» » Kajian Utama : Berbarokah Memimpin dengan Keshalihan

Kajian Utama : Berbarokah Memimpin dengan Keshalihan

Penulis By on Tuesday, February 10, 2015 | No comments


Oleh Bagus Priyosembodo

Para pemimpin mendapat perintah supaya bersikap lemah-lembut kepada rakyatnya, memberikan nasihat serta kasih sayang kepada mereka, tidak mengelabuhi dan bersikap kejam keras pada mereka, juga tidak  melalaikan kemaslahatan mereka, lupa mengurus mereka ataupun berbagai hal yang menjadi hajat kepentingan mereka

Sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat dengan keadilan, berbuat baik dan memberi sedekah kepada kaum kerabat serta melarang perbuatan keji, kemungkaran dan kedurhakaan. Allah menasehatkan hal ini supaya kita semua dapat memperoleh peringatan yang bermanfaat.

Sifat bertanggungjawab penuh dan bersungguh untuk selamat di hari pengadilan agung kelak pasti membawa kebaikan. Bukan hanya pada puncak kepemimpinan, akan tetapi di setiap tingkatan. Bahkan pada tiap orang. Tiap seseorang dari kita semua adalah penggembala dan setiap seorang dari kita semua itupun akan ditanya perihal penggembalaannya. Pemimpin adalah penggembala dan akan ditanya perihal penggembalaannya. Seorang lelaki adalah penggembala dalam keluarganya dan akan ditanya perihal penggembalaannya. Seorang wanita adalah penggembala dalam rumah suaminya dan akan ditanya perihal penggembalaannya. Buruh adalah penggembala dalam harta majikannya dan akan ditanya perihal penggembalaannya. Jadi setiap seorang dari engkau semua itu adalah penggembala dan tentu akan ditanya perihal penggembalaannya.

Tiada seorang hamba pun yang diserahi oleh Allah untuki memimpin sesuatu umat atau bangsa, lalu ia mati pada hari kematiannya, sedang di kala itu ia dalam keadaan menipu rakyatnya, melainkan Allah mencegahnya mendapat kenikmatan akherat. Juga seorang pemimpin yang  tidak bersungguh-sungguh memberikan kemanfaatan kepada mereka, tidak  mengusahakan kebaikan dan menolak bahaya.

Aisyah mendengar Rasulullah mendoa, “Ya Allah, barangsiapa yang menguasai sesuatu dari urusan pemerintahan umatku, kemudian ia membuat kesengsaraan pada mereka, maka berilah kesengsaraan kepada orang itu sendiri, sedang barangsiapa yang menguasai sesuatu dari urusan pemerintahan umatku, kemudian ia menunjukkan kasih sayang kepada mereka, baik ucapan ataupun perbuatannya, maka kasih sayangilah orang itu”. Para penguasa dan pemimpin jelek akan tertimpa doa ini.  

Barangsiapa yang diserahi oleh Allah sesuatu kekuasaan dari beberapa urusan kaum Muslimin, kemudian orang itu menutup diri - tidak memperhatikan - perihal hajat, kepentingan atau kefakiran orang-orang yang di bawah kekuasannya, maka Allah juga akan menutup diri - yakni tidak memperhatikan - perihal hajat, kepentingan atau kefakirannya pada hari kiamat. Sejak saat itu Mu'awiyah lalu mengangkat seorang untuk mengurus segala macam keperluan orang banyak.

Sesungguhnya Allah itu memerintahkan keadilan, berbuat baik dan memberikan bantuan kepada kaum kerabat, Berlaku adillah, sesungguhnya Allah itu mencintai orang-orang yang berlaku adil. Ada tujuh macam orang yang akan diberi naungan oleh Allah dalam naungannya pada hari itu tiada naungan melainkan naungan Allah, di antara nya adalah pemimpin  yang adil. Sesungguhnya orang yang berlaku adil itu di sisi Allah akan menempati beberapa mimbar dari cahaya. Mereka itu ialah orang-orang yang adil dalam menetapkan hukum, juga terhadap keluarga dan perihal apapun yang mereka diberi kekuasaan untuk mengaturnya

Pemimpin pilihan ialah orang-orang yang dipimpinnya mencintai mereka dan mereka pun mencintainya, juga yang pengikutnya mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan. Adapun pemimpin yang buruk ialah orang-orang yang dipimpinnya membenci mereka dan mereka pun membenci pengikutnya, juga yang pengikutnya melaknat mereka dan mereka pun melaknat.

Para pemimpin diperintahkan supaya mengangkat pembantu yang baik. Juga diperingatkan dari kawan yang buruk serta mempercayai keterangan yang datang dari mereka Itu.  Apabila Allah menghendaki seorang pemimpin menjadi baik, maka Allah membuat untuknya staf dan segenap pembantu yang benar. Jikalau pemimpin itu lupa dari melaksanakan kebaikan, maka para pembantu  itu mengingatkannya dan jika pemimpin itu ingat untuk melakukan kebaikan, maka para pembantu itu akan membantu dengan sepenuh hati. Tetapi apabila seorang pemimpin menjadi pemimpin yang jelek, maka Allah membuat untuknya pembantu yang jelek pula. Jikalau pemimpin itu lupa dari melaksanakan kebaikan  maka pembantu  itu tidak suka mengingatkannya dan jikalau pemimpin itu telah ingat untuk melaksanakan kebaikan maka para pembantu itupun tidak suka membantu melakukan kebaikan.


*) Bagus Priyosembodo, Redaktur Ahli Majalah Fahma | Guru 
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya