» » Mengajarkan Keterampilan “Mendengar yang Baik”

Mengajarkan Keterampilan “Mendengar yang Baik”

Penulis By on Thursday, May 28, 2015 | No comments


Oleh : Dr. Hepi Wahyuningsih, M.Psi.

Akhyar, berusia 4 tahun. Ibunya kadangkala kesal karena ia kadang tidak mendengarkan ibunya ketika ibunya memintanya melakukan sesuatu. Ia juga kadang tidak mendengarkan ayahnya ketika memanggil, seolah-olah Akhyar “tuli”. Kadang-kadang ia mendengarkan dengan baik, tetapi ibunya kadang juga berteriak untuk memanggilnya.

Akhyar kemungkinan tidak mengalami gangguan pendengaran karena pada saat-saat tertentu ia dapat mendengar dengan baik. Sebenarnya apa yang dialami oleh Akhyar adalah hal yang wajar/normal untuk anak seusianya. Anak usia prasekolah (2 – 6 tahun) mempunyai kesulitan untuk memperhatikan dan mendengarkan karena otak dan system syaraf mereka masih berkembang. Hal ini biasanya terjadi ketika anak sedang asyik memperhatikan sesuatu, karena otaknya fokus pada apa yang sedang ia perhatikan, otaknya tidak dapat memproses panggilan/kata-kata. Jika hal ini yang terjadi, kemungkinan anak secara tidak sengaja mengabaikan permintaan/panggilan orangtua. Meskipun demikian, anak kadang-kadang memang dengan sengaja tidak memenuhi panggilan atau permintaan orangtua.

Perilaku anak yang tidak mendengarkan orangtua baik disengaja maupun tidak disengaja merupakan perbuatan yang kurang terpuji sehingga orangtua perlu mengarahkan perilaku anak. Menurut Severe, dalam bukunya “How to Behave So Your Preschooler Will, Tool”, ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh orangtua untuk mengajarkan anak mendengar yang baik, yaitu:
1.   Memberi contoh sikap mendengar yang baik
Memberi contoh adalah cara mengajar yang paling efektif bagi anak-anak usia prasekolah. Oleh karena itu, orangtua perlu menunjukkan bagaimana menjadi pendengar yang baik pada anak. Ketika anak berbicara kepada orangtua, hendaklah orangtua memberikan perhatian pada anak, hentikan kegiatan yang sedang dilakukan orangtua, kemudian hadapkan badan orangtua kepada anak, lakukanlah kontak mata dengan anak, kemudian mulailah mendengarkan anak dengan sepenuh hati. Ulangi apa yang dikatakan anak untuk memastikan pada anak bahwa orangtua benar-benar memperhatikannya. Sikap orangtua yang demikian akan berdampak sangat positif pada anak. Anak akan memiliki contoh kongkrit bagaimana seharusnya menjadi pendengar yang baik. Selain itu, anak juga merasa bahwa dirinya dihargai oleh orangtua yang pada akhirnya nanti membentuk harga diri anak yang positif. Anak juga sekaligus belajar bagaimana menghargai orang lain.
2.   Berbicara dalam situasi yang tepat
Ketika akan berbicara dengan anak, orangtua harus memperhatikan kondisi anak. Anak yang lelah dan lapar akan kesulitan untuk memberikan perhatian pada panggilan/pembicaraan orangtua. Demikian juga pada anak yang sedang asyik bermain. Anak yang sedang sedih, kesal, atau menangis juga akan sulit untuk diajak mendengarkan perkataan orangtua. Orangtua perlu menenangkan anak terlebih dahulu sebelum meminta anak untuk mendengarkan orangtua.
3.   Menggunakan isyarat untuk mendapatkan perhatian anak
Banyak orangtua yang kemudian berteriak atau meninggikan suara ketika anaknya tidak mendengarkan. Bahkan boleh jadi orangtua kemudian marah pada anak. Teriakan/kemarahan orangtua tidak akan menjadikan anak pendengar yang baik. Yang perlu dilakukan orangtua ketika ingin berbicara dengan anak adalah mendekati anak. Setelah mendekati anak, orangtua dapat menyentuh tubuh anak (menyentuh bahu atau bahkan jika perlu memeluk). Kemudian mulailah pembicaraan dengan menyebut nama anak. Beritahu anak bahwa orangtua ingin berbicara dengan anak, mintalah anak untuk menghentikan kegitan yang dilakukannya untuk sementara waktu. Orangtua duduk sejajar dengan anak dan melakukan kontak mata. Hal ini akan membuat orangtua lebih diperhatikan anak, sehingga apa yang akan disampaikan oleh orangtua lebih mampu dipahami oleh anak.
4.   Orangtua tidak terlalu banyak perintah/permintaan sekaligus
Tahap perkembangan otak yang belum sempurna menyebabkan anak tidak mampu memproses perintah/permintaan orangtua yang terlalu banyak sekaligus. Perintah/permintaan orangtua yang terlalu banyak dalam satu waktu akan menimbulkan frustrasi pada anak. Rasa frustrasi anak ini malah dapat menyebabkan anak tidak mengikuti permintaan orangtua, bahkan anak dapat menjadi rewel karena bingung. Orangtua juga perlu meminta anak untuk mengulang permintaan/pembicaraan orangtua untuk memastikan anak memahami pembicaraan/permintaan orangtua.
5.   Memberikan pujian/hadiah pada anak
Ketika anak mampu mendengar yang baik, beri anak pujian/hadiah. Pujian/hadiah sangat diperlukan untuk menguatkan perilaku anak. Pujian akan efektif membentuk perilaku anak ketika langsung diberikan pada anak setelah anak melakukan perilaku yang diinginkan orangtua.

Kelima hal tersebut di atas akan efektif bila orangtua melakukannya dengan konsisten. Kekonsistenan orangtua dalam menerapkan kelima hal tersebut akan memperjelas apa yang diinginkan oleh orangtua terhadap anak.


Dr. Hepi Wahyuningsih, M.Psi. Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya