» » Mencintai Tak Berarti Membiarkan Kesalahan

Mencintai Tak Berarti Membiarkan Kesalahan

Penulis By on Saturday, June 6, 2015 | No comments


oleh : Mohammad Fauzil Adhim

MERENUNGI peringatan Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu:
ثَلاَثٌ يَهْدِمَنَّ الدِّيْنَ : زَلَّةُ عَالِمٍ وَجِدَالُ مُنَافِقٍ بِالْقُرْآنِ وَأَئِمَّةٌ مُضِلَّوْنَ
“Tiga hal yang menghancurkan agama; kesalahan seorang ‘alim, perdebatan orang munafiq dengan menggunakan Al-Qur’an dan para imam yang menyesatkan.”

Tergelincirnya ‘alim di antaranya bersebab menurunnya iltizam kepada sunnah, lalu menakjubi apa yang dianggapnya sebagai ilmu pengetahuan modern. Padahal itu bukan ilmu. Ia memaksakan diri menempatkan nash sesuai maksud dari pengetahuan tersebut sehingga justru mendatangkan syubhat. Inilah pengetahuan yang menggerogoti ilmu yang haq.

Peringatan ’Umar bin Khaththab radhiyallahu ’anhu ini menegaskan apa yang telah disampaikan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam:
إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ زَلَّةَ الْعَالِمِ وَجِدَالَ الْمُنَافِقِ بِالْقُرْآنِ وَالْقُرْآنُ الْحَقُّ وَعَلَى الْقُرْآنِ مَنَارٌ كَأَعْلاَمِ الطَّرِيْقِ
“Sesungguhnya di antara yang aku khawatirkan atas kalian adalah kesalahan orang yang ‘alim, perdebatan orang munafiq dengan (menggunakan) Al-Qur’an. Sementara Al Qur’an adalah sebuah kebenaran, di atasnya ada cahaya seperti rambu-rambu bagi jalan.” (HR. Ibnu Abdil Barr).

Apa sebabnya kesalahan orang ‘alim sangat mengkhawatirkan? Bersebab ia orang yang ‘alim, banyak manusia mengikuti tanpa peduli apakah pendapatnya berlandaskan dalil ataukah tidak. Ia mengikuti karena telah cenderung kepadanya, sehingga ketika keluar darinya pendapat yang seolah-olah bagus tapi menyelisihi dalil yang shahih, manusia mengikutinya. Mereka tetap mengikuti meskipun telah didatangkan kepadanya petunjuk Rasulullah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam.

Tidak ada yang ma’shum (terjaga dari dosa, terjaga dari kesalahan) selain Rasulullah Muhammad shallaLlahu alaihi wa sallam. Hanya beliau satu-satunya yang perkataannya pasti benar dan tidak ada sedikit pun kesalahan padanya. Adapun orang-orang ‘alim, dengan segala keutamaannya, tidak terlepas dari kesalahan. Dalam hal ini, kita bersikap hormat seraya menjaga adab kepadanya, mengingatkan jika mampu, meminta penjelasan atas apa yang kita tidak memahami dan meninggalkan yang pendapat-pendapatnya yang salah.

Abdullah bin Mubarak berkata, ”Bisa jadi seseorang yang memiliki kebaikan dan atsar yang baik dalam Islam, terjatuh kepada kekeliruan dan kesalahan, maka janganlah diikuti kesalahan serta kekeliruan orang tersebut.”

Apa maknanya? Kebaikan itu tetap ada padanya. Ia meninggalkan jejak-jejak yang baik dan boleh jadi merupakan ilmu manfaat yang terus mengalirkan pahala baginya. Tetapi ini tidak menyebabkan kekeliruan dalam berpendapat dan fatwa terhapuskan. Tugas kita memuliakan ‘alim tersebut dengan tidak mengikuti pendapatnya yang keliru atau rusak, tidak pula menyebarluaskan bersebab keyakinan “tentu beliau punya dasar dalam berpendapat”. Perkataan semacam ini tidak menyebabkan kekeliruan berubah menjadi kebenaran.

Mari kita ingat perkataan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, “Celakalah orang-orang yang mengekor karena kesalahan-kesalahan orang ‘alim.”

Ia ditanya, “Bagaimana itu bisa terjadi?”

Ia berkata, ”Seorang ‘alim berkata tentang sesuatu berdasarkan pendapatnya, kemudian sang pengikut mendapatkan orang yang lebih tahu tentang Rasulullah dari imamnya, tapi ia meninggalkan perkataan orang yang lebih tahu tersebut, kemudian pengikut itu berlalu.”

Ini menjadi pelajaran kepada kita agar tidak fanatik kepada seorang ‘alim sekaligus senantiasa menyandarkan diri kepada As-Sunnah.

Az-Zuhri berkata bahwa para ulama terdahulu telah mengingatkan, ”Berpegang teguh dengan Sunnah adalah keselamatan, dan ilmu akan dicabut dengan cepat. Hidupnya ilmu, berarti kekokohan agama dan dunia, sedangkan hilangnya ilmu, berarti kepunahan semua itu.”

Imam Asy-Syatibi mengingatkan, ”Sungguh, kebanyakan orang tersesat akibat berpaling dari dalil-dalil dan (kemudian) bergantung kepada manusia. Mereka keluar dari (pemahaman) para sahabat dan tabi’in. Mereka memperturutkan hawa nafsu dengan tanpa ilmu, sehingga keluar dari jalan yang lurus.”

Jika seorang yang sungguh-sungguh ’alim saja dapat tergelincir kepada kesalahan, maka apatah lagi orang yang seolah ’alim.*

Mohammad Fauzil Adhim adalah penulis buku-buku parenting. Twitter @Kupinang
Baca Juga Artikel Terkait Lainnya