» » Benar Dulu, Baru Manfaat

Benar Dulu, Baru Manfaat

Penulis By on Tuesday, March 17, 2015 | No comments



Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Yang netral dapat dipergunakan untuk kebaikan maupun keburukan. Nilainya tergantung pada penggunaan. Ini serupa dengan perkara mubah dalam agama. Yang haq dapat dipergunakan untuk kebaikan, pun keburukan. Kita menjumpai orang yang menggunakan kalimat haq untuk tujuan bathil. Apa ia katakan adalah kebenaran, tetapi dipergunakan dalam rangka mendukung kebathilan. Yang demikian ini serupa dengan ibadah fardhu; orang dapat mengerjakan tapi bukan dalam rangka taat. Selain itu, orang dapat melakukan untuk niat yang salah. Maka dalam hal ini, dua hal yang diperlukan, yakni benar dalam melaksanakan dan lurus dalam niat.

Adapun yang bathil, digunakan untuk kebaikan pun tetap bernilai bathil. Itu sebabnya, sebelum mengamalkan, kita perlu tahu haq atau bathil. Meskipun kita pergunakan untuk kebaikan, apa yang pada asalnya bathil, tetaplah tidak menghasilkan kebaikan. Ini serupa dengan orang yang berinfaq-shadaqah dari harta yang haram. Ia mencuri, ia korupsi, dan ia mempergunakan sebagian hartanya untuk beramal. Meski dipergunakan untuk melakukan amal shalih, tetapi ia tetap terhitung salah.

Maka, penting sekali mengetahui haq ataukah bathil yang kita pelajari, termasuk untuk pengembangan diri. Bukan bergantung pada persepsi. Haq maupun bathil ukurannya adalah ketetapan dalam agama sebagaimana dapat kita temukan dalam nash yang shahih, yakni Al-Quranul Kariim dan As-Sunnah Ash-Shahihah. Nash sesuai dengan pemahaman yang benar itulah dasarnya. Bukan persepsi. Bukankah orang yang paling merugi justru karena begitu meyakini persepsinya tentang kebenaran? Bukan menakar berdasarkan petunjuk yang haq.

Ingatlah sejenak firman Allah Ta'ala:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا

Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" (QS. Al-Kahfi, 18: 103).


Selanjutnya, firman Allah:

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

"Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya." (QS. Al-Kahfi, 18: 104).


Apa pelajaran yang dapat kita ambil dari Al-Qur'an surat Al-Kahfi ayat 104 ini? Jangan bergantung pada persepsi. Pastikan dulu bahwa itu haq sebelum mengambil, memegangi dan mengamalkan. Jangan pula memudah-mudahkan diri dalam mengambil apa yang disangkakan sebagai ilmu hanya berbekal qiyas, "Seperti pisau, tergantung kita pergunakan untuk apa. Jika kita pakai untuk memasak, ia menjadi kebaikan. Tapi jika kita gunakan untuk menyiksa binatang, ya itu keburukan."

Bagaimana kita akan menganalogikan keyakinan dengan pisau, padahal keduanya sangat jauh berbeda. Pada keyakinan, di dalamnya sudah terdapat nilai. Sementara pisau merupakan benda yang bersifat netral. Menyamakan keduanya bersebab gegabah melakukan qiyas (analogi) akan menggelincirkan kepada syubhat, yakni meyakini apa yang bathil sebagai kebenaran dan kebaikan.

Sesungguhnya salah satu sumber syubhat dalam mengikuti keyakinan, aqidah lain maupun pseudoscience adalah karena menganggap itu semua sebagai ilmu yang teruji secara "ilmiah". Padahal kita perlu bedakan antara bukti (evidence) dan pembuktian (proofing). Apa yang ditunjukkan dalam pembuktian tidak berarti bukti itu ilmiah.

Dari sisi agama, keyakinan dasar yang harus kita pegang sangat sederhana: sebaik-baik perkataan adalah Al-Qur'an. Maka takarlah dengannya. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam. Maka jika datang trik, teknik atau keyakinan baru, meskipun berkait dengan pengembangan diri, periksalah apakah ia bersesuaian dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah atau tidak. Inilah yang pokok. Bukan mengagumi dan meyakini dulu apa yang dianggap sebagai pendekatan ilmu pengetahuan modern, lalu mencari pembenaran Al-Qur'an dan hadis.

Begitu pun menyamakan pendekatan dalam NAM dengan ilmu hukum merupakan sikap gegabah. Sebab yang harus ditelisik dulu adalah benar salahnya. Islam mengajarkan kepada kita untuk menakar dulu benar atau salah, baru mengambil manfaat. Bukan menimbang manfaat dulu baru memperhatikan benar atau salahnya sesuatu. Bukankah miras (khamr) pun Allah Ta'ala nyatakan ada manfaatnya? Tapi Allah Ta'ala tegas mengharamkan. Begitu pula babi, sangat banyak manfaatnya. Bahkan jika dilihat dari manfaat, hampir seluruh bagian babi banyak manfaatnya. Tapi ia tetap haram secara mutlak.

Berkait salah satu cabang NAM, ada yang berkata, "Jangan asal menuduh. Ini nggak pakai jin, bagaimana bisa salah?"

Tidak memakai jin bukan otomatis benar. Pembicaraan tentang benar dan salah tidak bergantung pada penggunaan jin. Bukankah setan itu sesat meskipun tidak mengikuti jin. Justru jin yang akan sesat jika ikut setan. Maka, tidak pakai jin tidak serta-merta jadi benar.

Mohammad Fauzil Adhim | Penulis | Kolomnis Positive Parenting di Majalah Fahma
# twitter @kupinang
# fb Mohammad Fauzil Adhim
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya