Renungan : Menjauhi Ketergelinciran


Sudah banyak yang  terperosok dan terjatuh padanya. Janganlah mengikuti jejaknya.
[a] Mereka amat cepat terkuasai oleh sifat ujub (kagum pada diri sendiri) dan terpedaya, sehingga bagai ingin menaiki kepala mereka sendiri.

[b] Mengeluarkan fatwa untuk dirinya dan untuk orang lain padahal belum ahli. Sesuai dengan pendapatnya belaka, tanpa meminta bantuan dari pendapat-pendapat cerdik pandai shalih pendahulu umat ini, yang telah meninggalkan "harta warisan" berupa ilmu yang menerangi dan menyinari.

bpsembodo


Makanan Cerdas : Manfaat Buah Nanas


Oleh : Ana Noorina

Buah nanas (Ananas comosus (L.) Merr.) merupakan tanaman buah yang berasal dari Brasil. Di Indonesia, nanas biasanya ditanam di perkebunan dan untuk diambil buahnya. Subang merupakan daerah penghasil nanas terbesar di Indonesia. Buah nanas selain di makan secara langsung, bisa juga diawetkan dengan cara direbus dan diberi gula, dibuat selai, atau dibuat sirup.

Selain bermanfaat sebagai makanan, buah nanas juga berkhasiat sebagai obat tradisional. Selain itu, kandungan vitamin seperti vitamin C dan mineralnya sangat baik untuk kesehatan. Khasiat buah nanas antara lain mengurangi keluarnya asam lambung yang berlebihan, membantu mencernakan makanan di lambung, antiradang, peluruh kencing (diuretik), membersihkan jaringan kulit yang mati (skin debridement), mengganggu pertumbuhan sel kanker, menghambat penggumpalan trombosit (agregasi platelet), dan mempunyai aktifitas fibrinolitik. Buah muda rasanya asam, berkhasiat memacu enzim pencernaan, antelmintik, diuretik, peluruh haid (emenagog), abortivum, peluruh dahak (mukolitik), dan pencahar.

Buah nanas bisa mencegah penyakit kanker. Ini karena, dalam buah nanas terdapat Vitamin A dan vitamin C yang mempunyai fungsi sebagai antioksidan. Maka sel kanker yang biasanya timbul dari radikal bebas bisa dilawan. Buah nanas membantu proses pencernaan dalam usus atau lambung. Hal itu didapatkan dari enzim bromelain pada buah nanas.

Bagi orang yang mempunyai kadar gula darah yang rendah, mengkonsumsi buah nanas bisa membantu menstabilkan kadar gula darah. Tapi di balik dari manfaat tersebut, kita juga harus memperhatikan kapan boleh mengkonsumsi buah nanas. Terutama pada saat awal kehamilan, sebab kandungan glukosa tinggi dan kadar alkohol pada nanas bisa beresiko mengganggu pertumbuhan janin. Sedangkan manfaat lain yang bisa menjadi informasi yang baik adalah untuk mengatasi asam urat.

Ana Noorina, Pemerhati gizi

Makanan Cerdas : Kacang Merah


Oleh : Ana Noorina

Kacang merah memiliki banyak manfaat untuk kesehatan tubuh. Kacang merah mempunyai kandungan zat besi yang cukup tinggi. Zat ini merupakan sumber yang berfungsi untuk meningkatkan metabolisme tubuh dan meningkatkan energi tubuh. Selain itu, kacang merah sangat bermanfaat karena mampu membantu sirkulasi oksigen ke seluruh tubuh.

Dengan kandungan serat yang cukup tinggi, kacang merah membantu menurunkan tingkat kandungan karbohidrat sehingga mampu menjaga gula darah. Serat yang hadir dalam kacang merah juga dapat membantu mempertahankan gerakan usus yang sehat. Jika dimakan dalam jumlah yang tepat, kacang merah membantu membersihkan saluran pencernaan. Buang air besar secara teratur berhubungan dengan rendahnya risiko kanker usus besar.

Selain itu, kacang merah dapat meningkatkan energi karena tinggi kandungan zat besi. Makanan ini mengandung banyak zat besi yang merupakan sumber utama yang diperlukan untuk meningkatkan metabolisme dan energi tubuh. Kacang merah juga menawarkan manfaat yang luar biasa bagi otak. Makanan ini mengandung banyak vitamin K yang menyediakan nutrisi penting untuk otak dan sistem saraf.

Kacang merah memiliki kandungan magnesium dan serat yang cukup banyak. Magnesium dan serat ini sangat bermanfaat untuk menurunkan kadar kolesterol jahat. Dengan mengonsumsi kacang merah maka dapat mencegah stroke, serangan jantung, dan penyakit pembuluh darah perifer.

Walaupun kacang merah sangat bermanfaat dan berkhasiat utuk kesehatan tubuh, terutama jantung, sebaiknya jangan pula mengonsumsinya secara berlebihan. Sesuatu yang dikonsumsi secara  berlebihan justru akan berdampak kurang baik bagi tubuh. Jadi konsumsilah kacang merah sesuai porsi atau takarannya.


Ana Noorina, Pemerhati dunia anak

Tanamkan Nilai Ketegasan Pada Anak


Oleh : Suhartono

Anak-anak di usia belia masih belum mengerti dan belum dapat membedakan hal yang baik dan buruk yang mereka lakukan. Pada umumnya anak-anak hanya mengerti bahwa orangtua adalah orang yang bisa mengabulkan segala keinginannya. Anak-anak hanya tahu meminta tanpa mengetahui dampak apa yang bisa ditimbulkan dari keinginannya tersebut. Jika keinginannya tidak dikabulkan, mereka tidak jarang akan merengek atau bahkan meronta agar keinginanya tersebut dapat dikabulkan.

Sebagai orangtua tentu menginginkan hal yang terbaik untuk anak tanpa adanya ancaman atau bahaya yang mengancam jiwa anak. Untuk itu sebagai orangtua dituntut untuk tegas terhadap anak, agar keselamatan mereka senantiasa terjaga dengan baik. Ketegasan merupakan salah satu nilai penting yang dibutuhkan oleh seorang anak. Ketegasan akan diperlukan anak dalam bergaul serta dalam hal memutuskan antara hal yang benar dan hal yang salah. Ketegasan akan membuat seorang anak menjadi lebih percaya diri dan lebih menghargai dirinya sendiri.

Anak yang tegas umumnya memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik dibandingkan anak-anak yang kurang memiliki ketegasan dalam dirinya. Selain itu, manfaat baik dari menanamkan ketegasan dalam diri anak sejak dini akan membuat seorang anak menjadi pribadi yang pintar dalam menyelesaikan masalah dalam hidupnya, mencari solusi terbaik dan pandai memilih prioritas mana yang harus didahulukan.

Nilai ketegasan dapat ditanamkan dan diajarkan kepada setiap anak, tidak peduli anak dengan karakter apapun, baik ia pemalu, pendiam, pemberani atau karakter lainnya. Hanya, saja umumnya anak yang pemberani akan membutuhkan waktu yang lebih cepat dalam mempelajari nilai ketegasan.                                                        ||

Tips mengajarkan nilai ketegasan terhadap anak:
Ø Ajarkan pada anak mengenai hal yang buruk dan hal yang baik, dan latih anak untuk berani menolak terhadap hal-hal yang buruk atau hal yang tidak baik untuknya.
Ø Berikan ruang pada anak untuk mengekspresikan hal yang disukainya dan mengungkapkan pendapatnya. Hal ini akan mengajarkan pada anak bahwa pendapatnya adalah sesuatu yang penting untuk dikemukakan.
Ø Berikan ruang dan kesempatan pada anak untuk mengungkapkan dan menanggapi terhadap hal yang disukainya dan hal yang tidak diinginkannya. Meskipun demikian, ajarkan pula pada anak tentang menghargai perasaan oranglain dan pendapat oranglain.
Ø Berikan kesempatan pada anak untuk mengambil keputusan. Mengajarkan anak untuk mengambil keputusan akan membuat anak tidak memiliki rasa ketergantungan terhadap orang lain. Hal ini tentunya akan membuat anak memiliki ketegasan.
Ø Jadilah contoh yang baik untuk anak. Mengajarkan teori ketegasan saja tidak akan cukup membuat anak Anda belajar cepat dan memiliki nilai ketegasan dalam dirinya. Untuk itu, jadilah contoh yang baik untuk anak.

Suhartono, Pendidik, Tinggal di Yogya

Tayangan Televisi Masih Belum Ramah Anak


Oleh : Adi Sulistama

Sebagai media audio visual, televisi dengan sangat mudah memikat masyarakat. Perkembangan teknologi telah menjadikan televisi sebagai salah satu sarana menggali informasi yang lebih hidup dan dapat menjangkau ruang lingkup secara luas. Itulah salah satu nilai positif yang dimiliki media massa televisi.

Namun tak ayal, televisi juga bisa memberikan dampak yang negatif terhadap masyarakat (penonton). Jika pesan-pesan yang disampaikannya tidak sesuai dengan aturan-atuaran penyiaran yang telah ditetapkan. Banyak data mengenai tayangan televisi yang melanggar undang-undang perlindungan anak dan remaja. Bahkan sebuah lembaga survei mengumumkan hanya sekitar 8% saja acara TV di Indonesia yang mendidik anak-anak. Bentuk pelanggarannya pun bermacam-macam, di antaranya pelanggaran terhadap norma kesopanan, memuat unsur tindak kekerasan, bahkan melanggar norma susila dan tak terkecuali mengandung tema supranatural/horor. Banyak sekali tayangan yang disiarkan pada jam anak menonton, tapi isinya tidak mengedukasi mereka. Padahal hampir 84 juta dari 243 juta penduduk Indonesia adalah anak-anak.

Jika kita cermati, saat ini program tayangan televisi yang ditampilkan lembaga penyiaran tidak merujuk pada edukasi dan tumbuh kembang anak. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bahkan telah acap kali menegur lembaga penyiaran yang menayangkan program anak yang tidak sesuai dengan Pedoman Perilaku Penyiaran Standar Program Siaran (P3 SPS).
Seharusnya lembaga penyiaran bisa bersikap lebih dewasa dan bijaksana, karena menyangkut kualitas manusia.

Anak-anak yang berusia di bawah 18 tahun sangat rentan terhadap pengaruh media. Apalagi perkembangan era teknologi sekarang telah membuat anak-anak kita memiliki kemampuan tinggi dalam mengakses dan mengakomodasi informasi, dan televisi merupakan media yang aksesnya mudah dijangkau. Selayaknya program acara untuk orang dewasa hanya boleh tayang saat jam anak tidur, dan di luar jam itu seharusnya merupakan program-program yang aman untuk dikonsumsi anak-anak.

Kondisi inilah yang semestinya membuat orangtua, lembaga penyiaran dan otoritas terkait harus menjadi lebih waspada. Sudah seharusnya setiap orang tua mengawasi acara televisi yang menjadi tontonan anaknya dan sehingga dapat melakukan proteksi tehadap dampak-dampak yang akan ditimbulkan oleh acara televisi tesebut.

Bottom of Form
Perlu langkah cerdas. Jangan sampai kita mengikuti arus zaman yang sebenarnya tidak kita butuhkan, termasuk televisi. Cukuplah dengan televisi yang bisa dinikmati bersama, tidak harus yang terbaru. Pastikan pula bahwa di kamar anak tidak ada televisi karena akan sulit untuk mengontrolnya. Banyaknya tayangan yang seronok dan tidak memperhatikan adab sangat mudah ditemui di televisi. Hal ini akan mudah diimitasi anak jika tidak dikontrol.

Mendampingi anak saat menonton merupakan salah satu cara orangtua untuk meminimalisasi dampak negatif televisi. Ikutlah bersama anak menonton, walaupun hanya sebentar. Pastikan bahwa anak juga merasa kita awasi agar ia tidak berpikiran untuk menonton tayangan yang buruk.

Bagaimana jika orangtua justru yang menyetel tontonan yang tidak mendidik? Ini yang bahaya. Artinya orangtua pun harus mau dan berupaya untuk mau menonton tayangan yang memang layak tonton bagi anak. Tidak mungkin kita melarang anak menonton sinetron sementara kita sendiri justru sering asyik menonton sinetron.

Pengaruh yang dihasilkan televisi sangatlah besar karena tiap hari mereka selalu dekat dengan televisi. Untuk itulah, sebagai orangtua, kita harus mengontrol dengan baik agar pengaruh negatif dari televisi tidak berdampak buruk pada pembentukan karakter anak. Tayangan-tayangan kekerasan, pembunuhan, pakaian artis yang tidak pantas dilihat, menjadi makanan sehari-hari yang ditawarkan televisi kepada anak-anak kita. Jika kita tidak mencegahnya, maka siapkah Anda melihat anak mengikuti tayangan buruk itu?

Adi Sulistama, Pemerhati dunia anak
foto http://cikalnews.com/static/data/berita/foto/besar/10883649485anak-nonton-rv.jpg

Ketika ASI Eksklusif Mendapatkan Tantangan


Oleh : Dr. Hepi Wahyuningsih, M.Psi.

Kelahiran anak kami yang ketiga kami sambut dengan suka cita. Tapi suka cita kami tidak berlangsung lama karena oleh dokter anak, anak kami didiagnosa mengalami hipoglikemia, yaitu kadar gula di dalam tubuh rendah. Jika tidak segera ditangani bisa mempengaruhi kerusakan syaraf otak permanen. Hipoglikemia terjadi kemungkinan karena ASI yang belum bisa keluar dan kemudian asupan glukosanya masih kurang mencukupi.Alhasil, anak kami harus dirujuk ke RS yang peralatannya lebih lengkap. Kami memutuskan memilih RS yang menyewakan kamar untuk ibu agar bisa menunggui bayinya sehingga harapannya bisa memberi ASI full eksklusif. Tentu saya tidak ingin hanya diminta istirahat saja di kamar, tidak usah nunggu anak, nanti kalo anaknya nangis dikasih sufor dulu saja.

Harapan kadang ternyata tidak seperti yang diharapkan. Datang sampai di kamar perawatan bayi, saya sudah dapat perawat yang pro-susu formula.  Jadi saya perlu memberi penegasan apa gunanya saya menyewa kamar. Akhirnya terjadi kesepakatan, saya akan ke kamar,tapi kalo anak saya nangis, saya dipanggil utk menyusui karena ASI juga akan keluar kalau terus dicoba utk diminumkan. Saya juga memberikan janji ke beliau kalau memang nanti ASI tidak juga keluar, saya akan lapor dan untuk sementara tidak apa diberi sufor (dalam hati, saya berharap ASI saya bisa segera produksi sehingga si kecil tidak perlu sufor).

Alhamdulillah, setelah istirahat kurang lebih 2 jam di kamar, saya sudah mulai bisa merasakan ASI saya mulai diproduksi. Senang rasanya,nanti bisa diberikan ke si kecil. Terenyuh rasanya membayangkan setiap beberapa jam kakinya ditusuk jarum untuk dicek darahnya. Mendengar tangisan karena tusukan jarum saja saja sudah membuat mrebes mili. Setelah merasa cukup istirahat, saya menjenguk si kecil. Betapa kagetnya saya, ternyata di atas tempat tidurnya sudah ada sufor dan ternyata si kecil sudah dikasih sufor karena menangis. Jadi wajar kalau kemudian saya marah dengan perawat yang ada di situ karena melanggar kesepakatan. Mungkin karena marah saya cukup menakutkan, sejak itu, kalo anak saya nangis, saya akan dipanggil oleh perawat jaga, alhamdulillah.

Dan saya pun tahu diri, saya harus lebih sering menemani anak saya di kamar perawatan anak, terlebih di jam-jam di mana kakinya harus ditusuk jarum cek glukosa (sebab ada beberapa perawat yang nusuk jarum tanpa babibu, asal tusuk, tidak bilang dulu ke bayi kita, hmm… yang begini ini yang perlu dikasih training psikologi perkembangan). Saya harus siap menghiburnya dengan kata-kata yang bisa menenangkannya, dan ternyata si kecil mampu memahaminya, alhamdulillah. Pengalaman menunggu di kamar perawatan bayi, juga membuat semacam grup ibu-ibu senasib yang akhirnya bisa berbagi pengalaman dan berbagi tugas, bergantian piket menjagai anak-anak kami. Berbagi piket menjagai anak-anak itu penting sekali karena ada beberapa perawat yang sepertinya rasa empati pada bayi sudah mulai pudar, mungkin karena saking seringnya merawat bayi sakit, jadi tidak lagi peka. Ada bayi nangis, mereka biarkan saja, mereka tetap ngobrol dengan temannya. Tapi tidak semua perawat begitu, lagi-lagi hanya oknum, jadi saya tidak menyalahkan RS.

Alhamdulillah, setelah 3 hari di rumah sakit, kadar glukosa si kecil sudah normal. Akhirnya saya minta ke dokter anak untuk pulang. Namun tidak diperbolehkan, katanya sekarang anak saya kuning. Aduh, masa saya harus adu argumentasi lagi dan kali ini dengan Bu Dokter, tapi baiklah, sepertinya saya harus melakukannya. Saya katakan ke Bu dokter "Bu dokter, anak saya dirujuk ke RS karena hipoglikemia, sekarang sudah normal, jadi ya pulang. Kalo sekarang anak saya kuning itu karena kalau di RS nggak pernah dijemur dan karena ASI-nya mungkin belum bisa maksimal, jadi saya bawa pulang dulu, nanti kalau beberapa hari di rumah semakin kuning saya bawa ke rumah sakit lagi ya." Alhamdulillah diperbolehkan meskipun kami harus tandatangan di surat permintaan pulang paksa pasien

Bismillah, saya yakin dengan pengalaman merawat 2 orang kakaknya, kuning yang dialami si kecil hanya perlu diberi ASI secara intens dan dijemur matahari pagi, insyaAllah sembuh. Alhamdulillah...beberapa hari di rumah, si kecil tidak lagi kuning.

Demikian cerita ini berakhir dengan pesan untuk para ibu. Anak sakit memang harus kita rujuk ke rumah sakit, tapi kita tidak boleh 100% percaya sepenuhnya pada perawatan mereka karena mereka hanya membantu kita merawat anak-anak kita yang sedang sakit. Kita tetap yang harus bertanggung jawab 100% terhadap perawatan sakit anak-anak kita. Jika ada hal yg dirasa kurang berkenan di hati kita, kita harus memberanikan diri untuk mendiskusikan dengan dokter dan perawat anak kita. Di zaman sekarang, ibu-ibu juga bisa cari second opinion melalui google. InsyaAllah itu juga sangat membantu kita. Selamat berjuang para ibu. Semoga tulisan ini bermanfaat. Ditulis dalam rangka mengatasi kebosanan di RS menanti izin dokter untuk pulang ke rumah. Astaghfirullah...Allahu'alam..


Dr. Hepi Wahyuningsih, M.Psi. Dosen Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta
foto http://family.fimela.com/resources/news/2013/08/19/1204/paging/2081/640xauto-asi-eksklusif-bisa-mencegah-alergi-pada-anak-130819g-1.jpg

Sekolah Mahal, Siapa Peduli?


Oleh : Pandi Kuswoyo, M.Pd.

Tahun ajaran baru hampir tiba, muncul kecemasan di antara para orangtua tentang pendidikan putra-putrinya. Pertama, apakah putra-putrinya bisa masuk sekolah sesuai yang diinginkan. Kedua, jika tidak, apakah mampu membayar biaya sekolah yang dinilai mahal oleh banyak kalangan.

Dalam proses pemintaran dan pemberdayaan pendidikan, menjalankan peran orangtua bukanlah sesuatu yang mudah dalam kondisi sistem pendidikan yang telah salah kaprah menganut paham privatisasi dan liberalisasi.

Senang atau tidak senang dan suka atau tidak suka, liberalisasi, komersialisasi dan privatisasi di tubuh lembaga pendidikan kita berdampak pada tingginya biaya pendidikan. Karenanya, rakyat kecil tidak lagi bisa menjangkau biaya pendidikan yang terkadang memang tidak realistis.

Kejengkelan terhadap sistem pendidikan yang tidak berpihak pada kaum miskin seolah menjadi mata rantai yang terus melilit leher rakyat kecil. Lalu, siapa yang peduli terhadap mahalnya biaya pendidikan? Benarkah pendidikan yang mahal pasti bermutu? Lalu siapa yang bisa menghentikan laju mahalnya biaya pendidikan di negeri ini?

Dengan semangat privatisasi (otonomi), sekolah tanpa sadar atau malah sangat menyadari, telah menempatkan diri sebagai “makelar” dalam arti sesungguhnya. Sekolah dimanfaatkan sebagai ladang subur untuk mendulang keuntungan lewat sistem penerimaan siswa baru, penarikan uang gedung, sumbangan pendidikan, pembelian buku paket pelajaran, kain seragam, dan program akselerasi.

Dengan alasan otonomi dan peningkatan mutu pendidikan, sekolah nyaris kehilangan rohnya sebagai lembaga yang seharusnya lebih humanis sebagai tempat menimba ilmu dan menempa pekerti.

Sekolah tidak lagi menjadi tanggungan pemerintah, cukup diserahkan pada mekanisme pasar. Di situlah sekolah berangsur-angsur menjadi tempat eksklusif yang memberikan pelayanan hanya bagi mereka yang mampu mem¬bayar.

Sekolah yang dicita-citakan dapat memberikan kesempatan pendidikan yang murah bagi kebanyakan anak negeri ini, namun toh akhirnya yang menikmati adalah kala¬ngan yang beramunisi finansial besar.

Pragmatisme pendidikan semacam inilah yang sesungguhnya salah, tetapi masih dianggap lumrah (dalam batas kewajaran). Namun, ini akhirnya mengakibatkan biaya sekolah menjadi sangat mahal dan elitis, dalam arti cuma menjadi wilayah para borjuis (orang-orang berduit). Sementara itu, anak-anak yang berpotensi namun tidak memiliki cukup biaya harus terpental sebelum sampai bangku sekolah.

Dengan demikian, menanggapi realitas mahalnya biaya pendidikan dan praktik privatisasi yang kian masif, kiranya kita semua tidak perlu berpangku tangan dan sibuk mencari kambing hitamnya.

Masing-masing diri dari kita mempunyai tanggung jawab untuk ambil bagian membantu membebaskan generasi bangsa ini dari sistem sekolah yang mahal. Ini karena hanya kepedulian dan kesadaran dari masyarakatlah yang menjadi kunci kebangkitan pendidikan yang bermutu dan terjangkau. Lalu, atas pemahaman tersebut, masyarakat akan menjadi kritis dan mampu menentukan pilihannya sendiri.

Meminjam istilah Eko Prasetyo (2004), inilah yang dimaksud dengan melawan sekolah mahal lewat gerakan sosial. Fakta yang ditemukan membeberkan bukti bahwa ternyata sekolah itu sangat mahal, sedemikian mahalnya sehingga tidak bisa dijangkau anak-anak orang miskin, karena orang tua mereka tak mampu membayarnya. Untuk itu, diperlukan sebuah gerakan radikal agar sekolah bisa murah.

Oleh karena itu, selain adanya kesadaran dan kepedulian serta langkah konkret yang terus-menerus diusahakan oleh masyarakat, sekolah, atau siapa pun yang terlibat dalam pengelolaan pendidikan, seharusnya mereka tidak menafikan siswa dan wali murid siswa karena latar belakang sosial ekonomi yang berbeda.

Memang tidak banyak pihak yang mau peduli dan memahami posisi demikian, melainkan kebanyakan lebih sibuk dengan urusannya sendiri dan lebih suka menyoal isu-isu sensasional terkini ketimbang harus bersusah payah mengurai benang kusut citra pendidikan di negeri ini.

Di tengah suasana seperti inilah, sudah selayaknya pemerintah dan pihak-pihak terkait merumuskan regulasi untuk penetapan tarif pembiayaan pendidikan. Artinya, pemerintah sesuai dengan kapasitas dan fungsinya adalah memberikan perlindungan bagi masyarakat, termasuk dalam praktik penyelenggaraan pendidikan, mulai dari tingkat sekolah dasar sekalipun.

Tugas utama pendidikan (sekolah) sebenarnya adalah sebagai usaha untuk memanusiakan manusia (people empowerment). Ini bukan bentuk pemerahan terhadap peserta didik dengan segala akal bulus caranya.

Sekolah bermutu dan terjangkau untuk semua kalangan akan bisa terwujud jika pemerintah, pejabat terkait, dan seluruh elemen bangsa, terutama orangtua, guru, kepala sekolah, memiliki kesadaran dan kemauan untuk menata, saling mengisi, dan saling melengkapi dalam membangun sistem pendidikan yang benar-benar memihak pada kepentingan rakyat. Jika hal demikian bukanlah harapan bangsa ini, bisa jadi pendidikan di negeri ini telah mati.


Pandi Kuswoyo, M.Pd. Kepala Sekolah SDIT Salsabila Banguntapan

Agar Puasa Kita Tidak Bercacat


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Ada yang berpuasa, tapi tidak memperoleh ampunan-Nya. Semoga Allah Ta'ala selamatkan kita dari kecelakaan yang semacam itu. Apa yang menyebabkan rusaknya puasa kita? Banyak hal. Salah satunya perkataan sia-sia maupun keji, melalui lisan maupun jemari (tweet, WA, status FB dan sejenisnya).

Mari kita ingat sejenak sabda Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam:
لَيْسَ الصِّيَامِ مِنَ الْأَكْلِ الشَّرَابِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ الّغْوِ وَالرَّفَتِ فَإِنْ شَابَكَ أِحَدٌ أَوْ جَهَلَ عَلَيْكَ فَقُلْ : إِنّي صَا ئِمٌ، إِنِّي صَاءِمٌ
"Puasa bukanlah dari makan, minum (semata), tetapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji. Jika ada orang yang mencelamu, katakanlah: Aku sedang puasa, aku sedang puasa." HR. Ibnu Khuzaimah.

Meski kita berdiam di masjid, lisan tak mengucap perkataan yang bikin sakit, tapi kalau jemari masih sibuk mengolok lewat tweet, FB dan berbagai saluran social media lainnya, apa maknanya??? Maka menahan diri dari perkataan yang sia-sia, terlebih yang keji, bukan hanya berlaku bagi ucapan lisan. Ucapan via social media perlu dijaga.

Jika terhadap ajakan untuk saling berdebat saja kita patut mengucap "saya puasa", maka patutkah kita sibuk memancing masalah untuk debat? Cukuplah kita mengingat sabda Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam untuk berhati-hati agar kita terhindar dari puasa bercacat.
Sabda Nabi shallaLlahu 'alaihi wa sallam:
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالْعَطَشُ
"Berapa banyak orang yang puasa, bagian (yang dipetik) dari puasanya hanyalah lapar dan haus (semata)." HR. Ibnu Majah, Darimi, Ahmad dan Baihaqi.

Semoga bincang sederhana ini bermanfaat. Semoga kita tidak tergolong orang yang berpuasa tapi tidak meraih ampunan Allah Ta'ala. Mari kita ingat, Ramadhan semakin dekat. Sudah saatnya berlatih menahan diri dari saling mengolok menertawakan orang lain via social media, meskipun di hari biasa tetap saja tercela.

Mohammad Fauzil Adhim | Penulis Buku  twitter @kupinang  facebook Mohammad Fauzil Adhim
foto http://cdn-media.viva.id/thumbs2/2010/08/25/94951_menunggu-waktu-berbuka-puasa-di-mataram--ntb-_663_382.jpg

Pola Makan Sehat Saat Puasa


Oleh : Arie Lestarie

Pada saat berpuasa, pola makan yang biasanya tiga kali sehari berubah menjadi dua kali, yaitu saat berbuka puasa dan sahur. Prinsipnya, pedoman menu untuk anak saat berpuasa sama dengan hari-hari biasa, yaitu berpedoman dengan pola makan dengan menu seimbang.

Pergantian pola makan, terutama saat makan saur menjadi saat yang sulit bagi anak. Dibangunkan dini hari saat anak sedang terlelap tidur tentu bukan hal yang mudah. Bangunkan anak dengan perlahan agar anak tidak kaget saat terjaga. Katakan pada anak, bahwa saat sahur telah tiba, karena besok harus berpuasa.

Pastikan anak cukup akan asupan air. Apalagi jika siangnya anak harus melakukan aktifitas seperti sekolah dan bermain. Dengan cukup asupan air saat sahur dan berbuka, maka anak akan terhindar dari dehidrasi. Selain air putih, asupan cairan juga bisa diberikan dalam bentuk jus buah. Jus buah sangat baik menjaga kesehatan anak, karena selain cairan, di dalam jus buah juga terkandung vitamin dan mineral yang dapat menjaga kesehatan tubuh. Serat di dalam buah juga bersifat mengenyangkan sehingga dapat menahan rasa lapar di saat berpuasa.

Jangan lupa berikan juga cairan dalam bentuk susu. Susu sangat penting dikonsumsi saat berpuasa. Selain memberikan cairan tubuh, susu juga mengandung nutrisi yang lengkap, seperti protein, kalori, lemak, vitamin, dan mineral esensial yang diperlukan anak di masa pertumbuhan. Dengan minum susu, asupan nutrisi anak menjadi semakin lengkap dan menutupi kemungkinan kekurangan asupan gizi dari berkurangnya jumlah waktu makan.

Saat berbuka, awali dengan kudapan manis yang bergizi. Seperti kolak pisang, jus buah, buah kurma, puding buah atau susu yang mengandung gula. Makanan manis yang mengandung gula akan cepat mengembalikan energi anak sehingga anak tidak lagi merasa lapar dan lemas.

Setelah menunaikan sholat Magrib, anak dianjurkan makan dengan menu lengkap yang mengandung sumber karbohidrat, protein nabati, protein hewani, lemak, vitamin, dan mineral. Nutrisi ini bisa diperoleh dari menu seimbang.

Setelah menjalankan sholat tarawih, anak diperbolehkan memakan camilan sehat seperti buah pisang, yogurt, puding atau minum susu. Mengonsumsi pisang dan susu akan merangsang rasa kantuk anak sehingga anak dapat tidur lebih cepat dan cukup istirahat karena harus bangun saat sahur.

Arie Lestarie, Pemerhati dunia anak
foto https://www.ibudanbalita.com/uploads/posts/puasa-untuk-mengasah-kecerdasan-spiritual-si-kecil-601.jpg

Menyusun Program Pengendalian Nafsu Pada Anak


Oleh : Drs. Slamet Waltoyo

Banyak di antara orangtua yang memilih anaknya belajar di SD Islam atau Madrasah Ibtidaiyah (MI) dikarenakan alasan kekhawatiran. Khawatir tidak bisa mengendalikan anak dalam mengakses fasilitas komunikasi yang dimilikinya. Kesimpulan ini saya peroleh dari hasil wawancara saya dengan calon orangtua murid. Tentu ini bukan alasan satu-satunya. Alasan pendukungnya karena banyak SD Islam dan MI yang (menurut pendapatnya) lebih baik dari SD umum.

Kekhawatiran banyak orangtua cukup beralasan. Dengan mudahnya anak dapat mengakses informasi. Termasuk informasi yang tidak sesuai karena belum masanya. Khawatir ketika orangtua tidak di rumah, anak menghabiskan waktunya dengan game.  Temuan di lapangan menunjukkan bahwa sangat sedikit anak-anak kelas 4-5 SD (terutama di kota-kota besar) yang steril terhadap informasi pornografi.

Sisi lain, ini timbul karena puber  yang terjadi lebih cepat pada anak. Dengan gizi yang sudah baik, hormon-hormon juga  berkembang lebih cepat dan rangsangan  pornografi yang menyerang begitu dahsyatnya.  Menyerang dari berbagai media seperti TV, internet, film bioskop, komik, hingga PS. Hormon anak bergerak cepat, akhirnya puber anak terjadi lebih cepat. Kelas 4, 5, 6 SD, anak-anak sekarang banyak yang sudah  mengalami menstruasi.  

Semua manusia memiliki keinginan. Begitu pun anak-anak. Keinginan atau nafsu tidak semua baik. Ada batasan-batasan yang menjadi tolok ukur kebaikan. Batasan terbaik bagi manusia tentu saja batasan yang dibuat oleh pembuat manusia sendiri, yaitu dinul-Islam. Maka benarlah jika kekhawatiran banyak orangtua tadi dengan mencarikan solusi di dalam Islam.

Keinginan ini bisa baik bisa juga buruk. Sarana komunikasi dapat mempermudah kita, termasuk anak-anak kita menyalurkan keinginan. Kekhawatiran orangtua adalah anak-anak akan mengakses keinginan buruknya. Tenggelam dalam game, menikmati informasi kemaksiatan ataupun informasi yang belum waktunya. Ini beralasan, karena keinginan buruk itu berhias sesuatu yang menyenangkan sedangkan keinginan baik berhias dengan sesuatu yang tidak menyenangkan.

Maka solusinya adalah mengendalikan keinginan negatif atau hawa nafsu. Allah Ta’ala tahu kelemahan makhluk-Nya. Karena kasih dan sayang-Nya lah, Allah Ta’ala mensyariatkan bulan pengendalian. Ya, bulan Ramadhan ini. Guru di sekolah maupun orangtua di rumah harus mempunyai program mengurung hawa nafsu yang efektif agar kurungannya tetap bermakna dalam sebelas bulan berikutnya.  

Inilah saat yang tepat. Bulan yang amat kondusif untuk membentengi jiwa anak-anak. Program pengendalian hawa nafsu bagi anak-anak dengan misi khusus; anti tenggelam dalam game dan anti informasi pornografi. Dengan sasaran: (1) memperkuat keyakinan tentang Allah dan hari akhir. (2) memahamkan pentingnya waktu, menghindari lagha atau waktu yang mubadzir. (3) memahamkan dilarangnya mendekati zina. (4) pengawasan dalam bentuk pendampingan untuk mempersempit kesempatan melakukan hal-hal yang tidak diperbolehkan. (5) konsisten dan pastikan anak tidak akan mendapati contoh larangan itu terjadi di lingkungannya.

Bulan Ramadhan memudahkan program ini berjalan. Banyak kesempatan yang bisa dimanfaatkan. Kesempatan yang tidak ada di luar Ramadhan. Banyak keluarga yang karena kesibukannya, sulit untuk makan bersama. Tetapi di bulan Ramadhan sangat memungkinkan. Ada makan buka, ada makan sahur. Manfaatkan suasana makan untuk memasukkan sasaran-sasaran diatas. 

Waktu tertentu mengajak keluarga shalat tarawih ke masjid-masjid yang berbeda. Mencari masjid yang tema kultumnya sesuai dengan sasaran kita. Sepulang tarawih orangtua memberi penegasan tentang isi kultum. Terutama yang sesuai dengan sasaran.

Tetap konsisten hingga habis Ramadhan. Akhir Ramadhan biasanya banyak godaan. Kesibukan mempersiapkan Idul Fitri. Jangan terlena, Idul Fitri bukan pembebasan diri dari menahan. Melepaskan diri dari kurungan. Boleh keluarga merayakan kemenangan tetapi harus tetap mempertahankan kemenangan itu. Kemenangan menahan dari menuruti hawa nafsu.


Drs. Slamet Waltoyo, Kepala Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Al-Kautsar Sleman Yogyakarta 

Ramadhan dan Idul Fitri: Meraih Kemenangan dalam Ketaatan


Oleh : M. Edy Susilo & Galih Setiawan

Sesungguhnya di antara nikmat Allah kepada seorang muslim adalah dipertemukan dengan bulan Ramadhan dan dimudahkan dalam menunaikan puasa dan ibadah-ibadah lain di dalamnya. Ia adalah bulan yang di dalamnya kebaikan dilipatgandakan, derajat dinaikkan dan Allah menetapkan orang yang dibebaskan dari  neraka. Maka hendaklah seorang muslim memanfaatkan bulan ini dengan sebaik-baiknya untuk menambah kebaikan pada dirinya. Segeralah memanfaatkan waktu dan umurnya dengan ketaatan. Berapa banyak orang yang terhalang mendapatkan bulan ini dikarenakan sakit, wafat atau tersesat. Sebagaimana seorang muslim harus bersegera dalam mengisi waktu dan umurnya dalam memanfaatkan di bulan ini, maka, pastinya dia memiliki  kewajiban pula  terhadap anak-anaknya, yaitu, dengan mengayomi dan mendidiknya, serta mengajak dan membiasakanya menuju jalan kebaikan.

Seorang anak akan tumbuh sesuai apa yang dibiasakan orangtuanya. Pertumbuhan para pemuda di antara suatu kaum adalah hasil dari pembiasaan orangtuanya. Termasuk dalam hal puasa. Karena itu, Ramadhan ini haruslah dipergunakan sebaik-baiknya sebagai momentum untuk meraih kemenangan dalam ketaatan. Orangtua harus memantau puasa anak-anak dan memberikan semangat bagi yang masih kurang menunaikan haknya. Selain itu juga mengingatkan mereka tentang hakekat puasa, bukan sekedar meninggalkan makan dan minum. Akan tetapi untuk meraih ketakwaan, dan untuk mendapatkan ampunan dari dosa dan kesalahan.

Ramadhan juga bisa sebagai ajang untuk mengajarkan pada mereka tentang adab dan hukum tentang makanan, dengan memakan menggunakan tangan kanan, serta makan apa yang ada di dekatnya. Ingatkan pula haramnya berlebih-lebihan dan dampak negatifnya dalam diri. Ingatkan pula untuk tidak terlalu lama dalam berbuka sehingga tidak shalat Maghrib berjama’ah.  Ingatkan kondisi kaum fakir miskin, yang tidak mendapatkan segenggam makanan sekedar  meredam gejolak  lapar meraka. Ingatkan pula kondisi  para pengungsi dan para mujahidin fi sabilillah di mana saja.

Manfaatkan pula momentum Ramadhan sebagai sarana untuk berkumpul dengan para kerabat dan silaturahim. Ini adalah kesempatan untuk memperbaiki hubungan dan menyambung silaturahim yang (sempat) terputus. Ajaklah mereka untuk membantu ibu dalam membuat dan menyiapkan makanan, begitu juga mengangkat makanan dan menyimpan makanan yang layak untuk dimakan. Berkaitan dengan sahur, kedua orangtua hendaknya mengingatkan tentang barokah sahur, dan bahwa hal itu dapat menguatkan seseorang dalam berpuasa.

Dari Rabi’ binti Mi’waz radhiallah ‘anha, dia berkata: Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus (seorang utusan) waktu siang hari Asyura (tanggal 10 Muharram) ke desa-desa kaum Anshar dan berkata: “Barangsiapa yang pagi hari dalam kondisi berbuka, maka hendaklah dia menyempurnakan sisa harinya (dengan berpuasa). Dan barangsiapa yang pagi harinya dalam kondisi berpuasa, maka hendaklah menyempurnakan puasanya.”  Beliau berkata: “Maka kami berpuasa dan menyuruh anak-anak kami ikut berpuasa (dan mengajak mereka ke masjid). Kami berikan kepada mereka mainan dari kapas. Kalau salah satu dari mereka menangis, kami berikan dia (mainan tersebut) sampai datang waktu berbuka.” (HR. Bukhari, no. 1859. Muslim, no. 1136. Tambahan di antara dua kurung tadi  berasal dari riwayat Muslim).

Imam Nawawi rahimahullah berkata: “Hadits ini menunjukkan bahwa anak-anak hendaknya dilatih dalam menunaikan ketaatan, dan terbiasa dalam beribadah. Akan tetapi mereka belum mukallaf (terkena kewajiban ibadah). Qadhi berkata: Diriwayatkan dari Urwah bahwa jika mereka (anak-anak) telah kuat berpuasa, maka mereka wajib menunaikan puasa. Pendapat ini keliru dan tertolak  dengan hadits shahih ini, “Pena diangkat (kewajiban gugur) dari tiga (orang); anak kecil hingga bermimpi –dalam riwayat lain hingga baligh.“ Wallahu’alam  . (Syarh Muslim, 8/14)

Ajarkan pula anak untuk berinfak dan melihat (kondisi) tetangga dan orang-orang yang membutuhkan. Dari Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma dia berkata,  

 “Biasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan saat yang paling dermawan adalah di bulan Ramadan ketika bertemu dengan Jibril. Dan beliau bertemu pada setiap malam di bulan Ramadan untuk tadarus (membacakan) Al-Qur’an. Maka Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam paling dermawan dalam kebaikan melebihi hembusan angin." (HR. Bukhari, no. 6, Muslim, no 2308).


M. Edy Susilo & Galih Setiawan, Redaktur Majalah Fahma

Kajian Utama : Istiqomah Memperbaiki Ibadah


Oleh : R. Bagus Priyosembodo

Ramadhan datang. Ramadhan bukan hanya sekedar ritual ibadah puasa yang dilakukan selama sebulan penuh. Bukan pula momentum semangat melakukan berbagai macam ibadah di awal, namun kala menjelang Ramadhan berakhir justru melemah. Sebab Ramadhan adalah momentum untuk memperbaiki ibadah, yang hasilnya akan terlihat sesudah bulan mulia ini terlalui, yakni bagaimana semangat menjaga ketaatan yang sudah terjalani. Bahkan meningkatkan. 

Karena itu, Ramadhan adalah ssat yang tepat untuk membangkitkan semangat dan berhidmat dalam berbagai majelis ilmu. “Allah akan mengangkat derajat orang -orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” ( QS. Al-Mujadilah : 11 ). Iman dan ilmu akan menaikkan derajat seseorang. Menjaganya berarti menjaga kemuliaan diri. Bila seseorang menguasai ilmu syar’i maka akan mengetahui hal-hal yang dicintai Allah dan yang dibenci Allah. Ilmu menjadikannya mengetahui hal-hal yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah serta hal-hal yang dapat menambah keimanannya.

Ramadhan mensuasanakan diri kita dekat dengan majelis ilmu. Setiap selesai shalat Subuh dan Isya’. Kita disuguhi dengan kultum. Belum lagi dengan kajian jelang buka puasa dan kajian-kajian lain. Dalam bulan Ramadhan, terdengar bacaan Al Qur’an, pagi siang malam. Mereka yang awalnya sulit untuk istiqomah membaca Al Qur’an, namun di bulan Ramadhan ini sangat bersemangat mengejar target tilawahnya. Ada yang menarget satu hari satu juz, ada pula yang sampai tiga juz.

Allah menurunkan Al Qur’an sebagai rahmat dan penerang untuk hamba-Nya. Kitab Al Qur’an yang Allah turunkan kepada kita adalah kitab yang penuh berkah agar kita menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang memiliki akal dapat mengambil pelajaran. Banyak membaca dan memahami artinya serta mengambil petunjuknya merupakan upaya besar untuk kebaikan yang banyak dari Allah Ta’ala ini. Barang siapa yang mentadabburi ayat-ayat Allah dia akan mengetahui besarnya kekuasaan dan keagungan Allah sehingga imannya pun akan bertambah.

Jika seseorang memahami dengan benar indahnya nama-nama Allah dan sempurnanya sifat-sifat-Nya, maka kecintaannya kepada Allah dan pengharapannya kepada-Nya akan bertambah, sehingga dia akan semakin khusyu’ dalam melaksanakan ibadah. 

Rasulullah adalah panduan kita untuk menjadi hamba yang senantiasa bergegas dalam kebaikan, jauh dari kendor dan patah semangat, apalagi mengganti kesibukan kebaikan dengan kesibukan keburukan.  Dengan menghayati kehidupan Rasulullah, kita mengetahui bagaimana semangat beliau dalam menyampaikan risalah Allah dan menjalankan dengan sebagus bagusnya walaupun banyaknya rintangan.

Agama yang Rasulullah bawa ini adalah agama yang tidak merusak dan menyusahkan.  Allah Ta’ala menurunkan syariat-Nya dengan segala kesempurnaan,tidak ada cacat  padanya.  Jika seorang mukmin menghayati hal ini, maka ia akan mengetahui bahwa Allah tidaklah menurunkan syariat-Nya untuk menyusahkan hamba-Nya. Segala bahaya dijauhkan dan begitu datang kesulitan syariat hadirkan pemudahannya.

Salah satu kunci meraih kemenangan dalam ketaatan di bulan Ramadhan adalah keikhlasan. Jikalau amalan itu ikhlas murni sebagai pengabdian kepada Allah Ta’ala, maka akan memperkuat din dalam diri kita. Jikalau bukan sebagai persembahan untuk Allah Ta’ala, maka tak akan ada jejak keshalihannya di luar Ramadhan itu. Karena sesungguhnya setiap amal shalih yang dikerjakan oleh seorang mukmin dengan ikhlas akan menambah keimanannya, karena iman bertambah dengan banyaknya amal ketaatan yang dilakukan seorang mu’min.

Marilah kita jaga semangat dan keikhlasan itu. Ianya akan mengokohkan. Di masjid bersama orang orang baik dalam peribadahan merupakan kenikmatan jiwa yang terasakan dalam Ramadhan.  Tidak diragukan lagi bahwa berteman dengan orang-orang yang shalih adalah sebab meningkatnya iman. Amat sayang jika ini berhenti dan berganti dengan tempat kotor bersama orang tidak baik untuk  bersibuk dengan amalan jelek. Karena di dalam bergaul dengan mereka seseorang baik akan sering mendapatkan nasehat dan peringatan yang bermanfaat.

Kita akan mudah jaga kekekokohan apabila menjauhi pelemahnya. Apabila kita sanding terus menerus pelemah iman maka bagaimana akan terjaga ibadah ini. Maka tidak bisa tidak harus dilakukan, jika seseorang merindukan kebagusan ibadah dan terjauh dari melemah, adalah menjauhi hal ikhwal pelemah ibadah. Salah satu bahaya itu adalah teman jelek.  Merupakan tabiat manusia bahwa dia akan meniru dan mengikuti teman atau kerabat dekatnya. “Jika engkau ingin mengetahui tentang keadaan seseorang tanyalah siapa teman yang biasa menemaninya, karena sesungguhnya seseorang akan selalu mengikuti temannya.”

Imam Qatadah berkata: “Demi Allah, kami tidak pernah melihat melihat seseorang bersama temannya kecuali mereka akan tampak kompak dan serupa.”||


R. Bagus Priyosembodo, Kolomnis Majalah Fahma | Nguru Ngaji

Membangun Ikatan Emosional dengan Anak


Oleh : Dr. Hepi Wahyuningsih, M.Psi.
           
Setiap hari Adi minta ditunggui oleh ibunya di Sekolah Taman Kanak-Kanak (TK). Hal ini mulai berlangsung sejak hari pertama Adi masuk TK. Jika ibunya berusaha meninggalkan Adi di sekolah sendiri, Adi akan menangis dengan keras. Melihat Adi menangis keras, ibunya menjadi tidak tega dan kemudian tidak jadi meninggalkan Adi. Akhirnya Setiap hari Adi ditunggui oleh ibunya, ibunyapun ikut menjadi murid TK. Berbeda dengan Adi, Sofwan hanya minta ditunggui oleh ibunya ketika hari-hari pertama masuk sekolah. Setelah beberapa hari Sofwan mengenal guru dan teman-temannya, ia mau ditinggal sendiri. Mengapa Adi tidak mau ditinggal ibunya sedangkan Sofwan mau? Hal ini terkait dengan adanya perbedaan bentuk kelekatan yang dimiliki anak yang terbangun dari interaksi anak dengan pengasuh (orangtua) sejak usia 0 – 3 tahun.  

Seorang ahli yang berkecimpung dalam menangani anak-anak, John Bowlby mengemukakan bahwa interaksi anak dengan pengasuh (orangtua terutama ibu) akan membentuk ikatan emosional yang sering disebut dengan kelekatan. Secara umum, bentuk kelekatan yang dihasilkan dari interaksi antara anak dan pengasuh ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu kelekatan aman dan kelekatan tidak aman.

Ikatan emosional yang dibangun antara anak dengan pengasuh akan berdampak pada perilaku/kepribadian anak dan pandangan anak terhadap orang lain sampai masa dewasanya. Anak yang memiliki ikatan emosional/kelekatan aman, akan memiliki rasa percaya diri yang tinggi, rasa ingin tahu yang tinggi, suka bereksplorasi, mampu memecahkan masalah, dan mampu bersosialisasi dengan teman-temannya. Sebaliknya, anak yang memiliki ikatan emosional/kelekatan tidak aman akan menjadi anak yang rendah diri, kurang mampu memecahkan masalah, dan kurang mampu bersosialisasi dengan baik.

Manifestasi bentuk kelekatan yang dimiliki anak pada masa kanak-kanak dapat terlihat jelas saat minggu-minggu pertama masuk TK. Seperti ilustrasi di atas, anak yang memiliki kelekatan aman, pada hari pertama masuk sekolah mungkin menangis atau tidak mau ditinggalkan orangtuanya. Akan tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama, setelah dia mengenal teman-teman dan gurunya, ia mau ditinggal oleh orangtuannya. Anak akan segera mampu bergaul dengan teman-temannya. Hal ini berbeda dengan anak yang memiliki kelekatan tidak aman. Anak dengan kelekatan tidak aman akan sulit untuk ditinggal oleh orangtuanya. Ia juga akan kesulitan bergaul dengan teman-temannya. Ketika anak menginjak usia remaja, kelekatan tidak aman yang dimiliki anak juga dapat membawa pada problem perilaku remaja. Sedangkan pada masa dewasa, orang yang memiliki kelekatan tidak aman ini akan mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan pasangan hidupnya (suami/istri).

Orangtua memegang peranan penting dalam pembentukan kelekatan anak. Anak yang memiliki kelekatan aman adalah anak yang diasuh oleh orangtua yang sensitif dan responsif. Orangtua yang sensitif di sini maksudnya adalah orangtua yang memahami kebutuhan rasa aman anak. Orangtua yang responsif adalah orangtua yang mampu memberikan rasa aman pada anak sesuai kebutuhan anak. Dengan kata lain, orangtua yang memahami kebutuhan rasa aman anak dan kemudian memenuhi kebutuhan tersebut akan membentuk kelekatan aman anak. Misalnya ketika anak rewel, orangtua mengerti bahwa anak sedang tidak merasa nyaman, kemudian segera mencari tahu penyebab anak menjadi rewel. Ini adalah bentuk sensitifitas orangtua. Setelah mengetahui penyebab kerewelan anak, orangtua kemudian dengan segera memenuhi kebutuhan anak, ini adalah bentuk responsifitas orangtua.

Sensitifitas dan responsifitas orangtua harus dilakukan secara konsisten. Oleh karena itu, mengingat pentingnya ikatan emosional yang terbangun dari interaksi antara anak dengan pengasuh selama tiga tahun pertama, idealnya seorang ibu memang selalu berada di samping anaknya minimal selama tiga tahun pertama. Dengan ibu senantiasa berada di dekat anak, ibu akan mampu memenuhi rasa aman anak. Jika ibu terpaksa tidak bisa karena harus bekerja keluar rumah, maka orangtua harus bertanggungjawab untuk mencarikan pengasuh yang mampu menggantikan peran ibu untuk sementara waktu. Semoga kita senantiasa dikuatkan oleh Allah ’Azza wa jalla untuk mampu mengasuh anak-anak kita dengan baik. Allahu’alam bi shawab.

Dr. Hepi Wahyuningsih, M.Psi. Dosen Psikologi Universitas Islam Indonesia.
foto http://www.kabarmuslimah.com/wp-content/uploads/2014/12/anak-perempuan.jpg

Parenting : Anak Perlu Belajar Mandiri


Oleh : Mohammad Fauzil Adhim

Secara alamiah, anak sebenarnya memiliki kecenderungan untuk belajar kemandirian. Ia berusaha menyuapi diri sendiri, meniru kita memasak, pakai sepatu atau pakai baju sendiri, meskipun masih terbalik. Ini semua merupakan kecenderungan awal yang apabila memperoleh kesempatan dari orangtua menjadikan anak memiliki kemandirian, secara luas maupun terbatas. Lebih-lebih jika orangtua memberi dukungan kepada anak untuk melakukan berbagai hal, termasuk yang masih relatif sulit, secara mandiri.

Tetapi kerap terjadi, orangtua tidak tega melihat anak mengalami kesulitan, sehingga alih-alih sayang anak justru merebut kesempatan anak untuk belajar. Tak jarang orangtua melakukan itu bukan karena sayang, tapi karena tidak sabar atau bahkan gengsi. Menyuapi anak makan misalnya, kadang karena sayang. Tapi tak dapat dipungkiri kerap orangtua menyuapi anak di saat anak sedang ingin belajar menyuapi diri sendiri karena orangtua tidak sabar, menganggap anak kelamaan, atau hanya karena tidak ingin lantainya kotor.

Sikap orangtua yang semacam ini akan memperburuk keadaan jika di saat yang sama anak sedang mengembangkan perilaku merajuk demi memperoleh perhatian yang lebih. Adakalanya anak tidak mau melakukan sesuatu sendiri juga bersebab keasyikan terhadap sesuatu, misalnya nonton TV atau main game. Jika ini dibiarkan, maka bukan saja kemandirian sulit diraih, meskipun untuk perkara yang sederhana. Lebih dari itu juga dapat mendorong anak menjadi pemalas atau mengembangkan rasa tak berdaya karena menganggap diri ‘ajiz (lemah karena sial).

Lalu apa saja yang perlu mendapat perhatian kita? Beberapa hal berikut ini semoga bermanfaat:

Kemandirian dalam Keterampilan Hidup
Prinsip pokok menumbuhkan kemandirian dalam soal ini adalah memberi kesempatan. Bukan melatih. Anak secara alamiah memang cenderung berusaha belajar melakukan berbagai keterampilan hidup sehari-hari secara mandiri, semisal makan. Jika kita mengizinkan anak melakukan berbagai aktivitas hidup sehari-hari tersebut secara mandiri, lambat laun akan terampil. Yang kita perlukan hanyalah kesediaan mendampingi sehingga anak tidak melakukan terlalu banyak kesalahan. Meskipun demikian, kita tetap harus menyadari bahwa untuk mencapai keterampilan perlu latihan yang banyak dengan berbagai kesalahannya.

Makan misalnya, kita melihatnya sebagai keterampilan yang sangat biasa dan tidak istimewa. Tetapi Anda akan terkejut manakala mendapati orang dewasa tidak terampil menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri karena orangtua terlalu memanjakan sehingga senantiasa menyuapi anak hingga dewasa. Ini memang jarang terjadi, tapi kasus anak benar-benar tidak memiliki keterampilan makan hingga ia dewasa itu sungguh-sungguh terjadi.

Kemandirian itu akan lebih meningkat kualitasnya jika orangtua secara sengaja memberi rangsangan kepada anak berupa tantangan untuk mengerjakan yang lebih rumit dan sulit. Ini bukan saja melatih kemandirian dalam urusan keterampilan hidup sehari-hari, melainkan juga menumbuhkan kemandirian secara emosional.

Kemandirian Psikososial
Bertengkar itu tidak baik. Tetapi menghentikan pertengkaran begitu saja, menjadikan anak kehilangan kesempatan untuk belajar menyelesaikan konflik. Kita memang harus menengahi dan adakalanya menghentikan. Tetapi kita juga harus membantu anak menggali masalahnya, merunut sebabnya dan menawarkan jalan keluar kepada anak, baik dengan menunjukkan berbagai alternatif tindakan yang dapat diambil maupun menanyakan kepada anak tentang apa saja yang lebih baik untuk dilakukan.

Apa yang terjadi jika kita bertindak keras terhadap berbagai konflik yang terjadi antar anak? Banyak hal. Salah satunya anak tidak berani mengambil sikap yang berbeda dengan teman-temannya, meskipun dia tahu bahwa sikap itulah yang seharusnya dia ambil. Anak tidak berani menolak ketika temannya mengajak merokok atau mencoba minuman keras. Mengapa? Karena ia dididik untuk tidak berani menghadapi konflik. Padahal kita seharusnya menanamkan pada diri anak sikap untuk mendahulukan prinsip daripada harmoni. Rukun itu penting, tapi hidup dengan berpegang pada prinsip yang benar itu jauh lebih penting. Kita tanamkan kepada mereka: principles over harmony.Lalu, apa yang harus kita lakukan kala mendapati anak-anak kita bertengkar? Insya Allah akan kita bahas pada edisi selanjutnya.||

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku ‘Segenggam Iman Anak Kita’ dan Buku-buku Parenting lain | twitter @kupinang | facebook MohammadFauzil Adhim

Pulanglah, Tempatmu di Rumah!


Oleh : Atik Setyoasih

Untukmu Wanita, semuanya ...

" dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya."
(QS: Al-Ahzab Ayat: 33)

Ini adalah salah satu ayat Al-Quran yang sering kita tolak, begitu kata Ustadz Budi Ashari, Lc di tausyiah beliau (video Ibu, pulanglah)Jleb banget saat mendengarnya, dimana kita wanita termasuk saya yang ingin hidup mulia dimata-Nya, mau nggak mau ya harus ikut aturanNya bukan? Ya, tetap dirumah dan tidak berhias berlebihan ketika keluar rumah.

Setiap kita pasti punya cita-cita dalam yang ingin kita raih bukan? Cita-cita yang menuntut kita memberikan waktu, jiwa, semuanya dari kita. Cita-cita yang mungkin juga menuntut kita harus keluar rumah. Cita-cita yang menuntut kita harus meninggalkan keluarga, dirumah.

Tapi ketika kita kembalikan lagi kepada aturan Allah, kita muslimah diminta untuk tetap dirumah. Ya tetap dirumah dengan tugas utama dan mulianya sebagai seorang Ibu. Ia yang mengurus rumah tangga berikut isinya. ia yang mengerjakan pekerjaan (dalam video tersebut) urusan dapur, sumur dan kasur. Pekerjaan yang harusnya tidak kita tinggalkan karena alasan apapun. Disinilah letak kemuliaannya kita sebagai seorang wanita, dimata-Nya.

Lantas, bagaimana jika sebuah kondisi luar membutuhkan kita?Kondisi krusial yang sungguh membutuhkan. Tentu dokter wanita dibutuhkan bukan untuk memeriksa wanita. Guru wanita juga perlu untuk mendidik generasi supaya terbentuk generasi yang tangguh.

Maka, semoga muslimah yang memilih untuk bekerja, senantiasa meniatkan hanya untuk Allah. Tetap menjaga diri dengan selalu taat kepada Allah. :)

Atik Setyoasih, Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, twitter @atiksetyoA blog : www.atiksetyo.blogspot.com