» » Menumbuhkan Kedekatan Ayah dan Anak

Menumbuhkan Kedekatan Ayah dan Anak

Penulis By on Friday, February 20, 2015 | No comments


Oleh Arif Wicaksono

Anak yang sehari-hari lebih banyak dengan ibunya mungkin akan kurang nyaman bersama ayah karena tidak terbiasa. Sejak dalam kandungan, anak memang lebih dulu mengenal dan menjalin kedekatan dengan ayah. Kedekatan dengan ayah seringkali terbentur keterbatasan waktu karena ayah harus bekerja.

Menjadi ayah yang baik perlu proses pembelajaran yang panjang. Mungkin karena itu, banyak ayah yang putus asa dan merasa tidak sanggup dekat dengan anak seperti yang dilakukan ibu. Ada beberapa alasan yang membuat ayah tidak dekat dengan anaknya.  Pertama, hampir semua ayah bilang, “Ternyata susah ya, jadi ayah yang baik. Tidak semudah yang dibayangkan.” Banyak calon ayah yang membayangkan betapa asyikmya memiliki anak, bisa bermain bersama dan sebagainya. Namun lupa pada hal yang ‘tidak enak’, misalnya kala si kecil sakit, rewel atau bandel. Kala itu terjadi, banyak ayah yang kaget. Ayah harus bisa lebih sabar, pemurah, lebih cinta dan pemaaf pada anaknya.

Kedua, sebab sejak awal ayah tidak ‘hidup’ bersama sang anak. Karena itu, mulailah dekati anak sejak dia belum lahir. Ayah bisa melakukannya dengan mengelus-elius perut ibu saat hamil atau menempelkan telinga, mengajak bicara, membcakan Al Qur’an dan sebagainya. Bisa juga menemani istri saat cek kandungan. Ketiga, banyak ayah yang melihat anak sebagai ‘pengganggu’. Misalnya ketika ayah pulang dari kantor dan anak langsung menodong ngajak main kuda-kudaan. Dalam situasi seperti ini, banyak ayah yang menganggap hal ini sebagai beban. Menjadi ayah memang menimbulkan kecemasan dan kerepotan. Tapi kalau ayah sellau melihat sisi positifnya, ternyata menjadi ayah juga menyenangkan. Semakin ayah santai, semakin mudah menjalani peran sebagai ayah.

Keempat, ayah sering malas dejat dengan anak yang sulit diatur. Anak yang sulit diatur sebenarnya adalah anak yang merasa tidak aman, tidak merasa dicintai dan tidak berdaya. Supaya ayah tidak kehilangan kesabaran, belajarlah mengetahui apa yang diinginkan anak. Kelima, tekanan ekonomi. Setelah anak lahir, ayah merasa tanggungjawab dan beban keuangan semakin berat. Mencari pekerjaan tambahan atau kerja lembur membawa konsekuensi berkurangnya waktu kebersamaan ayah dan anak. Berpikrilah lebih realistis untuk mempertemukan antara kepentingan anak dan kemampuan financial.

Keenam, ayah masih dibayangi mitos bahwa secara alamiah, anak akan lebih dekat dengan ibunya daripada ayahnya. Hal ini akan membuat ayah menjaga jarak dengan anak. Karena itu, ubahlah pola pikir kita sebagai ayah. Jadilah ayah di era modern yang menunjukksn kepedulian terhadap anak.

Lakukan pula introspeksi, mengapa anak lebih dekat dengan ibunya. Sudahkah ayah dan ibu harus berbagi peran dan tugas selama ini? Apakah selama ini ayah hanya fokus pada pekerjaan sehingga lupa membangun kepedulian dan kedekatan dengan anaknya? Ayah merupakan mitra ibu dalam mendidik anak. Jadi, ayah harus terlibat dalam proses mengasuh dan mendidik anak secara intensif. Figur ayah sangat dibutuhkan anak dalam proses pertumbuhannya.||


Tips menumbuhkan kedekatan ayah dan anak:
  • Usahakan ayah hadir dalam aktivitas rutin anak, misalnya saat makan bersama
  • Ciptakan komunikasi rutin meski ayah sedang tidak ada di rumah, misalnya menelepon ke rumah pada saat istirahat jam kantor.
  • Luangkan waktu sepulang kantor untuk bermain bersama anak. Biasanya anak laki-laki sangat menyukai permainan ‘kasar’ dengan ayah seperti main kuda-kudaan. Jika sempat, luangkan pula bermain di pagi hari.
  • Jaga perasaan anak. Banyak ayah mungkin khawatir atau gelisah ketika berdua saja dengan anak (takut anak mengompol, dan sebagainya). Nah, kegelisahan ini bisa tertangkap oleh anak sehingga membuat anak merasa tidak nyaman.
  • Beri kesempatan anak ikut dalam aktivitas rutin ayah seperti mencuci, atau utak-atik motor meskipun dia hanya melihat saja. Biarkan anak bertanya, dan usahakan tidak terlalu banyak larangan agar anak menikmati kebersamaan dengan ayahnya.


*) Arif Wicaksono, Pemerhati dunia anak
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya