» » Cerdas di Sekolah : Knowledge Management (1)

Cerdas di Sekolah : Knowledge Management (1)

Penulis By on Thursday, April 23, 2015 | No comments


Oleh : Saryo, MPd

Pertengahan tahun 2005 penulis diundang ke sebuah sekolah Islam terpadu tingkat dasar di pinggiran kota Semarang. Sekolah tersebut menempati area yang cukup nyaman; tanah luas, bangunan standar dan penataan lingkungan yang amat bagus. Kala itu penulis diundang untuk bertemu dengan para guru untuk berbagi pengetahuan tentang kurikulum berbasis tauhid.

Setelah berinteraksi dengan para guru sekolah tersebut, ternyata di sekolah yang tampak dari luar nyaman itu, para pengelola dan sebagian gurunya sedang mengalami kegalauan yang amat membuncah. Pasalnya, 15 guru senior di sekolah itu keluar secara bersamaan, termasuk guru kelas enam. Sekolah yang baru berjalan enam tahun, dan sedang menyiapkan lulusan perdana jadilah morat-marit. Sebagian murid pindah ke sekolah lain karena orangtua merasa cemas dengan pengganti guru anak-anaknya yang belum meyakinkan kompetensinya, karena masih baru dan belum berpengalaman. Tentu, sekolah manapun akan mengalami persoalan serius jika 15 orang guru senior keluar secara bersamaan.

Rhenald Kasali, pakar manajemen bisnis dari Universitas Indonesia memberikan uraian tentang penelitiannya di salah satu perusahaan milik negara bernama PT Wijaya Karya (WIKA). Jajaran pimpinan WIKA pada era 1980-an merasa gelisah dengan sistem pengelolaan kepegawaian yang belum tertata dengan baik, sementara setiap tahun, 1000 orang karyawan pensiun. Pensiunnya ribuan karyawan tentu membawa dampak pada berkurangnya pengalaman jajaran WIKA, karena 1000 karyawan baru tentu belum memiliki pengalaman sebagaimana karyawan WIKA yang memasuki masa pensiun. Mereka telah bekerja puluhan tahun dengan segudang pengalaman lapangan serta pengetahuan dari tugas pelatihan yang telah banyak diikuti.

Untuk mengatasi hal ini, WIKA mengaryakan sebagian kecil karyawan yang telah pensiun karena dirasa masih amat dibutuhkan oleh WIKA. Namun langkah mengkaryakan sebagian karyawan yang telah memasuki masa purna tugas tidak bisa menyelesaikan masalah. Di sisi lain, jajaran pimpinan WIKA menyadari tanpa sumber daya manusia yang handal dan kompeten di bidangya, perusahaan tidak bisa berkembang dengan baik.

Penulis mengadaptasi apa yang disampaikan oleh Rhenald Kasali dari penelusurannya di WIKA tentang pensiun tahunan karyawan WIKA yang mencapai 1000 orang untuk memperkuat peristiwa mundurnya 15 orang guru secara bersamaan di sebuah sekolah. Keadaan genting atas mundurnya secara massal guru di suatu sekolah bisa berdampak buruk terhadap murid. Guru-guru penggantinya tentu butuh penyesuaian yang lama dengan murid-murid. Kompetensi guru baru tentu butuh waktu pula untuk mengasahnya. Jika hal ini tidak bisa ditanggulangi dengan baik, bisa berakibat mundurnya sekolah, kepercayaan orangtua atau masyarakat memudar dan tentu akan berkurangnya jumlah murid .
Lembaga pendidikan harus mengupayakan pengelolaan sumber daya manusia secara baik untuk menjamin keberlangsungan proses pembelajaran yang dilakukan. Proses pengelolaan sumber daya guru di suatu sekolah bisa dilakukan sebagai berikut;  Pertama; Tenaga pendidik dan tenaga kependidikan harus diperhatikan oleh pengelola secara layak termasuk gaji yang diterima oleh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Rasa aman dan nyaman perlu diupayakan bisa didapat di tempat mendidik, yaitu di sekolah. Kenyamanan yang didapat oleh segenap penghuni sekolah memungkinkan sekolah bisa melakukan kegiatan secara efektif. Kedua; Fokuskan seluruh ketersediaan sumber daya manusia untuk mencapai keunggulan yang telah direncanakan, penetapan seorang mengajar kelas tertentu atau bidang studi tertentu akan bisa dijalani secara nyaman dan akan berdampak positif terhadap peserta didik. Hindari bongkar pasang pembagian tugas mengajar di tengan pembelajaran sebagai akibat lemahnya perencanaan. Kegiatan yang dilakukan sebagai konsekuensi perencanaan bisa jadi berjalan lamban namun berjalan sehat. Apa yang telah dilakukan berdasarkan sistem yang terukur bisa menjadi pondasi sekaligus jembatan pengembangan sekolah  di masa yang akan datang.

Masih cukup panjang pembahasan tentang pengelolaan sumber daya guru ini. Insya Allah, pembahasan ini akan penulis lanjutkan di edisi selanjutnya. (BERSAMBUNG)

Saryo, M. Pd., PSDM LPI Salsabila, Yogyakarta
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya