» » » Kajian Utama : Tujuh Perkara yang Harus Dihindari Para Pembelajar

Kajian Utama : Tujuh Perkara yang Harus Dihindari Para Pembelajar

Penulis By on Sunday, April 5, 2015 | No comments


Oleh Slamet Waltoyo

Menuntut ilmu atau belajar menjadi kewajiban bagi setiap muslim. Lewat aktivitas inilah Allah Ta’ala mengajarkan ilmu kepada manusia. Dan dengan ilmu - yang Allah Ta’ala berikan, Allah akan mengangkat derajat manusia. Ada dua sisi yang bertemu bagi seseorang untuk mendapatkan ilmu. Pertama, belajar sebagai usaha sadar manusia untuk mendapatkan ilmu. Kedua, Allah Ta’ala sebagai pemilik ilmu membuka kesadaran atau pemahaman bagi manusia pembelajar yang dikehendaki-Nya.

Dengan demikian orangtua maupun guru akan memberikan pra-kondisi bagi anak atau muridnya sebelum ia belajar. Agar anak atau murid dapat belajar dan mendapatkan ilmu dengan baik, baik dengan melakukan sesuatu atau dengan tidak melakukan sesuatu ketika ia belajar. Inilah yang dikatakan dengan adab menuntut ilmu.

Berbeda dengan yang dilakukan oleh orangtua atau guru yang hanya melihat sisi yang tidak lengkap dalam belajar. Belajar hanya dilihat sebagai upaya sadar seseorang untuk mendapatkan ilmu, di mana sumber ilmu adalah segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Pandangan demikian tentu tidak lengkap dan tidak sesuai dengan hakekat belajar. Sebagaimana cara belajar yang Allah Ta’ala ajarkan dalam surat Al’Alaq ayat 1 hingga 5. Yaitu:  1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, 2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. 3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Terkait dengan hakekat belajar di atas, maka yang terpenting dari adab belajar adalah penghormatan terhadap ilmu. Karena ilmu bukan berasal dari obyek yang kita pelajari, sebab melalui obyek belajar itulah Allah Ta’ala memberikan ilmu-Nya. Maka ada beberapa hal yang harus dihindari oleh para pembelajar, yaitu: Pertama, jangan belajar hanya untuk tujuan sesaat/terbatas. Misalnya belajar untuk lulus Ujian Nasional, untuk meraih ranking kelas atau sekolah, dan sebagainya. Melainkan tujukan belajar itu untuk menguasai suatu kompetensi sebagai bentuk kewajiban dalam menjalankan perintah Allah.

Kedua, jangan meremehkan guru. Memang dalam belajar, guru berperan sebagai fasilitator, sebagai administrator. Akan tetapi melalui aktivitas pelayanan guru seperti itulah, Allah Ta’ala mengalirkan ilmu-Nya kepada murid. Hormati dan junjung tinggi guru di mana pun dan kapan pun. Karena inilah salah satu bentuk penghormatan terhadap ilmu.

Ketiga, jangan putus asa. Allah pemilik ilmu, Allah mengetahui kapasitas akal semua pembelajar. Kalau merasa ada sesuatu yang sulit dipahami, yakinlah itu karena belum menemukan jalan yang pas untuk masuknya suatu ilmu. Maka terus berupaya dengan berbagai cara.

Keempat, jangan remehkan doa. Doa adalah penghubung ruhiah terbaik antara pembelajar dan Sumber Ilmu. Maka kualitas dan kuantitas doa pasti bermakna. Jangan jadikan doa penuntut ilmu hanya sebagai formalitas seremonial yang harus ada saja. Jadikan doa yang juga sebagai bagian utama dalam belajar. Saatnya meminta ilmu kepada Sang Pemiliknya, kemudian lakukan belajar dengan baik sebagai prasyarat mendapatkan ilmu.

Kelima, jangan banyak makan dan banyak tertawa. Lambung yang penuh menjadikan akal malas berpikir. Banyak tertawa juga akan menumpulkan akal. Sisakan sepertiga rongga lambung untuk udara. Makan secukupnya yang halal, bergizi dan higienis. Ciptakan suasana yang segar dan ceria terkait dengan kompetensi yang sedang dipelajari sehingga anak akan terlibat secara emosi.

Keenam, jangan remehkan alat-alat belajar. Jaga, rawat dan gunakan dengan baik semua buku dan alat tulis yang digunakan untuk belajar. Allah Ta’ala mengajarkan ilmu dengan perantara baca tulis (kalam). Maka menghormati alat-alat baca tulis berarti menghormati ilmu. Gunakan alat-alat untuk membaca dan menulis dengan baik.

Ketujuh, jangan pelit ilmu. Mulialah mereka yang dipilih oleh Allah Ta’ala menjadi lantaran mengalirnya ilmu Allah kepada orang lain. Apalagi dengan sesama pembelajar. Jangan berpikir jika mengajari teman berarti ilmu kamu berkurang dan berpindah ke teman yang diajari. Dengan mengajari teman maka ilmunya akan bertambah matang dan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah dan manusia.


*) Slamet Waltoyo, Kepala Sekolah MI Al-Kautsar Cebongan Sleman
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya