Belajar dari Uwais Al-Qarni



Oleh Yurisa Nur Hidayati

Banyak belajar dari Uwais Al-Qarni Raḥīmahullāh ... Ia arungi gurun, dari Yaman hingga Madinah. Sebatang kara dengan bekal seadanya. Demi menemui sosok yang sangat ia rindu dan sangat ia cinta.

Rindu yang menyesakkan dada, cinta yang menghujam, bahkan melebihi cintanya pada dirinya sendiri. Tak peduli terik, yang hanya dipikirkan hanya perjumpaan dengan Rasulullāh ṣalallāhu 'alayhi wa sallam.

Namun di balik usaha kerasnya, sesampai di Madinah tak jua ia jumpa Rasūlullāh. Rupanya Rasul sedang tidak berada di Madinah! Tidak ada yang lebih menyesakkan dari ini. Tak ada pilihan lain, Uwais harus segera berbalik ke Yaman demi baktinya pada ibunya yang buta.

Dari sepenggal ini saja, membayangkan jadi Uwais..... rasanya........
Tapi pasti pasti pasti orang sehebat Uwais tidak akan mengeluh. Tentulah sedih, tapi pasti tidak seperti kita yang kemudian suka mengeluh tanpa sadar, suka berburuk sangka pada Allāh.. Padahal perjuangan kita sama sekali belum seperti Uwais... Baru kerja sedikit, sudah minta hasil pada-Nya.. Susah sedikit merasa dimarahi, senang sedikit merasa dirahmati.. (jadi inget surat al-Fajr)...

Subḥānallāh... astaghfirullāh wa atūbu ilaih...

Tapi walaupun Uwais tak kunjung jumpa Rasūlullāh sekalipun seumur hidupnya, Rasūlullāh tahu akan kedatangan Uwais di Madinah. Allāh Ar-Raḥmān yang memberitahu tentunya. Dan Rasūlullāh pun mengabarkan pada seluruh sahabatnya, bahwa ada sosok bernama Uwais dari Yaman yang sama sekali ia tak dikenal penduduk bumi, tapi ia begitu ramai dibicarakan oleh penduduk langit (T.T)!!!!!!! Sampai-sampai Rasūlullāh berpesan pada 'Umar dan 'Ali jika menemui Uwais untuk minta didoakan agar Allāh mengampuni dosa-dosa mereka. Karena doa Uwais adalah doa yang tak akan ditolak..
Mā syā' Allāh T.T *ya Rabb, sampai Rasul memerintah Umar dan Ali untuk minta didoakan Uwais untuk diampuni.... padahal seberapa banyak sih dosa mereka... dibanding gw... T.T padahal Umar dan Ali adalah sahabat terdekat Rasul, yang pasti kalau berdoa juga diijabah.. pasti sungguh sungguh luar biasa bagaimana Allāh mengangkat derajat Uwais yang teramat shalih, yang teramat berbakti pada ibundanya... Uwais adalah contoh terhebat sepanjang masa dalam hal birrul walidain.. tidak ada dalam buku parenting psikologi sekuler manapun!

Sekarang Uwais tak hanya dikenal penduduk langit, ia juga menjadi teladan penduduk bumi hingga akhir zaman.. yang bahkan akhirnya kisahnya tertulis dalam blog ini, yang bukan di negara Arab, dan penulisnya sendiri tidak berlisan Arab.. Allāhu Akbar, beginilah cara Allāh memuliakan orang-orang shalih yang amalnya tersembunyi...

Kini, kita punya orangtua... alangkah hinanya, jika kita tidak masuk ke dalam Jannah-Nya sedangkan orangtua kita masih hidup.. Seperti yang pernah disabdakan Rasūlullāh ṣalallāhu 'alayhi wa sallam dalam riwayat Muslim:


Sangat hina, sangat hina, sungguh sangat hina.” Ditanyakan, siapa ya Rasul? Beliau menjawab: “Seseorang yang menemukan kedua orang tuanya atau salah satunya di masa tua mereka kemudian dia tidak dapat masuk surga” (Muslim)

*) Yurisa Nur Hidayati, Lulusan Psikologi UGM, sekarang tinggal di Padang
twitter @unirisa

Do'a Memohon Dijauhkan dari Pencitraan


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Ada do'a yang patut kita mohonkan kepada Allah Ta'ala seraya kita renungkan maknanya. Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa 'alaa alihi wa sallam mengajarkan kita untuk berdo'a:

‏اللهم لاتؤاخذني بما يقولون واغفرلي ما لايعلمون واجعلْني خيرا ممّا يظنّون

"Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang dikatakan oleh orang-orang (tentang diriku). Dan ampunilah aku dari apa yang tidak mereka ketahui (dari diriku). Dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka kira.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad).

Ada etika untuk mencantumkan keterangan sumber kitab jika hadis riwayat Bukhari yang dinukil tidak terdapat pada kitab shahihnya yang terkenal. Jika seseorang mengatakan riwayat Bukhari, itu berarti hadis yang terdapat dalam Al-Jami' ash-Shahih yang dikenal sebagai Shahih Bukhari. Tetapi jika diriwayatkan di kitab selain itu, maka harus disebutkan asalnya karena tidak pasti shahih.

Tak jarang orang berbicara tentang kita, atau menyampaikan pujian baik secara langsung ataupun tidak langsung semisal saat menuturkan biodata saat kita menjadi narasumber seminar, tetapi perkataan mereka melampaui apa yang sesungguhnya ada pada kita. Pujian yang melampaui keadaan sesungguhnya, baik berupa gambaran tentang keadaan kita maupun sifat yang dinisbahkan kepada kita, kadang muncul karena kesan yang mereka lihat, rasakan maupun dengar. Kadang pula kesan itu timbul akibat penceritaan orang lain, meskipun bukan tidak mungkin karena kita sendiri mengesankan lebih baik daripada sesungguhnya. Pujian itu bukanlah sesuatu yang patut kita syukuri, melainkan perkara yang kita patut memohonkan ampun kepada Allah Ta'ala sebagaimana do'a yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalamAdabul Mufrad tersebut.

Membaca do'a ini, malu rasanya dan khawatir jika kita merasa tenang dengan anggapan orang yang jauh lebih baik dibanding keadaan kita sendiri. Kita memohon ampun kepada Allah Ta'ala atas keburukan kita yang tidak diketahui orang lain sehingga atas sebab itu mereka memberikan pujian dan penghormatan melampui hak kita. Bukan kebaikan jika kita merasa senang dengan anggapan dan pujian orang yang melebihi keadaan kita sesungguhnya. Kita bahkan dapat berdosa karenanya. Tetapi alangkah sering diri ini merasa senang dengan anggapan orang dan bahkan sengaja menciptakan kesan yang tinggi.

Inilah yang senatiasa dikhawatiri oleh para salafuh shalih. Atas sebab itu pula mereka lebih menyukai sebutan Al-Faqir atau sebutan lain yang rendah hati. Bukan membuat julukan bombastis.

Tapi, bukankah kita dituntunkan untuk menjaga muru'ah (kehormatan diri)? Betul. Kita sangat perlu menjaga muru'ah, terlebih bagi seorang pendidik. Ini untuk menjaga agar tidak direndahkan, diremehkan. Bagi seorang yang berdakwah, menjaga muru'ah memang agar dirinya tidak direndahkan, tetapi tujuan yang lebih utama adalah agar agama ini tidak direndahkan saat tuntunan agama itu terlontar dari lisannya. Menjagamuru'ah juga dimaksudkan untuk menampakkan nikmat Allah Ta'ala sehingga ia tidak terlihat sebagai seseorang yang memelas perlu belas kasihan. Ia menjauhkan saudaranya sesama muslim dari sikap menghinakan. Dus, berbeda sekali antara menjaga kehormatan dengan menampakkan diri agar mengagumkan orang lain.

Bagian penting do'a yang tidak boleh kita lupakan adalah memohon agar Allah Ta'ala jadikan kita lebih baik daripada anggapan orang dengan sepenuhnya menyadari bahwa keadaan kita sekarang belum sebaik yang disangka orang. Kita memohon agar Allah Ta'ala baikkan diri kita seraya kita berusaha memperbaiki diri. Kita juga meneguhkan pada diri kita keyakinan dan penghayatan bahwa sesungguhnya segala puji hanyalah milik Allah Ta'ala. Baginya segala puji dan hanya Dia Yang Layak atas segala pujian. Setiap pujian kepada kita sesungguhnya menunjukkan sifat kepemurahan Allah Ta'ala yang telah mengucurkan nikmat kepada kita sehingga kita meraih kebaikan.

Wallahu a'lam bish-shawab.

*) Mohammad Fauzil Adhim | Penulis Buku

Secuil Kisah Pendiri Whats App



Ia lahir & besar di Ukraina dari keluarga yang relatif miskin. Di usia 16 tahun, ia nekat pindah ke Amerika, demi mengejar apa yang dikenal sebagai “American Dream” .

Pada usia ke-17, ia hanya bisa makan dari jatah pemerintah, nyaris menjadi gelandangan. Tidur beratap langit, beralaskan tanah. Untuk bertahan hidup, dia bekerja sebagai tukang bersih-bersih supermarket.

Hidupnya kian terjal saat ibunya didiagnosa kanker. Mereka bertahan hidup hanya dengan tunjangan kesehatan seadanya. Ia lalu kuliah di San Jose University. Tapi kemudian memilih drop out, karena lebih suka belajar programming secara autodidak.

Karena keahliannya sebagai programmer, pemuda tersebut diterima bekerja sebagai engineer di Yahoo! Ia bekerja di sana selama 10 thn. Di situ, ia berteman akrab dengan Brian Acton. Keduanya membuat sebuah program aplikasi di tahun 2009, setelah resign dari Yahoo!

Keduanya sempat melamar ke Facebook yang tengah menanjak popularitasnya saat itu, namun diitolak.

Facebook mungkin kini sangat menyesal pernah menolak lamaran mereka karena setelah beberapa tahun, program aplikasi mereka justru resmi dibeli Facebook dengan harga fantastis USD 19 Miliar (sekitar Rp 247 Triliun).

Pemuda itu bernama Jan Koum, pendiri “WhatsApp” yang fenomenal.
Beberapa waktu lalu, Jan Koum melakukan ritual yang mengharukan. Ia datang ke tempat dimana ia dulu saat berumur 17 tahun, setiap pagi antri untuk mendapatkan jatah makanan dari pemerintah. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding tempat ia dulu antri. Mengenang saat-saat sulit, dimana bahkan untuk makan saja ia tidak punya uang..

Pelan-pelan, air matanya meleleh. Ia tidak pernah menyangka perusahaannya dibeli dengan nilai setinggi itu. Ia pun mengenang ibunya yang rela menjahit baju buat dia demi menghemat. “Tak ada uang, Nak…”.

Ia menyesal tak pernah bisa mengabarkan berita bahagia ini kepada ibunya.


Dua Surga Bagi Orang Mukmin

DSC_1068
oleh Imam Nawawi
Orang mukmin adalah orang yang pasti beruntung baik di dunia maupun di akhirat (QS. 23: 1). Hal ini karena orang Mukmin jelas sifat dan karakternya, yang dari ucapan dan tindakannya benar-benar mencerminkan keimanan dalam hatinya.

Perhatiannya senantiasa tertuju kepada Allah, sehingga setiap saat seorang Mukmin mampu menjaga stabilitas bahkan terus meningkatkan kualitas keimanannya kepada Allah, terutama kala dalam menjalankan ketaatan kepada-Nya atau mendengarkan asma & ayat-ayat-Nya.
“Sesungguhnya orang-orang Mukmin ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal” (QS. 8: 2).
Dalam tafsir Ibn Katsir dijelaskan bahwa orang Mukmin itu bila disebut nama Allah, hatinya gemetar. Maksudnya takut kepada Allah, lalu menjalankan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya. Kemudian bertambah dan terus bertambah kuat keimanannya.
Oleh karena itu, orang Mukmin dengan sadar akan rela meninggalkan syahwat karena Allah demi kebahagiaan yang lebih baik dan kekal di sisi-Nya.
Dalam kitab Fawaidul Fawaid, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menjelaskan bahwa orang yang meninggalkan syahwat karena Allah baginya keselamatan dari azab Allah dan keberuntungan berupa limpahan rahmat-Nya.
Limpahan rahmat Allah itu berupa perbendaharan kekayaan Allah, simpanan kebaikan-Nya, kesenangan munajat dan kerinduan kepada-Nya, serta kebahagiaan dan kegembiraan karena-Nya. Yang semua itu sangat tidak mungkin hadir di dalam hati yang diisi dan dipenuhi dengan sesuatu selain Allah (syahwat).
Dengan demikian seorang Mukmin itu tidak memiliki cara pandang terhadap apapun kecuali semata karena Allah, sehingga alat ukurnya dalam melihat segala hal hanya Allah Ta’ala semata.
Atas hal itulah Rasulullah menjelaskan bahwa orang-orang Mukmin itu adalah orang-orang yang menakjubkan. Tiada apapun yang terjadi dalam hidupnya, melainkan berdampak kebaikan.
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya baik baginya. Dan yang demikian itu hanya ada pada seorang mukmin. Jika mendapat kesenangan dia bersyukur, maka syukur itu baik baginya. Dan jika mendapat musibah dia bersabar, maka sabar itu baik baginya” (HR. Muslim).
Ibnu Qayyim berkata, “Mukmin itu memandang kefakiran bersama Allah sebagai kekayaan, dan kekayaan tanpa bersama Allah adalah kefakiran; kemuliaan yang tidak dibarengi kebersamaan dengan-Nya adalah kehinaan, dan kehinaan yang disertai kebersamaan dengan Allah adalah kemuliaan; kenikmatan yang tidak diiringi kebersamaan dengan-Nya adalah azab, dan azab yang diiringi kebersamaan dengan-Nya adalah kenikmatan.”
Ringkasnya, menurut Ibun Qayyim Al-Jauziyah, “Mukmin itu adalah orang yang tidak memandang hidup ini kecuali dengan Allah dan bersama Allah. Kematian, kepedihan, kecemasan, dan duka cita, baginya adalah apabila tidak bersama Allah. Orang seperti inilah yang dikatakan telah memiliki dua surga, yakni surga yang disegerakan di dunia dan surga keabadian di hari kemudian.”*
Imam Nawawi | Pemimpin Redaksi Majalah Mulia twitter @abuilmia

Parenting : Mengasuh Tanpa Mengasihi


Oleh Mohammad Fauzil Adhim
KEMAJUAN teknologi membantu para orangtua dalam mengasuh anak tanpa mengasihi. Anak-anak tenang sehingga orangtua dapat semakin tenggelam dalam kesibukan yang seolah-olah sangat penting bagi kehidupan masyarakat.
Sibling rivalry atau perseteruan antar saudara lebih mudah dihindari dengan memanfaatkan teknologi canggih. Mudah, sederhana dan melalaikan. Mau tahu caranya? Dua anak yang nyaris sebaya tak perlu ribut bertengkar karena berebut roti tawar. Dua HP cukup untuk membuat mereka tenang, asyik dengan gadget, meski tak ada makanan yang disiapkan buat mereka. Berbekal gadget untuk masing-masing anak, mereka tidak perlu ribut satu sama lain. Tetapi mereka tidak pula bermain bersama.
Inilah paradoks teknologi informasi dan komunikasi (ICT: Information and Communication Technology). Makin canggih alat komunikasi, makin menjauhkan manusia dari komunikasi berkualitas. Makin bergeser pula fungsi informasinya ke arah hiburan semata. Kian banyak yang kecanduan gadget dari usia dini. Kasus anak kecanduan gadget bahkan telah menimpa semenjak anak usia 3 tahun sebagaimana terjadi di Korea Selatan tahun 2012. Kasus ini masih merebak hingga kini.
Bersebab kecanduan piranti digital, anak-anak tak lagi mengenal permainan yang menggalang kebersamaan dan kerjasama sekaligus mengasah empati semacam petak umpet atau gobag sodor. Ketika anak usia 3 tahun pun dapat terjangkiti digital addiction (kecanduan peranti digital), akan sulit bagi mereka untuk melakukan permainan alami. Anak-anak itu pun bahkan mengalami kesulitan untuk melakukan kontak sosial dan tatap muka dengan baik.Handicapped.
Maka, anak-anak yang tidak memiliki riwayat genetis maupun terpapar sebab-sebab fisik pencetus autisme, dapat mengalami gejala autisme. Mirip, tapi sama sekali berbeda. Muncul istilah autisme sosial (social autism), meskipun sebenarnya tak dikenal dalam kajian autisme. Sebab sesungguhnya mereka tidak autis. Jadi, autisme sosial sama sekali bukanlah istilah yang berhubungan dengan autisme. Tetapi ini lebih berkait akibat kecanduan gadget. Secara pribadi, saya lebih suka menggunakan istilah kecanduan gadget atau keterasingan diri, bukan autisme sosial, meskipun dampak kecanduan gadget memang luas.
Apa yang harus kita lakukan jika anak sudah kecanduan gadget? Ups. Periksa dulu, jangan-jangan kita yang perlu terapi terlebih dulu. Apa yang kita kerjakan pertama kali saat hadapi hidangan di resto? Jangan-jangan belum mencicipi sudah sebar foto.
Apa yang dapat kita lakukan? Beragam, sesuai kondisi anak. Tapi kunci pentingnya adalah kesediaan meluangkan waktu untuk anak kita. Sengaja meluangkan waktu akan menjadi saat berharga untuk anak kita. Inilah saatnya berbincang dan berbagi cerita dengan mereka. Semoga anak-anak kita merasakan betapa berharga kesempatan berjumpa, berbincang dan bercanda dengan kita. Mereka senantiasa merindui itu.
Gadget bukan terlarang. Tapi kita perlu menyiapkan mereka dan kita sendiri agar kehadirannya menjadi jalan kebaikan. Gadget benar-benar berfungsi sebagai teknologi informasi dan komunikasi.*
Mohammad Fauzil Adhim adalah penulis buku-buku parenting. Twitter; @kupinang

Kecerdasan Wanita dan Kemajuan Negara



Oleh Imam Nawawi

Dalam Islam dikenal satu postulat “Wanita adalah tiang negara.” Artinya, peradaban Islam tidak pernah menempatkan wanita secara tidak terhormat. Bahkan, Islam sangat menekankan pentingnya pemeliharaan kehormatan kaum wanita dengan mewajibkan penggunaan jilbab (menutup aurat).

Begitu pentingnya memelihara kehormatan kaum wanita, Allah sampai menyatakannya di dalam Al-Qur’an. “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. 33: 59).

Hal ini karena umumnya pelecehan wanita atau penodaan kehormatan wanita diawali dengan tidak adanya pengamanan terhadap aurat wanita, sehingga wanita dianggap bahkan dijadikan objek hawa nafsu kaum pria belaka. Inilah yang terjadi pada masa Yunani Kuno, masa Jahiliyah, hingga saat ini pada Peradaban Barat.

Jika dalam Islam wanita diwajibkan menutup aurat, maka di Barat terjadi sebaliknya, wanita dipersilakan bahkan dianggap hebat jika menanggalkan auratnya. Dan, hari ini, di negeri kita, sedang terjadi upaya penyelenggaraan kontes mempertontonkan wanita. Suatu agenda yang tidak saja ditolak dalam ajaran Islam, tetapi juga sangat dibenci oleh hati nurani, tradisi dan nilai-nilai keluhuran moral negeri ini.
Sungguh tidak pernah ada sebuah penerimaan terhadap konsep dan praktik ‘mempertontonkan’ wanita di negeri ini, apalagi semata-mata karena kecantikan fisik belaka. Karena dasar penilaian terhadap manusia itu hakikatnya tidak pada kecantikannya, tetapi kemanfaatannya bagi seluas-luas umat manusia.

Apabila, manusia diukur dari kecantikan dan ketampanannya, apa bedanya dengan kerbau, kambing dan sapi yang diukur berdasarkan kondisi fisiknya semata. Manusia itu diukur dari akal budinya, demikian kata Buya Hamka.

Itulah mengapa Indonesia, dalam sejarahnya tidak pernah memiliki tradisi buruk seperti itu (baca Miss World). Kecuali belakangan ini saja, yang nampaknya mendatangkan keuntungan tertentu bagi pihak-pihak yang berkepentingan sehingga terlihat begitu memaksakan kehendak dan menutup nurani dari kebenaran firman Ilahi.

Maka dari itu, kita berharap semoga pemerintah mengambil tindakan tegas untuk tidak mengizinkan dan melarang untuk selamanya segala macam acara yang seolah-olah mengangkat derajat wanita, tapi hakikatnya justru semakin merendahkan derajat wanita. Karena selain akan merusak budaya bangsa, juga akan berakibat pada kerusakan negara.

Ilusi Persamaan Gender

Satu argumen yang mengemuka untuk menjustifikasi wanita harus maju dan mandiri adalah argumen equality(kesetaraan). Argumen semacam ini muncul dan subur di dunia Barat, kemudian menjamur dan subur di Jepang, Korea, dan Singapura. Oleh karena itu di negeri itu wanita punya hak yang sama dalam hal apa pun, termasuk berpolitik.

Tetapi, fakta menunjukkan kondisi terbalik. Masuknya kaum wanita dalam gerakan persamaan gender yang digagas dunia Barat, yang dinilai mampu meningkatkan pembangunan suatu negara ternyata tidak relevan dengan kenyataan.

Wanita seperti di Jepang, Korea, Singapura dan Amerika serikat dan sebagainya telah menerapkan equality dan equal opportunity dalam pendidikan dan pekerjaan. Tetapi, faktanya, semua itu tidak mengangkat share income dalam keluarga.

Bahkan, korelasi antara equality dan kemajuan pembangunan hanyalah mimpi. Prosentase anggota parlemen di AS misalnya hanya 10,3%, di Jepang 6,7% di Singapura lebih kecil lagi, hanya 3,7%. Sementara di Indonesia telah mencapai angka 12,2%. Bahkan Undang-Undang menghendaki angka 30%.

Faktanya sederhana, ternyata Indonesia juga tidak lebih maju dari AS, Singapura dan Jepang, dalam semua bidang, khususnya bidang ekonomi. Sebaliknya, pelecehan terhadap kaum wanita justru kian meningkat. Pemerintah juga tidak kuasa melindungi hak-hak kaum wanita di area publik, seperti di bus way dan kereta yang merupakan tempat paling populer terjadinya pelecehan seksual.

Cerdaskan Wanita Indonesia

Selamanya bangsa Indonesia akan berada dalam kegagalan dan keterpurukan jika kaum wanitanya tidak dicerdaskan, utamanya aqidah dan akhlaknya. Hal ini jika mengacu pada postulat dalam Islam yang menilai wanita sebagai tiang negara.

Wanita memang lembut dan bertugas mengurus rumah tangga. Tetapi ia memiliki pengaruh positif yang tidak kecil jika didukung oleh kepribadian, kecerdasan dan keluhuran akhlak. Hadirnya Rasulullah sebagai pemimpin luar biasa juga karena disampingnya ada seorang wanita sekelas Khadijah. Wanita yang cerdas, profesional, dan berakhlak mulia. Artinya, lelaki tidak akan hebat jika tidak ada wanita hebat di sampingnya.

Nabi Ibrahim sangat berbangga dengan Ismail Alayhissalam, yang tumbuh menjadi anak sholeh yang sabar dan cerdas juga karena kesholehahan seorang Hajar sebagai ibu. Dalam tempo lama Ismail tak melihat sosok ayah, tetapi sang ibu mampu menanamkan aqidah, akhlak dan kecerdasan kepada putra tercintanya itu.

Lebih dari itu, lahirnya manusia-manusia hebat sekaliber Imam Syafi’i dan Imam Bukhari adalah suatu bukti bahwa kaum wanita (ibu) memiliki peran besar dalam kelanjutan perjuangan peradaban. Dan, ibu dari kedua ulama hebat itu tidak ada yang menjadi profesional di sebuah perusahaan atau menjadi praktisi di lembaga apa pun.

Mereka menjadi seorang ibu yang murni menjalankan tugas dan fungsinya sebagaimana kodrat seorang wanita, yakni mendidik, mengasuh dan membesarkan putra-putranya. Fakta bahwa ibu bisa mencerdaskan generasi berikutnya adalah fakta universal.

Dalam sejarah Thomas A. Edison, dari sang penemu lampu pijar itu kita juga dapat melihat bahwa dia termasuk sosok anak yang ditolak oleh dunia pendidikan di zamannya. Tetapi dengan kegigihan sang ibu untuk mengangkat moral, motivasi dan kinerjanya dalam pendidikan, Thomas A. Edison mampu menghasilkan sebuah karya dari eksperimen panjangnya menemukan lampu pijar. Jadi, wanita, utamanya ibu, memang harus cerdas dan mencerdaskan.

Hal ini menunjukkan bahwa, wanita yang cerdas utamanya aqidah dan akhlaknya sangat potensial menghasilkan generasi yang cerdas. Sebaliknya, wanita yang buruk (aqidah dan akhlaknya) akan menjadi bom waktu bagi sebuah bangsa dan negara.

Fakta lain juga bisa dilihat dari riwayat panjang lahir dan tumbuh kembangnya Umar bin Abdul Aziz. Pemimpin adil yang mampu membalikkan kondisi buruk menjadi baik hanya dalam tempo dua tahun itu ternyata adalah cucu dari seorang ibu yang berprofesi sebagai penjual susu yang diambil menantu oleh Umar bin Khaththab karena kejujurannya dengan putranya Ashim.

Pernikahan Ashim dengan gadis penjual susu ini melahirkan seorang putri bernama Laila yang kemudian populer dengan julukan Ummu Ashim yang kemudian menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan, dan akhirnya lahirlah, Umar bin Abdul Aziz.

Dengan demikian, seluruh pihak hendaknya menjaga, melindungi dan berupaya sekuat tenaga untuk mencerdaskan para wanita negeri ini. Karena, pembangunan ekonomi, teknologi dan pendidikan, akan berjalan sia-sia, jika wanitanya buruk akhlaknya dan rusak moralnya.

Pemerintah harus memahami ini dengan kejernihan hati, bahwa nasib negeri ini setengahnya ditentukan oleh kualitas akhlak dan moral wanitanya. Oleh karena itu, membangun ketangguhan negara jangan pernah mengabaikan kecerdasan aqidah dan akhlak kaum wanita. Karena sejarah telah membuktikan bahwa kecerdasan wanita adalah awal dari kejayaan suatu bangsa, negara bahkan peradaban. 

*) Imam Nawawi | Pemimpin Redaksi Majalah Mulia | Penulis di media Majalah Hidayatullah, hidayatullah.com, Koran republika , majalah fahma | twitter @abuilmia

Keluarga adalah Istana Paling Indah


Oleh O. Solihin

Waktu saya kecil inget banget, meski awalnya nggak paham kenapa orang tua saya cerewet banget melarang saya berantem deng­an kawan main, melarang saya supaya jangan masuk rumah orang sembarangan tanpa diizin­kan pemiliknya, menganjurkan saya untuk sopan santun kalo bermain, seringkali amat bawel dengan meminta supaya saya hormat sama orang yang lebih tua, supaya meminta maaf kalo memang saya bersalah. Wah, banyak banget deh aturannya. Saya sih nurut aja, meski nggak tahu ‘hikmah’ apa di balik semua larangan dan perintahnya. Saya berusaha untuk mereali­sasikan pesan tersebut tanpa pernah ngerti rencananya. Polos abis, nggak tahu apa-apa.

Nah, waktu besar dan udah bisa ngaji, karena suka ikut ke surau bareng anak-anak yang lain, pak ustadz ngasih penjelasan tentang banyak hal dari semua yang diajarkan orang tua saya di rumah. Ya, entah orang tua saya nggak mau ngejelasin karena mungkin percuma karena saya masih kecil, atau bisa juga kesulitan men­erjemahkannya. Tapi yang pasti, sampe seka­rang pelajaran itu amat berkesan bagi saya.
Nah, udah gedean dikit (baca: baligh), baru tahu bahwa memang sopan santun, berbuat baik sama keluarga dan juga kepada teman, meno­long orang lain, menghargai dan menghormati sesama bukan semata sikap moral, tapi memang adalah hukum syara, alias memang ada dasar hukumnya yang diajarkan dalam Islam. Begitu kata pak ustadz suatu saat. Aduh, nambah neh wawasan.

Kita semua mendambakan keluarga yang baik-baik. Ayah bertanggung jawab, ibu perha­tian, kakak penyayang, adik juga penurut. Nenek dan kakek menikmati masa tuanya dengan me­lihat perkembangan pribadi anak dan cucunya dengan baik. Keluarga penuh ceria, saling me­ngingatkan, mengamalkan ajaran-ajaran Islam dengan penuh ketaatan. Duh, indah banget deh. Pantes aja kalo Rasulullah mengilustrasikan kehidupan keluarga beliau yang penuh dengan keharmonisan, kebahagiaan, ketenangan, saki­nah, mawaddah, dan rahmah dengan ungkapan Baitiy jannatiy alias rumahku, surgaku.

Bersama keluargalah kita lebih ba­nyak berinteraksi, bersama keluarga pula kita lebih banyak punya waktu untuk belajar tentang makna hidup. Allah Ta’ala berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا
“Dan hendaklah takut kepada Allah, orang-orang yang seandainya meninggalkan di bela­kang mereka anak-anak yang lemah (iman, ilmu, dan amal), yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka, oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS an-Nisâ’ [4]: 9)

Kita semua berharap punya keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Kalo ada konflik, kita selesaikan baik-baik. Jangan sampai hawa nafsu yang jadi panglima, tetapi keikhlasanlah yang kita ke depankan. Konflik bukan berarti ben­cana, tapi konflik itu ibarat kerikil kecil yang bisa mendewa­sakan kita semua. Tapi yang pasti, taburkan ajaran Islam di dalam keluarga kita, insya Allah berkah. Yuk, kita bangun istana paling indah dalam hidup ini. 

Syukur-syukur bisa dengan lega menyebut: rumahku, surgaku.

*) O. Solihin, Motivator Remaja | twitter @osolihin | www.osolihin.net

SDIT Hidayatullah Jogja Ajarkan Wirausaha Ala Rasulullah


majalahfahma.com–Bertempat di halaman utama SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta, tanggal 20 Maret 2015 kemarin diadakan kegiatan ‘Entrepreneurship For Student.
Dengan mengangtak tema, “Menjadi Pengusaha Ala Rasulullah”  acara ini diikuti oleh 425 murid SDIT Hidayatullah dan dihadiri oleh para wali muird.
Subhan Birori,S.Ag, selaku Kepala Sekolah SDIT Hidayatullah membuka secara resmi kegiatan tersebut. Dalam sambutan pembukaanya, Subhan menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan kegiatan yang rutin dilaksanakan pada setiap semester, dengan tujuan untuk menggali potensi peserta didiknya dalam berwira usaha.
Subhan berharap agar dengan adanya kegiatan tersebut dapat menumbuhkan jiwa wirausaha para peserta didiknya, sehingga mereka mampu menjadi wirausahawan Muslim yang dapat mensuri tauladani Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wasallam dalam berbisnis, sehingga tema yang diusungnya “Menjadi Pengusaha Ala Rasulullah”.
Sementara itu Ibu Elis, salah satu wali murid SDIT Hidayatullah merasa sangat senang dan mendukung dilaksanakannya kegiatan tersebut. Ia  berharap agar kegiatan tersebut dapat dilanjutkan karena sangat bermanfaat untuk melatih kemandirian peserta didik di SDIT Hidayatullah.
Kegiatan tersebut terselenggara atas kerja sama SDIT Hidayatullah Yogyakarta dengan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) cabang Yogyakarta, dan Televisi Republik Indonsia (TVRI) Yogyakarta.
Hal itu disampaikan oleh Subliyanto,S.Pd.I selaku koordinator kegiatan yang sekaligus sebagai Kabag.Kemuridan SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta.
Menurut Subliyanto, kegiatan tersebut akan selalu dikembangkan dan dikemas dalam even yang sangat menarik guna menumbuhkan semangat belajar yang tinggi pada peserta didik di SDIT Hidayatullah Yogyakarta.
Subliyanto menambahakan bahwa bagian kemuridan SDIT Hidayatullah Yogyakarta, pada bulan April mendatang juga akan menyelenggarakan kegiatan Qisoh Islam yang akan mendatangkan pendongeng Muslim nasional, dengan melibatkan peserta didik dari luar SDIT Hidayatullah Yogyakarta.
Dengan kegiatan tersebut diharapkan mampu membangkitkan jiwa belajar para peserta didik di sekolah-sekolah islam khususnya di Sleman Yogyakarta.*/Yayan (Jogja)
Sumber berita : www.hidayatullah.com

Ketika Musik Menggema di Andalusia

foto republika.co.id

Oleh Mohammad Fauzil Adhim


Ziryab. Ini lelaki yang mengubah Andalusia dari puncak kejayaan sebagai pusat peradaban Islam hingga Islam nyaris tak bersisa di sana. Andalusia yang awalnya hidup dengan semangat berislam dan menekuni ilmu diniyah sepenuh kesungguhan, berpaling kepada musik hingga melalaikan.

Jika Imam Syafi’i meninggalkan Baghdad karena menghindari taghbir(musik religius) yang mulai muncul, maka Ziryab meninggalkan Baghdad untuk berpindah ke Andalusia justru membawa taghbir dan beragam musik lainnya. Lelaki keturunan Persia kelahiran Iraq ini menjadi sumber fitnah syubhat yang menemukan lahan suburnya di Andalusia. Pintunya adalah musik.

Ziryab, begitu namanya panggilannya, atau Abul Hasan ‘Ali Ibn Nafi‘ pula yang pertama kali mendirikan sekolah musik di Spanyol dan pada gilirannya menjadi model di segenap penjuru Eropa. Atas gagasan Ziryab, pemisahan laki-laki dan perempuan saat belajar, dihapus. Sejak masa itu, mulai digabung laki-laki dan perempuan dalam satu ruang kelas.

Perhatian dan kecintaan muslimin Andalusia pun bergeser dari telaah ilmu beralih kepada bernikmat-nikmat dengan musik. Memang isi lirik tidak selalu buruk. Alasan bermusik pun tampak mulia. Tapi secara pasti menggeser himmah (passion) dan iltizam ummat. Andalusia yang sebelumnya mengepakkan sayapnya ke semakin banyak belahan bumi, disambut sebagai pembebas, pelahan terpuruk ambruk.

Bermula dari dihidupkannya musik oleh Ziryab, muslimin Andalusia melemah iltizam (komitmen)nya kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dakwah pun segera surut, walaupun majelis tampak kian gegap gempita. Meski gemuruh Islam tampak semarak, tapi tidak lagi menggugah. Hilang barakah. Tak membangkitkan ghirah agama yang meluap-luap. Secara fisik, fasilitas memadai harta berlimpah. Tapi jiwa-jiwa yang bertekun dengan ilmu dan senantiasa menyiapkan diri semakin jauh. Muslimin yang awalnya zuhud dan memuliakan ilmu beralih mengagungkan dunia maupun penampilan seraya meyakini sebagai faktor penentu.

Pintu masuknya musik, Ziryab kemudian menciptakan gaya hidup untuk berlomba mode dalam busana. Beda karena waktu, musim dan acara. Jilbab untuk menghadiri majelis ilmu, walimah, jalan santai bersama keluarga atau acara lain pun seakan-akan harus berbeda.

Alasan kadang tampak mulia. Tapi dampaknya kemudian sangat menyedihkan ketika penggerak sesungguhnya berlomba-lomba gengsi busana.

Soal makan pun, Ziryab mengubah budaya masyarakat. Ada hidangan pembuka, utama (main course) serta hidangan penutup. Semuanya menggunakan alasan yang indah dan baik, termasuk alasan kesehatan. Tetapi semuanya menyeru kepada sikap meninggalkan sunnah. Begitu pun alasan estetika kerap dijadikan acuan. Ini wilayah yang netral awalnya. Tapi manakala didahulukan dari sunnah, inilah yang menjadi masalah besar.

Beragam alasan yang dikemas dan akhirnya menjadi sikap muslimin, merupakan pintu fitnah syubhat. Inilah yang akhirnya melemahkan ummat. Mereka lemah. Yang awalnya sangat disegani, berbalik diremehkan dan setiap tahun kekalahan mereka dirayakan hingga hari ini. Andalusia tak lagi punya gigi. Dan sebab runtuhnya bukan sedikitnya amunisi maupun kurangnya harta, tetapi karena hanyut oleh musik.

Teringatlah saya kepada sebuah hadis. Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam bersabda:


لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِى أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ

“Sungguh, benar-benar akan ada di kalangan umatku sekelompok orang yang menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat musik.” (HR. Bukhari).


Semoga catatan sederhana ini bermanfaat dan barakah. Semoga kita dapat mengambil pelajaran darinya.


*) Mohammad Fauzil Adhim | Penulis | Kolomnis Positive Parenting di Majalah Fahma

Hak Anak yang Wajib Dipahami Para (Calon) Suami

Foto Sakti/Salman Al Jogjawi (eks Sheila on Seven) dan putrinya

Oleh Imam Nawawi

Satu hal yang tidak boleh dilupakan oleh setiap individu yang ingin mengarungi bahtera rumah tangga adalah mengetahui sejak dini apa yang menjadi hak anak kepada orang tua. Pekara ini sangat penting untuk diperhatikan, agar biduk rumah tangga dapat berjalan dengan baik dan penuh keberkahan.
DR. Abdul Aziz Al-Fauzan dalam bukunya Fiqh At-Ta’amul Ma’a An-Nas mengatakan, di antara hak seorang anak atas ayahnya adalah bagaimana seorang ayah bisa memilihkan ibu yang baik baginya. Karena pada perjalanan rumah tangga nanti, mental dan sikap anak akan banyak dibentuk oleh watak dan kepribadian sang ibu.

Ayah yang baik memilih istri yang sholehah dan ibu yang baik bagi anak-anaknya
Seorang anak punya hak untuk memiliki ibu yang sholehah, yang bisa membina akhlak mereka, menjaga kekuatan iman di hati mereka, membangkitka takwa kepada Allah, serta menjaga dan memperhatikan hak-hak Allah dan hak-hak hamba-Nya.

Maka dalam konteks ini, DR. Abdul Aziz Al-Fauzan mengambil ilustrasi yang Allah tegaskan di dalam firman-Nya, “Dan tanah yang baik; tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan sizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana (QS. 7: 58).

Karena itu, wajib hukumnya bagi seorang pria untuk memilih calon istri yang sholehah. Karena itu sama dengan tanah yang subur yang sangat kita butuhkan untuk masa depan, iman dan ketakwaan keturunan kita sendiiri.

Dalam perkara ini, patut kita belajar dari apa yang telah dilakukan oleh Abu Aswad Ad-Du’ali, seorang alim yang juga berkontribusi merumuskan kaidah ilmu nahwu. Ia berkata kepada anak laki-lakinya, “Wahai anak-anakku, aku telah berlaku baik terhadap kalian pada saat kalian masih kecil sampai besar, bahkan sebelum kalian dilahirkan”.

Anak-anaknya pun berkata, “Bagaimana ayah berbuat baik sebelum kami lahir? Ad-Duali menjawab, “Aku telah mencarikan untukmu sosok seorang wanita yang dapat merawat, menjaga dan tidak membuat kesulitan bagimu”.

Oleh karena itu, Rasulullah mewasiatkan agar setiap Muslim memilih Muslimah Shalehah yang sepadan, cerdas, dan berakhlak, berasal dari keluarga yang terpuji, keturunan yang baik dan berakhlak mulia. Karena semua itu akan sangat berpengaruh terhadap kesuksesan seorang anak dalam segala hal. Termasuk keistiqomahan dalam agama, mulianya etika dan akhlak.

Sayyidah Aisyah meriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu Alayhi Wasallam bersabda, “Pilihlah wanita yang tepat untuk menanm benihmu, maka nikahilah wanita-wanita yang sepadan dan hendaklah kalian menikahkan mereka” (HR. Abu Daud).

Jadi betapa sangat pentingnya seorang Muslim menikah dengan Muslimah Sholehah. Orang berkata, “Ibu adalah ibarat sekolah, apabila engkau ersiapkan dengan baik, maka ia akan mencetak murid-murid yang teladan dan baik perangainya”.

Kisah Ayah Durhaka

Dalam kitab Tanbih Al-Ghafilin dikisahkan. Suatu saat, datang seorang lelaki kepada Umar bin Khattab Radhiyallahu anhu. Orang itu mengadukan perihal kedurhakaan anaknya. Umar pun langsung menghadirkan anak dimaksud dan memperingatkan bahwa dia telah durhaka terhadap ayahnya.

Tapi kemudian si anak berkata, “Wahai amirul mu’minin, bukankah seorang anak memiliki hak atas ayahnya?” Umar menjawab, “Benar”. Anak itu lalu berkata, “Hak apakah itu, wahai amirul mu’minin?” Umar menjawab, “Ia harus mencarikan seorang ibu yang shalehah untuknya, memberikan nama yang bagus dan mengajarkannya Al-Qur’an”.

Anak lelaki itu berkata lagi, “Wahai amirul mu’minin, sesungguhnya ayahku tidak pernah mengerjakan satu pun dari hal-hal yang engkau sebutkan tadi. Ibuku adalah seorang keturunan Afrika yang beragama Majusi, dia memberiku satu nama yang buruk, dia juga tidak pernah mengajarkan Al-Qur’an walau satu huruf”.

Umar pun berpaling kepada sang ayah dan berkata kepadanya, “Engkau datang kepadaku mengadukan anakmu yang durhaka, padahal engkau telah mendurhakainya sebelum dia mendurhakaimu, engkau telah berbuat keburukan keapdanya sebelum dia melakukan keburukan itu kepadamu”.

Jadi, perkara mencari pasangan bukanlah perkara yang bisa dianggap remeh. Alhamdulillah di Pesantren Hidayatullah ada tradisi Nikah Mubarokah yang menuntun para santri untuk menikah dalam dakwah, menikah untuk dakwah, dan menikah demi dakwah.

Hak-Hak Lainnya

Seorang anak, selain berhak mendapat ibu yang sholehah, ia juga berhak atas nama yang bagus. Al-Dalam kitab Nashihah Al-Muluk, Imam Mawardi berkata, “Apabila seorang anak dilahirkan, maka penghormatan dan kebaikan pertama baginya adalah menghiasi dirinya dengan nama yang bagus, lembut dan mulia. Sesungguhnya nama yang baik akan terkesan sesuai dengan kondisi diri saat pertama kali nama tersebut didengar”.

Setelah memberi nama yang baik, hak berikutnya adalah menyembelih hewan aqiqah. Dua kambing untuk anak lelaki dan satu kambing untuk anak perempuan. Hukum aqiqah ini, menurut jumhur ulama adalah sunnah muakkadah (sangat ditekankan). Kemudian, memberikan nafkah yang halal dan baik, memberikan pendidikan, berlaku adil terhadap anak-anaknya, dan terakhir menikahkannya.

Dengan demikian, maka menikah sebenarnya bukan saja perkara badaniah, lebih jauh menikah adalah masalah peradaban. Oleh karena itu, bersungguh-sungguhlah dalam upaya menentukan calon pasangan, karena dari pasangan itulah, masa depan keluarga akan terwujud indah dan bahagia. Lebih jauh, dari pernikahan itulah, suatu bangsa akan semakin baik atau sebaliknya.

Jadi, bagi para suami atau calon suami, hendaknya benar-benar memperhatikan siapa yang akan menjadi ibu dari anak-anak Anda. Karena ibu adalah madrasah pertama anak-anak Anda. 


*) Imam Nawawi | Pemimpin Redaksi Majalah Mulia | twitter @abuilmiaa