» » Menggagas Konsep Pendidikan Tauhid

Menggagas Konsep Pendidikan Tauhid

Penulis By on Monday, February 16, 2015 | No comments


Oleh Imam Nawawi

Semua orang tentu sangat terkejut dengan kondisi bangsa hari ini. Bagaimana tidak, ahli hukum justru melanggar hukum. Belum lagi situasi perekonomian global yang cenderung memburuk. Padahal seperti kita ketahui bersama, ahli di berbagai bidang tersebut juga tidak sedikit jumlahnya.

Dari sudut pandang Islam, problematika besar yang melanda kemanusiaan di abad ini disebabkan oleh gerakan pemujaan akal dan pengabaian secara sengaja terhadap mu’jizat akhir zaman yakni al-Qur’an. Atas situasi tersebut Prof. Dr. M. Naquib Al-Attas menjabarkan secara cermat dan menyeluruh, perlunya penerapan gagasan Islamisasi Ilmu.

Secara historis-normatif, apa yang terjadi hari ini merupakan satu keberhasilan upaya Iblis, musuh nyata seluruh umat manusia dalam menjauhkan mereka semua dari jalan wahyu.

Sejak pertama kali diciptakan sebagai seorang khalifah, Allah telah memberikan penegasan kepada Adam bahwa Iblis adalah musuh yang nyata baginya dan seluruh keturunan umat manusia. Bahkan dalam al-Qur’an telah jelas sekali mengapa iblis yang lebih senior daripada Adam, justru terlempar dari surga dan hidup dalam kutukan Allah. Tiada lain dan tiada bukan karena Iblis gagal memanfaatkan akalnya dengan baik.

Akal yang diberikan Allah kepada iblis ia gunakan untuk mendebat perintah Allah. Dengan argumentasi rasionalitasnya, iblis berkeyakinan protesnya kepada Allah untuk tidak hormat kepada Adam akan dibenarkan. Ternyata tidak, Allah langsung murka kepada Iblis dan mengutuknya hingga akhir zaman, kemudian akan disiksa selama-lamanya di dalam neraka.

Paparan Allah dalam al-Qur’an itu mengindikasikan satu kehendak kuat bahwa semestinya manusia benar-benar tunduk, patuh, dan taat kepada Allah semata, seperti apapun akal memandang perintah tersebut. Suka tidak suka, perintah Allah harus dilaksanakan dan segala larangan harus ditinggalkan.

Termasuk dalam dunia pendidikan. Tujuan pendidikan hendaknya tidak direduksi hanya pada aspek material semata. Pendidikan seharusnya justru mengintegrasikan kekuatan besar manusia, yaitu akal dan jiwa. Akal membutuhkan informasi, dan jiwa sangat membutuhkan petunjuk (wahyu). Oleh karena itu kita perlu satu konsep pendidikan yang berbasis tauhid.

Tugas membangun pendidikan berbasis tauhid ini bukan monopoli atau tanggung jawab para guru semata. Ini adalah tugas kita bersama. Bagaimana kita mewujudkannya? Beberapa langkah berikut diharapkan mampu memberikan satu jawaban konsepsional dan praktik sekaligus.

Pertama, bermujahadah dalam mentadabburi, mentafakkuri kandungan kitab suci al-Qur’an dan mengamalkannya secara massal bahkan kolossal. Tidak bisa hanya pribadi, atau kelompok semata. Tetapi harus serempak dan sinergis berkesinambungan.

Kedua, meninggalkan paham anthroposentris dan segera menuju pada paham tauhidi. Sebagaimana atsar Ali bahwa, akal dan wahyu ibarat dua tanduk yang tidak bisa dipisahkan apalagi dipertentangkan. Maka, tidak ada ruang bagi jargon, agama jangan pakai akal, atau pun akal tidak perlu agama, sebagaimana kampanye para pemikir Barat kontemporer yang dipelopori oleh Rene Descartes dengan cogito ergo sum-nya.

Ketiga, seluruh umat Islam berkewajiban meningkatkan kepekaan atau sensitivitas terhadap kondisi umat Islam secara menyeluruh, sehingga lahir kepedulian yang tinggi untuk bersama-sama mengambil peran dalam menjawab tantangan zaman.

Keempat, mulailah satu gerakan walau kecil untuk mencintai dan memakmurkan masjid. Setidaknya dengan cara meramaikan pelaksanaan sholat jama’ah di masjid lima waktu, meningkatkan kuantitas dan kualitas kegiatan keilmuan di masjid, bahkan mungkin kegiatan ekonomi di masjid.

Kelima, setiap muslim hendaknya meningkatkan kualitas diri dengan mempertajam bekal keilmuan ukhrowi dan duniawi sekaligus. Kita tidak boleh hanya paham satu ilmu dan lali terhadap ilmu yang lain. Bukankah para nabi kita adalah orang yang ahli dalam ilmu-ilmu ukhrawi dan duniawi sekaligus?

Nabi Nuh ahli perkapalan. Nabi Ibrahim seorang arsitek pembangunan. Nabi Yusuf seorang pakar ekonomi yang berhasil menyelamatkan umatnya dari ancaman kelaparan. Nabi Isa juga ahli kesehatan. Dan, nabi kita, Rasulullah Muhammad juga seorang pakar ekonomi, pakar bisnis, bahkan pakar dalam segala bidang.

Begitu pula para alim ulama kita di masa lalu. Ibn Sina pakar kesehatan juga ahli hadis. Fakhruddin al-.Razi pakar sastra, tafsir, bahkan juga logika. Imam Ghazali pakar filsafat sekaligus seorang sufi. Nah, saatnya beralih menuju pendidikan berbasis tauhid.

*) Imam Nawawi, Penulis di hidayatullah.com | Pemimpin Redaksi Majalah Mulia | twitter @abuilmia
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya