» » Beri Ruang untuk Potensinya

Beri Ruang untuk Potensinya

Penulis By on Monday, June 1, 2015 | No comments


Oleh : Muhammad Nazhif Masykur

Dalam kesempatan ini, saya akan memberikan contoh-contoh kasus sederhana yang sering terjadi di sekitar kita, dengan harapan agar mudah dipahami dalam pembahasan ini.

Ketika kita melihat bagaimana seorang tukang sumur bekerja. Berapa lama sebuah sumur digali hingga menghasilkan air? Jika kita sudah bisa menghitungnya, mari kita mencoba untuk membayangkan bila pekerjaan itu kita sendiri yang melakukan. Berapa lama akan dapat kita selesaikan? Dan apakah kita bisa memberikan jaminan bahwa sumur tersebut mengeluarkan air? Bila kita memang bukan tergolong tukang sumur, dan tergolong orang yang bekerja dengan “tangan bersih” –di kantor, yang jelas bukan “bersih tangan”, maka dapat dipastikan bahwa kita tidak akan mampu menggali sumur hingga menghasilkan air. Kalaupun kita bisa, maka kita akan membutuhkan waktu dan biaya yang lebih besar dari seorang tukang sumur. Apakah ketidakmampuan kita dalam menggali sumur, akan bisa dijadikan patokan  bahwa kita akan segera gagal dalam urusan perkantoran? Tentu saja tidak.

Kegagalan atau ketidakmampuan anak-anak kita dalam suatu hal, belum tentu, atau tidak bisa dijadikan petunjuk untuk menilai kemampuan mereka di bidang yang lain. Inilah masalah yang paling besar dan paling sering kita abaikan. Kalau kita menengok ke belakang, maka akan segera tampak bagaimana manusia-manusia diperlakukan seperti ternak, digiring ke sebuah lokasi, dan dipaksa untuk melakukan sesuatu yang bukan saja tidak disukai, tetapi juga bukan merupakan keahliannya. Para orangtua adalah ’penjahat’ terselubung. Kasih sayang dan kecintaannya pada anak, bisa segera menjelma menjadi racun yang mematikan. Banyak anak-anak beranjak dewasa, dan tidak pernah mengenali apa sebetulnya kekuatan yang ada pada dirinya. Ketika sudah dewasa, dan keadaan terdesak, maka peluang untuk menggali potensi diri menjadi hilang, akhirnya mereka terpaksa hidup terasing – hidup dalam aktivitas yang sebetulnya tidak dikehendaki, dan bukan menjadi aktivitas yang membangkitkan kemampuannya.

Masyarakat kita juga seringkali terlibat dalam membangun norma-norma dan sekaligus membangun jalan, yang memaksa orang harus melewatinya. Masyarakat membangun hukum besi–yang menempatkan profesi tertentu dan gelar pelengkap sebagai manusia. Oleh sebab itu, banyak anak-anak terpaksa sekolah di fakultas kedokteran, padahal ia lebih cocok menjadi seniman. Banyak anak yang ’digiring’ belajar musik, hanya karena mitos mengenai kemewahan, padahal ia lebih cocok untuk belajar ilmu pasti.

Sebaliknya, banyak anak-anak dipaksa belajar ilmu pasti, padahal lebih cocok menjadi sastrawan. Meraka terpaksa berada pada tempat yang ’salah.’ Bila hal itu terjadi, maka kita semua sebetulnya telah kehilangan harta karun yang begitu berharga: potensi-potensi yang mungkin bisa mengubah wajah dunia. Coba kita bayangkan, apa jadinya bila para ilmuwan yang mengubah dunia dahulunya mengikuti kata kemauan orangtuanya. Mungkin kita tidak akan memiliki lampu pijar, seperti yang ditemukan oleh Thomas A. Edison, atau kita mungkin tidak akan pernah mendengarkan taushiah penyejuk qalbu dari Aa’ Gym yang notabene keluarga militer, dan banyak lagi wajah-wajah perubah dunia.

Saya katakan bahwa pelajaran atau aktifitas apapun selama masih dalam batas nilai-nilai positif jenis apapun, sepanjang itu adalah puncak dari kemampuan anak-anak kita, maka sebaiknya kita dukung untuk digeluti dengan penuh dedikasi, kesungguhan dan ketekunan tanpa pamrih.

Seorang tukang sumur, yang bekerja dengan penuh kesungguhan, kelak akan menemukan teknik yang paling jitu dalam menggali sumur. Atau setidaknya akan menemukan berbagai ciri, karakteristik, atau bentuk-bentuk dari sumur. Bahkan bisa saja cara membuat sumur memiliki kaitan erat dengan historis masyarakat. Intinya adalah jangan memaksa anak-anak kita untuk melakukan sesuatu dengan ’keterpaksaan’ langgeng.

Apakah potensi yang dimiliki oleh anak-anak kita memang benar-benar tidak bisa ditumpahkan pada mata pelajaran aktifitas yang digeluti. Jika masih bisa, maka sudah saatnya kita mengarahkan mereka untuk mendedikasikan penuh seluruh energi yang ada, agar dari aktifitasnya tersebut, bisa diperoleh hal-hal baru yang memberi arti pada banyak orang. Pada intinya, mereka kita dukung dan beri kesempatan seluas-luasnya untuk melahirkan karya yang dikenang sejarah – apapun bentuk aktifitasnya, karena anak kita dilahirkan dengan kelebihannya masing-masing inilah ketegasan yang di sampaikan Allah ”Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (al-isro 70).”


Muhammad Nazhif Masykur, Aktivis SPA Yogyakarta
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya