Kecerdasan Luar Biasa


Oleh : Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi.

”Bu, aku jadi ingin tahu, kenapa sih ibu dan ayah sering bilang sayang, shaleh, dan pintar sama aku, adek Hasany dan adek Rasikh?” Tanya Aulia pada ibunya.

“Akh, yang benar, kak?” tanya Ibu seakan tidak percaya.
“Masa sih, ibu lupa, ya? Setiap kali mengingatkan aku untuk belajar, ibu bilang,”Aulia sayang, ayo sekarang waktunya baca buku pelajaran untuk besok hari. Insyaallah besok menjadi hari-hari yang menyenangkan begitu masuk sekolah karena sudah tahu kira-kira apa yang akan dijelaskan bapak ibu guru. Kalau ada yang belum jelas setelah membaca buku pelajaran hari ini, Mbak Lia kan tinggal meminta penjelasan sama bapak ibu guru. Bisa jadi bahan diskusi di kelas dan suasana kelas menjadi lebih ramai”. Setiap kali mengajak aku, Hasany, dan Rasikh untuk sholat berjama’ah di mushala rumah, ibu selalu bilang, “Anak-anakku sayang yang shaleh semuanya, alhamdulillaahirabbil’aalamiin sekarang waktunya shalat sudah tiba. Ayo, segera ambil wudhlu, kita mau ketemu sama Allah Subhanahuwata’ala, sayang. Bertemu Allah Ta’ala yang selalu menyayangi kita, selalu melindungi kita, senang mendengarkan dan mengabulkan setiap orang yang berdo’a kepada-Nya.”

”Iya, kakak Lia benar, Bu. Ayah juga begitu, Bu.” Ujar Hasany dan Rasikh bersamaan. ”Coba, hampir setiap hari kan ayah ngirim SMS sama kita, ”Rasikh, Hasany, Aulia, dan Ibu sayang, sudahkah hari ini membaca Alquran?” Kok pakai kata-kata sayang, sholeh, dan pintar segala? Kenapa sih, Bu? ”

Alhamdulillaahirabbil’aalamiin. Anak-anak Ibu dan ayah memang sholeh-sholeh dan pintar-pintar semuanya. Senang bertanya, itu bukti nyata dari Allah Ta’ala bagi ibu dan ayah, bahwa kalian memang anak-anak yang pintar. Anak yang pintar itu kan ciri dari anak sholeh dan pasti akan ditinggikan derajatnya oleh Allah Ta’ala.

”Apa yang Mbak Lia, Mas Hasany, dan Mas Rasikh rasakan setiap kali ibu dan ayah bilang sayang, sholeh, dan pintar?” Ibu balik bertanya sama Aulia.

“Yang jelas aku senang saat dipanggil seperti itu, Bu.” Jawab Aulia.
”Benar, Bu. Hasany merasa ibu dan ayah benar-benar sayang sama aku,” jawab Hasany.
”Kalau aku merasa diperhatikan,” jawab Rasikh tidak mau ketinggalan.

”Terus, setelah merasa senang, merasa disayang, dan merasa diperhatikan oleh ibu sama ayah, apa yang muncul dalam pikiran Mbak Lia, Mas Hasany, dan Mas Rasikh?” tanya Ibu.

”Karena merasa senang, aku pikir aku pasti bisa dan alhamdulillaahirabbil’alaamiin ternyata memang aku bisa mengerjakan dengan baik, Bu. Alhamdulillaah aku jadi pede abis, Bu, percaya diri. Aku jadi lebih bersemangat kalau melakukan sesuatu.” Jawab Aulia.

”Aku jadi lebih berani, Bu. Sekarang aku berani, tidak perlu ditungguin Ibu lagi saat aku sekolah. Aku bermain bersama teman-teman. Aku punya banyak teman dan mereka senang main sama aku.”Jawab Hasany.

”Kalau Rasikh tambah semangat dan tambah yakin, Bu, Rasikh bisa jadi anak sholeh, pintar, dan penyayang seperti yang sering ibu bilang sama Rasikh, Mas Hasany, dan Mbak Lia.”Jawab Rasikh dengan mantap.

”Nah, Alhamdulillah, sekarang terjawab toh pertanyaannya, kenapa ibu dan ayah sering berkata-kata sayang, sholeh, dan pintar sama Mbak Lia, Mas Hasany, dan Mas Rasikh. Kata-kata baik yang ibu dan ayah ucapkan tersebut mempengaruhi perasaan, pikiran, dan perilaku Mbak Lia, Mas Hasany, dan Mas Rasikh. Perasaan, pikiran, dan perilaku baik yang ditampilkan Mbak Lia, Mas Hasany, dan Mas Rasikh juga membawa pengaruh baik pula terhadap orang-orang dan lingkungan di mana kita tinggal. Jadi kata-kata baik yang kita ucapkan membawa pengaruh yang baik, bukan hanya pada diri sendiri, keluarga kita, tapi juga pada lingkungan yang lebih luas.”

”Ibu jadi ingat sama cerita yang pernah disampaikan ayah saat mengajar di kelas. Sebuah penelitian eskperimen yang dilakukan oleh Robert Rosenthal dan Lenore Jacobson tahun 1968 pada anak-anak Sekolah Dasar. Mereka berdua memberikan sebuah test kecerdasan pada murid-murid SD tersebut dan kemudian menyampaikan hasilnya pada para guru kelas bahwa sejumlah anak memiliki kecerdasan yang luar biasa (padahal kecerdasan anak-anak tersebut sebenarnya berada pada tingkat kecerdasan rata-rata). Pada akhir tahun kedua peneliti ini kembali ke SD tersebut dan melakukan pengetesan kembali pada murid-murid SD tersebut. Ternyata hasilnya cukup mengejutkan: anak-anak yang sebenarnya punya kecerdasan rata-rata tapi kemudian diberitahukan sebagai anak-anak dengan kecerdasan luar biasa, menunjukkan peningkatan skor kecerdasan yang lebih tinggi daripada anak-anak lainnya. Para guru kelas di SD tersebut rupanya memberi perlakuan yang lebih kepada anak-anak yang dilabeli kedua peneliti tadi sebagai anak-anak dengan kecerdasan luar biasa: lebih banyak mendapat perhatian, lebih sering mendapat pujian, lebih sering dimintai pendapatnya, dan seterusnya. Perlakuan lingkungan yang demikian memotivasi anak-anak tersebut  untuk menjadi seperti apa yang dilabelkan kepada mereka.”


Irwan Nuryana Kurniawan, M.Psi. Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia
foto http://photos1.blogger.com/blogger/2096/1106/1600/MasGilang.jpg

Mengajarkan Keterampilan “Mendengar yang Baik”


Oleh : Dr. Hepi Wahyuningsih, M.Psi.

Akhyar, berusia 4 tahun. Ibunya kadangkala kesal karena ia kadang tidak mendengarkan ibunya ketika ibunya memintanya melakukan sesuatu. Ia juga kadang tidak mendengarkan ayahnya ketika memanggil, seolah-olah Akhyar “tuli”. Kadang-kadang ia mendengarkan dengan baik, tetapi ibunya kadang juga berteriak untuk memanggilnya.

Akhyar kemungkinan tidak mengalami gangguan pendengaran karena pada saat-saat tertentu ia dapat mendengar dengan baik. Sebenarnya apa yang dialami oleh Akhyar adalah hal yang wajar/normal untuk anak seusianya. Anak usia prasekolah (2 – 6 tahun) mempunyai kesulitan untuk memperhatikan dan mendengarkan karena otak dan system syaraf mereka masih berkembang. Hal ini biasanya terjadi ketika anak sedang asyik memperhatikan sesuatu, karena otaknya fokus pada apa yang sedang ia perhatikan, otaknya tidak dapat memproses panggilan/kata-kata. Jika hal ini yang terjadi, kemungkinan anak secara tidak sengaja mengabaikan permintaan/panggilan orangtua. Meskipun demikian, anak kadang-kadang memang dengan sengaja tidak memenuhi panggilan atau permintaan orangtua.

Perilaku anak yang tidak mendengarkan orangtua baik disengaja maupun tidak disengaja merupakan perbuatan yang kurang terpuji sehingga orangtua perlu mengarahkan perilaku anak. Menurut Severe, dalam bukunya “How to Behave So Your Preschooler Will, Tool”, ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh orangtua untuk mengajarkan anak mendengar yang baik, yaitu:
1.   Memberi contoh sikap mendengar yang baik
Memberi contoh adalah cara mengajar yang paling efektif bagi anak-anak usia prasekolah. Oleh karena itu, orangtua perlu menunjukkan bagaimana menjadi pendengar yang baik pada anak. Ketika anak berbicara kepada orangtua, hendaklah orangtua memberikan perhatian pada anak, hentikan kegiatan yang sedang dilakukan orangtua, kemudian hadapkan badan orangtua kepada anak, lakukanlah kontak mata dengan anak, kemudian mulailah mendengarkan anak dengan sepenuh hati. Ulangi apa yang dikatakan anak untuk memastikan pada anak bahwa orangtua benar-benar memperhatikannya. Sikap orangtua yang demikian akan berdampak sangat positif pada anak. Anak akan memiliki contoh kongkrit bagaimana seharusnya menjadi pendengar yang baik. Selain itu, anak juga merasa bahwa dirinya dihargai oleh orangtua yang pada akhirnya nanti membentuk harga diri anak yang positif. Anak juga sekaligus belajar bagaimana menghargai orang lain.
2.   Berbicara dalam situasi yang tepat
Ketika akan berbicara dengan anak, orangtua harus memperhatikan kondisi anak. Anak yang lelah dan lapar akan kesulitan untuk memberikan perhatian pada panggilan/pembicaraan orangtua. Demikian juga pada anak yang sedang asyik bermain. Anak yang sedang sedih, kesal, atau menangis juga akan sulit untuk diajak mendengarkan perkataan orangtua. Orangtua perlu menenangkan anak terlebih dahulu sebelum meminta anak untuk mendengarkan orangtua.
3.   Menggunakan isyarat untuk mendapatkan perhatian anak
Banyak orangtua yang kemudian berteriak atau meninggikan suara ketika anaknya tidak mendengarkan. Bahkan boleh jadi orangtua kemudian marah pada anak. Teriakan/kemarahan orangtua tidak akan menjadikan anak pendengar yang baik. Yang perlu dilakukan orangtua ketika ingin berbicara dengan anak adalah mendekati anak. Setelah mendekati anak, orangtua dapat menyentuh tubuh anak (menyentuh bahu atau bahkan jika perlu memeluk). Kemudian mulailah pembicaraan dengan menyebut nama anak. Beritahu anak bahwa orangtua ingin berbicara dengan anak, mintalah anak untuk menghentikan kegitan yang dilakukannya untuk sementara waktu. Orangtua duduk sejajar dengan anak dan melakukan kontak mata. Hal ini akan membuat orangtua lebih diperhatikan anak, sehingga apa yang akan disampaikan oleh orangtua lebih mampu dipahami oleh anak.
4.   Orangtua tidak terlalu banyak perintah/permintaan sekaligus
Tahap perkembangan otak yang belum sempurna menyebabkan anak tidak mampu memproses perintah/permintaan orangtua yang terlalu banyak sekaligus. Perintah/permintaan orangtua yang terlalu banyak dalam satu waktu akan menimbulkan frustrasi pada anak. Rasa frustrasi anak ini malah dapat menyebabkan anak tidak mengikuti permintaan orangtua, bahkan anak dapat menjadi rewel karena bingung. Orangtua juga perlu meminta anak untuk mengulang permintaan/pembicaraan orangtua untuk memastikan anak memahami pembicaraan/permintaan orangtua.
5.   Memberikan pujian/hadiah pada anak
Ketika anak mampu mendengar yang baik, beri anak pujian/hadiah. Pujian/hadiah sangat diperlukan untuk menguatkan perilaku anak. Pujian akan efektif membentuk perilaku anak ketika langsung diberikan pada anak setelah anak melakukan perilaku yang diinginkan orangtua.

Kelima hal tersebut di atas akan efektif bila orangtua melakukannya dengan konsisten. Kekonsistenan orangtua dalam menerapkan kelima hal tersebut akan memperjelas apa yang diinginkan oleh orangtua terhadap anak.


Dr. Hepi Wahyuningsih, M.Psi. Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia

Bersikap Lembut dan Hangat


Oleh Abdullah Munir, S.Ag.

Salah satu cara untuk membangun wibawa guru adalah dengan membuat hati para siswanya menjadi terpikat dan tertawan. Oleh karena itu, guru harus berinisiatif untuk mengambil hati siswa dengan mengoptimalkan karisma diri dan performa kerja yang dia miliki. Hati yang sudah tertawan, akan membuat pemiliknya laksana tawanan yang siap untuk diminta dan disuruh. Ia akan selalu menurut dan akan jarang melakukan bantahan.

Mengambil hati tidak berarti selalu bermuka manis atau tidak pernah memberi hukuman sama sekali kepada para siswa. Ada banyak guru yang tetap disukai meskipun ia sering memberi hukuman atau teguran saat menjumpai pelanggaran. Jadi, hendaknya persoalan mengambil hati ini jangan sampai membuat guru merasa gamang ketika mau bersikap tegas dan memberi hukuman kepada para siswa.

Bersikap tegas dan memberi hukuman tidak akan berdampak negatif jika semua interaksi guru dengan murid sudah dilandasi dengan kasih sayang dan kelembutan. Ini memang hal klasik, tetapi inilah yang terpenting. Sebab Allah telah berjanji akan memberi kepada kelembutan, sesuatu yang tidak diberikan oleh-Nya kepada yang lain.

Seandainya ada guru yang merasa selalu gagal dalam mengatasi masalah, padahal sudah banyak pendekatan yang ia gunakan untuk mengatasinya, maka bisa jadi itu disebabkan karena ia belum optimal dalam bersikap lemah lembut. Ini yang menyebabkan Allah subhanahu wa taala belum memberikan jalan keluar.

Untuk mengingatkan kembali bahwa Islam betul-betul menganjurkan sikap lembut ini, saya akan mencoba mengingatkan Anda akan beberapa sabda Rasul terkait dengannya. Berikut adalah sabda-sabda beliau:

Aisyah ra berkata, ”Sesungguhnya kelembutan itu tidak melekat pada sesuatu, melainkan akan menjadi hiasan baginya, dan tidak akan dilepaskan dari sesuatu, melainkan akan memperburuknya.”

Dari Aisyah pula, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allah itu lembut dan menyukai kelembutan dalam semua urusan.” (HR. Muslim)

Kelembutan juga merupakan salah satu nikmat dan cinta yang diberikan oleh Allah kepada sebagian hamba-Nya. Ini merujuk pada sabda Rasulullah berikut, ”Apabila Allah menginginkan kebaikan pada suatu kaum, ia akan memasukkan kelembutan dalam diri mereka.” (HR Al-Bazzar).

Dari Abdullah bin Mas’ud ra., ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, ”Tidakkah kalian ingin kuberitahukan orang yang haram masuk neraka atau yang diharmkan baginya api neraka? Yaitu setiap orang yang selalu dekat dan lemah lembut.” (HR At-Tirmidzi dan At-Thabrani)

Kepada orang yang sedang mengemban urusan, Rasulullah juga bersabda, ”Ya Allah, siapa pun yang mengatur urusan umatku, lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dirinya. Dan siapa pun yang mengatur urusan mereka lalu ia bersikap lembut terhadap mereka, maka santunilah mereka.” (HR. Muslim dari Aisyah).

Nah, guru adalah orang yang sedang diberi amanat untuk mengatur urusan anak-anak. Dan anak-anak adalah umat Rasulullah. Maka jika guru bersikap lembut terhadap anak, dia termasuk dalam golongan orang yang didoakan oleh Rasulullah supaya Allah menyayangi dan menyantuni mereka.

Tidak ada sesuatu yang perlu dipertentangkan antara kelembutan dengan kewibawaan. Ada sebagian orang yang menganggap jika ia terlalu lembut dengan anak, maka wibawanya akan hilang. Padahal, justru kedekatan dan kelembutanlah yang akan semakin menambah wibawa para guru di hadapan para muridnya.

Jika Anda belum yakin, mari kita renungkan sabda Rasul dalam hadits hasan berikut ini.
”Barang siapa melihatnya secara tiba-tiba, ia akan terlihat berwibawa. Dan barang siapa mengenal dan bergaul dengannya, niscaya ia akan menyukainya.” (HR At-Tirmidzi).


Abdullah Munir,S.Ag., penulis buku Spiritual Teaching, Yogyakarta.
foto https://artikelmuslimah.files.wordpress.com/2012/03/muslim-mother-249x3001.jpg

Melunakkan Kekerasan Anak


Oleh : Drs. Slamet Waltoyo

Hari Senin pagi sambil mengantarkan anaknya, Pak Mardi menemui Kepala Sekolah. Pak Mardi mengemukakan keluhan adanya kekerasan antar anak di sekolah. Ia menunjukkan bukti  luka-luka lecet pada tangan Andi, anaknya. Katanya luka itu karena ditendang dan didorong temannya sehingga  jatuh.  Pak Mardi setengahnya tidak terima, “Saya menyesal di jaman seperti sekarang di sekolah seperti ini  masih ada kekerasan pada anak ”.

Menurut pengamatan Orang tuanya,  di rumah Andi tidak menunjukkan sifat-sifat yang mengarah pada kekerasan. Ia anak ragil dari tiga bersaudara. Kedua Orang tuanya, meskipun sibuk bekerja tetapi berusaha untuk selalu mengamatinya. Tetapi pengamatan para Guru di sekolah, Andi termasuk anak yang gampang melakukan kekerasan terhadap teman. Menunjukkan gejala-gejala yang mengarah pada laku kekerasan. Sehingga sering terjadi konflik fisik dengan teman-temannya.

Orang tua maupun Guru, keduanya hampir benar berdasarkan pengamatannya. Tetapi yang berbeda adalah kondisi dan situasi antara di rumah dan di sekolah. Di lingkungan  keluarga, Andi  tidak memungkinkan untuk melakukan kekerasan. Paling menunjukkan kekesalannya. Karena Andi posisinya adalah anak paling buncit yang jauh usianya dari dua orang kakaknya. Maka Andi adalah pihak yang dilayani, difahami, dan diatur. Sedangkan di sekolah Andi mengekspresikan kekesalannya terhadap teman-temannya. Tentu saja Andi akan mendapat perlawanan dari teman-temannya sehingga terjadilah adu kekuatan fisik.

Berbagai penyebab anak melakukan kekerasan. Berbagai bentuk kekerasan bisa dilakukan anak. Berikut adalah gejala-gejala yang mengarah terjadinya kekerasan . Dengan mengidentifikasi gejala-gejala berikut Guru dapat melakukan usaha preventif untuk mencegah terjadinya kekerasan pada anak dengan memberikan solusi yang tepat. Gejala-gejala kekerasan yang mungkin terjadi adalah :

o   Dalam pergaulan sehari-hari anak mudah marah
o   Sering terjadi adu kekuatan fisik yang tidak sehat
o   Sering melakukan corat-coret pada tempat yang tidak seharusnya.
o   Sering berperilaku yang mengambil resiko.
o   Sering melakukan ancaman
o   Suka melakukan tindakan yang menyakiti binatang
o   Suka membawa penda-benda keras atau tajam
o   Suka membawa benda atau mainan yang dilarang sekolah
o   Sering bermasalah dengan kedisiplinan
o   Selalu merasa tidak dihargai, merasa ditolak, dan merasa disalahi

Untuk mencegah terjadinya kekerasan tentu saja kita tidak perlu menunggu gejala-gejala diatas timbul. Pencegahan kita lakukan melalui dua cara perlakuan yaitu perlakuan secara umum dan perlakuan secara khusus.

Perlakuan secara umum kita namakan mediasi teman. Intinya kita berusaha agar terjadi aktivitas kerjasama antara anak-anak dari berbagai kelas/tingkat. Misalnya kegiatan class meeting pada akhir tahun bukan berbentuk pertandingan antar individu atau kelompok yang mewakili kelas melainkan berupa kompetisi antar tim. Kompetisi ini untuk memupuk kerja sama tim anggota timnya bukan mewakili kelas melainkan lintas kelas.

Fokus dari program mediasi teman adalah untuk memupuk iklim dalam tim dimana antar murid saling mempengaruhi satu sama lain untuk lebih dapat menerima perbedaan, menumbuhkan toleransi berteman, saling mendukung dalam rangka membangun solidaritas. Sehingga menumbuhkan rasa empati, kemampuan sosial dan kesadaran khusnudzan.

Perlakuan secara umum berupa mediasi teman dapat mencegah terjadinya kekerasan sesama anak secara umum. Artinya, ada anak-anak khusus yang cenderung melakukan kekerasan dan tidak cukup hanya diatasi dengan mediasi teman. Maka untuk anak-anak khusus diperlukan secara khusus.  Teknis cara perlakuan khusus ini sebanyak anak yang memerlukan perlakuan khusus karena tiap anak itu berbeda. Tetapi secara umum, perlakuan khusus ini berupa perhatian secara pribadi secara rutin dan terus menerus.

Kepada anak ini setiap pagi harus mendapatkan usapan kepala dan setiap hari harus mendapatkan pertanyaan yang menyentuh hati. Pertanyaan ini tentang ibadah kepada Allah, tentang kasih-sayang Allah, tentang kelembutan Allah SWT, tentang kasih sayang Orang tua, tentang kerja keras Orang tua, tentang persaudaraan dengan teman dan sebagainya. Misalnya sambil mengusap kepala Andi dengan penuh kasih-sayang Pak Guru menanyakan; “ Tadi pagi Ibu Andi memasakkan apa untuk sarapan?”


Drs. Slamet Watoyo, Kepala Sekolah MI AL Kautsar Cebongan
foto http://nyata.co.id/wp-content/uploads/2014/09/anak-nakal-2.jpg

Unggah-Ungguh yang Terlupakan


Oleh : Atiek Setyowati, S.Si.

Hai, Andi! Kok tidak permisi dulu,” ucap salah satu anak yang sedang berdiskusi bersama teman-temannya.

“Iya, Bu Guru kan selalu mengingatkan kalau melewati orang harus permisi dulu!” sahut teman lainnya.

“Ya! Ya! Maaf,” jawab Andi.
Kejadian di atas mungkin sering kita jumpai di sekolah, di rumah atau di tempat-tempat lainnya bukan? Sebuah kenyataan yang sangat miris karena unggah-ungguh (sopan santun) sudah mulai luntur dari anak-anak sekarang.

Sikap unggah-ungguh (sopan santun) dan tata krama (etika) sebagai bentuk kearifan masyarakat sepertinya sudah mulai terkikis. Anak –anak sekarang cenderung kurang peduli terhadap kesantunan dan etika. Contohnya makan dan minum sambil berjalan, bertemu bapak dan ibu guru tidak menyapa, tidak terbiasa mengucapkan terima kasih, tidak membiasakan diri meminta maaf jika bersalah, kebiasaan salam dan cium tangan dengan orang yang lebih tua mulai hilang, kebiasaan mengucapkan permisi jika lewat di depan orang mulai jarang diterapkan, bertutur bahasa yang halus dan tidak mengumpat juga mulai terkikis.

Munculnya kejadian-kejadian tersebut di kalangan anak-anak bahkan remaja saat ini bisa disebabkan karena banyak faktor. Salah satunya adalah di lingkungan keluarga. Pendidikan dalam keluarga yang kurang menekankan unggah-ungguh (sopan santun) dan tata krama kepada anak-anaknya. Hal ini bisa disebabkan karena faktor rendahnya pendidikan dan pengalaman orangtua, kesibukan orangtua sehingga tidak sempat memperhatikan pendidikan sopan santun dan etika. Atau orangtua kurang memandang pentingnya sopan santun serta etika dan hanya mengutamakan pendidikan akademis saja.

Faktor masyarakat di sekitar lingkungan tempat tinggal juga memiliki andil dalam membentuk sikap anak. Di lingkungan yang padat penduduknya biasanya masyarakat kurang memperhatikan kesantunan dan etika anak, sering memberikan contoh yang tidak baik dengan bicara kasar, mengumpat, bergunjing dan sebagainya. Pendidikan di sekolah juga memiliki andil dalam penanaman sikap siswa. Guru berperan sebagai pengajar sekaligus pendidik. Namun ada hal yang mulai terlewatkan dari peran guru terhadap siswanya, yaitu terkadang lupa untuk menyentuh sisi kesantunan dan etika dalam perilaku siswa. Hal ini menyebabkan siswa kurang menunjukkan perilaku santun dan beretika yang merupakan nilai luhur dan baik yang dijunjung masyarakat. Kepedulian guru menyentuh sisi tersebut dalam setiap pembelajaran dan meneladani dalam sikap maupun perbuatan guru itu sendiri merupakan cara yang dapat ditempuh untuk menjadikan peserta didik sebagai insan yang cerdas dan terampil (hard skills) serta santun dan beretika (soft skills).

Untuk itu, agar tercipta anak-anak yang santun dan beretika dibutuhkan keseimbangan antara pendidikan di rumah, masyarakat dan sekolah. Hal yang paling utama adalah pendidikan di rumah, orangtua sangat berperan penting dalam mendidik anak-anaknya untuk berlaku sopan dan santun..

Upaya yang perlu dilakukan orangtua adalah dengan mulai membiasakan kata “tolong”saat meminta bantuan anak anda, “terima kasih” saat dia sudah membantu anda. atau “maaf” saat anda berbuat salah kepadanya. Jangan merasa malu karena harus mengucapkan kata-kata tersebut. anak belajar mencontoh dari apa yang orangtuanya lakukan. Bila kita sudah membiasakannya sejak dini mereka dengan sendirinya akan menggunakan kata-kata tersebut. Jika kebiasaan itu sudah membudaya, orangtua harus  tetap memantau dan mengawasinya dengan cara:


Tips mengajarkan unggah-ungguh
Selalu ingatkan dia untuk bersikap sopan. Misalnya saat berkunjung ke rumah saudara atau teman, biasakan si anak juga menyapa. Dengan begitu, anak akan belajar menempatkan diri dan menjadi tahu kapan dia harus menyapa orang yang lebih tua.

Perbanyak pujian. Berikan pujian verbal saat dia bersikap sopan kepada temannya. dari sini anak akan merasa dihargai karena telah melakukan hal yang benar.

Jangan permalukan dia saat dia melakukan kesalahan. Jika anak melakukan kesalahan, janganlah langsung memarahinya di depan banyak orang. Akan tetapi beritahu dia dengan lembut agar dia dapat meminta maaf dan menyadari kesalahannya.

Selalu berikan waktu dan kesempatan. kita tidak bisa membuat anak menjadi sopan dalam sekejap. penanaman sikap sopan membutuhkan waktu dan proses.

Memelihara hubungan orang tua dan anak yang baik. Berkomunikasi dan setia mendampingi anak agar senantiasa bersikap baik. Di waktu senggang ajaklah anak bermain, membaca cerita agar anak belajar berinteraksi dengan orang lain.

Jika peran orangtua sudah baik dengan anak, maka dengan sendirinya ketika anak di sekolah maupun di lingkungan rumahnya akan baik juga. Orangtua,guru dan masyarakat adalah teladan bagi mereka.


Atiek Setyowati, S.Si., Guru SDIT Salsabila 3 Banguntapan, Bantul
foto http://1.bp.blogspot.com/_08-EmUurZcw/TT-XSFp3dbI/AAAAAAAAB_k/-4tyHMqJxwE/s320/164879_144235108968672_136360586422791_246904_7636375_n.jpg

Kisah Cerdas : Air Mata Sang Gubernur


Oleh : Asnurul Hidayati, S.Pd.

Pada masa setelah wafatnya khalifah Umar bin Abdul Aziz, kekuasaan beralih ke tangan Yazid bin Abdul Malik. Khalifah baru ini mengangkat Umar bin Hubairah Al Farazi sebagai gubernur Irak sampai Khurasan. Khalifah baru itu sering mengirim surat kepada walinya, Umar bin Hubairah. Surat khalifah itu berisi perintah-perintah yang harus dilaksanakan gubernur. Akan tetapi, yang ada kalanya perintah itu melenceng dari kebenaran. Hal ini menyebabkan Umar Ibnu Hubairah merasa resah dan bingung.

Untuk memecahkan problem itu, Umar bin Hubairah memanggil para ulama di antaranya Asy-Sya’bi dan Hasan Al Basri. Dia berkata, “Sesungguhnya Amirul mukminin, Yazid bin Abdul Malik telah diangkat oleh Allah sebagai khalifah atas hamba-hamba-Nya. Sehingga wajib ditaati dan aku diangkat sebagai walinya di negeri Irak sampai daerah Persia. Dia selalu menulis surat perintah yang ada kalanya kupandang tidak adil. Dalam keadaan yang demikian, bisakah kalian memberikan jalan keluar untukku? Apakah aku harus mentaati perintah-perintahnya yang bertentangan dengan agama?”

Asy-Sya’bi menjawab dengan jawaban yang lunak dan sesuai dengan jalan pikiran pemimpinnya itu.  Sedangkan Hasan Al-Basri tidak berkomentar. Umar pun menoleh kepadanya dan bertanya, “Wahai Abu Sa’id (Hasan Al Basri), bagaimana pendapat anda?”

Beliau berkata, “Wahai Ibnu Hubairah, takutlah kepada Allah atas Yazid dan jangan takut kepada Yazid karena Allah.  Ketahuilah bahwa Allah bisa menyelamatkanmu dari Yazid. Sedangkan Yazid tak mampu menyelamatkanmu dari murka Allah. Wahai Ibnu Hubairah, aku khawatir akan datang kepadamu malaikat maut yang keras dan tak pernah menentang perintah Rabb-Nya lalu memindahkanmu dari istana yang luas ini menuju liang kubur yang sempit. Di situ engkau tidak akan bertemu dengan Yazid. Yang kau jumpai hanyalah amalmu yang tidak sesuai dengan perintah Rabb-mu dan Rabb Yazid.”

“Wahai Ibnu Hubairah, bila engkau bersandar kepada Allah dan taat kepada-Nya, maka Dia akan menahan segala kejahatan Yazid bin Abdul Malik atasmu  di dunia dan akhirat. Namun jika engkau lebih suka menyertai Yazid dalam bermaksiat kepada Allah, niscaya Dia akan membiarkanmu dalam genggaman Yazid. Dan sadarilah wahai Ibnu Hubairah, tidak ada ketaatan bagi makhluk, siapapun dia, bila untuk bermaksiat kepada Allah.”

Umar bin Hubairah menangis hingga basah jenggotnya karena terkesan mendengarnya. Dia berpaling dari Asy-Sya’bi kepada Hasan Al-Basri. Umar semakin bertambah hormat dan memuliakannya. Setelah kedua ulama itu keluar dan menuju masjid, orang-orangpun datang berkerumun ingin mengetahui berita pertemuan mereka dengan gubernur Irak tersebut.

Asy-Sya’bi menemui mereka dan berkata,”Wahai manusia, barangsiapa mampu mengutamakan Allah atas makhluk-Nya dalam segala keadaan dan masalah,maka lakukanlah. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, semua yang dikatakan Hasan Al-Basri kepada Umar bin Hubairah juga aku ketahui. Tetapi yang kusampaikan kepadanya adalah untuk wajahnya. Sedangkan Al Basri menyampaikan kata-katanya demi mengharap wajah Allah. Maka aku disingkirkan Allah dari Ibnu Hubairah. Sedangkan Al Basri didekati dan dicintai…..”

Bagaimana  kesan anda setelah menyimak kisah ini? Subhanallah,  betapa pentingnya usaha untuk menegakkan dan mengokohkan  keyakinan. Keyakinan kepada Allah yang Maha Penolong, yang pasti akan menolong hamba-Nya yang menegakkan kebenaran.   Sebaliknya kita juga mendidik anak, agar takut kepada Allah jika menjadi orang  yang melanggar perintah Allah dalam mentaati perintah pemimpinnya. Kita luruskan pemikiran anak-anak. Ajaklah mereka untuk memahami dengan cara yang benar, tentang perintah Allah dan perintah makhluk. Boleh mentaati perintah makhluk selama perintahnya tidak bertentangan dengan perintah Allah.   Semoga kita dimudahkan  Allah dalam mendidik anak agar mereka bisa mentauhidkan Allah. Aamiin.


Sumber : Mereka adalah Para Tabi’in. DR. Abdurrahman Ra’fat Basya.Pustaka At Tibyan.

Asnurul Hidayati, S.Pd, Guru MI di Bantul
foto http://kolom.abatasa.co.id/gambar/kolom-kisah-taubatnya-malik-bin-dinar-sang-manusia-zalim-1370_l.jpg

Mengajari Anak Terampil Berbicara


Oleh : Dr. Hepi Wahyuningsih, M.Psi.


Sambil menunggui anaknya yang baru masuk playgroup, ibu A berbagi cerita tentang anaknya pada ibu-ibu yang lain. Beliau bercerita bahwa beberapa hari yang lalu ketika beliau tidak menunggui anaknya, anaknya rewel terus seharian di kelas playgroupnya. Ternyata si anak haus ingin minum tetapi gurunya tidak mengetahui keinginan anak. Seorang ibu kemudian bertanya kepada ibu A mengapa si ibu guru sampai tidak tahu keinginan anak padahal si anak sudah mampu berbicara. Ibu A kemudian menjawab bahwa di rumah bila anaknya ingin minum biasanya berkata ”mag-mag”, itu adalah nama gelas yang biasa digunakan si anak untuk minum.

Kisah di atas menunjukkan bahwa ketrampilan berbicara sudah harus dimiliki oleh seorang anak untuk dapat berinteraksi dengan orang lain. Seseorang dikatakan trampil berbicara bila dia mampu menyampaikan pesan dengan baik sehingga orang yang diajak bicara mampu menerima pesan dengan benar. Kasus di atas menunjukkan bahwa pesan yang ingin disampaikan anak ke guru tidak dapat ditangkap oleh guru karena guru tidak memahami pesan anak. Mengapa guru sampai tidak memahami keinginan anak tersebut ? Karena anak menggunakan kata yang tidak lazim, yaitu ”mag-mag” untuk menyatakan keinginannya. Oleh karena itu orangtua sejak dini perlu mengajari ketrampilan berbicara pada anak.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orangtua dalam mengajarkan ketrampilan berbicara pada anak. Yang pertama, orangtua atau pengasuh atau orang dewasa di sekitar anak harus melatih anak untuk tidak menggunakan baby talk (bahasa bayi). Baby talk adalah kata-kata yang digunakan oleh anak yang belum mampu mengekspresikan keinginannya dalam kata-kata yang benar. Biasanya ini terjadi pada anak antara usia 1 tahun sampai 3 tahun. Contoh baby talk yang sering digunakan oleh anak-anak di Indonesia adalah “pus” untuk menyebut kucing, “mimi” untuk minum, “maem” untuk makan, “cucu” untuk susu, dan masih banyak yang lain.

Setiap anak seringkali mampu menciptakan sendiri kata-kata untuk mengekspresikan keinginannya. Pada umumnya, orang-orang di sekitar anak, terutama orangtua atau pengasuh mengerti apa yang dimaksud oleh anak. Seperti contoh kasus di atas, anak menciptakan kata “mag-mag” untuk mengekspresikan keinginannya untuk minum. Orangtua anak tersebut juga mengerti maksud anak ketika anak berkata “mag-mag”.

Baby talk pada saat anak belum mampu berbicara dengan tepat akan berguna bagi anak dalam berkomunikasi. Baby talk juga merupakan sesuatu yang wajar pada anak dan patut dihargai sebagai bentuk peningkatan perkembangan bahasa anak. Meskipun demikian, jika dibiarkan berlarut-larut ada pada diri anak, bahkan orangtua juga ikut-ikutan anak menggunakan baby talk ketika berbicara dengan anak, maka hal tersebut akan banyak merugikan anak. Seperti kasus di atas, anak menjadi terabaikan kebutuhan minumnya karena ia masih menggunakan baby talk ketika menyampaikan keinginannya pada orang yang tidak biasa berinteraksi dengannya.

Agar anak tidak berlarut-larut menggunakan baby talk dalam berkomunikasi, orangtua atau pengasuh serta anggota keluarga yang lain perlu melatih anak untuk berbicara dengan tepat. Cara melatih yang efektif adalah mengulang kembali baby talk/kata-kata anak yang belum tepat dengan kata-kata yang lebih tepat. Misalnya anak mengatakan “ma mag-mag”, orangtua mengulang perkataan anak dengan kata yang tepat “ oh, Sofwan mau minum”. Jadi, jangan biarkan anak berlarut-larut menggunakan baby talk karena akan merugikan anak dan menjadi hambatan bagi anak dalam berinteraksi dengan orang lain.

Cara yang kedua untuk mengajarkan ketrampilan bicara pada anak adalah dengan cara banyak mengajak anak berbicara. Sejak dalam kandungan, seorang anak sudah mampu mengembangkan kemampuan berkomunikasi. Janin dalam kandungan sudah mampu mendengar suara ibu dan suara-suara dari luar sejak usia kehamilan 20 minggu/5 bulan. Janin juga sudah mampu merespon stimulasi dari luar. Pada saat inilah para ahli perkembangan menyarankan ibu, ayah, dan anggota keluarga yang lain untuk sering mengajak janin berbicara. Ketika si bayi lahir, orang-orang di sekitarnya juga disarankan untuk banyak mengajak bayi berbicara. Meskipun si bayi belum mampu berbicara, tetapi sebenarnya dengan kemampuan pendengarannya ia sedang belajar bahasa dan berbicara.

Biasanya anak yang sudah diajak bicara sejak dalam kandungan akan menjadi anak yang responsive. Pada akhirnya ketika nanti dia sudah mampu berbicara dia akan memiliki banyak perbendaharaan kata yang membantunya untuk berkomunikasi dengan orang lain. Jangan biarkan anak duduk diam di depan TV berjam-jam, karena hasil penelitian terhadap anak-anak yang sering menonton TV maupun VCD menunjukkan anak-anak tersebut kurang memiliki perbendaharaan kata. Allahu’alam bi shawwab.


Dr. Hepi Wahyuningsih, M.Psi., Dosen Fakultas Psikologi Dan Ilmu Sosial Budaya, Universitas Islam Indonesia

Foto http://fc02.deviantart.net/fs71/i/2011/321/4/3/anak_bayi_by_dimas_eggi-d4ggikm.jpg

Cerdas Memilih Mainan Anak


Oleh : Ali Rahmanto

Mainan menjadi salah satu bentuk stimulasi bagi anak. Memberi mainan yang tepat membantu memaksimalkan rangsangan bagi  kecerdasan anak. Sayangnya, tidak banyak orangtua yang menyadari bagaimana memilih mainan yang tepat bagi buah hatinya.

Pada usia 0-6 bulan, orangtua disarankan memilih mainan yang berwarna, cerah, datar, dan merangsang aktivitas motorik. Hal ini dikarenakan mata anak 0-6 bulan belum bisa melihat jelas. Pilihan warna yang cerah akan merangsang penglihatan dan membantunya melihat mainan dengan lebih jelas.

Beranjak usia 6 bulan, mainan yang bisa digigit (teethers) dapat menjadi pilihan. Mainan ini untuk merangsang pertumbuhan giginya. Orangtua juga bisa memilih mainan dengan tombol yang bisa ditekan atau bertekstur untuk merangsang kemampuan motoriknya. Pada usia ini, anak mulai suka mandi, orangtua bisa memberikannya mainan yang bisa mengapung untuk menemani aktivitas tersebut.

Memasuki usia 6-9 bulan anak bisa diberi mainan yang bisa bergulir, untuk merangsang kemampuan motoriknya. Pada usia 9-12 mainan yang merangsang interaksi, misal boneka tangan menjadi pilihan.  Melalui mainan, anak diajak berkomunikasi yang akan merangsang kemampuannya berbahasa dan mengekspresikan diri.

Pada usia 1 tahun orangtua mulai bisa memilihkan mainan outdoor, seperti kuda tunggang atau kolam renang mini. Mainan yang merangsang koordinasi mata tangan seperti organ kecil atau menara susun menjadi alternatif.

Buku dan puzzle mulai bisa dikenalkan pada usia 2 tahun. Puzzle ini tidak boleh lebih dari 10-15 keping. mainan yang merangsang imajinasi dan koordinasi mata tangan, misal boneka, traktor mini,  atau tokoh kartun bisa diberikan.

Ketika anak memasuki usia 3 tahun, pensil warna bisa menjadi pilihan. corat-coret menjadi kegiatan wajib yang merangsang kemampuan motorik halusnya. Agar mainan anak yang dibeli tidak hanya jadi penghuni gudang karena tidak pernah dimainkan, pilihlah jenis mainan yang benar-benar tepat untuknya.

Sebelum membeli, pikirkan baik-baik, apakah yang suka mainan itu orangtua atau si kecil? Atau, libatkan anak dalam proses pemilihan mainan, sehingga itulah yang diinginkan dan dibutuhkan. Pilihlah yang berfungsi sebagai media belajar, sehingga kegiatan bermain si kecil lebih efektif, efisien, dan sesuai kemampuan otaknya. Misalnya, kemampuan sensor motorik pada otak anak usia 0 - 2 tahun lebih dominan, sehingga dia suka mainan yang mencolok warna, tekstur, dan ada gerakan. Pada usia 3 - 6 tahun, anak mulai tertarik bereksplorasi sehingga pilih mainan yang memancing minat petualangan. Sedangkan usia prasekolah, ia membutuhkan permainan yang bisa mengembangkan kemampuan sosialnya.

Baca label pada kemasan. Ketika membeli mainan, baca keterangan usia yang selalu tertera di kemasan. Jadi, pastikan mainan yang dibeli sesuai usia anak. Pastikan pula harga mainan sesuai dengan budget. Harga mahal sifatnya akan relatif bila kualitas mainan bagus dan tahan lama. Bila kualitasnya buruk dan mudah rusak, orangtua akan membeli barang yang sama berkali-kali. Atau, karena merasa tidak puas dengan mainan pilihan, orangtua membeli barang sejenis dengan harga lebih mahal.

Masukkan budget belanja mainan ke dalam pos pengeluaran rumah tangga. Untuk pengaturannya bisa dimasukkan ke dalam pos kesenangan pribadi. Berikan mainan pada waktu yang pas. Untuk mainan yang harganya lebih mahal, katakan bahwa anak tidak bisa sering-sering membelinya. Hanya untuk momen spesial, seperti ulang tahun atau kenaikan kelas. Untuk mainan yang harganya relatif murah, Anda bisa membelinya lebih sering, seperti 1 bulan sekali. Lakukan ‘cuci gudang’ secara berkala. Misalnya, setahun sekali. keluarkan semua mainan yang tidak terpakai untuk diberikan mainan tersebut pada anak-anak yang membutuhkan. Cara ini juga sekaligus bisa mengajarkan anak pentingnya menghargai barang dan berbagi.


Ali Rahmanto, Pemperhati dunia anak
Foto http://www.ibudanmama.com/wp-content/uploads/2013/05/130_news.jpg

Anak Suka Menggigit Kuku


Oleh : Arie Lestari

Menggigit kuku adalah salah satu kebiasan buruk yang dilakukan anak. Ada banyak faktor yang menyebabkan anak melakukannya. Misalnya, karena mencontoh orang lain yang melakukan perilaku serupa. Lama kelamaan, karena dilakukan secara berulang kali, akhirnya menjadi kebiasaan.

Bisa juga, hal ini disebabkan anak sedang berada di situasi yang membuatnya merasa tidak nyaman, cemas, gelisah, dan tegang, sehingga menggigit kuku.  Bagaimana cara membedakannya? Jika menggigit kuku karena merasa tidak nyaman, ia hanya akan menggigitnya pada situasi yang dianggapnya tidak nyaman, seperti saat diminta bercerita di depan kelas, ketakutan dan sebagainya. Akan tetapi ketika situasi normal, ia tidak melakukannya. Kalau menggigit kuku karena kebiasaan, anak akan melakukan di berbagai situasi, baik saat situasi normal ataupun saat anak cemas.

Sebelum melakukan intervensi untuk membantu anak mengatasi perilaku menggigit kuku, orangtua  harus mengetahui penyebabnya dulu. Dengan begitu, intervensi yang diberikan juga tepat. Untuk itu, perhatikan peristiwa apa yang terjadi sebelum ia menggigit kuku, serta juga peristiwa apa yang terjadi saat ia menggigit kuku.

Lalu,  perhatikan juga respon yang diberikan oleh lingkungan ketika ia menggigit kuku. Respon dari lingkungan sangat penting untuk diketahui karena respon bisa menjadi reward atau punishment bagi perilaku anak. Perilaku yang mendapat reward cenderung diulangi atau ditingkatkan, sedangkan perilaku yang mendapat punishment cenderung harus berkurang, atau bahkan stop. Bisa saja, teguran orangtua saat ia mengigit kuku menjadi reward baginya  karena ia merasa semakin diperhatikan. Itu sebabnya mengapa perilaku tersebut tidak berkurang, bahkan bisa meningkat.

Apakah perilaku ini bisa berlanjut hingga dewasa? Semua ini tergantung pada  bagaimana orangtua atau pengasuh memberi intervensi atas perilaku tersebut. Lakukan intervensi langsung saat perilaku itu muncul.  Pegang tangannya dan katakan “Jangan menggigit kuku ya, Nak!” dengan mimik wajah yang tegas. Ingat, tegas, bukan marah. Sehingga si kecil paham bahwa perilakunya salah. Lakukan hal tersebut secara rutin dan konsisten, sehingga kebiasaan baru, berupa tidak menggigit kuku, akan terbentuk.

Namun, bila anak menggigit kuku karena merasa cemas atau khawatir, pegang tangannya dan katakan “Jangan menggigit kuku, Nak! Kamu aman. Ada Bunda.” Selain itu, beritahu si kecil dampak yang akan terjadi pada dirinya jika terus melakukan hal tersebut. Tentunya, katakan dengan kalimat yang sederhana dan jelas.

Arie Lestari, Pemerhati dunia anak
foto : http://2.bp.blogspot.com/-FQPUGcxq_to/VBudDMAVe-I/AAAAAAAAAMs/MyyGMgBpWH8/s1600/anak%2Bsuka%2Bgigit%2Bjari.jpg

Menyambut Ramadhan dengan Bahagia


Oleh : Dwi Lestari W

Terdapat dua sikap orang dalam menyambut dan menghadapi bulan penuh keberkahan ini. Pertama, orang yang bergembira dan penuh antusias serta suka cita dalam menyambut bulan Ramadhan. Karena baginya, bulan Ramadhan adalah kesempatan yang Allah anugerahkan kepada siapa yang dikehendaki untuk menambah bekal spiritual dan bertaubat dari semua dosa dan kesalahan. Ramadhan baginya adalah bulan bonus di mana Allah melipatgandakan pahala amal kebaikan. Maka segala sesuatunya dipersiapkan untuk menyambut dan mengisinya. Baik mental, ilmu, fisik, dan spiritual. Bahagia, karena di bulan terdapat janji dijauhkannya seseorang dari api neraka.

Sedangkan yang kedua adalah menyambutnya dengan sikap yang dingin. Tidak ada suka-cita dan bahagia. Baginya, Ramadhan tidak ada ubahnya dengan bulan-bulan lain. Orang seperti ini tidak bisa memanfaatkan Ramadhan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Dosa dan kesalahan tidak membuatnya risau dan gelisah hingga tak ada upaya maksimal untuk menghapusnya dan menjadikan Ramadhan sebagai momen untuk kembali kepada Allah
Para sahabat dan salafus-shalih pun senantiasa menyambut bulan Ramadhan dengan bahagia dan persiapan mental dan spiritual. Banyak membaca Al-Qur’an adalah salah satu kegiatan para salafus-shalih dalam menyiapkan diri mereka menyambut Ramadhan. Karena Ramadhan adalah bulan dimana Al-Qur’an diturunkan. Bersedekah dan menunaikan semua kewajiban. Juga menunaikan semua tugas dan kewajiban sebelum datang Ramadhan. Sehingga bisa konsentrasi penuh dalam mengisi hari-hari Ramadhan tanpa terganggu oleh hal-hal lain di luar aktivitas ibadah di bulan suci ini.

Karena itu, agar Ramadhan yang tak lama lagi akan kita lalui ini bisa memberikan kemanfaatan yang optimal, diperlukan kesiapan yang memadai dari setiap pribadi, yang disiapkan dalam keluarga.

Sejak awal, kita  ajak seluruh anggota keluarga untuk bersiap menghadapi kedatangan Ramadhan. Seluruh anggota keluarga harus berada dalam suasana kegembiraan  dan syukur, menyambut kehadiran bulan suci. Jangan sampai memasuki bulan suci tanpa kesiapan hati, tanpa kekuatan niat, tanpa kehadiran perasaan, tanpa perasaan kegembiraan.

Menurut Cahyadi Takariawan, ada beberapa cara untuk menyiapkan anggota keluarga dalam menyambut Ramadhan, di antaranya:

Pertama, buatlah acara bersama seluruh anggota keluarga
Carilah waktu yang tepat beberapa hari sebelum Ramadhan untuk membuat acara bersama seluruh anggota keluarga. Suami, isteri dan anak-anak berkumpul dalam suasana yang santai dan nyaman. Pada saat berkumpul itulah, orangtua menyampaikan pesan-pesan kepada anak-anak agar mereka bersiap menyambut kedatangan Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi tiba.

Kedua, buatlah target dan agenda Ramadhan bersama seluruh anggota keluarga
Salah satu tradisi yang baik dalam rumah tangga muslim adalah membuat target bacaan dan hafalan Al Qur’an selama Ramadhan. Dalam hal hafalan juga bisa ditarget, surat apa yang akan dihafal oleh masing-masing anggota keluarga selama Ramadhan. Semua target tersebut bisa ditulis dalam kertas dan ditempel di dinding rumah untuk pengingat dan penyemangat untuk mencapai target.

Ketiga, membersihkan dan memperindah rumah
Menjelang Ramadhan, buatlah suasana yang sedikit berbeda di rumah kita. Bersihkan rumah kita, lebih dari biasanya. Kalau setiap hari kita membersihkan rumah “sekedarnya”, maka menjelang Ramadhan ini kita bersihkan rumah hingga detail, semua bagian dibersihkan. Setelah bersih, bisa dibuat beberapa bagian hiasan di rumah, agar rumah sudah bernuansa Ramadhan saat memasuki bulan suci tersebut.

Keempat, menyiapkan perlengkapan Ramadhan
Menjelang Ramadhan sebaiknya sudah disiapkan berbagai perlengkapan yang menunjang kekhusukan dan kesuksesan ibadah Ramadhan. Misalnya, agar bersemangat mencapai target Ramadhan kita bisa membeli mushaf Al Qur’an baru, jika memiliki anggaran dana untuk itu. Namun jika tidak memiliki dana, cukuplah menggunakan Al Qur’an yang sudah ada. Termasuk perlengkapan yang diperlukan adalah jadwal imsakiyah, yang dengan mudah bisa di-download dari berbagai situs terpercaya.

Kelima, mengulang pelajaran ibadah Ramadhan
Salah satu sifat manusia adalah lupa. Kendati fikih Ramadhan sudah kita pelajari sejak kecil, namun penting bagi kita untuk mempelajari ulang berbagai ajaran tentang ibadah Ramadhan dan Idul Fithri. Bagus kalau kita mengajak semua anggota keluarga mempelajari lagi berbagai hal tentang fikih Ramadhan, agar pelaksanaan ibadah selama Ramadhan bisa lebih sempurna dan optimal.

Dwi Lestari W, Staf BPH LPIT Insan Mulia Bantul
foto http://2.bp.blogspot.com/-iqHZxJqzQTs/UdJ3NXQO9WI/AAAAAAAAEvc/JlYlQBZD6_Y/s800/IMG-20130701-WA0022.jpg

Mengenalkan Rasa Kecewa Pada Anak Sejak Dini


oleh : Herwin Nur

Kewajiban Orang Tua
Apakah mitos atau fakta, jika perilaku ibu hamil saat mengelola rasa ngidam, jika tidak dituruti atau diwujudkan, akan berdampak pada pembentukan karakter bayi dalam kandungan. Artinya, ada benang merah, terjadi korelasi antara ngidam sang ibu dengan cikal bakal karakter dan watak, khususnya rasa kecewa, yang menurun pada anak. Embrio rasa kecewa diawali dan ditentukan sang ibu yang tentunya bertimbal balik dengan peran sang ayah.

Peribahasa ‘bukan salah bunda mengandung’ harus dicermati dengan cerdas, jangan ditafsirkan karakter anak sudah dicetak dari sono-nya. Bahkan sebagai pengingat betapa faktor didik/ajar anak tidak bisa seperti air mengalir, sesuai perjalanan waktu atau kondisi pahitnya : tergantung nasib. Walau ‘sumber air’ menentukan kadar dan kualitas anak. Agar terasa lebih gayeng, kita ingat makna peribahasa ‘buah jatuh tak jauh dari pohonnya’, bukan sekedar menggantungkan watak turunan atau menerima nasib tanpa melakukan perubahan.

Kita sadari bahwa karakter anak merupakan resultan, bahkan hasil sinerjitas babat, bibit, bobot, dan bebet ayah ibunya. Kewajiban orang tua, dimulai saat mereka belum sebagai orang tua. Proses bertemunya jodoh memang didominasi ikhtiar perjuangan cinta lelaki mencari calon ibu untuk anaknya. Kaum Hawa tidak sekedar memposisikan diri, mematut diri, serta duduk yang manis karena berstatus sebagai ‘bunga’, yang siap dikerubungi, dikelilingi dan diperebutkan ‘para kumbang’.

Aspek utama lanjutan yang harus dilakukan orang tua dalam menerapkan faktor didik/ajar anak setelah lahir, adalah memanfaatkan indera yang sudah dipunyai anak, sekaligus memberi asupan kepada hati. Kita mengacu [QS An Nahl (16) : 78] : “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”

Langkah Bijak
Jadi, orang tua wajib menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pembekalan sampai pendayagunaan pendengaran, penglihatan dan hati’ anak. Ayat di atas, sebagai acuan dalam menerapkan pasal didik/ajar. Ternyata rasa kecewa anak bisa kita amati sejak lahir.

Tumbuh kembangnya rasa kecewa berjalan paralel. Di satu sisi, sebagai awal munculnya rasa kecewa yaitu ketika rasa haus tidak segera direspon ibunya, sang bayi mengeluarkan sinyal tangis. Di sisi lain, bayi punya bakat untuk melakukan sesuatu, punya keinginan untuk berbuat bagi dirinya sebagai tanda pendengaran, penglihatan dan hati’ mulai berfungsi. Bayi dengan keterbatasan pengetahuannya, tidak bisa melakukan yang diinginkannya, muncul rasa kecewa. Bayi bisa merasa jika yang menyapa sekedar basa-basi, atau yang mendatangi hanya formalitas atau bahkan tidak bersahabat.

Radar bayi masih peka. Saat tidur lelap tampak tersenyum, diartikan sedang dialog atau melihat sesuatu. Bayi mampu mendeteksi suasana lingkungannya. Daya respon bayi ke hawa atau aura orang didekatnya sangat canggih. Bahkan ketika ibunya memberi ASI dengan setengah hati, mata masih berat atau tidak niat, apalagi sambil ngedumel, bayi merasa tidak nyaman.

Cara orang tua mengenalkan rasa kecewa dimulai saat calon ibu sedang ngidam, sejak kelahiran sampai masa pemberian ASI, hingga saat golden age anak. Teknik jitu dengan berkomunikasi. Anak jangan ditipu dengan rayuan, jangan dialihkan perhatiannya, bahkan jangan dicari kambing hitamnya jika anak tak terpenuhi keinginannya atau gagal melakukan sesuatu. Paparkan fakta, jelaskan langkah yang selayaknya dilakukan anak, tentunya dengan bahasa anak.


Herwin Nur, Pemerhati Dunia Anak