Menulis, Cara Cerdas untuk Belajar


Oleh Dr. Ali Mahmudi

Tengoklah sejarah. Kejayaan Islam tidak hanya diraih dengan kegagahan para mujahid di medan perang, melainkan juga oleh kegigihan dan kecerdasan ilmuwan-ilmuwan muslim yang menuangkan pemikiran mereka dalam tulisan-tulisan yang melegenda. Tak salah jika Ali bin Abi Tholib mengungkapkan “ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Dengan tulisan, ilmu-ilmu dapat tersusun rapi dan sistematis sehingga dapat dinikmati orang lintas generasi. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi, yakni Q.S. Al-Alaq, juga berbias pada perintah membaca (iqra’) dan menulis (‘allama bi al-qalam). Perintah membaca dan menulis ini demikian penting karena tanpa kemampuan membaca dan menulis, wahyu Alloh SWT tidak  dapat dipahami dan tak dapat dinikmati oleh generasi-generasi berikutnya.

Meyakini bahwa membaca dan menulis adalah perintah Alloh SWT berimplikasi pada keyakinan lain bahwa mengembangkannya adalah kewajiban. Di sinilah sekolah menemukan peran strategisnya untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan ini. Diyakini bahwa setiap anak memiliki potensi untuk membaca dan menulis. Tentu dengan kadar yang berbeda-beda. Sekolah perlu merancang aktivitas akademik yang berimplikasi pada berkembangnya potensi ini.

Terdapat beberapa tujuan dari aktivitas menulis. Salah satunya adalah sebagai sarana berkomunikasi. Selain itu, menulis juga dimaksudkan untuk merangsang pikiran dan menata serta memperjelas pemikiran. Ide-ide yang masih mentah dan belum teratur akan lebih tertata bila dituliskan. Tujuan terakhir inilah yang mendasari munculnya ide bahwa anak dapat belajar melalui aktivitas menulis. Dengan kata lain, aktivitas menulis dapat dipandang sebagai strategi belajar. Aktivitas menulis tidak hanya dimaksudkan untuk membentuk kemampuan menulis itu sendiri, melainkan dipandang sebagai cara untuk membelajarkan anak. Bagaimana caranya? Secara singkat tulisan ini akan menguraikan hal itu.

Seyogyanya kita tidak memandang bahwa aktivitas menulis hanya dilakukan pada pelajaran mata pelajaran tertentu, seperti bahasa. Perlu diyakini bahwa aktivitas menulis dapat dilakukan pada semua mata pelajaran dan pada setiap tahap pembelajaran. Bahkan aktivitas menulis dapat dilakukan pada semua jenjang sekolah. Aktivitas menulis dapat dilakukan secara sederhana. Misalnya, di akhir kegiatan pembelajaran, cukup 5 menit saja, dengan kalimat sendiri, anak dimita untuk menuliskan hal-hal penting yang telah mereka pelajari hari itu. Tulisan dapat pula terkait aspek emosional yang mereka rasakan, senang atau tidak, terkait kegiatan pembelajaran yang telah mereka ikuti.

Bentuk lain dari aktivitas menulis adalah sebagai berikut.
§  Tulislah sebuah surat untuk temanmu yang tidak masuk hari ini, sehingga teman itu juga dapat memahami apa yang kamu pelajari hari ini.
§  Ingat kembali apa yang telah kamu pelajari hari ini. Selanjutnya lengkapilah kalimat berikut.
-       Sekarang saya mengetahui bahwa ….
-       Saya belum memahami bahwa ….
-       Saya menyadari pentingnya pelajaran ini, yaitu ….

Dalam pelajaran agama, sesekali anak dapat diminta untuk menuliskan doa dengan kalimat mereka sendiri. Hal demikian akan melatih anak menuliskan secara runtut hal-hal yang sangat diingini untuk dikabulkan sekaligus membantu anak memahami betul doa-doa mereka. Sementara dalam pelajaran matematika atau bahasa, guru dapat menyajikan gambar, grafik, tabel, atau narasi berita yang diperoleh dari surat kabar. Selanjutnya anak diminta untuk menuliskan secara bebas kalimat-kalimat yang mendeskripsikan atau menjelaskan gambar, grafik, tabel, atau narasi berita tersebut.

Aktivitas menulis juga dapat berujud tugas lintas pelajaran sebagai tugas akhir pekan. Anak diminta menulis terkait suatu tema yang diberikan. Tema-tema itu hendaknya sudah dikenal oleh anak. Anak diminta untuk menyediakan buku tersendiri untuk aktvitas menulis tersebut. 

Aktivitas menulis yang dilakukan secara berkelanjutan dapat membantu siswa mengkoordinasikan informasi dan pengetahuan yang dimiliki anak sehingga menjadi pengetahuan yang utuh dan tertata. Menurut penelitian Possamentier (1985), anak yang menuliskan pengetahuan yang baru dipelajarinya mempunyai ingatan yang jauh lebih tepat. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa menulis adalah cara cerdas untuk belajar. Aktivitas menulis juga mendorong anak berpikir kreatif. Kemampuan berpikir kreatif diindikasikan oleh kemampuan anak untuk mengemukakan ide yang bersifat unik, baru, dan berbeda. Aktivitas menulis juga memungkinkan guru untuk mengetahui tingkat pemahaman anak terhadap materi yang telah dipelajari. Hal ini dapat dijadikan dasar bagi guru untuk mengklarifikasi dengan segera adanya ketidakpahaman yang mungkin muncul pada diri anak.

Aktivitas menulis perlu dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Bagaimanapun juga, anak memerlukan waktu untuk merasa nyaman untuk menuliskan apa yang mereka pikirkan. Pada tahap awal, anak tidak perlu dituntut secara ketat untuk memperhatikan aspek tata bahasa. Menuntut kesempurnaan tulisan anak adalah cara berpikir yang tidak baik dan dapat mematikan kreativitas anak. Namun, tentu saja, tetap perlu memberikan komentar secara bijak terhadap tulisan anak. Guru dapat memotivasi anak dengan cara memberikan komentar atau catatan positif atau membacakan tulisan anak yang menarik di kelas.

Demikianlah, aktivitas menulis perlu dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan, sehingga berbagai manfaat sebagaimana diuraikan di atas dapat mewujud nyata. Aktivitas menulis yang tidak hanya dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan menulis itu sendiri, melainkan menulis untuk belajar. Ya, menulis adalah cara cerdas untuk belajar.


Dr. Ali Mahmudi, Dosen Jurusan Matematika Universitas Negeri Yogyakarta. 
foto https://perempuannya.files.wordpress.com/2008/11/pict02623.jpg

Berlibur ke Perpustakaan


Oleh : Dr. Subhan Afifi, M.Si.

Seorang ibu keluar menggandeng anak balitanya dengan wajah ceria dari sebuah gedung yang menjulang ke langit. Di dalam gedung itu, ada sebuah ruangan besar yang asri nan nyaman. Anak-anak bisa “jungkir balik” di situ, atau melahap aneka buku bergizi senikmat mereka mengunyah pizza. Para orang tua pun tampak serius dengan buku-buku dan sumber bacaan digital. Ruang bacaan dan koleksi buku-buku di lantai dasar itu memang khusus untuk anak-anak dan parenting. Ya, saya sedang berada di National  Library. Milik sebuah negeri yang mungil : Singapore. Sebuah perpustakaan terpadu yang terdiri dari Central Lending Library, the Lee Kong Chian Reference Library, dan juga Drama Centre.

Saya terkesan, betapa mereka sangat menghargai buku dan para pencinta buku. Tengoklah bagaimana para petugasnya melayani para pengunjung dengan ramah dan sigap. Ketika saya menjelajahi “The Lee Kong Chian Reference Library” dari lantai 7-13, petugas jaga selalu siap menjawab pertanyaan bahkan mengantar saya menemukan buku di raknya, setelah mengecek di komputer katalog. Di lantai 11, saya mencari sebuah buku berjudul “Future Television”. Petugasnya meminta saya menunggu 10 menit. “Buku ini, ada di bagian yang lain, akan saya ambilkan,” katanya. Tepat 10 menit, Ia datang dengan buku berwarna cerah. “Apakah buku ini yang Anda cari?” katanya dalam bahasa Inggris berlogat China. Olala, rupanya buku itu adalah fiksi ilmiah anak-anak.

Singapore memang memberikan perhatian besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang disimbolkan melalui buku. Sayangnya, wisatawan Indonesia yang menjadi juara 1 pengunjung terbanyak di Singapore (tahun 2007 berjumlah 1.956.000 orang) tidak begitu berhasrat menjadikan National Library atau perpustakaan-perpustakaan lain sebagai objek kunjungan mereka. Mereka lebih tertarik membajiri Orchard Road dan tempat-tempat sejenis. Mereka adalah para penggila belanja alias shopoholics yang terkenal paling royal. Tak ada sama sekali kesan Indonesia adalah negara miskin, bila melihat orang-orang yang gila belanja itu di Singapore. Saya jadi teringat 3 orang permata hati saya yang sedang “gila” membaca : Azzam, Zulfa, dan Nuha. Andai saja mereka berkesempatan mengunjungi negeri-negeri yang lain, termasuk Singapore, maka perpustakaan yang mencerdaskan, selayaknya menjadi objek kunjungan utama mereka. (InsyaAllah ya Nak.. suatu saat!).

Saya tak begitu tega membandingkan kondisi National Library Singapore itu dengan suasana perpustakaan nasional atau perpustakaan daerah kita yang berdebu. Hanya saja, saya bertanya dalam  hati, sebegitu miskinkah kita? Apakah pemerintah atau tokoh-tokoh kita tak punya cukup uang untuk membangun perpustakaan yang layak dan nyaman, sehingga menjadi tujuan utama para orang tua dan anak untuk “menghabiskan waktu”? Sepertinya tidak. Buktinya,mereka mampu menggelontorkan banyak duit untuk klub sepak bola yang kalah melulu. Nyatanya, para pemimpin lebih suka menghabiskan uang milyaran rupiah untuk mengiklankan diri di televisi, atau memasang potret diri mereka, lengkap dengan slogan-slogan tanpa bukti di sepanjang jalan seantero negeri. Atau, tengok saja, seorang isteri gubernur di suatu daerah menghabiskan dana  jutaan rupiah untuk memasang iklan di harian lokal, “hanya” untuk mengumumkan kepada publik kalau kucing kesayangannya hilang.

Masalahnya ada pada visi. Visi untuk jadi bangsa yang maju dan cerdas lewat buku yang belum kita punya. Budaya baca yang rendah sudah lama disadari, tapi tak pernah sungguh dicarikan solusi. Banyak sebenarnya yang bisa dilakukan semua pihak untuk mengejar ketertinggalan kita di dunia pustaka. Perpustakaan nasional, daerah atau yang dimiliki perguruan tinggi sudah saatnya direformasi menjadi pusat ilmu senyaman pusat-pusat perbelanjaan. Bukan sekadar asal ada. Uang-uang berlebih dari para orang kaya, pejabat, kandidat kepala daerah, tokoh parpol, atau siapapun, akan lebih bermakna bila diinfakkan ke perpustakaan, daripada “hangus” di jalan-jalan.

Dalam skala yang lebih kecil, kita bisa berbuat lebih banyak dengan perpustakaan-perpustakaan sekolah kita. Tak masalah rasanya, jika gedung sekolah terlihat sederhana, tetapi koleksi buku-buku perpustakaan bertambah setiap bulan. Ruangan dan fasilitasnya dibuat paling lengkap dan nyaman. Perpustakaan sudah selayaknya mendapat prioritas nomor satu. Para petugas perpustakaan juga bukan ala kadarnya tetapi pustakawan profesional yang benar-benar cinta buku.

Beruntung, sekolah anak saya, Azzam dan Zulfa, SDIT Hidayatullah Yogyakarta, telah menunjukkan itikad baiknya untuk menempatkan perpustakaan dalam posisi terhormat. Hampir setiap hari, Azzam dan Zulfa membawa buku baru dari perpustakaan sekolahnya. Kadang mereka harus diingatkan berkali-kali untuk ganti baju sekolah atau mandi, karena keasyikan membaca buku pinjaman begitu tiba di rumah. Menurut cerita mereka, perpustakaan sekolah selalu penuh pada jam-jam istirahat. Para siswa lebih memilih beristirahat dengan membaca, atau menonton koleksi audiovisual yang lumayan lengkap di perpustakaan yang sejuk.

Ketika saya pulang ke Jogja, saya menemukan sebuah perpustakaan umum yang nyaman di Jogja Utara : Taman Bacaan Natsuko Shioya. Saat kami sekeluarga mengunjunginya, kami semua langsung merasa betah. Koleksi bacaannya cukup lengkap. Gedung dan ruang bacaannya  yang didisain nyaman dengan suasana alam yang menyegarkan, membuat anak-anak sulit diajak pulang. Rasanya waktu berlalu begitu cepat di situ. Perpustakaan itu bukan milik pemerintah, atau dibangun oleh tokoh nasional yang banyak uang. Tapi didedikasikan oleh Glen Goulds, asal Australia dan perusahaan tempatnya bekerja CV Satria Grafika untuk mengenang seorang turis Jepang yang dulunya sering berkunjung ke Yogyakarta, Natsuko Shioya. Nyamannya suasana perpustakaan itu membuat saya dan isteri tak lagi bingung merencanakan liburan anak-anak. Kami sudah menggagendakan Taman Bacaan  Natsuko Shioya (dan mungkin perpustakaan-perpustakaan lain di kota kami) menjadi tujuan utama untuk mengisi liburan mendatang. Ya, InsyaAllah, kami akan berlibur ke perpustakaan. (**)


Dr. Subhan Afifi, M.Si., Dosen Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta | Redaktur Senior Majalah Fahma

Menumbuhkan Perilaku Menghargai pada Anak


Oleh : Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi.

Diriwayatkan oleh Hakim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda, ”Jauhkanlah dirimu dari wanita-wanita orang lain, niscaya wanita-wanitamu akan menjaga kesuciannya. Dan berbaktilah kepada orangtuamu, niscaya anak-anakmu akan berbakti kepadamu”. Hadis ini menekankan apabila kita menghendaki anak-anak berbakti kepada kita, hendaknya kita menjadi contoh pertama dan utama bagaimana berbakti kepada orangtua kita. Bahwa bakti kita kepada orangtua mempunyai pengaruh besar terhadap bakti anak kepada kita.

Perilaku menghargai dipelajari lewat menyaksikan perilaku-perilaku orang lain. Menghargai dipelajari lewat contoh setiap menit setiap harinya. Untuk belajar menghargai, anak-anak pertama kali harus dihargai. Jika kita menginginkan anak-anak kita memperlihatkan penghormatan kepada orangtua, penting untuk menunjukkan kepada mereka bahwa kita juga menghormati dan bersikap positif terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Sebagai orangtua dan pendidik, kita dapat melakukan banyak hal untuk mencontohkan dan mengajarkan kepada anak-anak bagaimana menunjukkan penghargaan kepada orang lain, baik kepada yang lebih tua, kepada yang lebih muda, maupun kepada yang sebaya.

Meminta maaf
Meminta maaf kepada orang lain, terutama kepada orangtua, ketika melakukan kesalahan merupakan perilaku terpuji seorang anak kepada orangtua. Perilaku terpuji ini akan lebih mudah menjadi bagian tidak terpisahkan dalam diri seorang anak ketika kita sebagai orangtua melakukan hal yang sama. ”Aulia sayang, ayah minta maaf ya. Maksud ayah meminta kakak melakukan seperti itu agar kakak terbiasa mengerjakan sesuatu dengan tahapan yang benar. Membiasakan berpikir dan bekerja secara runtut, sehingga kesalahan dalam menjawab soal bisa dihindari. Doa’akan ayah ya sayang ayah bisa menyampaikan dengan lebih baik.”

Meminta maaf kepada anak-anak ketika kita keliru menangani sebuah situasi atau menyakiti perasaan anak-anak kita. Mengatakan kepada anak-anak bahwa kita menyesal. Meminta maaf secara khusus dan tulus menunjukkan kepada anak-anak bahwa kita menghargai perasaan-perasaan mereka dan merasa menyesal atas perilaku kita. Ini merupakan sebuah cara yang baik untuk memperlihatkan bahwa melakukan dan mengakui kesalahan itu sesuatu yang baik. Ini akan membawa kita lebih dekat dengan kasih sayang, memahami, dan percaya.

Mengucapkan terimakasih
Mengucapkan terima kasih kepada orang lain, apalagi kepada orangtua, untuk semua kebaikan yang kita terima setiap waktu merupakan contoh lain dari berbakti  kepada orangtua. ”Terima kasih Hasany dan Rasikh sayang, sudah bersemangat bantuin ibu dan kakak menjemur pakaian.” Anak-anak akan terbiasa mengucapkan terima kasih kepada orangtua ketika mereka menyaksikan dan mengalami sendiri bagaimana orangtua mereka mengucapkan terima kasih kepada pasangannya, anak-anaknya,  maupun orang lain ketika mereka menerima kebaikan atau pekerjaan dilakukan dan diselesaikan dengan sungguh-sungguh. Membiasakan mengucapkan terima kasih menunjukkan bahwa kita menyadari kebutuhan-kebutuhan dan perasaan-perasaan orang lain. Bahwa kita perduli terhadap orang lain.

Bersikap sopan dan hormat ketika meminta seseorang melakukan sesuatu.
Meminta sesuatu kepada orangtua dengan sikap sopan dan hormat merupakan contoh lain berbakti kepada orangtua. Perilaku berbakti tersebut akan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam diri anak-anak kita ketika kita mencontohkan kebiasan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.” Ibu lihat mbak Lia lagi santai, ya. Ibu minta tolong kakak Lia beliin beras di warung Pak Saijo, ya. Ibu baru tahu ternyata persediaan beras kita sudah habis. Terima kasih sayang.”

Selain itu, kita bisa menerapkan aturan “Tolong Berhenti” dalam keluarga, aturan yang efektif dalam mengajarkan saling menghormati satu sama lain. Jika seseorang mengatakan “tolong berhenti,” perilaku harus segera dihentikan segera. Ini adalah sebuat aturan keluarga yang harus dipahami dengan jelas oleh setiap orang. Ketika diterapkan, tidak ada tawar menawar. Setiap orang harus menghormati  permintaan tersebut. Teknik ini sangat berhasil ketika diajarkan kepada anak-anak sejak kecil.  Aturan ini berlaku untuk semua anggota keluarga—orang-orang dewasa juga.

Menggunakan aturan ini mengajari anak-anak bahwa mereka memiliki kendali atas apa yang terjadi pada mereka, bahwa mereka bisa menghentikan perilaku tersebut. Ini merupakan pembangun kepercayaan diri dan menunjukkan bahwa anak-anak perlu asertif (menyatakan secara jelas dan tegas) tentang apa yang sedang terjadi pada dirinya (tubuhnya). Ketika anak-anak ini diminta orang lain untuk “tolong berhenti,” mereka belajar bahwa orang lain pantas untuk mendapatkan penghormatan yang sama (See Masick 1997).

Anak-anak yang dihormati oleh teman-teman mereka adalah anak-anak yang mengkomunikasikan secara jelas bahwa mereka menuntut penghormatan kepada diri mereka sendiri. Ketika dihadapkan sebuah gangguan, seorang anak yang asertif dapat secara tegas menyatakan keyakinannya tanpa menggunakan ancaman, panggilan jelek atau bahasa yang menjatuhkan lainnya.

Meningkatnya kebutuhan orang untuk hidup harmoni dengan orang lain dan memperhatikan kenyataan hidup masyarakat kita yang penuh dengan contoh kekerasan, menjadi sangat penting bagi kita untuk mendorong dimilikinya perilaku menghargai pada anak-anak, keluarga-keluarga, komunitas-komunitas, dan dunia kita. Dalam sebuah dunia yang semakin mengecil karena koneksi internasional, kerjasama di antara individu-individu, perhatian kepada orang lain, dukungan di antara kelompok orang yang berbeda menjadi keterampilan-keterampilan hidup yang sangat penting. Mendorong anak-anak untuk menghargai diri mereka sendiri dan orang lain insya-Allah akan menghilangkan ketidakadilan, kebencian, dan kekerasan. Mari penghargaan ini perlu kita mulai dari rumah kita.


Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi., Dosen Psikologi Universitas Islamn Indonesia | Pemimpin Redaksi Majalah Fahma
foto http://2.bp.blogspot.com/

Setiap Anak Itu Unik


Oleh : Dr. Hepi Wahyuningsih

Allah Sang Mahapencipta adalah juga Sang Mahapandai. Dia ciptakan manusia tanpa ada satupun yang sama, bahkan pada orang yang kembar identik sekalipun. Dalam disiplin ilmu psikologi perkembangan, hal ini dikenal dengan istilah individual differences (setiap individu adalah unik). Menurut referensi di bidang psikologi perkembangan, individual differences terjadi karena adanya 3 faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia dan ketiga faktor tersebut saling berinteraksi. 

Adapun ketiga faktor tersebut yang pertama adalah faktor genetik. Faktor genetik yang dimaksud di sini adalah sifat yang diturunkan dari ayah dan ibu pada anak mereka. Ketika anak lahir, ia membawa perpaduan sifat ayah dan ibunya. Ada banyak kemungkinan perpaduan sifat antara ayah dan ibunya, sehingga anak yang pertama akan berbeda dengan anak yang kedua, anak yang kedua akan berbeda dengan anak yang ketiga, dan seterusnya. Misalnya, anak yang pertama hidungnya mancung seperti ibunya dan kulitnya hitam seperti ayahnya, anak kedua hidungnya biasa seperti ayahnya dan kulitnya kuning langsat seperti ibunya, sedang anak ketika hidungnya mancung seperti ibunya dan kulitnya juga kuning langsat seperti ibunya. Contoh tersebut adalah contoh yang sangat sederhana, sedangkan pada kenyataannya, perbedaan yang terjadi sangat kompleks dan tidak hanya perbedaan fisik, tapi juga perbedaan kepribadian.

Faktor yang kedua adalah faktor lingkungan. Yang dimaksud lingkungan di sini dimulai dari lingkungan terkecil anak, yaitu keluarga sampai dengan budaya dan sejarah yang dialami oleh anak yang berbeda-beda. Sebagai contoh, anak pertama dikarenakan ayahnya belum terlalu sibuk bekerja mungkin masih sering diasuh oleh ayah, tetapi pada anak yang ketika dikarenakan kebutuhan keluarga semakin banyak mungkin ayahnya sudah jarang mengasuhnya. Perbedaan ini tentu saja akan membawa perbedaan pengasuhan pada anak pertama dengan anak ketiga. Gambaran tersebut juga masih terlalu sederhana untuk menjelaskan perbedaan sesungguhnya yang lebih kompleks, terlebih seperti yang dijelaskan bahwa lingkungan bukan hanya orangtua (pengasuhan) tetapi ada budaya, kondisi sosial ekonomi orangtua, peristiwa yang terjadi, dan banyak lagi.

Faktor yang ketiga adalah kematangan. Kematangan yang dimaksud di sini adalah kesiapan biologis/fisik anak untuk melakukan fungsinya dengan baik. Ada perbedaan kematangan antara anak yang satu dengan anak yang lain. Misalnya anak pertama mungkin baru bisa berjalan pada usia 16 bulan, sedangkan adiknya sudah dapat berjalan pada usia 9 bulan. Perbedaan ini akan dapat mempengaruhi banyaknya stimulasi yang diperoleh anak. Misalnya, karena sang kakak baru dapat berjalan usia 16 bulan, kemungkinan stimulasi yang diperoleh akan lebih sedikit dibanding adiknya yang sudah berjalan pada usia 9 bulan.   

Menurut para ahli psikologi perkembangan, individual differences harus selalu diingat oleh para praktisi psikologi ketika menangani atau menghadapi individu, termasuk ketika menghadapi/menangani anak. Tentunya hal ini juga berlaku bagi orangtua dan guru sebagai orang-orang yang setiap hari berinteraksi dengan anak. Orangtua harus senantiasa ingat bahwa meskipun anak-anaknya lahir dari ibu dan ayah yang sama, tetapi antara anak yang satu dengan anak yang lain tidak dapat diperlakukan sama. Orangtua tidak boleh membanding-bandingkan anaknya yang satu dengan yang lain, terlebih antara anaknya dengan anak orang lain.

Hal yang paling menyakitkan bagi anak adalah ketika orangtuanya membandingkan dirinya dengan saudaranya terlebih dengan anak lain. Hal ini tentu tidak adil bagi anak. Contohnya, orangtua membandingkan anaknya yang “tidak dapat tenang” dengan anak tetangganya yang “anteng”. Padahal boleh jadi anaknya “tidak dapat tenang” karena mendapatkan sifat yang diturunkan darinya, demikian juga anak tetangga yang “anteng” boleh jadi karena mendapatkan sifat yang diturnkan oleh orangtuanya yang juga anteng. Sehingga tidak adil bila orangtua membandingkan anaknya dengan anak tetangganya karena dia dan tetangganya juga berbeda.

Demikian halnya dengan guru, guru harus mampu bersikap obyektif pada anak didik. Guru tidak boleh “pilih kasih” pada anak didiknya. Seringkali anak yang anteng akan mendapatkan penilaian lebih dari guru dibanding dengan anak yang “tidak dapat diam”. Anak yang “tidak dapat diam” kurang mendapatkan simpati dari guru karena kemungkinan sering merepotkan guru. 

Hal yang penting untuk diingat oleh orangtua dan guru adalah bahwa bukan tugas kita untuk memberikan penilaian pada sikap anak, terlebih ketika kita belum membimbing dan mengajarkan sikap tersebut pada anak. Tugas pertama kita sebagai orangtua dan guru adalah menerima/memahami anak, setelah itu membimbing dan mengajari anak kita, dan yang terakhir adalah mendo’akannya. Tentu semua itu perlu dilakukan dengan penuh kesabaran. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan bagi kita untuk mengemban amanah-Nya. Amin.


Dr. Hepi Wahyuningsih, Dosen Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia
Sumber foto : http://www.mypangandaran.com/

Kolom Prof. In : Tidak Selalu Menuruti Kemauan Anak


Oleh : Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A.

Pada suatu malam, setelah melaksanakan sholat Isya berjamaah di masjid dekat rumah, beberapa jamaah tidak terus pulang, ngobrol di halaman masjid. Dimulai dari obrolan ringan, akhirnya sampai pada pengalaman mendidik anak.

Salah seorang tetangga bercerita, bagaimana dia harus menahan gejolak perasaan kasihan, dalam rangka mempertahankan kedisiplinan. Pada suatu sore, bapak ini bersama putra sulung dan putri bungsunya yang masih kelas satu di sebuah SDIT, pergi ke supermarket. Ketika berada di kasir untuk membayar barang belanjaannya, si bungsu minta dibelikan permen yang terpajang dekat kasir. Permintaan ini tidak dikabulkan, karena sebelumnya bapak tersebut pernah pesan pada putrinya, bahwa dia tidak boleh makan permen itu karena di dalamnya mengandung zat-zat yang belum jelas kemanfaatannya, bahkan cenderung berbahaya, terutama bagi anak-anak. Karena permintaannya ditolak, putrinya ini merengek-rengek, yang berlanjut dengan tangisan. Sehingga orang-orang di sekitar kasir tersebut memperhatikan semua, bahkan ada yang ikut membujuk bapak tadi untuk memenuhi permintaan anaknya agar tangisnya segera berhenti.  

Menghadapi tangisan ini, reaksi setiap orangtua akan berbeda. Ada orangtua yang langsung membelikan, karena tidak tega melihat anaknya menangis, atau karena tidak ingin dipermalukan di hadapan orang lain, meskipun sebetulnya hati kecilnya keberatan. Ada orangtua yang tetap tidak mengijinkan, dalam rangka menegakkan kedisiplinan karena pernah diberitahu. Orangtua jenis ini tidak ingin, “aturan” yang sudah ditanamkan, dilanggar hanya gara-gara tangisan.

Tetangga ini ternyata termasuk tipe yang terakhir, tidak ingin anaknya mendikte orangtua untuk merubah keputusan. Kalau sekali, dua kali dituruti, maka seterusnya akan sulit diatasi. Bahkan, bapak itu menyuruh putra sulungnya untuk mengambil foto dengan menggunakan handphone, adegan adiknya yang sedang menangis dengan latar belakang kasir. Tujuannya agar kelak bisa menjadi sebuah kenangan yang mengesankan ketika adiknya sudah dewasa. Saya berkata dalam hati, ada saja ide bapak ini. Mudah-mudahan, setelah 16 tahun kemudian, ketika si adik ini sudah lulus dari Fakultas Kedokteran, foto tersebut akan menjadi kenangan yang indah.

Setelah proses pembayaran selesai, ternyata tangisnya juga sudah mereda. Lalu si bapak menggandeng putra-putrinya menuju ke tempat penjualan mainan. Beliau bilang pada putrinya “Nah, sekarang adik saya beri kesempatan untuk memilih mainan yang disenangi, tetapi harganya tidak boleh lebih dari ..(beliau menyebut jumlah rupiahnya)”. Akhirnya dengan senyuman dan ucapan terima kasih yang ditujukan kepada ayahnya, si adik minta gandeng kakaknya keluar dari supermarket. Saya termasuk yang setuju dengan tindakan bapak tadi, tetap tegar tidak merubah peraturan atau larangan hanya karena tangisan si anak, namun kemudian juga membelikan mainan sebagai sebuah penghargaan (reward).

Saya juga teringat pengalaman kami, ketika anak sulung laki-laki yang waktu itu kelas 2 SMU minta dibelikan handphone, yang akan dipakai untuk kontak dengan teman-temannya ketika ada tugas yang akan dikomunikasikan. Kami tidak langsung mengizinkan, karena antara saya dan istri sudah ada kesepakatan bahwa dalam memenuhi permintaan anak, harus didasari oleh fungsi dan kegunaannya. Selain menghindari gaya hidup boros, juga untuk memberikan edukasi agar kelak, ketika mereka sudah berkeluarga tidak sembarangan membelanjakan uangnya untuk membeli sesuatu yang sebetulnya tidak dibutuhkan.

Untuk sedikit mengulur waktu dan memberikan pengalaman pada dia, bahwa untuk mendapatkan sesuatu itu harus ada usaha, meskipun minta ke orangtuanya sendiri, maka saya suruh dia membuat proposal. Mulanya dia agak berkeberatan, namun karena dia memang membutuhkan alat komunikasi tersebut, maka akhirnya dia membuat juga.

Setelah beberapa tahun berlalu, dia bersyukur, untung dulu pernah disuruh membuat proposal, sehingga ketika dia menjadi pengurus Himpunan Mahasiswa, tidak pernah kesulitan lagi dalam menyiapkan proposal penggalangan dana untuk berbagai kegiatan. Wallahu a’lam.


Prof. Dr. Ir. Indarto, D.E.A., Guru Besar UGM dan Dosen Fakultas Tekni Mesin UGM | Pimpinan Umum Majalah Fahma

Revolusi Mental

Oleh :  

Saya termasuk orang yang tidak terlalu mengikuti berita gosip. Namun, ketika mendengar berita bahwa pembunuh Tata Chubby pernah mengenyam pendidikan di IPB, saya akhirnya googling berita tersebut. Ternyata hasilnya mengerikan.
Prio Santoso, lelaki yang baru berusia 24 tahun, membunuh janda beranak satu ini hanya karena sang wanita berucap, “Badanmu bau.” Yang lebih memprihatikan, Prio membunuh setelah berhubungan badan dengan korban. Ternyata Tata Chubby alias Deudeuh ini adalah wanita panggilan yang menggunakan akun twitter untuk alat promosinya.
Dari berita ini akhirnya saya juga mengetahui bahwa ternyata kegiatan sex bebas alias pelacuran kini sudah berani terang-terangan promosi lewat akun media sosial. Bahkan di bio akun twitternya, mereka sudah menetapkan tarif dan cara pemesanannya. Ngeri dan sangat membuat saya gelisah.
Saya jadi teringat cerita sahabat saya bahwa di salah satu kota Jawa Timur, ternyata ada group whatsapp yang kegiatannya saling bertukar suami atau istri untuk waktu tertentu. Di kota lain, ada juga kegiatan “angon bebek” yang bermakna sang suami mengantar istri untuk “jual diri” kepada laki-laki lain. Menurut saya, ini kemaksiatan tingkat tinggi. Ngeri!
Saatnya revolusi mental tidak hanya menjadi jargon. Sudah banyak kerusakan mental yang sudah terjadi di negeri ini. Sex bebas yang berujung pada pembunuhan Deudeuh hanyalah salah satu contoh kecil. Namun, tidak bisa kita membersihkan tempat dengan sapu kotor. Tidak bisa kita melakukan revolusi mental bila sang pembersih justru mentalnya kotor.
Mari kita bersihkan dan tingkatkan kualitas mental kita dan setelah itu berkontribusilah untuk melakukan revolusi mental di negeri ini. Lakukan dari yang sanggup kita lakukan. Tak mengapa action kita mungkin dianggap kecil oleh sebagian orang. Ketahuilah, banyak hal besar di dunia ini hanya berawal dari langkah yang kecil.
Revolusi mental memerlukan banyak orang yang kuat dan tangguh, maka ajaklah orang lain untuk melakukan kebaikan yang sama agar kebaikan itu semakin membesar. Apabila Anda bingung cara mengajak dan memberdayakan orang-orang di sekitar Anda, bacalah buku “A Tribute” (diterbitkan Mizania) yang saya tulis. Mari berlomba melakukan revolusi mental untuk kebaikan negeri ini.
Salam SuksesMulia!
Jamil Azzaini, Trainer SuksesMulia twitter: @jamilazzaini. facebook

Salam Redaksi : Nikmat yang Sangat Besar




Assalaamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh

Berjumpa dengan bulan Ramadhan merupakan kenikmatan yang sangat besar. Maka selayaknya seorang muslim benar-benar merasakan dan menjiwai nikmat tersebut. Betapa banyak orang yang terhalang dari nikmat ini, baik karena ajal telah menjemput, atau karena ketidakmampuan beribadah sebagaimana mestinya, karena sakit atau yang lainnya, ataupun karena mereka sesat dan masa bodoh terhadap bulan yang mulia ini. Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim bersyukur kepada Allah atas karunia-Nya ini. Berdoa kepada-Nya agar dianugerahi kesungguhan serta semangat dalam mengisi bulan mulia ini, yaitu dengan ibadah dan dzikir kepadaNya.

Yang menyedihkan, banyak orang tidak mengerti kemuliaan bulan suci ini. Tidak menjadikan bulan suci ini sebagai lahan untuk memanen pahala dari Allah dengan memperbanyak beribadah, bersedekah dan membaca Al Qur`an. Namun bulan yang agung ini, mereka jadikan musim menyediakan dan menyantap aneka ragam makanan dan minuman, menyibukkan kaum ibu terus berkutat dengan dapur. Sebagian yang lain ada yang memanfaatkan bulan mulia ini hanya dengan bergadang dan ngobrol hingga pagi, kemudian pada siang harinya dipenuhi dengan mimpi-mimpi. Bahkan ada yang terlambat untuk shalat berjamaah di masjid. Ataupun tatkala shalat di masjid, ia berangan-angan agar sang imam segera salam.

Barangsiapa yang mengetahui keagungan bulan suci ini, maka dia akan benar-benar rindu untuk bertemu dengannya. Para salaf sangat merasakan keagungan bulan suci ini, sehingga kehadirannya selalu dinanti-nanti oleh mereka. Bahkan jauh sebelumnya, mereka telah mempersiapkan perjumpaan itu.

Mu’alla bin Al Fadhl berkata,”Mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan … .” Pujilah Allah dan bersyukurlah kepadaNya karena telah mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan dalam keadaan tentram dan damai. Renungkanlah, bagaimanakah keadaan saudara-saudara kita di Palestina, Suriah, Afghanistan, Iraq dan negeri-negeri yang lainnya? Bagaimanakah keadaan mereka dalam menyambut bulan suci ini? Musibah demi musibah, derita demi derita menimpa mereka. Dengan derita dan tangisanlah mereka menyambut bulan suci ini.  Maka, masihkah kita biasa-biasa saja mempersiapkan Ramadhan yang tinggal hitungan hari?

Wassalaamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh

Redaksi

Membelajarkan Kecerdasan Sosial


Oleh Dr. Ali Mahmudi

Pada suatu kegiatan pembelajaran, seorang anak berkata kepada guru, ”Bu guru, saya tidak memahami bagian ini ....” Guru itu tidak serta merta memberikan penjelasan kepada anak itu, melainkan berkata kepada anak-anak lainnya, ”Anak-anak, teman kalian ini mengalami kesulitan memahami materi. Ada yang bersedia membantu?” Pada kesempatan lain, guru itu juga berkata ”Anak-anak sekalian. Faiz, teman kalian, hari ini tidak masuk karena sakit. Yuk, kita doakan bersama-sama.” Dua ilustrasi itu secara sederhana menggambarkan bagaimana guru membudayakan kesadaran pada diri anak untuk berempati dan peduli pada kesulitan orang lain. Kesadaran demikian merupakan indikator kecerdasan sosial yang sangat penting dimiliki anak.

Apa itu kecerdasan sosial? Secara sederhana, kecerdasan sosial adalah kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain. Kecerdasan tersebut di antaranya meliputi kepekaan terhadap kebutuhan orang lain, kesadaran berempati atau merasakan kesulitan orang lain, dan kemampuan menempatkan diri pada situasi sosial tertentu. Kecerdasan sosial juga mencakup kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, berbagi ide, bernegosiasi, bertindak secara bertanggung jawab, dan sebagainya.

Setiap manusia memiliki potensi kecerdasan sosial. Secara naluriah, setiap manusia memerlukan kehadiran orang lain dalam kehidupannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala mendorong manusia untuk mengembangkan potensi kecerdasan sosial yang dimiliki, sebagaimana dinyatakan dalam Q.S Al-Hujuraat: 13, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia dengan beragam bangsa dan suku agar saling mengenal, saling berinteraksi. Di sisi lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala mencela manusia yang tidak mengembangkan kecerdasan sosialnya, yakni abai terhadap kesulitan orang lain, seperti anak yatim dan orang miskin (Q.S. Al-Ma’un: 1 – 7). Bahkan dalam ayat-ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkategorikan manusia demikian sebagai pendusta agama.

Seberapa pentingkah anak-anak perlu memiliki kecerdasan sosial? Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia sebagai pribadi yang utuh dengan berbagai potensi kecerdasan, termasuk kecerdasan sosial. Pengabaian terhadap salah satu jenis kecerdasan, misalnya kecerdasan sosial, akan menjadikan anak menjadi pribadi yang timpang. Mungkin, rendahnya kecerdasan sosial akan berdampak pada terciptanya generasi yang cerdas secara kognitif, tetapi sangat abai terhadap berbagai masalah sosial. Rendahnya kecerdasan sosial juga berdampak pada terciptanya generasi yang lebih mengedepankan bahasa kekerasan dalam menyelesaikan masalah daripada menggunakan bahasa yang santun dan beretika. Mungkin juga, rendahnya kecerdasan sosial akan berdampak pada terciptanya generasi yang egois, abai terhadap hak-hak orang lain, dan rela melakukan apapun asalkan tujuan tercapai meskipun harus menodai kehormatan orang lain. Jadi, seberapa pentingkah kecerdasan sosial bagi anak? Untuk menjawab pertanyaan ini, mari kita sadari bahwa kesuksesan tidak hanya dimiliki oleh orang-orang yang jenius. Bahkan tidak sedikit orang-orang jenius yang memiliki kehidupan pribadi dan sosial yang memprihatinkan. Sebaliknya, tidak sedikit pula orang-orang yang berkemampuan biasa, tetapi memiliki kehidupan yang sukses.

Di manakah anak-anak mengembangkan kecerdasan sosial? Tempat yang pertama dan utama tentu saja adalah keluarga. Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang harmonis dan tercukupi kebutuhan psikisnya cenderung lebih mudah mengembangkan kecerdasan sosialnya. Tempat berikutnya yang berpotensi untuk mengembangkan kecerdasan sosial anak adalah sekolah. Sekolah hendaknya diposisikan sebagai sebagai miniatur masyarakat dan laboratorium sosial, tempat di mana anak dapat mengembangkan kecerdasan sosialnya. Sekolah hendaknya tidak menjadi tempat yang mengasingkan anak dengan realitas sosial. Di sekolah, anak perlu mempelajari berbagai keterampilan sosial untuk mempersiapkan mereka untuk berperan optimal dalam kehidupan bermasyarakat.

Bagaimana cara membelajarkan kecerdasan sosial anak di sekolah? Pembelajaran kecerdasan sosial tidak harus dilakukan melalui mata pelajaran tersendiri, melainkan dapat terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran berbagai mata pelajaran sebagaimana diilustrasikan di awal tulisan ini. Kegiatan diskusi dapat pula dipandang sebagai cara yang efektif untuk membelajarkan kecerdasan sosial. Melalui kegiatan diskusi, anak dapat saling belajar dari sesamanya. Mereka dapat saling mengembangkan berbagai keterampilan sosial, seperti kesediaan berbagi, kesediaan menerima ide teman, kepedulian terhadap masalah yang dihadapi teman, berargumentasi sebelum kesepakatan diterima, dan sebagainya.

Mari kita sadari bahwa anak-anak juga akan belajar dengan cara mengamati dan meniru perilaku orang-orang di sekitarnya. Oleh karena itu, selain melalui kegiatan pembelajaran sebagaimana dikemukakan di atas, memberikan contoh nyata bagaimana berperilaku santun dan beretika dalam berinteraksi akan menjadi cara yang efektif untuk membelajarkan kecerdasan sosial kepada anak. Bagaimana orang-orang dewasa di sekitar anak, termasuk orang tua dan guru, dalam bertutur kata dan berperilaku akan sangat menentukan kecerdasan sosial anak.

Demikianlah, menumbuhkan kecerdasan sosial anak demikian penting dilakukan. Upaya ini perlu dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan yang melibatkan berbagai pihak, terutama keluarga dan sekolah. Kita berharap, upaya ini berbuah pada terbentuknya generasi yang utuh, cerdas, cendekia, dan bernurani.

Dr. Ali Mahmudi, Dosen Ilmu Matematika Universitas Negeri Yogyakarta.

Agar Hukuman Menjadi Efek Positif


Oleh : Sri Lestari

Hari ini kelas 5A yang biasanya ceria menjadi tegang. Pasalnya telah terjadi pelanggaran yang bisa dikategorikan berat untuk ukuran kelas tersebut yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Ada seorang anak yang secara sembunyi-sembunyi merokok dan ketahuan temannya, ketika ditegur temannya bukannya sadar tapi ia malah mengancam akan memukulnya bila memberitahukan hal tersebut kepada pak guru. Tapi beruntunglah hal tersebut di ketahui seorang guru yang tanpa sengaja melintas di tempat tersebut. Sehingga permasalahan langsung  ditangani.

Kedua anak ini dipanggil di kantor guru dan di tanya,”Apa kamu mengetahui dengan benar bahwa Doni merokok ?”

“Iya benar pak! Saya melihat sendiri ia merokok.Ketika saya tegur ia menjadi marah dan mengancam saya.”Kata Ilham menjelaskan.

“Benar begitu Doni?”Doni hanya menunduk.

“Bukankah kamu tahu bahwa merokok itu bisa merusak kesehatan dan termasuk perbuatan yang mubadzir, pemborosan yang di larang dalam agama. Mengapa kamu melakukan hal itu?”Tanya pak Guru.

“Saya menyesal dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi pak?” Kata Doni.

“Minta ampunlah pada Allah dan berjanjilah kepada-Nya untuk tidak mengulanginya, Karena kalau kamu berjanji pada bapak bisa saja kamu melakukannya lagi di belakang bapak.Kalau kamu berjanji kepada Allah Yang Maha Melihat dan Mengawasi tentu kamu akan berusaha untuk memegang janjimu.”Nasehat pak guru.

“Karena kamu telah bersalah maka kamu dapat hukuman membuat kliping dan menulis tentang bahaya rokok baik bagi si perokok maupun bagi orang yang berada di sekitar perokok!”

“Iya pak akan saya buat.”Kata Doni.

Anak berbuat salah
Siapa diantara kita yang berani mengatakan dirinya tidak pernah melakukan kesalahan? Sepanjang dunia ini masih ada manusia dan setanpun masih ada, maka kemungkinan kita berbuat salah itu selalu ada. Tapi berdasarkan Hadits Nabi sebaik baik kamu adalah manusia yang bertaubat dari kesalahannya,dan mengiringi kesalahannya dengan berbuat kebaikan.

Orang dewasa saja bisa berbuat salah apalagi anak anak yang tentunya masih banyak hal yang belum ia ketahui dalam kehidupan ini.Maka peluang berbuat salah bagi mereka sangatlah besar.

Yang perlu diperhatikan disini bagaimana anak anak bisa belajar dari kesalahan yang telah ia perbuat, dan tidak mengulangi kesalahannya.

Sebagaimana yang dilakukan oleh seorang guru pada ilustrasi diatas yang memberikan peringatan dan hukuman dengan memberikan tugas pada anak. Guru berharap anak tidak mengulangi perbuatannya.     

Yang menjadi pertanyaan terkadang kita sudah memberikan hukuman pada anak tapi ternyata tidak bisa merubah perilaku buruk anak .Lalu hukuman apa yang efektif bisa memberikan efek positif pada anak? Lalu bolehkah kita memberikan hukuman yang bersifat fisik pada anak? Kalau boleh, bagaimana memberikannya sesuai dengan tuntunan agama sehingga tidak menimbulkan dampak negatif apalagi sampai menganiaya anak?

TIP MEMBERIKAN HUKUMAN
  1. Perhatikan usia anak karena pada setiap usia  perkembangan tentu berbeda penyikapannya. Misal berbohongnya anak usia dua setengah tahun dengan anak yang sudah 12 tahun tentu berbeda  . Karena anak usia dua atau tiga tahun belum bisa membedakan antara khayalan imajinasi dengan sesuatu yang nyata. Sedang anak 12 tahun harusnya sudah tahu mana itu bicara benar dan berbohong.  
  2. Untuk kesalahan yang pertama kali dilakukan anak berilah kesempatan anak untuk bertaubat dan meminta maaf. Bisa dengan membuat perjanjian untuk tidak mengulangi kesalahannya atau bentuk lainnya.
  3. Tidak menjadikan hukuman sebagai sarana mempermalukan anak.Tapi sebagai wujud kasih sayang pendidik dalam bentuk lain untuk memperbaiki perilaku anak.
  4. Bertahap dalam memberikan hukuman.Misal pertama di beri nasihat,peringatan,Di cabutnya beberapa hal yang di senanginya.
  5. Perhatikan karakter anak. Karena setiap anak akan berbeda. Ada anak ketika berbuat salah dengan hanya di beri nasehat sudah bisa berubah. Ada yang dengan wajah tidak suka orang tuanya ia sudah faham. Tapi ada juga anak sudah di beri nasehat, kemudian peringatan  dan segala macam cara tidak juga berubah sikapnya, baru dengan hukuman fisik baru berubah.
  6. Jadikan hukuman fisik sebagai jalan terakhir setelah segala upaya untuk memperbaiki kesalahan anak tidak berhasil.Hukuman fisik ini berdasar hadits Nabi.
  7. “Suruhlah anak anak kamu untuk shalat saat usia mereka tujuh tahun.Dan pukullah mereka(jika tidak mau shalat) bila umur mereka mencapai sepuluh tahun. Dan pisahkanlah di antara mereka di tempat tidur.”(R.Abu Dawud)
  8. Memberikan hukuman fisik dengan catatan tidak boleh marah ketika menghukum, tidak boleh memukul muka dan kepala,hendaklah memukul di tangan atau kaki . Pukulannya tidak keras dan tidak menyakitkan.
  9. Agar kita memahami dengan jelas posisi hukuman fisik dalam pendidikan marilah kita simak sebuah hadits. Dari Aisyah mengatakan,”Rasulullah SAW tidak pernah memukul pembantu, binatang dan apa pun, kecuali saat ia berjihad di jalan Allah.” (HR.Muslim).

 Sri Lestari, Anggota Pimpinan Wilayah Muslimat Hidayatullah Jateng DIY | Penulis Buku

Perempuan Penjual Susu


Oleh : Atik Setyoasih

Umar bin Al-Khatab Radhiyallahu Anhu adalah orang yang tak memandang seseorang dari pekerjaannya, keturunannya, atau hartanya, atau yang lainnya. Menurut beliau kepribadian adalah hal paling utama dalam menilai seseorang. Saat memilihkan istri untuk anaknya; Ashim, ia menunjukkan seorang gadis penjual susu. 

Gadis penjual susu itu bukan sekedar wanita yang biasa saja. Gadis itu tetap punya kepribadian yang baik dan beriman meski papa harta, keadaanya sulit dan rendah kedudukan. Tapi derajat ihsan kepada penciptanya telah membuatnya mulia. Seorang gadis yang bersungguh-sungguh beribadah kepada Allah seolah-olah Allah melihatnya, kalaupun tidak begitu ia yakin bahwa Allah melihatnya. Dalam kondisi apapun. 

Suatu malam, Umar bin Khatab Radhiyallahu Anhu meninjau keadaan rakyatnya. Beliau berjalan dalam malam untuk mengetahui kondisi rakyatnya. Kemudian, ia mendengar percakapan dua orang perempuan dalam sebuah rumah. Percakapan itu berisikan seorang perempuan yang menyuruh anak perempuannya mencampur susu dengan air sebelum dijual. 

“Ibu, apakah engkau tidak pernah mendengar apa yang dikatakan Amirul Umar bin Khatab Radhiyallahu Anhu?” tanya si anak perempuan kepada ibunya.

“Apa yang dikatakannya?” 

”Ia melarang untuk mencampur susu dengan air sebelum dijual!” Jawabnya
Mendengar jawaban putrinya, si ibu tidak memperdulikannya. Bahkan menyuruh kembali si anak untuk mencampur susu dan air. Ibu yakin bahwa Umar tidak tau. Gadis itu kemudian berbicara lagi kepada Ibunya. 

“Ibu, Khalifah Umar memang tidak tahu apa yang kita lakukan, tapi Allahlah yang melihat. Demi Allah aku tidak akan patuh dihadapannya, sementara dibelakangnya aku menentang.”

Setelah mendengar percakapan itu, Umar pulang dengan hati menyimpan sesuatu. Pagi harinya, Umar memanggil anaknya; Ashim. Kemudian meminta Ashim mendatangi gadis tersebut.

“Pergilah ketempat ini dan itu. Disana ada seorang gadis. Jika ia belum menikah, maka nikahilah. Semoga Allah akan memberikan keturunan yang diberkahi.”

Allah menakdirkan mereka menikah. Hingga dikemudian hari, benarlah doa Umar bin Khatab bahwa akan lahir seseorang yang akan membawa kebaikan. Mereka dikaruniai anak bernama Ummu Ashim, yang kelak nikah dengan Abdul Aziz bin Marwan. Bagaimana kemudian? Lahirlah Umar bin Abdul Aziz; seorang khalifah yang dikenal keadilan dan kesalehannya. 


Bagaimana muslimah? Bagaimana dengan kita?

Atik Seyoasih, Mahasiswa Univeristas Ahmad Dahlan Yogyakarta weblog www.atiksetyo.blogspot.com | twitter @atiksetyoA
Sumber gambar : www.binaamal.or.id

Ketrampilan Bertanya kepada Anak


Oleh : Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi.

Salah satu keuntungan terbesar yang kita miliki dari mendengarkan dan mencoba untuk memahami apa yang disampaikan anak-anak adalah kita memiliki kesempatan memahami dan menjawab  dengan lebih baik pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anak-anak kepada kita.

Biasanya, anak-anak prasekolah akan mengajukan pertanyaan tentang topik-topik yang ”mudah” dan seringkali tidak menuntut jawaban yang detail yang seringkali kebanyakan orangtua ragu untuk menjawabnya.

Sebagai sebuah contoh, ketika seorang anak taman kanak-kanak bertanya kepada ibunya, ”Aku berasal dari mana?”. Sebagaimana kebanyakan orangtua yang  beranggapan bahwa anak-anak usia demikian sudah cukup umur untuk memahami sebuah percakapan awal  tentang ”burung dan lebah”, maka sang ibu dengan antusias menjelaskan siklus kehidupan binatang tersebut kepada anaknya, termasuk penjelasan detail tentang ”telur-telur” induknya dan sejenisnya. Ketika sang ibu selesai bercerita, sang anak merasa heran mendengarkan jawaban panjang lebar ibunya karena baru saja di sekolah dia mendengarkan anak perempuan teman sekelas yang baru pindahan ke sekolahnya mengatakan  bahwa dia berasal dari Cianjur ketika ditanya guru dari mana asalnya.

Jadi, jika kita merasa tidak yakin  dengan apa sebenarnya maksud dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anak-anak, kita bisa mencoba untuk mengajukan sejumlah pertanyaan untuk mendapatkan kejelasan. Biasanya dengan melakukan seperti ini akan memberi kita pemahaman yang lebih baik apa yang sebenarnya ingin anak-anak ketahui, juga memberikan waktu bagi kita untuk merumuskan dengan lebih baik jawabannya.  Proses seperti ini juga akan membantu anak-anak untuk merasa lebih didengarkan dan lebih percaya diri terhadap kemampuannya untuk berkomunikasi efektif dengan Anda dan mungkin juga dengan orang lain. Proses seperti Ini juga menjadi sangat penting ketika berhubungan dengan topik-topik yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan bagi anak maupun orangtua seperti seksualitas, alkohol atau obat-obatan.

Jika anak-anak mengajukan sebuah pertanyaan kepada kita dan kita sedikit pun tidak memiliki gambaran apa jawabannya, maka kita bisa membantu melatih keterampilan penyelesaian masalah anak-anak kita dengan cara mengajukan kembali pertanyaan seperti,” Saya tidak tahu apa yang terjadi dengan hal tersebut. Menurutmu bagaimana?”

Insyaallah sialog seperti ini kemungkinan akan berlanjut dan sangat membantu kita mendapatkan jawaban yang tepat atas pertanyaan yang diajukan anak-anak. Atau mungkin saja kita pada akhirnya menyimpulkan bahwa tidak ada seorang pun di antara kita yang tahu jawabab atas pertanyaan tadi. Proses seperti ini juga menjadi sangat penting bagi anak-anak karena mengajarkan kepada anak-anak bahwa tidak sempurna itu sesuatu yang OK dan tidak perlu tahu jawaban setiap saat. Proses ini, meskipun tidak memungkinkan bagi para orangtua untuk selalu mengetahui jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan anak mereka, tetap memberi kesempatan kepada para orangtua untuk mendorong rasa ingin tahu anak-anak mereka dengan mendengarkan, memahami, dan tidak menghakimi.

Ketika anak-anak membawa sebuah topik yang sensitif, terutama jika topik tersebut merupaka sesuatu yang berada di luar jangkauan pengetahuan kita,  cobalah untuk mengajukan sejumlah pertanyaan sehingga memberi kita sedikit waktu untuk menyesuaikan terhadap topik tersebut dan untuk memastikan bahwa kita  memahami pertanyaan-pertanyaan mereka. Ini juga menjadi penting bagi anak-anak untuk mengetahui bahwa kita akan mendengarkannya, tanpa menjadi marah atau berteriak. Tanggapan negatif atau menghakimi terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan anak-anak sebelum kita benar-benar mengetahui semua informasinya  merupakan cara terbaik untuk memastikan bahwa anak-anak tidak akan pernah mau membawa topik-topik sensitif itu lagi kepada orangtuanya.

Karena kita akan memiliki percakapan secara reguler di setiap akhir hari, minggu, dan bulan, sekarang kita tidak perlu khawatir lagi bahwa anak-anak akan belajar bahwa mereka gagal atau mereka merasa diabaikan. Ketika kita membiasakan keterampilan bertanya ini sejak anak-anak prasekolah dan berlanjut hingga mereka remaja, maka kita akan menemukan bahwa kita menjadi terbiasa (tidak mudah terpancing emosi lagi) mendengarkan topik-topik  yang menimbulkan ketidaknyamanan dan karena keterampilan mendengarkan kita menunjukkan perbaikan, merek juga akan memperbaiki kemampuannya untuk berkomunikasi dengan kita tentang masalah-masalah yang lebih penting.


Irwan Nuryana Kurniawan, Pimpinan Redaksi Majalah Fahma | Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia
Sumber gambar : muhammadteladanku.com

Parenting : Kekuatan Kata Cinta


Oleh : Dr. Subhan Afifi, M.Si.

Seorang anak laki-laki terlihat kesal, keluar dari gerbang sekolah. Wajahnya memendam marah. Di depannya, anak yang lain menangis sesenggukan. Tampaknya mereka baru saja berkelahi. Pak Guru yang tahu berusaha mendamaikan, walau tak mudah. Ini bukan kali pertama, si bocah itu terlibat masalah dengan kawan-kawannya. Ia memang gampang marah, mudah tersinggung, dan lebih memilih kekerasan, untuk menyelesaikan masalah.

Anak bertengkar atau berkelahi, itu biasa. Yang tidak biasa, ketika intensitas terjadinya sangat sering. Ada sesuatu yang harus dicurigai sebagai biang kerok ketika anak terbiasa berperilaku temperamental, sering terlibat persoalan dengan kawan sebaya, atau bahkan teman-temannya tak merasa nyaman bila berada di dekatnya. Jangan-jangan pelajaran dan keteladanan tentang “cinta” belum cukup didapatkannya di rumah.

Seorang anak dengan luapan cinta di hatinya, akan menjadi cahaya bagi siapa saja. Tak mungkin seorang anak “pecinta” mudah  terlibat perkelahian, atau menghajar teman sepermainannya tanpa rasa bersalah. Berkata-kata kasar, mengejek, atau mengata-ngatai kawan dan orang lain, bukan kebiasaannya. Ia juga bukan sumber masalah tapi justeru seringkali tampil sebagai juru damai. Karena ada cinta di dadanya.

Pelajaran tentang cinta sejati selayaknya didapatkan anak-anak sejak dini di rumah. Bukankah urusan cinta dan kasih menjadi esensi ajaran dien yang agung ini, bahkan menjadi syarat jika seseorang ingin merasakan manisnya iman? Cinta sejati adalah cinta karena Allah Ta’ala. Bukan yang lain. Belajar untuk, mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari kecintaan atas apapun. Cinta pada orang tua, kakak-adik, saudara, sahabat, dan yang lainnya, semuanya dilandaskan karena Allah. Berusaha untuk mencintai mereka semua karena Allah Ta’ala. Sekali lagi, bukan karena yang lain. Nilai-nilai hakiki inilah yang selayaknya ditanamkan pada anak, hingga kelak dia tumbuh menjadi laskar cinta sejati. Bukan menjadi pemuja cinta palsu, apalagi terlarang.

Tentu saja pelajaran tentang cinta harus diwujudkan dalam keseharian, tidak sekedar berformat ceramah tak berbekas. Agar anak belajar menemukan cinta dalam kehidupannya, ia harus dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan. Ini nasehat klasik Dorothy Law Nolte. If a child lives with acceptance and friendship, he learns to find love in the world. Apa yang ditemukan anak di rumah adalah contoh-contoh cinta yang sesungguhnya. Sang ayah mencintai bunda dengan ketulusan, demikian juga sebaliknya. Kakak sayang sama adik, adik hormat kepada kakak. Begitu seterusnya, semua dirasakan sebagai manifestasi cinta karena Allah.

Bahasa yang selayaknya berlaku di rumah adalah bahasa cinta. Jangan pernah meremehkan kekuatan kata-kata. Apalagi kata cinta. Kata-kata (bahasa verbal) adalah jenis pesan komunikasi yang paling mudah menancap dalam hati. Bahasa non verbal, lebih berfungsi sebagai peneguh bahasa verbal. Kata-kata bisa membangkitkan, atau sebaliknya melemahkan. Bisa menginspirasi atau malah membenamkan potensi. Sangat mulia contoh dari Sang Nabi ketika menyatakan cinta pada sahabatnya, sebelum memberi nasihat : “Sungguh, aku mencintaimu karena Allah !”  Cinta sejati karena Allah-lah yang membuat para sahabat Rasul dari kalangan Anshar bersedia berbagi apa saja pada saudaranya dari kalangan Muhajirin. Tanpa dihitung-hitung untung ruginya. Dan..mereka terbiasa serta diajarkan untuk saling menyatakan cinta.

Kepada anak-anak pun, pernyataan cinta menjadi kebutuhan. Tak usah malu, untuk memangku  si kecil yang sedang beranjak besar  sambil membisikkan: “Mas, Ayah dan Bunda cinta kamu karena Allah.” Sebagai ungkapan penghargaan atas usaha kerasnya untuk belajar menjaga shalat berjama’ah  5 waktu di masjid misalnya. Atau : “Mbak, sungguh Abi dan Ummi sayang banget sama kamu, karena kamu udah menjalankan perintah Allah. Pasti Allah juga sayang sama Mbak…!” sebagai ungkapan tulus atas usaha puteri tercinta kita yang terlihat sungguh-sungguh untuk mengenakan busana muslimah. Kata-kata sejenis yang menunjukkan ungkapan cinta selayaknya sering diperdengarkan di “baiti-jannati” kita. Bukan kata-kata yang mengobarkan permusuhan, menyiutkan nyali, atau bahkan menghancurkan jati diri. Kebiasaan memarahi, menyalahkan, membentak, atau sekedar menyindir yang memojokkan, jauh dari bahasa cinta.

Anak yang tahu jika dirinya dicintai secara tulus, akan memiliki pandangan yang positif terhadap dirinya. Pernyataan cinta akan menguatkan konsep diri, sekaligus memberi kekuatan yang menggerakkan,  agar kelak mereka juga berbuat serupa: mencintai  saudaranya karena Allah. Semoga anak-anak kita menjadi generasi penuh cinta, karena Allah tentu saja. Amin Ya Rabb.


Dr. Subhan Afifi, M.Si. Dosen Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta | Redaktur Ahli Majalah Fahma | Penulis Buku Biografi | twitter @subhanafifi | web www.subhanafifi.com