nakal anak-anaknya. Inilah salah satu sisi yang absurd; sulit dimengerti dari ibu-ibu. Mereka kerap menceritakan kenakalan anak sehingga anak merasa malu, tapi merasa dongkol manakala ada yang menceritakan bahwa anaknya nakal.

“Maa syaa Allah… Nakalnya anakku. Yang besar itu kalau nggak ditemani, nggak mau tidur sendiri, Yang nomor dua juga begitu, sukanya ribut terus. Suka teriak-teriak, naik-naik ke meja. Apalagi yang satu ini,” kata sang ibu heroik. Penuh semangat. Belum selesai, anaknya menangis keras-keras. Kali ini disertai teriakan yang lebih lantang, “Mama, beliin es krim. Uangnya, Ma…!”

Cepat-cepat ia beranjak dari ruang tamu menuju ruang tengah menemui anaknya. Betapa malu ia pada sahabat lamanya demi mendengar teriakan anak yang berontak meminta uang. Tangan sudah siap mencubit, sementara wajah sudah siap untuk tampil lebih menyeramkan.

“Kamu jangan nakal begitu, dong. Malu didengar tamu,” bentak sang ibu dengan suara setengah berbisik. Tak lupa, cubitan keras melayang ke lengan anaknya.

“Aduh… Aduh… Mama nakal. Mama jahat. Mama suka mencubit,” teriak si anak lebih keras lagi, “Mama pelit….!!! Es krim, Ma….”
Tak tahan, sang ibu segera memberi uang. Bukan dari dompet kosong yang tadi ditunjukkan pada anaknya, tetapi dari balik saku yang lain.

“Ini!!! Cepat pergi. Belie s krim sana,” kata ibu sewot berusaha menahan marah. Anaknya menerima uang dengan kegirangan sembari menyeka airmata yang berhenti tiba-tiba, seiring berhentinya tangis. Sebuah kemenangan yang sempurna. Sebuah pelajaran tentang teknik memaksa orangtua, baru saja ia peroleh dari ibunya. Pelajaran lainnya adalah tentang bagaimana berbohong yang efektif. Ini sekaligus mengajarkan anak untuk tidak mudah percaya kepada ucapan-ucapan ibunya, termasuk nasehat dan perintah yang diberikan kepadanya.

Peristiwa-peristiwa semacam ini sering tidak disadari oleh orangtua. Di berbagai seminar, banyak orangtua bertanya tentang teknik paling efektif mendiamkan anak; bukan bertanya bagaimana seharusnya memberikan pendidikan kepada anak agar kelak menjadi orang baik. Banyak orangtua bertanya bagaimana menjadikan anak sebagai etalase yang dapat segera dilihat dan dibanggakan semenjak kecil; lupa bertanya bagaimana mempersiapkan mereka sebagai kekasih hati di dunia dan akhirat.

Saya kira, melemahnya kesabaran dan lapang dada dari para ibu inilah persoalan yang lebih patut kita risaukan. Bukan tingkat pendidikan ibu. Banyak ibu yang semakin kesulitan mengekspresikan perasaanya kepada anak, berkurang kesabarannya, dan berpikir instant tentang anak-anaknya, justru mereka yang berlatar belakang pendidikan tinggi.

Sebagaimana ibu tadi, banyak orangtua yang memilih untuk segera memperoleh ketenangan saat itu juga demi dapat tersenyum manis pada tamu, daripada menunggu anak menjadi qurrata a'yun (penyejuk mata) untuk masa-masa berikutnya yang jauh lebih panjang, sejak nafas masih di dada hingga amalan diperhitungkan di Mahkamah Allah. Mereka memilih mudah di awal, tapi tak mempertimbangkan kelanjutan perkembangan anak di masa-masa yang akan datang.

Pertanyaannya sekarang, kapan orangtua perlu memberi dan kapan orangtua seharusnya menolak permintaan anak? Apakah orangtua seharusnya selalu memberi hadiah setiap kali anak melakukan tugas-tugas penting, baik atas suruhan orangtua maupun atas inisiatif anak sendiri? Apa yang sebaiknya dilakukan ketika anak tetap meronta menangis sebagaimana contoh yang kita baca, padahal orangtua terlanjur mengatakan tidak punya uang? Padahalm adakalanya alasan tidak punya uang sungguh tidak dapat diterima anak lantaran anak tahu betul bahwa keadaannya tidak demikian.
Wallahu a’lam bish-shawab. Saya tidak tahu persis apa saja yang perlu kita perhatikan. Hanya pada Allah Ta’ala pengetahuan yang benar tentang segala sesuatu. Sejauh yang mampu saya ketahui, ada beberapa hal yang dapat kita perhatikan:


Tidak Terlalu Kikir

Sikap terlalu pelit tidak mengajarkan anak untuk berhemat. Justru sebaliknya, ini dapat mendorong anak melakukan berbagai tindakan nakal.
Kikir berangkat dari perasaan sayang terhadap harta, sehingga sulit melepaskannya sekalipun kepada anak sendiri. Sedangkan hemat berdiri di atas sikap mempertimbangkan maslahat dan madharat, perencanaan anggaran untuk perekonomian diri sendiri maupun keluarga, maupun penetapan skala prioritas untuk memilih yang terpenting dari yang penting, menjauhkan yang paling tidak penting di antara yang tidak penting. Semua ini merupakan tuntutan atas seseorang yang sudah mencapai taklif, karena salah satu syarat taklif adalah ‘aqil baligh. Sedangkan kemampuan mentasharufkan harta merupakan salah satu kecakapan yang dituntut bagi seorang yang sudah mencapai ‘aqil-baligh.

Sikap kikir orangtua mengakibatkan beberapa dampak bagi anak. Ini dapat dialami seluruhnya oleh anak, dapat pula sebagian saja. Salah satu dampak yang mungkin timbul adalah kecenderungan anak untuk bersikap foya-foya untuk kesenangan diri sendiri. Ia belajar mengembangkan sikap mengambil keuntungan dari setiap kesempatan. Ia memanfaatkan kesempatan-kesempatan yang ada untuk memperoleh kemudahan dari orangtua, sehingga ia dapat bersenang-senang tanpa perlu berpikir bagaimana berjuang memperoleh kenikmatan itu semua.

Sikap pelit orangtua juga dapat mendorong anak untuk melakukan tindak kriminal semisal mencuri. Awalnya ia belajar mencuri harta orangtua secara diam-diam. Selanjutnya, dapat berkembang menjadi tindakan pencurian disertai kekerasan. Mulanya kekerasan terhadap saudara dan adik yang mengetahui, berikutnya… na’udzubillahi min dzaalik.

Khusus tentang pencurian yang dilakukan oleh balita, kita perlu berhati-hati menilai. Balita –terlebih yang usianya baru 2 tahunan—banyak yang belum memahami konsep harta, meskipun sebagian anak yang sudah berusia 3 tahun sudah mampu memahami. Mereka sulit membedakan milik sendiri dan milik orang lain. Karena itu, kita tidak dapat serta merta menyebutnya mencuri manakala ada balita mengambil milik orang lain, meskipun orangtua tetap perlu meluruskan dengan lemah-lembut. Perilaku mengambil milik orang lain merupakan hal yang wajar bagi balita, terutama bagi yang belum mengerti.

Akibat lainnya, anak belajar memaksa orangtua. Ia belajar mengembangkan cara memaksa karena tahu bahwa orangtua memiliki sekaligus mampu memberikan apa yang ia inginkan. Ia belajar membantah dan bersikap tidak baik kepada orangtua. Ia pun dapat mengembangkan sikap tidak percaya kepada orangtua. Na’udzubillahi min dzaalik.

Boleh jadi ketiga hal tersebut tidak tampak saat anak di rumah mengingat hukuman yang mengancam, begitu menakutkan anak. Tetapi anak bukan hanya berada di kamar ibunya. Ia juga mempunyai lingkungan dimana ia berkembang bersama-sama dengan orang lain. Di sinilah ia dapat melakukan tindakan-tindakan nakal, misalnya mencuri. Apalagi jika ada teman yang memiliki kecenderungan serupa.

Alhasil, sikap terlalu kikir sebaiknya dijauhi. Permintaan anak, sejauh wajar dan tidak membawa madharat, dapat dipenuhi oleh orangtua, kecuali jika memang tidak mampu. Orangtua hendaklah memberi tanpa banyak syarat dan beban.

Akan tetapi, ada saat-saat dimana orangtua perlu mengekang dan tidak menuruti permintaan anak agar ia dapat belajar menahan diri dari berbagai keinginan yang tidak penting. Juga, agar anak dapat belajar menetapkan skala prioritas kebutuhan yang perlu segera dipenuhi. Tetapi ada hal-hal yang perlu kita ketahui. Tentang ini, insya Allah akan kita bahas pada poin-poin berikutnya di edisi mendatang.

(bersambung).

***Tulisan ini dimuat di majalah Hidayatullah edisi Januari 2015

Makanan Cerdas : Labu Siam


Oleh Ana Noorina

Labu siam atau yang mempunyai nama ilmiah sechium edule adalah jenis tumbuhan suku labu-labuan yang dikonsumsi buahnya. Di daerah Jawa Barat  buah labu siam sering disebut waluh, di Jawa Tengah dengan sebutan waluh jipang, sedangkan di Jawa Timur disebut dengan nama gondes.

Labu siam mengandung beberapa vitamin dan nutrisi penting lainnya. Satu setengah cangkir porsi menyediakan sekitar 17%  dari kebutuhan vitamin C harian Anda. Selain itu, buah sayuran ini juga mengandung vitamin B kompleks, seperti folat sejumlah 61 mcg dan sejumlah kecil niacin, thiamin, riboflavin, asam pantotenat dan vitamin B6. Vitamin B berperan penting dalam proses metabolisme tubuh. Selain itu buah labu ini juga mengandung zat mineral seperti zat besi, mangan, fosfor, seng, dan tembaga.

Tanaman ini tumbuh dengan cara merambat, baik di tanah atau di batang kayu yang ada di sekitarnya. Tanaman ini biasa dibudidayakan di area sekitar rumah.  Sebagian orang pun biasa menanam tanaman ini di dekat kolam ikan. Dinamakan labu siam karena memang tanaman ini berasal dari daerah Siam, Thailand.

Labu siam memiliki khasiat untuk mengobati sejumlah penyakit, seperti gusi berdarah. Manfaat labu siam lainnya adalah mengatasi sariawan. Bagi penderita sariawan dianjurkan memakan buah labu siam sebagai sayuran atau juga bisa dimakan sebagai lalapan (labu siam yang telah dikukus). Disamping mengobati sariawan, mengkonsumsi labu siam juga sangat baik bagi wanita yang sedang menyusui, karena dapat meningkatkan produktifitas ASI sebagaimana manfaat daun katuk.

Tidak hanya wanita menyusui saja, wanita hamil juga dianjurkan untuk mengkonsumsi labu siam. Hal ini karena seorang wanita hamil membutuhkan asupan asam folat yang cukup, sedangkan kandungan asam folat pada buah labu siam bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Setiap 100 gram labu siam mengandung asam folat 93 mkg. Jadi, hanya dengan mengkonsumsi 100 gram labu siam setiap hari sudah bisa memenuhi 23,25 persen kebutuhan tubuh akan asam folat. Seorang wanita hamil yang kekurangan asam folat beresiko terhadap kelahiran bayi yang cacat atau bobot bayi yang diluar standar.

*) Ana Noorina, Pemerhati gizi

Anak Sehat : Tanda-tanda Dehidrasi Anak


Oleh Beta Haninditya

Setiap tahun, lebih dari 1,5 juta anak di bawah usia lima tahun pergi ke dokter gara-gara diare akut. Dari jumlah tersebut, 200.000 anak dirawat di rumah sakit, umumnya karena dehidrasi.
Umumnya, balita mengalami dehidrasi karena kurang minum atau terlalu sering
muntah. Dehidrasi bisa membuat balita lemas dan menyebabkan gangguan kesehatan.  Jika menemukan beberapa tanda dehidrasi ini, segera konsultasikan ke dokter anak .

Pada bayi, gejala dehidrasi biasanya mulai muncul bila dalam 24 jam, popoknya diganti lebih dari 5 kali, mulut kering dan bibir pecah-pecah, saat menangis nyaris tidak ada air mata yang keluar.  Bila anak mulai dehidrasi, anak tampak mengantuk, lemas, gelisah dan mata cekung, muncul cekungan di daerah ubun-ubun serta tangan dan kaki terlihat pucat.

Sementara pada balita, gejala dehidrasi antara lain mulut kering dan bibir pecah-pecah. Saat menangis nyaris tidak mengeluarkan air mata dan mata cekung, tampak selalu mengantuk, tidak bergairah, lemas, dan rewel atau gelisah, merasa haus yang tidak seperti biasanya. Selain itu, buang air kecil tidak teratur atau di luar frekuensi yang biasa dengan volume lebih sedikit dari biasanya dan wanra lebih gelap atau lebih kuning serta kulit tidak sekenyal biasanya (elastisnya berkurang)

Anjuran paling baik yang sudah ditandatangani oleh AAP (American Academy of Pediatrics) dalam menangani dehidrasi pada anak:
Pertama, selalu sediakan larutan oralit. Larutan ini bisa mengganti kehilangan air dan mineral-mineral esensial. Menggunakannya pada awal serangan diare adalah langkah pertama yang penting dalam mencegah dehidrasi. Namun, hindari pemberian obat antidiare; sebab bisa memperpanjang gejala pada anak-anak.

Kedua, tetap berikan si kecil cairan lain, serta makanan, juga. Kelihatannya cuma numpang lewat saja, namun anak tetap membutuhkannya. (Khusus bayi, biarkan tetap menyusu—atau berikan susu formula—lebih sering) Cairan terbaik untuk diberikan pada anak: air putih, susu, dan sup kaldu.

Segera hubungi dokter jika salah satu dari hal berikut dialami anak Anda:
Demam dan di bawah tiga tahun: 38 derajat Celcius atau lebih untuk bayi di bawah tiga bulan, 38,9 derajat Celcius atau lebih untuk anak usia tiga bulan hingga tiga tahun.

*) Beta Haninditya, Apoteker RSKIA Sadewa Sleman

Kisah Cerdas : Akibat Meremehkan


Oleh Dra. Asnurul Hidayat

Dahulu di daerah Bushro hidup seorang laki-laki yang dijuluki Abu Salamah. Abu Salamah senang berkelakar ketika bergaul dengan orang lain. Jika berbicara kadang tanpa dipikirkan terlebih dahulu.

Pada suatu hari, di hadapan Abu Salamah ada orang yang menyebutkan tentang siwak (alat untuk menggosok gigi yang terbuat dari kayu pohon siwak) dan keutamaan-keutamaannya. Setelah Abu Salamah mendengarnya, tanpa diduga dia berkata , “Demi Allah, aku tidak akan bersiwak kecuali di dubur!” Kemudian ia mengambil sebuah siwak dan memasukkan siwak itu ke dalam duburnya kemudian mengeluarkannya lagi.

Setelah Abu Salamah melakukan perbuatan tersebut, maka ia menderita sakit perut dan dubur. Dia mengeluh kesakitan selama sembilan bulan. Kemudian pada suatu saat keluarlah dari duburnya seekor hewan seperti tikus mondok yang pendek dan besar, memiliki empat kaki, kepalanya seperti kepala ikan. Hewan itu memiliki empat taring yang tampak menonjol, panjang ekornya satu jengkal empat jari, dan memiliki dubur seperti dubur kelinci.

Ketika keluar, hewan itu menjerit tiga kali. Maka bangkitlah anak perempuan Abu Salamah dan memecahkan kepala hewan itu hingga mati. Setelah keluar hewan dari duburnya, Abu Salamah hidup selama dua hari, dan meninggal pada hati ketiga. Sebelum meninggal, ia berkata, “Hewan ini telah membunuhku dan memotong-motong ususku.”

Sungguh kejadian ini telah disaksikan oleh sekelompok penduduk daerah tersebut dan para khothib tempat itu. Di antara mereka ada yang melihat hewan itu dalam keadaan hidup dan di antaranya ada yang melihatnya setelah mati.

Masya Allah, Allahu Akbar. Berawal dari menganggap remeh dan menyepelekan sunnah nabi. Kemudian Abu Salamah mengejek dengan penuh ekspresi yaitu menghinakan siwak secara sangat tidak pantas disebabkan dari kebenciannya pada sunnah bersiwak. Perbuatan Abu Salamah sungguh tidak pantas dan benar-benar menghina. Akibatnya adalah nampaklah kekuasaan Allah pada peristiwa yang menimpa Abu Salamah pada kisah tersebut. Sebagai akibat atau hukuman atas perbuatan sombongnya. Dan Abu Salamah yang sombong itu pun tidak mampu menghindari serangan hewan aneh yang menimpa dirinya.

Para pengasuh yang budiman, semoga kita dimudahkan Allah dalam mendidik dan mengasuh anak kita agar menjadi anak yang taat kepada Allah dan terhindar dari sikap sombong. Yaitu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Semoga anak  kita terhindar dari meremehkan perintah Allah dan petunjuk yang dituntunkan oleh Rasulullah.  Mari kita becermin pada berbagai hikmah kisah itu. Semoga kita semua berakhir dalam keridhoan Allah Ta’ala.

Referensi : Biografi Kehidupan Ulama Ahlus Sunnah. Attuqa. Yogyakarta.

*) Dra. Asnurul Hidayat, Guru MITQ di Bantul

Cerdas di Sekolah : Mencerna Bacaan


Oleh Nur Siti Fatmah

Masih sering ditemui murid membaca semata-mata untuk menghafal jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh guru. Para murid berupaya menelusuri kalimat-kalimat dalam tiap lembaran buku untuk menemukan kalimat yang dianggap tepat untuk menjawab pertanyaan. Setelah sekian lama menelusuri kalimat dan ‘menemukan’ kalimat yang dianggap tepat untuk menjawab pertanyaan, dipindahlah kalimat dalam lembaran buku bacaan ke dalam buku tulis murid dengan cara menuliskan tanpa perubahan sedikit pun. Murid segera menutup bukunya dan mengumpulkan ke meja guru karena telah selesai mengerjakan tugas menjawab pertanyaan. Namun begitu guru meminta murid menyampaikan secara lisan tanpa membaca apa yang telah ditulis, kebanyakan murid mengatakan aku sudah lupa apa yang saya tulis kemarin. Demikian juga, ketika seorang guru menuliskan kalimat tegak bersambung di papan tulis kemudian meminta murid menyalin sepuluh kali, ternyata kebanyakan murid hafal, namun begitu diberi pertanyaan dari kalimat yang telah ditulis berulang - ulang murid kesulitan untuk menjawabnaya, kebanyakan murid tidak bisa menjawab.mengapa hal ini terjadi? Karena secara emosional murid tidak terlibat dengan kalimat yang ditulisnya.Murid sekedar menyalin saja.

Mary Leonhardt, seorang praktisi pendidikan yang kemudian menuangkan pengalamannya ke dalam buku berjudul “99 Cara Menjadikan Anak Anda ‘keranjingan’ Membaca”, menyebutkan membaca bisa membangun rasa kebahasaan yang tinggi. Anak-anak yang gemar membaca akan mampu mengembangkan pola pikir kreatif dalam diri mereka sendiri. Mereka tidak hanya mendengar informasi, tetapi juga belajar untuk mengikuti argumen-argumen yang kaya dan mengingat alur pemikiran yang beragam. Membaca sebagai proses diskusi yang diikuti melalui tulisan, dengan demikian membaca merupakan proses  aktif dalam membentuk pemahaman baru”.Murid yang telah membaca akan terbentuk pola pemahaman baru dari apa yang telah di baca sehingga jika distimulasi akan mampu mengungkapkan kembali dalam bentuk pertanyaan atau diminta mengungkapkan kembali secara menyeluruh.

Bijak kiranya orang tua dan guru memulai membacakan buku dengan kalimat sederhana dan memberi jeda untuk mencerna isi kalimat yang telah dibacakan dan didengarkan oleh murid. Sebagai contoh guru mengajarkan kalimat “Bapak mengerjakan sholat Subuh di masjid, kemudian membaca dzikir pagi. Dari kalimat tersebut guru atau orang tua bisa mulai mengajak murid untuk mencerna isi bacaan dengan memberi beberapa pertanyaan singkat yang mudah dipahami oleh murid. Bacakan beberapa kali kemudian murid juga diminta membaca jika sudah bisa membaca. Ketika murid sudah mendengar dan membaca berilah pertanyaan dari bacaan tersebut. Pertanyaan pertama , siapa yang mengerjakan sholat subuh di masjid? Pertanyaan kedua,di mana bapak mengerjakan sholat Subuh? Pertanyaan ketiga,apa yang dilakukan bapak setelah sholat subuh?

Lakukanlah berulang-ulang setiap hari dengan membuat kalimat-kalimat baru,tingkatkan dari satu kalimat menjadi satu alinea.Jika hal ini dilakukan secara istiqomah insyaAlloh akan membentuk pola pemahaman yang kuat pada murid, murid akan terbiasa berpikir kritis dan mampu memahami apa yang yang dibaca. Pada saatnya murid diminta membuat kalimat sendiri kemudian membuat pertanyaan dari kalimat yang telah dibuat.

Berlatih mencerna bacaan lebih lanjut bisa dilakukan dengan cara memberikan bacaan yang agak panjang,misal satu judul bacaan dalam satu halaman kwarto. Setelah membaca dengan diulang beberapa kali, murid diminta menutup bacaan. Guru kemudian meminta murid untuk menuliskan kembali apa yangtelah dibaca dengan menggunakan redaksi murid sendiri.

Jika langkah ini dilakukan terus-menerus akan membentuk kemampuan memahami isi bacaan sekaligus mengkonstruksi ulang dalam bentuk tulisan baru sesuai dengan pemahaman murid. Kemampuan mencerna bacaan murid akan lebih tajam lagi jika guru melanjutkan dengan langkah presentasi bacaan. Apa yang telah dibaca oleh murid diminta untuk dipresentasikan .Pemahaman murid yang telah dikonstruksi dalam bentuk tulisan dipresentasikan kepada guru atau teman-teman kelompok kecil dan bisa pula kepada teman satu kelas. Upaya mengungkapkan pemahaman akan Nampak pada murid yang melakukan proses dengan penuh antusias. Agar murid melakukan dengan penuh antusias guru atau orang tua harus memberi pendahuluan tentang manfaat memahami bacaan.

Beragam cara mempresentasikan, mulai cara membacakan, menyampaikan tanpa membaca teks,  dalam bentuk pidato lisan hingga dalam bentuk tulisan singkat yang memuat kalimat rangkuman (Power Point) untuk memandu gagasan yang telah ditulis.

*) Nur Siti Fatmah, Guru , S.Ag. Guru MI Darussalam Selokerto Ngaglik Sleman

Renungan : Musibah


Oleh R. Bagus Priyosembodo

Merupakan  perkara yang tergolong musibah yang membinasakan, yaitu seorang penguasa bila anda berbuat baik kepadanya, dia tidak mensyukuri anda, dan bila anda berbuat kesalahan dia tidak mengampuni.

Akan datang  penguasa-penguasa yang memerintah. Di atas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila telah turun mimbar mereka melakukan tipu daya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari bangkai.

* R. Bagus Priyosembodo, Redaktur Ahli Majalah Fahma

Menumbuhkan Kedekatan Ayah dan Anak


Oleh Arif Wicaksono

Anak yang sehari-hari lebih banyak dengan ibunya mungkin akan kurang nyaman bersama ayah karena tidak terbiasa. Sejak dalam kandungan, anak memang lebih dulu mengenal dan menjalin kedekatan dengan ayah. Kedekatan dengan ayah seringkali terbentur keterbatasan waktu karena ayah harus bekerja.

Menjadi ayah yang baik perlu proses pembelajaran yang panjang. Mungkin karena itu, banyak ayah yang putus asa dan merasa tidak sanggup dekat dengan anak seperti yang dilakukan ibu. Ada beberapa alasan yang membuat ayah tidak dekat dengan anaknya.  Pertama, hampir semua ayah bilang, “Ternyata susah ya, jadi ayah yang baik. Tidak semudah yang dibayangkan.” Banyak calon ayah yang membayangkan betapa asyikmya memiliki anak, bisa bermain bersama dan sebagainya. Namun lupa pada hal yang ‘tidak enak’, misalnya kala si kecil sakit, rewel atau bandel. Kala itu terjadi, banyak ayah yang kaget. Ayah harus bisa lebih sabar, pemurah, lebih cinta dan pemaaf pada anaknya.

Kedua, sebab sejak awal ayah tidak ‘hidup’ bersama sang anak. Karena itu, mulailah dekati anak sejak dia belum lahir. Ayah bisa melakukannya dengan mengelus-elius perut ibu saat hamil atau menempelkan telinga, mengajak bicara, membcakan Al Qur’an dan sebagainya. Bisa juga menemani istri saat cek kandungan. Ketiga, banyak ayah yang melihat anak sebagai ‘pengganggu’. Misalnya ketika ayah pulang dari kantor dan anak langsung menodong ngajak main kuda-kudaan. Dalam situasi seperti ini, banyak ayah yang menganggap hal ini sebagai beban. Menjadi ayah memang menimbulkan kecemasan dan kerepotan. Tapi kalau ayah sellau melihat sisi positifnya, ternyata menjadi ayah juga menyenangkan. Semakin ayah santai, semakin mudah menjalani peran sebagai ayah.

Keempat, ayah sering malas dejat dengan anak yang sulit diatur. Anak yang sulit diatur sebenarnya adalah anak yang merasa tidak aman, tidak merasa dicintai dan tidak berdaya. Supaya ayah tidak kehilangan kesabaran, belajarlah mengetahui apa yang diinginkan anak. Kelima, tekanan ekonomi. Setelah anak lahir, ayah merasa tanggungjawab dan beban keuangan semakin berat. Mencari pekerjaan tambahan atau kerja lembur membawa konsekuensi berkurangnya waktu kebersamaan ayah dan anak. Berpikrilah lebih realistis untuk mempertemukan antara kepentingan anak dan kemampuan financial.

Keenam, ayah masih dibayangi mitos bahwa secara alamiah, anak akan lebih dekat dengan ibunya daripada ayahnya. Hal ini akan membuat ayah menjaga jarak dengan anak. Karena itu, ubahlah pola pikir kita sebagai ayah. Jadilah ayah di era modern yang menunjukksn kepedulian terhadap anak.

Lakukan pula introspeksi, mengapa anak lebih dekat dengan ibunya. Sudahkah ayah dan ibu harus berbagi peran dan tugas selama ini? Apakah selama ini ayah hanya fokus pada pekerjaan sehingga lupa membangun kepedulian dan kedekatan dengan anaknya? Ayah merupakan mitra ibu dalam mendidik anak. Jadi, ayah harus terlibat dalam proses mengasuh dan mendidik anak secara intensif. Figur ayah sangat dibutuhkan anak dalam proses pertumbuhannya.||


Tips menumbuhkan kedekatan ayah dan anak:
  • Usahakan ayah hadir dalam aktivitas rutin anak, misalnya saat makan bersama
  • Ciptakan komunikasi rutin meski ayah sedang tidak ada di rumah, misalnya menelepon ke rumah pada saat istirahat jam kantor.
  • Luangkan waktu sepulang kantor untuk bermain bersama anak. Biasanya anak laki-laki sangat menyukai permainan ‘kasar’ dengan ayah seperti main kuda-kudaan. Jika sempat, luangkan pula bermain di pagi hari.
  • Jaga perasaan anak. Banyak ayah mungkin khawatir atau gelisah ketika berdua saja dengan anak (takut anak mengompol, dan sebagainya). Nah, kegelisahan ini bisa tertangkap oleh anak sehingga membuat anak merasa tidak nyaman.
  • Beri kesempatan anak ikut dalam aktivitas rutin ayah seperti mencuci, atau utak-atik motor meskipun dia hanya melihat saja. Biarkan anak bertanya, dan usahakan tidak terlalu banyak larangan agar anak menikmati kebersamaan dengan ayahnya.


*) Arif Wicaksono, Pemerhati dunia anak

Ringan Diucap, Berat di Hisab


Oleh Mohammad Fauzil Adhim

“Tidak mungkin lahir anak yang shalih jika orangtua tidak menshalihkan diri dulu.” Ini kalimat yang tampaknya benar, tetapi ada hal serius yang perlu kita khawatirkan. Pertama, hendaklah kita tidak menafikan apa yang masih mungkin terjadi. Sama halnya, jangan memastikan apa-apa yang memang tidak dipastikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Kedua, jika tidak ada peluang bagi manusia untuk berubah, baik di masa kecil maupun sesudah dewasa, lalu apa gunanya pendidikan dan dakwah?

Berapa banyak orang-orang shalih yang tinggi kemuliaan imannya justru lahir dari orangtua yang salah dan bahkan amat besar kemungkarannya. Bukankah Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalaam, bapak dari para nabi, justru lahir dari orangtua pembuat patung berhala? Bukankah kita juga mendapati di zaman kita maupun di masa silam orang-orang shalih yang juga terlahir dari keluarga yang salah? Ini semua menunjukkan bahwa harapan lahirnya anak-anak shalih dan bahkan menjadi pejuang dakwah yang paling gigih dari keluarga yang bahkan paling keras permusuhannya dengan agama kita ini, senantiasa terbuka lebar.

“Kalau orangtuanya shalih, pasti dan pasti anak-anaknya akan shalih.”

Apakah kalian mengira Nabi Nuh dan Luth ‘alaihimas salam tidak shalih? Keduanya adalah nabi. Ibadahnya sudah pasti bagus dan akhlaknya jelas terpuji. Teladan? Jangan ditanya lagi. Tetapi putra kedua Nabiyullah yang mulia itu terlepas dari iman dan jatuh pada kekafiran.

Aku nasehatkan kepada diriku sendiri yang bodoh ini, juga kepada para trainer yang amat memukau, jangan pastikan yang Allah Ta’ala tak pastikan! Jangan pula menisbikan apa-apa yang Allah Ta’ala sudah pastikan. Jika sesuatu itu dipastikan oleh Allah Ta’ala, maka tak patut kita meragukannya. Yang perlu kita pahami adalah sebab-sebab di balik buruknya keturunan dari orang-orang yang baik. Pun, baiknya keturunan dari orang buruk.

Bertawakkallah kepada Allah Ta’ala. Jangan bertawakkal kepada sebab. Sepintas sama, tapi keduanya sangat jauh berbeda. Doa itu adalah pinta kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kita memohon penuh harap dan takut. Adakalanya dikabulkan seketika, adakalanya ditangguhkan dan adakalanya menjadi simpanan kebaikan di akhirat. Di dunia tak dikabulkan, tetapi di akhirat menjadi kebaikan. Ini semua adalah hak mutlak Allah Ta’ala untuk menentukan.

Teladan saja tidak cukup. Bukankah Nabi Luth dan Nabi Nuh ‘alaihimas salaam adalah sebaik-baik teladan bagi keluarganya? Maka, kita perlu senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala perlindungan atas anak-anak kita dan keturunan kita seluruhnya. Juga atas diri kita. Kita berdoa sepenuh pinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan menjaga adab-adabnya seraya bertawakkal kepada-Nya. Bukan kepada trik berdo’a.

Kita memohon kepada Allah Ta’ala, “Tuhanku, karuniailah aku (seorang) anak yang termasuk orang-orang shalih.” (QS. Ash-Shaaffaat, 37: 100).

Kita juga memohon untuk diri kita kepada Allah Ta’ala istri/suami serta keturunan yang menjadi penyejuk mata; di dunia hingga akhirat:

 “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqaan, 25: 74).

Sudahkah engkau doakan istri dan anak-anakmu?

Kembali pada perbincangan awal. Atas setiap perkataan, takarlah adakah ia bersesuaian dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah atau menyelisihinya? Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah, yakni Al-Qur’anul Karim, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shalalahu ‘alaihi wa sallam. Janganlah karena ingin menunjukkan dirimu mampu memberi solusi yang pasti ampuh, lalu engkau melalaikan apa yang digariskan agama ini.

Jagalah lisanmu, wahai diriku, dan ingatkan saudaramu agar tak tergelincir pada perkataan indah yang menjerumuskan ke dalam api yang menyala. Ingatlah perkataan Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang tak ia periksa (kebenarannya sebelum berucap), maka karena satu kata tersebut dia dapat terjerumus ke dalam neraka yang lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” (HR. Bukhari & Muslim).


*) Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku Segenggam Iman Anak Kita | twitter @kupinang

Menggagas Konsep Pendidikan Tauhid


Oleh Imam Nawawi

Semua orang tentu sangat terkejut dengan kondisi bangsa hari ini. Bagaimana tidak, ahli hukum justru melanggar hukum. Belum lagi situasi perekonomian global yang cenderung memburuk. Padahal seperti kita ketahui bersama, ahli di berbagai bidang tersebut juga tidak sedikit jumlahnya.

Dari sudut pandang Islam, problematika besar yang melanda kemanusiaan di abad ini disebabkan oleh gerakan pemujaan akal dan pengabaian secara sengaja terhadap mu’jizat akhir zaman yakni al-Qur’an. Atas situasi tersebut Prof. Dr. M. Naquib Al-Attas menjabarkan secara cermat dan menyeluruh, perlunya penerapan gagasan Islamisasi Ilmu.

Secara historis-normatif, apa yang terjadi hari ini merupakan satu keberhasilan upaya Iblis, musuh nyata seluruh umat manusia dalam menjauhkan mereka semua dari jalan wahyu.

Sejak pertama kali diciptakan sebagai seorang khalifah, Allah telah memberikan penegasan kepada Adam bahwa Iblis adalah musuh yang nyata baginya dan seluruh keturunan umat manusia. Bahkan dalam al-Qur’an telah jelas sekali mengapa iblis yang lebih senior daripada Adam, justru terlempar dari surga dan hidup dalam kutukan Allah. Tiada lain dan tiada bukan karena Iblis gagal memanfaatkan akalnya dengan baik.

Akal yang diberikan Allah kepada iblis ia gunakan untuk mendebat perintah Allah. Dengan argumentasi rasionalitasnya, iblis berkeyakinan protesnya kepada Allah untuk tidak hormat kepada Adam akan dibenarkan. Ternyata tidak, Allah langsung murka kepada Iblis dan mengutuknya hingga akhir zaman, kemudian akan disiksa selama-lamanya di dalam neraka.

Paparan Allah dalam al-Qur’an itu mengindikasikan satu kehendak kuat bahwa semestinya manusia benar-benar tunduk, patuh, dan taat kepada Allah semata, seperti apapun akal memandang perintah tersebut. Suka tidak suka, perintah Allah harus dilaksanakan dan segala larangan harus ditinggalkan.

Termasuk dalam dunia pendidikan. Tujuan pendidikan hendaknya tidak direduksi hanya pada aspek material semata. Pendidikan seharusnya justru mengintegrasikan kekuatan besar manusia, yaitu akal dan jiwa. Akal membutuhkan informasi, dan jiwa sangat membutuhkan petunjuk (wahyu). Oleh karena itu kita perlu satu konsep pendidikan yang berbasis tauhid.

Tugas membangun pendidikan berbasis tauhid ini bukan monopoli atau tanggung jawab para guru semata. Ini adalah tugas kita bersama. Bagaimana kita mewujudkannya? Beberapa langkah berikut diharapkan mampu memberikan satu jawaban konsepsional dan praktik sekaligus.

Pertama, bermujahadah dalam mentadabburi, mentafakkuri kandungan kitab suci al-Qur’an dan mengamalkannya secara massal bahkan kolossal. Tidak bisa hanya pribadi, atau kelompok semata. Tetapi harus serempak dan sinergis berkesinambungan.

Kedua, meninggalkan paham anthroposentris dan segera menuju pada paham tauhidi. Sebagaimana atsar Ali bahwa, akal dan wahyu ibarat dua tanduk yang tidak bisa dipisahkan apalagi dipertentangkan. Maka, tidak ada ruang bagi jargon, agama jangan pakai akal, atau pun akal tidak perlu agama, sebagaimana kampanye para pemikir Barat kontemporer yang dipelopori oleh Rene Descartes dengan cogito ergo sum-nya.

Ketiga, seluruh umat Islam berkewajiban meningkatkan kepekaan atau sensitivitas terhadap kondisi umat Islam secara menyeluruh, sehingga lahir kepedulian yang tinggi untuk bersama-sama mengambil peran dalam menjawab tantangan zaman.

Keempat, mulailah satu gerakan walau kecil untuk mencintai dan memakmurkan masjid. Setidaknya dengan cara meramaikan pelaksanaan sholat jama’ah di masjid lima waktu, meningkatkan kuantitas dan kualitas kegiatan keilmuan di masjid, bahkan mungkin kegiatan ekonomi di masjid.

Kelima, setiap muslim hendaknya meningkatkan kualitas diri dengan mempertajam bekal keilmuan ukhrowi dan duniawi sekaligus. Kita tidak boleh hanya paham satu ilmu dan lali terhadap ilmu yang lain. Bukankah para nabi kita adalah orang yang ahli dalam ilmu-ilmu ukhrawi dan duniawi sekaligus?

Nabi Nuh ahli perkapalan. Nabi Ibrahim seorang arsitek pembangunan. Nabi Yusuf seorang pakar ekonomi yang berhasil menyelamatkan umatnya dari ancaman kelaparan. Nabi Isa juga ahli kesehatan. Dan, nabi kita, Rasulullah Muhammad juga seorang pakar ekonomi, pakar bisnis, bahkan pakar dalam segala bidang.

Begitu pula para alim ulama kita di masa lalu. Ibn Sina pakar kesehatan juga ahli hadis. Fakhruddin al-.Razi pakar sastra, tafsir, bahkan juga logika. Imam Ghazali pakar filsafat sekaligus seorang sufi. Nah, saatnya beralih menuju pendidikan berbasis tauhid.

*) Imam Nawawi, Penulis di hidayatullah.com | Pemimpin Redaksi Majalah Mulia | twitter @abuilmia

Kapan Harus Memuji Anak?


Oleh Arif Wicaksono

Banyak orangtua yang memuji anaknya sebagai anak yang pintar setelah ia berhasil menyatukan puzzle. Ada pula yang mengatakan ia merupakan pelukis berbakat saat ia memperlihatkan hasil karyanya. Tepatkah hal ini? Berbahagialah karena kita sebagai orangtua sudah memnadji ‘motor’ utama bagi anak untuk mengembangkan kemampuannya. Namun ada hal lain yang perlu kita pikirkan, apakah pada momen seperti itu saja kita memuji anak?
Menurut Carol Dweck, profesor dalam bidang psikologi perkembangan pada Stanford University, memuji hasil yang dicapai anak (dan bukan bagaimana upaya mereka untuk mencapainya) bisa menurunkan rasa percaya diri dan motivasi dalam dirinya. Bukan hal ini yang ingin kita lakukan, kan? Misalnya, kita memuji si kecil yang menunjukkan hasil gambarnya, “Wah.. Kamu sangat berbakat! Gambar ini sangat bagus!” Apa hasilnya? Anak akan takut mencoba lagi nantinya (“Gambar aku nanti mungkin nggak sebagus ini”), salah mengerti (“Ini nggak bagus. Aku, kan, cuma menggambar sawah!”, serta anak mulai tahu kalau kita berpura-pura memujinya dan mempertanyakan ketulusan Anda (“Ayolah.. Ini nggak sebegitu bagusnya, kok”).

Ada berbagai contoh dari memuji upaya anak ketimbang memuji hasilnya. Penelitian menunjukkan, hal ini justru bisa meningkatkan rasa percaya diri dan anak akan menghadapi tantangan dengan rasa senang dan bukan dengan rasa takut.
Misalnya saat
anak baru saja mengetahui cara membaca rambu lalu lintas yang baru.  Jika memuji hasil, kita akan berkata, “Wah… Kamu sangat pintar! Kamu bisa melakukannya sendiri.” Namun beda dengan memuji upaya, perkataannya jadi, “Kamu benar-benar memperhatikan rambu lalu lintas, ya. Seru, kan, bisa belajar begitu banyak rambu-rambu yang ada? Yuk, cari rambu yang lain bareng!”

Contoh yang lain. tanpa kita meminta, anak memakai kaus kaki dan sepatu, serta menuju meja untuk sarapan. Jika \memuji hasil, perkataannya “Kamu berhasil memakai kaus kaki dan sepatu kamu. Wahhh.. kamu memang benar-benar hebat.” Perhatikan perbedaanya degan perkataan memuji uoaya, “Kamu menemukan pasangan kaus kaki dan memakai sepatu tanpa dibantu. Banyak, lho, yang berhasil kamu lakukan sendiri.”

Perlu diketahui bahwa terlalu sering memberikan pujian terhadap anak mampu menjadi bumerang bagi Mama loh. Pujian diartikan oleh anak sebagai adalah tanda ia diterima, dicintai, dan pada akhirnya ia akan selalu berusaha untuk mendapat pujian lagi. Anak dapat merasa kecewa jika suatu ketika mengetahui bahwa ia tak sehebat yang ia kira. Ini bisa terjadi jika anak sering menuai pujian untuk hal-hal yang sebenarnya biasa saja dan normal dikuasai anak seusianya.

Menurut psikolog Vera Itabiliana, perasaan kompeten itu muncul dari dalam diri anak, bukan dari pujian. Orangtua tak perlu memuji jika anak melakukan sesuatu yang memang sudah menjadi tanggung jawabnya atau normal dilakukan anak seusianya. Kapan sebaiknya memuji? Ketika anak terlihat menonjol dalam melakukan sesuatu dibanding anak-anak seusianya.”
Hindari juga pujian yang memberi
label, bahkan label positif sekalipun, seperti “Kakak, anak Mama yang pintar. Adik anak Mama yang cantik.” Hal tersebut bisa berdampak kurang baik bagi anak. Kenapa? Karena anak akan selalu berusaha hidup sesuai label tersebut untuk membuat orangtuanya senang, mencintai, dan me-nerimanya. Pada akhirnya, label tersebut bisa menjadi tekanan bagi si kecil ketika ia merasa tidak sesuai dengan label yang dilekatkan pada dirinya.

Daripada memberi pujian yang cenderung melabeli, coba berikan pujian situasional, misal: “Wah, ulangan IPA Kakak dapat nilai bagus! Kalau Kakak rajin belajar, pasti sering dapat nilai bagus seperti ini!” atau “Sekarang Adik sudah bisa pilih baju sendiri ya. Adik manis sekali, deh, memakai rok merah itu”.

*) Arif Wicaksono, Pendidik Tinggal di Jogja


*) Arif Wicaksono, Pendidik, tinggal di Yogya

Kolom Prof In : “Gaji Pertama untuk Orangtua, Pak”



Oleh Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A

Guru atau dosen yang sudah berinteraksi dengan siswa atau mahasiswa lebih dari 30 tahun, sudah selayaknyalah kalau mereka telah memahami berbagai macam tingkah laku, karakter, kinerja, bahkan egoisme dari siswa atau mahasiswa bimbingannya.

Kalau seorang mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi, sudah mempunyai keinginan kuat untuk segera lulus dalam waktu dekat, maka egoismenya akan muncul. Dalam banyak hal, dia ingin didahulukan termasuk dalam penggunaan alat. Egoisme ini dapat terlihat dari cara dia minta waktu untuk ketemu dengan pembimbingnya, baik lewat sms maupun secara langsung, dan juga dari cara, sikap, serta kedalaman pembahasan ketika menuliskan dan mendiskusikan hasil pekerjaannya. Namun, bagi mereka yang sifat interpersonal/soft-skill nya sudah terasah dengan baik, maka kemunculan ini dapat dikendalikan.  

Beberapa waktu yang lalu, saya mempunyai mahasiswa bimbingan yang menunjukkan tanda-tanda, bahwa sebenarnya dia ingin cepat lulus, namun dia masih bisa mengontrol sikapnya, sehingga yang muncul justru perilaku kehati-hatiannya. Sikap ini terlihat misal, ketika dia menghadap untuk konsultasi, dia tidak segera duduk kalau tidak saya persilahkan. Kemudian ketika konsultasi sudah selesai dan akan meninggalkan ruangan, dia selalu mengembalikan tempat duduk seperti semula. Jarang mahasiswa yang melakukan hal ini.

Meskipun dia tidak mengatakan bahwa dia ingin segera lulus, namun sebagai orang yang sudah lama menjadi pendidik dapat merasakannya. Pada suatu kesempatan saya menanyakan kapan target wisudanya (biasanya yang saya tanyakan adalah target wisuda bukan ujian pendadarannya). Barulah dia berterus terang, bahwa dia sebetulnya ingin sekali segera lulus karena sudah diterima di sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang perminyakan. Sebuah Oil service company, yang melayani perusahaan lain yang bergerak di bidang perminyakan.

Perusahaan tersebut merupakan perusahaan bergengsi, yang menjadi idaman kebanyakan mahasiswa Fakultas Teknik, karena gaji pertamanya sangat besar, bahkan jauh lebih besar dari pada gaji dosen yang sudah bekerja lebih dari 30 tahun. Lagipula berbagai job-training dilakukan di negara lain, bahkan di benua lain. Setelah beberapa tahun, tidak tertutup kemungkinan ditempatkan di berbagai negara tersebut, dengan gaji dollar.

Ternyata perusahaan tersebut bukanlah satu-satunya yang menawarinya pekerjaan. Masih ada perusahaan lain yang tidak kalah gengsinya, tempat dulu dia melakukan kerja praktek. Bahkan dengan take home pay yang lebih tinggi. Biasanya, lulusan baru cenderung memilih perusahaan yang gaji pertamanya besar. Namun, mahasiswa yang ini tidak memilihnya karena menurut pengamatannya, pekerjaan yang ada di sana kurang menantang. Sebuah pilihan yang tepat, bagi seseorang yang sudah terbiasa dengan tantangan dan selalu ingin maju.

Tidak mudah bagi seseorang, apalagi lulusan baru, diterima di perusahaan besar dan bergengsi, kalau memang tidak memenuhi persyaratan yang ketat. Sehingga kalau ada mahasiswa yang melakukan kerja praktek dan setelah lulus ditawari untuk menjadi pegawai di sana, pastilah ada sesuatu yang diincar oleh perusahaan tersebut pada si mahasiswa tadi. Kalau yang menawari itu perusahaan kecil, yang pegawainya keluar-masuk karena tidak puas, atau karena tidak jelas kariernya, maka hal itu sudah biasa. Tetapi perusahaan ini telah menjadi idola bagi lulusan baru. Berarti kinerja dia selama melakukan kerja praktek, dinilai sangat baik dan memenuhi kriteria untuk menjadi calon pegawai di perusahaan tersebut.

Setelah mengetahui perjalanan hidupnya yang penuh dengan lika-liku dan perjuangan, saya menjadi tidak heran lagi. Ternyata dia sangat mandiri, sejak menjadi mahasiswa tahun pertama, dia mencari sendiri biaya hidup dan kuliahnya. Pengalaman interpersonal dan hidup secara mandiri selama inilah yang membawa kesuksesannya, sehingga berhasil diterima di perusahaan minyak, seperti yang dia cita-citakan sejak SMA. Saya ikut bangga, bahwasanya dia lulus cumlaude dan menjadi lulusan tercepat di angkatannya, meskipun kuliah sambil kerja. Sekaligus saya terharu ketika mendengar ucapannya “Gaji pertama untuk orangtua, Pak”. Wallahu a’lam bishawab.


*) Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A. Guru Besar Universitar Gadjah Mada | Pimpinan Umum Majalah Fahma

Kajian Utama : Berbarokah Memimpin dengan Keshalihan


Oleh Bagus Priyosembodo

Para pemimpin mendapat perintah supaya bersikap lemah-lembut kepada rakyatnya, memberikan nasihat serta kasih sayang kepada mereka, tidak mengelabuhi dan bersikap kejam keras pada mereka, juga tidak  melalaikan kemaslahatan mereka, lupa mengurus mereka ataupun berbagai hal yang menjadi hajat kepentingan mereka

Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat dengan keadilan, berbuat baik dan memberi sedekah kepada kaum kerabat serta melarang perbuatan keji, kemungkaran dan kedurhakaan. Allah menasehatkan hal ini supaya kita semua dapat memperoleh peringatan yang bermanfaat.

Sifat bertanggungjawab penuh dan bersungguh untuk selamat di hari pengadilan agung kelak pasti membawa kebaikan. Bukan hanya pada puncak kepemimpinan, akan tetapi di setiap tingkatan. Bahkan pada tiap orang. Tiap seseorang dari kita semua adalah penggembala dan setiap seorang dari kita semua itupun akan ditanya perihal penggembalaannya. Pemimpin adalah penggembala dan akan ditanya perihal penggembalaannya. Seorang lelaki adalah penggembala dalam keluarganya dan akan ditanya perihal penggembalaannya. Seorang wanita adalah penggembala dalam rumah suaminya dan akan ditanya perihal penggembalaannya. Buruh adalah penggembala dalam harta majikannya dan akan ditanya perihal penggembalaannya. Jadi setiap seorang dari engkau semua itu adalah penggembala dan tentu akan ditanya perihal penggembalaannya.

Tiada seorang hamba pun yang diserahi oleh Allah untuki memimpin sesuatu umat atau bangsa, lalu ia mati pada hari kematiannya, sedang di kala itu ia dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah mencegahnya mendapat kenikmatan akherat. Juga seorang pemimpin yang  tidak bersungguh-sungguh memberikan kemanfaatan kepada mereka, tidak  mengusahakan kebaikan dan menolak bahaya.

Aisyah mendengar Rasulullah mendoa, “Ya Allah, barangsiapa yang menguasai sesuatu dari urusan pemerintahan umatku, kemudian ia membuat kesengsaraan pada mereka, maka berilah kesengsaraan kepada orang itu sendiri, sedang barangsiapa yang menguasai sesuatu dari urusan pemerintahan umatku, kemudian ia menunjukkan kasih sayang kepada mereka, baik ucapan ataupun perbuatannya, maka kasih sayangilah orang itu”. Para penguasa dan pemimpin jelek akan tertimpa doa ini.  

Barangsiapa yang diserahi oleh Allah sesuatu kekuasaan dari beberapa urusan kaum Muslimin, kemudian orang itu menutup diri - tidak memperhatikan - perihal hajat, kepentingan atau kefakiran orang-orang yang di bawah kekuasannya, maka Allah juga akan menutup diri - yakni tidak memperhatikan - perihal hajat, kepentingan atau kefakirannya pada hari kiamat. Sejak saat itu Mu'awiyah lalu mengangkat seorang untuk mengurus segala macam keperluan orang banyak.

Sesungguhnya Allah itu memerintahkan keadilan, berbuat baik dan memberikan bantuan kepada kaum kerabat, Berlaku adillah, sesungguhnya Allah itu mencintai orang-orang yang berlaku adil. Ada tujuh macam orang yang akan diberi naungan oleh Allah dalam naungannya pada hari itu tiada naungan melainkan naungan Allah, di antara nya adalah pemimpin  yang adil. Sesungguhnya orang yang berlaku adil itu di sisi Allah akan menempati beberapa mimbar dari cahaya. Mereka itu ialah orang-orang yang adil dalam menetapkan hukum, juga terhadap keluarga dan perihal apapun yang mereka diberi kekuasaan untuk mengaturnya

Pemimpin pilihan ialah orang-orang yang dipimpinnya mencintai mereka dan mereka pun mencintainya, juga yang pengikutnya mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan. Adapun pemimpin yang buruk ialah orang-orang yang dipimpinnya membenci mereka dan mereka pun membenci pengikutnya, juga yang pengikutnya melaknat mereka dan mereka pun melaknat.

Para pemimpin diperintahkan supaya mengangkat pembantu yang baik. Juga diperingatkan dari kawan yang buruk serta mempercayai keterangan yang datang dari mereka Itu.  Apabila Allah menghendaki seorang pemimpin menjadi baik, maka Allah membuat untuknya staf dan segenap pembantu yang benar. Jikalau pemimpin itu lupa dari melaksanakan kebaikan, maka para pembantu  itu mengingatkannya dan jika pemimpin itu ingat untuk melakukan kebaikan, maka para pembantu itu akan membantu dengan sepenuh hati. Tetapi apabila seorang pemimpin menjadi pemimpin yang jelek, maka Allah membuat untuknya pembantu yang jelek pula. Jikalau pemimpin itu lupa dari melaksanakan kebaikan  maka pembantu  itu tidak suka mengingatkannya dan jikalau pemimpin itu telah ingat untuk melaksanakan kebaikan maka para pembantu itupun tidak suka membantu melakukan kebaikan.


*) Bagus Priyosembodo, Redaktur Ahli Majalah Fahma | Guru 

Kajian Utama : Kepemimpinan Sekolah dan Budaya Sekolah Sukses


Oleh Irwan Nuryana Kurniawan

Ada banyak perhatian yang sudah diberikan untuk membuat sekolah-sekolah menjadi lebih baik. Para pembuat kebijakan menginginkan sekolah-sekolah untuk berubah secara cepat dan lebih tanggap terhadap mandat yang diberikan oleh undang-undang negara. Sebagian besar respon lebih menekankan pada penguatan struktur, melakukan standarisasi kurikulum, mengevaluasi performa siswa, dan membuat sekolah-sekolah lebih akuntabel. Dalam jangka pendek, solusi-solusi semacam ini mungkin menekan sekolah-sekolah untuk mengubah sejumlah praktek/kebiasaan dan untuk sementara meningkatkan nilai ujian. Dalam jangka panjang, tuntutan-tuntutan struktural semacam ini tidak akan pernah mampu menyaingi pengaruh espektasi-espektasi, motivasi-motivasi, dan nilai-nilai budaya

Pada level yang lebih kompleks, semua organisasi, termasuk sekolah-sekolah, membaik performanya dengan mengembangkan sebuah sistem norma, nilai, dan tradisi yang disepakati  bersama. Hal tersebut menyebabkan setiap usaha dilakukan penuh dengan gairah, semangat, dan bertujuan. Sekolah-sekolah akan berfungsi optimal ketika orang-orang di dalamnya dengan penuh antusias meyakini dan memegang teguh nilai-nilai kunci, norma-norma utama, dan tradisi-tradisi penting. Kunci untuk keberhasilan performansi sekolah adalah ‘merasuknya” nilai-nilai, norma-norma, dan tradisi-tradisi utama tersebut ke dalam hubungan-hubungan antar pribadi, usaha-usaha mereka untuk melayani semua siswa, dan rasa tanggungjawab bersama terhadap proses belajar. Tanpa hal tersebut, sekolah-sekolah akan menjadi gedung-gedung belajar tanpa jiwa, gairah, dan ruh.

Budaya sekolah yang kuat dan positif tidak terjadi begitu saja. Budaya sekolah yang kuat dan positif dibangun sekian lama oleh pihak-pihak pemangku kepentingan di sekolah, termasuk dan terutama oleh kepemimpinan sekolah yang mendorong dan menegakkan nilai-nilai, norma-norma, dan tradisi-tradisi utama. Banyak sekolah berkembang lambat dan mengalami banyak kesulitan dengan budaya sekolah yang lemah atau tidak fokus disebabkan “lemahnya” kepemimpinan dan kurangnya kepedulian. Sebaliknya banyak sekolah yang berkembang pesat dengan budaya sekolah yang positif dan fokus karena didukung oleh guru-guru yang berjiwa kepemimpinan dan kepala sekolah yang secara terencana maupun tidak terencana memperkuat “best practices” yang paling mungkin dicapai sekolah.

Kepemimpinan sekolah harus membentuk dan menyediakan “nutrisi” bagi budaya sekolahnya di mana setiap guru bisa memberikan perbedaan (memiliki peran penting) dan setiap anak bisa belajar. Kepemimpinan sekolah harus memiliki gairah dan komitmen untuk merancang dan mempromosikan semua kemungkinan terbaik yang bisa diraih sekolah. Untuk bisa menjalankan fungsi tersebut, kepemimpinan sekolah, menurut Peterson dan Deal (2009) harus mampu membaca “petunjuk-petunjuk” budaya, memikirkan dan mempertimbangkan kembali pola-pola dan cara-cara yang berlaku, dan memperkuat atau bahkan mentransformasi budaya.

Sangat penting bagi seorang pemimpin untuk “membaca” praktek-praktek kultural yang “berlaku dan berlangsung” di sekolah untuk bisa memahami unsur-unsur utama dari budaya sekolahnya. Mereka perlu membicarakan, memikirkan, dan mempertimbangkan kembali akar dari unsur-unsur utama budaya sekolahnya sekarang ini. Selama proses ini, seorang pemimpin sedang memaknai dan secara intuitif mengenali cara-cara yang positif (baca: memuaskan) maupun cara-cara yang negatif, menekan, atau bahkan merusak.

Pimpinan sekolah perlu mengidentifikasi norma-norma, nilai-nilai, ritual-ritual, dan tradisi-tradisi yang positif dan mendukung untuk memahami makna cerita-cerita dan untuk mengetahui arti penting simbol-simbol yang berlangsung dan berlaku di sekolahnya. Selain itu, pimpinan sekolah juga perlu menemukan aspek-aspek budaya sekolah yang mungkin negatif, merusak, atau bahkan meracuni. Hal-hal positif apa yang perlu lebih sering diperkuat dan hal-hal negatif apa yang perlu dihilangkan.  Pimpinan sekolah perlu bekerja dalam cara-cara yang beragam untuk memperkuat pola-pola budaya yang positif dan memberikan perhatian penuh secara terus menerus. Selain itu, ciri-ciri yang negatif perlu ditransformasi, diubah menjadi budaya positif, seperti sebuah misi yang berfokus pada belajar siswa dan guru, keyakinan positif tentang potensi siswa maupun guru untuk belajar dan berkembang, rasa tanggungjawab bersama terhadap keberhasilan siswa, dan lain sebagainya.


*) Irwan Nuryana Kurniawan, Pemimpin Redaksi Majalah Fahma | Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia