» » Keluarga Pejuang Islam, Gambaran Keluarga Bahagia

Keluarga Pejuang Islam, Gambaran Keluarga Bahagia

Penulis By on Sunday, April 12, 2015 | No comments


Oleh : Yusuf Sabiq Zaenudin

Jadikan rumah tangga sebagai markas pengkaderan generasi akan datang. Suami menghidupkan semangat memahami agama, sehingga istri dan anak semakin cinta kepada  Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan menghidupkan cahaya hati anggota keluarga, sehingga perbuatannya sesuai syariat Allah Ta’ala.

Saling memberikan nasehat dalam kebenaran dan kesabaran, pujian, perhatian, hadiah, dan doa. Tumbuhkan sikap percaya diri yang tumbuh dari iman kepada Allah, kasih sayang, kemesraan dan saling menghormati antar anggota keluarga dalam suasana tauhid.  Orangtua menjadi pendengar yang bijak dari curahan hati anak-anak. Orangtua bersikap terbuka dalam menerima kritikan anak.

Berkomunikasilah antar anggota keluarga dengan lembut dan mengutamakan musyawarah dalam amar ma’ruf nahi munkar. Komunikasi  bisa berbentuk lisan atau bukan lisan, misalnya tingkah laku, mimik muka, tulisan, gerakan anggota badan dan penampilan anggota keluarga.  Komunikasi dalam keluarga akan senantiasa terpelihara selama komunikasi dengan Allah pun tetap terjaga.

Ucapkanlah salam setiap keluar dan masuk rumah. Berkatalah dengan ucapan yang baik karena menjadi teladan bagi anak. Hindari pertengkaran antara suami istri di hadapan anak-anak karena bisa merusak jiwa mereka.

Berlaku adillah dalam melayani anak-anak supaya terhindar perasaan dengki, iri hati dan dendam. Anak-anak yang lebih kecil menghormati kakaknya. Kakak harus menolong adik. Tanamkan sikap ini pada anak, sehingga tidak ada permusuhan dalam keluarga dan mereka saling menyayangi.

Berikan teladan kepada anak, bukan celaan dan kekerasan.  Berikan sikap terbaik, karena sikap kita terhadap anak akan berpengaruh pada bagaimana cara mereka bersikap kepada kita nantinya.

Wahai istri, berterima kasihlah atas kebaikan suami dengan senyuman manis, atau kata-kata cinta, atau maafkan kesalahan dan kekurangannya. Rasulullah Shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Allah tidak akan melihat kepada istri yang tidak tahu bersyukur kepada suaminya dan ia tidak merasa cukup darinya.” (HR An Nasa’i). Dalam hadits yang lain, Rasulullah Shalallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Wahai sekalian wanita, bersedekahlah karena aku melihat mayoritas penduduk neraka adalah kalian.” Maka mereka berkata: “Ya Rasulullah, mengapa demikian?” Beliau menjawab, “Karena kalian banyak melaknat dan mengkufuri kebaikan suami”.(HR Bukhori)

Pergaulilah keluarga suami dan kerabat-kerabatnya dengan baik. Simpanlah rahasia keluarga dan tutupilah kekurangan (aib) suaminya. Empatilah terhadap duka cita dan kesedihan suaminya.

Bersikaplah qana’ah, ridho dengan apa yang diberikan suami untuknya, baik sedikit ataupun banyak. Jangan menuntut di luar kesanggupan suaminya atau meminta sesuatu yang tidak perlu.

Didiklah anggota keluarga hidup sederhana, sehingga tidak boros dalam makanan, minuman, pakaian, perabot rumah tangga dan sebagainya. Firman Allah  Ta’ala, “Makan dan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (QS al-A’raf : 31).

Kenali dan pahami suami, sehingga tahu apa yang disukai suami dan penuhilah. Ketahui juga apa yang dibenci suami dan jauhilah. Dengan syarat tidak dalam perkara maksiat kepada Allah, karena tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al Khaliq.

Suami istri menyadari bahwa rumah tangga muslim adalah salah satu agenda gerakan Islam. Kehidupan rumah tangga dengan seluruh problemnya tidak boleh menghentikan semangat membela Islam. Suami istri harus saling menguatkan, saling mengingatkan, saling membantu menyalakan api perjuangan. Isteri memberi dorongan agar suami semakin berada di garis depan barisan pejuang. Tempalah seluruh anggota keluarga menjadi para pejuang Islam. Keluarga yang bahagia adalah keluarga penegak agama Allah Ta’ala yang senantiasa berdoa:

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al Furqan 74). Semoga kita dipertemukan dengan seluruh keluarga kita  di surga. Amin.

*) Yusuf Sabiq Zaenudin, Penulis buku ’Mendidik Remaja dengan Cinta
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya