» » Menghadapi Amukan “Temper Tantrums” Anak

Menghadapi Amukan “Temper Tantrums” Anak

Penulis By on Tuesday, April 21, 2015 | No comments


Oleh Hepi Wahyuningsih

Dalam sebuah situs internet, seorang ibu bercerita tentang perilaku anaknya yang berusia kurang lebih 3 tahun. Menurut ibu tersebut kesabarannya sedang diuji karena anak gampang ”mengamuk”. Anak sering menangis meraung-raung, bergulung-gulung dan memukuli siapa saja di dekatnya hanya karena hal yang sepele. Tangisannya benar-benar membuat sakit telinga dan menjengkelkan. Pernah di tengah malam si anak mengamuk seperti itu sampai tetangga ikut keluar rumah. Ibu tersebut juga bercerita bahwa ia pernah kehilangan kesabaran, ia pernah menepuk mulut anaknya yang menangis karena tidak tahan mendengar tangisan anaknya.  Sekali anak diam tetapi kali berikutnya bertambah keras tangisannya.

Oleh ahli psikologi, perilaku ”mengamuk” seperti di atas sering disebut dengan tempertantrum. Hampir sebagian besar anak usia prasekolah mengalami perilaku ”mengamuk” tersebut. Perilaku ini terjadi bukan untuk mencari perhatian, tetapi merupakan ekspresi kemarahan anak karena anak belum pandai untuk mengungkapkan perasaan marahnya secara verbal. Biasanya perilaku ini berlangsung 30 detik sampai 2 menit, tetapi dapat bertambah lama dengan disertai perilaku agresif seperti memukul, menggigit, dan  mencubit.

Perilaku ”mengamuk” pada anak prasekolah adalah hal yang normal ketika usaha anak untuk mandiri atau menguasai ketrampilan tertentu terhalang oleh sesuatu. Sebagai contoh, anak mengamuk karena ia tidak dapat mengambil mainannya atau ketika dia disuruh/dipaksa tidur oleh orangtua padahal dia sedang asyik bermain. Beberapa anak perilaku ”mengamuk”nya lebih dari anak yang lain. Hal ini dapat disebabkan oleh kondisi anak (lelah atau lapar), temperamen anak yang sulit, lingkungan yang membuat anak stress, atau faktor kesehatan anak (anak menderita autisme atau ADHD/gangguan perhatian).

Perilaku ”mengamuk” anak pada usia prasekolah merupakan hal yang normal karena bagian dari belajar kemandirian dan penguasaan ketrampilan. Jika anak mengalami perilaku ”mengamuk”, orangtua disarankan untuk tidak menghentikan perilaku ”mengamuk” anak. Usaha menghentikan perilaku ”mengamuk” kadang-kadang justru membuat perilaku tersebut bertambah. Biasanya anak yang sedang mengamuk sudah tidak dapat lagi mendengar nasehat orangtua. Jika orangtua memberikan nasehat pada anak yang mengamuk, maka biasanya orangtua akan hilang kesabarannya karena tidak didengarkan. Kemudian orangtua menjadi marah (memarahi/memukul anak), kemarahan orangtua ini akan membuat anak menjadi merasa tidak aman sehingga perilaku ”mengamuk” anak semakin menjadi-jadi.

Yang penting dilakukan oleh orangtua ketika anaknya ”mengamuk” adalah menenangkan diri dan kemudian memberikan rasa aman pada anak (misalnya dengan memeluk anak) serta menghindarkan anak dari bahaya lingkungan fisik (misalnya, meja/kursi). Orangtua tidak boleh menghukum anak, apalagi kemudian menjuluki anak dengan ”anak nakal” untuk menggambarkan perilaku ”mengamuk” anak. Setelah anak tenang, orangtua dapat mulai mengajak bicara anak sekaligus mengajari anak mengekspresikan kemarahannya dengan benar. Misalnya ”Bapak tahu, tadi kamu jengkel karena tidak bisa memakai sepatu. Kalau hatimu tidak nyaman atau jengkel, kamu bisa beritahukan ke ayah, jadi kamu tidak usah menangis”.

Jika anak jengkel/marah karena tidak dapat melakukan sesuatu, misalnya memakai sepatu, orangtua kemudian mengajari anak untuk dapat melakukan hal tersebut. Setelah anak mampu melakukannya, perlu ditekankan ke anak bahwa bila ia tidak dapat melakukan sesuatu, ia dapat meminta bantuan orangtua untuk megajarinya, jadi tidak perlu mengamuk. Agar perilaku ”mengamuk” tidak terbawa sampai remaja/dewasa, selain hal-hal tersebut di atas, orangtua juga perlu memberikan contoh nyata bagaimana cara yang tepat untuk mengelola rasa marah/frustasi.

Kadangkala perilaku ”mengamuk” terjadi di muka umum, bila ini terjadi, pindahkan anak ke tempat yang aman untuk melampiaskan emosinya. Jika perilaku ”mengamuk” terjadi karena anak ingin sesuatu yang tidak boleh oleh orangtua, maka orangtua harus tetap konsisten. Seringkali orangtua meluluskan permintaan anak karena malu anaknya ”mengamuk” di muka umum. Jika hal ini dilakukan, biasanya perilaku ”mengamuk” akan selalu berulang karena anak belajar bahwa jika ia menangis di muka umum, keinginannya pasti akan terpenuhi.

Perilaku ”mengamuk” anak sebenarnya dapat dihindari sebelum terjadi. Orangtua dapat menghindarkan anak dari situasi yang menyebabkan perilaku ”mengamuk”. untuk itu, orangtua perlu mengenali kebiasaan-kebiasaan anak, dan mengetahui secara pasti kondisi-kondisi yang memicu munculnya perilaku ”mengamuk” anak. Misalnya, orangtua tahu bahwa anaknya merupakan anak yang aktif bergerak dan gampang stres jika terlalu lama diam dalam mobil di perjalanan yang cukup panjang. Maka supaya ia tidak ’mengamuk”, orangtua perlu mengatur agar selama perjalanan diusahakan sering-sering beristirahat di jalan, untuk memberikan waktu bagi anak berlari-lari di luar mobil.

Orangtua juga dapat mencegah perilaku ”mengamuk anak” dengan memberikan pembiasaan/rutinitas kegiatan sehari-hari pada anak. Anak akan memahami jadwal kegiatan kesehariaannya, sehingga dia tidak lagi merasa dipaksa untuk melakukan suatu kegiatan. Misalnya, jika anak sudah terbiasa untuk tidur jam 8 malam, maka tanpa disuruh dia sudah bersiap untuk tidur tiap jam 8 malam. Rutinitas atau kebiasaan ini juga akan membentuk jam biologis atau mengkondisikan tubuhnya. Misalnya, bila jam 8 malam menjadi rutinitas waktu tidur anak, tiap menjelang jam 8 malam pasti si anak akan mengantuk, jadi tidak usah disuruh tidurpun anak akan pergi tidur.

Saat orangtua meminta anak melakukan sesuatu, memberikan dua pilihan yang sama-sama baik pada anak juga akan menghindarkan anak dari perilaku ”mengamuk” karena frustrasi. Misalnya, orangtua ingin anaknya cepat memakai baju, orangtua bisa berkata pada anak ”Ayo mas, pakai bajunya, mau pakai hemnya dulu atau pakai celananya dulu?”. Pertanyaan semacam ini menggiring anak untuk melakukan keinginan orangtua tanpa anak merasa dipaksa oleh orangtua, sehingga anak akan dengan senang hati melakukan kegiatan memakai baju. Allahu’alam bi Showwab.

Hepi Wahyuningsih, Dosen Fakultas Psikologi Dan Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia.
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya