» » Kolom Prof In : Silaturahmi Memperlancar Rejeki

Kolom Prof In : Silaturahmi Memperlancar Rejeki

Penulis By on Saturday, March 7, 2015 | No comments


Oleh Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

Setelah 20 tahun tinggal di rumah dinas, kami sekeluarga mulai merasakan ketidak-nyamanan lagi, karena jalan di samping perumahan yang semula masih sepi, saat itu sudah ramai sekali. Lalu kami merencanakan pindah ke tempat yang suasananya lebih nyaman. Alhamdulillah, saat itu kami mempunyai tabungan sebidang tanah, tidak begitu luas, terletak di sebuah dusun, berjarak empat kilometer utara perumahan.

Namun ketika kami akan membangun rumah di atas tanah tersebut, kami ragu-ragu, karena saya dan istri belum menunaikan ibadah haji. Ada teman dekat yang menyarankan, sebaiknya dana untuk membangun rumah dipergunakan terlebih dahulu untuk melaksanakan rukun Islam yang kelima. Akhirnya, kami putuskan, insya Allah kalau ada rejeki lagi kami akan membangun rumah setelah menunaikan ibadah haji. Waktu itu, untuk melaksanakan haji tidak harus antri, bila sudah membayar lunas, langsung berangkat pada tahun berikutnya.

Subhanallah, Allah Ta’ala telah memenuhi janjinya memberikan rejeki yang lebih banyak, sehingga sejak enam bulan dari kepulangan haji, kami mulai berani membangun rumah. Rejeki yang Allah berikan ini juga termasuk dipertemukannya kami dengan seorang peserta haji dalam rombongan yang sama, yang profesinya sebagai developer perumahan, seorang pemborong bangunan. Kebersamaan di tanah suci selama kurang lebih 40 telah menumbuhkan rasa persaudaraan, terjalin tali silaturahmi yang kuat di antara kami. Sehingga kekuatan silaturahmi  ini berdampak pada biaya pembangunan rumah kami yang sangat murah. Biaya tiap meter perseginya hanya 65% lebih sedikit, dibanding harga umum pada waktu itu. Hampir semua teman yang menanyakan biaya pembuatan rumah, mereka tidak percaya ketika mendengar jawaban kami.

Belum genap setahun pindah rumah baru, suatu sore sepasang suami-istri datang ke rumah kami. Ternyata yang laki-laki adalah teman waktu di SMA, di kota asal kami, dan sekaligus juga teman kuliah di Yogya. Saya sempat kaget, karena sepengetahuan kami, dia masih bertugas di luar Jawa. Ternyata, baru saja pindah tugas, dipromosikan ke Yogya, menjadi pimpinan perusahaan yang mengurusi masalah perlistrikan. Kami berdua, ketika di SMA, dari kelas satu sampai lulus selalu dalam kelas yang sama sehingga kami menjadi akrab.

Kami punya kenangan yang sangat berkesan, dulu kalau berangkat sekolah saya sering membonceng dia, namun karena sepedanya tidak ada boncengannya, terpaksa satu tempat duduk untuk kami berdua. Dia rela berdesakan, daripada meninggalkan saya jalan kaki sendiri. Kebersamaan ini juga yang telah memperkuat tali silaturahmi di antara kami.

Ketika dia pamit akan pulang, dia sempat melihat-lihat ke belakang rumah yang memang masih belum sempurna. Tiba-tiba dia berkata, “Lho... Ce (panggilan akrab sewaktu di SMA), rumahmu masih mengambil listrik dari tetangga ya?” Sebetulnya malu juga, rumah seorang guru besar, listriknya masih mengambil dari tetangga. Saya jelaskan, bahwa tiang listrik yang terpasang di desa ini, jaraknya masih cukup jauh dari rumah kami. Sehingga biayanya mahal kalau akan menyambung ke jaringan langsung, karena harus menambah dua tiang listrik. Mendengar itu dia hanya senyum-senyum saja, lalu dia pamit  pulang.     

Ternyata, senyumannya mengandung arti yang lain, karena keesokan harinya terlihat seseorang dengan seragam perusahaan listrik melakukan pengukuran di sepanjang jalan depan rumah. Tiga hari berikutnya, saat kami pulang dari kantor, sudah terlihat ada dua tiang listrik baru terpasang, yang kabelnya terhubung dengan rumah kami sehingga aliran listrik yang ke rumah tidak dari tetangga lagi. Bahkan dengan terpasangnya tiang itu, tetangga yang lain bisa ikut menyambung langsung ke jaringan. Para tetangga mengira bahwa kami yang membiayai pemasangan tersebut. Meskipun sudah kami jelaskan, namun saya tidak yakin kalau mereka menjadi percaya bahwa kami tidak mengeluarkan biaya sedikitpun.

Kiranya, tidak salah kalau saya mengatakan pada anak-anak, bahwa kemudahan-kemudahan ini merupakan rejeki dari eratnya tali silaturahmi sebelumnya.

Alhamdulillah, Allah Ta’ala telah memudahkan urusan kami.


*) Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A. Guru Besar Universitas Gadjah Mada | Pimpinan Umum Majalah Fahma
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya