» » Keniscayaan Proses

Keniscayaan Proses

Penulis By on Tuesday, May 12, 2015 | No comments


Oleh : Dr. Ali Mahmudi


Berapa lama Allah SWT menciptakan alam semesta? Tentang ini Allah SWT berfirman dalam QS. Qaaf: 38 bahwa ”Sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa ..... Lantas, kapan manusia mulai menghuni bumi? Apakah segera setelah bumi selesai diciptakan? Ilmu pengetahuan mengungkap bahwa bumi telah diciptakan jauh berjuta tahun sebelum manusia mulai menghuninya. Bumi mulai dihuni manusia ketika ia telah nyaman, aman, dan siap untuk dihuni dengan segenap daya dukungnya.

Tentu kita tidak meragukan bahwa Allah SWT dengan kemahakuasaanNya mampu menciptakan segala hal dalam sekejab. WAllahu a’lam, mungkin Allah SWT ingin menunjukkan kepada kita bahwa segala sesuatu memerlukan waktu, proses, dan usaha. Itulah sunnatulloh. Itulah keniscayaan. Keyakinan bahwa segala sesuatu memerlukan proses perlu dimiliki oleh siapapun dan dalam bidang apapun. Tidak ada sesuatu yang instan di dunia ini. Seorang pengusaha perlu menjalani proses bertahap untuk mencapai kesuksesan dalam bidang usahanya, seorang atlet juga perlu memiliki tekad yang kuat dan sabar menjalani proses latihan untuk memenangi kejuaraan, seorang ilmuwan juga memerlukan kesabaran meniti proses ilmiah agar ia profesional di bidangnya, dan sebagainya.

Keyakinan akan pentingnya proses juga perlu dimiliki guru, orang tua, dan anak. Orang tua perlu meyakini bahwa perkembangan mental anak berlangsung secara bertahap, sehingga mereka tidak akan memaksakan anak untuk menguasai suatu kemampuan yang jauh di atas perkembangan mentalnya, apalagi secara instan. Seorang guru perlu pula meyakini bahwa pembelajaran juga memerlukan proses. Karena itu, ia tidak akan menyampaikan pengetahuan dalam bentuk jadi, melainkan akan melibatkan anak untuk membentuk pengetahuan itu. Anak perlu melakukan aktivititas percobaan, mengajukan dugaan atau konjektur, mengujinya, dan selanjutnya menyimpulkan dalam rangka membentuk pengetahuan itu. Itulah proses ilmiah yang dilakukan para ilmuwan terdahulu. Dalam batas-batas tertentu, proses yang sama hendaknya juga dilakukan atau tepatnya dilakukan ulang oleh anak. Pengetahuan yang dibentuk anak dengan cara demikian akan lebih bermakna bagi mereka. Hal itu akan sangat berbeda dengan pengetahuan yang hanya dihafalkan tanpa proses melakukan. Memang, cara menghafalkan yang paling baik adalah dengan memahami dan cara memahami yang paling baik adalah dengan melakukan dan melalui proses menemukan. Lagi pula, dengan menemukan, anak akan lebih termotivasi. Itulah naluriah manusia yang akan merasa bahagia dan bangga ketika ia mampu menemukan, menghasilkan, atau menciptakan sesuatu.

Keyakinan akan pentingnya proses juga harus dimiliki anak. Mereka memerlukan keteguhan dan kesabaran dalam menjalani proses belajar. Mungkin, mereka harus menahan lelah dan kantuk dalam melalui proses itu. Namun, itulah jalan para pencari ilmu. Itu pula jalan kesuksesan. Keyakinan demikian akan menjadikan mereka menghindari jalan pintas apalagi dengan menghinakan diri seperti mencontek atau berperilaku tidak jujur lainnya. Guru sangat berperan penting dalam menanamkan keyakinan demikian pada diri anak. Itulah peran guru sebagai pendidik yang tidak hanya sebagai pengajar. Sebagai pengajar, guru perlu mamastikan bahwa anak telah menguasai sejumlah materi ajar. Sedangkan sebagai pendidik, guru perlu meyakinkan bahwa anak telah berkembang kepribadiaannya. Bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi berkemampuan, melainkan juga generasi berkepribadian.

Pelajaran apalagi yang dapat kita ambil dari fenomena di atas? Sebagaimana manusia yang mulai menghuni bumi ketika bumi telah nyaman, aman, dan siap untuk dihuni, maka proses belajar juga hendaknya dilakukan ketika anak telah merasa nyaman dan siap. Kenyamanan berkaitan dengan lingkungan dan situasi belajar yang mendukung. Kenyamanan juga berkaitan dengan terciptanya hubungan guru-anak yang dialogis dan harmonis. Sedangkan kesiapan anak belajar berkaitan dengan aspek fisiologis dan psikologis. Dari aspek fisiologis, kesiapan anak ditinjau dari tahap perkembangan mentalnya. Misal, anak-anak pada tahap perkembangan konkrit perlu mengeksplorasi berbagai situasi atau benda-benda konkrit sebagai wahana belajar bagi mereka. Bersegera mengenalkan hal-hal abstrak kepada anak yang belum memadai tahap perkembangan mentalnya akan berpotensi menimbulkan kesulitan bagi mereka. Sedangkan secara psikologis, anak siap untuk belajar ketika mereka mempunyai motivasi untuk belajar. Anak akan termotivasi untuk belajar ketika ia mengetahui untuk apa ia mempelajari sesuatu, mengetahui keterkaitan yang akan dipelajari dengan yang telah mereka ketahui, dan mengetahui dalam konteks apa ia mempelajari sesuatu, serta mengetahui manfaat dari sesuatu yang mereka pelajari. Aspek-aspek demikian perlu menjadi penekanan dalam pembelajaran.

Penekanan pada proses juga ditunjukkan oleh guru yang secara sabar memberikan kesempatan dan membimbing anak untuk menggunakan pengetahuan informal mereka ketahui. Hendaknya guru tidak terlalu berhasrat agar anak mengenal dan menguasai cara-cara formal. Inilah lahan kreativitas bagi anak untuk mengeksplorasi segala hal dengan pengetahuan yang mereka miliki dan tidak hanya menggunakan cara atau rumus jadi yang diberikan guru.

Akhirnya, marilah kita menatap pohon yang rindang dan kokoh serta menyadari bahwa ia tumbuh lama dan baik. Mari kita sadari pula bahwa anak-anak hanya akan tumbuh dan berkembang dengan kukuh ketika mereka menjalani proses belajar yang benar dan sempurna. Demikianlah, proses adalah suatu keniscayaan, suatu kemestian.

Dr. Ali Mahmudi, Dosen Matematika Universitas Negeri Yogyakarta.
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya