» » Kajian Utama : Bahagia Menyambut Ramadhan

Kajian Utama : Bahagia Menyambut Ramadhan

Penulis By on Saturday, May 2, 2015 | No comments


Oleh : M. Edy Susilo, M.Si.

Ramadhan insya Allah sebentar lagi tiba. Berbahagialah kita yang menanti-nantikan dan menyambut Ramadhan. Mengapa kita harus berbahagia?

Ada beberapa alasan. Pertama, setiap ibadah sejatinya memerlukan persiapan dan perencanaan yang matang. Persiapan itu bersifat ruhaniyah maupun jasmaniyah.  Para jamaah calon haji, misalnya, pada umumnya mempersiapkan diri sebaik-baiknya beberapa bulan atau beberapa tahun sebelumnya. Contoh yang lain mengenai pentingnya persiapan ibadah, pernahkan kita—para laki-laki—karena  sesuatu hal terlambat mengikuti ibadah sholat Jumat? Kekusyukan beribadah akan berbeda dengan jamaah lain yang lebih seksama mempersiapkan ibadahnya, kendati saat itu kita masih bisa mengikuti khutbah dan sholat Jumat. Berkaitan dengan ibadah Ramadan, apa yang akan kita nikmati dan kita raih di bulan tersebut akan sangat tergantung dengan bagaimana kita mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelum bulan mulia itu datang.

Kedua, bulan Ramadhan memang memiliki keistimewaan yang luar biasa. Ketika membaca khutbah Rasulullah menyambut Ramadhan, kita merasakan bahwa Ramadhan adalah bukti kasih sayang Allah yang amat besar kepada manusia yang lemah. “Sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia disisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama. Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabb-mu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya”.

Ketiga, meniti hari demi hari selama hidup di alam fana ini kadang membuat kita merasa lelah secara batiniah. Ibarat hand phone yang dipakai terus menerus kita perlu di-charge. Kita perlu beristirahat. Ramadhan adalah waktu yang tepat untuk mengisi baterei jiwa kita. Setelah pengisian selesai, kita siap melanjutkan perjalanan kembali dengan energi yang lebih besar.

Menyambut Ramadhan dalam rumah juga perlu dimulai dari para orangtua yang dengan antusias menyambut bulan ini. Sebelum Ramadan datang, orangtua perlu untuk menceritakan keutamaan-keutamaan Ramadhan atau peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di bulan mulia ini. Hal ini penting untuk disampaikan kepada anak-anak supaya mereka memiliki pemahaman yang benar mengenai Ramadhan. Anak-anak kadang keliru menangkap dan mengartikan informasi yang berseliweran mengenai Ramadhan. Misalnya, Ramadhan dianggap sebagai bulan yang penuh beban; Ramadhan mengakibatkan sakit maag (karena banyak iklan obat sakit maag yang gencar ditayangkan selama bulan Ramadhan).

Orangtua juga perlu menceritakan pengalaman-pengalaman masa kecil yang menarik, unik dan indah selama bulan Ramadhan. Dengan menempatkan diri kita pada posisi anak, maka diharapkan mereka akan tertarik untuk beribadah Ramadhan. Namun, tentunya tahapan dalam melaksanakan ibadah Ramadhan perlu disesuaikan dengan usia anak. Mengkondisikan anak untuk beribadah Ramadhan bisa diibaratkan sebagai sebuah “investasi” di mana ketika mereka tumbuh dewasa, ketaatan untuk menjalankan ibadah telah terbentuk.

Selanjutnya, kita perlu menyampaikan bahwa ibadah Ramadhan bukan hanya memberi efek individual saja, tetapi juga harus berdampak ibadah sosial. Selain puasa, mengkaji Al Qur’an atau shalat tarawih, kita diingatkan untuk bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin, memuliakanlah orangtua, menyayangi yang muda, menyambungkan tali persaudaraan, menjaga lidah, dan mengasihi anak-anak yatim.

Ketika kelak kita keluar dari bulan Ramadhan, bukan bararti seluruh kebaikan itu kita tinggalkan. Justru di sebelas bulan kemudian itulah akan menjadi semacam “buah” dari ibadah Ramadhan kita. Seperti halnya para haji yang kemabrurannya akan dilihat bukan hanya dari ibadah tanah suci, melainkan justru dari perilaku mereka setelah kembali ke tempat tinggal masing-masing. Wallahu a’lam bishowab


M. Edy Susilo, M.Si. Dosen Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta | Redaktur Majalah Fahma
foto http://smaluqmanalhakim.com/
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya