» » Kajian Utama : Mendidikkan Ketaatan

Kajian Utama : Mendidikkan Ketaatan

Penulis By on Thursday, March 5, 2015 | No comments


Oleh R. Bagus Priyosembodo

Beginilah permohonan dan keinginan kuat dari orang baik:  “Ya Allah, karuniakanlah kami istri-istri dan anak keturunan yang (dapat) menjadi penyejuk pandangan. Serta jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Furqan :74)

Ibnu Abbâs Radhiyallahu anhuma menjelaskan: “Yaitu istri dan anak yang melakukan ketaatan kepada-Mu ya Allah, sehingga pandangan kami akan menjadi sejuk dengan (kebaikan) mereka di dunia dan akherat kelak”.

Ketaatan itu menyejukkan pandangan. Adapun kedurhakaan itu memanaskan penglihatan menyusahkan hati. Maka jalan ikhtiar untuk mewujudkan keinginan itu adalah penjelasan, perintah, teladan, dan bersabar atasnya.

Perintahkanlah anak kalian untuk shalat ketika mereka mencapai umur tujuh tahun, pukullah mereka karena (meninggalkan) shalat setelah mencapai sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka. (Shahîh Sunan Abu Dawud no: 465, 466)

Memberikan pengajaran dengan cara terbaik. Memerintahkan mereka untuk melaksanakan meski belum tiba waktu wajibnya. Juga mempunyai kedisiplinan, ketegasan untuk menegakkannya, serta keadilan yang menyempurnakan.

Si kecil ‘Abdullah bin ‘Abbas menginap di rumah bibinya, Ummul Mukminin Maimunah. Saat Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam menunaikan shalat malam, Ibnu ‘Abbas terbangun. Lalu pandangannya menatap Rasulullah yang tengah khusyuk beribadah. Ia pun bergegas juga bangun untuk shalat bersama beliau dan berdiri di sebelah kirinya. Ini adalah posisi salah. Beliau Shalallahu 'alaihi wa sallam menarik Ibnu ‘Abbas sehingga berada di sebelah kanan beliau.

Ibnu ‘Abbas mendapat pelajaran berharga dari bergaul akrab dengan tetua yang shalih. Tetua yang meneladankan upaya giat beribadah. Tetua yang juga tidak membiarkan kekeliruan bahkan membetulkannya. Kebersamaan dalam ketaatan semacam inilah perlu diperbanyak.
Asy Syaikhani, Al Bukhari Muslim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Suatu malam aku menginap di rumah bibiku, Maimunah. Setelah beberapa saat malam lewat, Nabi bangun untuk menunaikan shalat. Beliau melakukan wudhu` ringan sekali (dengan air yang sedikit) dan kemudian shalat. Maka, aku bangun dan berwudhu` seperti wudhu` beliau. Aku menghampiri beliau dan berdiri di sebelah kirinya. Beliau memutarku ke arah sebelah kanannya dan meneruskan shalatnya sesuai yang dikehendaki Allah …”.

Menjadi teladan nyata bagi anak semenjak kecil, menanamkan cinta kepada Allah Azza wa Jalla, cinta kepada Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam, menyampaikan keindahan Islam dan tuntunan syariatnya kepadanya, membimbing mereka dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla, menumbuhkan kesadaran beribadah serta berserah diri kepada Allah Azza wa Jalla.

Abu Burdah bercerita, “Aku mengunjungi Abu Musa al-Asy`ari ketika beliau berada di rumah putri al-Fadhl bin `Abbâs radhiyallahu ahuma (Ummu Kultsum radhiyallahu anhuma adalah istri Abu Musa). Abu Burdah berkata, “Aku bersin, namun Abu Musa tidak mengucapkan tasymît bagiku. Sementara itu, ketika Ummu Kultsum bersin, maka beliau (Abu Musa) membacakan tasymît baginya. Lantas aku pulang kemudian mengadukannya kepada ibuku. Dan saat Abu Musa mengunjungi ibuku, maka ibuku mempertanyakan hal tersebut. Abu Musa menjawab, “Sungguh putramu tadi bersin, akan tetapi tidak mengucapkan alhamdulillah, maka aku pun tidak membaca tasymit baginya. Adapun puteri al-Fadhl, ketika dia bersin dia mengucapkan alhamdulillah, maka (segera) aku membacakan tasymit baginya. Aku mendengar
Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian bersin kemudian mengucapkan alhamdulillah, maka bacakanlah baginya tasymit, namun apabila dia tidak mengucapkan alhamdulillah, maka janganlah kalian membacakan baginya tasymît."

Betapa bagus pengajaran berikut ini. Patut ditiru pendidik agar anak mempunyai dasar ketakwaan yang bagus.

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Ibnu ‘Abbas kecil, "Wahai anak kecil, sungguh aku akan mengajarkanmu beberapa kalimat; "Jagalah (hukum) Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Peliharalah (hak) Allah, maka engkau akan mendapatkan (pertolongan) Allah di hadapanmu. Jika engkau meminta (berdoa), maka memintalah hanya kepada Allah. Dan jika engkau mencari pertolongan, maka mintalah pertolongan dari Allah. Ketahuilah, sesungguhnya apabila semua manusia berkumpul untuk memberikanmu suatu manfaat, maka tidaklah hal itu terjadi melainkan apa yang telah Allah tetapkan bagimu. Dan apabila mereka bersatu untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, maka mereka tiada dapat melakukannya melainkan apa yang telah Allah tentukan untukmu. Pena telah terangkat dan lembaran (takdir) telah mengering (Shahîh Sunan at-Tirmidzi no: 2043).

*) R. Bagus Priyosembodo, Redaktur Ahli Majalah Fahma | Guru | Twitter @orangawam1
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya